[Ficlet] Phone Number

phonenumber-bbon-cafeposter[poster by Bbon @ CafePoster
Thankyou for the amazing poster ^_^]

Title : Phone Number

Genre : Comedy, teenager, school life

Length : Ficlet [701 words]

Cast(s) : Jung Chanwoo (iKON), Shannon Williams, a girl.

A/N : Duh ini fic harusnya dipost abis ujian tapi males banget sumpah ngeluarin ini fic maluuqq ga bisa bikin canon >,< okelah semoga ini ga mengecewakan dan gue harap ini bikin orang ikutan sinting /plok/ xD

****

Demi langit dan bumi, dia melihatku!

 

Jung Chanwoo tidak berkedip beberapa saat, tepat ketika pandangan gadis yang 4 meja di depannya tidak sengaja ‘meliriknya’.

Ternyata…

 

Chanwoo kembali harus menelan ludah pahit sembari menggembungkan pipinya yang sudah lebih dari gembung. Gadis itu tidak berbalik untuk melihatnya, tapi untuk mencari pelayan.

Haruskah aku menjadi pelayannya?!

 

Dan pikiran-pikiran bodoh langsung mengalir deras melalui pori-pori otaknya menembus pertahanan tengkorak yang melindunginya dan berakhir pada satu kesimpulan yang jauh lebih bodoh.

Jung Chanwoo harus mendapatkan nomor ponsel gadis itu.

Kalian mungkin bertanya, apa hubungannya antara menjadi pelayan dan nomor ponsel? Jawabannya adalah tidak ada. Baiklah abaikan saja bagian itu dan mulai fokus pada kesimpulan yang Jung Chanwoo buat.

Chanwoo melambaikan tangannya, memanggil pelayan cantik yang ada diseberang sana—sialnya malah pelayan laki-laki yang mendatanginya.

“Boleh aku meminta kertas?” tanya Chanwoo.

Pelayan itu mengernyit bingung, tapi demi pekerjaan yang berharga ini ia tetap tersenyum dan memberikan kertas beserta pulpen bila dibutuhkan pelajar SMA diseberang jalan itu.

“Berikan pada gadis itu,” Chanwoo menunjuk pada satu objek gadis berseragam yang sedang tertawa bersama ketiga temannya yang lain.

“Yang itu?” si pelayan malah menunjuk pada seorang gadis berbaju seragam lainnya di belakang objek yang ditunjuk Chanwoo.

Karena tidak terlalu memerhatikan—dalam kata lain terlalu terpesona pada gadis yang diincarnya sejak lama—Chanwoo mengiyakan saja. Ia harap hubungan mereka bisa berjalan lebih jauh.

Chanwoo mengambil dompetnya, memberikan sedikit ‘tip’ pada si pelayan yang akan melakukan misi besar. Chanwoo menyembunyikan wajahnya di atas tumpukan lengannya. Anak itu sibuk menduga-duga apa yang akan dilakukan gadis itu setelah tahu Chanwoo memberikan nomornya.

Mungkinkah gadis itu akan tersenyum pada Chanwoo dan mengatakan ‘terima kasih’ karena memberikan nomornya? Kemudian malamnya gadis itu mengiriminya pesan, bertanya ‘apa kau sudah makan, Jung Chanwoo?’ dan setelah itu Chanwoo yang akan mengiriminya pesan lebih dulu, atau meneleponnya sekali-kali. Harapan terbesarnya adalah bernyanyi untuk gadis pujaannya yang satu itu.

Kupikir lagu Nothing Gonna Change My Love For You bisa menjadi persembahan pertama untuknya. Pikir Chanwoo sembari berkhayal.

C-Chogiyo,” suara seorang gadis.

Chanwoo tidak berani mengangkat wajahnya, terlalu besar degup jantungnya sehingga kini bernafas pun agak sulit.

Chogiyo..” suara gadis itu lagi.

Demi malaikat bersayap putih! Dia memanggilku! Heey dia memanggilku!!! Chanwoo berteriak heboh dalam hati. Kemudian mengangkat wajahnya sambil memejamkan mata, bersiap melihat siapa malaikat yang akan mengetuk pintu hatinya dan membukanya dengan tulus. Jung Chanwoo yang polos tidak tahu kalau….

“Ke-Ketua kelas?!” Chanwoo mencicit, menciut sudah detak jantungnya yang tidak karuan tadi. Bayangan tentang malaikat seksi bersayap diruntuhkan oleh imej gadis yang amat sangat dikenalnya.

“Ternyata kau, Jung! Hey, kau tidak bercanda kan memberikan ini padaku?” gadis itu menunjuk kertas berisi nomor ponselnya.

Chanwoo menatap sekeliling, dicarinya si pelayan yang diamanatkan untuk memberikan kertas itu pada orang yang tepat. Nyali Chanwoo kembali menciut melihat gadis yang diincarnya masih sibuk bercengkrama bersama tiga gadis lainnya.

“Bu-bukan begi—“

“011-100767. Oke aku akan menyimpannya, Jung,” gadis itu, sang ketua kelas alias Shannon, mengeluarkan ponselnya.

Chanwoo reflek berdiri dan mengambil kedua benda yang bertengger manis di tangan Shannon. Tidak butuh waktu lama sampai benda itu berpindah tangan.

“Hey!!”

“Ini bukan untukmu!” Chanwoo mengambil kertasnya kembali dan melihat isi ponsel Shannon—selagi gadis itu masih menatapnya marah dibawahnya.

“Jung Chan Woo!!“ Shannon berusaha meraih benda keramatnya dari jarahan lelaki bertubuh jangkung itu.

Hasilnya…

“Cie….” puluhan pasang mata menyoraki Chanwoo dan Shannon yang kini berposisi seperti sepasang suami istri yang hampir kehilangan gelas kesayangannya karena tersenggol.

“Kembalikan!”

Chanwoo tersenyum kecil. “Berjanjilah kau tidak akan menyimpan nomorku. Ini rahasia!”

Shannon masih berusaha merebut ponselnya. “Berikan dulu, baru aku berjanji!”

Chanwoo memberikan ponsel itu pada pemiliknya. Kemudian menatap nanar pada gadis yang seharusnya diincarnya.

“Kau tahu ada pepatah,” kata Chanwoo menatap malaikat pujaannya. “’tidak ada burung pegar ayam pun jadi’?”

Tatapan Chanwoo beralih pada Shannon, membuat gadis itu gugup seketika. Sekelebat bayangan tentang pangeran langsung mengerubungi pikirannya.

“Kupikir tidak ada salahnya mengencani ayam,” kata Chanwoo akhirnya.

Chanwoo pikir ia sudah berhasil menaklukan hati sang ketua kelas karena gadis itu diam-diam mengeluarkan semburat merah dari pipinya.

Tetapi ekspetasi berbanding terbalik dengan kenyataan, tentunya.

“AYAM? KAU BILANG AKU AYAM?!”

Dan Jung Chanwoo yang polos mendapat kesialan berlipat sekali lagi, tepat setelah sisa kafe latenya bercampur dengan air di atas kemeja putihnya.

“HEY KAU TAHU BIAYA LAUNDRY SANGAT MAHAL, TAHU!”

.fin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s