Time to Love (Part 11)

time to love

Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”

Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg, little angst *nambah lagi

Length : chaptered (11/?)

Rate : PG 15 (?)

Author : LaillaMP

Cast :

  • park geonil *Cho Shin Sung*
  • kim sungje *Cho Shin Sung*
  • other Cho Shin Sung members~

Summary : Sungje merasa ia sudah menyukai Geonil. Tapi kadang ia bimbang, sebenarnya siapa yang ia cintai? Jihyuk atau Geonil? Dan siapakah yang bisa menghapus kutukan itu dan hidup bersamanya? *summary berganti

Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^

A/N : huwaaaa setelah 2-3 tahun fic ini terkubur di dalam ingatan akhirnya bisa lanjut juga T^T (nangis darah) (abaikan)

Gatau sih kenapa jadi pengen lanjutin fic ini mungkin karena kangen sama si maincast yang lagi wamil (huhuhuuuu) dan saya harap fic ini bisa selesai sebelum part 15 (doain yak semoga bukan isapan gulali belaka)

Okay maaf kalo ceritanya makin ngaco, dan maaf buat sungje karna udah berapa tahun ngandung anaknya >,< ohiya, cast bertambah loh. Coba tebak xD

 

Read the previous ==> PrologPart 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Douzo ^^

 

****

 

<< Previous

 

DEG

“Uang kita kan sudah habis. Uangku…”

Raut wajah Sungje berubah. Tidak mungkin ia bilang kan kalau ini uangnya—maksudnya uang ayahnya. Bisa-bisa Geonil meninggalkannya karena mengingkari janji.

“Darimana Sungje sayang????” tanya Geonil lembut.

Sungje mendengus kesal. Ia mendapatkan ide untuk menjawabnya dan memberikan ketenangan pada hati Geonil. “Aku sering menabung sejak kecil! Makanya aku punya simpanan. Aku menyimpannya dan sekarang masih ada. Jadi, ini uangku sendiri!”

“Sudah kubilang—“

“Memangnya kenapa sih kalau aku membantumu? Sepertinya kau selalu menghalangiku untuk membalas budiku padamu. Maumu apa?!!!!”

Geonil kalut. Sifat sensitif Sungje kumat. Padahal ini momen yang sangat berharga baginya.

Geonil baru sadar kalau Sungje adalah orang kaya. Orang yang sama sekali tidak pernah merasakan penderitaan di rumah jelek, kasur reyot, sofa tidak empuk, dan Geonil tidak mau memberikan itu semua untuk Sungje! Andwae! Maldo andwae!

Geonil pun bertekad untuk mengambil haknya. 95% dari setengah trilyun, dan itu sangat besar. Tapi ada satu syarat untuk mengambil haknya lagi. Syaratnya itu sangat berat.

‘Eotokhae?’ tanya Geonil dalam hati. Ia menatap Sungje dengan tatapan yang tidak biasa. Geonil harus cepat-cepat mengambil keputusan!

 

>> Part 11 <<

 

From : Park Geonil

 

Good morning baby~ have a nice day. Ireona, aku akan memberimu morning kiss~

 

Sungje mengerucutkan bibirnya kesal. Ia sudah bangun dari satu jam lalu dan kembali tidak mendapati Geonil di sebelahnya. Kemudian ponselnya bergetar lagi, mendapat kiriman MMS.

Sungje menutup mulutnya untuk menahan tawa yang akan keluar. Ia sedang di meja makan ketika melihat kiriman MMS konyol itu.

Terlihat foto bibir Geonil yang terlihat sangat dekat pada lensa kamera dan bertuliskan “Morning kiss back?” dengan emoticon berlebihan yang membuat Sungje ingin membanting Geonil sekarang juga.

Orangtua dan neneknya menatap Sungje bingung. Mereka menghentikan acara makannya dan sibuk menebak apa yang terjadi pada anak/cucu kesayangannya itu.

“Kau kenapa?” ayahnya yang pertama sadar dari lamunan dan bertanya.

Sungje langsung mematikan ponselnya dan melanjutkan makan. “Animnida,” katanya sambil terus mengingat bibir Geonil yang ada di kamera.

Satu keluarga itu kembali melanjutkan makannya, kemudian kembali ke rutinitas hariannya. Nenek membaca majalah gosip, Ibu berbelanja bulanan ke pasar, dan Ayah bekerja di kantor seperti biasa.

 

***

 

“Dokter?”

Geonil menatap wanita yang memasuki ruangannya dengan santai. “Ya?”

“Pasien yang kemarin mengalami kejang sekarang muntah-muntah. Dia juga tidak merespon suntikan apapun,“ Geonil langsung melesat pergi sambil membawa jas putihnya. Suster itu terus menjelaskan kondisi sang pasien sambil berlari.

“Tadi malam diberi obat apa?” tanya Geonil sambil mengalungkan stetoskop di lehernya.

“Tadi malam hanya diberi suntikan penenang. Kemudian paginya begitu.”

Tanpa diketahui keluarga Sungje sebelumnya, Geonil adalah pewaris dari Rumah Sakit Hwan yang ada di Seoul. Sejak ayahnya meninggal Rumah Sakit itu dititipkan kepada anggota keluarganya yang lain. Awalnya Geonil baik-baik saja karena ada yang mengurus tempat yang diwariskan ayahnya. Tetapi bibinya mengatakan sebenarnya telah terjadi perebutan warisan yang seharusnya miliknya, dan Geonil mau tidak mau harus merebutnya kembali dari tangan mereka. Akhirnya setelah melalui perdebatan hati yang panjang dan konsultasi pada bibinya yang juga pengurus Rumah Sakit itu, Geonil datang ke Rumah Sakit sebagai dokter dan merebut gelar ‘pewaris’ dari anggota keluarga lainnya.

Dokter-dokter disana awalnya tidak percaya dengan kehadiran Geonil dan menganggap Geonil belum pantas menjadi Dokter karena ia belum menempuh pendidikan formal kedokteran—bahkan Geonil belum menyelesaikan pendidikan SMA-nya. Tapi berkat kemampuan dirinya yang dari SMP telah ikut pamannya yang juga dokter akhirnya ia bisa diterima sebagai ‘dokter magang’.

Disini Geonil juga kembali melanjutkan pendidikan SMA-nya yang sempat terputus untuk kemudian dikirim ke sekolah kedokteran yang ada di luar negeri. Sekolahnya tepat di belakang Rumah Sakit ini, membuat Geonil bebas untuk masuk di jam berapapun karena tinggal berlari saja dari sini.

“Kau tidak sekolah?” tanya Park Jaebum, salah satu pamannya yang telah bekerja di Rumah Sakit ini sekitar 20 tahunan.

“Sebentar lagi aku berangkat,” Geonil memasukkan kedua tangannya ke saku jas dokternya. “hari ini jadwal kemoterapi Yunhyo, si gadis kecil 8 tahun itu. Pastikan ia tidak menangis lagi. Hari ini Kim Haraboji juga terapi pendengaran. Oh ya, pasien radang usus di ruangan 702 kalau sudah siap bisa dilakukan operasi. Selanjutnya kuserahkan pada Paman. Hari ini aku mungkin hanya akan tugas malam.”

Rutinitas Park Geonil sangat padat setelah keluar menjadi ‘pewaris’. Ia masuk ke ruangannya dan mengambil beberapa buku pelajaran untuk dimasukannya ke dalam tas. Setelah itu ia mengganti baju kedokterannya untuk diganti dengan seragam sekolahnya yang baru.

Sudah 3 bulan ini ia jauh dari Sungje dan hanya pulang sebulan sekali. Rasanya seperti ingin mati karena merindukan istri cantiknya yang sedang hamil tua itu. Bulan depan rencananya Geonil akan mengontrol Sungje habis-habisan agar anaknya bisa lahir dengan baik dan sehat. Geonil sudah membayangkan indahnya menggendong anak yang lahir dari rahim Sungje sendiri.

Tapi tetap saja itu bukan anaknya. Geonil menelan ludah sendiri membayangkan yang keluar dari perut Sungje adalah anak yang mirip Jihyuk, bukan mirip dengannya. Semoga saja anak itu lebih mirip Sungje agar tidak ada curiga apapun dari pihak keluarga.

“Dokter Song akan datang sore ini. Pastikan kau mau berbagi ruangan dengannya. Ara?” perkataan pamannya itu seketika menghentikan langkahnya. Setelah menyadari ia tertinggal jauh barulah ia mengejar sang paman yang akan memasuki lift.

“Mwo? Dokter Song? Song Jihyuk?” Geonil menelan ludahnya dengan berat setelah mengucapkan nama itu.

“Iya, sepupumu itu. Dia menjadi spesialis ibu dan anak,” lift tertutup. Park Jaebum menatap kesal pada Geonil yang bertanya disaat sekritis itu.

“Apa dia….. bertanggungjawab pada ibu hamil juga?” tanya Geonil lagi, ia benar-benar kehilangan nafsu untuk menjalani semua rencana masa depannya.

“Tentu saja,” lift di sebelah terbuka. Park Jaebum masuk ke dalamnya dan meninggalkan Geonil yang mematung di depan lift.

 

***

 

Ponselnya berdering nyaring, membuat orang-orang yang sedang mengantri memasuki pesawat Korean Airlines itu menatapnya. Lelaki itu membungkukkan badan, meminta maaf dengan campuran bahasa inggris dan korea.

“Aku baru akan berangkat,” lelaki itu membenarkan letak tiket dan paspornya agar tidak jatuh, sambil menatap keadaan sekitar.

“jam berapa kira-kira kau sampai?” suara berat seorang lelaki di telepon terdengar tegas dan bahagia, lelaki itu tersenyum lebar menjawabnya.

“Mungkin sore atau malam….. Mwo? Pesta? Hahaha memangnya aku siapa diberi pesta seperti itu….. oh baiklah, aku akan sampai dengan selamat…….. Ne…” hubungan telepon itu akhirnya selesai tepat ketika lelaki itu berada di depan petugas pemeriksa. Lelaki itu memberikan seluruh dokumen terbangnya untuk kemudian dipersilakan masuk ke dalam pesawat.

Sudah sekitar satu tahun lelaki itu meninggalkan tempat lahirnya setelah liburan semester akhir lalu. Ia telah resmi menjadi dokter spesialis ibu dan anak. Orangtuanya sangat bangga dan menyuruhnya pulang cepat-cepat untuk bekerja di Rumah Sakit Hwan.

Pulang ke Korea berarti menghadapi hari yang lebih sulit, juga bertemu dengan pujaan hatinya. Kim Sungje, apa kabar dengannya?

“Mau pesan minuman atau makanan, Tuan?” tanya seorang wanita cantik sambil membawa buku catatan kecil.

Lelaki itu berpikir sejenak. “Aku ingin nasi goreng dan orange juice.”

“Ada lagi?”

Setelah menyelesaikan transaksi udaranya lelaki itu menatap keluar. Hanya terlihat awan berarak yang membuat pandangannya hanya berwarna putih, persis pakaiannya nanti.

Lelaki itu menghela nafas. Bayang-bayang lelaki cantik yang ia tinggalkan tiba-tiba setahun lalu merebak di pikirannya. Sudah sekitar 2 tahun ini ia dan Kim Sungje menjalin hubungan jarak jauh.

Lelaki itu menatap layar hitam ponselnya, yang kalau menyala langsung menampilkan wajahnya bersama lelaki cantik itu. Segala kenangannya saat terakhir mengunjungi tempat lahirnya kini berkecamuk di pikirannya. Kenangan saat ia mencari seseorang yang menjemputnya dan mendapat pelukan pertama darinya. Kemudian beralih pada hari-harinya yang dipenuhi dengan canda garing Sungje yang menceritakan kisah di sekolah bak dongeng cinderella di malam hari, kemudian sampailah pada titik paling membahagiakan dalam hidupnya, menyentuhnya. Jihyuk tidak habis pikir di hari terakhirnya ia masih bisa menyentuh bahkan bernafas karena jauh darinya.

“Kim Sungje, tunggu aku..”

 

****

 

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.”

Jihyuk menghela nafas panjang, tidak tahu harus melakukan apa setelah mendapat jawaban tidak mengenakkan dari Nona Operator disana. Kenapa Sungje mengganti nomornya tiba-tiba? Ah ya, waktu 2 tahun itu tidak sebentar.

“Tuan Song?” seorang lelaki berjas hitam memanggilnya, menunjukkan kartu identitasnya dan mengatakan ia suruhan Dokter Song untuk menjemput putra kesayangannya.

Jihyuk mengangguk, mengikuti langkah kecil lelaki berjas itu dan memasuki sedan putih milik sang ayah.

“Chogiyo, kau tahu Direktur Kim Jungchul dari KJ Company?”

Si pria berjas itu mengangguk dari balik kemudinya. “Tentu saja. Ada yang bisa saya bantu?”

Jihyuk mengangguk. “Kau tahu rumahnya? Apa dia sudah pindah rumah?”

Pria berjas itu terdiam, memusatkan perhatian pada jalan tetapi juga berusaha mengingat apapun tentang Direktur dari KJ Company itu.

“Maaf Tuan, aku tidak tahu.”

Harapan Jihyuk seketika memudar. Tapi otak emasnya kembali bekerja. Saat ini Geonil kan masih sekolah……. PASTI GEONIL TAHU!

Senyum mengembang di wajah lelaki itu. Park Geonil, sepupunya itu akan ia dekati untuk dimintai keterangan. Setahunya, Geonil menyukai Sungje juga.

 

****

 

Geonil tidak memerhatikan pelajaran yang diberikan Guru Jun. Ia sudah mempelajari tentang penyakit genetika dan segala macamnya semenjak kecil, dan Geonil masih mengingatnya dengan jelas. Kini ia hanya memusatkan pendengarannya, siap-siap jika Guru Jun memergokinya sedang melamun dan memberikan pertanyaan seputar pelajaran hari ini.

Seorang guru cantik mendatangi kelas dan membuat Guru Jun harus meninggalkan podiumnya sebentar. Geonil bernafas lega, kemudian meletakkan kepalanya ke atas meja, lelah.

“Park Geonil!”

Geonil baru saja memejamkan mata ketika nama depannya dipanggil. Geonil yang merasa reputasinya akan hancur langsung mendongak, menatap guru vintage didepannya yang memberinya kode untuk membereskan barang-barangnya.

“Pamanmu menyuruhmu ke Rumah Sakit sekarang. Ada hal yang penting katanya,” jelas Guru Jun.

Geonil mengangguk, segera membereskan barang-barangnya dan langsung cabut ke rumah sakit yang tepat berada dibelakang gedung sekolahnya.

 

 

Rumah sakit sudah dipenuhi banyak orang berjas putih. Banyak diantaranya adalah yang tidak pernah Geonil lihat. Apakah sedang ada kecelakaan besar sehingga Rumah Sakit Hwan kekurangan tim medis atau..

Terlalu banyak yang dipikirkannya sehingga ia tidak sadar kalau Paman Jaebum telah menyeretnya ke dalam ruangannya, menyuruhnya untuk berganti dengan baju dokter resmi dan kembali menariknya ke bawah.

“Apa ada kecelakaan besar?” tanya Geonil yang masih belum memahami situasi. Padahal sudah jelas ada spanduk bertuliskan ‘Selamat Datang’ untuk seseorang.

“Kau akan tahu nanti,” balas pamannya acuh tak acuh.

Geonil mengedikkan bahu, mengikuti langkah sang paman untuk dapat melihat ada apa sebenarnya di hari yang indah ini.

Geonil terus melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 2 lewat sedikit. Jarum jam itu seakan tidak mau bergerak lebih cepat dan menunda waktunya yang sangat berharga. Beberapa kali Geonil menguap, dan setelah itu perhatian beberapa dokter mengarah padanya. Geonil yang salah tingkah langsung menundukkan kepalanya meminta maaf.

Ketika jarum panjang mengarah ke angka 1, Geonil kembali menguap lebar. Ia belum tidur lagi setelah tiba-tiba pasien gawat darurat menunjukkan tanda-tanda efek samping kemoterapi. Kali ini kegiatan menguapnya harus terhenti di pertengahan, membuat matanya berair dan bibirnya tidak mampu mengatup lagi.

“Annyeonghaseyo..”

Setelah menata kembali kesadarannya, Park Geonil akhirnya menutup mulutnya, memfokuskan pandangan pada pintu masuk Rumah Sakit dan tiba-tiba nafasnya tercekat. Ada 5 orang yang masuk. Mereka semua adalah dokter yang baru, dan salah satunya adalah…

“Song Jihyuk imnida.”

Dokter Song akan datang sore ini. Pastikan kau mau berbagi ruangan dengannya, ara? Ucapan Paman Jaebum menghentikan dunia Geonil. Ia akan hidup seruangan dengan orang yang dibencinya selama ini.

“Ya, Park Geonil!” Dokter Song Jihyuk tiba-tiba mendatanginya, menepuk pundaknya dan membuat jiwa terpecah Geonil kembali menjadi satu kesatuan dalam kesadaran. Song Jihyuk langsung memeluk sepupunya sembari menepuk-nepuk punggungnya, kemudian mengucapkan salam dalam bahasa keluarga.

“Kau semakin tumbuh, Park Geonil.”

Perut Geonil mual melihat sepupunya yang telah menjadi dokter sungguhan. Di nametag-nya tertulis nama Song Jihyuk dengan jabatannya sebagai Dokter Spesialis Ibu dan Anak. Tiba-tiba bayangan Sungje yang sedang hamil di rumah mertuanya menghampiri pikirannya, membuat Geonil menutup mulutnya dengan reflek.

“Kenapa?” tanya Jihyuk yang merasa ada ketidakberesan dalam diri Geonil.

Geonil menggeleng, kemudian tersenyum. “Selamat datang, sepupuku!” sambil memeluk lelaki itu dan menepuk-nepuk punggungnya. Pelukan itu kembali disambut Jihyuk, dan seketika lobby Rumah Sakit Hwan dipenuhi tepuk tangan meriah.

 

****

 

Sungje uring-uringan sembari menusuk potongan mangga ke garpunya. Ia berjalan mondar-mandir sembari menjilat mangga asam di tangan kanannya, sementara matanya berpusat pada ponsel di tangan kirinya.

“Beri kabar, kek!” gumam Sungje sembari memasukan mangga asam itu ke dalam mulutnya.

Ibu dan Neneknya yang sedang menunggu tayangan kesukaan mereka akhirnya jengah dengan sikap Sungje yang seperti kurang perhatian.

“Lihatlah ini masih jam berapa, jangan seperti istri kurang kasih sayang begitu deh!” Nenek benar-benar jengah dan tanpa sadar memasukkan mangga ke dalam mulutnya.

“Aku memang kurang kasih sayang! Masa aku yang sedang hamil tua seperti ini ditinggal suamiku. Apa namanya kalau kurang kasih sayang?!” Sungje kembali menusuk mangga asamnya dengan geram. “Nek? Nenek kenapa?”

Wajah Nenek terlihat pucat dengan penuh kerutan disekitar pipinya. Matanya menutup dan mengeluarkan air mata sedikit demi sedikit. Ibu dan Sungje buru-buru mencari telepon untuk memanggil 119.

“Asam…” kata Nenek kemudian. “Asam sekali.”

Setelah menelan mangga asamnya, Nenek akhirnya menormalkan kembali raut wajahnya. Ibu sudah memutuskan sambungan dengan 119 sebelum telepon itu diangkat.

“Aku tidak percaya aku pernah memakan mangga seasam ini saat hamil,” gerutu Nenek geram, kemudian menjauhkan piring berisi mangga asam itu.

Sungje tertawa garing, kemudian disambut ibu yang tertawa keras. Setelah itu Nenek yang baru menyadari situasi ikutan tertawa, membuat tawa menggelegar di ruangan keluarga itu.

Ponsel Sungje tiba-tiba berdering, membuat tawa menggelegar itu terhenti tiba-tiba. Senyum Sungje mengembang setelah melihat siapa yang menelpon, dan raut muka berbunga langsung menghiasi ruang keluarga itu.

“Halo,” sapa Sungje manis pada si penelpon.

Si penelpon terdiam beberapa saat, kemudian menanyakan keadaan Sungje.

“Aku tidak apa-apa.”

“Nada bicaramu menyeramkan. Kau benar-benar tidak apa-apa?”

Menjengkelkan. Pikir Sungje pada si penelpon yang daritadi ditunggunya. “Kau kenapa sih?! Aku hanya mencoba manis, kok.”

Orang diseberang tertawa. “Kau tidak menerima telepon dari orang lain kan?”

Sungje mengernyit, kenapa nada bicara Geonil seperti sedang mengintrogasi? Apa Geonil mempunyai selingkuhan lainnya dan takut selingkuhannya itu akan berbicara pada Sungje?

“Sayang…”

“Aku hanya menerima telpon darimu, kok. Memangnya siapa yang kau sebut ‘orang lain’?”

Geonil diseberang menghela nafas, kemudian mengatakan ‘bukan siapa-siapa’ dengan nafas lega. Sebenarnya ada apa?!

“Kau punya selingkuhan?”

“Ye?”

Kedua wanita di depan TV ikut-ikutan menatap Sungje dengan wajah mengernyit.

“Kau seperti takut sekali aku menerima telpon dari orang lain. Kau punya selingkuhan? Selingkuhanmu tahu aku istrimu? Lalu kau ingin sok melindungiku?! Jangan bercanda, ini bukan sinetron!”

“Hey… Hey…. jangan marah dulu. Biar kujelaskan—“

“Tidak perlu! Tidak tahu apa rasanya menunggu telepon seharian? Kau sibuk? Ada badai di rumah sakit? Rumah sakit kebanjiran? Atau atap rumah sakit menghilang sehingga kau harus mencarinya? Jangan berharap menelponku lagi kalau belum menjelaskan apa-apa pada selingkuhanmu!” Sungje mengatur nafasnya yang terengah karena berbicara cepat. Kemudian ia melihat sambungan telepon belum ditutup oleh Geonil. “—kututup!”

Sungje melempar ponselnya asal, membuat si ponsel langsung menyala dan kemudian mati lagi. Ibu dan Nenek Sungje memilih diam, karena watak anak itu kalau sudah marah akan sangat membahayakan jiwa.

“Dasar! Jadi selama ini punya selingkuhan..” Sungje tiba-tiba menangis, mengambil mangga asam dengan tangannya dan mengunyahnya dengan kesal. “Lalu aku dianggap apa?”

Ibu dan Nenek menggeleng keras. Ternyata itu adalah dialog drama murahan yang tidak sengaja ditonton mereka bertiga tadi malam.

 

****

 

“Kau sudah punya pacar?” tanya Jihyuk ketika memasuki ruangan.

Geonil baru ingat ia seruangan dengan Jihyuk sekarang.

“Hm… Mungkin,” balas Geonil tidak yakin. Ia takut Jihyuk akan menanyakan siapa pacarnya dan Geonil harus menceritakan semuanya pada sang sepupu.

“Baguslah. Kukira kau masih belum bisa menerima cinta yang lain setelah ditolak Sungje,” kata Jihyuk sembari menggantungkan jasnya di gantungan besi yang telah disediakan.

Jantung Geonil berdebar lebih keras. Jihyuk masih mengingat Sungje dengan jelas.

“Hm.. Haha,” Geonil akhirnya tertawa canggung dengan tatapan kosong.

“Oh ya, kau tahu kabar Sungje? Aku mencoba menelponnya tadi, tetapi tidak diangkat. Apa dia ganti nomor?”

Geonil menelan ludahnya dengan berat. Kartu sim Sungje rusak beberapa bulan lalu dan harus diganti dengan yang baru. Sungje ingin mengganti nomornya, dan waktu itu Geonil sempat menentangnya karena akan menyulitkan Sungje yang perlu waktu lama untuk menghafal.

“A-aku tidak tahu..” balas Geonil. “Aku sudah lama tidak menghubunginya.”

Jihyuk menghela nafas panjang. “Ah, kupikir kau menjaganya untukku.”

Bagian dalam tubuh Geonil seperti terbakar, sangat panas dan harus dipadamkan dengan sesuatu yang dingin.

“Kenapa tidak kau yang menjaganya sendiri?” ups… Geonil terbawa emosi.

Jihyuk tersenyum lemah, kemudian duduk di kursi depan Geonil. “Aku berjanji akan datang setelah menyelesaikan kuliahku. Tetapi karena aku harus mengejar cum claude aku lupa menghubunginya.”

Hidung Geonil kembang kempis mendengar tuturan sang sepupu. Sepertinya ia harus mencari rumah sakit lain yang mempunyai fasilitas selengkap Rumah Sakit Hwan untuk memeriksa kandungan Sungje.

“Baiklah, aku akan mencarinya nanti,” kata Jihyuk.

“Jangan!” balas Geonil tanpa sadar. “Eh, maksudku….. mungkin dia sudah mempunyai orang lain? Jangan gegabah seperti itu, dia bisa goyah kalau kau kembali datang.”

Jihyuk mengernyit. “Kau tidak bertemunya kan?”

“H..Ha?”

“Kau tidak bertemunya bersama orang lain kan? Katanya kau tidak tahu..”

“Karena aku tidak tahu makanya aku mengatakan ini. Sungje Hyung kan orang yang labil. Kau tahu, dia tidak bisa menerimaku karenamu. Padahal kan kau dan dia tidak berpacaran. Jadi… sepertinya tidak perlu dicari.”

Jihyuk makin mengernyit, kemudian tertawa keras. “Park Geonil, kau makin lucu! Apa karena kau ditolak dia makanya kau kemari?”

Geonil langsung mengambil air dingin yang ada di dispenser sebelahnya, kemudian meminum setengah gelas dalam satu teguk.

“Aku tetap akan mencarinya. Kau mau membantu?”

Membantu Jihyuk mencari Sungje sama saja seperti membantu anjing menggali tanah untuk menemukan tulangnya, hanya mempermudah pihak satunya. Lalu setelah menemukan tulang itu, adakah jaminan bahwa tulang itu boleh dimilikinya? Tidak.

Membantu Jihyuk mencari Sungje hanya akan mempermudah Jihyuk dalam memperbaiki hubungannya. Jihyuk pasti akan sangat senang ketika melihat anak yang mirip dengannya ada di kandungan Sungje, dan setelah itu mereka akan hidup bahagia selamanya.

Memangnya siapa yang selama ini ada disamping Sungje ketika lelaki itu kesulitan? Siapa yang menerima hukuman cambuk dari ayah Sungje karena menghamili anaknya? Siapa yang rela pergi malam-malam ke supermarket untuk menemukan daging babi kualitas tinggi untuk dibuat steak?

“Baiklah, akan kubantu.” Kubantu kau menjauh dari Sungje-ku.

Jihyuk tersenyum, menghela nafas lega melihat raut serius dari nada bicara Geonil. Setelah keduanya berjabat tangan menyetujui keputusan, seorang suster memanggil kedua dokter muda itu untuk memeriksa pasien di ruang gawat darurat.

Pekerjaan kini lebih penting daripada keegoisannya sendiri.

 

***

 

To be continued..

2 thoughts on “Time to Love (Part 11)

  1. Ananda mitra suniasari

    Huuuu ff seru sekaliiiiii………waaaah masalahnya makin berat……… Ko ngga di lanjut sih…….. Lanjut dong…….penasaran nih.

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      ngga berat kok makin nyenengin masalahnya /plak/ iya sementara nunggu wangsit dulu buat namatin ini fic huhuhu…. makasih ya udah baca dan komentar ^^

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s