[Chaptered] My Little Friend (Part 2)

req-laillamp[amazing poster by finessa @ HSG]

 

Title : My Little Friend (Before Story of One Little Kiss)
Genre : comedy, romance
Length : Chaptered (2 of ?)
Cast : Park Chanyeol (EXO), Lee Minhyuk (BTOB), Kim Namjoo (Apink)
A/N : Sejujurnya ini fic belom resmi end, tapi udah main post yang kedua aja huehehe…
Sebenernya saya berpikir sampe 5 chapter atas fic ini, tapi semoga aja beneran 3 seperti yang diharapkan/?
Okay, semoga fic ini ada yang baca dan maaf kalo ceritanya makin absurd ><

Previous –> Part 1 | Part 2

****

Wae?”

 

Chanyeol ikut menghentikan langkahnya kala kaki kecil disebelahnya berdiri tepat di pagar rumah bergaya klasik.

 

“Kenapa kita tidak bersama Minhyuk juga? Sepertinya kalian punya banyak masalah,” Namjoo menatap jendela yang berada di atas rumah itu.

 

Chanyeol benar-benar ingin menarik tangan gadis itu menuju halte terdekat. Tapi kemudian pagar kayu itu bergeser ke kanan dan menampilkan wajah seorang lelaki berbaju SMA.

 

“Namjoo?” Minhyuk hanya menatap pada satu orang.

 

Chanyeol menghela nafas berat. “Baiklah, aku dulu–”

 

“Kenapa tidak naik mobilku saja? Aku dan Namjoo akan naik motor bersama.”

 

Chanyeol kembali tersenyum getir. Ingatannya kembali pada masa silam ketika Chanyeol diganggu Minhyuk dan Namjoo meludahinya untuk membebaskan Chanyeol dari jeratan lengan anak laki-laki di dua rumah sebelahnya.

 

“Tidak perlu. Aku sudah berlangganan, sayang kan kalau tidak dipakai?” Chanyeol menunjukkan kartu bergambar bus dari saku kemejanya.

 

Minhyuk kembali tersenyum bersahabat, membuat Chanyeol ingin sekali memukul wajahnya dan menorehkan luka yang sama ketika kecil dulu.

 

“A-aku ikut Chanyeol. Aku juga punya kartu langganan. Ya.. Sayang kan kalau tidak dipakai?” Namjoo yang merasakan ada aura ketidakberesan dari kedua lelaki yang menghimpit rumahnya itu kembali ke sisi Chanyeol, membuat raut wajah Minhyuk sedikit berubah.

 

Minhyuk menghela nafas. Kemudian menutup kembali pagar kayunya tanpa membawa motor besarnya.

 

“Aku ikut kalian naik bus, ya? Aku tidak punya kartu langganan, tapi aku bisa naik bus kan?”

 

Namjoo dan Chanyeol saling berpandangan. Kemudian mengangguk dengan ragu dan berjalan bersama menuju halte di depan komplek rumahnya.

 

****

 

“Yeol, kau pendiam akhir-akhir ini,” kata Namjoo setelah menelan potongan ttokbokinya.

 

“Hm?” Chanyeol menatap Namjoo dengan kosong. Ia melamun.

 

“Tidak apa-apa. Apa ada masalah? Kau menyukai seseorang? Ayolah cerita padaku, Yeol-ah!” Namjoo sedikit memaksa.

 

Chanyeol tertawa kecil. “Bagaimana kalau kau yang cerita saja? Kau dapat hukuman karena terlambat kan kemarin?”

 

Namjoo memajukan bibirnya mengingat pengalaman pahit itu. Menulis 1000 kalimat ‘Aku tidak akan terlambat lagi’ di kertas putih kosong tanpa boleh ada coretan di dalamnya.

 

“Tapi waktu itu aku terlambat dan tidak ketahuan guru piket. Aku diajak Minhyuk membolos ke perpustakaan. Aku baru tahu perpustakaan senyaman itu,” dan bibir mungil gadis itu mengalirkan cerita indah ala dunia gadisnya. Namjoo bercerita tentang Minhyuk yang bercita-cita menjadi sutradara teater dan sering membaca berita olahraga terbaru dari koran A. Minhyuk juga bercerita pada Namjoo kalau ia hampir menang saat babak semifinal menuju Asia Pasifik dengan menyutradarai teater beauty and the beast. Rangkaian cerita itu bahkan harus bersambung karena bel pengganggu menuju pelajaran fisika berdering keras.

 

Tapi Chanyeol sedikit bersyukur, setidaknya sayatan di hatinya tidak akan bertambah banyak dan mencederai hatinya yang telah berkorban banyak untuk segalanya.

 

****

 

“Yeol, aku mau membeli buku dengan Minhyuk ya?” Namjoo berkata selagi memasukkan pensilnya ke dalam tempat pensil.

 

“Kenapa tidak denganku?” Chanyeol berkata bingung, menghentikan acara memasukan buku ke dalam tas ransel hitamnya.

 

“Hng.. Toko bukunya kan agak jauh. Aku tidak mau membuat kakimu lecet lagi karena berjalan terlalu lama,” Namjoo sudah selesai menarik resleting tasnya. “Lagian kau kan tidak suka toko buku.”

 

Chanyeol terdiam setelah menghela nafas. Bayangan gadis itu sudah menghilang di balik pintu dan mungkin tidak akan kembali lagi untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Hati Chanyeol kemudian menyesali ketidaksukaannya pada toko buku.

 

Drtttt…..

Ponsel Chanyeol bergetar di saku celananya. Pesan dari Namjoo.

 

Yeol, sepertinya earphoneku tertinggal. Tolong ambilkan ya dan bawa pulang. Aku akan mengambilnya nanti malam ^^

 

Chanyeol melempar ponselnya ke papan tulis. Membuat benda kotak yang sering menemaninya itu hancur berkeping-keping. Chanyeol merasakan jiwanya berganti menjadi sosok yang lebih kejam ketika Namjoo mulai menjauh darinya dan terang-terangan membicarakan lelaki lain di hadapannya.

 

Pikiran ‘kejam’ Chanyeol bekerja kembali. Membuatnya tersenyum dan membiarkan angin sore dari luar jendela kelasnya mengacak-ngacak rambutnya.

 

****

 

“Chanyeol sudah berangkat dari tadi. Memangnya Namjoo tidak pergi bersamanya?” ibu Chanyeol dibuat bingung dengan kedatangan Namjoo setelah Chanyeol berizin untuk memakai mobil bekas ayahnya yang diwariskan padanya.

 

“O-oh, tadi kan Chanyeol menyuruhku cepat-cepat tapi aku lama…” Namjoo merangkai kata-kata indah nan gugup untuk menutupi fakta. “Baiklah, aku berangkat. Annyeongi jumuseyo eomonim,” Namjoo membungkukkan badannya dan berjalan cepat menuju halte.

 

Tidak ada Chanyeol.

Chanyeol tidak naik bus lagi katanya. Ibu Chanyeol bilang anak imut itu memakai mobil bekas ayahnya. Itu sangat menyakitkan ketika sahabatmu menyembunyikan sesuatu darimu.

 

Satu bus menuju SMA HanGyo berjalan perlahan, meninggalkan Kim Namjoo yang sedang dirundung kegelisahan. Namjoo mungkin bersalah karena pergi dengan Minhyuk kemarin tanpa mengajak Chanyeol. Tapi benar kan Chanyeol tidak suka dengan toko buku?

 

Seseorang menepuk pundaknya dan membuat bayangan kegelisahannya buyar. Lee Minhyuk, lelaki disebelah kanan rumahnya mengajaknya berangkat bersama.

 

“Mau naik motor denganku? Kau akan terlambat menunggu bus yang selanjutnya,” Minhyuk tersenyum manis. Senyum yang akhir-akhir ini mengusik jiwanya.

 

Namjoo mengangguk. “Baiklah.”

 

****

 

“Yeol?” Namjoo tergugu menatap Park Chanyeol yang sedang bercengkrama dengan gadis tercantik di kelas, Yoo Haneul.

 

Chanyeol menghentikan tawanya kala melihat mata berbinar itu menatapnya.

 

“Joo-ya!” dan hanya itu responnya.

 

Namjoo mendengus. “Kau tidak bawa tas?”

 

Chanyeol tertawa. “Mana mungkin? Ini tasku.” tepat berada di sebelah Haneul.

 

Namjoo kembali mendengus dan menyunggingkan senyum kecil. “Earphone-ku? Kau mengambilnya?”

 

Chanyeol menggeleng. “Mungkin masih ada disana. Cari saja.”

 

Hati Namjoo mencelos. Melihat Chanyeol yang seperti tidak mengenalnya dan membiarkan benda kesayangannya di kolong meja…

 

“Sayang, duduklah.”

 

Giliran hati Chanyeol yang mencelos. Minhyuk membawa tas belangnya dan meletakannya di atas meja disebelah Namjoo sambil mengucapkan panggilan menjijikkan seperti ‘sayang’….

 

“Baiklah,” Namjoo akhirnya duduk di tempatnya, dengan Minhyuk disampingnya.

 

****

 

Sudah seminggu Namjoo dan Minhyuk duduk sebangku, dan selama seminggu itulah kesabaran Chanyeol diuji. Ketika Chanyeol ingin bertanya soal yang sulit pada Namjoo yang didapat adalah Haneul yang mencoret-coret bukunya, memberikan jawaban yang benar dengan penjelasan panjang yang membingungkan.

 

Bukan mau Chanyeol karena menjauhi Namjoo, tapi dirinya sudah terlanjur termakan cemburu buta dan harus merelakan singgasananya dijadikan hak milik Minhyuk yang makin lama makin lengket dengan Namjoo.

 

“Kim Namjoo, kau pikir siapa yang selalu ada disampingmu…” Chanyeol menggumam ketika Haneul menjelaskan mengapa semua limit yang dihitungnya tadi tidak ada yang benar.

 

“Chanyeol!” Haneul menghentak meja, membuat Chanyeol yang sedang asyik memandangi punggung Namjoo dan Minhyuk langsung tersentak.

 

“Eh, iya, aku tahu tapi kenapa harus difaktorkan?” Chanyeol mulai melantur, padahal Haneul sedang menjelaskan tentang limit tak hingga.

 

“Kau mau berhasil, kan? Ayolah, Chanyeol-ah setelah ini kita ke Lotte kan?” Haneul mengerling, membuat jutaan pasang mata di kelas langsung menatapnya iri.

 

Namjoo yang tadi sedang menulis sontak menatap ke belakang, menuju meja Chanyeol dan Haneul. Tatapan Namjoo bertemu dengan Chanyeol yang sedaritadi asyik memerhatikannya, kemudian Chanyeol menarik pandangannya menghadap Haneul.

 

“Ya, kita ke Lotte kemudian ke Amusement Park.”

 

Haneul langsung tersenyum penuh kemenangan kepada kawanannya, membuat Namjoo yang sedang memegang pena langsung meremasnya keras-keras. Chanyeol bahkan tidak pernah seperti itu kepada Namjoo.

 

“Mau jadi modelku? Aku butuh model yang sedang menaiki Merry Go Round di Amusement Park,” kata Minhyuk yang sedang mengoreksi skrip yang diberikan padanya tadi malam.

 

“Hm?” Namjoo langsung memerhatikan Minhyuk. “Model? Apa aku cocok?”

 

“Aku membutuhkan model berambut pendek. Kau cocok.”

 

Namjoo tersenyum, menatap Chanyeol yang kembali terpergok memerhatikannya. “Baiklah, aku mau.”

 

“Nanti ke rumahku dulu, ya. Kita berangkat bersama.”

 

“Haruskah aku berdandan?”

 

Minhyuk meletakkan kertas skripnya ke atas meja, kemudian menggeleng sambil menatap Namjoo—dan sedikit melirik Chanyeol melalui sudut matanya.

 

“Mungkin tidak, kau sudah cantik.”

 

Jutaan kupu-kupu menghambur di atas perut Namjoo. Rasanya sangat menggelitik dan membuat bibirnya tersungging pelan. Namjoo memegangi perutnya, tidak ingin rasa ini hilang begitu saja.

 

****

 

Minhyuk menatap Namjoo dari ujung rambut hingga ujung sepatu, memerhatikan setiap aksesoris yang dipakai gadis itu sampai Namjoo jengah dan ingin menendangnya.

 

“Kupikir kita tidak sedang kencan,” Minhyuk tersenyum kecil. “Tapi tidak apa-apa. Kau cantik, Namjoo-ya.”

 

Jutaan kupu-kupu kembali menyambar perutnya, dan Namjoo tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum lebih lebar. Darahnya mendidih, membuat wajah saljunya mengeluarkan semburat merah yang sangat jelas.

 

“A-ayo berangkat..” kata Minhyuk sambil membuka pintu mobil bagian kanan.

 

Namjoo berjalan hati-hati menuju mobil Minhyuk, merapikan dressnya sebelum duduk di kursinya. Kemudian Minhyuk menutup pintu mobilnya dengan hati-hati. Adegan seperti ini sudah sering Namjoo lihat di televisi, hanya saja kali ini berbeda. Namjoo yang mengalaminya sendiri.

 

“K-kau bisa mengendarai mobil?” tanya Namjoo, memecah keheningan.

 

Minhyuk mengangguk sambil menstarter mobilnya. Kemudian memasukkan gigi dan menyetir pelan keluar komplek. Namjoo menutupi kaki bagian atasnya dengan tas selempang, kali ini ia baru sadar karena salah kostum.

 

“Ada selimut dibelakang. Bisa mengambilnya kan?”

 

“Eh?” Namjoo jadi salah tingkah, ia pikir Minhyuk mulai berpikiran yang aneh-aneh soal pahanya. Chanyeol sering mengatakan pahanya terlalu lebar dan tidak baik untuk diumbar. Menyakitkan mata katanya.

 

“AC-nya lumayan dingin.”

 

Namjoo mengangguk. Kemudian mengambil selimut yang tidak jauh dari jangkauan tangannya dan menutupi bagian bawah tubuhnya.

 

“Sejak kapan kau bisa mengendarai mobil?” tanya Namjoo, mulai berbasa-basi.

 

“Sejak kelas 1 SMP. Ayah dan Ibuku orang sibuk, mereka tidak bisa mengantarkanku ke sekolah. Jadi aku harus belajar mengendarai mobil di usia dini.”

 

Namjoo mengangguk. Walaupun bertetangga, Namjoo sama sekali tidak tahu apa-apa soal Minhyuk yang sudah remaja. Ia hanya ingat tentang anak kecil yang sering melempar batu ke setiap rumah di kompleknya dan kemudian memanggil Namjoo dan Chanyeol untuk mengajaknya bermain.

 

Minhyuk kecil benar-benar anak yang tidak patut ditemani, karena selain membahayakan kaca jendela ia juga membahayakan jiwa karena sering memukuli orang ketika marah. Minhyuk kecil juga sangat jahil, membuat Chanyeol yang masih sangat pendek saat itu sangat takut padanya. Namjoo sekali pernah meludahi Minhyuk karena ia mendorong Chanyeol ke selokan.

 

Semua cerita itu diceritakan oleh Chanyeol, dan Namjoo tidak mau memercayainya. Minhyuk yang ada di dekatnya kini adalah orang yang baik, yang tidak akan menjahili orang lagi dan memukulinya ketika marah.

 

Minhyuk sekarang sangat berbeda.

 

****

 

“Komedi putar dimana ya?” tanya Chanyeol pada Haneul ketika baru menginjakkan kaki ke amusement park.

 

“Entahlah. Kau mau naik itu?”

 

Chanyeol menggeleng. Ia baru ingat niatnya kesini adalah untuk menepati janji dengan Haneul yang telah mengajarinya banyak hal selama 3 hari ini.

 

Haneul adalah tipe gadis seperti gadis lainnya, terutama Namjoo. Haneul dan Namjoo sama-sama suka memakai rok atau celana pendek, kemanapun dan kapanpun. Bedanya Haneul memiliki kaki yang indah, dan Chanyeol tidak terlalu mempermasalahkan itu. Berbeda dari Namjoo, ia harus menutupi kaki gadis itu dengan jaketnya untuk melindungi tangan-tangan jahil menyentuh sahabatnya.

 

“Yeol?” panggilan Haneul membangunkan Chanyeol dari pikirannya sendiri.

 

“Ah!” Chanyeol menabrak tiang.

 

Haneul tertawa kecil, kemudian mengelus kening Chanyeol yang memerah. “Jalan yang benar, baru melamun.”

 

Chanyeol menggaruk belakang kepalanya sambil meringis malu. Orang-orang mulai memerhatikannya. Hancur sudah harga dirinya.

 

Haneul kemudian kembali berjalan, diikuti Chanyeol dibelakangnya yang setia seperti penjaganya. Matanya mulai fokus, takut-takut kalau ada tiang yang ditabraknya lagi atau pasangan Minhyuk-Namjoo yang katanya mau mengambil foto disini.

 

“Sekarang kau menabrakku?” Haneul sempat terhuyung ketika tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan Chanyeol terus berjalan sambil menatap kanan kiri.

 

“M-maaf..” kata Chanyeol, kembali malu untuk yang kedua kalinya.

 

Haneul tersenyum lebar. “Menarik.”

 

“Hm?” Chanyeol tidak terlalu fokus mendengar ucapan Haneul.

 

“Tidak apa-apa,” Haneul kini berjalan disamping Chanyeol, memerhatikan area amusement park yang ramai didatangi wisatawan berpasangan.

 

“Kau mau mencari Namjoo dan Minhyuk?” tanya Haneul setelah hening agak lama.

 

“Eh? Ehm, mungkin..” Chanyeol menelan ludahnya dengan cepat. “Kau mau menaiki wahana yang mana?”

 

“Minhyuk pernah menolakku. Katanya dia tidak tertarik pada gadis sepertiku.”

 

Chanyeol mengernyit. Kenapa Haneul menceritakan pengalaman pribadinya padaku?

 

“Beruntungnya Namjoo disukai 2 orang. Aku sering bertanya-tanya, apa yang membuat orang bisa dicintai lebih dari seorang? Aku sudah menjadi yang terbaik. Nilaiku yang paling tinggi, aku yang paling cantik, aku juga berkelakuan baik, tetapi aku tidak pernah menerima surat cinta di dalam loker.”

 

Chanyeol menghela nafas. “2 orang? Siapa saja?”

 

“Kau dan Minhyuk. Mau berpura-pura tidak tahu?” Haneul tersenyum getir. “tidak usah takut dengan status. Kalau kau menyukainya langsung saja, kenapa harus takut?”

 

Chanyeol terdiam menanggapi saran Haneul. Memang semenjak—entah kapan—Chanyeol memang menganggap Namjoo lebih dari sahabatnya. Chanyeol sering marah-marah tidak jelas jika Namjoo bersama dengan lelaki lain. Chanyeol juga sering menanyakan Namjoo siapa saja yang mengiriminya SMS semalam, dan Chanyeol juga tidak pernah absen mengharapkan Namjoo walaupun hanya di dalam mimpi.

 

“Dia hanya menganggapku teman. Chanyeollie chingu, katanya.”

 

Chanyeol menghela nafas panjang, kemudian menatap Haneul yang sedang menghapus air matanya. Seketika Chanyeol merasa bersalah.

 

“Tidak apa-apa, aku hanya kelilipan,” Haneul kemudian menarik tangan Chanyeol. “Ayo kita main kincir angin!”

 

****

 

TOKTOKTOKTOKTOKTOK

 

Chanyeol mengerang lelah setelah mendengar pintu kamarnya diketuk dengan sangat keras dan tidak sabaran. Kalau begini caranya Chanyeol harus menyiapkan anggaran baru untuk membeli pintu anti ketukan.

 

“Ada apa—“ Chanyeol membuka pintu kamarnya dengan mata setengah terpejam, kemudian terdengar teriakan dari seorang gadis.

 

“AAAA CHANYEOL! PAKAI DULU BAJUMU!!” teriaknya, Kim Namjoo.

 

Chanyeol menatap tubuhnya yang hanya terbalut celana pendek. Kemudian tertawa kecil sembari mengangkat kepala Namjoo yang menunduk.

 

“Memangnya badanku tidak bagus ya?” balas Chanyeol. “Aku berlatih setiap hari, padahal.”

 

Namjoo membuka matanya, kemudian menatap wajah baru bangun tidur Chanyeol yang terlihat sangat cerah. Kemudian gadis itu tersenyum manis sembari menjitak kepala Chanyeol yang hampir 20 senti lebih tinggi darinya.

 

“Guess what?”

 

Chanyeol mengernyit. Sejak kapan Namjoo bisa bahasa inggris? “Apa?”

 

“Tebak dulu!”

 

“Apa yang harus kutebak?”

 

Namjoo tersenyum jahil, kemudian menunjukkan jari-jari di tangan kanannya dan melambai tepat di depan wajah Chanyeol.

 

“Aku jadian dengan Minhyuk!”

 

Deg.

Jantung Chanyeol seketika berhenti berdetak.

 

“Kau pernah bilang aku tidak akan mendapat pacar, ‘kan? Aku mendapatkannya!” Namjoo tersenyum cerah, memandangi jari manisnya yang dihiasi cincin berwarna merah hati. “Kau cepat cari pacar juga ya, biar kita bisa double date!”

 

Nada bicara Namjoo yang sangat ceria itu membuat hati Chanyeol nyeri seketika. Nafasnya tersengal dalam arti semu, bibirnya mengatup erat, dan seketika bagian di dalam tubuh Chanyeol meretak satu persatu.

 

“S-selamat.”

 

Namjoo tersenyum, wajah memerahnya menghiasi bagian depan kamar Chanyeol dengan bunga-bunga cinta. Bunga-bunga cinta itu kemudian mengikuti arah langkah Namjoo yang menjauh, menjauh darinya.

 

Chanyeol mengatur nafasnya sebelum menutup pintu kamarnya dengan rapat. Setelah itu tubuh kekarnya jatuh terduduk di depan pintu, tubuhnya seketika melemas setelah memutar kembali ucapan Namjoo.

 

“Aku jadian dengan Minhyuk.”

 

Runtuh sudah pertahanannya. Melindungi Namjoo dari kejauhan bukan berarti bisa melindungi gadis itu setiap saat. Menggertak seluruh lelaki di dunia untuk menjauhi Namjoo juga tidak berarti gadis itu miliknya.

 

Chanyeol menyesali hidupnya, menyesali takdirnya yang hanya bisa menjadi sebatas teman untuk Namjoo. Ia dan Minhyuk sama-sama menghimpit rumah Namjoo, namun kenapa Namjoo harus memilih yang berada di sisi kanan? Apa bedanya kanan dan kiri? Keduanya sama-sama menghimpitnya.

 

“Baiklah, semoga orang itu bisa membahagiakanmu, Kim Namjoo.”

 

****

 

To be continued…

One thought on “[Chaptered] My Little Friend (Part 2)

  1. Pingback: [Chaptered] My Little Friend (Part 3) | Kumpulan Fanfic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s