[Request] Our Lovely Sister (Oneshot)

our_lovely_sister_for_laillamp[poster by cloverqua @ Cafe Poster
thankyou for amazing poster kak ^^]

Title : Our Lovely Sister
Genre : Family, Thriller, Angst, Psychology [WARNING!! 15+]
Length : Oneshot [2k+ words]
Author : LaillaMP (@geonichirou)
Cast(s) : Kim Sungjoo (UNIQ), Kim Saeron (Actress), Kim Jiyeon (OC)

This fic was requested by Maura sherina d.
I’m sorry for the long waiting and bad result😦 wish u enjoy!

 

****

Jiyeon membuka matanya, mengerjap-ngerjapkannya sampai ia tersadar dengan ruangan gelap tempat ia tertidur. Dimana ini? Hanya itu yang bisa diucapkan hatinya. Gadis itu mencoba bangun dari posisinya, agak sulit memang seperti ada barang yang memberatkan tubuh kecilnya.

“Sudah bangun?” tanya sebuah suara. Suara laki-laki yang dikenalnya dan sangat menakutkan.

Jiyeon sontak berteriak, mencari arah datangnya suara dan mencoba untuk lepas dari tempat yang tidak dikenalnya ini. Keringat dingin berjatuhan, tepat setelah sebuah cahaya remang menghampirinya.

“Apa yang kau inginkan?!” tanya Jiyeon panik, air matanya sudah tidak tertahan lagi, tapi tubuhnya tetap menegang. “Katakan apa yang kau inginkan!!”

“Aku? Keinginanku?” si pemilik cahaya itu meletakkan lilinnya di samping kaki Jiyeon, kemudian mengeluarkan sesuatu yang sudah tidak asing bagi Jiyeon, scapel.

O-Oppa…” Jiyeon menelan ludahnya, berat. “Jangan…. jangan aku..”

Jiyeon dapat melihat dengan jelas, kakaknya yang seorang ahli bedah itu mengeluarkan seluruh koleksi peralatan bedahnya mulai dari scapel (pisau bedah), gunting, forceps (alat penjepit dalam operasi), dan lainnya. Kim Jiyeon tahu apa maksud kakak laki-lakinya, tetapi ia tidak mau menyerahkan dirinya begitu saja pada sang kakak.

Wae? Aku sudah ahli, tidak perlu takut,” sang kakak kemudian memakai sarung tangannya setelah membersihkan tangannya dengan cairan yang entah berwarna apa. Sedetik kemudian tatapannya langsung mengarah pada Jiyeon yang terduduk pasrah di atas kasur yang tidak empuk sama sekali.

“Jangan aku… Kumohon Oppa jangan aku…” nafas Jiyeon memburu, ia ingin segera lepas dari ruang tawanan ini tetapi kakinya seperti kaku, tidak bisa digerakkan barang seinci pun.

Jam dinding berdenting keras, membuat jantung Jiyeon ikut berdebar seirama dengan dentingan jam besar di ruang tamunya. Tangan Jiyeon mengepal, mencoba menghalau rasa takut akan kematiannya yang tinggal menunggu waktu.

“Jiyeon-ah, demi Saeron, adik kita,” kakaknya menekankan kata ‘kita’ pada kepemilikan Saeron, adik bungsunya yang tengah berjuang menahan penyakit liver yang dideritanya.

“Kenapa harus aku? Apa hanya aku yang bisa mendonorkan hati untuknya?” Jiyeon mulai menangis, kali ini karena putus asa. “Kenapa harus aku, Oppa, kenapa?!”

Lelaki di depannya jatuh berlutut, meletakkan pisau bedahnya kembali ke kotaknya dan ikut menangis seperti adiknya. Tak lama kemudian ia menyeka air matanya, mencengkram bahu Jiyeon dan menatap mata sang adik dengan penuh seringaian.

“Karena kau kakaknya, kakak perempuannya.”

 

****

 

“HAA!!!” teriakan Kim Jiyeon mengawali pagi yang cerah ini. Bibi Jung, pengasuh Saeron yang kebetulan melewati sofa tempat Jiyeon tidur menatapnya bingung, kemudian tersenyum setelah Jiyeon memberi sinyal ‘tidak apa-apa’ padanya.

Mimpi yang sangat buruk itu kembali menghampirinya, menghancurkan paginya yang indah dan sebentar lagi akan membuatnya takut setengah mati.

Oppa, joshimhae!” (Oppa, hati-hati!)

Suara seorang gadis terdengar di telinga Jiyeon, membuat gadis itu langsung mengarahkan tatapannya ke pintu rumah yang terbuka.

Ne, jaga dirimu ya.”

Jiyeon menelan ludahnya setelah suara laki-laki terdengar. Keringat dingin kembali menjalari tubuhnya, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.

“Jiyeon Eonni!” Saeron, adik Jiyeon langsung berlari pelan mendatangi sofa tempat tidur Jiyeon setelah kakak laki-laki mereka keluar dari pintu.

Jiyeon tersenyum, menyambut sang adik dengan pelukan hangat.

Tubuh Saeron jadi lebih kurus semenjak penyakit hati yang ganas menyerangnya. Saeron yang sangat aktif dan ceria berubah menjadi gadis lemah yang sering memuntahkan makanannya sebelum suapan kedua. Saeron juga lebih sering menangis ketika malam, membuat Jiyeon dan Sungjoo—kakak sulungnya—harus menemani anak itu sampai tidur dan terbangun lagi keesokan paginya.

Eonni tidur disini? Kenapa tidak menemaniku tadi malam?” tanya Saeron di dalam pelukan kakak perempuannya.

Tangan Jiyeon yang sedang mengelus rambut panjang Saeron dengan tiba-tiba berhenti, mengingat mimpi buruk yang dialaminya tadi dan mengaitkannya dengan kejadian tadi malam.

“Tidak apa-apa, Eonni hanya kepanasan disana,” Jiyeon kembali berbohong, ia tidak mungkin mengatakan pada Saeron kalau ia dan Sungjoo sedang terlibat perang hebat akhir-akhir ini.

“Sungjoo Oppa bilang Eonni tidak pulang tadi malam. Aku khawatir. Aku takut Eonni kenapa-napa,” Saeron mengangkat kepalanya, menatap Jiyeon yang sedang mengelus lembut rambutnya.

Jiyeon tersenyum kecil mendengar tuturan adiknya, kemudian mencubit pipi gadis itu dengan gemas.

“Kau khawatir pada Eonni?” tanya Jiyeon. “Mianhae, Eonni akan menemani Saeronnie nanti malam. Call?

Saeron mengangguk sembari menyunggingkan senyum lebar. Setelah itu Jiyeon kembali memeluk adik kecilnya lekat-lekat, menyembunyikan air mata penuh penyesalannya karena tidak bisa mengorbankan dirinya untuk Saeron.

 

****

 

“Terima kasih dokter!!!!!”

Seorang wanita parubaya langsung memeluk kaki seorang dokter tampan yang sedang berdiri tegak setelah memeriksa keadaan pasien anak laki-laki berumur 10 tahun. Kim Sungjoo, nama dokter itu, hanya menyunggingkan senyum tipis.

“Tidak apa-apa, itu tugasku,” Sungjoo memegang tangan wanita itu, membantunya berdiri.

Wanita itu menyeka air matanya, wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang amat sangat setelah melihat putranya tersenyum dari balik tirai.

“Bagaimana aku harus membalasmu, Dokter Kim? Aku benar-benar berterima kasih padamu,” wanita itu sekarang memeluk badan Sungjoo, mencoba meraih kepala dokter tinggi itu untuk dielus-elusnya seperti anak sendiri.

Sungjoo kembali memegang tangan wanita itu, melepaskan dirinya dari pelukan ibu pasien dengan sopan.

“Tidak perlu. Seojun sembuh saja sudah merupakan balasan untukku,” Sungjoo kembali tersenyum, menyibakan lengan jasnya untuk melihat jam di pergelangan tangannya. “Ah, sudah waktunya aku memeriksa pasien lain.”

“Terima kasih dokter!” dan wanita parubaya itu mengantarkan Sungjoo keluar dari ruangan inap anaknya.

Sungjoo langsung menyerahkan seluruh pekerjaan memeriksanya pada suster-suster di sekelilingnya. Lelaki itu mengatakan ia punya urusan penting lain, dan suster-suster itu tidak mungkin keberatan menerima pekerjaan baik dari dokter tampan yang satu itu.

Sungjoo memasuki ruangannya, menggantungkan jasnya pada kursi putar di singgasananya dan langsung menduduki sofa yang tidak jauh dari meja kerjanya. Lelaki itu mengambil ponselnya, dan langsung tersenyum melihat nama yang tertera pada kolom pengirim.

 

From : Saeronnie~
Oppa, kapan pulang? Aku menunggu Oppa! Unnie juga. Oppa cepat pulang ya<3

 

Sungjoo menghela nafas panjang sembari tersenyum sebelum membahas pesan indah itu, kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran empuk sofa.

Sungjoo menutup matanya, mencoba menghilangkan bayangan buruk tentang dirinya akhir-akhir ini. Kadang-kadang ia merasa harus membunuh satu pasien agar ia bisa mengambil organ hatinya untuk Saeron, adik bungsunya. Tetapi jiwa kedokterannya selalu bekerja dengan baik sekedar untuk mengangkat tumor kecil yang melekat di tubuh pasien sehingga dirinya dihadiahi titel ‘dokter favorit’ atau ‘dokter terbaik’ oleh rekan atau keluarga pasien.

Kemarin ia berpikir untuk membunuh Seungyeon, salah satu dokter magang yang dekat dengannya akhir-akhir ini. Sekali lagi alasannya untuk mengambil organ hatinya. Setelah itu keinginan itu ditahannya, melihat Seungyeon yang masih sangat bersemangat dalam meraih mimpinya dan membahagiakan orangtuanya di desa membuat.

Tetapi ada satu bayangan buruk yang tidak bisa—atau tidak mau—ia tinggalkan. Mengambil hati Jiyeon, adik keduanya.

Sejak seminggu lalu ia dan Jiyeon sering mengadakan ‘perang’ di gudang di ruang bawah tanah rumah mereka. Mereka berdua saling berperang untuk membunuh satu sama lain walaupun semuanya akan berakhir karena Jiyeon menangis dan Sungjoo putus asa.

Waktu Saeron tidak banyak lagi—ia tahu itu, dan Jiyeon juga lebih tahu—tetapi organ yang dibutuhkannya tidak juga datang membantu. Satu-satunya harapan tinggal keluarga yang tersisa, Jiyeon atau Sungjoo.

Orangtua mereka? Tidak ada. Mereka sudah Sungjoo anggap tidak ada semenjak berpisah.

 

Satu pesan kembali masuk ke ponsel Sungjoo, menyadarkan dirinya dari lamunan sadisnya.

 

From : Saeronnie~
Oppa, aku muntah darah lagi. Otokhae T.T

 

“ARGH!!” Sungjoo menyerah. Kali ini tidak ada belas kasihan. Ia harus membunuh Jiyeon, atau membiarkan dirinya merasa bersalah seumur hidupnya.

 

****

 

Sungjoo memeluk Saeron yang masih berlutut di depan kloset, memuntahkan banyak darah semenjak beberapa menit yang lalu. Jiyeon sudah menangis tidak karuan diluar, dan Saeron pun sudah kepayahan untuk sekedar membuka mulutnya.

Oppa…” panggil Saeron lirih. “A-aku… tidak…. mau…. sakit…”

Tangis gadis kecil itu pecah, tubuhnya melemas dan membiarkan darah keluar dari mulut dan lubang hidungnya membasahi kemeja biru milik kakak laki-lakinya. Sungjoo ikut menangis dengan sedikit emosi di dadanya.

 

 

“Pangeran berlutut pada putri Odette sebelum matahari terbit, dan saat itulah kutukan angsanya menghilang.”

 

Saeron tersenyum di balik dada Sungjoo yang sedang membacakan akhir dari cerita Black Swan. Membayangkan dirinya adalah Putri Odette yang menerima cinta tulus dari sang pangeran dan kutukan akan penyakit livernya akan menghilang bak gelembung di udara. Kemudian tusukan pelan dari Jiyeon menyadarkan fantasinya, membuat Saeron hampir berteriak saking kagetnya.

Eonni!” Saeron tersenyum lebar. “Apa Eonni punya pangeran?”

“H-Hah? Hahaha…” Jiyeon hanya tertawa kecil, mencubit pipi Saeron dengan gemas. “Pangeran hanya ada di buku, Saeronnie…”

Saeron menggeleng sembari mengerucutkan bibir, kemudian menatap Sungjoo yang sedang asyik memerhatikan bagian belakang kepala Saeron.

Oppa!” panggil Saeron tiba-tiba. “Oppa pangeranku, ‘kan? Kalau begitu Oppa berlutut, siapa tahu kutukanku hilang.”

Glek.

Glek.

Dua orang sama-sama menelan ludah. Sungjoo sontak melirik Jiyeon, dan Jiyeon pun ikut melirik kakak tertuanya sembari meremas sprei. Sebentar lagi akan ada perang besar, keduanya sangat mengetahui itu.

Setelah itu Sungjoo mengalihkan tatapannya, menatap Saeron yang sudah berdiri di depan kasur sambil berkacak dada.

“Baiklah, Pangeran Sungjoo akan berlutut di depan Putri Saeron untuk menyuruhnya tidur. Call?

Saeron kembali mengerucutkan bibir. “Tidak usah. Aku akan tidur saja siapa tahu pangeran datang ke mimpiku.”

Sungjoo tertawa kecil, menyambut adik kecilnya ke dalam pelukan. “Baiklah, bermimpilah sepuasmu. Oppa tetaplah pangeranmu.”

 

****

 

“Kim Jiyeon.”

Jiyeon menghentikan tangannya yang sedang mengaduk kopi untuk dijadikan teman mengerjakan tugasnya.

“Kita harus berkorban.”

Jiyeon melempar sendok yang dipakainya mengaduk ke westafel, kemudian membalikkan badan dengan sedikit rasa curiga yang membuncah di dadanya. Jantungnya berdegup kencang kala melihat kotak putih bertanda plus berwarna merah di tangannya.

“Kenapa harus aku?” tanya Jiyeon, sedikit bergetar dalam suaranya. “Kau bilang kau sangat mencintainya, ‘kan? Kau….. kau bilang kau mau berkorban apapun untuknya.”

Sungjoo menghela nafas. “Aku tidak mau membahas itu disini, Kim Jiyeon. Ini dapur, dan tidak menutup kemungkinan Saeron mendengar—“

“Apa aku sepeduli itu? Kubiarkan ia mendengar ocehan Oppa-nya yang tidak berguna ini.”

PRANG!

Sebuah gelas langsung dijatuhkan dari meja makan.

“Baiklah. Kau khawatir aku tidak mengerti prosedur mengoperasi? Oke, aku bisa membayar banyak dokter untuk membedahmu dan Saeron bersama. Kau tidak usah khawatir, Oppa.”

Sungjoo tersenyum dingin. “Saeron sangat membutuhkanku, Kim Jiyeon.”

“Saeron juga membutuhkanku, Kim Sungjoo.”

“Dia jauh lebih membutuhkanku, karena aku kepala keluarga kalian semenjak Kim Joonjae dan Park Minhyun berpisah…” Sungjoo mengambil satu gelas lagi dari tengah meja, kemudian memutari bulatan gelas itu dengan jari telunjuknya.

“….kau tidak bisa apa-apa, Kim Jiyeon. Kau hanya gadis SMA, tidak lebih.”

Jiyeon mengambil satu benda dari jangkauannya dengan asal, dan beruntunglah ia mengambil sebuah pisau buah yang kecil.

“Kim Jiyeon, letakkan itu…” Sungjoo bangkit dari kursinya, melihat Jiyeon sudah mengarahkan benda itu ke hadapannya.

“Aku tidak peduli, aku akan melakukan apapun agar aku bisa hidup. Aku bisa mencari uang sendiri dengan bekerja, entah pekerjaan apa itu akan aku jalani demi melanjutkan hidup kami..” Jiyeon terus berjalan maju mengikuti arah langkah Sungjoo.

“Kim Jiyeon, jangan bercanda! Kita bisa melakukan ini di bawah, ‘kan?”

Jiyeon meringis dingin. “Jangan bercanda, kita sudah sampai disini.” Ruang tamu.

Sungjoo menghentikan langkahnya, berharap Jiyeon juga akan menghentikan langkahnya. Sayangnya gadis itu malah langsung berlari menerjangnya. Sungjoo dengan sigap menangkap pisau itu dengan tangan kirinya, membuat bagian berharga dari tubuhnya itu mengucurkan darah segar. Ia bertekad akan berizin pada dokter ketua sampai sembuh nanti.

“Jiyeon-ah, hentikan!” Sungjoo langsung mendorong Jiyeon ke sofa. Nafasnya langsung terengah dan darahnya makin deras bercucuran.

Jiyeon kembali melancarkan aksinya, mengambil pisau yang sempat raib dari tangannya dan menerjang sang kakak membabi buta. Sungjoo bisa menghindar, setelah itu kembali mengerahkan tenaganya untuk mendorong Jiyeon kemanapun—dan dipilihlah meja di depan sofa.

Sungjoo langsung menindih kaki kecil Jiyeon, mengunci tangan Jiyeon dan mencoba melepaskan pisau buah itu dari tangannya. Berhasil, dan kini mereka berdua ada di posisi yang sangat tidak baik.

Sungjoo diatas dengan pisau buah di tangan kanannya.

“Tidak mungkin kan aku kalah, sekarang?” Sungjoo tertawa kecil menatap Jiyeon yang sudah tidak berdaya di bawahnya.

“Brengsek!” teriak Jiyeon.

Sungjoo menggeleng. “Kalau aku brengsek aku akan lebih dulu merobek bajumu sebelum berada di posisi ini.”

Jiyeon mencoba melepaskan dirinya dari Sungjoo, tetapi yang didapatnya hanyalah tenaganya yang terkuras.

“Ada pesan terakhir?”

Jiyeon menatap manik Sungjoo lekat-lekat, membiarkan fantasinya bekerja sebelum dirinya benar-benar akan lenyap dari dunia ini. Demi Saeron, bisa saja ia membunuh dirinya. Tetapi ia tidak mau mati di tangan lelaki ini, kakaknya sendiri.

“ARGHHHH!!!”

Jiyeon langsung membalik keadaan setelah tenaganya kembali terkumpul. Kini ia dan Sungjoo berada di bawah antara kaki meja dan kaki sofa. Bagian atas pisau buah itu sudah dikuasai Jiyeon, tinggal membalik keadaan untuk menancapkan benda itu ke dada kakaknya.

“Ada pesan terakhir?” tanya Jiyeon, membalikkan ucapan Sungjoo.

Sungjoo menelan ludahnya. Ketakutan menjalari tubuhnya dan mengalir lewat darah yang berdesir dari ujung kepala hingga kakinya. Tetapi sekali lagi ia ingin hidup, ia ingin selalu ada untuk Saeron dan bertahan hidup.

“Hitungan ketiga, pesan terakhir tertutup untukmu,” ucap Jiyeon yang ternyata sudah memegang kendali atas pisau buah itu. “Satu..”

Sungjoo pasrah, tetapi ia tetap ingin hidup. Setidaknya kalau ia mati jangan di tangan adiknya.

“….dua….”

Sungjoo menelan ludahnya, menghela nafas dan memejamkan mata sekilas.

“Saeron—“

“…tiga—AHHHHHHH!”

Semuanya terjadi sangat cepat. Jiyeon yang sudah tidak bernyawa di atas dadanya, darah yang membasahi kaus polo kesayangannya, dan Saeron yang menatap datar ke arahnya dengan pisau daging di tangannya.

“Kim Saeron, letakkan itu, anak manis…” Sungjoo menyingkirkan tubuh Jiyeon yang masih mengejang. “Saeron-ah…”

Saeron dengan tatapan dingin bukanlah Saeron yang dikenal Sungjoo, dan Sungjoo sadar kalau itu bukanlah Saeron, tetapi bukan juga dirinya yang lain.

 

Itu hanya Saeron yang mengerti semuanya…

 

“Aku punya dua kakak, dan kedua kakakku tidak mau mengorbankan dirinya untuk adiknya…” Saeron tersenyum dingin. “….selama ini kalian melakukan ini? Di bawah tanah?”

“Saeron-ah, dengarkan Oppa…”

“Tidak perlu, aku sudah tahu semuanya…” Saeron menyeka air matanya kasar, kemudian mengarahkan pisau daging itu ke arah Sungjoo yang mendekat.

“Aku sangat menyayangi kalian, tapi kalian tidak menyayangiku.”

“Itu salah, Saeron-ah..” Sungjoo menengok ke belakang, melihat seonggok tubuh yang sudah kehabisan waktu terkulai di atas sofa. “Jiyeon… Jiyeon sudah mengorbankan dirinya untukmu. Kau mau kan dioperasi besok? Hm?”

Saeron tidak tahan lagi. Seakan dirinya dikuasai makhluk kejam yang tidak dikenal, tubuh Sungjoo yang semula utuh dengan satu lecet di telapak tangan kirinya kini sudah hancur di depannya. Wajahnya sudah tidak dikenali, satu tangan hampir terputus dari lengannya, dan isi perutnya sudah tercecer di sekelilingnya.

“H-halo, polisi?”

 

****

 

Saeron menangisi dua gundukan di depannya. Tangannya yang masih terbalut cairan infus sibuk mengatur bunga lili putih untuk dihias di atas gundukan-gundukan itu.

Saeron sudah kembali menjadi gadis sehat, dengan kutukan penyakit yang sudah dicabut dari dirinya. Saeron seharusnya berterimakasih, namun tidak mungkin ia berterimakasih karena ditinggalkan sendiri.

Eonni, Oppa, aku sudah sembuh. Kita…. akan ke Amusement Park, ‘kan?” ucap Saeron pada dua batu nisan bertuliskan ‘Kim Sungjoo’ di bagian kiri dan ‘Kim Jiyeon’ di bagian kanan.

“Aku mau bermain roller coaster. Pasti Jiyeon Eonni akan muntah-muntah hebat, dan Sungjoo Oppa tidak berhenti berteriak.” Saeron tersenyum mendengar fantasinya sendiri. “Aku benar kan?”

Saeron meletakkan bunga-bunga itu di atas gundukan milik Jiyeon, kemudian memeluk gundukan itu dengan air mata yang menetes deras dari pelupuk matanya. Hal itu juga dilakukan pada gundukan disampingnya.

“Aku tidak akan melupakan Oppa dan Eonni yang sudah berjasa…” Saeron tersenyum, kemudian mencoba berdiri, dibantu dua wanita berseragam biru disampingnya.

“Nona Kim Saeron, anda bersalah atas pembunuhan Kim Jiyeon dan Kim Sungjoo.”

 

…..

 

.fin

 

Ini… apa ini?! Hahaha

Entahlah saya terlalu sering berada di zona nyaman dengan fic romance-angst-comedy yang ga ada enaknya jadi pas buat yang diluar genre itu kacaunya mampus. Maapkeun aku Kak Maura (wish i’m younger xD)

Maaf ya kalo hasilnya ga memuaskan begini, boleh blame saya dengan apapun TT ga ada horor, karna saya takut sendiri jadi ganti psycho deh xD ((plak))

Makasih udah request ke aku ya kak ^^

Okay, thankyou buat yang udah sempetin baca. Semoga amal kalian diterima saya(?) ((gak))

Akhir kata, annyeong~

4 thoughts on “[Request] Our Lovely Sister (Oneshot)

  1. didipangpang

    AWW GEWLA ITU ADEK KAKAK PUNYA BAKAT PSIKOPAT APA GIMANA/?? wkwk keren ini thor ff nya*-*, makasih banyak loh/? Ngebayangin si melon dibunuh dengan isi perut berserakan /gg. Keren lah thor keep writing!^^ btw aku 02line muehehe:v

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      entahlah keluarga gila memang hm…😦
      sekali-kali jojo nista kan tdk apa-apa… itu bagus untk kesehatan😦 makasih udah baca yaa<3<3

      duh ternyata saya tua lagi :(( oke :((

      Reply
    1. LaillaMP Post author

      slr duh padahal udah liat komenannya dari kapan tapi baru sempet bales ((maklum jari kegedean buat di qwerty hape))

      padahal ga terlalu psiko karna takut sendiri bayanginnya ((plak)) syukurlah kalo berfeel kkk…. thanks for reading yaa~~^^

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s