[Vignette] [Eyes], Nose, Lips

Title : Eyes

Genre : Romance, Angst

Length : Vignette/Oneshot

Cast : Joo Seung Yeon (OC), Jung Jin Young (B1A4)

A/N : Hello! I’m back hahaha…

Maaf kemaren emosi banget gara-gara ada problem. Jujur aja gue sampe pulang malem mulu karna ngamuk /skip/

Gue ga sepenuhnya meninggalkan dunia fg, atau ff.. tapi gue harus menurunkan kadar fg dan ff untuk kemajuan UN nanti huhu :((

Untuk persembahan kambek, gue kasih tripple vignette *dua lagi nyusul yak* dengan judul eyes, nose, lips. Oke, mulai dari cerita pertama yg ga ada nyambungnya/? Cekidotttt

 

****

Semuanya belum berakhir. Ia yakin semuanya belum berakhir.

Anak laki-laki itu mengambil sebuah buku bertuliskan chord-chord gitar yang menjadi sahabat sejatinya selama ini. Tapi anak itu kembali ragu setelah melihat sebuah gitar yang masih berdiri gagah di dekat lemari bajunya.

 

Jinyoung berjalan perlahan mendekati benda disebelah lemari itu. Matanya terus mengawasi sekitar, mencegah siapapun untuk meraih benda yang menjadi saksi mimpinya selama ini.

 

To : Jinyoungie

Yujeongie memberikan ini untuk jinyoungie. Selamat bermusik ^^

 

Kakinya melemas membaca tulisan di badan gitar itu. Shin Yujeong, gadis periang itu tidak ada lagi karena kesalahannya. Jinyoung kembali merutuki dirinya yang telah membunuh seseorang yang tidak bersalah, memaksa seseorang mendekati takdir kematiannya yang masih jauh dibelakangnya.

 

Langkah lemas lelaki itu membawanya ke kebun belakang, menaiki pohon yang tidak terlalu tinggi dengan banyak dahan di atasnya. Tempat itu menjadi saksi tetap impiannya yang sudah hilang terbawa angin. Dulu berbagai lagu diciptakan olehnya, ditemani gadis berponi itu dengan iringan gitar yang didapatkannya untuk kado ulangtahun ke-18nya.

 

“Fur elise, lagi,” Jinyoung tersenyum mendengar iringan biola yang memainkan salah satu instrumen dari Beethoven yang berjudul Fur Elise, instrumen yang konon merupakan ‘curahan hati’ sang pencipta karena kasih yang tak sampai. Ia curiga dengan gadis di sebelah rumahnya itu, mungkin gadis itu menyukai seseorang dan tidak mendapat balasannya.

 

Gadis itu kemudian menoleh ke arahnya, Jinyoung yang sedang memperhatikan gadis itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke buah apel di pohon sebelahnya.

 

Beberapa detik kemudian Jinyoung mencoba mencuri pandang ke arah gadis itu. Masih ada dan menatapnya. Jinyoung kali ini tidak bisa memalingkan muka lagi, gadis itu masih menatapnya.

 

Jinyoung memaksakan diri tersenyum dan berkata “Annyeong,” dengan suara pelan sambil melambaikan tangannya. Senyum dan lambaian tangannya itu kemudian memudar kala gadis yang menatapnya duluan tidak bergerak, bahkan hanya kedipan mata sekalipun.

 

“Oh, Tuhan!” Jinyoung memukul kepalanya sendiri dengan kepalan tangannya. “Bodoh!” kemudian tanpa disadarinya Jinyoung sudah ada di tanah, memegang punggungnya yang terasa sakit karena jatuh dari ketinggian beberapa meter.

 

***

 

Lagi-lagi Fur Elise.

Jinyoung sekarang lebih sering memperhatikannya. Gadis itu cukup menarik, matanya bulat sempurna dan memancarkan ‘cahaya’ ketika menatapnya. Tangannya juga lihai memainkan biola—yang walaupun pada akhirnya hanya akan berupa Fur Elise—rambutnya panjang, diikat asal membentuk ekor kuda. Namun tidak ada yang sesempurna Yujeong di matanya.

 

“Hei!” Jinyoung melambaikan tangannya ketika gadis itu kembali menatapnya. Tapi pada akhirnya hanya dibalas dengan tatapan bingung. Permainan biola dilanjutkan dengan instrumen gagal dari lagu ‘Dont cry for me Argentina’.

 

“Hei!!” Jinyoung akhirnya memberanikan diri memanggil gadis itu. Kembali, gadis itu menoleh ke arahnya tanpa senyum sedikitpun.

 

“Aku tahu nada selanjutnya. Aku punya buku musik lengkap. Kau mau lihat?” Jinyoung mencoba menawarkan diri, tetapi gadis itu hanya bergeming dan bersiap bangkit dari tempatnya.

 

“Jangan!! Jangan takut!! Aku Jinyoung, aku tetanggamu. Maukah kau berkenalan denganku?” Jinyoung tersenyum manis, takut menakuti gadis manis itu.

 

Gadis berbiola itu mengepak biolanya. Jinyoung yang tidak mau kehilangan moment dengan gadis tetangganya itu akhirnya memberanikan diri menggapai dahan di dekatnya, mendekatkan diri pada pekarangan rumah gadis itu dan bersiap melompat….

 

“Aduh!” punggungnya menjadi sasaran empuk dalam drama hari ini.

 

“Hei, aku disini!” Jinyoung melambai-lambaikan tangannya, merasa aneh dengan gadis itu. “Ya! Aku—“

 

“Aku tahu,” gadis itu akhirnya bersuara setelah menaruh box tempat biolanya ditempatkan disampingnya.

 

Jinyoung sekarang tidak mampu berkedip, ia sibuk menatap gadis itu yang persis—hanya persis, tidak benar-benar sama—seperti Yujeong. Jika dilihat dari dekat, bulu mata gadis itu benar-benar lentik.

 

****

 

Gadis itu tertawa seharian, tidak seperti biasanya.

Dan Jinyoung, ia cemberut seharian karena harga dirinya langsung jatuh membentur bumi.

 

“Baiklah, tertawalah terus,” Jinyoung berniat pergi meninggalkan gadis itu sendirian. Toh gadis itu juga tidak akan melihatnya pergi.

 

“Maaf,” gadis itu menutup mulutnya, menghentikan tawa.

 

Kemudian suasananya makin senyap. Jinyoung mengambil biola di sebelah gadis itu dan menimbang-nimbang benda panjang untuk menggesek dawai biola. Perlahan Jinyoung menggesekkan alat itu pada dawai biolanya, terciptalah instrumen yang baik dari ‘Dont cry for me Argentina’.

 

“Aku sering mendengarkan kalian dari sini. Kalian benar-benar bahagia,” Joo Seung Yeon, gadis itu berkata perlahan. “Aku menyukai musik-musik kalian. Aku benar-benar iri kalau boleh jujur.”

 

Jinyoung melanjutkan instrumen ‘Dont cry for me Argentina’ itu dengan sedikit bumbu emosional. Tangannya makin tidak kuat menggenggam biola.

 

“Tapi membayangkan kau berhenti hanya karena kekasihmu itu meninggal itu sangat kekanakan. Dia meninggal karena kecelakaan, bukan karenamu. Kalau mau dilihat dari sisi lain, kekasihmu itu benar-benar mendukungmu. Ia bahkan rela meregang nyawa di tengah hujan hanya untuk melihat resitalmu.”

 

Jinyoung menghentikan permainannya. Tanpa sadar menjatuhkan biola sekaligus penggeseknya ke tanah.

 

“Aku berpikir telah mati saat membuka mataku. Semuanya gelap, aku tidak tahu dimana letak buku bacaanku, aku tidak tahu siapa yang datang ke kamarku, aku bahkan tidak tahu menu sarapan hari ini apa. Tapi ketika membayangkan Beethoven yang tuli di ambang kesuksesannya membuatku sadar, ini bukanlah apa-apa.”

 

Jinyoung tersenyum pilu. Kemudian kejadian 6 bulan lalu bermain diotaknya. Tentang resitalnya yang sukses di akhir, tetapi menghasilkan petaka di pertengahannya. Ia menelpon Yujeong yang tidak bisa keluar karena badai diluar terlalu kencang. Gadis itu sudah bersiap-siap, bahkan telah memotret dirinya sendiri dengan ponsel pintarnya.

 

‘Aku tidak akan main tanpamu!’ Jinyoung berteriak di telepon sebelum menutupnya.

 

Yujeong dirumahnya merasa perlu melakukan sesuatu. Gadis itu memanjat jendela kamarnya, kemudian menempelkan kakinya perlahan pada balkon kecil dibawah jendelanya. Gadis itu tidak mempedulikan apapun lagi, ia harus datang ke resital kekasihnya yang akan dimulai dalam 30 menit.

 

Ponselnya berbunyi, menandakan SMS dari Jinyoung. Yujeong mengambil ponselnya di dalam tas tanpa melepaskan pegangannya dari kusen jendelanya.

 

‘Aku menunggumu’

 

Yujeong tersenyum, kemudian tanpa sadar menjatuhkan ponselnya. Gadis itu merayap seperti cicak di tembok lantai 2 untuk mencapai tangga luar. Nahas, Tuhan tidak mengizinkannya menonton resital itu dan gadis itu jatuh dari ketinggian lebih dari 5 meter dan mengalami cedera otak parah.

 

“Gwaenchana?” Seungyeon meraba-raba sekitarnya, meraih tangan Jinyoung yang dingin dan bergetar. Lelaki itu langsung menyandarkan kepalanya ke pundak Seungyeon, menangis, menumpahkan segala emosinya terhadap kejadian menyedihkan itu.

 

“Mimpi tidak akan hilang begitu saja. Mimpi akan terus hidup, berkembangbiak menjadi impian, dan kemudian menghasilkan mimpi bagi orang lain. Jinyoung-ah, ini bukan kiamat..” Seungyeon akhirnya menangis, membiarkan ingatannya kembali pada saat ia kehilangan penglihatannya karena kerusakan saraf yang dideritanya.

 

****

 

Jinyoung telah menyelesaikan sebuah lagu berjudul ‘Darkness Dream’. Lagu itu diam-diam dipersembahkan untuk gadis di sebelah rumahnya. Jinyoung sering berkilah lagu itu untuk Yujeong, bukan Seungyeon. Tapi Seungyeon hanya membalasnya dengan senyum dari halaman belakangnya.

 

Setelah Jinyoung selesai memainkan lagunya, Seungyeon mengambil biolanya. Memainkan Fur Elise—lagi—yang akan ditampilkannya ke resital bulanan minggu depan.

 

“Ya! Berhentilah memainkan Fur Elise, aku bosan mendengarnya!” kata Jinyoung dari atas pohon.

 

Seungyeon memeletkan lidahnya, kemudian memainkan Fur Elise lebih cepat lagi sampai Jinyoung menutup telinganya karena bosan.

 

“Datanglah ke resital minggu depan….”

 

Terdiam agak lama. Mereka berdua mengatakan hal yang sama. Seungyeon mengalihkan kepalanya ke arah lain, kemudian Jinyoung melakukan hal yang sama sampai kehilangan keseimbangan.

 

“Aku akan datang….”

 

Hening lagi. Mereka berdua kembali menjawab bersamaan. Kini Seungyeon tergelak hebat, dan Jinyoung harus menerima sakit di punggungnya lagi karena jatuh dari pohon.

 

****

 

End.

 

By the way, ada yang mau saran siapa cast di tripple vignette selanjutnya? Hohoho… Ditunggu kalo ngga gue sendiri yg buat/?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s