Voodoo Doll (Oneshot)

Title : Voodoo Doll

Genre : Horror, Thriller/?, romance, angst, family

Length : Oneshoot

Cast : Sam & Teo (Lunafly), Megan Kwan (OC)

A/N : Hollaaaaa~~~

I’m back again. Kangen kangen kangen? Hahahaa……

Gue lagi mencoba genre baru dan gue ketakutan sendiri wkwk… diharapkan bagi yang suka sama yang baru-baru/? Untuk baca ff ini walaupun rada gaje >,< fyi juga, ini sebenernya tugas gue suruh buat karya narasi imajinatif dan beginilah hasilnya. Oke dibaca dan dikomen yaa J (ps untuk guru gue, semoga lu ga takut ye pak ama boneka santet abis ini wkwk)

 

****

Boneka Voodoo, sebuah boneka yang sangat sakti, sering digunakan untuk membunuh orang yang dibenci dari jarak jauh. Boneka ini memiliki kekuatan yang tidak mempan dibakar, tidak akan hilang walau sudah dikubur atau dibuang jauh-jauh, dan dia akan terus menghantui bahkan sampai pemiliknya pun sudah tidak ada.

                                                                       ****                   

            Chicago, 21 Januari 2014.

Polisi-polisi itu berusaha mengumpulkan data tentang kasus yang sedang dialami wanita di depannya. Ruangan investigasi yang sangat gelap dan kedap suara itu terasa lebih sesak karena tidak ada suara apapun yang terucap dari bibirnya. Dan ketika terucap kata pun tidak ada yang terjamah oleh akal. Polisi-polisi itu makin bingung. Mereka berpikir ingin langsung memasukkan wanita ini ke panti rehabilitasi atau rumah sakit jiwa.

“Nona, bisakah kau ceritakan secara runtut?” tanya polisi berbadan paling besar di depannya. “Kami baru boleh keluar setelah pemeriksaan ini selesai. Tolonglah beritahu apa yang ingin kau beritahu.”

Wanita berusia pertengahan 30 tahun itu diam. Menatap kosong ke depannya. Tangannya gemetar, mencoba menghapuskan segala hal yang pernah terjadi padanya.

“Monster… Mereka… Membunuh… Aku… Monster…”

Kata-kata ini terucap lagi. Di ruangan itu ada 3 polisi dan seorang psikolog. Mereka sama sekali tidak mengerti maksudnya.

“Jadi… kau hampir menjadi korban pembunuhan?” tanya polisi yang ada di sebelah kanan polisi paling besar.

“Aku…. membunuh…. aku…. anakku…. kemudian…. monster….. iya…” kembali wanita itu meracau tidak jelas. Polisi-polisi itu menyerah. Tapi psikolog terus mencatat semua yang diucapkan wanita itu.

“Aku menyerah,” polisi yang paling besar itu mengangkat tangannya. Sudah 8 jam ia berada di tempat ini dan belum mendapat hasil apapun selain kelaparan.

Psikolog itu meletakkan catatannya. Daritadi ia belum berbicara apapun dan hanya memikirkan segala kemungkinan yang ditulisnya di atas kertas.

“Oke,” psikolog itu memulai kata pertama. “Sekarang kuminta kau rileks. Posisikan dirimu seperti apapun yang membuatmu nyaman,” kemudian psikolog itu melanjutkan setelah si wanita muda lebih tenang.

“Rileks, dan kuberikan kau pensil dan kertas. Ambillah.”

Wanita muda itu mengambilnya dengan tangan gemetar. Kemudian menunggu sugesti lain yang diberikan sang psikolog.

“Sekarang isilah kertas itu dengan apapun yang kau pikirkan. Ayo,” psikolog itu mengambil catatannya dan menyamakannya dengan apa yang digambarkan wanita itu.

Setelah sekitar 30 menit wanita itu berhenti dan mengacak-ngacak seluruh ruang investigasi. Para polisi mencoba menenangkannya. Wanita itu terus berteriak dan meracau tidak jelas dengan kata-kata kasar.

Sang psikolog terdiam di tempatnya. Ia menyamakan catatannya dengan gambaran wanita itu. Dahinya mengerut, menandakan ia sangat berkonsentrasi dengan hasil coretan si wanita muda.

“Apa kata catatannya?” tanya polisi yang paling muda.

“Monster, monster, monster, monster, monster, monster, monster, monster, monster, monster, monster, monster, monster..”

****

San Francisco, 13 September 2013.

“Rumah baru!! Dad, aku menyukainya!!” seorang anak laki-laki berusia 8 tahun bersorak girang kala melihat rumah barunya.

“Nah, rumah ini sekarang milikmu, Teo,” lelaki berusia 30 tahunan itu mengacak rambut anaknya. Kemudian menatap wanita di sebelahnya setelah sang anak memasuki rumah barunya.

“Kau tidak akan kesepian. Lihatlah kita punya tetangga. Ya, walaupun mereka lebih tua darimu beberapa tahun,” Sam Carter merangkul istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

“Rumah ini bagus,” kata sang istri, Megan Kwan.

“Aku sependapat denganmu, sayang,” Sam Carter melayangkan kecupan singkat di puncak kepala Megan. Mereka kemudian menelusuri seluruh isi rumah.

Rumah ini tidak sebesar rumah mereka dulu. Rumah ini hanya memiliki satu tingkatan dengan halaman luas dan dua kolam renang yang berbeda ukuran. Pemilik lamanya masih meninggalkan beberapa tanaman yang sangat indah dan juga beberapa benda antik yang sangat disukai Megan. Sam Carter memilih tempat ini karena lokasinya sangat dekat dengan kantor barunya.

Mom, aku lapar! Boleh aku makan sekarang?” tanya Teo.

“Apa yang ingin kau makan, jagoan?” Megan merangkul anak semata wayangnya. Kemudian menciumi pipinya dengan sangat gemas.

“Aku ingin makan ayam goreng!”

****

San Francisco, 20 September 2013.

Megan baru selesai memasak di dapur ketika Teo berteriak memanggilnya. Wanita muda itu segera menuju kamar anaknya yang terletak di dekat ruang tamu.

“Astaga!” Megan mundur satu langkah setelah membuka pintu kamar Teo. Megan tidak mampu berkata-kata. Tangan kirinya menutup mulut dan tangan kanannya memegang knop pintu.

“Teo, apa yang kau lakukan….?” Megan bertanya dengan sangat pelan, hampir tidak terdengar.

Teo, anak laki-laki itu terdiam sambil menatap kedua telapak tangannya. Anak itu ingin menangis, tapi dia tidak bisa melakukannya. Teo menggeleng, mencoba mencerna semua yang terjadi padanya baru-baru ini.

“Teo, jawab Mom! Apa yang kau lakukan?” tanya Megan dengan sangat marah.

Teo menggeleng. “Aku… aku…. tidak tahu, Mom,” nafas anak itu tersengal panik.

Megan menggeleng. Ia memberanikan diri masuk ke dalam kamar anaknya. Tidak ada kata-kata terucap, tapi lututnya melemas. Melihat Teo yang tangan dan seluruh tubuhnya berlumuran darah serta 5 anak laki-laki yang tergeletak tak berdaya di atas lantai, nafas Megan tersengal. Ia mencari handphone di saku jeans-nya untuk menelepon Sam. Sayang, handphone-nya tertinggal di kamarnya.

“Teo, ceritakan pada Mom apa yang kau lakukan!!” Megan berseru marah. Membuat anak itu menangis keras dan tidak mampu berkata-kata.

Megan ikut menangis. Kemudian menarik tangan Teo dan membawanya masuk ke kamar mandi. Wanita muda itu melepas seragam Teo dan meletakannya di pojok kamar mandi. Megan menyalakan shower dan membasuh seluruh darah yang ada di tubuh Teo. Anak itu masih menangis, tapi ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah sang ibu.

“Sam, kemarilah, cepat!!” Megan berseru di telepon dengan panik. Ia menangis sambil memeluk Teo yang juga masih menangis.

“Ada apa? Aku masih punya beberapa pekerjaan,” Sam di seberang sana membalasnya.

“Sam, tolonglah, aku membutuhkanmu sekarang!” kemudian Megan mematikan handphone. Menyembunyikan dirinya di dalam selimut dengan tangannya memeluk Teo untuk menenangkannya.

****

“Tidak, aku yakin Teo tidak melakukannya!” Sam menutup pintu kamar Teo dengan keras. Kemudian beralih ke ruang tamu untuk membicarakan hal ini lebih lanjut.

Sekarang baru jam 4, tapi suasana di rumah yang baru dibeli Sam seminggu lalu itu sangat suram. Lelaki itu mengacak rambutnya, menariknya keras berharap emosinya redam.

“Sam, ayolah kita pindah dari sini,” kata Megan pelan, menggenggam tangan suaminya.

Sam berpikir sejenak. Kemudian mengangguk. “Kita pindah ke apartemen untuk sementara.”

****

Chicago, 22 Januari 2014.

Wanita muda itu kembali ke dalam ruang investigasi yang gelap dan kedap suara. Kali ini ia didampingi 4 polisi—2 diantaranya wanita, seorang dokter, dua orang psikolog, dan satu paranormal. Wanita itu masih sama seperti kemarin, berpenampilan kacau dan tatapannya kosong.

“Kau bisa membaca sesuatu?” tanya satu psikolog yang mendampingi para polisi kemarin pada orang pintar itu.

Si paranormal menggeleng. “Tatapannya kosong, pikirannya berkabut, aku benar-benar tidak bisa masuk,” katanya sambil terus menatap bola mata cokelat wanita muda itu.

“Nyonya Carter, bisakah kau berikan kami petunjuk apa yang kau sembunyikan? Kenapa kau datang kesini kalau kau tidak punya tujuan?” tanya satu polisi wanita yang berada di samping kanannya.

Kembali tidak ada ucapan. Para pendamping investigasi itu bisa menebak, hari ini akan sangat panjang dan melelahkan untuk mereka.

****

Washington DC, 20 November 2013.

Tepat sebulan keluarga Carter pindah ke tempat lain. Rumah itu dibiarkan kosong dengan 5 mayat dan berjuta misteri di dalamnya. Kebetulan Sam Carter dipindahkan dinas ke kota ini, dan ia berharap selamanya akan disini.

Kehidupan mereka kembali. Tidak ada yang merasa terancam karena berada di perkotaan. Tidak ada hal-hal yang menyeramkan menghantui mereka lagi. Teo kadang masih trauma, dan untungnya Sam mengenal psikolog anak yang siap membantu menyembuhkan mental Teo.

Tok.. tok..

Pintu kamar Teo diketuk. Anak laki-laki itu meminta izin pada anak di depannya untuk membukakan pintu.

“Itu ibuku, kau harus melihatnya,” kata Teo padanya.

Anak itu mengangguk dan terus memainkan boneka yang ada di tangannya.

Teo membuka pintu untuk menyahut panggilan ibunya. Anak itu juga menarik tangan ibunya untuk memperkenalkannya pada teman barunya.

Mom tidak melihatmu membawa teman daritadi,” kata Megan bingung dengan cerita Teo.

“Dia ikut dengan kita semenjak kita pindah rumah, Mom. Mom tidak sadar ya?” Teo mengajak ibunya masuk lebih dalam ke dalam kamarnya. Megan mulai merinding, tapi tidak tahu harus melakukan apa lagi.

Mom, ini Billy, temanku. Billy, ini Mom, ibuku yang paling cantik. Berkenalanlah,” kata Teo dengan udara kosong di depannya.

Megan mundur selangkah. “Teo…”

Mom, Billy telah mengulurkan tangannya. Mom kenapa tidak membalasnya?” tanya Teo. “Mom..”

“Teo, siapa Billy?” tanya Megan.

“Billy temanku, yang mengajarkanku semuanya,” Teo menjawab dengan sangat polos. “Billy mencontohkanku menggunakan boneka ini. Namanya Voodoo, dan dia bisa melakukan apapun yang ku perintahkan.”

Megan menatap boneka yang tergeletak di atas lantai dengan penuh bekas jahitan di sekujur tubuhnya. Boneka itu terlihat sangat menyedihkan. Tapi sebenarnya tersimpan penuh misteri di dalamnya.

Setelah sekian lama Megan menatap boneka bernama Voodoo itu, barulah ia sadar kalau mata boneka itu menyala, dan boneka itu tersenyum penuh misteri. Megan berteriak, dan Teo pun membawa ibunya keluar atas perintah “Billy”.

****

 

 

San Francisco, 22 Januari 2014.

“Monster, mereka semua monster, monster, monster, terkutuk, monster, monster, mereka gila, monster monster, mereka membunuh, monster monster gila, monster monster monster…”

“13 kali,” polisi berbadan kecil menghitung jumlah kata monster seperti yang dilakukan psikolog kemarin.

“Orang Amerika sangat tidak menyukai angka 13,” salah satu polisi wanita menghela nafas.

“13 September 2013, aku, Sam dan Teo pindah rumah,” wanita muda itu berbicara dengan sangat lancar. Semua orang di ruangan itu reflek mencari handphone dan kalender untuk mengecek tanggal tersebut.

Friday the 13th…” paranormal di ruangan itu langsung menjawabnya tanpa melihat kalender. Kemudian wanita muda itu mulai bercerita lagi.

****

New York, 7 Desember 2013.

Hari ini Teo berulangtahun. Sam dan Megan mengajaknya ke New York, sebuah kota dengan sejuta keindahan bagi orang-orang penyuka belanja. Teo sangat senang, dan tidak henti-hentinya meminta setiap mainan yang ditunjuknya.

“Tidak, Teo. Kau harus memilih salah satu dari mereka,” kata Sam dengan tegas.

“Tapi, Dad…”

“Bekerjalah dengan sangat rajin, dan kau boleh mendapatkan itu semua,” kata Sam. Kemudian mengajak jagoan kecilnya ke salah satu toko mainan besar didekatnya.

****

“Permisi-permisi,” semua orang terdengar mengumpat ketika Sam dan Megan berusaha menerobos kerumunan di dalam toko mainan itu. Kemudian Sam dan Megan sama-sama terkesiap melihat seseorang yang menjadi objek hari ini.

Teo berdiri dengan sangat gagah sambil memegang boneka Voodoo dan pisau kecil yang entah darimana ia dapatkan. Boneka itu sama seperti orang yang tergeletak di depan kasir, berlumuran darah.

“Teo, apa yang kau lakukan?” tanya Sam. Ia tidak mengira kejadian ini akan terjadi lagi.

“Dia tidak memberikanku mainan ini. Jadi Billy menyuruhku membelah Voodoo agar mendapatkannya,” Teo menjawab dengan santai, seakan kejadian ini tidak berarti sama sekali untuknya.

Sam menarik baju Teo dengan kasar. Membuang boneka Voodoo itu dan membawanya keluar dari toko. Perhatian para pengunjung toko tertuju pada mereka. Teo tidak menangis seperti pertama ia membunuh 5 temannya dengan boneka menyeramkan itu. Ia bertindak sangat santai, dan mengambil boneka Voodoo yang kembali tergeletak di bawah kakinya.

“Buang benda itu, Teo! Kau telah membunuh banyak orang dengan itu!” Sam mundur selangkah, mengikuti Megan.

“Aku tidak membunuhnya, Dad. Mereka akan hidup lagi seperti ini,” Teo menunjukkan boneka Voodoo-nya. “Apakah Dad mau sepertinya?”

“Persetan! Itu bukan anakku! Siapa kau, ha?!” Sam mencoba mengambil boneka itu dari tangan Teo. Tapi Teo menusuk kaki Voodoo dan berefek pada Sam.

“Sam!” Megan mendatangi suaminya, mengelus kakinya lembut dan menatap beberapa polisi kota yang siap menangkap satu keluarga itu.

“Jangan sekali-kali menyentuhku, suamiku atau anak itu! Itu bukan anakku! Di dalamnya bukanlah anakku!” mata Megan melotot tajam. Para polisi itu mundur ketika melihat Teo mengacungkan pisaunya. Megan mengambil pisau dan boneka itu. Kemudian memasukannya ke dalam plastik belanjanya dan menutupnya rapat-rapat.

****

Malam-malam sekali Megan keluar sambil membawa boneka Voodoo tanpa diketahui Teo dan Sam. Wanita itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengarungi jalan yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya.

Roda mobilnya membawanya ke suatu tempat di sebuah bukit. Tempat itu sangat gelap dan tidak tersentuh cahaya. Ketika sampai di tempat yang tidak ia ketahui asal usulnya, Megan mulai menggali lubang untuk mengubur boneka terkutuk itu.

Hujan deras tiba-tiba turun. Baju Megan telah basah oleh air hujan dan keringat dingin. Boneka Voodoo itu masih tergeletak, tak menunjukkan reaksi apapun. Setelah lubang cukup dalam, Megan memasukkan boneka terkutuk itu dan menguburnya. Ia membaca beberapa mantra yang ia dapatkan dari kitab agamanya. Setelah itu kembali ke rumahnya dengan perasaan sedikit lebih lega.

****

Washington DC, 8 Desember 2013.

Megan bersyukur bisa kembali lagi ke rumah. Setidaknya penderitaannya akan segera berakhir setelah membuang boneka terkutuk itu. Ia telah membacakan doa-doa yang didapatkannya dari ahli agama dan berharap didoakan oleh orang-orang suci itu. Megan mengganti bajunya yang basah dengan piyama lainnya yang kering. Megan kembali ke atas tempat tidur setelah selesai mengganti bajunya.

“Sam,” panggil Megan pelan. “Doakan aku, kali ini pasti berhasil.”

Tidak ada jawaban. Dan Megan yakin suaminya itu pasti tertidur pulas setelah menjalani hari-hari yang sulit dalam hidupnya.

Megan mencoba menutup matanya. Tapi kemudian terbangun lagi setelah mendengar suara berisik dari arah dapur. Megan membuka pintunya dan seketika pingsan setelah kepalanya mendapat terjangan benda keras.

****

San Francisco, 8 Desember 2013.

Sekitar 10 menit kemudian Megan terbangun. Tapi tempat yang dilihatnya sangat berbeda dengan tempat yang ia ingat. Ia tidak tahu tempat apa ini. Seingatnya tidak ada tempat sesuram ini di dalam apartemennya. Megan memekik kaget ketika melihat sesuatu yang tidak asing untuknya. 5 orang mayat anak laki-laki yang masih berdiam disana tidak berdaya. Rumah lamanya!

“Sam,” Megan memanggil nama suaminya. “Sam, kau disana?” tanya Megan. Ia berdiri dari tempatnya dan mencoba melihat di kegelapan. “Sam Carter..”

Tidak ada sahutan. Megan mulai takut. Tidak ada pencahayaan sedikit pun disini. Tidak ada siapapun, dan suaranya menggema menakuti dirinya.

“SAM!!” Megan reflek berteriak melihat seorang—tidak, sebuah boneka mengacungkan pisau padanya. Megan mundur selangkah demi selangkah. “Jangan dekati aku.”

Setelah itu Teo muncul, menggendong boneka Voodoo yang bergerak ke arahnya. Megan menatapnya sengit, itu bukan Teo anaknya.

Mom.”

Megan menggeleng dan mengelak. Kemudian berlari dan mencari keberadaan Sam. Ia terus meneriakan nama Sam dan Tuhan, menghindari kejaran makhluk yang memakai raga Teo dan boneka Voodoo-nya.

Mom benar, aku Billy dan bukan Teo,” anak laki-laki itu tersenyum sinis. Kemudian mengarahkan pisau yang ia pegang ke atas perut Voodoo. Nyeri. Megan terduduk sambil memegangi perutnya. Kemudian terjangan pisau itu diarahkan pada kepala Voodoo. Lagi-lagi Megan terkena efeknya. Kepalanya nyeri dan tidak kuat lagi berdiri. Sosok Billy yang memakai raga Teo tertawa keras, melontarkan tusukan bertubi-tubi pada tubuh Voodoo sampai boneka itu mengeluarkan darah. Megan tidak menyerah. Ia terus memanggil nama Sam walaupun “Billy” mengatakan Sam telah terkubur di dalam tubuh Voodoo yang ia kubur tadi.

“Lalu dimana Teo? Dimana kau sembunyikan dia?” tanya Megan sambil memegangi perutnya. Sekarang rasa sakitnya 100 kali lebih kuat daripada pukulan pertama tadi.

“Dia ada di suatu tempat, dan akan kembali setelah Mom membunuhku, Billy,” jawabnya.

Megan mendapatkan kembali kekuatannya. Kemudian meraih pisau dapur yang ia temukan tadi dengan sisa tenaganya. Megan mengejar anak itu dengan penuh amarah. Ia ingin anaknya kembali. Setelah itu ia akan membebaskan Sam dari lubang yang ia buat tadi.

Suara tawa Billy menggema. Jauh berbeda dengan suara tawa Teo yang menggemaskan dan menghibur. Megan merindukan Teo, Megan sangat menyayanginya, dan Megan tidak ingin kehilangannya.

****

Chicago, 22 Januari 2014.

Dengan dituntun oleh paranormal, wanita muda itu berhasil mencapai ujung ceritanya. Para polisi menghela nafas lega, dan dua psikolog itu masih meneliti tulisan tangan dan coretan yang baru dibuat wanita itu 1 jam lalu.

“Sepertinya ini adalah gambar,” salah satu psikolog mencoba menebak. “Ini kepala, ini tubuh, ini tangan, kaki, dan yang bergambar x ini adalah mata dan mulutnya.”

Psikolog satunya menggeleng. “Kalau x itu mata, lalu 13 kali huruf x ini apa? Kenapa mereka menyebar di setiap tubuhnya?”

Psikolog itu menggeleng. Kemudian kembali mendengarkan lanjutan cerita dari wanita muda itu.

“Aku membunuhnya, aku wanita jahat, aku ibu yang sangat jahat.”

****

San Francisco, 8 Desember 2013.

Billy terpojok sendiri, dan Megan siap dengan pisau dapurnya yang berada dekat dengan Voodoo. Wajahnya menyiratkan kebencian yang amat sangat pada sosok itu. Ia bersiap-siap membunuh sosok itu untuk mengembalikan Teo ke dalam raganya.

“Ucapkan selamat tinggal, Billy,” Megan tersenyum penuh kemenangan. Kemudian menusuk-nusuk tubuh Voodoo dengan sadis seperti yang dilakukan Billy terhadapnya. Billy meraung, dan itu membuat Megan sangat senang.

“Hentikan!!” teriak Billy ketika pisau itu telah beralih pada kepalanya. Megan meneruskannya dan tertawa dengan puas. Kemudian mengguncang-guncangkan boneka itu dan membuangnya ke atas tanah. Billy terbunuh, dan kemenangan berada di tangan Megan.

Mom,” suara lemah Teo terdengar. Megan terdiam, mendatangi tubuh Teo yang terkapar tak berdaya. “Mom,” anak itu tersenyum lemah. “Aku mencintai Mom.”

Megan tidak henti-hentinya mengucap syukur dan memeluk Teo. Mengecup setiap jengkal bagian di wajahnya. Tapi kemudian Teo diam, tidak mengucapkan kata apapun. Megan meneriakkan nama Teo, dan Teo tidak akan kembali selamanya.

“Kau tidak mendengarkanku lebih jauh. Teo akan kembali setelah kau membunuhku, tapi aku tidak akan bisa dibunuh karena aku adalah Voodoo. Voodoo yang tahan terhadap apapun. Voodoo tidak akan hilang walaupun kau telah membuangku jauh di ujung dunia, tidak akan mempan dibakar, dan tidak akan pernah berhenti menghantuimu, selamanya..”

****

Chicago, 1 Januari 2015.

Megan Kwan dipenjara satu tahun. Hukuman ini sangat ringan untuknya karena setelahnya ia harus mendapatkan rehabilitasi untuk memulihkan mentalnya. Wanita muda itu makin tidak terawat. Wajah cantiknya sekarang kusam, tubuhnya makin kurus, semangat hidupnya menipis.

Billy dan Boneka Voodoo itu tidak menghantuinya seperti janji mereka dulu. Tapi kenangan-kenangan buruk tentang Sam dan Teo-lah yang menghantuinya. Wanita muda itu hidup dengan tidak tenang. Satu yang diinginkan wanita itu adalah menyusul kedua orang yang dicintainya itu ke alam lain. Ia ingin melupakan segalanya.

Wanita muda itu berdiri di atas rel kereta. Menunggu besi bergerak itu menghantam tubuhnya dan menarik rohnya menjauh dari dunia. Membawanya kembali ke pangkuan Tuhan, mendapatkan kembali kebahagiaannya. Dari jauh ia bisa melihat senyum menawan Sam dan Teo yang menjemputnya.

Suara besi bergerak itu semakin dekat. Sam dan Teo mendekat, menunggu Megan mencapai ajalnya. Megan merentangkan tangannya, dan membiarkan benda itu membawanya jauh terpental sampai tidak berbentuk lagi.

 

SELESAI

9 thoughts on “Voodoo Doll (Oneshot)

  1. VieLli

    W.O.W ffnya keren. Bukan pertama kalinya baca yg macam ini, tp ini tuh keren! Seperti halnya ff2 vixx sebelumnya, aku suka sm cerita2 yg ditulis disini. Kayaknya bakal jd wp langganan buat baca ff nih😀

    Reply
  2. VieLli

    Gak bakal nyesel klo’ dikasih sajian (?) yg keren+bagus macem begini😀
    Eiy, gak penasaran sm yg on going? Kamu blg gtu ya jadinya aku makin penasaran O.o)a musti tanggung jawab hayo =o

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      slr (lagi) alasannya sama kaya yang tadi(?) aku baru kali itu bikin dan udah merinding disko aja pas kamar masih dibelakang rumah ((curcol)) makasih udah baca dan komentar yaa~~^^

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s