[Ficlet] Merry Go Round

goround

[Poster by HRa @ Poster Channel
Thankyou for the amazing poster^^]

 

 

Title : Merry Go Round

Genre : Slice of life, friendship, family

Length : Ficlet [700+w]

Author : LaillaMP

Cast(s) : Cho Shinsung (OC), Kim Yongseok & Terada Takuya (Cross Gene)

A/N : Sebenernya ini fic udah pernah di publish di facebook, buat ikutan lomba dari penerbitharu (sayangnya ga menang, ga menarik sih ceritanya) karna gue males ngedit dan poster udah terlanjut mesen, jadilah unnedit fic ini >< oke, douzooo ^^

 

****

Seharusnya hidup itu seperti Merry Go Round, berputar dan berputar, berhenti sejenak untuk mengisi tempat kosongnya, dan kembali berputar.

 

Seharusnya Merry Go Round itu tidak usah ada, karena hanya akan mengungkit kenangan buruk dari seluruh sisi kehidupanku.

 

Merry Go Round itu bukan sesuatu yang patut ada di tempat seindah taman bermain, karena hanya akan menimbulkan korban rasa, ya, sepertiku.

 

“Kau merindukannya, ‘kan?” suara Kim Yongseok mengagetkanku, menyadarkanku dari lamunan tentang Merry Go Round yang tidak bersalah.

 

“Aku? Siapa?” aku menggeleng, mencoba mengusir bayangan siapapun-yang-dimaksud-adikku.

 

“Takuya, Terada Takuya.”

 

Berjuta rasa merasuki dadaku mendengar nama Jepang itu diucapkan. Aku berdeham, mencoba menetralisir rasa aneh yang menjalariku ini.

 

“Jangan sebut namanya lagi. Aku tidak menyukainya.”

 

Yongseok tersenyum kecut. “Kau menolakku hanya untuknya, Nona.”

 

Aku menunduk, membiarkan uap dingin keluar dari kedua lubang hidungku. Aku kembali menatap Yongseok, seorang mahasiswa biasa berumur setahun dibawahku. Yongseok sangat tampan, dengan mata bening, hidung mancung dan bibir tipis. Hanya satu yang kurang, tahi lalat. Yongseok tidak memiliki tahi lalat seperti Takuya. Takuya memiliki satu tahi lalat yang sangat khas di dekat bibirnya, membuatku tidak akan melupakan bentuk wajahnya saat di Dongdaemun atau taman bermain yang luas.

 

Tunggu, aku membicarakan Takuya? Tidak lagi. Aku hanya sedang pusing dengan skripsiku.

 

“Kau adikku, bocah!” kataku sambil tersenyum kecil.

 

“Takuya kakakku, saudara sebayamu.”

 

Biarkan aku menjelaskan, kami berdua adalah anak-anak kurang beruntung yang diambil seorang aktris terkenal untuk dijadikan anak asuh. Tapi hubungan itu sudah berakhir 10 tahun lalu karena satu kejadian. Ini berhubungan dengan Takuya. Satu lagi, Takuya juga salah satu bagian dari keluarga kami.

 

Aku membicarakan Takuya lagi? Kalau begitu aku akan berhenti mulai sekarang.

 

“Aku tidak pernah menganggapnya saudara, sama sekali.”

 

“Aku juga tidak pernah menganggapmu kakakku.”

 

Aku menelan ludah, melihat kesungguhan dari mata Kim Yongseok yang seakan menyuruhku membuka pintu untuknya, membiarkannya masuk menjadi pemilik hatiku selamanya. Tetapi aku tidak bisa, aku masih mengingat Takuya sebagai—

 

“Kau menyukainya, Kak. Kau tidak pernah mengakuinya, tetapi aku tahu.”

 

Aku menyerah, apapun akan kulakukan untuk menebus dosaku padamu, Adik. Aku menghela nafas, kembali menatap Yongseok yang masih berdiri kokoh di depanku.

 

“Apa artinya kau memakai anting emas palsu itu padahal aku telah membelikanmu yang asli? Apa artinya cincin mainan dari Dongdaemun itu yang sering kau pakai di jari manismu? Apa artinya sepatu lusuh yang kau pakai saat ini tanpa berniat menggantinya sama sekali?”

 

Skakmat. Aku benar-benar dikalahkan mahasiswa yang setingkat dibawahku. Aku tidak pernah baik dalam segala hal, termasuk mengelak dari perasaanku.

 

****

 

Entah terkena setan apa aku kembali menaiki Merry Go Round, tanpa siapapun disampingku. Akan banyak orang yang mengernyit heran melihat wanita 27 tahun ini menaiki wahana romantis ala Han Jungsuh dan Cha Songjoo dalam drama ‘Stairway to the Heaven’. Aku memilih kuda poni berwarna putih cokelat untuk kunaiki, dan dalam hitungan detik aku sudah terayun oleh buaian komidi putar ini.

 

Segala kenangan indah langsung merasuki pikiranku, aku memejamkan mata, menikmati embusan udara malam di atas tumpuan kuda poni Merry Go Round.

 

“Aku hanya punya satu tiket, bagaimana caranya kita bisa naik berdua?” tanya Takuya pada saat itu. Kami masih berstatus pelajar tingkat akhir yang baru memiliki gaji pertama dan berniat menghabiskannya di taman ini.

 

“Kenapa kita tidak naik dalam satu kuda saja? Itu tidak rugi, ‘kan?” aku mengerling ke arahnya, menarik tangannya dan mengelabuhi petugas untuk naik komidi putar berdua.

 

Kenangan lain pun bermunculan. Ketika Takuya mengajakku ke Dongdaemun, membeli cincin yang harganya jauh dibawah standar—kami membelinya di pinggiran Dongdaemun sebenarnya, jadi bisa lebih murah.

 

“Bagaimana jika aku membelikanmu ini?” tanya Takuya saat itu sambil menunjuk sebuah kalung berlian palsu.

 

Aku mengedikkan bahu. “Terserah.”

 

Setelah melakukan penawaran dengan si penjual, akhirnya Takuya kalah. Uangnya hanya cukup untuk membeli sebuah cincin dan sepasang anting yang tentunya tidak sebanding dengan harga kalung itu.

 

“Jangan hilang. Ini mahal!” Takuya berujar dingin saat itu, dengan nada canggung dan langsung berjalan cepat.

 

Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku di tiang kuda poni yang kunaiki. Sialnya saat itu komidi putar tiba-tiba berhenti, membuat kepalaku terantuk dengan mulus dan menjadi akhir dari mimpi indahku.

 

“Bodoh sekali. Wanita 27 tahun menaiki komidi putar?”

 

Aku menoleh ke asal suara, bersiap melemparkan heels indahku ke wajahnya. Memangnya hanya anak kecil saja yang boleh menaiki ini?!

 

Mataku mengedip berkali-kali, telingaku tuli beberapa saat, bibirku kelu untuk mengucapkan dua suku nama yang sangat aku kenal.

 

“Lama tidak bertemu, Cho Shinsung.”

 

Aku benar-benar melemparkan heels-ku, menurunkan orang itu paksa dari kuda poni sebelahku dan memukulinya berkali-kali.

 

Merry Go Round memang sudah seharusnya ada. Merry Go Round memang berputar, mengisi, dan berputar lagi.

 

Merry Go Round memang seharusnya ada. Merry Go Round tidak perlu dihapus dari taman bermain. Karena Merry Go Round mempertemukanku lagi dengan seseorang, ehm, spesial.

 

“Terada… Takuya.”

 

Seperti benang merah, kami sama-sama terikat oleh janji di atas wahana putar ini. Janji yang sama-sama kami ucapkan tanpa sengaja.

 

Tunggu aku, disini.

 

.fin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s