46761-Coffee-And-Rain copy

[Kiriman FF] Choices (Oneshot)

Choices

–A fanfiction purely made by Rin–

VIXX–Jung Taek Woon & BTS –Kim Tae Hyung // Psychology // Vignette (1001 words) // Exclude the characters, everything is mine

“At least, you haveto choose one of your best

.
.

.

06.00 PM KST

“Sampai kapan kau akan menyerah kepada hidup?”

Taehyung dengan enggan menelengkan kepalanya. Malas menunggu reaksi yang naasnya selalu sama dari Taekwoon; diam. Maniknya tetap menelaah setiap inci sosok pria yang bertubuh atletis dan terlihat sempurna dari luar, namun hancur di dalam. Sesekali telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu yang menemaninya sepanjang sore. Udara diluar kafe sangat menyegarkan, sebenarnya. Setidaknya udara sore lebih bagus daripada dinginnya AC bersuhu 16 derajat celcius seperti dalam ruangan ini. Ingin dia mengajak Taekwoon membicarakan permasalahan yang sudah mengambil alih fokusnya selama lebih dari tiga tahun belakangan, di luar sana. Tidak ditempat ini. Hampir setiap hari mereka berdua –selama tiga tahun mendatangi kafe ini, menduduki kursi bernomor serupa, dan memesan minuman sejenis. Sungguh rutinitas yang monoton, bukan?

“Hyung..”

“Hm?”

“Setidaknya jawablah”

Keheningan itu kembali menyeruak. Bukan berarti Taekwoon tak peduli terhadap abdi yang senantiasa mendengar seluruh keluh kesahnya selama tiga tahun ini, tentu bukan. Sialnya, dia sendiri pun bingung memikirkan bagaimana dia harus memberi jawaban. Sudah tentu sahabat sekaligus adik baginya –Taehyung, belum mengerti betul problemanya. Ini bukan masalah Taehyung, ini masalahnya. Masalah Taekwoon yang sesungguhnya muncul hanya karena berlebihnya kepekaan dan keingin tahuan yang dia punya. Lulus dari universitas, kehidupannya berubah kelam. Kau tahu, hanya karena dia terlalu sibuk mengurus pertanyaan dalam kepalanya, dia rela melepas semuanya; kekasih, keluarga, teman, hingga pekerjaan.

Seolah tahu isi hati Taekwoon, udara diluar mulai berubah. Angin sepoi kini menambah beberapa knot kecepatannya. Lalu hujan. Seakan dikomando, serentak Taehyung juga Taekwoon menoleh, lantas tersenyum. “Aku suka hujan,” Taekwoon bergumam. Seraya merapatkan jumper yang setia menemaninya, dia memperhatikan setiap titik air yang melesat turun diluar jendela kafe. Taehyung tertawa kecil, “Aku tahu.”

06.30 PM KST

Dua gelas macchiato panas tiba ketika Taehyung ingin membuka mulut untuk memecah keheningan. Taehyung mengumpat kecil tatkala seorang waitress muda mendelik nakal kepadanya. Maniknya segera teralih untuk menatap Taekwoon yang mengusap kedua telapak tangan, siap menenggak cairan kesukaannya. Taehyung tahu, kedua minuman itu adalah kepunyaan Taekwoon. Pria itu sungguh membutuhkan asupan selain macchiato namun apa daya, bahkan Taehyung pun tak bisa membuat Taekwoon menenggak minuman lain yang jauh lebih baik. “Macchiato membuat otakku bekerja, kau tahu?” Yang diajak bicara hanya mengangguk malas. Pernyataan itu sudah ratusan –bahkan ribuan kali didengarnya.

“Hyung”
“Ya?”

“Bukan maksudku menggangu tapi, bisakah kau jawab pertanyaanku dulu?”

Tubuh Taekwoon menegang. Terburu-buru ia menelan cairan kental yang masih panas itu lalu mempertemukan fokus keruhnya dengan metalik Taehyung.

“Apa yang harus kujawab?”

Taehyung menghela napas. “Sampai kapan kau akan menyerah kepada hidup, hyung?” Sepersekian sekon berikutnya, Taekwoon mengerling. Aksi menggaruk tengkuk dengan gerakan yang tak wajar justru membuat Taehyung semakin gencar melempar pertanyaan demi pertanyaan. “Oke oke baiklah Taehyung-ssi. Pertama-tama, mundurkan badanmu beberapa senti dariku. Kau tahu, jarak ini mengganggu.”

Dengan sigap Taehyung memundurkan bangkunya, lantas melipat kedua tangan diatas meja layaknya siswa taman kanak-kanak. Taekwoon meletakkan wadah macchiatonya di atas medium datar berbahan kayu tersebut serta memperbaiki posisi bokongnya, hendak mengeluarkan segala yang ingin –lebih tepatnya perlu Taehyung ketahui.

“Bisakah kau bayangkan betapa tersiksanya aku melihat Mom berbaring dengan lelaki selain Dad, dan mencium anak selain aku?”

Taekwoon benar-benar melekatkan fokusnya ke arah indra penglihatan Taehyung. Sementara yang disebrang sana mendengarkan, Taekwoon menghela napas meminta pendapat. “Taehyung, bisa kau bayangkan?” Suara Taekwoon mulai pecah. Dia benci mengingat hal ini; sesuatu yang membuat psikologisnya hancur. Kenangan yang semula buram, kini mulai memperjelas setiap keping mozaiknya sendiri, menusuk segala rongga yang Taekwoon miliki, dan mendesak hatinya untuk memberi tahu Taehyung lebih. “Aku menyesal melihat semua itu. Kau tahu, aku hancur!” Suara Taekwoon yang meninggi mampu membuat beberapa pengunjung menoleh seraya menatapnya heran selama beberapa sekon.

“Hyung..”

“Aku terlalu ingin tahu, dan ini akibatnya Taehyung.”

“Tapi jangan biarkan kenangan itu menggerogoti dirimu.”

“Aku tidak bisa!”

Emosi, Taekwoon memukul permukaan meja kayu dengan telapak tangannya yang mendingin. Taehyung terkesiap. Dengan sigap dia meraih tangan hyung-nya, menggengam dan memberikannya kehangatan barang beberapa persen. “Kau memilikiku, hyung. Kau masih memilikiku,” Seulas senyum terpaksa hadir di wajah Taehyung. “Setidaknya biarkan mozaik masa lalumu menghancurkan pixel mereka sendiri. Kau tidak bisa terus begini. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini terus hyung,” Sambil tetap menggenggam tangan Taekwoon, Taehyung melanjutkan ucapannya.

“Akupun pernah merasakan hal sejenis. Namun naasnya, Dad tahu perbuatan Mom dan dia membunuhnya. Dad membunuh Mom, hyung”

Kini Taekwoon yang melonjak. Dia sungguh tak menyangka anak ingusan dihadapannya ini merasakan kisah yang jauh –sangat jauh lebih pahit darinya. Taekwoon tak pernah menyangka anak yang selalu tersenyum setiap mereka bercerita di tempat ini, ternyata memiliki kepingan memori yang lebih kejam. Tubuh Taekwoon membeku. Maniknya berusaha menghindar dari metalik ingin tahu Taehyung. “Bisakah kau mulai segalanya dari awal? Aku tahu dulu kau bahagia dengan hidupmu. Aku ingin kau seperti itu lagi hyung,” Dan Taekwoon merasakan lambungnya pecah.

Dia lebih senior daripada Taehyung, namun mengapa?

Mengapa anak yang dia anggap tidak mengerti masalah ini, memiliki alur hidup yang sama dengannya?

Bagaimana bisa dia terlihat lemah di hadapan Taehyung yang jelas-jelas bernasib lebih sial darinya?

Taekwoon menepis genggaman Taehyung perlahan. Yang genggamannya dilepaskan hanya dapat menghirup udara semampu kapasitas tampung O dua paru-parunya. “Mengapa? Mengapa kau mampu tersenyum setelah kejadian itu?” Taekwoon mengusap wajahnya dengan tempo cepat. Sementara Taehyung yang sedang tersenyum seperti biasanya, menjawab, “Itu pilihanku hyung! Tersenyum dan mengubur kenangan pahit di masa lalu, itu pilihanku!”

07:00 PM KST

Hujan masih enggan menyudahi aksinya, dan suhu AC di kafe inipun belum mau berhenti menusuk tulang para pengunjung –termasuk Taekwoon dan Taehyung. Tigapuluh menit yang lalu, Taekwoon masih enggan mempercayai realita bahwa ia hanya melebih-lebihkan tragedi masa lalunya. Toh, ada yang lebih menderita darinya. Dan seseorang itu kini jauh lebih bahagia. Ya, Taehyung perlahan telah membangun motivasinya kembali. Senyuman tipis kini berhasil menghiasi wajah Taekwoon.

“Kaupun harus membuat pilihanmu, hyung! Apa kau mau terus terpuruk dan membenci kehidupanmu yang tak kunjung berhenti? Ayolah, masih banyak hal menarik diluar sana!”

Taehyung yang kembali bersemangat kini angkat bicara –lagi. Tampaknya usaha Taehyung tak sia-sia, terbukti dengan lambaian tangan Taekwoon ke arah salah satu waitress, untuk memesan minuman tentunya. “Mentraktirku, hyung? Terimakasih!” Taehyung tersenyum lebar. Yang diucapkan terimakasih hanya mengerling enggan, melemparkan tatapan ‘jangan terlalu melebihkan’ khasnya.
–Fin.
A/N: Wah sumpah ini gaje parah. Terlebih covernya yang kelewat simple huhu. Maaf ya yeorobun penggemarnya mas Taekwoon dan mas Taehyung, jadi saya nistain disini he hehe (dilempar). Berhubung ini ff psychology pertama (yup! pertama!) jadi maaf ya kalo alurnya engga jelas (lebih mirip kaya kena fast-forward) plus bahasanya berantakan T_T saya bukan anak sastra, maaf maaf (sungkeman) oh iya makasih juga untuk Joey, orang yang saya anggep kaka sekaligus author favorite (acieee Joey, jangan nyengir gitu ah gue tau lo tersipu/?) (diinjek) sekali lagi kalo ada salah kata tolong dimaafkan ya.

Regards,

Rin

a/a/n : ga mesti jadi anak sastra lu jadi bisa puitis kek gini rin gue aja kagak bisa duh tolong /nangis ngesot di depan sungje/ oke gue tersapu sama kata-kata lu rin /wajah merah ketendang red/ gue ga boong ff lu keren rin. Gue suka kata-katanya. Keep writing ye jan ngomongin hoya mulu. Paiting!! (ps : maap postingnya ngaret maklum orang sibuk)

YANG BACA WAJIB TINGGALIN JEJAK!! INI FF ORANG LHO KALO FF GUE YA TERSERAH /terlalu pasrah/ yang kangen ff gue monggo ditungguin oke /winks/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s