[UNIQ’s Series] Night’s Talk (Sungjoo Story)

nighttalk-bbon-cafeposter[poster by Bbon @ CafePoster
Thankyou for the amazing poster!]

Title : Night’s Talk
Genre : Romance, Angst
Length : Ficlet [800+w]
Cast(s) : Kim Sungjoo (UNIQ), Lee Jin (OC)
A/N : Yosh ini adalah yang kedua dari UNIQ’s Series. Moga aja ada yang numpang lewat terus baca gitu (ga nyadar diri ga ada yang mau baca wkwkwk)
Yosh monggo dibaca yang sebelumnya –> Yixuan | Sungjoo

****

Malam itu terlihat lebih mendung dari biasanya, padahal bulan purnama terlihat sangat terang di atas sana. Tidak ada bintang, bahkan setitik pun tidak terlihat. Tidak pula terlihat awan gelap yang melewati sang bulan yang sedang bersinar didepan eksistensi mentari.

 

Hangwon Hospital.

 

Sudah 3 bulan berlalu sejak kejadian di musim dingin, tetapi langkah besar Kim Sungjoo tidak mampu berizin dari tempat ini barang sehari pun. Meskipun tugas kuliah menumpuk, meskipun teman-temannya mengajaknya bermain basket, bahkan ketika ada hujan badai yang besar tempat ini akan selalu dikunjunginya, ya, sejak 3 bulan lalu.

 

Kalau boleh dirinya berkata jujur, Sungjoo tidak mau lagi berurusan dengan rumah sakit ini—bukan, salah satu pasien disini.

 

“Sung-joo-Op-pa!”

 

Tetapi satu hal yang tidak mampu dilakukannya selain menggeret pintu kamar 102 itu adalah menghilangkan senyumannya, senyuman manis bak malaikat ditengah keterpurukannya.

 

“Annyeong!” dan satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah melangkahkan kakinya ke kasur inap sang gadis dan memberikan senyum termanisnya.

 

“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” tanya Sungjoo sambil meletakkan bunga-bunga segar di vas yang ada disamping tempat tidur sang gadis.

 

Gadis itu mengangguk pelan. “A-ku-me-mim-pi-kan-mu.”

 

Sungjoo mendengus seraya tersenyum, kemudian mengambil bangku yang ada dibawah kasur gadisnya dan duduk disampingnya.

 

“Benarkah? Aku juga memimpikanmu.”

 

Gadis itu tersenyum manis. Wajahnya makin pucat, pergerakannya amat sangat melambat, dan cara bicaranya pun menjadi lebih terbata dari hari kemarin.

 

“Te-ma-ni-a-ku?” Sungjoo tidak mampu menambal kesakitan di hatinya kala mendengar suara serak nan terbata Lee Jin, gadis manisnya yang 3 bulan lalu ia bawa ke festival musim dingin dengan keadaan baik.

 

Sungjoo mengangguk. “Tentu saja.”

 

“Sam-pai-a-ku-ti-dur?”

 

Sungjoo memasang wajah berpikir sambil menatapnya, dan Lee Jin tidak mampu menghilangkan senyumnya sembari mencoba meraih pipi sang lelaki yang setia disisinya sampai saat ini.

 

Op-pa!”

 

Sungjoo tertawa kecil, kemudian mengacak rambut gadis itu pelan. “Baiklah, aku akan menemanimu!”

 

Lee Jin menghela nafas panjang, kemudian menatap seseorang yang baru memasuki ruangannya sambil membawa nampan berisi obat dan minumannya. Gadis itu kembali tersenyum, menerima obatnya dengan tangan bergetar dan pergerakan yang melambat.

 

“Waktu hidupnya sudah tidak sepanjang perkiraan. Kemunduran syaraf-syaraf tubuhnya dalam menjalankan aktivitas makin cepat, dan bisa saja besok adalah hari terakhirnya.”

 

Sungjoo memerhatikan bagaimana cara Lee Jin menelan obatnya, dibantu oleh suster yang selalu datang setiap malam. Gadis itu sangat kuat, namun dorongan untuk mengakhiri hubungannya juga sama kuatnya.

 

“A-ku-bi-sa-mi-num-o-bat..” Lee Jin kembali tersenyum, memamerkan kemampuannya yang sebenarnya tidak terlalu spesial bagi orang sehat seperti Sungjoo.

 

“Lee Jin-ku memang hebat,” Sungjoo berdiri, memberikan kecupan singkat pada pucuk kepala sang gadis. Kemudian membantunya berbaring di atas kasur empuknya.

 

Ataksia memang penghancur.

 

Op-pa..”

 

Sungjoo tidak mendengar panggilan manis itu. Suara Lee Jin kadang menghilang, dan frekuensi menghilangnya selalu bertambah setiap harinya.

 

Op-pa…” kali ini Lee Jin mencoba berteriak, namun ia tetap tidak mengeluarkan suara.

 

Sungjoo yang terdiam benar-benar tidak bisa mendengar teriakan pilu Lee Jin, tetapi kemudian ia menyadarinya setelah gadisnya menyentuh pundaknya.

 

“Hm?”

 

Lee Jin tersenyum dibawah pengaruh obatnya. “Sungjoo Oppa..”

 

Sungjoo menelan ludahnya berat, Lee Jin bisa mengucapkan namanya dengan lancar.

 

“Hm?” Sungjoo membalasnya dengan manis, menopang kepalanya dengan kepalan tangannya menatap Lee Jin.

 

“Sung-joo-Op-pa..”

 

“Hm?”

 

Lee Jin akan terus memanggil namanya sepanjang malam, agar ia tidak menyesal ketika keesokan harinya tidak bisa berbicara lagi. Lee Jin sudah mengantisipasi semuanya, namun tidak dengan Sungjoo.

 

“Sungjoo Op-pa.. Sung-joo Oppa… Sung-jo-Op-pa..”

 

Sungjoo tersenyum lebar. “Lee Jinnie.. Lee Jinnie… Lee Jinnie..”

 

Lee Jin menutup matanya sedetik, kemudian membuka matanya lagi melawan rasa kantuk.

 

Op-pa.. na.. sa-rang-ha-ji..?” (Oppa, kau mencintaiku ‘kan?)

 

Sungjoo terdiam mendengar pertanyaan yang sering mengganggu tidurnya akhir-akhir ini. Tetapi tidak lama kemudian ia kembali menjawab pertanyaan Lee Jin, dengan sedikit bumbu keraguan.

 

Danghyunaji.” (tentu saja)

 

Lee Jin kembali menutup matanya, tetapi dengan sekuat tenaga ia buka lagi matanya.

 

Jinchaji?” (benarkah?)

 

Sungjoo mengangguk. “Jinchaji.”

 

Mata Lee Jin sudah menutup, tetapi senyum manisnya masih mengembang. Sungjoo membenarkan posisi selimut gadisnya, menyentuh pipi gadisnya dengan lembut kemudian mengecup pipinya yang memanas.

 

Sa-rang-hae..” bibir Lee Jin mengucap pelan, tetapi mampu didengar Sungjoo.

 

Sungjoo terdiam beberapa saat, memerhatikan wajah lembut gadisnya yang tidak pernah mengeluh barang sedetikpun hanya karena penderitaannya.

 

Saat festival musim dingin 3 bulan lalu Sungjoo baru mengetahui penyakit Lee Jin. Lee Jin selalu jatuh tanpa tersandung atau tersentuh siapapun. Lee Jin juga sering tidak fokus ketika mengambil barang, alhasil saat itu Lee Jin menjatuhkan gelas berisi teh ke mangkuk ramennya.

 

Setelah hari itu Sungjoo merasa perlu untuk menjaga gadis itu, membantunya berjalan dan menemaninya terapi setiap hari. Sungjoo tidak pernah merasa keberatan, sebelum teman-temannya menyarankan untuk menjauhinya. Katanya ia akan sangat terpukul jika gadis itu pergi lebih dulu, ia juga akan sangat menyesal karena memberikan hatinya pada gadis penyakitan.

 

Sa-rang-hae..”

 

Sepatah kata itu kembali terdengar di telinga Sungjoo yang sedang bergumul dengan pikirannya sendiri. Setelah itu Sungjoo memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.

 

Keputusan untuk berada disamping gadis ini sampai akhir.

 

Sungjoo menghapus setitik air mata yang jatuh dari pelupuk mata kanannya, kemudian kembali tersenyum lebar seperti gadis itu setiap hari. Sungjoo menunduk, mengarahkan bibirnya pada telinga Lee Jin yang sedang tertidur pulas dengan nafas teratur.

 

Nado saranghae, Lee Jinnie.”

 

-end-

One thought on “[UNIQ’s Series] Night’s Talk (Sungjoo Story)

  1. Pingback: [UNIQ’s Series] Anorexia (Wenhan’s Story) | Kumpulan Fanfic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s