[Chaptered] My Little Friend (Part 1)

req-laillamp[amazing poster by finessa @ HSG]

Title : My Little Friend (Before Story of One Little Kiss)
Genre : comedy, romance, friendship, school life, etc
Length : Chaptered (1 of ?)
Cast : Park Chanyeol (EXO), Lee Minhyuk (BTOB), Kim Namjoo (Apink)
A/N : Setelah sekian lama akhirnya gue bikin chapter juga (dan ini sebenernya belom kelar kelar amat, tapi pasti kelar karna ini rikuesan) ini dibuat pas pertengahan kelas 12, dan di request sama orang di depan gue (baca : melati)
Rencananya ini bakal jadi 3shot (doakan ga lebih huhu T.T) dan ini fic udah nongkrong di coming soon terlalu lama u,u Okay, dibaca boleh di komen boleh di like boleh di diemin juga boleh. Monjeo~^^

WARNING!
ALL CAST ARE SAME AGE IN THIS FIC. TYPO(s) EVERYWHERE.

****

 

“Hati-hati dengannya! Dia suka makan orang!”

.

.

.

Gadis kecil berkucir dengan pita merah jambu itu mendekati anak laki-laki yang sepuluh senti lebih tinggi di depan rumahnya. Si anak laki-laki terdiam, menatap truk kontainer yang siap mengantarkan gadis berpita merah jambu itu ke tempat yang jauh.

 

“Mayu…. kenapa pindah?” anak laki-laki itu bertanya. Anak itu tidak tahu kalau air matanya akan tumpah sebentar lagi.

 

Anak perempuan itu menggeleng sambil menangis. Sebenarnya ia juga tidak tahu kenapa harus kembali ke tempat kelahirannya di Hokkaido. Tapi anak itu juga tidak bisa menolak permintaan orangtuanya.

 

“Mianhae, Chanyeol-a. Mama bilang Mayu boleh mengunjungi Chanyeol nanti,” anak perempuan itu mengusap air matanya di badan teddy bear kesayangannya.

 

“Mayu tidak akan lama, kan?” anak laki-laki bernama Chanyeol itu bertanya penuh harap.

 

“Mayu tidak tahu. Tapi Mayu akan mengirim surat untuk Yeollie, ya?” Mayu mengangkat kelingkingnya, mengajak Chanyeol mengucap janji bersama. “Chanyeol jangan lupakan Mayu, ya?”

 

Anak laki-laki itu mengangguk. “Ne. Mayu juga jangan lupakan Yeollie. Jangan bermain dengan anak laki-laki sejahat Minhyuk, ne?” Chanyeol mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kecil Mayu.

 

Mayu mengangguk. Tidak lama kemudian Ibu Mayu berpamitan pada Chanyeol dan orangtuanya. Mayu menangis meraung karena tidak akan bertemu Chanyeol lagi. Dan Chanyeol, anak itu hanya bisa menatap kepergian truk kontainer sampai kepulan asapnya menghilang.

 

Untuk beberapa waktu yang panjang Chanyeol selalu terdiam menatap rumah Mayu yang belum ditempati orang lain. Chanyeol juga tidak berharap punya tetangga baru karena itu rumah Mayu dan harus ditempati oleh Mayu.

 

Kadang-kadang Chanyeol masuk ke rumah Mayu untuk mengajaknya bermain. Tapi Chanyeol kembali ingat kalau Mayu sudah pindah ke Hokkaido. Mungkin Mayu sudah menemukan teman baru dan melupakannya. Chanyeol kecil hanya berharap teman kecilnya tidak mendapat tetangga seperti Minhyuk, anak nakal di sebelah kanan rumah Mayu. Chanyeol tidak akan membiarkan anak seperti Minhyuk menjambak rambut panjang Mayu yang wangi itu.

 

“Ini Chanyeol? Aah imut sekali.”

 

Hal yang tidak diharapkan Chanyeol kecil terjadi. Chanyeol mempunyai tetangga baru! Untungnya anak tetangga barunya itu masih berusia 7 tahun, sama sepertinya. Dan yang lebih untung lagi anak itu perempuan, yang tidak akan menyakitinya seperti Minhyuk. Chanyeol berkenalan dengan anak itu, canggung.

 

Nae ireumeun Kim Namjoo imnida. Bangapseumnida, Chanyeollie,” gadis kecil berekor kuda itu membungkuk sedikit sambil memeluk boneka pigletnya. Chanyeol terdiam, mungkin gadis cilik ini bisa menjadi tetangga barunya seperti Mayu.

 

****

 

Empat menit atau mati.

Gadis kecil berekor kuda itu kini menjadi sosok gadis urakan yang cantik. Gadis itu tidak lagi menggunakan ekor kuda dibelakang kepalanya, melainkan rambut pendek yang di warnai blonde olehnya.

 

Tiga menit lagi.

Yah, mungkin menurut gadis remaja itu lebih baik mati daripada melompati tembok untuk menghadiri upacara pengesahan murid baru.

 

Dua menit lagi.

Damn! Bahkan disaat genting seperti ini gerimis masih sempat-sempatnya turun. Habislah sudah masa depannya di SMA HanGyo ini.

 

Beberapa detik lagi!!!

Oh, Tuhan. Kim Namjoo berusaha memutar kembali waktu di jam tangannya. Tapi sebenarnya waktu di tempat lain tidak akan bergeser ke kiri barang setitikpun.

 

Aku sampaiiii!!!!!!!

Namjoo hampir berteriak girang ketika mendapati bukan dirinya yang berhasil masuk ke dalam ‘gerbang penyaringan’. Seorang lelaki berwajah dingin menelusup melewatinya dan membuat tas jinjingnya jatuh tepat di kaki sang penjaga gerbang.

 

“Tamatlah riwayatmu, Kim Namjoo,” seseorang bersuara berat menghampirinya. Namjoo hampir terjengkang kalau saja pintu gerbang itu terbuka kembali.

 

“Kau juga, Park Chanyeol,” balas Namjoo, sedikit menang.

 

Anak laki-laki yang imut itu kini juga menjelma menjadi remaja tampan dan bertubuh tinggi. Kadang waktu memang tidak mengizinkan kita untuk merenung sebelum bertumbuh.

 

“Kalian murid baru?” tanya guru tua yang sedang berusaha berlindung di payung setengah reyotnya. “Masuklah. Kali ini kumaafkan.”

 

Namjoo dan Chanyeol sama-sama tersenyum. Meninggalkan si guru piket dan dua penjaga gerbang yang menatap kejam ke arah mereka.

 

****

 

Chanyeol terkesiap melihat pemandangan yang tidak asing di kelasnya. Lee Minhyuk, anak laki-laki yang tinggal di dua rumah setelahnya duduk di belakang dengan gaya angkuhnya. Disekitarnya berkeliling gadis-gadis genit yang memburu lelaki tampan di usia biji ini.

 

“Hey, Chanyeol-ah!” Minhyuk melambai ke arah seorang lelaki tinggi di depan pintu yang basah kuyup.

 

Namjoo menatap penuh tanya pada Chanyeol yang memucat. Yang ada di pikirannya saat ini Chanyeol mungkin akan demam.

 

Chanyeol menarik tangan Namjoo menjauhi pintu, kemudian menduduki bangku kedua dari depan—yang jelas-jelas dihindarinya selama sekolah—dan Namjoo pasrah saja tangannya ditarik-tarik.

 

“Hati-hati dengannya! Dia suka makan orang!” kata Chanyeol sebelum Namjoo sempat bertanya siapa yang memanggilnya tadi.

 

“O-oh baiklah,” Namjoo mengangguk saja. Dalam hati bertanya-tanya apa ada orang yang benar-benar bisa memakan sesamanya.

 

Chanyeol mencuri pandang ke meja belakang sesekali. Melihat orang yang selalu menghantuinya selama ini.

 

Minhyuk menoleh, tersenyum lebar selayaknya mereka sahabat sejati. Chanyeol kembali kalut, mungkin sebentar lagi dirinya akan menghadapi hal yang sulit di masa remajanya. Bukan tentang penindasan, tapi tentang gadis pujaan disampingnya.

 

****

 

Kejadian yang sama terulang beberapa bulan kemudian. Namjoo terlambat dan langit mulai mengejeknya dengan warna hitam pekat yang siap memuntahkan air hujan yang dikandungnya.

 

“Ajusshi!!!!!” Namjoo berteriak dari radius 10 meter, mencegah dua satpam penjaga pagar tetap membuka gerbangnya.

 

Hujan makin lebat dan Kim Namjoo dalam balutan kemeja putihnya yang tipis mulai menggigil. Dua satpam yang berbaik hati masih membukakan pagar untuknya dan…..

 

“Hello, Namjoo-ya,” lelaki yang kata Chanyeol ‘suka makan orang’ itu memanggilnya. Bagaimana dia tahu namaku? Namjoo mulai panik sendiri dan berlari menuju kelasnya.

 

“Hey!” Minhyuk, lelaki itu menarik tangan Namjoo yang berusaha pergi dari hadapannya. “Tunggu sebentar aku perlu meluruskan sesuatu.”

 

Namjoo menghentikan larinya. Kini nafasnya tersengal tak karuan.

 

“Hm, aku tidak tahu apa yang Chanyeol katakan padamu tentangku. Tapi intinya aku tidak suka makan orang. Aku hanya suka makan Chanyeol, itu saja.”

 

Dan ucapan dari bibir bocah tengil disebelah rumahnya itu membuat Kim Namjoo yang menggigil kedinginan bertambah menggigil lagi karena ketakutan. Namjoo hampir saja lari dan berteriak ke penjuru koridor kalau saja senyum anak itu tidak mengalihkannya.

 

“Kau tidak tahu siapa aku, Kim?” tanya Minhyuk dengan nada mengintimidasi sembari menyamakan langkahnya dengan Namjoo.

 

“Ti-tidak..” Namjoo hanya tahu namanya. Itu saja.

 

“Benarkah? Padahal kita tetangga, Kim,” Minhyuk berdecak kagum sekaligus keki karena 10 tahun tinggal berbataskan tembok tidak membuat mereka berdua saling kenal.

 

“Benarkah? Kalau begitu kau tahu namaku kan? Jangan panggil nama keluarga seperti itu. Tidak sopan!” Namjoo mempercepat langkahnya. Tidak ada waktu lebih banyak untuk menuju lantai 3 sebelum Guru Lee datang.

 

“Baiklah, Nona Kim. Aku ada dua pilihan nama, aku harus memanggilmu ‘sayang’ atau ‘cinta’? Hm?”

 

Oh Tuhan! Namjoo ingin sekali melempar ubin yang sedang dipijaknya pada orang yang sibuk mengoceh dibelakangnya.

 

“Kuanggap jawaban ‘sayang’ menjadi pilihanmu,” Minhyuk tersenyum puas. Kemudian lebih mendekatkan tubuh jangkungnya pada gadis disebelahnya. “Sayang, kau yakin mau masuk pelajaran guru vintage itu? Bajumu bahkan jauh dari kata kering.”

 

Kalau saja kekuatan untuk muntahnya kali ini tidak terdorong masuk oleh amarahnya, mungkin Namjoo sudah mengotori seluruh bagian tubuh bocah tengil itu dengan hasil sarapan paginya.

 

“Berhenti. Aku bisa gila,” tidak. Namjoo sudah benar-benar gila.

 

“Sayang, percayalah Guru Lee tidak akan membiarkan siswa terlambat masuk ke kelasnya dengan cuma-cuma. Ayo kita kabur di pelajarannya. Setelah itu kita masuk lagi.”

 

Namjoo menghentikan langkahnya setelah menaiki anak tangga terakhir menuju lantai 3. Gadis itu sudah lupa semua yang diceritakan Chanyeol kemarin. Malahan Namjoo kini sedang memikirkan bagaimana menjawab ‘ya’ tanpa menarik perhatian lelaki pemakan Chanyeol ini.

 

“Kuanggap jawabanmu iya, sayang,” dan Minhyuk langsung menarik tangan Namjoo paksa ke tempat yang ditujunya.

 

****

 

“Kukira kau akan mengajakku ke balkon seperti yang di drama,” kata Namjoo, terlampau pelan.

 

Minhyuk tertawa kecil. Mengalihkan pandangannya dari berita tentang pelatih hebat abad ini.

 

“Kau berharap aku mengajakmu kesana, sayang?” Minhyuk membisikkan semuanya dengan lembut, berbeda dengan nada bicaranya sedari tadi.

 

“O-oh,” dan Namjoo yang kehilangan akal sehat memilih menjawab ‘ya’ dengan gugup.

 

“Baiklah, biarkan aku membaca berita hari ini ya. Rak novel remaja ada disebelah rak buku IPA. Anak perempuan biasanya berkumpul disana.”

 

Namjoo mengangguk. Kali ini ia tidak berselera mengambil salah satu novel yang ditunjukkan Minhyuk. Masih ada hal lain yang membuatnya terpaku sampai detik ini.

 

Panas alami yang dihasilkan tubuhnya sendiri.

 

Namjoo tidak tahu kalau permulaan dari benci adalah seperti ‘ini’.

 

****

 

“Namjoo-yah!!” Chanyeol langsung menghampiri Namjoo yang kini memakai baju yang lebih besar dari badannya. Kemudian pandangannya mengarah pada seseorang dibelakang gadis itu, yang hanya memakai kaus putih sebagai dalaman kemejanya.

 

“Yeol, aku terlambat. Apa Guru Lee mencariku? Memberikan tugas khusus untukku?” tanya Namjoo berturut-turut. Kemudian mendorong Chanyeol menuju kursinya.

 

“Oh, ye,” Chanyeol tidak mendengar satupun pertanyaan Namjoo. Yang ada di benaknya detik ini hanyalah amarah dan permintaan kejelasan atas apa yang dilakukan Minhyuk terhadap gadisnya–ehm, teman kecilnya.

 

“Yeol?” Namjoo menarik paksa wajah Chanyeol dari tatapan sinis Minhyuk. “Kau harus mengubah pikiranmu tentangnya, Yeol. Dia tidak suka makan orang. Dia juga baik dan lucu. Dia meminjamkan bajunya untukku sedangkan bajuku–”

 

“Kau bisa pinjam bajuku kalau mau. Celanaku sekalian. Aku bisa meminjamkanmu segudang celana dalam juga. Kenapa kau memilihnya?!!” Chanyeol berseru marah. Mengumpat tidak jelas dengan suara pelan.

 

“Ada apa, sih? Apa aku harus masuk angin dulu baru dipinjamkan baju olehmu? Aku bahkan sudah sakit perut karena kedinginan!” Namjoo menghela nafas panjang. Tidak mengerti dengan hari sial yang tidak kunjung habis ini.

 

Chanyeol memejamkan matanya. Ia sadar telah bertindak sangat jauh terhadap Kim Namjoo yang bukan siapa-siapanya. Lagi-lagi kata ‘friendzone’ membuatnya kehilangan semangat. Chanyeol ingin memilikinya, tapi Chanyeol tidak mau kehilangan sosok teman kecil yang membantunya keluar dari jeratan anak-anak nakal.

 

“Joo-ya..” Chanyeol menghela nafas berat. “Boleh aku minta satu hal?”

 

Pandangan Namjoo mengarah sepenuhnya pada lelaki disebelahnya. Chanyeol terlihat sangat frustasi sekarang. Tapi Namjoo tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan tetangga kecilnya yang pemalu itu.

 

“….tetaplah menjadi temanku, jangan pergi dariku.”

 

Namjoo tidak bisa mengedipkan matanya selama beberapa saat. Permintaan Chanyeol itu aneh dan agak gila. Untuk apa Namjoo terus berada disampingnya bahkan ikut menghabiskan bekal yang dibuat ibunya Chanyeol selama ini? Apakah mereka belum ‘berteman’?

 

“Tentu saja, Chanyeol-ah. Aku akan selalu menjadi temanmu. Chanyeollie chingu!” Namjoo tersenyum, memperlihatkan wajah manisnya yang tidak pernah absen menyumbangkan cahaya dalam hidupnya.

 

Chanyeol sedikit bisa bernafas lega. Hatinya mungkin tidak bisa menahan rasa sesak akibat ucapan dari bibirnya sendiri. Tapi ia akan mengajak organ tubuhnya yang lain untuk berusaha mengobatinya dan merelakan Kim Namjoo JIKA gadis itu memang hanya akan menjadi temannya, teman selamanya, Chanyeollie Chingu.

 

Chanyeol tersenyum getir. Kembali dirinya dilanda kecemasan hebat karena takut akan sesuatu. Dunia harus memakluminya, karena semuanya membutuhkan proses.

 

.tbc.

One thought on “[Chaptered] My Little Friend (Part 1)

  1. Pingback: [Chaptered] My Little Friend (Part 2) | Kumpulan Fanfic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s