[UNIQ’s Series] Anorexia (Wenhan’s Story)

anorexia-copy

[Lovely poster by Rizeka
Thank you for the poster dekkk ^^]

Title : Anorexia
Genre : College-life, Friendship, Romance
Length : Ficlet [800+w]
Cast(s) : Li Wenhan (UNIQ), Cho Yoojin (OC)
A/N : Terinspirasi dari wawancara UNIQ di Sohu (kalo bener) yang disitu pewawancara nanya kenapa abs wenhan hibernasi terus tiap musim dingin dan cara dia latihan buat bentuk absnya lagi gitu. Katanya latihan itu kedua, makan yang utama. Jadilah kepikir buat bikin fic macem gini xD

Jujur aja gue baper sama ff ini karena something wrong sama otak, so semoga aja ada rasanya walaupun cuma seiprit/?

Yosh monggo dibaca yang sebelumnya –> Yixuan | Sungjoo | Wenhan

****

 

Latihan itu nomor dua, makan yang utama.

 

Wenhan kembali mengernyitkan dahi melihat porsi makan Yoojin yang jauh dari kata layak. Wenhan melirik jam tangannya, pukul 3 tepat.

 

“Harus ya… memakan daun liar?” tanya Wenhan untuk yang kesekian kalinya.

 

“Ini salad! Sampai kapan kau akan menyebut ini daun liar?!” Yoojin menjawab garang, kemudian memasukkan daun-daun liar—yang disebut salad oleh Yoojin—dengan anggun ke mulutnya.

 

Sampai sekarang Wenhan tidak mengerti dengan cara makan Yoojin, teman sefakultasnya. Yoojin bilang ia harus makan pada pukul 3, atau tidak sama sekali. Wenhan harus merelakan kelas akting favoritnya ketika pukul 3 datang demi menemani Yoojin memakan daun-daun liar bermayonaise. Setelah itu Yoojin meminum pil, entah pil apa namanya—Wenhan pelupa, kalau mau tahu—dan berakhir di kamar mandi dengan wajah pucat.

 

Wenhan tahu impian Yoojin adalah menjadi model yang go internasional. Seluruh cara menjadi model sudah ditempuhnya, salah satunya yang disebut diet. Tetapi diet Yoojin terkesan ekstrim walaupun tubuh setinggi 174 senti itu sudah terlampau kering untuk disebut ideal. Wajah Yoojin juga sangat cantik dengan rambut pendek model bob yang diwarnai cokelat muda. Semua yang ada dalam diri Yoojin sangatlah Wenhan senangi, tetapi tidak dengan kebiasaan memakan daun liar itu!

 

“Makan ini,” Wenhan nampan berisi nasi dan sup ikan pada Yoojin. Seketika wajah gadis itu kembali berubah garang.

 

“Aku tidak boleh makan ini!”

 

“Kenapa?” Wenhan menyendok nasi di dalam nampan itu dan menyodorkannya di depan mulut Yoojin. “Tinggal telan saja apa susahnya.”

 

Yoojin menggeleng sambil mendorong moncong sendok di depan mulutnya pelan. “Sendok itu… bekasmu.”

 

Sebenarnya, bukan itu alasannya.

 

Wenhan kemudian mendengus, meletakkan kembali sendok yang dipegangnya dan segera berlari untuk mendapatkan sendok yang baru. Yoojin sampai terharu melihat perjuangan Wenhan yang harus dihadiahi pukulan gratis di kepalanya karena meminta sendok baru.

 

“Nih, tidak bekasku,” kata Wenhan sambil menyodorkan sendok di depan mata Yoojin. “Mau kusuapi?”

 

Yoojin menggeleng. “Tidak perlu. Aku sudah selesai makan.”

 

Yoojin merogoh tas jinjingnya, mencari botol berwarna putih yang menyimpan obat laksatif untuk membersihkan ususnya dari serat-serat makanan yang membuatnya gemuk. Kemudian mengeluarkan 2 buah pil untuk diminumnya.

 

Yoojin menelan ludahnya sebentar, kemudian menarik nafasnya untuk menenangkan dirinya. Wenhan tidak pernah melepaskan pandangannya selama Yoojin menjalani ritual dietnya, tetapi kali ini ia harus bergerak. Lelaki itu berdiri dari kursinya dan mengambil pil yang akan masuk ke mulut Yoojin dari tangannya.

 

Ya!” Yoojin berteriak keras, kemudian ikut berdiri dan mencoba merebut pil itu dari tangan Wenhan. “Kembalikan!”

 

Wenhan tetap berdiri pada posisinya, sementara Yoojin terus meronta untuk mengambil kembali benda keramatnya.

 

“Kembalikan…” Yoojin mulai menangis karena tidak lagi bertenaga, kemudian jatuh terduduk di atas kursinya kembali.

 

Wenhan menghela nafas, kemudian menghancurkan pil itu dalam genggamannya. “Kau sama rapuhnya.”

 

Yoojin menghapus air matanya, kemudian meminum air putihnya seteguk.

 

“Kau tahu betapa berharganya tubuhku,” kata Yoojin pelan. “kau penghancur.”

 

Wenhan membersihkan tangannya dengan hand sanitizer yang dibawanya. Kemudian kembali mengambil sesendok nasi dan membalurinya dengan kuah sup ikan.

 

“Makan.”

 

“Tidak.”

 

“Buka mulutmu.”

 

Masih tidak ada reaksi dari Yoojin. Gadis itu menunduk, membiarkan air matanya membasahi celana jeansnya. Wenhan menghela nafas, kemudian mengangkat wajah sang gadis dengan tangannya yang bebas.

 

“Satu saja, untukku?” mohon Wenhan dengan wajah memelas.

 

Setitik air mata kembali jatuh membasahi ibu jari Wenhan. Yoojin kemudian membuka mulutnya, hanya beberapa inci, dan Wenhan bisa memasukkan sedikit nasi ke dalam mulut Yoojin.

 

Wenhan terduduk lemas sekaligus lega melihat perjuangannya, kemudian tersenyum kecil melihat wajah pucat Yoojin.

 

“Telan saja, itu tidak beracun,” katanya.

 

Yoojin menutup mulutnya, hendak mengeluarkan nasi yang sudah susah-susah Wenhan perjuangkan untuk tubuh ringkihnya.

 

“Telan,” Wenhan menghalangi langkah Yoojin dengan kaki panjangnya. “Aku akan mentraktirmu daun liar di restoran yang besar kalau kau mau menelannya.”

 

Yoojin akhirnya mengunyah butiran-butiran nasi itu sembari menggenggam gelas berisi air putih yang masih terisi penuh. Tangan Wenhan ikut menghangatkan di atas jari-jari Yoojin, dan seketika ia merasakan darah-darah di tubuhnya mengalir lancar sehingga makanannya bisa tertelan dengan baik.

 

Wenhan langsung melepaskan tangan kirinya dari bagian atas jari Yoojin, membiarkan gadis itu meminum air sebanyak-banyaknya untuk menetralkan rasa mual di lambungnya.

 

****

 

“Aku naik 2 kilo,” adu Yoojin pada Wenhan yang setia berdiri disampingnya sementara dirinya sedang memastikan timbangan itu benar. “Apa aku terlihat gemukan?”

 

Wenhan tersenyum sembari menggeleng. “Tidak. Masih kurus.”

 

“Baiklah, aku tidak perlu diet lagi, ‘kan?”

 

Wenhan menarik tangan Yoojin yang masih berdiri di atas timbangan. Tubuh Yoojin yang belum siap pun mendarat di pelukan Wenhan.

 

“Mau jajangmyun? Enak lho, untuk perayaan keberhasilan ujian kita,” kata Wenhan sembari menarik tubuh Yoojin bak manekin.

 

“Kalau aku gemuk kau masih mau dekat denganku?” tanya Yoojin tiba-tiba, menghentikan langkah Wenhan.

 

Wenhan tersenyum sembari mengacak rambut Yoojin. “Tentu saja.”

 

“Aku harus latihan lagi hari ini, apa tidak apa-apa aku makan?” Yoojin mengerucutkan bibir, berjalan pelan mengikuti langkah Wenhan.

 

“Latihan itu nomor dua, makan yang utama. Tenang saja, tidak akan rugi.”

 

Yoojin tersenyum kecil. Anoreksia yang dideritanya perlahan meninggalkan dirinya, berkat orang disampingnya.

 

“Baiklah, ayo makan!”

 

-end-

One thought on “[UNIQ’s Series] Anorexia (Wenhan’s Story)

  1. Pingback: [UNIQ’s Series] Me Gustas Tu (I Like You) | Kumpulan Fanfic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s