[Kumpulan Drabble] Introduction

introduction

Holla~~~~ndaa ^_^

Demi apapun grogi mengawali postingan pertama setelah perjuangan panjang ini TT.TT (lebay padahal belajar aja nggak)

Fyi, ini dibuat pas lagi di sekolah, lagi gabut dan guru ga mau masuk. Jadilah buat ff daripada harus ngerjain soal /jangan ditiru ya adek-adek../

Awkay sengaja ga saya kasih tahu ini drabble castnya siapa judulnya apa seperti biasa. Biar surprise aja dan semoga kalian teracuni dengan ini semua hahahah xD mind to comment? xD

 

.

.

.

 One.

Youngjae menatap sekeliling, memastikan ini kelas yang sedang ditujunya. Ia melihat teman-temannya, tapi tidak melihat singgasananya di bangku belakang. Kemana singgasana indah itu?

“Oy!”Cho Seungyoun, menepuk pundak lelaki pemalu itu untuk masuk ke kelas. “Hari ini ada malaikat cantik. Berbagilah.”

Petir berkekuatan berjuta megavolt langsung menyambarnya, menghilangkan bayangannya tentang singgasana indah yang selama 2 tahun ia tinggali sendiri.

“Kenapa tidak cari bangku lain?” Youngjae bertanya sarkatis pada gadis bule itu, kemudian menjatuhkan bokongnya ke atas kursi.

“Memangnya ada?” gadis itu bertanya dengan logat yang aneh.

Youngjae langsung berdehammelihat semua bangku telah terisi penuh anak-anak. “Baiklah, terserah.”

Gadis pindahan itu tersenyum, memberikan sebuah permen coklat keluaran Swiss. Youngjae menerima permen coklat itu dengan bingung.

“Aku Lori. Lori Thomas. Kau?”

“Youngjae, Choi Youngjae. Apa maksud permen ini?”

Gadis bernama Lori itu kembali tersenyum. Manis, pikir Youngjae.

“Salam perkenalan. Aku harap kau mau mengajariku Bahasa Korea.”

Youngjae tersenyum, membayangkan ujian bahasa inggrisnya kali ini akan bernilai lebih dari dua bebek berenang disungai.

“Gantinya kau ajari aku bahasa inggris. Setuju?”

Youngjae pikir berbagi singgasana tidak buruk juga.

 

*

 

Two.

 

“Namaku Yerim. Kim Yerim. Salam kenal.”

Gadis berkuncir dua di depan membuat pandangan Mark yang sedang serius menggarap 100 pesawat kertasnya seketika terpanggil. Gadis itu pindahan dari Korea, namanya Kim Yerim–itu sudah disebutkan, Mark!–dan gadis itu baru bisa sedikit bahasa inggris.

“Apa bahasa Korea untuk ‘kau jelek’?” tanya salah satu teman laki-lakinya, Johan.

“Hm?” Yerim di depan kelas hanya mematung, ia yakin dimanapun sekolahnya semua orang akan melihatnya sebagai gadis’jelek’.

Mark yang jati dirinya terpanggil setelah mendengar kata ‘Korea’ akhirnya berjalan maju, menatap Johan yang menanti jawaban Yerim.

Noneun neomu yeoppo.”Mark menjawab pertanyaan lelaki itu–yang dibalas tatapan mematikan dari Yerim.

Neoneun neomu… apa tadi, bocah?” tanya Johan yang bodoh bahasa.

Yeoppo.”

“….yeoppo.”

Mark tersenyum sembari mengangguk. Kemudian kembali ke tempatnya karena Miss Cathie telah menyuruhnya duduk.

“Gamsahamnida…..”

“Mark. Panggil aku Mark. Aku juga orang Korea.”

Yerimmencabut pernyataan tentang sekolah lain beberapa menit lalu. Tidak semua orang melihat sisi jeleknya…

“Salam kenal, Kim Yerim.”

 

*

 

Three.

 

Ibunya kolot sekali menyuruhnya menikah di usia muda.

Soeun terpaksa kabur dari pesta pernikahannya sendiri di sebuah gedung megah bergaya Yunani. Walaupun ia tidak tahu rupa ‘pangeran’ yang akan dijodohkan dengannya hari ini, tetap saja Soeun tidak mau menikah muda. Apa kata teman-temannya melihat gadis cantik seperti Soeun sudah menggendong anak? Tidak! Tidak akan!

“Nona, sepatumu ketinggalan!”

Persetan dengan sepatu. Soeun sudah cukup kuat berjalan tanpa satu alas kaki di bagian kanannya. Ia biarkan orang-orang menatapnya aneh dengan gaun indah yang melekat di tubuhnya.

“Aakkk!!!” akhirnya yang tidak diinginkan terjadi. Soeun terjerembab ke pinggir jalan yangberlumpur. Oh yeah berakhir sudah harga dirinya.

“Hah… Kau berlari cepat sekali, Nona.”

Soeun langsung menyingkir, tidak mau berdekatan dengan lelaki tinggi seusianya yang memakai tuksedo. Soeun berspekulasi anak ini adalah bagian dari keluarga yang akan dijodohkan dengannya.

“Kau siapa?”

Lelaki itu membantu Soeun berdiri, kemudian mendudukkan gadis itu di kursi taman yang tidak jauh dari trotoar.

“Yoo Heedo. Panggil saja begitu.”

Soeun terkesiap mendengar nama itu. Seingatnya ia melihat nama itu belum lama ini. Mungkin anak kelas sebelah? Ah ya, sekolahku kan sekolah keputrian.

“Kau?”

“Im Soeun. Panggil saja begitu.”

Keduanya mengangguk.

“Kurasa aku pernah mendengar namamu.” Yoo Heedo berkata pelan sembari mengingat.

“Aku juga.” Soeun ikut-ikutan mengingat.

“Kita korban perjodohan..”

Kedua anak itu kini menatap satu sama lain. Mereka sadar telah mengatakan hal yang sama bersamaan, tetapi permasalahannya mereka belum sadar sepenuhnya.

“Hahaaha….” dan tawa langsung menyembur dari hati mereka.

“Tidak apa-apa..” Heedo berkata setelah tawanya mereda. “Kupikir menikah muda tidak baik untuk masa depan.”

Soeun mengangguk. “Apa kita bisa pulang? Bodoh sekali kita sama-sama kabur dari pernikahan.”

Heedo mengangguk. “I think i’m in love with you, Im Soeun.”

Soeun menggeleng. “Kau mengigau. Aku akan pulang. Bye!”

 

*

 

Four.

 

“Aku tidak punya uang!”

Shannon sudah kehabisan tenaga setelah mengucapkan 5 kalimat yang sama dalam beberapa menit terakhir ini. Di depannya berdiri 3 anak laki-laki bertubuh tinggi dan berwajah jahat. Shannon tentu sudah mengerti apa yang harus dilakukannya sebagai seorang gadis.

“Jangan meminta tolong. Disini sepi,” dan tawa pun menyembur dari mulut 3 anak laki-laki itu.

Shannon hampir menangis. Tetapi ia ingat ucapan ibunya yang tidak mengizinkannya menangis karena itu menunjukkan kelemahan. Masalahnya detik ini adalah para bocah itu berjalan maju, hendak mengerumuninya.

“Jung Chanwoo!” seseorang berdiri di belakang Shannon, menghentikan langkah3 anak laki-laki itu. “Sudah kubilang jangan ganggu anak-anak.”

“A-aku…” anak laki-laki yang berada di tengah itu langsung mencicit melihat wajah anak laki-laki lain yang memergokinya mengganggu anak gadis. “Lagian ini bukan anak kelasmu, Kim Jinhong!”

Anak laki-laki penolong Shannon tersenyum. “Tapi dia tetap perempuan. Pergi sana, siram saja pohon di pekarangan.”

Tiga anak itu langsung menuruti perkataan Kim Jinhong. Shannon sekarang bisa tersenyum lega, walaupun tangannya masih bergetartidak karuan. Manik Jinhong mengarah padanya, dan Shannon tidak bisa mengedipkan mata barang sedetik pun.

“Shannon. Shannon Williams.” dan gadis itu langsung memperkenalkan diri tanpa diminta.

Si malaikat pelindung itu kembali tersenyum. “Jinhong. Kim Jinhong, kelas 5.”

 

*

 

Five.

 

Oh Hayoung melangkah ragu menuju gerbang setinggi 3 meter di depannya. Bangunan kokoh bertingkattiga sudah tersenyum menyambutnya, menyambut gadis yang baru bisa keluar dari rumah sakit setelah 3 tahun.

“Kenapa tidak masuk?” tanya seorang lelaki yang tiba-tiba berdiri dibelakangnya.

Hayoung langsung menoleh, menatap lelaki tinggi yang menyunggingkan senyum ramah padanya.

“A-aku..”

“Anak baru?”sambar lelaki itu. “Aku juga.”

Hayoung tersenyum canggung. “Aku baru kali ini masuk sekolah.”

Anak laki-laki itu mengangguk. Kemudian mengajak Hayoung untuk masuk ke sekolahnya. “Memangnya kau pintar sekali ya sampai baru kali ini masuk sekolah?”

Hayoung tertawa kecil, kali ini lebih lepas. “Aku sakit. Aku baru sembuh.”

Lelaki itu kembali mengangguk.”Padahal aku ingin berguru denganmu kalau kau pintar.”

Hayoung tertawa, kemudian mengulurkan tangannya. “Aku Oh Hayoung. Salam kenal! Dan lagi, aku juga tidak bodoh. Jadi kau bisa berguru padaku.”

Anak laki-laki itu ikut tertawa, kemudian menjabat tangan hangat Hayoung yang baru tersentuh seorang teman. “Aku Cho Seungyoun. Kuharap kau tidak menyesatkanku.”

Dan kedua remaja itu berhasil mengawali kisah masa sekolahnya, yang tentunya akan sangat berwarna.

 

*

 

Six.

 

Jinwoon menatap pemandangan di sekitar rumah barunya dengan lesu. Hampir tidak ditemukan kehidupan karena tidak ada lapangan, taman, bahkan anak laki-laki sebayanya.

Kata ibunya akan banyak anak laki-laki disini karena ini lingkungan yang baru. Andaikan Jinwoon bisa melihat lingkungan ini lebih dulu untuk menentukan layak atau tidak ia tinggal. Untuk apa ia membawa bola dan mobil remote jika hanya rumahnya yang bisa dijadikan tempat bermain?

“Jinwoon-aa!!” suaramelengking ibu memanggilnya, membuat anak laki-laki 10 tahun ini turun dengan jengah.”Kau mau punya teman baru?”

“Apa anak laki-laki?”

“Apa penting untuk mencari anak laki-laki seumur hidupmu?”

Jinwoon kalah. Ia diajak ke rumah sebelahnya sambil membawa dua mobil remote control. Ibu mulai mengetuk pintu, dan terpampanglah wajah anak perempuan dengan rambut panjang dan kulit putihnya.Anak itu membawa boneka piglet di tangannya.

“Katanya anak laki-laki.” bisik Jinwoon pelan.

“Memangnya kenapa?” tanya anak itu, tidak sengaja mendengar.

“Kau bisa main mobil remote control? Aku akan menjadikanmu teman kalau bisa mengalahkanku.”

Anak perempuan itu mengangguk, melempar boneka pigletnya asal. “Aku Jung Nicole.”

Ibunya tersenyum, menyenggol bahu Jinwoon untuk membalas uluran tangan Nicole.

“Jung Jinwoon.”

 

*

 

Seven.

 

Jungkook dongkol parah. Karena kesibukannya sebagai seorang idola di masa remaja membuat anak laki-laki itu harus menunda sekolahnya. Teman-temannya sudah berada di tahun kedua, sedangkan dirinya masih di tahun pertama bersama para remaja yang setahun dibawahnya.

Namjoon bilang tidak apa-apa, daripada menyandang status idol ‘lulusan SMP’lebih baik ia terlambat setahun. Ya, kadang-kadang leadernya terlalu bijaksana.

“Jangan lupa, tersenyum!” kata Jimin sambil menarik bibirnya membentuk sudut lengkung.

“Jangan lupa cari teman baru. Banyak yang bisa kau dapatkan, bocah.” kali ini Jin yang bertuah.

“Sudah sudah sudah berangkat sana!” dan Namjoon langsung mengusir sang maknae keluar van.

Jungkook sendirian, menatap sekeliling sekolah barunya. Banyak yang berspekulasi tentang dirinya, akhirnya Jungkook menyingkir dan memasuki barisan para murid baru.

“Aku tidak terlambat!” tiba-tiba seorang gadis berdiri disampingnya dengan nada terengah. “Hey, aku tahu kau!”

Jungkook berdeham. “Hai.”

“Kau Jungkook BTS kan?”

Jungkook menggeleng, berusaha menghindar. “Bukan.”

“Tidak ingat aku? Aku Yein, adik kelasmu.”

Jungkook menelan ludahnya, menatap gadis berkuncir yang dulu pernah digosipkan kembar.

“Ye-Yein?”

Yein mengangguk. “Yes, sir!”

Jungkook tersenyum. “Baiklah, jangan beritahu siapapun. Aku memang Jungkook BTS.”

Yein mengangguk. “Jangan beritahukan juga ya, aku Yein Lovelyz.”

Yah, baiklah. Ini adalah sekolah khusus idola.

 

.

.

.

 

End of all drabbles.

Thankyou for readings~^^
Fyi, sebenernya hiatus saya belum resmi selesai karna ujian ini masih kurang sehari. Yah anak SMK emang beda /yaterus/

Mau curhat aja kalo sebenernya saya gak jelas banget bikin couple macem mereka-mereka yang diatas dan saya ikutan curhat di drabble Mark-Yeri. Dek Yeri demi apapun aku jatuh cinta RV abis kamu dateng<3 dan saya juga bingung kenapa soeun-heedo mau aja gue nistain. Yaudah sih itu takdir/?

Oke terakhir, ada yang mau disampaikan? ._. sekalian kasih tahu mana drabble yang berasa ya karna saya tahu ga ada yang berasa disini kkk xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s