[Ficlet] Failed First Love

failed-first-love[poster by Fira@CafePoster.
Thankyou for the amazing poster ^^]

Title : Failed First Love
Genre : romance, angst, college-life
Length : Ficlet
Cast : Jung Kei (OC), Lee Jaehwan (VIXX)
Other Cast : Jung Taekwoon (VIXX)
A/N : Ini adalah pesenan temen gue yang lagi tergila-gila sama mas jaehwan tercinta /huek/ dan gue pun membuatkannya ff yang hampir nyerempet sama kehidupan beneran gue (yah itu, di phpin kakak asdos hiks :<) Yosh segala yang gak diinginkan akan terjadi di ff ini. So sedia plastik sebelum muntah ^^

*****

 

“Orang bilang cinta pertama selalu gagal.”

.

.

.

“Namaku Lee Jaehwan dari fakultas seni musik. Aku menggantikan professor Ahn mengajar mata kuliah……”

 

Jung Kei tidak mampu mengerjapkan matanya. Lelaki di depan podium itu kemudian mengambil kertas berisi kuisioner untuk dibagikan pada anak-anak.

 

“Kalian isi kuisionernya. Kuberi waktu 30 menit dimulai dari sekarang.” lelaki yang sedang bertugas menjadi asisten dosen itu membuka ponselnya, entah apa yang ada di dalamnya sampai ia bisa tersenyum menatap ponselnya.

 

Kei menggeleng keras. Dirinya harus berkonsentrasi agar bisa lulus dari universitas ini secepatnya. Matanya menelusuri isi kuisioner yang diberikan Lee Jaehwan.

 

Lagu apa yang menurut anda bisa membuat orang tersenyum?

 

Kei menghela nafas. Pertanyaan yang hampir sama juga didapatkannya sebelum ini. Kei menatap ke depan, ke arah Lee Jaehwan yang kini sedang menatap lurus ke depan, membuat pandangannya bertemu dengan sang asisten dosen yang….. Entahlah. Membuat memori yang terkubur jauh di lubang hatinya kembali tergali.

 

Cinta pertama.

 

Dan Kei sukses menjawab satu pertanyaan dari kuisioner itu.

 

****

 

Kei menggerutu berat melihat selembar kertas kuisioner itu berganti menjadi berlembar-lembar kertas berisi garis paranada.

 

“Cinta pertama?” Jaehwan tersenyum kecil melihat tulisan tangan Kei.

 

“Ya,” Kei mengangguk agak gugup.

 

“Bagus juga. Aku sering tersenyum mendengar lagu tentang cinta pertama.”

 

Kei mengangguk. “Tapi orang bilang cinta pertama selalu gagal.”

 

Jaehwan terdiam, menghentikan penilaiannya pada kuisioner di tangannya.

 

“Kalau begitu buat ‘cinta pertama gagal’ saja,” Jaehwan kembali tersenyum.

 

Kei tersenyum sekilas. “Baiklah.”

 

Jaehwan kemudian memberi sekitar 10 lembar kertas berisi garis paranada. Katanya ia harus menuliskan lirik lagu beserta instrumennya di kertas ini.

 

“Aku bahkan tidak pernah membuat lagu.”

 

Jaehwan tersenyum simpul. “Tinggal tulis apapun yang ada di pikiranmu. Musisi melakukannya,” katanya. Kemudian menyuruh Kei kembali ke bangkunya dan memanggil mahasiswa yang lainnya.

 

****

 

Kei duduk di halaman belakang sambil memangku kertas bergaris paranada itu dengan bingung. Dari jutaan lagu dan instrumen yang didengarnya dari berbagai penjuru dunia, tidak ada mampu menggali imajinasinya untuk membuat lagu bertema cinta pertama.

 

Kei meneguk teh hangatnya untuk menghangatkan tubuh. Semilir angin sore hampir menerbangkan kertas-kertasnya. Tapi mengingat bahwa ia harus lulus dengan gelar ‘cum claude’ membuatnya menahan kertas terkutuk itu dari terbangan angin.

 

“Baiklah, cinta pertama ya…” hanya satu yang dipikirkan Kei saat ini. Cerita tentang masa lalu kakaknya, Leo, yang harus berpisah dengan cinta pertamanya karena pindah ke Jepang. Kei menggoreskan tinta pensilnya ke atas kertas, yang hanya berpengaruh sedikit di dalamnya.

 

Satu titik kecil.

 

“Sedang apa?” tiba-tiba Leo datang, membawa selimut tebal untuk menutupi dirinya sendiri. “Lirik lagu?”

 

Kei mengangguk. “Hanya kertas paranada, sebenarnya.”

 

Leo mengangguk. “Mau membuat tentang apa?”

 

Kei menceritakan tugas yang diberikan Profesor Ahn melalui Lee Jaehwan, sang asisten dosen yang terlihat bersahabat. Kei tentu tidak menceritakan tentang Jaehwan, hanya saja raut wajah kakaknya kini menyiratkan keanehan mendengar nama ‘Jaehwan’ dan ‘Cinta Pertama’.

 

“Kau punya cinta pertama?” tanya Leo kemudian.

 

Kei menghela nafas, lesu. “Aku bahkan lupa siapa nama murid lelaki di kelasku dulu.”

 

Leo mengangguk, entah peduli atau tidak. “Tulis saja tentang apapun.”

 

Kei kembali mengingat ucapan Jaehwan di kelas tadi. Apa?! Kei menggeleng keras karena hanya Jaehwan yang kini dipikirkannya.

 

“Raut wajahmu agak mencurigakan menyebut Jaehwan. Tulis saja tentangnya.”

 

Leo angkat kaki tanpa permisi, meninggalkan Kei yang sedang bingung dengan kondisinya sendiri. Mencurigakan? Apa yang dimaksud dengan ‘mencurigakan’ itu? Apa wajahnya memerah? Atau bibirnya tergigit?

 

“Kenapa harus tentangnya?!” Kei menggerutu kesal. Mengejar kertas bergaris paranada yang ditebangkan oleh jahilnya angin.

 

****

 

Baiklah, ini agak berlebihan. Kei melangkah sendirian dan menemukan sosok Jaehwan sedang mengantre di toko bento. Kei menggeleng pelan, kemudian meninggalkan kantin menuju kamar mandi. Tapi yang dilihatnya pertama kali adalah sosok dua remaja berlainan jenis berpegangan tangan. Kei yang benar-benar anti pada kesenangan sesaat kembali berbelok, menuju tempat apapun yang bisa dituju.

 

Library.

 

Tulisan itu membawa harapan bagi Kei. Gadis berponi itu memasuki ruang perpustakaan yang megah dengan ribuan buku dari penjuru dunia di dalamnya. Kei memilih rak bagian sastra disebelah buku-buku filsafat.

 

“Kau mencari buku tentang cinta pertama?” tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri disampingnya sambil menunjukkan sebuah buku tepat di depan matanya.

 

Kei hanya menatap lelaki itu tanpa berkedip. Jutaan perasaan aneh memenuhi rongga dadanya. Entahlah mungkin Kei harus menambahkan lirik ‘Like a ghost you come to me’ pada kertasnya. Beberapa detik lalu Kei baru saja melihat Jaehwan di kantin, dan tiba-tiba asisten dosen itu sudah ada di depannya.

 

“Hei?” Jaehwan melambaikan tangannya di depan mata Kei.

 

Kei menurunkan pandangannya, berdeham sekilas mengusir rasa gugup.

 

“A-aku suka sastra…. Apalagi….” Kei mencari inspirasi untuk dibuat sandiwara di depan asisten dosen yang tampan ini. “…..Plato.”

 

Tawa Jaehwan meledak tanpa bisa dibendung. Seluruh pengunjung perpustakaan mengerubungi tempatnya dan Kei berada. Kei baru sadar kalau Plato ada di rak filsafat.

 

“Baiklah, aku salah. Aku hanya datang kesini sekali-kali,” kata Kei setelah Jaehwan mengendalikan dirinya.

 

Jaehwan menggeleng. “Tidak.. Tidak usah dibahas lagi. Aku benar-benar menang hari ini.”

 

Kei menggigit bibirnya. “A-aku pergi–”

 

“Mau kemana?” Jaehwan mendekati Kei. “Ini buku untuk mendapatkan inspirasi.”

 

Kei menerima buku dengan titel yang masih harus diejanya karena memakai huruf korea bersambung.

 

“Tidak semua cinta pertama gagal, kurasa,” Jaehwan menyandarkan dirinya di rak buku filsafat. “Aku merasakannya.”

 

Kei baru bisa membaca judulnya setelah Jaehwan selesai berbicara.

 

Failed First Love

 

“O-oh, benarkah?” Kei sibuk berpikir. Gadis itu tidak pernah sekalipun merasakan ‘cinta pertama’ sebenarnya. Kecuali kalau Kim Woobin bisa dimasukkan ke dalamnya karena membuatnya mencintai drama dari negaranya sendiri.

 

“Ya, aku pernah menyukai seseorang. Untuk pertama kalinya.”

 

Kei mengerjapkan matanya menatap Jaehwan. “Lalu?”

 

“Entahlah dia kemana. Yang jelas aku tidak tahu lagi setelahnya.”

 

Kei mengangguk. Ini bisa jadi inspirasi untuk proyek ‘cinta pertama gagal’-nya.

 

“Tapi akhirnya aku menemukannya lagi. Jadi aku mulai memercayai ‘cinta pertama memang ada’.”

 

Entah kenapa dirinya merasa tercambuk dari seluruh sisi tubuhnya. Jaehwan benar-benar membuatnya iri setengah mati karena bertemu dengan cinta pertamanya lagi. Kei seharusnya meminta takdir membuatnya bahagia dengan roman picisan ala SMA di drama.

 

“Boleh aku tahu… Siapa orang itu?” tanya Kei ragu.

 

Jaehwan terlihat menimang-nimang sebentar. Kemudian menatap Kei yang sedang menunggu jawabannya.

 

“Kenapa harus sepenasaran itu? Buat saja lagunya dan serahkan pada Professor Ahn!” Jaehwan menggertak dengan sedikit senyum di bibirnya.

 

Kei mengangguk takut. Walaupun orang di depannya ini begitu terlihat baik namun ada saja hal yang membuat Kei ‘tunduk’ di depannya.

 

“Semangat, ya,” Jaehwan mengelus rambut Kei pelan. Kemudian mengucapkan selamat tinggal yang tidak didengarkan Kei.

 

Untuk beberapa saat Kei termangu, menikmati angin dari air conditioner yang menerbangkan rambutnya. Buku yang dipegangnya jatuh, meninggalkan suara ‘tak!’ yang tidak besar.

 

Jaehwan ada di depannya, menggandeng seorang gadis yang baru selesai bertransaksi dengan buku di tangannya. Kemudian keluar dari tempat penuh ilmu itu dengan santai.

 

Mungkin benar kata orang kalau cinta pertama itu selalu gagal.

 

.fin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s