Dating Disaster (Oneshot)

Title : Dating Disaster

Genre : comedy, romance, etc

Length : Oneshot

Cast : Song Minho (Winner), Song Danah (Song Minho’s Sister/New F.O), Kim Jinwoo (Winner)

A/N : untuk ff yang ke sekian >< cerita ini terinspirasi dari winner tv pas Jinwoo mau ke rumah Mino. Jinwoo nanya-nanyain Danah mulu dan Mino kaya cemburu gitu kalo Danah deket Jinwoo wuakakak… jadilah ff absurd nan kampret ini.

Kalo ga jelas didiemin aja, karena jawabannya ga jelas *abaikan* dan jangan lupa komentarnyaaa ^.^

 

****

Jepitan oke, kunciran rapi, blazzer cokelat yang menutupi dress di dalamnya serasi, make up tipis tapi memukau, dan heels 5cm….

 

Song Minho menatap adiknya ragu. Sepertinya Danah tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini di malam-malam sebelumnya.

 

“Eomma, aku pergi dulu!” kata Danah setelah sampai di ruang TV.

 

“Eoo… Jangan pulang malam-malam ya!” Ibunya memberi lampu hijau.

 

Apa ini?! Minho meraung dalam hati.

 

“Mau kemana?” tanya Minho ketika Danah baru selangkah meninggalkan ruang TV.

 

Danah mengernyit. “Keluar.”

 

“Dengan siapa?”

 

“Jinwoo Oppa.”

 

DUARR!!

Jutaan halilintar dari berbagai penjuru menyambarnya dan membuat otak Minho agak bergeser. Jinwoo? Kim Jinwoo? Tetangganya yang disukai Danah sejak dulu?

 

“Jangan pergi!” kata Minho akhirnya. “Jangan!!”

 

Danah baru membuka sejengkal pintu rumahnya. “Wae?”

 

“Jangan! Jinwoo itu… bahaya.”

 

Danah bingung sendiri. Ia hanya mengedikkan bahu dan keluar rumah tanpa memedulikan Minho yang bersiap-siap mengambil sandal hello kitty ibunya di rak sepatu.

 

****

 

“Oppa!” Danah melambaikan tangan pada lelaki yang berdiri mematung di rumah sebelahnya.

 

Walaupun sudah beberapa tahun tinggal di lingkungan ini, Jinwoo masih sering melupakan rumah Danah—dan bahkan jalan ke rumahnya sendiri pun ia bingung sendiri.

 

“Ah! Sudah kuduga aku salah lagi,” Kim Jinwoo, lelaki itu berlari menuju Danah yang sudah berdiri rapi di depan pagar rumahnya.

 

“Cobalah mengingat, Oppa. Aku belum tentu pindah dalam waktu dekat kok,” Danah tersenyum menatap lelaki yang dari dulu menawan di matanya.

 

Jinwoo mengacak rambut Danah gemas. “Aratda! Kkaja!”

 

Kedua orang itu berjalan bersama di tengah dinginnya angin musim gugur. Tapi dinginnya angin musim gugur ini tidak bisa mendinginkan hati Song Minho yang melihat tangan Jinwoo di atas kepala adiknya.

 

“Mwoya?! Kenapa adikku bodoh sekali. Dia bahkan tidak ingat jalan pulang!” Minho menyiapkan mobil dari garasi dan mencoba memata-matai Jinwoo dan Danah.

 

Belum ada kegiatan aneh yang dilakukan kedua orang itu. Jinwoo dan Danah tidak saling berpegangan tangan, itu melegakan.

 

“Kemana mereka berdua berjalan sejauh ini?” kaki Minho sekarang terasa pegal karena hanya sesekali menginjak pedal gas mobilnya. “Tahu begini aku jalan kaki juga!”

 

Tempat pertama yang dikunjungi Danah dan Jinwoo adalah Restoran Korea di ujung jalan. Perut Minho ikut keroncongan melihat berbagai menu yang tergambar di depannya.

 

“Ah! Aku makan juga!” Minho akhirnya memarkirkan mobilnya dengan asal dan masuk ke restoran kecil itu sambil mengendap.

 

“Oso ose—ha?” Bibi yang berjaga di depan restoran itu melongo ketika tamunya malah bersembunyi dibelakang pohon natal ketika disapa.

 

Minho menempelkan jari telunjuknya dibibir. Bibi itu pun ikut-ikutan menempelkan jarinya sambil mengangguk tidak mengerti.

 

“Aku pesan ttokboki 2, jajangmyun 2, dan bori-cha 3,” Minho tidak ingin terlihat seperti lajang yang benar-benar sendiri. Ia memesan itu agar dikira mempunyai orang lain untuk diberi makan.

 

“Baiklah. Ini nomor mejanya,” Minho malah mengambil plat nama yang ada di meja kasir dan membawanya ke meja yang tidak jauh dari Danah dan Jinwoo.

 

“Kau mau membeli apa? Oppa akan belikan juga.” Terdengar suara Jinwoo yang sok lembut itu pada Danah.

 

O-Oppa?!

 

“Tidak perlu. Aku hanya mengantar Oppa saja,” sekarang Minho melihat wajah berbahagia Danah yang sedang berbicara dengan Jinwoo.

 

“Chogiyo…” seorang wanita berucap pada Minho.

 

“Taruh saja di meja,” Minho sedang menjadi mata-mata untuk adiknya.

 

“Apa tidak apa-apa? Oppa selalu merepotkan, ya?” sekarang suara Jinwoo yang menjijikkan itu membuat Minho menggenggam tangan wanita yang mengajaknya berbicara.

 

“Tuan, maaf, aku harus mengambil plat nama ini,” Minho menatap tangannya yang menggenggam tangan sang wanita paruh baya itu. Minho mengucapkan maaf berkali-kali sambil membungkuk.

 

“Oppa…” Minho sudah menjerit dalam hati agar Danah berhenti menyebut orang sok imut itu dengan sebutan ‘Oppa’. “Boleh aku meminta satu hal?”

 

Oh tidak… Danah sudah mendekatkan kepalanya ke kepala Jinwoo. Dan… Jangan!! Jinwoo juga ikut mendekatkan kepalanya ke bibir Danah.

 

“Ttokbokinya…” sekarang giliran pelayan restoran itu yang menjadi korban. Minho sudah menggenggam tangan pelayan yang lebih muda usianya dari wanita parubaya tadi.

 

“Baiklah,” setelah jawaban singkat dari Jinwoo, mereka berdua menghabiskan makanannya dan keluar dari restoran.

 

Minho pun ikut-ikutan pergi—padahal ia belum membayar makanannya!

 

“Tuaan! Makanannya—“

 

“Habiskan saja!” Minho tidak mau kehilangan moment lain dari kedua orang ini. Ia tidak peduli ada beberapa pasang kaki mengejarnya karena belum membayar makanan.

 

****

 

Setelah berurusan dengan 3 ahjumma restoran kecil itu, Minho bisa memata-matai Danah dan Jinwoo dengan tenang. Mobilnya di derek oleh petugas karena parkir sembarangan dan menutupi jalan, tapi itu lebih baik daripada ia harus mendorong mobilnya dari jalanan.

 

Sekarang matanya benar-benar silau dengan warna pink di setiap inchi toko ini. Setelah dilihat ini adalah toko pernak-pernik dan kado untuk…. WANITA?! Oh tidak, Jinwoo sekarang mulai serius dengan Danah? Tidak mungkin! Danah tidak seharusnya mendapatkan Jinwoo yang buta arah!

 

“Ku pikir ini bagus,” Danah menunjukkan mug berbentuk Hello Kitty pada Jinwoo yang hanya dinilainya dengan senyuman.

 

“Aku sudah membeli mug bertuliskan nama kita. Cari yang lain,” Jinwoo melihat-lihat boneka yang berukuran sedang di rak boneka.

 

“Baiklah.”

 

Apa Danah menjadi pembantu Jinwoo sekarang? Hei adikku bukan pembantu! Cari saja kado sendiri! Minho langsung menutupi dirinya dengan dompet besar ketika Danah melewatinya.

 

“Kupikir dompet bagus. Bagaimana?” Danah menunjukkan dua dompet berwarna merah hati dan pink muda.

 

Jinwoo menimbang sejenak. “Bisa saja. Tapi coba cari yang lebih ‘fresh’!”

 

Danah menghela nafas panjang. Minho benar-benar ingin menerjang Jinwoo sampai terjengkang dan tidak bangun lagi.

 

“Tas? Wanita suka tas!” Danah akhirnya menemukan tas KW yang terlihat seperti merk aslinya.

 

Jinwoo kembali menimbang-nimbang. “Bagus juga. Tapi dia punya segudang tas untuk dipakai.”

 

Oh Tuhan Song Danah!! Kau bodoh atau buta kenapa kau tidak tahu sedang dimanfaatkan?!! Minho meletakkan dompet yang tadi menutupi wajahnya di atas jam weker. Kemudian mendorong lelaki yang sedang memilih-milih antara boneka piglet dan minion.

 

“Kau jadikan apa adikku, eoh?!” satu tinju melayang ke pipi mulus Jinwoo. Jinwoo yang belum sempat mengelak sudah terkena satu tinju lagi di pipi sebelahnya.

 

“Oppaa!!” Danah yang sedang membawa kutex berwarna biru langsung melemparnya asal untuk melerai pertengkaran dua lelaki itu.

 

“Kau pikir perasaan Danah itu main-main? Hey, gunakan otakmu!! Kau bahkan lupa jalan pulang tanpa Danah!” Minho melayangkan pukulan sekali lagi sebelum kakinya diinjak Danah.

 

“Oppa, dengarkan!!!” Danah mulai menangis karena kekacauan ini. Semua orang menatapnya bingung bin panik. “Aku dan Jinwoo Oppa—“

 

“Aaah aku melihat kalian daritadi! Kenapa kau masih jalan dengannya padahal kau hanya dijadikan pembantu? Kau hanya menjadi kompas—“

 

“Ya! Aku hanya menjadi pembantu! Kompas! Puas?!” Danah berlari keluar toko sambil menangis.

 

“Da-Dana-ya!!” tangan Minho ditarik Jinwoo sebelum meninggalkan toko.

 

“Kau menghancurkan semuanya, Ssong!” Jinwoo mengusap pipinya yang memerah. “Aku hanya mengajak Danah untuk membeli kado—“

 

“Untuk orang lain?! Lalu kau pikir adikku apa? Dia sudah menyukaimu dari—“

 

“Arasseo arasseo. Aku pernah menolak Danah dan dia sudah dewasa sekarang. Danah sudah punya pacar, dan pacarnya memintaku menjaganya sebentar karena ingin memberi kejutan. Aku sengaja mengajaknya jalan-jalan untuk mengulur waktu.”

 

Minho diam. Jadi selama ini ia hanya salah paham? Minho pikir Danah masih memiliki perasaan dengan Jinwoo dan Jinwoo… mulai membaik dengan Danah setelah selama seminggu melakukan aksi diam karena sebuah penolakan cinta anak umur 12 tahun.

 

“Sekarang rencananya hancur. Danah akan pulang dan Zico akan menunggu di tangga Namsan Tower sendirian. Bagus… Bagus sekali..”

 

Minho langsung keluar, bersamaan dengan rombongan gadis-gadis belia dengan balutan seragam toko untuk menagih kerusakan di dalamnya.

 

“Dana-ya!” Minho mendekati Danah yang berjalan sendirian ditengah keramaian Dongdaemun.

 

Danah tidak merespon. Kakinya hanya melangkah tak tentu. Make Up-nya luntur karena terlalu banyak air mata yang jatuh.

 

“Ikut Oppa..” Minho menarik tangan Danah.

 

“Shireo!” Danah menepisnya dan kembali berjalan di tengah angin musim dingin.

 

“Zico menunggu di tangga dekat Namsan Tower.”

 

Danah tersenyum pilu ditengah tangisnya. “Oppa sudah tahu Zico?”

 

Minho menghela nafas. “Mianhae, aku tidak tahu—“

 

“Tidak apa-apa. Sudah berakhir..” Danah mengusap air matanya. “Aku telah mengecewakan Zico—“

 

“Dia ingin memberimu kejutan makanya menitipkanmu dengan Jinwoo!” Mino sedikit lega karena Danah akhirnya mengusap air matanya.

 

“Jinjja? Oppa antarkan aku!!!” semangat Danah naik 1000%.

 

Minho menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum tanpa dosa. “Mobilku diderek karena parkir di jalanan…”

 

Danah mendengus sebal. Akhirnya ia menghentikan taksi dan tidak mempersilakan Minho masuk bersamanya.

 

Jinwoo menatap wajah bingung Minho dengan iba. Lelaki itu menepuk pundak Minho untuk menguatkannya.

 

“Hutangmu agak banyak karena merusak barang-barang toko. Bayarlah kapan-kapan,” kata Jinwoo. “Dan lagi. Carilah pacar agar tidak mengganggu adikmu.”

 

Satu tonjokan halus mengenai ulu hatinya. Satu hal yang belum dimiliki Minho sebagai sosok sempurna adalah pacar.

 

“Baiklah..” Minho bertekad mencari pacar setelah ini.

 

****

 

Topi koboi yang terpasang rapi di kepala, kemeja biru yang dimasukkan ke celana, jas hitam yang ditenteng di tangan kiri, celana jeans mulus yang disetrika berkali-kali sejak siang hari…

 

Danah gantian bingung menatap style asal kakaknya di malam minggu yang berhujan ini. Kakaknya ini… mau kencan atau melamar kerja?

 

“Eomma, aku pergi!” kata Minho sambil melambaikan tangannya pada sang ibu yang sedang membuat cupcake.

 

“Nee!!” ibunya hanya menjawab singkat sambil memasukkan mentega ke dalam mixer.

 

“Kau tidak malam mingguan? Oh iya pacarmu di Jepang ya.” Minho sukses terkena lemparan bantal sofa. “Oppa pergi. Jangan ganggu Oppa!”

 

Danah tertawa kecil. Akhirnya kakaknya itu punya pacar juga, yah walaupun Danah tidak tahu bagaimana rupa pastinya. Tapi melihat wajah Minho yang berbahagia itu membuat Danah juga bersyukur, setidaknya kakaknya tidak akan mengganggunya lagi dengan sok memata-matainya.

 

Tring!

Pesan dari Jinwoo masuk ke ponselnya. Danah tersenyum kecil membacanya.

 

From : Jinwoo Oppa

Mau jadi mata-mata?

 

Dan Danah menjawabnya…

 

To : Jinwoo Oppa

Siapa takut?

 

Mata-mata antar saudara part II….. dimulai!

 

Fin.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s