[Songfic] One Fine Day

Title : One Fine Day

Genre : Angst, Undefined

Length : Oneshot

Cast : Song Minho (Mino—Winner), Lee Seunghoon (Winner), You as Yoon Jiyoon (OC)

Disclaimer : i dont own anything except the story and lee seunghoon /slapped/

 one-fine-day

Poster by Pinkeucho@HSG

Thank you for the awesome poster😀

 

Hello!

Kangen ga sama gue? Pasti kangen/? /okeskip

Ini songfic gagal entah ke berapa. Gue harus akui ini songfic gagal bener2 gagal…. Tapi terima kasih buat yg udah mampir ke postingan ini xD

 

Nb : yang bercetak miring adalah masa lalu alias plesbek.

 

Song by : Group S – One Fine Day

 

*****

“For a while I looked at the road across silently

Being able to smile while thinking of those times feels unfamiliar

 

Setiap detik yang berjalan adalah kisah, sedangkan yang berlalu adalah kenangan. Orang-orang selalu keliru menempatkan keduanya. Detik yang berjalan adalah kenangan dan yang lalu adalah kisah, kisah yang tidak terlupakan. Bahkan setiap hal kecil yang ditemui akan membuahkan hasil yang menyakiti ingatan. Mungkin saja itu hal yang baik di masa lalu, tapi tidak ada jaminan untuk menjadi baik sepanjang hari. Contoh kecilnya adalah kerikil, orang yang—mungkin—sedang duduk di kursi roda melihat kerikil seperti melihat musuh bebuyutannya. Tapi bagaimana dengan sepasang kekasih yang bertemu karena timpukan kecil kerikil? Apa itu adalah hal baik?

 

“Kita putus.”

Kalimat itu begitu singkat. Tapi menyakitkannya seperti mencabut sehelai rambut di tengah kepala.

 

“Tapi…. Kenapa?”

Hanya itu yang bisa kukatakan. Apa lagi? Apa aku harus meraung mencakar tembok namsan tower dan menangis? Tidak!

 

“Kita putus. Itu saja.”

Kemudian semuanya terlihat klise. Aku tidak mau tahu dengan semuanya. Aku benci kenyataan ini.

 

“How much I liked you, how much it hurt me,now

I hate it even more when I’ve gone completely

dull on days like this

 

Aku tidak mau menyukai siapapun lagi. Menyukai seseorang benar-benar membuatku terluka. Tidak, aku masih bisa menyukai. Tapi aku tidak mau terjerembab ke kata-kata semu semacam ‘cinta’ atau yang lainnya.

 

Jiyoon-a, guess who i am?”

Aku tertawa melihatnya diseberang sana sedang menutup mata gadis lain dengan kedua tangannya. Ketika dia menoleh ke arahku, aku melambaikan tangan.

 

“Aku disini!” kataku.

Dia kelabakan. Selalu seperti ini. Mungkin saking lamanya tidak bertemu denganku dia jadi melupakan tampak belakangku.

 

“Jweisonghamnida… Maafkan aku….”

Aku tertawa lagi. Anak laki-laki yang sedang jatuh cinta ternyata lebih bodoh daripada gadis-gadis lugu pengejar ketua OSIS.

 

“Jiyoon-a, kau menghancurkan imejku!” katanya sambil mengerucutkan bibir.

 

“Kau yang menghancurkan imej sendiri kenapa aku yang disalahkan?” aku balik menyalahkan.

 

“Ah sudahlah! Pesan apa yang kau mau!”

 

Anak ini sudah lebih dari 20 tahun, tapi tetap saja kelakuannya tidak berubah. Masih ada jiwa ‘choding’ di dalam tubuh besarnya. Ia akan membuang muka dariku dan mengerucutkan bibirnya. Entahlah darimana sifat bodoh ini muncul padanya.

 

“Ya Song Choding!” aku menyelipkan sedotan berisi air jus mangga di tengah bibirku.

 

Lelaki itu langsung menoleh, seperti biasa….

 

Oh tidak…. Pikirku. Biasanya dia akan marah-marah karena terkena semburan jus mangga. Tapi sekarang…

 

“I’ve know it….” Minho tersenyum setelah menghisap jus mangga di dalam sedotan. Aku langsung meletakkan sedotan itu di atas meja.

 

“Wae?”

 

SONG MINHO, JUGEOTDA!!

 

****

 

“Compared to when we broke up

Compared to how hard it was when I couldn’t forget

 

“Minho-ya…”

“Yoon Jiyoon,” Minho memegang kedua bahuku. “Kita berakhir.”

“Tapi…”

Minho menggeleng. “Aku tidak akan menarik kata-kataku. Kita putus.”

 

Bagaikan sinetron di siang bolong aku terus berdiri di depan gedung tari kampusku. Minho sudah masuk ke dalamnya dan langsung bercengkrama ramah pada semua orang di dalam. Aku hanya bisa menggigit bibir, menyakitkan.

 

“Compared to when I missed our memories

Forgetting you hurts more

 

Aku mengeluhkan pembawa acara di TV tadi malam. Katanya hari ini tidak hujan, tapi kenapa sekarang malah hujan deras?! Memang tidak bisa dipercaya. Aku benci program prakiraan cuaca.

 

Aku bersiap menerobos hujan menuju halte di seberang. Tidak ada gunanya juga mengeluhkan pembawa acara itu, toh si pembawa acara mungkin juga kebasahan karena tidak bawa payung sekarang.

 

“Sudah kubilang bawa payung,” Minho tiba-tiba berdiri disampingku dan menutupi kepalaku dengan payung. “Untung aku ingat.”

 

Aku tersenyum. “Woow Song choding ini bisa mengingat juga.”

 

Minho menyeretku lebih dekat ke tubuhnya. Kemudian kami berjalan bersama menerobos hujan bersama payung kuning di tangannya. Dadaku bergemuruh di setiap langkah ku berjalan, dan aku merasa sangat nyaman bisa menyandarkan kepalaku di dadanya.

 

Sekali lagi itu kejadian masa lalu yang ku seret ke masa kini. Suasananya benar-benar sama. Hujan, dan aku tidak bawa payung. Pembawa acara prakiraan cuaca sekarang tidak lagi salah, aku saja yang berharap hari ini akan sama seperti kemarin.

 

Sekali lagi dalam hidupku, aku menyiksa diriku di tengah derasnya hujan. Aku mencoba melupakan semuanya, tapi pada akhirnya aku hanya bisa terdiam, menangis atau bahkan menulis surat yang tidak akan pernah sampai pada yang dituju.

 

“Lupakan aku, Jiyoon-ah. Aku sekarang bukan milikmu lagi.”

 

****

 

“Day by day we grow apart, bits and pieces disappear

That line I couldn’t believe it, I didn’t believe it

 

“Minho sudah punya yang baru,” Hyejin menatap sengit ke arah lelaki berambut cepak yang sedang mengantri makan siang bersama gadis mungil lainnya.

 

Aku mengangkat kedua bahuku, tidak peduli. Aku kembali melanjutkan makan siangku sembari melihat berita terpopuler saat ini.

 

“Aku juga sudah punya.” aku tidak sengaja melihat seseorang melambai padaku. Aku tersenyum dan teman-temanku ikut menatap objek yang kusenyumi.

 

“Danah bilang Minho jadi tidak karuan setelah putus denganmu.” Hyejin mengubah arah pembicaraannya.

 

“Oh ya?” aku masih memperhatikan orang itu, dia selalu datang tapi tidak pernah memesan. Dia hanya menatapku dan kadang aku merasa tidak nyaman.

 

“Orang ini juga makin gila…” Jimin menyentuh keningku. “Gejala orang gila apa ada yang lebih akurat daripada suhu?”

 

“Dia Lee Seunghoon,” aku memperkenalkannya pada teman-temanku–hanya sekedar nama memang–tapi yang ku dapat adalah jitakan di kepala yang paling menyakitkan dari Jimin.

 

****

 

“Even if I saw someone like you

Even if someone told me about you

I act like I didn’t hurt, like how I’d always been, like I didn’t know

 

Masih ‘wacana’ sebenarnya kalau aku sudah berpindah hati dari Song Minho. Aku bersikap biasa saja toh waktu tidak bisa diputar. Tapi kalau ditanya masih atau tidaknya aku mencintainya………..

 

“Jiyoon-a!”

Sekarang ada orang lain yang memanggilku seperti ini. Aku tetap menoleh ke arahnya dan tersenyum, sama seperti saat aku bersama Minho.

 

“Jus mangga?” tidak seperti Minho, lelaki ini sudah tahu kesukaanku bahkan sebelum aku memberitahunya.

 

“Gomawo.” aku menerimanya dengan baik dan langsung meminumnya. Rasa jus mangga ini masih sama. Aku kembali terpikir tentang tragedi sedotan sebelum…..

 

“Kau memikirkan apa?” lelaki itu sepertinya tahu apa yang kupikirkan.

 

“Tidak ada.” bohongku.

 

“Baiklah, kau mau……”

 

Mataku tiba-tiba melihat Minho dengan seorang gadis yang berbeda dari gadis di kampus. Aku memicingkan mata, dan menyadari kalau sepatu yang dipakainya adalah sepatu yang ingin kubeli dengannya sebelum putus…

 

“Yoon-a?”

 

Aku tidak mendengar suara lelaki disampingku lagi. Aku terlalu kaget untuk menerima penglihatanku.

 

Air mataku tumpah bersamaan dengan sisa jus mangga di tanganku. Aku tidak tahan lagi. Aku sudah melewati batasku. Aku tidak sekuat itu untuk sekedar melihatnya.

 

“Yoon-a, Yoon Jiyoon!” tubuhku direngkuh erat sebelum jatuh mengikuti gravitasi.

 

“Seunghoon-a….” aku tidak kuat. Aku hanya bisa menumpahkan air mataku di dadanya.

 

****

 

“Compared to when we broke up

Compared to how hard it was when I couldn’t forget

Compared to when I missed our memories

Forgetting you hurts more

 

Aku masih sering melihat–tidak, menunggunya disini. Di kafetaria yang menjual jus mangga kesukaanku. Biasanya dia datang kesini dan menutup mata orang lain yang dikiranya diriku. Aku sering menertawakannya dan orang-orang juga akan menertawakannya dengan sangat keras. Minho tidak akan malu, aku bahkan tidak ingat kapan dia pernah malu.

 

“Unnie, kau dan Oppa kenapa putus? Padahal Oppa sangat nyaman denganmu.”

 

Danah menanyakan ini berkali-kali. Aku masih belum menemukan jawabannya, bahkan aku tidak tahu apa kesalahanku saat Minho bilang “putus”.

 

“Dana-ya,” aku menatap adik Minho ini, dan aku langsung menumpahkan air mataku. Aku tidak tahu kenapa aku begitu terluka. Mengingat semuanya bisa membuatku bahagia, tapi sekali lagi melupakan adalah hal yang paling menyakitkan seumur hidup.

 

****

 

“Day by day we grow apart, bits and pieces disappear

That line I couldn’t believe it, I didn’t believe it

 

“Jiyoon-a!” Seunghoon memanggil.

Aku menoleh sebentar. “Hoon-a!”

 

Seunghoon dan Minho bersahabat dan mereka tidak bisa lepas. Selalu ada Seunghoon di dekat Minho, begitu juga sebaliknya. Sekarang pun begini. Minho ada di belakang Seunghoon, bersikap seperti biasa dan menyapaku sok akrab seperti teman lama.

 

“Annyeong..” aku menjawab ragu, tapi Minho tersenyum.

“Baiklah, aku ke kelas dulu. Jaga dia, Hoon-a,” Minho meninggalkan kami berdua. Aku terdiam menatap punggungnya yang perlahan makin jauh, tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Aku harus merelakannya, semenyakitkannya itu.

 

“Can’t we go back, can’t things be undone

If that is even possible, I ask that it be quickened up

 

“Minho-ya!” panggilku pada Minho yang sedang berjalan cepat tepat di depanku. “Song Minho!!”

 

Aku berlari untuk mengejarnya, tapi Minho tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuatku jatuh tersungkur dengan lucunya.

 

“Apa lagi?” Minho terlihat tidak antusias.

 

“Tidak bisakah…..” aku menggigit bibirku. “….kita bersama lagi?”

 

Hening sejenak. Minho menunduk, aku ikut menunduk. Terserah orang berkata apa aku benar-benar masih menyukainya.

 

“Yoon Jiyoon, kumohon, hentikan. Biarkan aku hidup bebas dan….”

 

“Bagaimana denganku?” aku menatapnya. “Aku kesakitan disini dan kau bahkan tidak memberitahukanku alasan kita putus.”

 

Minho meneguk ludah. Aku menggigit bibirku lebih keras. Aku berusaha menghalau tangisanku.

 

“Baiklah. Aku ingin putus karena….”

 

“Every day I shout, every day I did it

Saying that I cannot erase you

 

“…..aku tidak menyukaimu.”

 

Aku menutup telingaku. Aku tidak mau dengar alasan bodoh seperti ini.

 

“Itu alasan bodoh, Song Choding!” kataku.

 

“Maafkan aku. Aku memang bodoh.”

 

“Kembalilah…..” pintaku sambil menangis. “Padaku…”

 

Minho kemudian pergi, meninggalkanku menangis di trotoar jalan yang sepi. Aku berusaha mengatakan semuanya. Aku menangis sampai mataku bengkak. Aku bahkan tidak peduli tubuhku kini basah oleh air hujan.

 

Aku menghentikan tangisku ketika merasakan tidak ada air lagi mengalir dari rambut basahku.

 

“Seunghoon-a,” aku menggeleng ketika ia bertanya kenapa aku menangis.

 

“Bisakah kau menghapusnya?” tanya Seunghoon padaku. “Aku…. Akan bantu kau menghapusnya.”

 

Aku benar-benar menghentikan tangisku. Kini yang terdengar hanyalah suara hujan yang makin deras.

 

“Aku menyukaimu, Yoon Jiyoon.”

 

“Compared to when we broke up

Compared to how hard it was when I couldn’t forget

 

“Aku menyukaimu Yoon Jiyoon.”

 

Aku seperti kembali ke masa lampau. Ketika Minho mengatakan ‘suka’ padaku, tepat di waktu hujan. Aku menatap Seunghoon yang ternyata tidak menutupi dirinya dengan payung. Tubuhnya basah kuyup, bibirnya mulai memucat.

 

“Hoon….”

 

“Tidak usah dijawab. Aku hanya mengatakan sesuatu yang aneh. Ayo pulang…”

 

Sekali lagi seperti dejavu. Minho juga mengatakan hal seperti ini sambil menggaruk kepalanya. Aku tidak mengerti

 

“Hoon-a…”

 

Aku tidak melakukan apapun selain memanggil namanya. Kemudian semua bayangan tentang Minho menguap bebas ke udara, digantikan dengan bayangan Seunghoon yang makin lama makin mengabur. Kupikir aku menangis, tetapi tidak ada air mata yang jatuh di pipiku. Atau aku hanya kelilipan?

 

Aku menutup mataku, kemudian semuanya benar-benar berbeda. Aku masih di taman ini, tanpa hujan dan tanpa Seunghoon.

 

“Payung…”

 

Tapi payung itu masih ada. Terbuka di dekat kakiku. Aku melirik jam tanganku. Menurut prakiraan sebentar lagi akan hujan…

 

Brrrrrrrr…… Halilintar mulai menampakkan dirinya.

 

“Jiyoon-a!!” Hyejin dan Jimin tiba-tiba berlari ke arahku. “Jiyoon-a….”

 

“Ada apa?” aku menatap bingung pada keduanya sambil menggenggam gagang payung di tanganku.

 

“Lee Seunghoon…..” Jimin masih terengah dan mencari sesuatu di dalam tasnya.

 

Aku mengernyit bingung, kemudian dengan reflek memayungi sahabatku yang sedang sibuk merogoh tas.

 

“Dia?” Hyejin menunjukkan selebaran berisi pesan dan sebuah foto hitam putih yang menampilkan wajah tampan si pemberi pesan.

 

“Iya, ini Seunghoon…” aku heran sendiri. Sepertinya aku sudah memperkenalkan mereka lebih jauh daripada nama.

 

Jimin dan Hyejin kemudian menatapku ragu. Setelah suara halilintar yang kedua terdengar mereka mulai berebutan berbicara padaku.

 

“Lee Seunghoon sudah meninggal….” Jimin meneguk ludahnya berat. “…..beberapa bulan lalu.”

 

Dan suara halilintar yang ketiga tidak membuatku bergerak dari posisiku, bahkan mataku masih tetap membuka lebar.

 

“Compared to when I missed our memories

Forgetting you hurts more

 

TABRAK LARI DI HALTE SMA DAEHAN, DUA MAHASISWA MENJADI KORBAN

 

Jumat malam, Halte SMA Daehan penuh dengan orang-orang yang melihat kejadian tabrak lari yang menewaskan seorang laki-laki berusia sekitar 19 tahun. Korban lainnya adalah perempuan 18 tahun yang diselamatkan dari maut oleh laki-laki itu.

 

Kepalaku kembali nyeri. Bayangan kejadian saat menjadi mahasiswa baru memenuhi ingatanku. Sudah sejak lama aku mencoba melupakannya dan akhirnya semuanya kembali.

 

“Saranghae…”

 

Bayangan Seunghoon memenuhi pandanganku. Dan sosoknya makin mendekat…

 

“Aku mencintamu, Yoon Jiyoon.”

 

Aku sadar, Lee Seunghoon hanyalah ilusiku.

 

“Day by day we grow apart, bits and pieces disappear

That line I couldn’t believe it, I didn’t believe it

 

Aku melangkahkan kaki ke gedung kampus megahku. Semua hal yang membuat hidupku berantakan sudah ku tata lagi dengan rapi. Aku tidak merasa kehilangan siapapun lagi, karena aku tahu di dalam hatiku yang paling dalam masih ada dia, masih ada seseorang yang menyelamatkan hidupku.

 

“Yoonjji!!!!!” Jimin menjerit histeris melihatku.

 

“Mwo?” aku tertawa kecil melihatnya terheran-heran.

 

“YOONJJIIIIII!!!!” kini suara cempreng Hyejin memenuhi balkon kampus.

 

“Hyejin-a..” aku memeluknya yang langsung dibalasnya dengan tangis bahagia.

 

“Mianhae….”

 

Aku menepuk pundaknya. “Gwaenchana….” aku mengerti perasaan bersalahnya karena memberitahu tentang Seunghoon yang sebenarnya padaku.

 

“Danah mengundang kita ke pestanya. Kau mau ikut?” tanya Hyejin sambil menyerahkan undangan padaku.

 

Aku tersenyum. Beban di pundakku terasa sangat ringan sekarang karena dukungan dari teman-temanku.

 

“Minho sedang mendekati Hyejin akhir-akhir ini,” kata Jimin ketika pandanganku tepat ke arah Minho.

 

“Apa-apaan…” Hyejin jadi salah tingkah.

 

Aku tersenyum kecil. Mengingat sosok dibalik raga Minho.

 

“Kalian ke kelas saja dulu. Aku menyusul!” kataku.

 

Aku berlari kecil ke mading terdekat. Di mading ini kami boleh menempelkan apapun asalkan tidak mengandung hal-hal yang aneh dan mengganggu ketenangan. Aku menghela nafas sejenak sebelum tulisan itu kutempel.

 

Pertanyaan ada untuk dijawab. Dan jawaban dari pertanyaanmu adalah ‘Ya, aku mencintaimu juga.’

 

-YJY-

 

****

 

Saat itu hujan deras. Aku tidak bisa tinggal diam di halte karena bus yang melayani rute ke rumahku hanya ada beberapa di malam hari

 

“Hmm..” Seunghoon memainkan payung lipat di tangannya. Kemudian tersenyum manis.

 

“Seunghoon-a!” aku hampir saja memeluknya.

 

Seunghoon meletakkan payung lipatnya dan membentangkan tangannya, persis seperti orang yang sedang disalib.

 

Aku memeluknya. Benar-benar lega mendapatinya disini.

 

“Kau lupa bawa payung,” katanya. “Untung aku ingat.”

 

“Hoon Choding bisa mengingat juga..” aku memeluknya makin erat. “Kumohon jangan tinggalkan aku lagi..”

 

“Aku hanya mengambil payung..” Seunghoon mengecup puncak kepalaku. “Tenang saja, aku akan selalu ada…”

 

“Gombal!”

 

“….di hatimu yang paling dalam.”

 

Hari itu hanya hujan yang menjadi saksi bisu kami. Tempat ini, halte ini, adalah kenangan terakhir kami. Aku seharusnya memeluknya lebih lama lagi karena aku tidak tahu kapan ia akan benar-benar menghilang dari pandanganku.

 

Kisah ini tidak akan berhenti begitu saja. Lee Seunghoon mungkin masih akan hidup dimanapun. Dia menjagaku. Selalu, di hatiku yang paling dalam.

 

-fin-

 

Duh gaje sih emang >< kalo ada yg ga ngerti maklum aja/? tanyalah pada rumput yang berterbangan……..

 

Komentar jangan lupa. Biar yang nulis semangat hohoho xD thankyou❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s