[FF Colab] Fly to Love (Chapter 5)

fly-to-love-poster[poster by : ©chioneartposter]

 

Title : Fly To Love

Genre : comedy, romance, shonen-ai, ooc, etc

Length : Part 5 of ?

Author : LaillaMP & SalmaRS

Cast :

~ Oh Sehun *EXO*

~ Xi Luhan *EXO*

~ other EXO members

A/N : Holla!! Omg udah lama juga fic ini ga berlanjut HAHAHA ((dilempar file)) entahlah sebenernya lanjutannya selalu ada di pikiran, tapi nuanginnya ga semudah numpahin air dari gelas😦 /abaikan/

Oke, sejujurnya saya takut saya ga bisa update wp lagi untuk beberapa waktu ke depan (termasuk update fic ini) mungkin kalo kalian mau cari lanjutannya bisa langsung ke situs author satunya alias Salma (klik) oke, selamat menikmati dan maaf karena hasilnya ancur😦

ATTENTION! HUNHAN AREA!

 

****

Sudah seminggu ini Chanyeol melakukan aksi diam terhadap Sehun…

“Hoi!” Sehun menegur Chanyeol yang berjalan menunduk ketika berhadapan dengan Sehun. “Aku jadi merasa—“ kemudian Chanyeol langsung mengambil langkah cepat untuk menghindari Sehun.

“Ada apa dengan anak itu…”

Sehun menceritakan semuanya pada Chanyeol minggu lalu—tentunya karena mereka tidak jadi main PS—dan Chanyeol meresponnya dengan bungkaman mulut yang tebal.

“Orangtuanya pergi ke Swiss selama 3 bulan dan dititipkan disini. Karena tidak ada kamar lagi maka kamarku menjadi korbannya. Kadang aku harus berbagi kasur bersama Sehan juga kalau anak itu mau dekat-dekat Luhan.”

Chanyeol masih diam, antara merenung atau tidak mau mendengarkan lebih jauh.

“Itu juga bukan mauku! Tapi aku berani jamin aku tidak pernah melakukan apapun padanya.”

Chanyeol langsung pamit pulang setelah mendengar cerita pendek Sehun tentang ke-sekamarnya bersama Luhan. Chanyeol menjadi sosok paling diam sepanjang sejarah karena ia tidak menggubris tendangan Sehan yang merasa saingannya bertambah untuk mendapatkan Luhan.

Dan begitulah selama seminggu ini. Chanyeol bahkan tidak pernah menanyakan soal yang sulit pada Sehun yang disebelahnya—karena sebenarnya Sehun juga akan bingung dengan soalnya.

“Yeol-ah, kita main PS—“ belum selesai Sehun berucap, Chanyeol sudah angkat kaki dari tempatnya, meninggalkan sisa-sisa ddokboki di atas meja.

“Xi Luhaaaaaaan kau menghancurkan persahabatan kami!!!!” Sehun berteriak emosi sampai seisi kantin menatapnya penuh selidik.

 

****

 

“Kau mau menjawabnya?”

Jongin menatap Luhan lurus-lurus, memastikan raut wajah lelaki itu. Seperti apa jawabannya untuk kali ini? Apa masih sama atau…. sedikit berubah?

Jongin berharap jawaban kali ini jauh lebih baik. Tapi kalau ternyata jawabannya hanya sedikit lebih baik…. Jongin akan tetap memakluminya. Karena mau tidak mau ia juga ikut mengorbankan perasaannya untuk kebahagiaan lelaki itu.

“Aku tidak memaksa. Aku hanya ingin tahu seperti apa aku sekarang,” kata Jongin sembari menyesap ice cappucinonya dengan santai.

Luhan menghela nafas panjang. Jawabannya sudah pasti berubah, tapi sekarang berubah menjadi lebih baik—hanya saja Luhan tidak tahu bagaimana cara jujur kepada seorang Jongin.

“Jongin-ah,” Luhan menelan ludahnya susah payah. “Aku….”

Belum sempat Luhan mengutarakan maksud hatinya, tiba-tiba ada seseorang yang tidak sopan menariknya. Luhan tidak berteriak atau meminta tolong, malahan ia terdiam dan mau saja dimarahi sambil digeret olehnya.

“Jelaskan semuanya pada Chanyeol, SEKARANG!!” Sehun dengan marah malah menyuruh Luhan menjelaskan sesuatu yang tidak dipahaminya di tempat parkir.

“Menjelaskan? Menjelaskan apa?” Luhan tidak ingat kapan terakhir ia bermasalah. “Oh, Chanyeol. Aku kan sudah meminta—“

“Kali ini berbeda masalah!!” Sehun yang amarahnya sudah di ubun-ubun berusaha tidak merusak motor disampingnya. “Jelaskan pada Chanyeol bagaimana kita bisa sekamar dan lain-lain. Aku bosan!! Aku tidak punya teman lagi untuk diajak berbicara—“

“Ada apa?” Jongin keluar dengan wajah dinginnya. “Kau ada masalah apa, Oh Sehun?”

Sehun menatap Jongin tak percaya. Kali ini masalah Chanyeol yang mengacanginya seminggu telah larut ditelan masalah baru, Jongin ada disini.

“S-Sejak kapan Sunbae—“ Sehun jadi mencicit lemah melihat Jongin. Ini bukan takut, hanya sedikit hormat.

“Hyung, ayo pulang—“

“Masalah kami belum selesai..” Sehun tersenyum sinis. Akhirnya aku berani. “Kau juga utang penjelasan pada sahabatku. Beritahu padanya untuk berhenti mengejar-ngejar Luhan-mu karena dia milikmu.”

“Mwo?” Jongin menatap Sehun bingung. Tapi kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap wajah pucat Luhan. “Maaf, tapi aku dan Luhan—“

“Xi Luhan, beritahukan semua pada Chanyeol tentang ‘kita’ dan tentang ‘dia’,” Sehun menunjuk Jongin dengan tidak sopannya. “Jangan harap bisa pulang kalau belum memberitahukannya!”

Sehun kemudian meninggalkan Luhan dan Jongin di tempat parkir berdua. Wajah Luhan terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Kepalanya sudah pusing melebihi pusingnya menghitung keliling lotte world dengan integral.

Lutut Luhan kemudian melemas dan tidak kuat menahan beban tubuhnya. Jongin dengan sigap menangkapnya dan membisikkan kata ‘gwaenchana?’ pada Luhan.

“Jongin-ah,” Luhan bersuara serak. “Kau bukan anak kecil lagi.”

Jongin melongo. “Ini bukan saatnya memberi jawaban..”

“Bisa kau jelaskan apa maksud perkataan anak itu? Kau bukan anak kecil lagi,” Luhan akhirnya benar-benar jatuh dari genggaman Jongin.

 

****

 

Sehun terbangun keesokkan paginya dan tertawa kecil. Ini masih jam 7, jamnya anak rajin. Sehun biasanya bangun menjelang pukul 8 untuk menghindari omelan ibunya yang akan sepanjang jalan kenangan karena selalu pulang malam.

Ketika Sehun ingin berbaring lagi ia terkejut. Luhan masih ada di sampingnya. Biasanya sebelum jam 6 ia sudah ada di meja belajar untuk mengulang pelajaran yang kemarin.

“H-Hyung?” Sehun memanggil Luhan hati-hati, takut membangunkannya.

Wajah Luhan terlihat berbeda pagi itu. Tapi Sehun tidak tahu apa yang membuatnya berbeda.

“Sudahlah, mungkin dia lelah,” pikir Sehun praktis.

Sehun kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya. Seketika perasaan rileks menyebar. Ingin rasanya tidak masuk hari ini saja.

Tapi Sehun kembali membuka matanya beberapa detik kemudian. Luhan seperti menggumamkan sesuatu, hanya saja tidak terdengar jelas. Sehun yang penasaran akhirnya mendekatkan telinganya ke bibir Luhan.

“Mianhae…” Luhan menggumamkan itu di waktu tidur. Apa dia gila?

Sehun memeriksa kening Luhan. “Astaga! Eomma!!!!” Sehun berlari panik ke bawah sambil memanggil ibunya.

Badan Luhan benar-benar panas dan tidak berhenti berbicara daritadi. Kalau dia sakit aku yang pasti disalahkan. Pikir Sehun.

“Eomma—ha?” Sehun menemukan selembar kertas berisi permintaan maaf ibunya yang sedang ke tempat rekreasi bersama Sehan. Sekarang perhatiannya teralih pada ibunya yang masih menggunakan cara kolot untuk menyampaikan sesuatu.

“Apa yang harus kulakukan?” Sehun terduduk lemas. Ia bahkan tidak bisa memegang remot TV dengan benar.

 

****

 

‘Ambil es batu atau air dingin dan kain kecil di lemari. Kompres Luhan dengan itu. Oke, Sehan-ah jangan memanjat terlalu tinggi!!’

 

Pembicaraan singkat dengan ibunya yang sedang mengawasi Sehan menaiki wahana outbound membuat Sehun bingung. Tapi akhirnya ia mengambil kain putih berbentuk persegi sempurna dari dalam lemari. Ia juga mengambil beberapa es batu untuk menjadi media pengompres.

“Oh Tuhan, kenapa aku harus libur seperti ini?” Sehun memeras air es itu dengan emosi. Kemudian menggigil sendiri kena es batu.

Sehun menaiki tangga kembali dan mendatangi Luhan yang—untungnya—sedang ada di posisi telentang. Sehun dengan hati-hati mengompres Luhan dengan kain itu. Kemudian menghela nafas panjang.

 

‘Obat penurun panas? Adanya obat Sehan. Coba kau cari di kotak obat. Sehan-ah sudah Eomma bilang jangan main-main di kolam lumpur!’

 

Pembicaraan kali ini antara Sehun dan ibunya yang sedang mengawasi Sehan di arena kolam lumpur. Sehun merutuki dirinya sendiri kenapa harus repot-repot mengurus Luhan yang sakit.

Sehun berjalan mencari kotak obat dan menemukan satu obat penurun panas cair. Sehun membaca petunjuk penggunaan dan tertawa.

“Usia 1-3 tahun 1 sendok teh, 4-10 tahun 2 sendok teh 3 kali sehari,” Sehun menggeleng. Ibunya tidak mungkin tidak membaca petunjuknya kan?

 

‘Ya sudah kau beli obat saja di apotek dekat minimarket Asa. Kau bilang saja apa yang dibutuhkan nanti akan diberikan. OH SEHAN!! OH TUHAN!!”

 

Kali ini tidak jelas ibunya sedang apa bersama Sehan. Sehun mengacak rambutnya gemas.

“Oke, aku akan ke apotek,” Sehun mengambil jaketnya di dalam kamar.

“Sehun-ah,” Luhan berucap lemah ketika Sehun membuka pintu kamarnya.

“Hm?” Sehun mencari uang di dalam saku jaketnya.

“Jam berapa?”

Sehun melirik jam. “8 lewat 10.”

“Aku terlambat!” Luhan mencoba bangun dari posisinya.

“Jangan!!” Sehun langsung menangkapnya sebelum kepala Luhan menyentuh bantalnya akibat gravitasi. “Kau sakit. Eomma akan memberikanmu izin—“

“Aku harus sekolah. Hari ini ulangan—“

“Kubilang jangan!!” Sehun lupa mengendalikan emosi. “Ng.. maksudku kau sakit dan harus istirahat.”

Luhan menggeleng. “Aku tidak apa-apa.”

“Tidak apa-apa? Ya, aku sudah berjam-jam mengompresmu dan kau bilang tidak apa-apa?!” Sehun mencoba meyakinkan Luhan dengan bualan berlebihannya. “Aku mau beli obat. Kau tetap disini.”

Sehun membaringkan Luhan di atas tempat tidur dan menyelimutinya sampai leher. Kemudian memberi kompresan kedua—yang dihitung sepuluh oleh Luhan.

 

****

 

Chanyeol menatap loker Luhan yang kosong tanpa memo cintanya lagi. Biasanya Luhan akan tersenyum dan menyimpan memo itu di dalam lokernya.

“Jujur saja aku tidak berani,” gumam Chanyeol pada loker Luhan yang ada 10 meter dari tempat berdirinya. “Andai saja aku tidak marah pada Sehun…”

Tidak ada alasan jelas kenapa ia menghindari Sehun akhir-akhir ini. Bukan karena kedekatannya dengan Luhan sebenarnya, tapi karena Sehun tidak memberitahukannya dari awal kalau Luhan ada disana. Apa Sehun tidak menganggapnya teman untuk berbagi—dalam hal kebaikan maksudnya.

Chanyeol akhirnya kembali lagi ke kelas tanpa menempelkan memo itu ke loker Luhan. Kemudian dia ingat tentang PR bahasa yang belum dikerjakannya. Chanyeol buru-buru mengambil bukunya dan langsung bertanya jawaban nomor 1 pada Sehun di sebelahnya.

“Kenapa anak itu tidak masuk?” Chanyeol menyesal telah bertanya pada udara kosong di sampingnya.

 

Gom semari ga hanjibe isseo…

 

Chanyeol buru-buru mengambil ponselnya yang lupa diubah ke mode diam. Kemudian mengangkat telpon tanpa tahu siapa yang menelponnya.

“Chanyeol-ah, syukurlah kau mengangkat teleponku!” suara Sehun terdengar diseberang sana.

‘gom semari sialan!’ umpat Chanyeol dalam hati. Kemudian menggumam saja pada Sehun diseberang.

“Aku tahu aku salah. Mm… Chanyeol-ah, aku… ada hal….” Sehun terdengar bingung memilih kata-kata. “Maukah kau menjaga Luhan untukku? Luhan sedang sakit dan ia di kamarku sekarang. Aku mau membeli obat. Yoboseyo? Chanyeol-ah?”

Chanyeol menghela nafas panjang setelah menahan nafasnya beberapa detik. “Baiklah.”

“Aah! Chanyeol-ah, akhirnya!! Kutunggu kau sekarang.”

“Ha? Sekarang?”

“Iya—Astaga! Kututup!”

Chanyeol kembali berpikir untuk kabur ke rumah Sehun saat ini juga. Apalagi mendengar Sehun sedikit berteriak di telepon tadi. Mungkin temannya itu kerepotan.

Chanyeol mengambil tasnya dan berjalan cepat ke arah pintu. Tapi langkahnya terhenti di bibir pintu.

“Go back!!” Mrs Hajung, guru bahasa inggrisnya itu mengacungkan rotan padanya. Membuat semua orang yang ada di bangku juga bergidik ngeri membayangkan rotan itu mengenai pantat.

Go back to your chair!!” dan wanita pertengahan zaman itu membuat Chanyeol kehilangan kesempatan merawat Luhan.

 

****

 

“Aku tidak apa-apa…” Luhan mencoba tersenyum dan menghindari makanan yang sedang dipegang Sehun.

“Tidak apa-apa apanya…” Sehun mengambil sesendok penuh bubur buatannya. “Tenang saja ini tidak beracun.”

Luhan tidak peduli itu beracun atau tidak. Yang paling penting tampilan bubur itu benar-benar seperti susu basi yang difermentasi. Siapapun yang melihat makanan di tangan Sehun juga pasti akan langsung berpura-pura sembuh daripada memakannya.

“Ya sudah kalau tidak mau,” Sehun menutup kembali mangkuk bubur itu dengan piring kecil dibawahnya. Entah kenapa hati lelaki itu agak kecewa karena Luhan tidak mau memakan hasil kerja kerasnya.

“Baiklah aku akan memakannya, tetapi siapkan plastik, jaga-jaga kalau aku benar-benar muntah..”

Sehun turun dari tempat tidur, mencari plastik ke dapur dan hanya menemukan polybag yang biasa dipakai ibunya untuk menampung sampah domestiknya. Setelah itu ia kembali ke kamar dengan penuh harapan semoga buburnya sudah habis dan tidak ada yang dimuntahkan Luhan ke atas kasurnya.

“A—“ Sehun tidak sempat menghela nafas sesampainya di bibir pintu. Wajahnya memucat, hendak mengatakan sesuatu yang kasar tetapi tidak kunjung terlontar.

“Aku akan membersihkannya,” kata Luhan, kemudian kembali melanjutkan kegiatan muntahnya di atas kasur.

Sehun terduduk lemas di lantai, membenturkan kepalanya ke tembok yang dingin dan keras. Sprei itu adalah sprei kesayangannya. Sehun tidak pernah mengotori sprei itu sedikitpun sampai 8 tahun ia meniduri benda itu. Dan sekarang…

“Sehun-ah, boleh aku minta air hangat?”

Sehun benar-benar ingin menangis karena tidak bisa menjaga sprei yang 8 tahun menemaninya tidur, tetapi demi harga diri tingginya ia berjalan gontai ke dapur dan mengambilkan air hangat untuk Luhan.

 

****

 

Sehun terpaksa mengganti spreinya dan menemani Luhan tidur hari ini. Setelah ia memuntahkan bubur yang diberi Sehun, Luhan baru bisa memakan krim sup yang ditinggalkan ibunya di dalam microwave. Setelah itu Sehun memaksa Luhan untuk meminum obatnya, dan barulah Luhan bisa tidur dengan tenang. Sehun kembali mengompres dahi Luhan, dan mengganti kompresannya setelah beberapa menit.

Sesekali Sehun melirik ponsel Luhan yang ada di atas meja belajarnya, dan setelah itu kembali melirik ponselnya yang sunyi senyap seperti rumahnya.

Ponsel Luhan menyala dan bergetar sekali. Sehun mengira itu ponselnya, kemudian mendengus kesal saat ponsel Luhan yang dilihatnya. Sehun melirik Luhan sekilas, kemudian turun dari tempat tidur dengan hati-hati.

Sehun melihat nama yang tidak asing sesaat sebelum layar ponselnya redup. Jongin. Hanya Jongin, tidak ada bentuk-bentuk yang aneh seperti love, sarang, yeobo, atau apapun yang mencurigakan. Berarti…. mereka bukan couple?

Entah kenapa hati Sehun jadi melonjak. Luhan belum menerima pernyataan cinta Jongin? Atau Luhan sudah menolaknya duluan?

“Mama….” Luhan mengigau dalam mimpinya, kemudian mengucapkan kalimat bahasa cina yang sama sekali tidak dimengerti Sehun.

Sehun membiarkan ponsel Luhan di atas meja belajar, kemudian kembali naik ke kasurnya dan menemani Luhan tidur.

Wajah teduh Luhan membuat Sehun kembali memikirkan alasannya membenci kakak kelas yang satu ini. Luhan tidak galak sebenarnya, tidak kejam, tidak suka memukul. Hanya saja Luhan sering memergokinya kabur, itu permasalahannya. Dan sekarang Sehun baru menyadari seperti apa orang yang Chanyeol sukai.

“Okay, aku harus membantu Chanyeol, ya..” Sehun menyugesti diri sendiri karena berpikir kelewatan.

Sebersit ide yang baik untuk memperbaiki persahabatannya langsung muncul di kepala Sehun. Kebetulan Sehun juga ingin refreshing karena dibuat repot oleh Luhan yang sedang sakit.

“Yeol, sudah pulang?” tanya Sehun pada Chanyeol di telepon. “….Luhan Hyung sakit, kau bisa menjaganya untukku? Aku ingin bermain sebentar….. tidak ada orangtuaku, tenang saja….. aku serius!”

“Sehun-ah…” Luhan tiba-tiba menggenggam tangannya yang sedang bebas. “Jangan pergi..”

Sehun mengernyit. Chanyeol meneriaki ‘halo’ beberapa kali dari seberang dan Sehun tidak memedulikannya.

“Disini saja..”

Sehun bimbang. Tangannya kini sudah berada di dekat leher Luhan. Bisa dirasakan panas tubuh lelaki itu melalui punggung tangannya.

“Tidak jadi, ibu dan Sehan sudah pulang,” keputusan akhirnya adalah Sehun menuruti keinginan Luhan.

 

****

 

Luhan terbangun keesokan paginya dengan keadaan tubuhnya yang lebih baik dari kemarin. Kain kompresan dari dahinya jatuh mengenai selimut yang membalut tubuhnya. Setelah itu Luhan menatap sekeliling, dan pandangan terjatuh pada Sehun yang tertidur di atas sofa dengan selimut seadanya. Luhan tersenyum kecil tanpa sadar.

“Kau sudah besar, Oh Sehun,” gumam Luhan, kemudian turun dari tempat tidur membawa selimut yang ia pakai semalaman.

Luhan memakaikan selimut sampai ke leher Sehun. Ia melakukannya dengan hati-hati, takut-takut jika Sehun memergokinya sedang berbaik hati. Setelah itu Luhan menuju dapur untuk membuatkan sarapan.

Keadaan dapur sudah tidak karuan. Panci dan wajan kotor dimana-mana, sampah tidak dibuang ke tempat yang seharusnya dan bau-bau gaib tercium sampai hidungnya. Luhan menarik nafas panjang sembari memejamkan mata, kemudian meneriakan satu nama yang tadinya mau ia buatkan sarapan.

“OH SEHUUUUUUN, BANGUN SEKARANG!!!!! BERSIHKAN DAPURNYA!!!!”

 

****

To be continued..

4 thoughts on “[FF Colab] Fly to Love (Chapter 5)

  1. karinaalysia

    haha luhan muntah di sprei kesayangan sehun :v wah, sehun, mau ninggalin luhan, masa ga kasian sma luhan yg sedang sakit :3 semoga aj hunhan semakin dekat dan ada perasaan😀 next thor

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      hahahah maklum itu efek sakit/? amin amin moga hunhan makin deket. boleh ditunggu kok kelanjutannya di author yang satunya🙂

      makasih udah baca + komen yaa<3<3<3

      Reply
  2. Ananda mitra suniasari

    Huwaaa luhan muntah di sprei kesayangan sehun, tapi untungnya sehun sedang bebaik hati. Semoga sehun makin deket sama luhan, di lanjut ya jangan lama lama

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s