[Lyrics Series] And I Love You [Story Three-End]

Title : And I Love You [Chan’s Story]

Length :Ficlet / 1,848 words

Genre :Angst, romance, ooc

Main Cast : Kang Seung Yoon (Winner), ‘Chan’ (imagine as you)

 oke ini adalah kisah akhir dari kehidupan *nggak* Chan dan Seungyoon
Sebenernya ini side story dari sudut Chan-nya, kalo ga mau baca ya monggo tapi sayang kalo dilewatkan/?

Boleh di review dari Story One dan Story Two😀 Happy reading~ ^^
Still BGM : Epik High – Dont Hate Me

****

“Chan-a!!” tiga siswi berkuncir itu melambaikan tangan ke arah gadis yang sedang bingung mencari tempat untuk makan.

Gadis yang dipanggil itu langsung tersenyum dan mendatangi tempat duduk yang masih disediakan oleh tiga temannya.

“Ada sedikit problem jadi aku terlambat. Terimakasih telah menyediakan tempat untukku..”

Ketiga teman gadis itu hanya tersenyum sembari mengatakan ‘biasa saja!’ dan kemudian melanjutkan kegiatan makan sekaligus membicarakan hal-hal aneh di sekolah.

“Chan-ah, kau lihat lelaki itu? Dia aneh!” Jisun, gadis berkuncir hijau itu mengarahkan pandangannya pada orang yang berjalan sendirian ke meja kosong.

Chan, gadis yang menjadi tokoh utama tidak memerhatikan siapa yang dibicarakan Jisun. Pandangannya hanya pada seseorang yang cukup terkenal di sekolah.

“Hm?” Chan langsung tersadar ketika Huyeon, gadis lainnya di sebelah Jisun menepuk tangan Chan.

“Kau melihat siapa?” Huyeon mengernyit kesal pada gadis periang ini. “Jinwoo sunbaenim?”

Chan menggeleng, padahal jawabannya adalah benar. Kim Jinwoo, flower boy dari kelas 3 itu bisa membuatnya tidak berkedip karena kehadirannya.

“Dia, aneh sekali. Hujoon Oppa pernah sekali melihatnya berbicara sendiri. Seperti kesetanan.”

Chan tidak memperhatikan kata-kata Huyeon yang terdengar aneh itu. Sekali lagi pandangannya tepat pada Kim Jinwoo di5 meja di depannya.

“Namanya Kang Seung Yoon. Kalau tidak salah rumahnya didekat rumahmu. Semua orang di rumahnya menjauhinya. Menyedihkan.” Jisun melanjutkan liputan dari Huyeon.

Chan langsung tersadar dan menatap teman-temannya. Jadi namanya Kang Seung Yoon…

Chan sering melihat lelaki itu dari jendela kamarnya. Dulu sebelum ada kejadian ‘pembunuhan’di sekolah lelaki itu terlihat baik-baik saja. Bahkan Chan pernah sekali mendengar lelaki itu bernyanyi sembari memainkan gitar. Suaranya benar-benar bagus, dan Chan sangat menyukainya.

Tapi dengar-dengar dari ibunya–ibunya adalah orang yang paling dekat dengan kepala sekolah–Kang Seungyoon adalah pelaku dari pembunuhan yang menewaskan 4 anak junior dari keluarga miskin. Chan awalnya tidak percaya karena barang buktinya hanya karena Seungyoon berada di tempat kejadian bersama 4 junior yang bersimbah darah. Tapi sampai saat ini gadis itu masih mempertanyakan tentang pengakuan yang dilontarkan lelaki itu di kantor polisi.

“Mereka memintaku memberitahukan pesan terakhirnya…”

****

Lelaki itu kembali menatap jendelanya yang tertutup. Chan merasa kalau laki-laki itu mata-mata pengintip anak perempuan yang sedang berdandan. Tapi kenyataannya lelaki itu tidak menatapnya sama sekali.

“Aku sendirian…” itu kalimat pertama yang diucapkan Kang Seungyoon pada Chan.

“Kenapa?”ini pertanyaan retoris sebenarnya karena Chan sudah tahu jawabannya.

“Mereka tidak menyukaiku..” katanya. “…juga percaya padaku.”

“Aku percaya padamu!”Chan berucap lantang dan penuh keyakinan. “Aku…percaya kau, Kang Seungyoon.”

Chan seharusnya tahu apa konsekuensi dari kalimatnya itu. Chan akan menyukainya, bahkan menginginkan lelaki itu selalu ada disampingnya. Chan yakin Seungyoon bukan orang yang harus dijauhi. Seungyoon hanya sedang kehilangan kepercayaan dirinya terhadap dunia.

“Chan,” Kang Seungyoon mulai menampakkan senyumnya.

Dug….

Seperti ada jutaan panah menghujam dadanya. Menyakitkan, tapi juga membuatnya senang. Chan yang polos tidak akan tahu kalau itu salah satu bagian dari konsekuensinya.

“Bernyanyilah untukku…. Seperti dulu…” balas Chan ketika Seungyoon memintanya melakukan sesuatu.

Seungyoon langsung menutup tirai jendelanya dan kembali dengan sebuah gitar beberapa detik kemudian. Wajah Kang Seungyoon ini tidak pernah terlihat di sekolah. Wajah lelaki itu sangat mempesona dan memiliki daya tarik tersendiri.

 

Ketika kau mendengarkan lagu ini kumohon dengarkanlah hatiku

Ini bukan hanya sekedar lagu pengantar tidur, tapi juga pengantar perasaanmu

Aku mencintaimu, wahai dewiku….

 

Chan seharusnya tidak tersenyum dan memikirkan lagu ini sepanjang hari. Lagu itu bukan untuknya, dan tidak akan mungkin dipersembahkan untuknya.

****

“Sepertinya… Aku menyukai Seungyoon…”

Hidup yang penuh konsekuensi itu harus dilalui lagi oleh Chan. Kini dirinya hanya sendiri di meja yang seharusnya dihuni 4 orang.

Menyukai Seungyoon adalah hal yang tidak wajar di mata dua sahabat–maksudnya mantan sahabat–yang tidak mengetahui faktanya. Chan berusaha tidak peduli, tapi hati kecilnya benar-benar tidak bisa dibohongi. Gadis itu kesepian, malah sangat tersiksa. Walaupun Seungyoon selalu bernyanyi untuknya tapi sahabatnya tidak mau lagi ada disampingnya. Chan, kini hanya sebatang kayu yang telah lapuk. Akan langsung hancur setelah terinjak oleh detritivor kecil pemakan bangkai.

Seungyoon tidak boleh tahu tentang kesendiriannya. Chan masih bisa tertawa dan bercanda dengan lelaki itu, tapi tidak dengan yang lainnya. Chan memerlukan orang untuk berpihak disampingnya ketika menyukai Seungyoon.

“Berhenti saja menyukainya. Aku tidak mau kau terluka!” kata Jisun ketika Chan bertanya apa yang harus dilakukannya.

Chan menatap Jisun bingung. “Tapi Seungyoon tidak begitu…”

“Kau hanya sedang jatuh cinta! Makanya kau berpikir dia tidak apa-apa…”

Hati Chan makin perih. Pertahanan gadis itu makin runtuh.

“Jangan menangis! Aku hanya memaafkanmu jika kau berhenti menyukai pembunuh itu!” sekarang Huyeon yang memojokkannya.

Chan menggeleng. Gadis itu sudah terlalu lelah untuk mengatakan sesuatu untuk pembelaan diri.

****

Dia kemana?

Chan menatap jendela depan kamarnya dengan bingung. Biasanya lelaki itu sudah pulang di jam-jam segini. Ini sudah lewat dari jam 6 dan setaunya Seungyoon tidak pernah mengikuti bimbingan belajar dimanapun.

“Chan-a makan dulu!” ibunya berteriak dari luar kamar.

Chan terbiasa menunggu sampai Seungyoon datang dan menyapanya, baru kemudian mengambil makanan dan memakannya bersama Seungyoon–Seungyoon makan di kamarnya sendiri maksudnya.

Duarrr!

Halilintar memberikan ‘petuah’nya yang pertama. Sebentar lagi akan turun hujan, mungkin lebat. Atau malah sangat lebat.

Ah! Chan ingat Seungyoon tadi masih di sekolah saat ia pulang satu jam lalu.

“Ke kamar mandi. Mau pulang?”

Hanya itu yang dikatakan Seungyoon saat bertemu dengannya. Satu hal yang tidak Chan sadari adalah Seungyoon tidak menenteng tasnya seperti kebanyakan anak yang ke toilet di jam pulang.

Duarrr!!

‘Petuah’ kedua sang halilintar adalah menurunkan rintik kecil yang kemudian menghilang lagi. Chan langsung mengambil cardigannya dan siap-siap keluar. Ibunya sedang menonton drama ketika Chan datang. Itu pertanda bagus untuknya karena ia tidak akan dihalangi untuk ke sekolah.

Sampai di halte hujan belum turun deras. Tapi rambut gadis itu sudah mulai kusut lagi karena kebasahan. Chan benar-benar menyesal tidak keramas sejak dua hari lalu.

Masih banyak lagi kejadian tidak menyenangkan ketika menuju sekolahnya. Bajunya basah dan kotor terkena cipratan kendaraan yang lewat, rambutnya tambah kusut, dan kini gadis itu kedinginan dan makin memucat.

“SEUNGYOON-A!!” Chan berteriak memanggil nama lelaki berambut jamur itu. “KANG SEUNGYOON!!”

Kali ini lebih keras. Chan menaiki tangga menuju kelas Seungyoon yang tidak jauh dari kelasnya.

“Seungyoon-a eodi? Nan museowo…” Chan bergumam pelan menatap ruang kelas yang gelap karena mati listrik.

Badai diluar makin menggila dan listrik mulai padam. Pemandangan menyeramkan terpampang di depannya dengan bayangan-bayangan tokoh seram dipikirannya.

“KANG SEUNGYOON!!!” Chan kembali berteriak. Kali iniragu, mungkinkah Seungyoon sudah pulang dan menunggunya di jendela kamarnya? Atau malah Seungyoon sudah tertidur di kasurnya?

Bayangan seorang laki-laki yang mirip Seungyoonterlihat di salah satu ruangan kelas 3. Chan menyipitkan matanya, berusaha memastikan di tengah kegelapan.

Duarr!!

Kilat dan halilintar saling bersahutan membuat suasana mencekam. Chan bisa melihat bayangan laki-laki di dalam kelas itu sedang menatap ke arahnya.

“Aaaaaa!!!!”

“Aaaaaa!!!”

Dan dua suara teriakan menyatu dalam kegelapan. Chan yang terlalu kaget langsung kehilangan kesadarannya, dan Seungyoon, anak laki-laki di dalam kelas langsung berlari ke arahnya.

Chan tidak pingsan lama, ia langsung tersadar ketika lengan Seungyoon yang besar menahan kepalanya. Chan memastikan matanya kali ini benar. Ini Kang Seungyoon yang dibenci teman-temannya, tapi kenapaChan masih tetap bertahan pada pendiriannya untuk menyukai lelaki ini?

Kang Seungyoon kini memeluknya. Entahlah apa ini hanya perasaannya saja, Seungyoon menarik nafasnya dengan tersengal seakan ingin mengatakan sesuatu yang tersirat. Chan balas memeluknya, menguatkannya dan seluruh tubuhnya kini mulai memanas.

****

“Aku menyukaimu..” Chan mengucapkannya sekali lagi. Meyakinkan Seungyoon yang sepertinya tidak mau berhubungan lebih jauh darinya.

“Aku menyukaimu, Kang Seungyoon…”

Seungyoon menatapnya ragu, tapi kemudian dia mulai menunjuk-nunjuk udara kosong di depannya. Chan menatapnya, bahkan sampai matanya tidak berkedip untuk mengetahui apa yang ditunjuknya dalam kegelapan.

“Aku bisa melihat mereka… yang tidak terlihat olehmu.” kata Seungyoon.

Chan terdiam. Ternyata yang dipikirkannya selama ini tentang ‘pesan terakhir’ adalah ‘mereka-mereka’ yang telah menjadi makhluk lain.

“Semua merasa terancam. Bahkan keluargaku begitu.” Seungyoon mulai menerawang. “Dan pembunuhan itu… aku tidak pernah melakukannya.”

Chan menggigit bibirnya. “Aku tahu.”

Seungyoon menghela nafas panjang. “Maaf aku-”

“Bagaimana perasaanmu padaku?” Chan berusaha kuat. Ia siap menerima jawabannya, apapun hasilnya.

“Hm?”

Sekarang Chan menyesal telah mengorbankan kesetiaan sahabatnya demi orang yang dia sukai hanya karena rasa penasarannya. Chan seharusnya sadar bahwa semua hal yang dilakukan Seungyoon terhadapnya hanyalah sebatas teman belaka.

Tapi Seungyoon sepertinya tidak sedang dekat dengan siapapun. Bahkan Seungyoon hanya menunjukkan senyum termanisnya pada satu orang, yaituChan. Seungyoon hanya berbicara dengan satu orang, Chan. Seungyoon hanya bernyanyi untuknya, untuk Chan lagi. Dan Seungyoon pernah berkata bahwa ia hanya percaya pada satu orang, yaitu gadis polos bernama Chan yang hanya menjawab curhatan kesendirian Seungyoon dengan kata ‘oh’.

“Jadi…. Bertepuk sebelah tangan ya…” Chan menghela nafas panjang. Di awal sebenarnya Chan sudah siap menerima jawabannya. “Bertepuk sebelah tangan….” Chan bergumam lagi.

“Tanganmu….” suara Seungyoon terdengar pelan.

Chan pikir ia hanya berhalusinasi. Tapi melihat telapak tangan Seungyoon di depan matanya membuatnya reflek menyodorkan telapak tangannya yang langsung ditepuk Seungyoon sambil tersenyum.

“Kau tidak akan bertepuk sebelah tangan…” kata Seungyoon sambil menggenggam tangannya. “Aku menyukaimu juga, Chan.”

Chan diam. Tapi seulas senyum tersungging di bibirnya. Dan senyumnya melebar kala melihat tangan Seungyoon masih menghangatkan genggaman tangannya.

****

Tok tok tok…

Chan mengetuk pintu kamar Seungyoon dengan penuh semangat. Ini pagi pertama yang seharusnya dirayakan oleh pasangan kekasih baru.

“Seungyoon-aaaaa….” Chan sengaja membuat suaranya menjadi lebih manja.

Tidak lama kemudian muncul sesosok lelaki dengan hanya menggunakan underwear yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Chan melongo sejenak sebelum akhirnya ditutup mulutnya oleh Seungyoon.

“Ada apa pagi-pagi begini?” Seungyoon terlihat malas, tapi Chan menyukai pemandangan pagi ini dengan Kang Seungyoon yang hampir full-naked di depannya.

“Kau bisa berbicara dengan hantu kan?” tanya Chan riang. “Kebetulan sekali. Bisa aku berbicara dengan Yoon?”

Mata Seungyoon melebar sempurna mendengar nama lain dari bibir Chan.”Yoon nuguyaaa?” Seungyoon berteriak tanpa sadar.

Chan menunduk sedikit mendengar logat busan yang tiba-tiba meninggi itu. “Yoon, kura-kuraku. Dia mati dua hari lalu padahal aku ingin memberinya hadiah. Aku ingin memberikannya siapa tahu ia akan memakainya…”

Seungyoon melongo sesaat melihat baju kuningberukuran kecil di tangan Chan. Chan hanya tertawa bodoh menatap Seungyoon.

“Tidak berlaku untuk hewan!” kata Seungyoon akhirnya. “Lagian kenapa menamainya dengan namaku?”

Chan berdeham sebentar. “Aku sudah menyukaimu dari dulu..” Chan menggigit bibirnya malu. “Awalnya namanya Jin karena aku menyukai Jinwoo Sunbaenim. Tapi aku menamai ‘Yoon’ setelah bertemu denganmu.”

Seungyoon tertawa lepas. Gadis ini masih saja polos seperti baru lahir kembali.

“Oke. Lebih baik kau memasakan sesuatu untukku dan kita makan bersama. Ah… Kenapa aku pakai underwear yang sama seperti dua hari lalu.”

Giliran Chan lagi yang melongo. Seungyoon yang terlihat rapi ternyata belum mengganti underwearnya sejak dua hari lalu.

“Babeun Kang Seungyoon.” Chan menggeleng pasrah kemudian menuju ke dapur untuk membuatkannya telur dadar.

Chan jadi lebih banyak tersenyum setelah perasaannya terbalaskan oleh lelaki itu. Yang perlu Chan lakukan sekarang adalah meyakinkan teman-temannya untuk kembali dengannya dan memperkenalkan Seungyoon lebih jauh. Chan akan mengatakan semua kemampuan Seungyoon sekalian untuk memamerkannya.

“Kemampuanku bukan untuk dipamerkan.” Seungyoon sudah ada dibelakang Chan dan menjepit hidungnya dengan jari telunjuk dan tengahnya. “Aku akan bantu.”

Chan mengangguk. “Oke. Aku tidak perlu mengatakan apapun sekarang.”

Seungyoon memeluk Chan agak erat. “Terimakasih telah menerimaku..”

Chan membalas pelukan lelaki itu. “Terima kasih telah membalasku.”

“I love you..”

“And i love you, too..”

-Lyrics Series End-

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s