Fly To Love Special Part (Jongin’s Secret)

fly-to-love-poster[poster by : ©chioneartposter]

Title : Fly To Love (Jongin’s Secret)

Genre : comedy, romance, shonen-ai, ooc, etc

Length : [just a little special part]

Author : LaillaMP

Cast :

~ Kim Jongin *EXO*

~ Xi Luhan *EXO*

~ Oh Sehun *EXO*

~ other EXO members

A/N : Annyeong yorobeuuuuun ><

Maaf untuk ff ini lama banget updatenya huhuhu :””” bukan kesengajaan aku emang gatau harus bikin gimana lagi jadi aku buat special partnya dulu hehehe xD

Karena banyak pertanyaan tentang ‘siapa sih Jongin?’ sampe ‘Jongin sama Luhan pacaran apa nggak?’ itu akan saya kupas disini /kupas bawang/ /salah/

Ini adalah campuran dari kisah masa lalu, kisah masa depan, sampe kisah-kisah Jongin yang ada di ff fly to love episode sebelumnya ((D

Semoga dengan munculnya special part ini akan memudahkan kalian dalam mengetahui siapa Jongin ini amin…

 

****

Tut…. tut… tut….

Suara monoton itu terus bergeming, tidak menunjukkan suara menggembirakan lainnya dari tempat lain. Jongin menyerah setelah operator mengatakan nomor yang ditujunya tidak aktif untuk kesekian kalinya di hari itu.

Jongin mencoba mengalihkan pikirannya pada buku pelajaran yang ada di depannya. Buku ilmu sosial. Seharusnya ini pelajaran yang disukainya, tapi tidak lagi semenjak Jongin menjadi anti-sosial setelah perceraian kedua orangtuanya.

Jongin masih menjadi anak normal—memiliki orangtua dan kebahagiaan lainnya—sampai umurnya menginjak 13 tahun. Saat itu ia pikir puncak kebahagiaannya adalah di angka yang terbilang sial itu. Ulangtahunnya waktu itu sangat meriah. Satu angkatan di sekolahnya diundang, termasuk yang tidak ada hubungannya dengan Jongin. Tapi dengan mudah anak laki-laki itu mendekatkan diri pada orang-orang baru, dan membangun pertemanan baru yang lebih baik demi masa depannya.

Setelah permohonannya terucap, Jongin langsung meniup lilin itu. Riuh tepuk tangan memenuhi rumah megahnya di daerah Gangnam. Tidak ada yang tahu apa yang diucapkan anak laki-laki itu untuk permohonan di hari jadinya ini.

‘Ya Tuhan, aku hanya ingin hidup bahagia’

Sesederhana itu. Namun Tuhan tidak ingin langsung memberikannya, melainkan mengujinya agar anak laki-laki itu bisa mengambil hikmahnya dan berbahagia dengan jalan barunya.

‘Tidak! Jongin harus ikut denganku!’

‘Tidak bisa! Selama ini aku yang mengurus Jongin.’

‘Aku ibunya!’

‘Aku ayahnya!’

Itu terjadi tepat sehari setelah perayaan besar ulangtahunnya. Jongin yang ingin menunjukkan boneka kayu dari seseorang melepaskan keceriaannya. Hadiah itu jatuh mengikuti arah gravitasi, membuat kado yang menurutnya spesial itu hancur berkeping-keping, seperti hatinya saat ini.

Jongin masih tidak mengerti karena semuanya terjadi sangat cepat. Anak laki-laki itu terus-terusan memegang dadanya. Sakit. Semua terpusat di hatinya, pusat dari seluruh jiwa yang ada di dalam tubuhnya. Otot tubuh Jongin melemas, tidak kuat menahan beban raganya sendiri. Anak itu membiarkan dirinya jatuh di lantai yang keras sambil menangis. Tidak ada yang membahagiakannya setelah itu. Orangtuanya yang semula berebut hak asuh akhirnya meninggalkannya sendiri di rumah megahnya, meninggalkan satu pesan yang benar-benar menyayat hati.

 

‘Jongin sayang, jagalah dirimu. Jangan sampai sakit. Appa dan Eomma akan kembali suatu saat nanti. Semuanya untukmu. Selamat ulangtahun. Maaf untuk semuanya

 

-Appa & Eomma’

 

****

 

Tidak ada lagi sosok ramah Kim Jongin yang memasuki SMP JeokCha. Semua orang seakan menjauhinya, menyingkirkannya bagaikan bangkai diantara daging segar. Nilainya menurun drastis, tidak ada semangat hidup lagi sampai suatu saat memutuskan untuk menaiki bangku yang akan menghubungkannya dengan tali tambang yang akan menjadi saksi akhir kehidupannya.

Kaki kanan Jongin berhasil naik ke atas bangku reyot yang ada di balkon lantai teratas bangunan sekolahnya. Tinggal satu langkah lagi menuju akhir kehidupannya. Ya, setidaknya jika ia hanya memikirkan egonya saja.

“Jangan!! Kumohon jangan!!”

Anak laki-laki itu membuka matanya, menatap kaki kirinya yang belum juga bisa digerakan untuk naik ke bangku reyot itu. Anak itu berpikir kaki kirinya-lah yang mencegahnya melakukan hal biadab itu. Tapi ia salah besar.

“Jangan…” seorang anak laki-laki dengan logat aneh menepuk pundaknya, menyadarkannya akan aksi bunuh diri yang akan dilakukannya hanya karena satu ujian Tuhan.

Kaki kanan Jongin perlahan turun, membuatnya melemas selama beberapa saat sampai akhirnya merasa hidupnya akan kembali normal seperti biasa.

“Aku mendengar cerita tentangmu. Aku juga datang ke pesta ulangtahunmu,” kata anak laki-laki itu dengan riang seakan tidak mengetahui kegundahan hati Jongin.

Jongin diam, menyandarkan punggungnya ke tembok pembatas balkon itu.

“Kau itu jenius, kenapa kau bisa melakukan hal ini?” tanyanya lagi.

Kenapa kau cerewet sekali. Pikir Jongin agak gondok. Tapi ia setuju dengan kata ‘jenius’ yang anak laki-laki itu ucapkan. Jongin sudah bisa membaca di umurnnya yang ke-2 tahun, dan sekarang ia bisa lulus SMP 3 tahun lebih dulu dari teman-temannya yang lain.

Perlahan ucapan anak laki-laki itu membuatnya menyunggingkan satu senyuman kecil. Jongin merasa seluruh beban yang dititipkan untuknya perlahan berkurang. Ternyata inilah arti bahagia sebenarnya.

“Berjanjilah kau tidak akan mati konyol,” anak laki-laki itu tersenyum, mau tidak mau membuat Jongin ikutan tersenyum lebih lebar.

“Aku Luhan. Kau Jongin kan?”

Jongin mengangguk. “Luhan. Kau ada di peringkat bawahku kan?”

Anak laki-laki bernama Luhan itu mengangguk. “Iya. Aku jadi khawatir kalau posisimu kurebut hanya karena masalah ini.”

Jongin tersenyum agak sinis, tapi gembira. “Bukannya itu bagus?”

Luhan menggeleng. “Itu seperti aku memanfaatkan keterpurukanmu. Ayo kita bersaing lagi. Kuharap di ujian akhir aku akan mengalahkanmu.”

Begitulah kisah singkat Kim Jongin yang mencoba mencari kebahagiaan setelah ditinggal orangtuanya.

Hidupnya makin bercahaya ketika Luhan memperkenalkannya dengan orangtuanya yang ternyata berkebangsaan China. Kedua orangtuanya sangat ramah, membuat Jongin merasa sedang di rumahnya sendiri.

‘Ooh tampan sekali Jongin ini. Pintar pula. Aah… aku jadi ingin menjodohkanmu dengan putriku jika aku punya,’ begitu kata Nyonya Xi—ibu Luhan—yang menjadi ibu tirinya.

“Luhan Hyung lebih tampan. Aku tidak bisa menyainginya,” Jongin berkilah saat itu.

Nyonya Xi tertawa. Kemudian seperti hubungan antara ibu tiri dan anak tiri yang dibangun tidak sempurna, tinggallah kerenggangan diantara mereka. Jongin hampir menyerah sampai akhirnya Luhan berjanji akan terus ada di pihaknya sementara orang lain menjauhinya.

 

****

 

Jongin sedikit beruntung karena hubungan orangtua-anak antara keluarga Luhan dengannya tidak begitu sempurna. Jongin tidak dianggap keluarga dan begitu pula sebaliknya. Jongin tidak terlalu khawatir ketika perasaan ini datang.

Jongin yang mulai mengerti tentang perasaannya sendiri perlahan mengerti apa yang membuat jantungnya berdegup tidak karuan jika berdekatan dengan Luhan.

Anak itu jatuh cinta.

Kalau dijabarkan lagi akan menjadi seperti ini,

Anak itu jatuh cinta pada seorang laki-laki.

Untuk lebih jelasnya, anak itu jatuh cinta pada laki-laki yang menganggapnya adik sendiri.

Tapi yang menyakitkan adalah, Luhan hanya menganggapnya sebatas adik, tidak kurang dan tidak ingin lebih.

“Kalau kau sudah besar kau akan tahu apa jatuh cinta sebenarnya,” Luhan menolaknya dengan halus, tapi masih meninggalkan kesan mendalam jauh di lubuk hatinya.

“Sekarang aku sudah besar. Maukah kau menerimaku sekarang?” pertanyaan yang sama dilontarkan Jongin setelah ia resmi menjadi siswa kelas 2 SMA.

Saat itu Luhan menatapnya bingung, kemudian menghela nafas panjang dan memeluk Jongin. Lembut. Seperti pelukan ibunya dulu.

Selang beberapa detik pelukan itu renggang, digantikan dengan rasa tegang yang menjalar ke seluruh tubuh.

“Kau tetap adik kecilku, bagaimanapun kau,” kata Luhan. “carilah seorang gadis. Jangan aku. Maafkan aku.”

Jongin ingin menyerah dan mencari seorang lain untuk disukainya. Tapi itu semua tidak semudah yang dipikirkannya. Apalagi setelah mengetahui alasan Luhan menolaknya sampai 2 kali.

Luhan menyukai orang lain.

 

****

 

Brum… brum… brum…

 

Suara tarikan gas dari motor sport seharga 500 juta itu menggema hebat di arena balap liar yang menjadi pekerjaan ‘sampingan’ Jongin. Anak laki-laki yang kehilangan semangat hidup itu menjadi kehilangan tujuan hidupnya. Ia bisa dengan mudah ditarik ulur sesuai dengan keinginan orang lain demi sepeser won yang digunakannya untuk biaya hidup sendiri—padahal sebenarnya uang dari kedua orangtuanya sudah jauh diatas cukup untuk membiayai hidupnya sendiri.

Sudah hampir setahun pekerjaan aneh ini ia mulai. Untungnya tidak ada yang tahu—juga mereka tidak perlu tahu—tentang yang ia lakukan hingga pagi hari menjelang sekolah. Lawan-lawannya juga tidak tahu tentangnya. Ia adalah pembalap misterius yang tidak bisa terkalahkan. Semua orang penasaran dengannya. Namun ia memiliki nama samaran yang cukup bagus. Kai. Namanya disini adalah Kai.

“Satu…..” suara teriakan dari gadis bayaran untuk membantu jalannya acara ini membuat Jongin waspada. Ia tidak menghiraukan getaran ponsel yang ada di saku kirinya. Ini pukul 11 dan sudah waktunya ‘tidur’ untuk orang normal lainnya.

“Dua…..” getaran di saku kirinya makin tidak karuan. Tapi Jongin tetap berusaha fokus dan tidak terganggu olehnya.

“Tii….” Jongin menarik gas dari motor sportnya sambil sesekali menatap lawan dari balik helm berkaca film 80%. Kemudian memasukkan satu gigi untuk pemanasan di awal pertandingan.

“….ga!!” pistol angin itu mengeluarkan suara keras, membuat siapapun menutup telinga ketika mendengarnya. Orang-orang yang berkerumun di pinggir jalan tinggal bertaruh, menebak siapa juara kali ini. Pertandingan kali ini adalah si orang misterius dengan Oh Sehun, murid SMA HanGyo yang lebih menyukai SMA JooKyoo yang berada di pinggiran kota. Keduanya bukan lawan yang mudah. Harus berpikir ekstra keras untuk menebak kemungkinan siapa yang terbaik di malam ini.

“Kai?”

“Sehun!”

“Tidak tidak harga motor Kai jauh lebih mahal dari motor Sehun!”

“Apa harga menentukan segalanya? Aku pilih Sehun!”

Dan ajang balap liar ini sekaligus untuk merambah keuntungan bagi yang bertaruh.

 

****

 

“Jongin!”

Jongin terus berjalan tanpa menghiraukan siapapun yang memanggilnya. Ia berpura-pura memasang earphone yang tidak tersambung pada perangkat apapun.

“Kim Jongin!”

Suara itu mengganggunya. Jongin tidak tahu siapa pemilik suara itu. Itu bukan suara indah yang masih mengisi hatinya.

“Jongin-ah!”

Anak laki-laki itu menyerah. Ia menoleh ke arah orang yang memanggilnya berulang kali dengan suara nyaringnya.

“Kau lihat Luhan?” tanyanya.

Pertanyaan ini benar-benar tidak penting.

“Tidak,” anak itu menjawab singkat.

“Oh, baiklah,” Xiumin, lelaki keturunan China itu akhirnya kembali mencari Luhan.

Jongin tidak mau mempedulikan apapun lagi tentang Luhan. Tidak, itu hal yang sedang mati-matian ia coba sampai tidak bisa tidur.

“Oh ya,” Xiumin yang belum jauh dari situ kembali menghampiri Jongin. Jongin menatapnya datar, tanpa ekspresi. “Apa kau menjemput Luhan kemarin?”

Mati kau! Kata-kata itu langsung terngiang di telinganya. Dengan cepat kakinya mengantarkan ke seluruh penjuru sekolah. Pertandingan sialan itu membuatnya tidak menjemput Luhan yang menunggunya.

 

****

 

“Hyung…” Jongin hampir berlutut melihat Luhan yang seperti ini. Matanya masih memerah dan bengkak walaupun sudah cuci muka berkali-kali.

“Kumohon maafkan—“

“Tidak apa-apa,” Luhan menjawab datar tanpa menoleh sedikitpun pada lelaki di depannya.

“Tapi—“

“Aku ingin istirahat sebentar.”

Jongin terpaksa membiarkannya pergi. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok luar kamar mandi sambil membenturkan bagian belakang kepalanya dengan pelan. Bodoh! Bodoh! Benar-benar bodoh!

Kemudian satu pemandangan lagi yang membuatnya ingin membenturkan kepalanya hingga pecah. Orang yang membuat Luhan jatuh cinta berkali-kali keluar dari kamar mandi. Lutut Jongin melemas. Ia ingin sekali bunuh diri untuk kedua kalinya.

 

****

 

“Hyung?” Jongin menatap Luhan yang sepertinya kehilangan semangat hidup akhir-akhir ini. Untungnya Luhan adalah orang yang pemaaf, ia memaafkan Jongin atas kesalahannya malam itu. Alasannya karena Jongin masih kecil.

Sebenarnya bagaimana ukuran orang dewasa di mata seorang Xi Luhan? Kenapa sampai memasuki jenjang SMA dan berganti seragam sebutan ‘anak kecil’ masih melekat padanya?

“Kau kenapa?” Jongin bertanya dengan sangat khawatir. Tapi sepertinya Luhan yang ‘dewasa’ selalu ingin menjaga perasaannya dengan tersenyum lemah seakan tidak terjadi apa-apa.

“Tidak apa-apa.”

Jongin terlihat tidak yakin. Ia memeriksa kening Luhan. Wajahnya Luhan memerah seketika—jantungnya juga berdebar cepat dan untungnya tidak diketahui Jongin. Jongin pun merasakan hal yang sama, bedanya Luhan sudah tahu bagaimana reaksi Jongin ketika berdekatan dengannya.

Jongin tersenyum manis. “Bagaimana kalau sedikit melepas lelah dengan meminum kopi? Aku yang bayar,” Jongin mencoba mengalihkan pembicaraan. Menahan nafas karena hanya berjarak beberapa senti darinya membuat dadanya tambah sesak.

Luhan menatapnya curiga. “Kau mau apa memangnya?” sambil tersenyum manis Luhan mengiyakan dalam hati. Dada lelaki itu kembali sesak, jauh lebih sesak dari sebelumnya.

“Mmm…. Aku masih belum mengerti yang dijelaskan guru Yong tadi. Ilmuku terlalu parah untuk sekedar melihatnya membuka mulut,” Jongin mencoba mencari alasan untuk mengajak lelaki itu pergi.

Luhan tertawa kecil. Lelaki itu bisa meringankan bebannya. Sedikit.

“Baiklah. Kau mau traktir apa?”

Jongin menghela nafas malas. “Sudah kubilang kopi. Ayolah aku bosan dengan kelas ini.”

Luhan akhirnya berjalan mengikuti arah langkah Jongin. Jongin tidak tahu, atau tidak akan pernah tahu kalau ia terlihat mempesona di mata Luhan.

“Kau masih terpesona denganku?” Jongin membalikkan badan tiba-tiba dan melihat Luhan menyunggingkan senyum.

“Jadikan itu mimpimu. Mungkin saja akan menjadi kenyataan. Atau….. tidak akan pernah,” Jongin tertawa kecil di belakangnya. Dalam hati berharap itu memang nyata.

“Oke aku akan menuliskannya di kertas impianku nanti. ‘membuat Xi Luhan terpesona pada Kim Jongin’,” balas Jongin sambil memakaikan helmnya ke kepala Luhan.

“Kau tidak memakai helm?” Tanya Luhan setelah melihat tidak ada helm lagi yang menyangkut di badan motornya.

Jongin menggeleng. “Sudahlah, ayo naik,” dan Jongin melajukan motornya perlahan agar tidak menakuti Luhan yang benci kecepatan.

 

****

 

 

“Aku sudah memikirkan ini berkali-kali….” Luhan menelan ludahnya perlahan.

Jongin hanya menatapnya datar. “Oh.”

“Mungkin aku menyukaimu…” Luhan langsung meneguk cappucinonya dengan cepat.

Jongin terdiam. Entah kenapa ada kejanggalan dalam pengakuan tiba-tiba ini.

Oke, Jongin akhir-akhir ini memang sering melihat Luhan yang tersenyum menatapnya dengan tatapan yang berbeda—semoga saja ini bukan hanya perasaannya—Luhan juga sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan tidak penting padanya seperti ‘Jam berapa?’ atau ‘Mau melakukan apa setelah pulang?’, dan pada saat ini…

“Aku menyukaimu, Kim Jongin..” Luhan tidak berani menatap mata Jongin yang menghadap lurus ke arahnya.

Jongin mengambil gelas berisi americano yang tinggal sedikit untuk diteguknya sebentar. Jujur saja Jongin benar-benar bahagia karena akhirnya hari ini datang juga. Penantiannya selama beberapa tahun dan berusaha menjadi dewasa akhirnya terbayarkan dengan pengakuan beberapa detik itu.

“Kau sudah tidak menyukaiku ya? Ya… Tidak apa-apa. Aku—“ Luhan menatap Jongin yang masih tidak melepaskan tatapannya pada Luhan.

“Jangan bercanda. Kau bahkan tidak pernah melihatku sebagai laki-laki,” Jongin terpaksa membohongi perasaannya.

Luhan menghela nafas panjang. “Kau tahu hampir semua permasalahan perasaan terjadi karena status,” Luhan meneguk cappucinonya lagi dengan berat. “Kau adikku. Aku tidak sepatutnya—“

“Apa kau menganggapku adikmu? Aku bahkan tidak pernah menganggapmu kakakku…” Jongin menatap langit-langit kafe. “Aku melihatmu sebagai cinta pertamaku. Sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini…”

Tatapan mata Luhan berganti menjadi lebih sayu. “Jadi… Kau menolakku?”

Jongin menggeleng. “Jujur saja aku benar-benar menyayangimu, Hyung. Aku tidak mungkin menolakmu…”

Jongin menebak Luhan pasti akan gila mendengar kata-kata anehnya. Jongin juga jadi ragu-ragu mendengar pengakuan yang tiba-tiba ini.

“Kris…. apa kau bertemunya lagi?”

Wajah Luhan sedikit memucat. Kris adalah orang yang menjadi alasan utama Jongin tidak bisa mengisi hati Luhan. Kris menyukai Luhan dan begitu pula sebaliknya. Tapi Kris harus pergi ke Beijing untuk menyelesaikan pendidikannya.

“Kenapa kau menyebutnya lagi?” Luhan sepertinya merasa terganggu dengan nama itu.

“Karena kau pernah mengatakan ingin menyukai orang lain setelah Kris menyakitimu..” Jongin tidak seharusnya mengatakan ini di situasi sebaik ini.

“Sudahlah kalau menolak—“

Jongin menangkap pergelangan tangan Luhan sebelum menjauh darinya. “Jangan lihat namja lain atau…” Jongin tersenyum kecil. “…aku akan mengurungmu di dalam hatiku…”

Luhan menatap Jongin tidak percaya. Jongin ingin sekali mencium Luhan di situasi seperti ini. Wajah cinta pertamanya ini tidak pernah berubah ketika sedang bingung.

“Kim Jongin!” Luhan langsung mengejar Jongin yang sudah keluar dari kafe setelah mengecup kilat bibir mungilnya.

 

****

 

“Kai…. Kau Kai…” Oh Sehun menatapnya sengit sambil menunjuk-nunjuk wajahnya. “Katanya kau orang kaya ya… Tapi bahkan kau tidak punya orangtua. Ck ck aku harus memperlakukanmu seperti apa?”

Deru nafas Jongin memburu bagaikan baru dikejar godzilla sepanjang 5 kilometer. Semua pertahanannya runtuh ketika Oh Sehun mengatakan ‘orangtua’ di depan matanya. Jongin selama ini sudah bertahan dengan ejekan ‘anak buangan’ oleh orang-orang disekitarnya. Tapi mendengar seseorang mengatakan ini secara langsung benar-benar membuat hatinya panas.

“Kau punya orangtua? Baiklah,” Jongin akhirnya bisa bersabar sedikit. Di sekolah ia adalah senior anak ini. Tapi sebenarnya usia mereka sama. Jadi… Jongin harus lebih tenang!

“Ayo duel…” tantang Sehun. “…di tempat biasa, malam ini.”

Jongin mengepalkan tangannya. “Duel untuk apa? Oh.. Untuk siapa?”

Oh Sehun tersenyum dingin. “Untuk Xi Luhan..”

Bodoh! Mana mungkin Jongin mau menjadikan Luhan sebagai hadiah dari duel ini?

“Kenapa? Takut?”

Jongin melayangkan tinju itu ke wajah mulus Sehun sampai lelaki berkulit susu itu tersungkur ke tanah. “Apa aku terlihat seperti itu?”

Sehun mengusap darah yang keluar melalui sudut bibirnya. “Bagaimana? Ini bukan tawaran yang buruk kan?”

“Iya,” Jongin memakai helmnya. “Ini bukan tawaran yang buruk, tapi ini tawaran yang bodoh.”

Sehun bangkit dari posisinya. “Baiklah, kalau begitu Luhan milikku.”

Jongin kembali melayangkan tonjokannya pada Sehun yang langsung ditepisnya dengan baik.

“Dengar dulu. Kau dan aku duel, kalau kau menang Luhan milikmu, kalau kalah… Luhan harus bersama sahabatku.”

Jongin tertawa pelan, kemudian makin keras dan kakinya sukses menendang perut lelaki itu. “Dengar, kau tidak sebaik itu, Junior!” Jongin menunjuk kepala Sehun dengan ujung tumitnya. “Kau melakukan ini untukmu sendiri. Aku tahu kau menyukainya…”

“Tidak!” wajah Sehun memucat. “Ini untuk Park Chanyeol.”

Jongin menurunkan kakinya. “Baiklah, kalau begitu aku dan Park Chanyeol yang harus duel.”

Sehun bangkit sambil menekan perutnya yang terasa sangat nyeri. “Baiklah, ini duel antara KAU dan AKU. AKU begitu menyukai XI LUHAN, dan kau…. harus LENYAP!”

Jongin tersenyum sinis mendengar setiap penekanan yang diucapkan Oh Sehun. Jongin tidak semudah itu terkalahkan. Orang ini sudah puluhan kali mengalami kebocoran oli karena terserempet kendaraan lain ketika berusaha menyalibnya.

“Ku terima duelmu.” Jongin kemudian meninggalkan Oh Sehun di lapangan parkir sekolahnya sendirian.

Jongin melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Harga dirinya akan benar-benar terinjak jika kali ini Sehun si anak ingusan itu mengalahkannya. Apalagi ini tentang Luhan? Oh… jangan pernah menarik kembali kata-katamu jika itu menyangkut Xi Luhan!

Ada satu hal yang membuat Jongin merasa akan kembali menang malam ini. Seseorang lain mengintip melalui pohon besar yang ada di lapangan parkir. Park Chanyeol, junior ingusan yang terlihat bodoh sahabat Oh Sehun yang lebih idiot. Apa Chanyeol mendengar semuanya? Kalau begitu.. duel ini akan benar-benar menyenangkan.

 

***

 

.End Special Part.

 

Jangan lupakan komentar, karena komentar adalah nafas bagi kami para author /eakkk /dilempar bakiak/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s