Life’s Theatre (Oneshot)

Title : Life’s Theatre

Length : oneshot

Genre : entahlah~

Cast : Kang JunKyu (MYNAME), OC

A/N : awkay ini adalah proyek lainnya yang mengusung cast lain dari yang lainnya/? Sebenernya cerita ini yang awalnya mau gue kasih jadi karangan bebas gue. Tapi karna ceritanya membingungkan jadi gue post disini aja biar bingung sekalian –“ semoga kalian ga nanya yang aneh-aneh tentang karangan ambigu/? Ini hahhaa…

 

****

 “Apakah setelah ini kita dipertemukan kembali? Seperti matahari terbenam yang selalu muncul lagi keesokan harinya?”

****

Kang Jun-Kyu menatap langit jingga yang makin menggelap setiap menitnya. Lelaki itu terus merenungi segala yang terjadi di hari ini. Dari mulai bangun tidur hingga saat ini ia menatap langit sore. Ia juga memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah kembali lagi ke Rumah Sakit. Akan makan apa nanti, apa obat yang akan diminumnya nanti, jenis pengobatan apa lagi yang akan diberikan dokter, dan siapa dokter dan suster yang akan datang ke ruangannya dan menanyakan bagaimana keadaannya.

Hidup terlalu monoton untuknya. Kehidupannya hanya berkisar pada rumah dan rumah sakit. Di rumah pun ia hanya bisa diam dan home schooling seperti kebanyakan anak-anak berpenyakit yang tidak kuat dengan dunia luar. Setiap hari ia harus kembali ke rumah sakit untuk memonitor pertumbuhan penyakitnya yang menurutnya tidak ada habisnya. Segala pengobatan yang dilakukannya seperti sia-sia. Tetap saja tidak sembuh walau Jun-Kyu sudah mengerahkan seluruh tenaga dan waktunya.

Ketika dokter mengatakan “Kau akan baik-baik saja” dan ibunya dengan sabar mengelus punggungnya yang selalu terasa sakit setelah melakukan kemoterapi, Kang Jun-Kyu hanya bisa menahan agar tidak ada kata menyerah terucap dari bibirnya. Perutnya selalu mual setelah menyelesaikan serangkaian pengobatan ala pasien kanker lain. Setelah itu sedikit demi sedikit rambutnya mengalami kerontokan, dan Jun-Kyu sangat tidak mengenal dirinya dalam keadaan seperti itu.

Kadang ia menertawakan nasib sendiri dengan menatap pantulan dirinya di atas cermin. Tubuh yang paling dibanggakannya dulu semakin mengecil. Sel kanker yang jahat itu telah merebut seluruh kebahagiaan dan kebanggaannya. Di umur yang ke-14 tahun ia harus menerima semuanya. Dari kemunduran imun tubuhnya sampai merelakan masa sekolah. Dan sekarang menginjak 17 tahun, lelaki itu harus menerima semuanya dan memperjuangkan hidupnya.

“Karena hidup ada untuk diperjuangkan.”

Untunglah Tuhan mengirimkan sesuatu yang sangat berharga. Bukan hanya orangtua yang kembali bersatu setelah perceraian 5 tahun lalu, tapi juga seorang teman. Ah, sahabat. Sahabat yang tidak pernah berhenti menasehatinya, memarahinya, dan menyuruhnya melakukan pengobatan-pengobatan menyeramkan itu. Satu hal yang membuatnya bersyukur memilikinya sebagai sahabat, dia—si “Gadis Desember”—selalu menemaninya melihat matahari tenggelam setiap hari.

“Sudah selesai. Bisa kita pulang sekarang?” si Gadis Desember itu berdiri di depannya.

Kang Jun-Kyu mengangguk. Matahari tenggelam kali ini tidak seindah biasanya.

****

Selama ini tidak ada yang tahu kalau Jun-Kyu dan si “Gadis Desember” menyimpan sesuatu berharga. Seekor penyu dari laut! Mereka berani bertaruh kalau mereka tidak mencuri. Mereka hanya memeliharanya kemudian melepaskannya setelah besar nanti. Ini semua ide si “Gadis Desember” yang melihat puluhan penyu-penyu kecil keluar dari bawah pasir setelah menetas. Gadis itu terus mendesaknya untuk mengambil saja salah satu penyu itu dan memeliharanya berdua—padahal mereka sama-sama tahu kalau penyu itu hewan yang dilindungi—singkatnya, sekarang penyu itu sudah berusia sekitar 6 bulanan. Penyu kecil itu sudah terlihat lebih besar dari sebelumnya. Seharusnya sudah bisa dikembalikan ke tempat asalnya. Tapi baik Jun-Kyu dan si “Gadis Desember” sama-sama tidak menginginkan itu terjadi.

“Biarkan dia disini. Aku tidak yakin ia dikenal oleh saudara-saudaranya,” kata Jun-Kyu saat si “Gadis Desember” hampir menangis karena tidak mau berpisah dari si penyu.

Akhirnya si “Gadis Desember” tersenyum. Ia memeluk Jun-Kyu dan berterima kasih pada lelaki itu.

“Kau sadar tidak?” tanya si “Gadis Desember” pada Jun-Kyu yang sedang membersihkan akuarium si penyu kecil.

Jun-Kyu tersadar dari lamunannya. “Apa?” tanya Jun-Kyu balik.

“Kita belum memberi nama untuknya,” jawab si “Gadis Desember” sambil mengelus kepala penyu kecil itu dengan lembut. “Kau punya usul untuk namanya?”

Jun-Kyu berhenti sejenak. Kemudian kembali membilas akuarium berukuran sedang itu sambil memikirkan nama yang cocok untuk si penyu kecil.

“Aku tidak punya ide,” kata Jun-Kyu kemudian. “Apa nama yang kau pikirkan?”

Si “Gadis Desember” menggeleng. Ia juga tidak tahu.

“Bagaimana kalau kita tidak usah memberinya nama? Maksudku, bila kita harus melepaskannya kita tidak terlalu memikirkannya. Bagaimana?”

Si “Gadis Desember” mengigit bibirnya, memikirkan usulan sahabatnya. “Boleh juga.”

Jun-Kyu tersenyum sambil mengacak rambut gadis itu.

“Tapi, kau tidak akan meninggalkanku kan?” tanyanya out of the point.

Jun-Kyu kembali membisu. Karena bagaimanapun ia pun akan pergi lebih dahulu karena penyakit sialan ini. “Hm?”

“Berjanjilah…” desak si “Gadis Desember” sambil menggigit bibirnya. “…untuk tetap bersamaku.”

Jun-Kyu mengangguk. “Aku berjanji.”

****

Rasa sakit itu kembali menyerang. Seluruh tubuhnya menggigil, kepalanya seperti diterjang benda berat, sakit sekali. Dunia terasa berputar, tapi tubuhya tetap berada di tempat. Kedinginan dan membeku. Tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya, bahkan rintihan sekalipun.

Kang Jun-Kyu meremas seprai. Meneriakkan kata-kata meminta pertolongan dari dalam hati, berharap ada yang mengerti jeritan hatinya. Tenggorokannya tercekat. Seperti ada sesuatu yang akan keluar tapi tidak bisa dikeluarkan. Tangannya ikut membeku, sprei yang diremasnya untuk menahan rasa sakit lepas dari genggamannya.

Tolong. Jeritan hati Jun-Kyu bertambah keras. Semua ini telah berakhir. Ia akan mati di tempat ini dalam keadaan menyerah.

“Berjanjilah untuk tetap bersamaku,” kata-kata si “Gadis Desember” itu terngiang di pikirannya. Kemudian rasa sakit itu bertambah. Rasa sakit ini bahkan lebih hebat dari rasa sakit di kepalanya. Rasa sakit di hati karena tidak bisa menepati janjinya.

“Bertahanlah, Kang Jun-Kyu,” kemudian ia mendengar suara lain. Bukan suara si “Gadis Desember”, tapi suara dokter.

Jun-Kyu kemudian diberi suntikan penenang. Ia tertidur untuk waktu yang lumayan panjang.

****

 “Jika perpisahan itu pasti, kenapa Tuhan harus mempertemukan kita dengan manis? Kenapa Tuhan selalu mempermainkan nasib orang?”

****

Kadang hidup ini begitu susah dipahami. Hidup ini terlihat mudah, tapi tidak lama kemudian kita meralatnya dan mengatakan hidup ini begitu susah dimengerti walaupun kita mengalaminya sendiri. Roda kehidupan seperti terus bekerja memutar nasib seluruh manusia di dunia. Roda kehidupan itu tidak lelah memporak-porandakan kehidupan, dan tidak lelah juga dicaci-maki setiap hari.

“Aku telah berjanji tidak akan meninggalkanmu, tapi kenapa malah kau yang meninggalkanku?”

Semuanya terjadi sangat cepat. Tidak disangka, tidak pernah terpikir dalam hidupnya. Jun-Kyu yang berpikir bahwa hidupnya bisa dihitung dengan jari, Kang Jun-Kyu yang berpikir akan lebih dulu mati daripada yang lainnya.

Semua orang mengatakan “Kau harus kuat” padanya, dan lelaki itu hanya bisa diam, menatap kosong udara di depannya. Nafasnya masih terus berhembus, tapi jiwa rapuhnya ikut terbawa hembusan nafasnya. Kang Jun-Kyu menyerah. Ia tidak bisa mengelak dari kenyataan ini lagi. Kecelakaan itu sudah terlanjur terjadi.

Semua orang mulai menatapnya. Mungkin orang-orang itu berpikir kenapa harus anak perempuan pembawa kebahagiaan itu yang mati lebih dulu daripada lelaki kurus kering berkepala plontos di ujung sana. Kenapa justru anak laki-laki yang sudah puluhan bahkan ratusan kali sekarat itu masih disini? Lagi-lagi itu rahasia Tuhan. Pertemuan yang manis akan dibayar dengan perpisahan yang menyakitkan.

****

Sudah sekitar satu jam lelaki itu berada di atas perahu kecil untuk menyebarkan abu kremasi sahabatnya. Matahari telah menunjukkan semburat jingganya, memberi pertanda bahwa senja akan segera berakhir. Tidak ada sebutir abu pun tersisa di balik kotak putih itu. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan kenangan. Tidak ada yang perlu disesali lagi sebenarnya, mengingat ini adalah skenario dari Tuhan, sebagai aktor sudah sepatutnya ia bertindak profesional. Toh drama ini akan segera berakhir.

Tapi roda kehidupan terus berputar seperti roll film dalam memutarkan beberapa potongan gambar bergerak yang akhirnya menjadi drama. Drama kehidupan, drama yang tidak diketahui kapan habisnya, drama yang akan tetap tayang meskipun sang pemeran utama telah menandatangani surat pemberhentian kontrak dan tidak muncul lagi dalam drama itu selamanya.

“Apakah setelah ini kita akan dipertemukan kembali? Seperti matahari terbenam yang selalu muncul keesokan harinya?”

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sangat tidak masuk akal. Tentu saja matahari akan terus bersinar dalam drama kehidupan ini. Sekalipun orang-orang mengatakan ia tidak cocok dalam drama ini.

“Kelak jika kita berpisah, maukah kau mengingatku sebagai orang yang pernah ada dalam kehidupanmu?” pertanyaan si “Gadis Desember” yang sangat tidak masuk akal ketika pertama kali Jun-Kyu berandai tentang kematian.

Perahu kecil itu kembali ke daratan. Kang Jun-Kyu meletakkan kotak bekas abu kremasi sahabatnya di bawah pohon bakau. Kemudian mengambil dua buah botol berisi tulisannya dan si “Gadis Desember” di umur 15 tahun. Jun-Kyu ingat apa yang ditulisnya, dan sekarang ia membaca tulisan si “Gadis Desember”.

“Aku ingin Kang Jun-Kyu hidup dengan bahagia.”

Dan tulisannya, “Aku ingin hidup dengan bahagia.”

SELESAI

2 thoughts on “Life’s Theatre (Oneshot)

  1. VieLli

    Gak nyangka bakal berakhir begini. Kirain Junkyu yg pergi tp sebaliknya. Ceritanya sih mungkin emang umum, tp krn bahasa dan pilihan kata2 yg bagus jadi gak ngebosenin. Favorit aku dr gaya menulisnya saeng itu adalah bahasa dan pilihan kata yg berkiasan tp bermakna. Keren!

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      hahahaaaa maklum kebiasaan bolak-balikin cerita/? ini bikinnya pas lagi galau jadi sok puitis blablabla segala macem haha…..
      makasih unn doh aku beneran ngefly di puji unnie terus😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s