Time To Love (BaekRen Ver) Part 1

Title  : Time To Love (BaekRen Ver)

Genre : Comedy, romance, yaoi, bl, ooc, etc

Length : 1 of ?

Cast :

          Kang Dongho a.k.a Baekho (Nuest)

          Choi Minki a.k.a Ren (Nuest)

Other Cast : Nuest Members

A/N : akhirnya setelah sekian lama nyari waktu, tenaga dan juga inspirasi ketemu juga jalannya/?

Ff ini emang lama banget ga gue kerjain –“ maafkan daku Detry unnie :(( moga kau memaafkanku unni-ya ^.^

Okay, just reading ^~^

 

*****

 

>> Part 1 <<

 

TEEEEEEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!!!!!

“TUNGGUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak dua anak yang masih berada diluar gerbang.

Dua satpam sekolah yang mendengarnya melangkah slow motion untuk membiarkan anak-anak muda itu masuk dan belajar. Maklum peraturan di sekolah ini sangat ketat. Kalau sekali tidak masuk bisa mempengaruhi kenaikan kelas.

“Aku dulu!!” Ren mencoba menyingkirkan tubuh besar Baekho.

“Aku duluan yang datang!” Baekho mendorong pintu itu untuk masuk lebih dulu.

“Awas!!!!!!!!”

“Kau apaan sih…!!!”

Dua satpam itu menggeleng sambil tertawa kecil.

“Ck. Pengantin baru,” kata salah satu dari mereka.

Baekho dan Ren sama-sama mengarahkan pandangan ke dua satpam itu. Terutama satpam yang bersuara tadi.

“Kok tahu?” tanya Ren dodol.

Baekho menepuk jidat Ren kesal. “Yaiyalaaah!! Kan dia kemarin diundang ke pernikahan kita! Tuhaaaaan!!!”

Ren mendengus kesal. “Ya sudah aku kan lupa! Memangnya aku penerima tamunya jadi tahu siapa saja yang datang.”

“Kau kan tidak peka orangnya!” Baekho mendorong pintu gerbang sampai terbuka sempurna. “Kau masuk duluan!”

“Aku?”

“Ya sudah kalau tidak mau.” Baekho melangkah maju duluan. Kemudian Ren mengikutinya dan berlari ke kelasnya.

 

****

 

“Bagaimana? Malam pertamamu dengan Ren sukses?” tanya Aron pada Baekho yang sibuk memainkan PSP-nya.

“Sukses,” jawab Baekho singkat.

“Whoaa!! Kau apakan saja dia?” tanya Jr semangat.

Baekho tersenyum jahil pada teman-temannya. Ia memasang raut wajah malu untuk mengelabuhi teman-temannya.

“Ini rahasia! Jangan beritahukan yang lain!” katanya misterius.

Aron dan Jr naik ke meja dan merapatkan diri ke Baekho untuk mencegah rahasia ini merambat ke yang lain. Baekho tetap memasang wajah misterius.

“Aku…… menghabiskan…..” ucap Baekho. Ia menatap wajah dua temannya yang mulai penasaran dan akan mati sewaktu-waktu jika tidak diberitahu rahasia itu.

“YA! KALIAN CERITA-CERITA KENAPA TIDAK MENGAJAKKU!” teriak seorang namja yang baru datang. Namja itu langsung mengerubungi Baekho, Jr dan Aron. Ia mengunci leher Jr dan Aron dengan dua tangannya.

“Kau belum mengatakan apa-apa kan?” tanya Minhyun, namja itu dengan suara pelan.

“Kau mengganggu saja!” Aron menjitak keras kepala Minhyun.

“Ahh!!” Minhyun mengaduh pelan. Kemudian ia menatap Baekho untuk menceritakan kisah selengkapnya tentang malam pertamanya.

“Kau tidak terlambat. Aku belum mengatakan apa-apa pada mereka.” Kata Baekho. Ia memberikan kode dengan tangannya agar ketiga temannya itu mendekatkan kepalanya ke kepala Baekho.

“Kau pasti tidak percaya!” kata Baekho. “Tapi aku dan dia berhasil menghabiskan 10 ronde!”

“WHOAHHH!!!!” Jr, Aron dan Minhyun bersorak keras.

“Ssssttt!!!” Baekho menempelkan telunjuknya di bibirnya untuk menghentikan teriakan ketiga temannya.

“Ingat, ini rahasia! Jangan beritahu siapapun, termasuk Ren!” kata Baekho.

“Wae?” tanya Aron bingung.

“Jangan beritahu dia! Kalau diberitahu dia pasti akan malu karena ini rahasia kita berdua!” jawab Baekho.

Bel masuk berdenting keras. Jr, Aron dan Minhyun kembali ke bangkunya. Kemudian Ren datang, dan duduk di samping Minhyun.

 

***

 

BRAKKKKKK!!!!

Pintu kamar Baekho langsung dibanting Ren. Baekho yang sedang membaca komik shinchan kaget. Ia hampir saja melontarkan latahan orang betawi kalau dikageti.

“Kkamjakiya! Ya! Kenapa kau membanting pintu itu? Mahal tahu bikinnya!” Baekho marah-marah ga logis.

“Kenapa kau bilang pada teman-temanmu kalau kita melaksanakan—“

Baekho langsung membekap mulut Ren dengan komik Shinchan-nya. “Iya… iya. Aku hanya ingin terlihat perkasa saja di depan teman-temanku.”

Ren melepaskan komik Shinchan itu dari mulutnya. Kemudian membuang komik itu kebawah. “Ya, tapi kenapa kau bilang 10 ronde? Anak-anak pada bertanya padaku bagaimana rasanya! AAARGGGHHH!!!” Ren berteriak frustasi.

“Rasanya ya… begitu,” jawab Baekho sambil memalingkan wajah.

“Begitu bagaimana?” tanya Ren bingung. Entah kenapa ia penasaran.

“Yaa… begitu. Harus praktek langsung,” jawab Baekho. Ia kemudian mengambil komik Shinchan yang dipakai untuk membekap mulut Ren dari lantai. Lalu kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan bacaannya.

DUAGGGG!!

Ren langsung menendang bokong Baekho yang sedang asyik membaca komiknya dengan posisi telungkup.

“Ini termasuk kekerasan dalam rumah tangga ahhh…,” Baekho mengelus bokongnya.

“Memangnya aku mengakui status kita jadi suami istri? Oh no oh no…” Ren menggelengkan kepalanya keras. Kemudian ia tersenyum dingin dan keluar kamar Baekho.

“Ck. Ini pasti pembalasan dendamnya karena waktu itu aku pernah menendangnya saat adu futsal,” Baekho masih mengelus bokongnya.

 

****

 

“Hai cantik!” sapa seseorang yang tidak Ren kenal suaranya.

Ren mengedarkan pandang ke sekitar. Tidak ada orang yang berbicara. Jangan-jangan gang ada penghuni yang wujudnya tidak diketahui. Mana ini malam jumat. Sepertinya Ren harus mengeluarkan jurus-jurus doa yang dipelajarinya saat TPA dulu.

“Kimsoohanmoo geobugiwa durumi samcheongapja dongbangsak woriwori sarisarisenta…” Ren malah mengucapkan mantra yang ada di secret garden.

“Hai cantikk…” tiba-tiba ada 2 laki-laki di depannya.

“Woohh!! Kamjakkiya…” Ren mengelus dadanya karena kaget. “Mwoya?”

“Ya Tuhan ternyata dia laki-laki. Cantik sekali…” salah satu lelaki itu hendak menyentuh wajah cantik Ren.

“Kalian mau menyentuhnya? Lewati mayatku dulu!” kata seorang lelaki lagi.

Ren merasa sepertinya ia akan trauma dengan laki-laki berbadan besar. Mungkin pulang nanti ia langsung browsing di internet tentang bagaimana menjadi laki-laki perkasa agar tidak diganggu orang. Dan juga sepertinya ia harus operasi agar ia sedikit lebih tampan atau malah tampan sekalian, seperti Seo In Guk atau Yoo Ah In.

“Kau mau menyentuhnya kan? Tapi maaf, dia susah disentuh dan hanya ingin disentuh olehku. Jadi… menyingkirlah sebelum aku menjadikanmu mayat,” kata lelaki itu.

Ren bergidik ketika tangan lelaki itu melingkari lehernya. Ren ingin berteriak dan meminta tolong. Tapi yang mengalungkan tangan di lehernya ini suaminya, Baekho.

“Jangan ganggu istriku!! Kalau kau ganggu, siap-siap jadi pepes!” ancam Baekho. Kemudian membawa Ren pergi dari hadapan lelaki mesum itu.

 

****

 

“Kau kenapa lewat situ, eoh?” tanya Baekho setelah keluar gang. “Udah tahu malam jumat. Tetep aja lewat situ!” omel Baekho.

“Tapi aku biasa lewat situ,” kata Ren yang masih shock dengan kejadian tadi.

“Itu masa lalumu melewati situ. Sekarang rumah kita tidak melewati gang itu,” kata Baekho sambil melepaskan tangannya dari tubuh kecil Ren. “untung aku iseng lewat situ.”

“Tapi apa hubungannya dengan malam jumat?” tanya Ren yang masih bingung, tapi sedih juga karena ia tidak akan sesering dulu melewati gang itu lagi.

Baekho juga bingung apa hubungannya malam jumat dengan gang itu. Ya itu hanya mulutnya yang tahu. Yang ngomong kan mulutnya.

“Ya sudah jangan dipikirkan. Kau mau makan apa?” tanya Baekho menutup debat kusir ini.

“Molla.” Ren masih bingung. “Kau?”

“Aku ikut kau,” kata Baekho.

“Ya sudah tidak usah makan,” balas Ren datar.

Baekho menghela nafas. Ingin sekali menjitak kepala Ren. Mereka pun terdiam sampai di rumah tanpa membawa oleh-oleh. Minimal minumanlah.

Ren langsung memasuki rumahnya setelah Baekho membuka pintunya. Ia berjalan dengan lesu. Baekho terus memperhatikannya sampai akhirnya Ren memasuki kamarnya dan menutup pintunya pelan. Baekho kemudian masuk ke rumahnya. Ia mengunci pintunya dan mengambil handuk cadangan yang ada di jemuran belakang. Kemudian memasuki kamar mandi dan menguncinya.

 

****

 

“Minki-ah…” panggil Baekho sambil mengetuk pintu kamar Ren. “Choi Minki, neo gwaenchana?”

Baekho terus mengetuk pintu kamar yang ditempati Ren. Hari ini memang jadwal Ren memakai kamar itu sedangkan ia di sofa. Tapi karena Ren daritadi tidak keluar dan Baekho sudah membuatkan nasi goreng ala kadarnya jadi ia memanggil lelaki cantik itu untuk sekedar makan.

“Choi Minki!!!!” teriak Baekho sambil menggedor keras pintu jati itu.

Baekho meraih gagang pintu dan mencoba membukanya. Ternyata tidak dikunci. Baekho mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ia tidak langsung membukanya saja? Kenapa harus capek-capek meneriaki nama asli Ren dan menggedor pintu sampai tangannya merah.

Baekho memasuki kamar itu dan sudah menyiapkan kata-kata untuk Ren. Tapi ternyata yang dilihatnya adalah pemandangan alami! Bukan, ini bukan pemandangan dua gunung ditambah jalan dan diselimuti awan. Tapi Ren tidur!

Baekho mendengus kesal. Kemudian mendekati kasur dan menatap wajah Ren yang tertidur nyenyak itu. Matanya bengkak, wajahnya basah. Sepertinya Ren habis menangis. Tapi menangis karena apa? Baekho menebak-nebak apa yang menyebabkan lelaki cantik itu menangis sampai tertidur seperti ini.

Baekho kemudian menaikkan posisi selimut yang hanya dipakai Ren untuk menutupi kakinya. Baekho menyingkirkan kaus kaki yang dipegang Ren dan membuangnya dengan keki ke lantai. Kemudian mendengus pelan melihat namja cantik itu tertidur dengan tenang.

“Dasar anak pintar! Tahu saja mau kumarahi makanya tidur!” kata Baekho. Ia kembali ke dapur untuk menghabiskan sisa nasi goreng yang dibuatnya. Lumayan kalau besok ia terlambat ke sekolah masih ada sisa makanan di perutnya.

 

****

 

“TERLAMBAT LAGI?!!!” Baekho dan Ren hampir saja pingsan di depan gerbang yang telah tertutup sempurna, dengan gembok superbesar dan dua orang satpam berbadan besar menjaga tiap sudut gerbang. Kemudian di tengahnya ada guru penegak disiplin yang entah kapan datangnya sehingga tidak pernah seharipun terlambat. Malah jarang sekali tidak masuk. Waktu itu tidak masuk katanya karena tenggorokannya sakit setelah memarahi 100 anak yang terlambat upacara.

“Sudah telat bangun, badan pegal, mata sakit, tidak sarapan lagi. Ya Tuhan kurang apa aku?” kata Ren sambil mendengus kesal.

“Kurang ganteng,” balas Baekho asal.

Ren langsung menginjak kaki Baekho. Ia menghela nafas lesu. Akhirnya hari ini datang juga. Baru juga sampai sekolah langsung diusir. Ya begitulah sekolah mereka setelah mengganti kepala sekolah dan guru penegak disiplin. Ren melangkah pulang lebih dulu, diikuti Baekho di belakangnya.

“Daripada kita diam di rumah, lebih baik kita main,” kata Baekho.

“Main? Pakai baju sekolah?” tanya Ren bingung sekaligus takut. Ia ingin main, tapi sekarang ia memakai baju sekolah.

“Ya nggaklah Choi Minki!!” Baekho menepuk jidat Ren pelan. “Kita ganti baju, setelah itu kencan. Otte?”

“Katamu tadi main, bukan kencan!”

“Ya… ya terserah. Kita pulang dulu, ganti baju, baru ken—“

“Main!!” Ren langsung mengambil alih pembicaraan.

“Main sekalian kencan tidak apa-apa kan?” tanya Baekho sambil tersenyum jahil.

Muka Ren memerah.

“Kita sudah menikah, tapi kita belum pernah kencan sama sekali! Kan lumayan waktu bolos kita ini dimanfaatkan untuk kencan,” Baekho mengedipkan sebelah mata. “Otte?”

Ren mengangguk. “Okay! Kita ken….can… dimana?”

“Di kebun binatang, di kandang kudanil! Ya dimanalah tempat yang asyik! Sudahlah ayo jalan cepat! Saking terburu-burunya kita lupa pakai motor!”

 

***

 

“Kita kencan kemana?” tanya Ren.

Baekho melajukan mobil ayahnya dengan kecepatan sedang. Ia sengaja tidak memberitahu Ren. Ehm, sebenarnya memang Baekho tidak tahu kemana arah dan tujuan mereka berkencan. Pikirannya berkecamuk, antara kebun binatang atau toko hewan saja.

“Maunya kemana?” tanya Baekho balik setelah sekian lama tidak tahu apa yang harus dijawabnya.

“Yang mau mengajak kencan kan… kau..” kata Ren. “Harusnya kau yang tentukan!!”

“Biasanya yang menentukan tempat kencan itu…. wanitanya.”

“Tapi kan aku—“

“Ya sudahlah. Aku yang menentukan tempatnya!” Baekho menggas mobilnya sampai Ren hampir jantungan.

Suasana di dalam mobil itu sementara amatlah sunyi. Hanya suara angin yang menertawakan kesunyian mereka.

“Ya sudah kebun binatang saja.” Kata Ren akhirnya.

“Hm?” tanya Baekho.

“Ke kebun binatang saja.” Jawab Ren dongkol.

“Okay, kita kesana.”

 

***

 

“Aku mau naik gajah!!” kata Ren sambil menarik tangan Baekho.

“Jangan gajah ah! Yang lain!”

“Aku maunya gajah!!”

“Aku tidak mau gajah!”

“Dongho-ya, jebal!”

Baekho menjitak kepala Ren. “Jangan panggil pakai nama asliku! Tidak enak!”

“Ya sudah naik gajah!”

“Eeee ngeyel! Tidak, Choi Minki!”

“Kang Dongho….” Ren menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ditolak.

“Haishh oke oke oke!” Baekho menarik tangan Ren mesra.

“Jangan seperti ini ih!!” Ren memukul-mukul lengan Baekho.

Baekho mendekatkan tubuh Ren ke tubuhnya. Ia memeluk Ren paksa dari samping. Ren terus memberontak.

“Gajah ini bisa dinaiki 2 orang kan?” tanya Baekho pada penjual tiket sambil terus mengikat Ren di tangannya.

“Bisa,” balas penjual tiketnya singkat.

“Oke. Aku beli.”

 

***

 

“Yeheheheeeee!!!!!!!” Ren tertawa sendiri seperti anak kecil yang baru sekali naik gajah. Ia terus-terusan mengelus kepala gajah dan meminta agar pawang gajahnya menyuruh si gajah untuk berjalan lebih cepat.

Dibelakangnya Baekho diam. Sebenarnya ini bukan pilihan yang tepat. Ia trauma sebenarnya dengan binatang-binatang yang bisa ditunggangi seperti gajah atau kuda, tapi gengsi kali kalo nolak begini cuma karna trauma.

“Yeheheeee!!!! Kau kenapa?” tanya Ren pada Baekho yang daritadi diam.

Baekho menggeleng. “Gwaenchana. Yeeee!!!!!” Baekho gengsi, dia malah main enjot-enjotan di badan gajah. Gajahnya ngamuk, kesakitan, pawangnya ikutan melototin, Ren langsung nendang kaki Baekho biar bersikap sewajarnya.

“Iya.. iya.. maaf,” kata Baekho.

 

****

 

“Sepertinya kalau naik kereta itu untuk melewati kandang singa seru deh. Mau coba?” tanya Ren sambil menunjuk sebuah kendaraan loreng-loreng macan yang masih terlihat sangaaat jauh.

“Mwo? Ke kandang singa?” tanya Baekho bingung. “Ani… ani. Kalau kau dimakan singa bagaimana?”

Ren tersenyum lebar. “Mengkhawatirkanku? Tenang saja beberapa kali aku melewati kandang itu aku tidak pernah tersentuh sedikitpun oleh singa itu.”

“Khawatir? Seperti tidak ada hal lain saja. Kalau kau dimakan singa pun aku juga rela—“

PLOK!

Ren langsung memukul kepala Baekho.

“Ayo kita beli tiketnya!!” Ren langsung menarik tangan Baekho paksa.

Baekho terpaksa mengikuti arah langkah Ren dan Ren sudah menyelipkan satu tiket di tangan Baekho. Kedua lelaki itu berdiri di bawah atap stasiun kecil untuk menunggu kereta loreng-loreng yang akan mengantar mereka ke kandang singa.

“Lagian kenapa kita harus repot-repot naik kereta sih buat liat singa. Di TV juga banyak singa,” kata Baekho setelah melihat harga tiket kereta itu.

“Yang penting ini kan pakai uangku. Aku yakin kau tidak akan menyesal. Atau….. kau takut?!” tebakan Ren 1000% benar. Baekho memang takut—dan ia masih sangsi mengakuinya.

“Keretanya datang,” kata Baekho dingin sambil melengos meninggalkan Ren yang malah bengong.

“Dongho-ya! Kang Dongho!!” Ren langsung naik ke atas kereta, menyenggol seorang anak kecil yang dengan susah payah menaiki kereta dibantu oleh ibunya.

Ren mencari bangku dimana Baekho berada. Kemudian ia mendengus kesal karena di sebelah Baekho telah ada seorang perempuan yang mengajaknya berbicara. Perempuan itu sangat cantik, dan kalau Baekho memang normal pasti Baekho menyukainya. Kemudian Baekho dan wanita itu akan bertukar nomor handphone, ber-sms ria sampai malam, melakukan pertemuan di tempat-tempat terdekat dan kemudian meninggalkan Ren yang tidak punya siapa-siapa lagi setelah orangtuanya melepaskannya dan memilih mengasuh bayi lain.

“Kenapa kau diam saja disitu? Seperti orang bodoh,” kemudian Baekho menarik tangan Ren menuju bangku belakang yang masih kosong. Baekho mendudukkan Ren disana sedangkan Baekho berdiri di depan lelaki cantik itu sambil memegang erat tiang kereta.

“Kau sedang apa dengan wanita itu?” tanya Ren sarkatis. Kemudian lelaki cantik itu mengalihkan pandangannya keluar.

“Aku hanya—ya, kau cemburu?” Baekho kini bisa melihat semburat merah dari kedua pipi lelaki cantik itu. “Akuilah, Choi Minki.”

Ren menggeleng. “Cemburu? Memangnya kau siapa?”

Baekho tersenyum lebar. “Aku tidak perlu pengakuan dari bibir mungilmu itu,” Baekho kemudian mengikuti arah mata Ren, menatap pemandangan diluar yang penuh dengan binatang-binatang buas.

Semuanya persis seperti di TV. Terlihat nyata dan dibatasi kaca. Kini kereta loreng-loreng itu tengah melintasi kandang singa. Untungnya singa-singa itu tidak bertindak berlebihan, seperti mencari perhatian dengan sirkus atau mencakar-cakar kaca kereta. Singa-singa itu seperti singa-singa pada umumnya, bengis dan kejam. Bahkan Baekho bisa melihat bekas darah di salah satu mulut singa itu.

“Tumben kau tidak berteriak seperti tadi naik gajah,” goda Baekho. Kemudian ia mencubit pipi Ren sampai lelaki itu berteriak dan terbangun dari tidurnya.

Kereta telah berjalan melewati kandang singa. Kini kereta itu sedang melintasi kandang beruang yang sama bengisnya dengan singa-singa tadi.

“Kandang beruang? Apa sudah melewati kandang singa?” tanya Ren setengah sadar.

“Baru saja selesai trip ke kandang singa. Bagus sekali singanya. Ada yang warnanya putih dan singa itu tercebur ke kolam lumpur. Pokoknya bagus sekali pemandangan tadi!” kata Baekho dengan sedikit sentuhan kebohongan yang tertera.

“Andwae! Andwae! Andwae!! Aku tidak mau tahu aku mau lihat kandang singaaaaa—-“ Baekho langsung membekap mulut Ren dengan tangannya. Seluruh perhatian penumpang kereta tertuju pada seorang lelaki tampan dan seorang yang sangat cantik di belakang sana. Baekho membungkuk minta maaf sambil menahan malu. Ia mengatakan “maaf adikku ini sangat mencintai singanya” dan kemudian membungkuk lagi dengan sopan. Setelah kereta itu berhenti di pemberhentian semestinya, Baekho langsung menarik Ren keluar. Ren tidak bisa diam karena tidak melihat singa. Bahkan ia sudah menangis seperti anak kecil yang tidak dapat permen dari guru TK-nya.

“Kau memalukan! Ayo kita pulang!” Baekho menarik Ren paksa dari stasiun. Ren meronta tidak ingin pulang, tapi tetap saja tangan mungilnya kalah telak dengan cengkraman lengan besar lelaki setengah botak itu.

 

****

 

Sekarang Baekho bingung bagaimana caranya agar Ren berhenti menangis. Sudah sampai rumah dan Ren tidak mau membukakan pintu untuknya. Ren terus mengurung dirinya di kamar dan mengunci pintu rumah ketika Baekho sedang memarkirkan mobil di garasi.

“Minki-ya, jangan marah lagi, tolonglah!” Baekho mengetuk pintunya sambil menahan sakit setelah sekitar 2 jam lebih mengetuk pintu jati itu. “Choi Minki, kau benar-benar tega membiarkan suamimu ini diluar, hm?”

Setelah tidak ada sambutan dari dalam, Baekho duduk di bangku depan rumah. Lelaki itu terus mengontak Ren untuk membukakan pintu untuknya. Setelah itu ia berjanji tidak akan mengganggunya sampai ‘PMS’-nya selesai. Baekho akan meminta maaf bahkan sampai bersujud kalau memang ia melakukan hal yang benar-benar kelewatan.

Akhirnya malam pun datang. Baekho masih setia diluar dengan handphone yang masih ia genggam sampai sekarang. Lelaki itu tidur dengan nyenyak dan membuat Ren yang sudah selesai tertidur panjang pasca menangis tanpa sebab tidak bisa membangunkannya.

“Baekho-ya,” Ren mengguncangkan tubuh besar Baekho. Tidak ada respon. Ren akhirnya masuk lagi ke dalam rumah dan menonton telenovela malam yang jadi tontonannya akhir-akhir ini.

Sebenarnya Ren tidak ada minat menyimak cerita telenovela itu, tentang seseorang yang dikhianati pacarnya dan bodohnya orang itu hanya mendiamkannya dan terus mengikuti perkembangan hubungan pacarnya. Ren lebih memilih memikirkan kejadian tadi malam. Bukan kandang singa, tapi…….

“Akhirnya kau membukakan pintu juga,” kata Baekho sambil memasuki rumah dengan menguap lebar. “Kupikir kau akan membiarkanku kedinginan.”

“Niatnya begitu, tapi karena kau masih anak manusia jadi aku biarkan kau masuk.”

Kemudian handphone Baekho berdering. Lelaki itu reflek menggeser tombol telepon warna hijau dan menempelkan layar bening benda kotak itu ke kupingnya.

“Ne, aku Baekho…… ya? Ah, tidak. Tadi aku ketiduran,” kemudian Baekho masuk kamar.

Ren bisa menebak dari nada suaranya, yang menelepon pasti wanita! Dan wanita itu….. mungkin yang ditemuinya tadi.

Hati Ren berkecamuk. Sakit, tapi juga bingung. Kenapa harus sesakit ini mengetahui Baekho ditelepon wanita? Biasanya ia diam saja sebelum kejadian tadi.

“Siapa yang menelponmu?” tanya Ren sarkatis ketika Baekho baru keluar dari kamarnya.

Baekho menatap Ren singkat. Kemudian tersenyum kecil dan menggeleng. “Bukan urusanmu, Choi Minki.”

Memang benar bukan urusannya. Lagipula kenapa harus ikut campur? Kini Ren mengganti channel telenovela membosankannya dengan drama lain yang lebih baik.

 

-tbc- 

22 thoughts on “Time To Love (BaekRen Ver) Part 1

  1. laladwiputri

    YAALLAH NGGAK BERUBAH MAKIN COMEDY INI SEMUA TTL_NYA AKU SUKAAAAAAAAAAAAAAAAAA! SARANGAHE AUTHORNIM <333333 tapi kalau bisa di lanjutin dong TTL GeonJe-nya aku kanegn couple itu deh :') sama TTL yang lain juga ini seruuuuuuuu you are so funny author i love youuuuu

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      omg akhirnya ada juga yang ngomen ^.^ TTL geonje lagi pending dulu. lupa ceritanya gimana /duag/ insya allah kulanjut kalo ada ide dan waktu🙂 makasih love you too hahaha

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s