[Ficlet] Early Birthday

CKe_y0ZUYAA4ZLz[poster by Wenhan_23 on Weibo]

Title : Early Birthday
Genre : Comedy, Friendship, Romance
Length : Ficlet [900+ words]
Cast : Li Wenhan (UNIQ), Cho Yoojin (UNIQ) and special appearance Cho Seungyeon (UNIQ)

HAPPY BIRTHDAY LI WENHAN!
WISH ALL THE BEST FOR YOU, ALWAYS AND ALWAYS<3
THIS IS FOR YOU, ENJOY READERS ^^

****

“15…. 22…. 15…. 22…”

Yoojin terus menempelkan telunjuknya pada dua tanggal di kalendernya, tanggal 15 dan tanggal 22. Tidak ada tanggal yang ia lingkari, tetapi tanggal itu lumayan istimewa untuk jarinya.

“15…. 22…. sebentar lagi..” Yoojin masih saja memutari kalendernya dengan jari telunjuk, dan hal itu membuat Cho Seungyeon—sang adik, di depan televisi mengernyit heran menatapnya.

Noona, apa kau keracunan daun liar lagi?” tanya Seungyeon sarkatis, tidak mengerti apa yang membuat kakaknya terus berdiri di depan kalender sambil membawa cangkir kosong.

“Kau jangan mengingatkanku dengannya, cutie Cho.

Seungyeon mendengus, kemudian kembali melanjutkan tontonannya.

“Tanggal 22 Wenhan ulangtahun,” kata Yoojin kemudian sambil membalikan badannya dari kalender. “Kira-kira hadiah apa yang cocok untuk laki-laki?”

Seungyeon menoleh ke arah kakaknya, kemudian menaikkan kedua bahunya. “Kau ‘kan ‘some’-nya.”

Yoojin memasang ekspresi garang, hampir melemparkan cangkir di tangannya ke wajah manis Seungyeon yang sedang berlindung di kaki sofa.

“Ampun Noona! Tapi kan itu benar!” dan Seungyeon pun langsung lari sebelum cangkir itu mengenai hidungnya.

****

“Jaket… ini musim panas, mana mungkin dia pakai jaket,” Yoojin mencoret tulisan jaket pada kertas catatannya.

“Kaus… aku tidak tahu ukurannya. Badannya kan berubah-ubah,” kembali Yoojin mencoret kaus dari daftar kado pilihannya.

“Kaus kaki…. tidak akan terlihat kalau itu dariku,” lagi-lagi Yoojin mencoret kaus kaki dari daftarnya, setelah itu ia meletakkan kepalanya ke atas meja sambil mendengus. “Ah! Kenapa sulit sekali memberinya kado.”

“Kado untuk siapa?”

Yoojin langsung mengangkat kepalanya dan menyembunyikan kertasnya dengan cepat nan salah tingkah. Gerakannya itu membuat si pendatang tertawa kecil.

“Kado untuk siapa, Cho Yoojin?” tanya Li Wenhan sembari memberikan minuman bersoda yang sudah ia buka.

“B-bukan siapa-siapa,” Yoojin langsung menegak minuman sodanya, menyembunyikan raut merahnya yang entah untuk siapa.

“Mau kuberi saran? Kado untuk perempuan atau laki-laki?” tanya Wenhan lagi.

“Tidak perlu,” Yoojin menggeleng, meletakkan kaleng minumannya yang telah kosong. “Sebentar lagi libur summer. Ada rencana?”

Wenhan menenggak minumannya pelan, setelah itu menghela nafas panjang. “Aku akan pulang ke Hangzhou.”

Yoojin langsung membelalakkan mata. “Y-ye?”

“Orangtuaku ingin merayakan ulangtahunku disana. All of sudden. Aku langsung memesan tiket untuk dua hari lagi.”

“B-begitu ya,” Yoojin meremas bekas kaleng minumannya, kemudian berdiri dalam mode pelan. “A-aku ke kelas.”

****

Cho Seungyeon kembali mengernyit menatap kakaknya. Apa lagi kali ini? Otaknya mencoba menerka.

Yoojin kali ini membawa kalender meja dan menatapnya lama, melingkari angka 22 sampai lingkarannya menebal. Setelah itu ia menunjuk-nunjuk angka keramat itu dengan ujung spidol, menandai sampai hanya tersisa siluet 22-nya saja.

Noo—Noona..” Seungyeon menghela nafas, mempertimbangkan apa yang akan dilempar Yoojin jika Seungyeon bertanya soal perasaannya.

“Wenhan akan pulang ke kampungnya. Dasar tidak tahu malu!”

BRAK!

Untunglah benda di tangan Yoojin dilemparkan pada TV flat di depannya, membuat Seungyeon mengelus dada karena lega sekaligus khawatir bagian dalam TV itu bermasalah.

“Memangnya mudah mendapat kado dari Cho Yoojin yang terkenal ini? Hey, bahkan TV nasional pun tidak pernah mendapat kado dariku!” Yoojin mengomel sendiri. “Tidak tahu apa siapa yang memberinya makan waktu dia belum makan? Dasar tidak tahu malu!”

Noona, kau harus meluruskan ini semua. Siapa yang tidak tahu diuntung dan siapa yang tidak tahu malu?” Seungyeon menghela nafas sejenak sebelum kakaknya menatapnya marah. “Kau bilang si Wenhan itu pulang ke kampungnya, memangnya apa yang salah? Dia bukan orang sini.”

“Tapi kan—“

“Dia berulangtahun, kau ingin memberinya kado, iya kan? Kalau begitu ya lakukanlah, sebelum dia pulang. Jangan mengomel sendiri seperti tante-tante yang kurang kerjaan.”

“Tapi—“

“Berikan saja kue dan makanan kesukaannya, kado bisa menyusul saat ia pulang nanti. Tidak apa-apa, dia akan mengerti.”

Yoojin tanpa sadar telah menangis sesenggukan daritadi. Berkali-kali ia mengusap pipinya tetapi masih saja ada setetes lagi yang turun.

Noo—Noona, maaf aku—“

“Seungyeon-ah,” Yoojin langsung memeluk tubuh kurus disampingnya dengan erat. “Kau memang adikku.”

Tak lama Yoojin melepaskan pelukannya dan langsung memasuki kamar. Setelah dua kali iklan menyelingi acara kesayangannya, barulah sang kakak keluar dengan baju yang sangat rapi dan colourful. Seungyeon hanya tersenyum, menyembunyikan tawanya.

“Aku pergi!” pamit Yoojin.

“Ya… Ya…” Seungyeon melambaikan tangannya. “Dasar some.

****

Li Wenhan sedang menonton kartun yang tidak ia mengerti ceritanya ketika bel apartemennya berbunyi. Wenhan langsung meletakkan remotenya ke sembarang tempat di atas sofa, kemudian berlari terbirit-birit menuju pintu.

“Sia—Yoojin?” Wenhan mengernyit sendiri melihat pantulan Yoojin di layar cctv apartemennya. Tanpa basa basi ia membukakan pintunya.

“Chajan!!!”

Puluhan kertas kecil menyambut wajah tampan yang menyembul dari balik pintu. Yoojin melemparkannya, kemudian meniup terompet kecil dengan sangat heboh. Untungnya apartemen tempat Wenhan tinggal ini lumayan elit, tidak tembus suara.

“Apa-apaan…” Wenhan heran sendiri melihat outfit yang dikenakan Yoojin. Topi kerucut, baju polkadot, rok pendek, sepatu kaca….

“Selamat ulangtahun!!” ucapnya penuh kebahagiaan. “Kau tidak senang?!”

“I-ini tanggal 16 kan…” Wenhan mengernyit. Ia jadi sangsi, mungkin ponselnya salah tanggal dan ia salah memesan tanggal tiket.

“Kau bilang kau mau pulang ke Hangzhou, ‘kan, dan aku menyiapkan ini lebih dulu. Selamat ulangtahun!”

Wenhan tersenyum, kemudian tertawa kecil. “Ya… ya, terima kasih.”

Setelah itu mereka berdua terdiam agak lama—dan bodohnya Wenhan tidak mengajak Yoojin masuk ke dalam apartemennya.

“Ng….”

“Mana kuenya?” Wenhan langsung menyambar sebelum Yoojin sempat mengucapkan sesuatu.

Yoojin mengangkat plastik di sebelah kakinya. “Ini.”

Wenhan tersenyum lebar. “Kukira kau lupa.”

“Mana mungkin aku lupa,” Yoojin mengerling jahil. “Hmm… boleh aku—“

“Kau tahu, ada mitos yang mengatakan kalau merayakan ulangtahun lebih awal berarti orang itu akan mati lebih dulu?”

Wajah Yoojin langsung memucat. “Benarkah? A-aku tidak tahu…” setelahnya ia kembali memasukkan peralatan pestanya ke dalam plastik.

Wenhan tertawa keras. “Cho Yoojin, kau benar-benar polos…” katanya sambil mengacak poni gadis itu sampai topinya melenceng.

“Baiklah, kita rayakan nant—“

Wenhan langsung memeluk Yoojin sebelum gadis itu selesai berbicara. Kali ini pelukannya agak berbeda, tidak dengan menepuk pundaknya seperti biasa. Yoojin yang masih memegang plastik berisi kue pun reflek menjatuhkannya, dan membalas pelukan lelaki itu.

“Selamat ulangtahun, Li Wenhan.”

****

All of sudden. Saya dapat pekerjaan sebelum ulangtahun real man yang satu ini dan saya pun baru bisa menyelesaikan ini dini hari tanggal 22 T.T

Semoga fic ini masih kerasa dikit-dikit, entahlah saya lagi pusing T.T

Sekali lagi, selamat ulangtahun Li Wenhan!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s