[FF Colab] Fly To Love (Part 3)

fly-to-love-poster[poster by : ©chioneartposter]

Title : Fly To Love

Genre : comedy, romance, shonen-ai, ooc, etc

Length : Part 3 of ?

Author : Lailla Mustika Pertiwi

Cast :

~ Oh Sehun *EXO*

~ Xi Luhan *EXO*

~ other EXO members

A/N : hollawrrrr~~~ akhirnya gue balik lagi setelah sekian lama menghilang dari dunia ini/?

Ini lanjutan ff yang sebenernya udah gue tulis dari dulu tapi sempet ngilang karna kena virus /nangis bombay/

Okay bolehlah dibaca sekarang dan jangan lupa ngomen kalo sempet ^^

 

Nb : ff ini udah di share sama temen gue di ffn. Kalo kalian nemu yang sama itu emang kesengajaan/?

 

****

Sehun tidak bersemangat hari ini…..

“Sehun-ah!” seseorang memanggilnya, tapi Sehun pura-pura tidak mendengar.

“Sehun-ah! Ya Sehun-ah!” orang itu berteriak lagi. Kali ini Sehun cepat-cepat mengambil earphone untuk menutupi telinganya.

“OH SEHUUUUUUUUN!!!!” dan earphone itu terlepas bahkan sebelum Sehun sempat memasangnya.

“ADA APAAAAAA?!! KAU TIDAK TAHU AKU PUSING, HA?!!” Sehun kelewat emosi. Ia menatap Chanyeol tajam dan menenggelamkan wajahnya ke tumpukan tangannya.

Chanyeol bergidik ngeri menatap sahabat barunya itu. Perlahan ia mundur agar tidak terkena damprat Sehun lagi. Bukannya Chanyeol tidak tahu kalau sebenarnya Sehun sedang kacau, tapi ia tidak mau melewatkan pengumuman ini. Mungkin Chanyeol harus memberitahukannya setelah suasana hati Sehun membaik.

Selama seharian Sehun lebih banyak melamun dan menempelkan earphone seakan mendengarkan lagu heavy metal dalam volume keras. Tapi sebenarnya earphone itu tidak disambungkan kemana-mana, bahkan ia memegang mp3 dan handphonenya di kedua tangannya. Ketika istirahat pun Sehun memilih untuk tetap di kelas dan mencoba memejamkan mata, melepas lelah. Tapi suasana kelas yang berisik membuatnya tidak bisa mencapai alam bawah sadarnya. Sehun benar-benar pusing saat ini.

 

KRIIIIIIIIIIIIING

Dan yang membangunkan Sehun dari lamunannya di hari ini adalah bel pulang sekolah—yang awalnya ia kira bel istirahat—dan ia tidak menemukan Chanyeol di bangku sebelahnya. Kemana anak itu?

“Siap, membungkuk..” sang ketua kelas berdiri dan memberikan aba-aba agar anak-anak membungkukkan kepalanya sedikit.

Setelah itu guru beserta para murid keluar, dan menyisakan Sehun sendirian di dalam kelas. Ia tidak siap pulang ke rumahnya sekarang.

Chanyeol! Mana Chanyeol? Mungkin akan lebih baik jika Chanyeol pulang bersamanya dan bermain di rumahnya agar ia tidak melihat 2 wajah menyebalkan di rumahnya.

Ah ya, benar. Chanyeol harus bermain dengannya. Minimal menemaninya main PS sampai ia bosan kemudian mengajaknya bermain game online di warnet dekat rumahnya. Oke rencana yang brilian. Tapi masih ada yang mengganjal di hatinya saat ini.

“Di rumahku ada Luhan, dan pastinya…….” Sehun menelan ludahnya sendiri dengan berat. “…….dia akan lebih memilihnya disbanding aku,” dan Sehun mengetuk-ngetukkan kepalanya di atas meja. Frustasi.

 

****

 

Sebenarnya tanpa diketahui oleh Sehun, Luhan juga merasa hal yang sama. Ia tidak siap untuk pulang hari ini. Kenapa orangtuanya dengan santai meninggalkannya ke Swiss dan menitipkannya pada keluarga Sehun yang belum terlalu dikenalnya. Sebenarnya darimana kedua orangtuanya mengenal orangtua Sehun? Kenapa ia tidak pernah diperkenalkan sebelumnya?

Itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah kenapa ia seperti bayi yang dititipkan orangtuanya ke panti asuhan selama keduanya sedang bepergian. Tapi Luhan sudah dewasa, ia hampir 18 tahun dan orangtuanya masih memperlakukannya seperti anak bayi?! Oh Tuhan kenapa hidupku begitu sulit.

“Hyung?” suara Jongin membangunkannya dari bayangan hidup mengerikannya. Ia menatap lelaki tinggi itu dengan sayu.

“Kau kenapa?” Tanya Jongin yang melihat ketidakberesan di wajah Luhan.

Luhan menggeleng. “Tidak apa-apa.”

Jongin terlihat tidak yakin. Ia memeriksa kening Luhan dan wajahnya memerah seketika—jantungnya juga berdebar cepat dan untungnya tidak diketahui Jongin.

Jongin tersenyum manis. “Bagaimana kalau sedikit melepas lelah dengan meminum kopi? Aku yang bayar.”

Luhan menatapnya curiga. “Kau mau apa memangnya?” sambil tersenyum manis Luhan mengiyakan dalam hati.

“Mmm…. Aku masih belum mengerti yang dijelaskan guru Yong tadi. Ilmuku terlalu parah untuk sekedar melihatnya membuka mulut.”

Luhan tertawa kecil. Lelaki itu bisa meringankan bebannya. Sedikit.

“Baiklah. Kau mau traktir apa?”

Jongin menghela nafas malas. “Sudah kubilang kopi. Ayolah aku bosan dengan kelas ini.”

Luhan akhirnya berjalan mengikuti arah langkah Jongin. Lelaki itu masih mempesona, bahkan ketika jalan malas sekalipun.

“Kau masih terpesona denganku?” Tanya Jongin yang sepertinya mengetahui Luhan sedang senyum-senyum sendiri di belakangnya.

Luhan tertawa kecil. “Jadikan itu mimpimu. Mungkin saja akan menjadi kenyataan. Atau….. tidak akan pernah,” dan Jongin tertawa kecil di belakangnya.

“Oke aku akan menuliskannya di kertas impianku nanti. ‘membuat Xi Luhan terpesona pada Kim Jongin’,” balas Jongin sambil memakaikan helmnya ke kepala Luhan.

“Kau tidak memakai helm?” Tanya Luhan setelah melihat tidak ada helm lagi yang menyangkut di badan motornya.

Jongin menggeleng. “Sudahlah, ayo naik,” dan Jongin melajukan motornya perlahan agar tidak menakuti Luhan yang benci kecepatan.

 

****

 

“Aku pulang,” Sehun mengucap malas setelah memasuki rumahnya. Di sofa sudah ada ibu dan adiknya yang saling bercerita. Sehan kelihatan sangat senang, berbanding terbalik dengan sang kakak.

“Untuk apa aku memberi salam kalau tidak ada sahutan,” Sehun melengos kesal. Kemudian meninggalkan ibu dan Sehan yang bengong melihat Sehun sendiri.

“Sehun Hyung, dimana Luhan Nuna?” Tanya Sehan tanpa mempedulikan keadaan Sehun yang sebenarnya sangat parah.

Nuna? Dia memanggilnya ‘Nuna’? sehun terkikik pelan kemudian menatap adiknya yang berada di dekapan sang ibu.

“Kau memanggilnya ‘Nuna’? Sehan-ah, dia laki-laki.”

“LUHAN NUNA PEREMPUAN. MANA ADA LAKI-LAKI SECANTIK DIA!” Sehan setengah emosi. Ibunya tertawa keras. “Eomma, aku mau tumbuh besar. Aku mau menikahinya,” Sehan menatap ibunya dengan mata berbinar. Sehun tidak bisa mengontrol tawanya sekarang dan terduduk di dekat tangga.

“Ya, Oh Sehan! Kau tidak tahu kan dia sebenarnya? Dia itu cengeng, tukang pembuat masalah. Dia menyebalkan! Aku tidak mau kau dengannya.”

“Wae? Hyung cemburu?” Sehan tersenyum menggoda. “Kalau begitu Hyung harus bersaing denganku.”

Sehun menarik ujung bibirnya ke atas. Bersaing? Bersaing dengan adiknya untuk Luhan? Adiknya salah. Harusnya dia bersaing dengan Chanyeol karena mereka berdua sama-sama idiot memperebutkan orang yang salah.

“Oh Sehan,” Sehun mendekati adiknya. Adiknya melepas tangan ibunya dari tubuhnya. “Kalau…….”

Tok… Tok… Tok….

Setelah pintu diketuk muncullah seseorang yang sedang dibicarakan dua kakak beradik itu. Tidak—tidak hanya seorang. Tapi 2 orang.

“Annyeonghaseyo, Eomma…” Luhan membungkuk sopan, diikuti seorang yang lebih tinggi disebelahnya.

“Siapa ini? Ayo masuk…” Hyojin mempersilakan dua anak muda di depan pintu itu masuk.

“Err…. Ahjumma, mianhae aku ada urusan lain. Aku hanya mengantar Luhan Hyung kesini,” lelaki itu membungkuk sopan.

“Oh…. Baiklah. Jangan lupa mampir lagi ya lain kali,” ibunya tersenyum dan setelah orang yang mengantar Luhan itu berbalik badan barulah Luhan masuk dan menanyakan pertanyaan basa-basi pada Luhan.

“H-Hyung…” Sehan menatap Luhan sayu, kemudian beralih pada Sehun yang ikut menatap objek yang tadi dilihatnya. Semangat yang berkobar untuk menjadikan Luhan miliknya tiba-tiba hilang ditelan takdir.

“Kau kalah, Sehan-ah…” kemudian Sehan menangis keras sedetik setelah Sehun mengatakannya.

 

****

 

“Hyung, ini untuk Hyung, ini untuk Sehan,” Sehan dengan adilnya membagi kuenya dengan Luhan. Sehun yang sedang membaca majalah otomotif mendengus untuk menyamarkan tawanya. Kemudian kembali melihat trend-trend mobil saat ini.

“Sehun Hyung tidak diberi?” tanya Luhan saat melihat Sehun yang sepertinya sirik karena tidak mendapatkan bagian.

“Tidak perlu,” Sehan menjawab singkat.

Lagian aku juga tidak mau! Sehun berusaha untuk tidak memulai perdebatan lagi di malam yang indah ini. Ia pergi dari ruang tamu ke kamarnya.

Tepat ketika Sehun memasuki kamarnya handphone Luhan bergetar, menampilkan nomor yang tidak dikenalnya. Sehun mencoba menebak siapa yang menelpon, tapi akhirnya ia menjatuhkan tebakannya pada Jongin seorang. Tapi tidak mungkin kan nomor Jongin tidak disimpan olehnya. Eh tapi kan kemarin kelihatan jelas kalau Luhan dan Jongin ‘putus’. Tidak… tidak…. tadi Jongin dan Luhan pulang bersama. Jadi….

“Pabo!” Sehun menjatuhkan dirinya di atas kasur. Kenapa pula ia memikirkan siapa yang menelpon Luhan malam-malam. Lagian memangnya apa kepentingannya?

Handphone Luhan kembali bergetar setelah beberapa detik berhenti. Sehun mulai terganggu dengan suara getarannya yang ikut menggetarkan gendang telinganya. Sehun mengambil handphone-nya dan berniat menjawabnya.

Tidak… Tidak… itu bukan haknya. Nanti Luhan pasti akan marah-marah padanya dan melaporkannya pada ibunya. Kemudian Sehun diusir keluar dari rumah.

 

27 panggilan tak terjawab.

 

Sebenarnya siapa orang ini? Kenapa sangat niat menelpon lelaki menyebalkan itu. Sehun tidak kuat lagi ketika nomor tidak dikenal itu kembali menelponnya.

“Yoboseyo?!!” Sehun menjawab kesal sehingga tidak ingat kalau handphone yang dipegangnya sebenarnya milik orang lain.

“Y-Yoboseyo?” orang di seberang sepertinya heran mendengar suara aneh dari handphone orang yang ditelponnya. Perlu beberapa detik bagi Sehun untuk menyadari itu suara orang yang dikenalnya. Sehun buru-buru memutuskan sambungan teleponnya dan pura-pura tidak mengalami kejadian memuakkan itu.

 

****

 

“Yob—“ sambungan telepon itu terputus begitu saja. Chanyeol memeriksa keadaan handphone-nya, kemudian pulsanya. Semuanya tidak memprihatinkan. Berarti orang di seberang yang memutuskan sambungan teleponnya. Tapi kenapa? Bahkan Chanyeol belum sempat mengucapkan apa yang ia ingin ucapkan—lelaki itu sudah menuliskannya di belakang bukunya.

 

“Annyeonghaseyo, Luhan Sunbae .

“Apa kabar?”

“Aku penggemar rahasiamu, yang selalu menaruh memo cinta di depan lokermu(Chanyeol menghapus kalimat di belakang koma untuk tetap merahasiakan dirinya)

“Sunbae, maukah kau makan ikut besok siangapakah sibuk? Maukah kau makan siang bersamaku?” (Chanyeol sebenarnya ragu dengan kata-katanya, dan dia sibuk mencoret sampai dia tidak ingat mana yang benar dari seluruh kalimat yang ia buat)

“Sunbae, tidurlah aku akan menyanyikan lagu untukmu…..” (Chanyeol hanya memikirkan lagu ‘gom semari’ untuk lagu pengantar tidur nanti—kalau Luhan memberinya kesempatan)

“Selamat malam, Sunbae. Mimpi indah. Aku mencintaimu….” (Chanyeol berani bersumpah kalau ia adalah orang yang paling beruntung setelah mengucapkan kalimat terakhirnya)

Tapi semuanya langsung pupus ketika mendengar suara lain yang menjawab teleponnya. Dia siapa? Ayah Luhan? Untuk apa Ayahnya menjawab panggilan anaknya? Untungnya Chanyeol belum sempat berkata apa-apa.

Suara itu terdengar familiar. Tapi sekeras apapun Chanyeol berpikir sampai kopinya dingin dan tugasnya belum ada yang dikerjakan, ia tidak bisa menebak siapa itu.

“Mungkin dia sudah tidur. Ini sudah jam 9,” Chanyeol mendelik ke arah jam yang diletakkan di dinding tepat di depannya. “Tuan putri tidak seharusnya tidur malam-malam. Kecantikannya akan membangunkan matahari yang sedang tidur…” Chanyeol bersajak bebas dan menyadari ia sudah terlalu lama melamun sampai ia melupakan tugasnya.

 

****

 

Suasana hati Sehun sudah membaik. Tadi malam ia bisa tidur di kasurnya sendiri karena Sehan meminta Luhan tidur dengannya. Hyojin menerima saja kalau ia tidak terlalu dibutuhkan lagi oleh anak bungsunya. Bahkan Luhan melakukan ritual malamnya bersama Sehan, membaca cerita sebelum tidur.

“Yeol-ah!” Sehun menggebrak meja Chanyeol sampai lelaki jangkung itu terjungkal. Ia mengelus dadanya pelan diikuti tawa Sehun yang menggelegar. “Kau kenapa, eoh?”

Sehun kaget melihat lingkar hitam di kedua mata Chanyeol.

“Aku kurang tidur karena terlalu lama melamun. Tugasku tidak kuselesaikan dengan baik karena memikirkannya…”

Sehun menggeleng pelan. Seseorang kalau sedang jatuh cinta pasti memiliki kemampuan yang jarang dimiliki orang lain, bahkan yang sudah diberi kemampuan khusus dari lahir pun. Dan Chanyeol jadi memiliki kemampuan bersajak bebas.

“Sehun-ah,” Chanyeol merubah raut wajahnya menjadi lebih ceria. “Kau tahu, kemarin aku menelpon Luhan Sunbae!”

Deg.

Dada Sehun seperti ditonjok Mike Tyson, detak jantungnya pun semakin cepat. Jangan…. Jangan sampai sadar kalau aku yang mengangkatnya….

“Kau tahu, suaranya seperti malaikat sungguhan!” mata Chanyeol makin berbinar.

“J-Jinjja?!” oh Tuhan… suaraku seperti malaikat?!

“Dia bilang dia mau makan siang bersamaku. Aku menunggunya di dekat tukang bento istirahat nanti!” Chanyeol makin berbunga-bunga, dan Sehun makin mengerutkan keningnya.

“G-Geurae?” kupikir aku cuma mengatakan ‘yoboseyo’

“Iya. Aku menelponnya pukul 11.08 malam. Kenapa malaikat itu belum tidur ya..”

Sehun makin tidak mengerti. “YA! KEMARIN LUHAN—“ Sehun mengatupkan bibirnya. Tidak… jangan-beritahu-Chanyeol-apapun-tentang-Luhan.

“Dia juga tahu tentang memo itu dan dia mengucapkan terima kasih. Oh Tuhan betapa indahnya dunia…”

Sehun beruntung. Fokus Chanyeol sedang tertuju pada Luhan seorang, bukan padanya yang menyimpan ‘rahasia’ tentang Luhan dan juga malam itu.

 

****

 

Hari ini Luhan pulang lebih awal karena tidak ada jadwal bimbingan belajar di sekolahnya. Setelah memasuki rumah, tidak ada yang menjawab salamnya. Rupanya penghuni rumah sedang keluar.

Luhan memasuki kamar Sehun, kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya selama 3 bulan. Tidak ada yang spesial di kamar ini. Hanya ada sebuah kasur berukuran besar dengan masing-masing dua bantal dan dua guling serta selimut tebal yang jarang dipakai oleh sang pemilik. Hanya ada satu lemari pakaian disini dan tidak ada satu pakaian pun yang disimpan disana. Semua pakaian Sehun diletakkan asal di atas meja belajar—inilah problem untuk Luhan si tukang belajar di kamar Sehun si tukang main. Yang paling membuat pandangan mata Luhan terganggu adalah pemandangan kaset PS3 yang diletakkan sembarangan di penjuru ruangan—sebelumnya Luhan sudah merapikannya, tapi entah kenapa sekarang kembali berantakan.

Sehun sangat berantakan. Ia berani bertaruh kalau seumur hidupnya tidak pernah dihabiskan untuk membersihkan kamar. Boro-boro membersihkan kamar, kalau Sehun baru sampai ke rumah bisa saja ia langsung tidur tanpa mengganti baju seragamnya.

“Ya!”

Suara orang yang sedang dipikirkannya mengalun di telinganya. Luhan merasa ini hanya halusinasinya saja.

“Xi Luhan!”

Benar. Suara ini yang memanggilnya. Dan ia tidak pernah dipanggil setidakhormat itu oleh juniornya.

“Panggil—“

“Jangan berikan harapan kalau kau tak ingin!” Sehun menyampaikan maksudnya tepat di pointnya. Luhan bingung apa yang sedang dibicarakan Sehun.

“M-Mak—“

“Chanyeol menunggumu di toko bento dari tadi siang! Sekarang dia tidak mau pulang karena masih menunggumu,” Sehun mendaratkan tubuhnya kesal ke atas ranjangnya.

Tuh kan! Kata Luhan dalam hati menyetujui hasil hipotesisnya.

“C-Chanyeol nugu?” Luhan benar-benar tidak mengerti. Harapan, Chanyeol, toko bento….

“DIA SAHABATKU!!” teriak Sehun yang teredam oleh bantal.

“Lalu kalau dia sahabatmu?”

Sehun bangun dari posisinya dan duduk bersila di atas kasur. “Pertama kau mengangkat teleponnya tadi malam jam 11.08. Kemudian kau menyetujui pertemuanmu dengan Chanyeol di toko bento. Ketiga kau mengucapkan terima kasih untuk semua memo yang kutempelkan darinya. Keempat kau……” Sehun menatap Luhan sengit. “Kau membuat sahabatku menunggu sampai ia di skors 3 hari karena tidak mengikuti pelajaran kimia.”

Sehun keluar dari kamar, membawa tas dan beberapa kaset beserta stik PS. Luhan masih terdiam di tempatnya, mengunci langkahnya yang ingin segera sampai di atas ranjang.

Luhan benar-benar tidak ingat apa yang dilakukannya tadi malam. Seingatnya ia menemani Sehan tidur di kamar ibunya dan membacakan dongeng untuknya.

 

11.08…..

Chanyeol…

Toko bento…

Terima kasih….

 

****

 

Malam, pukul 11.08.

 

Luhan berjingkat pelan ke kamar Sehun setelah memastikan Sehan benar-benar tidur dan memeluk guling yang akan dianggapnya sebagai Luhan. Luhan berhasil keluar kamar dan menutup pintu pelan-pelan. Kemudian perjalanannya dilanjutkan dengan membuka pintu kamar Sehun yang tertutup rapat.

Sehun tertidur sangat pulas. Luhan bisa merasakan hal yang melegakan ketika melihatnya tidur. Luhan tersenyum sendiri, dan menyadari kalau sebenarnya ia membayangkan sosok Jongin yang sedang tidur.

Luhan mengecek handphone-nya. Ada banyak panggilan tak terjawab dan 2 pesan singkat.

 

From : Jongin

 

Hyung, kau sudah tidur? Bantu aku. Aku benar-benar tidak mengerti..

 

Pukul 10.40 PM

 

 

From : (no name)

 

Sunbae, kau sudah tidur?

 

Pukul 8.00 PM

 

Luhan menatap nomor yang tidak dikenal itu lebih lama dan mengabaikan pesan Jongin. Ia duduk di kasur Sehun dengan sedikit lebih cepat dan menimbulkan guncangan lokal di kasurnya—untungnya Sehun masih tidak menyadarinya.

“Nuguseyo…” Luhan mencoba mengingat nomor siapa yang lupa atau belum disimpannya. Seingatnya ia sudah menyimpan nomor-nomor penting temannya.

Seperti telepati handphone itu kini menampilkan nomor tak dikenal itu. Luhan buru-buru mengangkatnya dan berjalan keluar ke teras rumah.

“Yoboseyo?” Luhan menjawab telepon itu dengan hati-hati. Selain takut membangunkan seluruh anggota keluarga Sehun ia juga takut kalau yang menelpon adalah manusia jadi-jadian. Mana sudah malam lagi.

“Y-Yoboseyo…” suara orang diseberangnya terdengar gugup. Luhan hampir saja mematikan handphone-nya sebelum orang itu mengeluarkan suara lagi.

“Sunbae, kau belum tidur?” tanyanya lagi dengan suara bergetar.

“Belum,” Luhan menghela nafas, canggung. “Ini siapa?”

“Aku?” lelaki di seberang sana menghela nafas panjang berkali-kali. “Aku penggemar rahasiamu.”

“Mwo?” Luhan hampir terbahak di tengah malam. “Secret admirer?”

“Hmm,” orang di seberang sudah bisa rileks. “Aku yang selalu menempelkan memo di lokermu. Sunbae ingat?”

Memo… Luhan mengangguk—yang bodohnya pasti tidak dilihat orang diseberang.

“Gomawo,” kata Luhan untuk membuka obrolan lain karena sang penelpon kehabisan bahan pembicaraan.

“Sunbae sibuk besok?” tanyanya sopan. “Apa mau sarapan… ani… dinner… ani… mm… makan siang bersama besok?”

Luhan bergeming. Kemudian menggumam, entah mengiyakan atau menolak. Tapi karena penasaran ia menaruh banyak presentase pada jawaban ‘iya’

“Kutunggu di dekat tukang bento,” katanya sambil menghela nafas berat. “Aku… menunggumu.”

Luhan mengangguk. “Baiklah,” Luhan merasa sepertinya ini hanya kerjaan orang iseng yang ingin mendapat perhatiannya.

“Sunbae tidurlah, aku akan—“ ucapan lelaki itu terputus. Disusul dengan suara ‘tut… tut… tut… tut…” panjang. Luhan mengecek keadaan handphone-nya. Masih sama dan baik-baik saja. Luhan tidak peduli, dan kembali masuk ke kamar ibu Sehun dan mengelus rambut Sehan gemas. Anak itu tetap lucu walau sedang tidur. Sangat mirip dengan kakaknya.

 

****

 

“Sehun-ah,” Luhan mengejar Sehun yang baru menaiki motor gedenya. “Antarkan aku ke tempat sahabatmu itu.”

“Untuk apa?” tanya Sehun sambil membuka helmnya. “Jangan menyakitinya, atau kau akan mati.”

“Tidak!!” Luhan menggeleng. “Aku sudah ingat.”

“Baguslah,” Sehun kembali memasang helmnya.

“Ya…” Luhan menggenggam tangan Sehun. “Kumohon…”

Sehun menghela nafas panjang. “Sekarang ada urusan yang lebih penting. Urus masalahmu sendiri, jangan bawa-bawa aku,” Sehun menyalakan mesin motornya. “dan lagi, jangan lupa karma masih berlaku. Chanyeol hampir melompat dari balkon lantai 5.”

Nafas Luhan tercekat.

“Kau harus tahu, orang melihatmu seperti malaikat. Tapi di mataku, kau itu malaikat berhati iblis. Kau mungkin baik, tapi kau memiliki niat jahat di dalam hati. Kau menyimpan bangkai di balik ruangan yang indah, dan kau menghancurkan kebahagiaan orang yang berkunjung kesana,” Sehun menatap langit. “Kau-benar-benar-jahat, Xi Luhan,” dan Sehun tancap gas sebelum Luhan sempat mengeluarkan air matanya.

 

-tbc-

4 thoughts on “[FF Colab] Fly To Love (Part 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s