[Request] Let You Go (Oneshot)

25[poster by CHAERIM ON POSTER DESIGN ART
Thankyou for the amazing poster ><]

Title : Let You Go

Genre : School-life, Hurt, Friendship, Romance

Length : Oneshot [2,4k+ words]

Author : LaillaMP (@geonichirou)

Cast(s) : Han Sanghyuk (VIXX), Jung Daehyun (BAP), Yoo Eunhyun (OC) and special appearance by Yoo Youngjae (BAP)

This fic was requested by Dinda Syafira.

Hope you enjoy this and sorry for long waiting~ ^^

****

Seorang gadis memandang kosong ke arah guci yang diletakkan di atas meja. Air mata terus mengalir dari kelopak matanya, namun tidak ada suara isakan atau bahkan kedipan selama beberapa saat.

Sanghyuk, sahabat dari gadis yang sedang tertekan itu mendekatinya, membelai rambut hitam gadis itu dan kemudian meremas bahu kanannya. Kepalanya ditempelkan pada kepala gadis itu, berusaha mengatakan kata-kata penghibur yang tidak bisa Sanghyuk ucapkan melalui mulut.

“Kami bahkan belum berjalan sampai satu bulan, kenapa Tuhan mengambilnya lebih dulu..” Yoo Eunhyun, nama gadis itu, kembali terisak.

Sanghyuk mengeratkan tangannya pada bahu kanan Eunhyun. “Tuhan menyayanginya, Hyun-a..”

“Tetapi Tuhan tidak menyayangiku! Kenapa harus Daehyun?!” Eunhyun melepaskan dirinya dari cengkraman Sanghyuk. Gadis itu menatap ke sekeliling orang yang menatapnya heran, kemudian fokusnya tertuju pada satu gadis seusianya bersama kedua orang dewasa diantaranya.

“Kau…” Eunhyun tidak menunjuk siapa-siapa, namun tatapan matanya hanya mengarah pada gadis seusianya itu. “Kenapa kau tidak menggantikannya di dalam guci itu?”

“Eunhyun-ah..” tangan Sanghyuk langsung ditepis Eunhyun sebelum sampai ke pundaknya.

“Kau tahu, berkendara memang menyenangkan, dan membunuh orang juga jauh lebih menyenangkan. Kenapa kau tidak membunuh orang lain saja? Aku contohnya?” Eunhyun terus mengoceh, membuat Sanghyuk dan Youngjae—kakaknya—membungkuk dalam untuk meminta maaf.

“Sekarang bunuh aku, agar aku bisa bersama Daehyun pergi ke surga. Ayo, mana kunci mobilmu? Ayo tarik aku dan bunuh aku,” Eunhyun menghapus air mata dari pipinya dengan kasar. “ayo, kau berani? BERANI TIDAK?!”

Sanghyuk langsung menarik tubuh Eunhyun menjauhi ruang tamu. Eunhyun meronta, melayangkan kata-kata kasar kepada orang yang tidak sengaja membawa Daehyun menuju maut. Kakinya menendang-nendang udara, membuat Youngjae yang sedang membungkuk meminta maaf langsung mengikat kakinya dengan tangannya.

“AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU! DENGARKAN ITU KIM YOUNGJI!”

****

Eunhyun melangkahkan kakinya kembali ke bukit belakang sekolah, mencari tempat yang sudah ia tandai bersama Daehyun dengan pita kuning. Setelah menemukan tempat yang dimaksud, gadis itu tersenyum kecil mengingat kenangannya. Kemudian Eunhyun berjalan pelan menuju tempat berpita kuning.

“Lama sekali!” teriak Eunhyun pada sesosok lelaki yang terengah-engah di belakang.

“A-Ap-pa?” benar-benar tersengal.

Eunhyun tersenyum simpul, kemudian menyingkap roknya dan mulai duduk dengan manis di sebelah pita kuning yang diikatkan ke sebatang kayu.

“Kau lelah?” tanya Eunhyun, mencoba untuk menggoda lelaki itu.

“Tidak!” Han Sanghyuk, lelaki itu langsung berdiri tegak, berjalan gagah menuju tempat duduk Eunhyun. Setelah itu ia mulai batuk-batuk kecil. Ternyata keputusannya sangat salah mengajak Eunhyun berlari ke bukit yang tinggi ini.

“Baguslah,” nada bicara Eunhyun mulai menurun, dan itu berarti keadaan kembali.

Sudah 4 bulan Jung Daehyun meninggalkan gadis itu, dan sang gadis belum juga bisa melupakan kepergiannya yang sangat mendadak. Hari itu Hari Sabtu, hari yang paling indah bagi siapapun yang berpasangan. Setelah mengantarkan Eunhyun pulang, Daehyun mencium keningnya. Mengatakan ia tidak boleh memacari lelaki selain dia. Cih egois sekali, pikir Hyuk yang saat itu mengintip melalui pohon cemara di depan rumah Eunhyun.

Tidak ada yang tahu memang umur seseorang, begitu pun Daehyun yang baru menyematkan lamaran di kening Eunhyun. Belum sempat rona merah itu pudar, berita yang buruk datang. Kim Youngji, teman sekelasnya menelpon dan mengatakan Daehyun sedang kritis di Rumah Sakit. Tepat saat Eunhyun baru keluar dari taksi Youngji kembali menelepon, mengabarkan bahwa Daehyun sudah tidak bernyawa lagi.

Bayangkan betapa sakitnya hati Eunhyun saat itu. Disaat seluruh gadis berpikir ialah yang paling beruntung karena telah menerima kecupan singkat di dahi oleh pacarnya, pacarnya malah meninggalkannya lebih dulu. Eunhyun tidak menangis saat itu, hanya saja lututnya melemas dan tidak mampu menggerakkan seluruh tubuhnya.

Eunhyun baru menangis ketika jasad Daehyun sudah menjadi butiran abu yang ditempatkan di dalam guci antik milik neneknya. Tidak ada lagi ikatan pertemanan antara Yoo Eunhyun dan Kim Youngji. Kedua gadis itu sempat bertengkar beberapa kali sampai wajah mulus Youngji tercoreng cakaran kuku panjang Eunhyun.

“Kukira aku tidak bisa merelakannya pergi,” ucap Eunhyun setelah terjadi keheningan panjang.

Hyuk menoleh ke arah Eunhyun yang sedang menatap pemandangan di depannya dengan tatapan kosong. Tentu saja, Hyuk menjawabnya dalam hati. Tetapi ia tidak mau Eunhyun terus berada dalam kesedihan seperti ini. Insting lelakinya selalu jalan, apalagi setelah ia menyadari ada perasaan lain dalam dirinya.

Dimulai ketika Eunhyun mulai mengunjungi meja Daehyun untuk mengajaknya berkenalan, berlanjut pada ‘jalan’ pertamanya ke kantin sekolah dan membeli tteok, dan berakhir dengan segala kicauan tentang Yoo Eunhyun yang menyukai Jung Daehyun. Hyuk terus berada disamping gadis itu, bahkan ketika hatinya tercabik keras mendengar kata ‘suka’ atau ‘cinta’ terlontar dari bibir gadisnya.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Eunhyun yang sedang menatapnya bingung. Mungkin gadis itu telah melontarkan pertanyaan yang tidak didengar Hyuk sama sekali.

“Tidak apa-apa,” balas Hyuk sambil menggeleng. Hyuk baru melihat ada bekas genangan air di sisi mata Eunhyun. Mau tidak mau insting lelakinya kembali berjalan.

“Mau bermain?”

Eunhyun menghapus genangan air yang masih tersisa di wajahnya, kemudian menatap kesal ke arah lelaki itu. Mana mungkin seorang lelaki menyuruh seorang gadis bermain dengannya saat ia sedang terluka?!

Tiba-tiba bibir Hyuk mendekat ke telinganya, membisikkan kata-kata yang hanya terasa seperti udara panas di sekujur tubuhnya. Setelah itu Hyuk melesat jauh, meninggalkan Eunhyun yang masih terbengong dengan tingkahnya.

Yang paling terakhir sampai bawah traktir jajangmyun!

Eunhyun jelas tidak ingin kalah sedikitpun dari lelaki itu, biarpun mereka telah bersahabat sangat lama. Akhirnya demi sepeser uang berharganya ia rela mengejar Hyuk yang telah menghilang dibalik semak belukar.

****

Eunhyun merapikan dasi birunya yang baru ia pasang di atas kerah bajunya. Gadis itu kemudian mematutkan dirinya sekali lagi di atas cermin, membuat ekspresi riang seperti biasanya. Ia tidak seriang itu sebenarnya, hanya saja kali ini ia sedang bermain ‘drama’, ‘drama’ yang dibalut dengan kenyataan pahit.

“Hyun-ah!” ibunya melambaikan tangan, menyuruhnya untuk cepat berkumpul di meja makan dan menikmati roti bakar berbagai rasa ala ibunya.

“Heboh sekali,” balas Eunhyun sarkatik setelah duduk di singgasananya. “Selai cokelat putihku mana?”

Ibunya menggeleng, menatap ayah dan kakaknya untuk mengirimkan sinyal ‘anak ini benar-benar…’ kepada mereka. Youngjae tidak menghiraukannya, sedangkan ayahnya hanya tersenyum simpul.

Setelah menghabiskan sarapannya, Eunhyun langsung melesat pergi, tidak ingin berangkat bersama kakaknya yang super terkenal itu. Bisa-bisa fans Youngjae—kakaknya—menutupi jalan menuju kelasnya.

Halte tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Eunhyun, dan gadis itu senang sekali berjalan-jalan pagi sembari stretching tidak jelas. Ia juga sering melompat-lompat untuk menambah tinggi badannya. Kadang-kadang ia melompat untuk mengambil daun cemaranya yang tinggi, atau daun-daun lain yang entahlah kenapa bisa tertanam di sepanjang komplek perumahannya.

Aku ingin begini aku ingin begitu…” seperti biasa Eunhyun juga tidak melupakan jingle-nya selama ini.

“….ingin ini ingin itu banyak sekali…” dan jingle kesayangannya dilanjutkan oleh sebuah suara….

Ya!” Eunhyun langsung membenturkan buku fisika tebalnya ke pundak si pemilik suara itu.

Hyuk tertawa kecil, menyamakan langkahnya dengan langkah kaki gadis kesayangannya. Sampai saat ini Eunhyun tidak tahu kalau Hyuk diam-diam sering mengikutinya kemanapun ia pergi.

Dan mungkin sampai saat ini Hyuk tidak tahu, kalau ia sedang memikirkan kembali ciuman pertamanya dan ‘lamaran’ itu.

****

“Eunhyun-ah!” teriak ibunya dari dapur.

Eunhyun yang sedang menyisir rambutnya mendadak berhenti, kemudian menyahut, “Ne, Eomma,” dan melanjutkan kegiatan kewanitaannya.

Eunhyun merapikan poninya yang sudah memanjang. Poni itu sempat disentuh tangan hangat Daehyun yang menyingkapnya untuk mencapai keningnya. Kenangan yang sangat indah nan menyakitkan itu kembali terlintas di pikirannya.

“Eunhyun-ah, sudah ditunggu Hyuk dibawah!!!” kali ini suara ibunya meninggi sampai 3 oktaf. Eunhyun bersumpah melihat kacanya bergetar tadi.

“Sebentar lagi, Eomma! Aku sedang menyisir rambut!” karena tidak mau merapikan poninya, Eunhyun pun hanya mengikat asal rambutnya ke belakang.

Tidak ada yang dikatakan Eunhyun setelah dirinya sampai di ruang tamu dan menemukan Hyuk sedang tersenyum samar ke arahnya. Sepertinya ada yang aneh, pikir Eunhyun. Tapi ia tidak terlalu peduli karena perutnya sangat keroncongan sekarang.

Kedua insan itu akhirnya berjalan bersama ke halte. Agak aneh sebenarnya berjalan bersama orang yang sedang ia pikirkan sampai tidak bisa tidur nyenyak beberapa malam. Eunhyun merasakan udara yang mengenai kulitnya memanas tiap detiknya.

“Kau…. tidak tahu siapa aku?” tanya Hyuk yang bersuara agak berat. Eunhyun menggeleng, suara Hyuk memang berat dari dulu.

“Jangan bercanda,” balas Eunhyun malas. “Sudah mengerjakan tugas kimia?”

“Tebak dulu siapa aku.”

Eunhyun menghentikan langkahnya, menatap Hyuk yang sedang menatapnya dengan senyum manis dan mata menyipit. Entah kenapa hanya satu yang dipikirkan Eunhyun saat ini.

“D-Daehyun?” pekik Eunhyun, kemudian menggeleng. “Tidak. Tidak, Hyuk, jangan berakting aneh seperti ini lagi!”

Eunhyun kemudian berjalan cepat, menggelengkan kepala agar air matanya tidak tumpah sampai ke jalan.

“Benar, aku Daehyun. Jung Daehyun, milikmu.”

Suara berat itu kembali menghentikan langkah Eunhyun. Eunhyun tahu persis bagaimana suara Daehyun, bahkan saat ia meminjam suara orang. Tapi… apakah benar itu Daehyun?

“Jangan bercanda. Tidak perlu berakting menjadi Daehyun untukku,” kata Eunhyun tanpa membalikkan badannya. Air matanya sudah turun dan menetes ke atas sepatu hitamnya.

Sebuah pelukan hangat menjalari tubuhnya, membuat Eunhyun tidak mau menghentikan tangisnya saat ini juga. Kalau boleh ia berharap, ini benar-benar Daehyun yang sedang meminjam tubuh Hyuk untuk memberitahunya sesuatu. Eunhyun juga ingin membicarakan sesuatu dengannya.

****

“Makan,” Hyuk alias Daehyun memberikan kue beras pada Eunhyun yang hanya dibalas tatapan yang tidak dimengerti olehnya.

“Kenapa? Kau sudah tidak suka tteok lagi?” tanya Daehyun bingung.

Eunhyun menggeleng sembari mengulum senyum. Bagaimana ia tidak menyukai makanan legendaris yang membuat mereka jadi dekat satu sama lain?

Tteok-nya masih enak. Yoon Ahjumma memang juara dalam membuat tteok,” Daehyun sudah menghabiskan beberapa bungkus kue beras. Eunhyun benar-benar ingin menangis sekarang, tetapi ditahannya demi Jung Daehyun yang sedang mendiami tubuh Hyuk.

“Mau ke bukit belakang sekolah setelah pulang?” Eunhyun membuka suara, membuat Daehyun yang sedang melahap kue berasnya yang ke-sekian menghentikan kunyahannya. “Ada yang ingin kukatakan.”

Daehyun memiringkan kepala sejenak, kemudian menggeleng dan melanjutkan kegiatan makannya.

****

Bukit belakang sekolah masih sama, itulah yang dipikirkan Daehyun yang sedang berada di tubuh Hyuk. Daehyun mengeluhkan tubuh Hyuk yang sangat berat sehingga baru beberapa anak tangga dilewati nafasnya sudah tersengal dan terbatuk tidak jelas. Padahal Eunhyun sudah berada jauh di depannya.

“Tubuh anak itu memang susah, maafkan ya,” kata Eunhyun padanya.

Daehyun hanya tersenyum, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Eunhyun.

“Yang lebih dulu sampai harus dapat es krim?” tawarnya pada Eunhyun yang sudah tepat berada disampingnya.

Eunhyun menatapnya mantap, kemudian mengangguk dan berlari meninggalkan Daehyun. Daehyun dalam tubuh Hyuk pun harus bersusah payah mengejar, benar-benar hari yang sial.

Sore ini sangat terik, tipikal sore di musim panas. Eunhyun sudah berada di sebelah kayu berpita kuning yang mereka ikat sebagai tanda cinta dan tanda kepemilikan. Eunhyun suka warna kuning, dan Daehyun menyukai kayu yang telah jatuh tetapi masih sangat kuat.

“Duduklah,” Eunhyun sudah menepuk tempat disampingnya.

Daehyun tersenyum, kemudian langsung merebahkan dirinya disamping Eunhyun. Setelah itu dijulurkan tangan kanannya untuk dijadikan bantal bagi Eunhyun.

Eunhyun membalasnya dengan senyum, kemudian ikut merebahkan diri disamping tubuh Hyuk. Agak aneh memang melakukan adegan drama ini dengan orang selain Daehyun.

“Kau ingin mengatakan apa?” tanya Daehyun akhirnya.

Matahari hampir tenggelam, itu artinya ia harus kembali ke alamnya dan mengembalikan Hyuk kembali ke raganya.

“Aku….” Eunhyun terlihat ragu. Matanya terus menatap langit yang menuju kejinggaan. “Kau dulu saja.”

Daehyun menggeleng. “Ladies first.”

Baiklah…. Eunhyun menarik nafas, kemudian mengeluarkannya lagi dengan pelan. “Aku…. menyukai Hyuk.”

Daehyun termangu, matanya berkedip sebentar, kemudian tidak berkedip lagi sampai 10 detik kemudian. Merpati-merpati putih terlihat beterbangan di atas pandangannya. Daehyun benar-benar harus kembali ke alamnya.

“Benarkah?” tanya Daehyun sembari menatap Eunhyun yang kini sedang menangis menatapnya.

“Aku menyukainya, tetapi kau bilang aku tidak boleh berpacaran dengan yang lain,” Eunhyun menonjok pelan bahu tubuh Hyuk. “kau sangat jahat, tahu.”

Daehyun memejamkan mata, kemudian menghela nafas panjang. “Ya.”

“Kau mengakui dirimu jahat?”

Daehyun menggeleng sembari mengacak rambut Eunhyun. “Aku merestui kalian berdua. Aku tidak akan menghalangi kalian berdua.”

Eunhyun terdiam, sedikit air mata turun dari pelupuk mata kirinya.

“Sejak kapan?” tanya Daehyun lagi. Walaupun hatinya sakit, tetapi membiarkan Eunhyun terluka akan lebih menyakitkan. “Sejak kapan kau menyukai Hyuk?”

Eunhyun menghela nafas. “Entahlah. Dia selalu ada untukku, dan aku mengubah pemikiranku tentangnya..” Eunhyun tertawa pilu. “Maafkan aku, Daehyun-ah.”

Tangis Eunhyun kembali pecah. Tangisan ini pernah Daehyun lihat saat pemakamannya, saat itu ia terus berada disamping Eunhyun dan mencoba menenangkannya. Sayangnya dirinya tinggal seonggok arwah tak terlihat.

“Daehyun-ah, tetapi aku…” Eunhyun melihat tatapan Daehyun mulai memudar. Perlahan terlihat raut lelah Hyuk di wajahnya. “D-Daehyun?”

“Aku masih disini,” kata Daehyun. Matanya mulai menutup, kemudian kembali membuka dengan berat.

Bibir Daehyun—ah, Hyuk, mendekat ke arahnya. Eunhyun mencoba terus membuka matanya dan mengumpulkan kesadaran, tetapi pada akhirnya ia menyerah dan menutup matanya. Dirasakannya angin-angin sejuk dan kicauan burung camar yang menghiasi langit. Bibir Hyuk masih menempel di bibirnya, menghasilkan sengatan energi yang tidak ia ketahui komposisinya. Hati Eunhyun terasa agak sesak, mengingat ini adalah pertemuan mereka yang benar-benar terakhir. Daehyun tidak akan muncul lagi di masa depan.

Tetapi Eunhyun juga sangat lega, karena Daehyun memberikan ciuman terakhirnya melalui Hyuk. Eunhyun bisa merasakan darahnya berdesir cepat, tetapi ia hanya menikmati ciuman manis itu. Ia tidak akan melupakan sore yang indah ini.

****

Hyuk terus mencuri pandang ke arah Eunhyun yang juga kepergok mencuri pandang ke arahnya. Hyuk tersenyum, tetapi tidak mampu melupakan apa yang telah ia—maksudnya Daehyun—lakukan dengan tubuhnya.

“Apa?!” akhirnya Hyuk dan Eunhyun mengucapkan kata yang sama. Beberapa anak di kelas yang kebetulan mendengarnya langsung menoleh ke sumber suara.

Nyatakan sekarang, atau tidak sama sekali!

Kata-kata Daehyun di mimpinya terasa sangat nyata. Ia memang mengatakan menyukai Eunhyun di mimpi. Apa mungkin itu balasan dari Daehyun?

Dia juga menyukaimu, bodoh! Ayo nyatakan sekarang!

Suasananya persis sama dengan yang di mimpi, hanya saja disini ada beberapa pasang mata yang memerhatikan mereka.

Hyuk menelan ludahnya dengan berat, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kolong mejanya, bunga dan cokelat. Siulan meriah pun langsung dilontarkan para makhluk kelas.

Jangan takut, lakukan saja! Aku tidak akan memberi kesempatan kedua.

Hyuk berjalan menuju meja Eunhyun yang berada di 3 meja belakangnya. Sepanjang ‘perjalanan’ anak-anak kelas berkoor menyanyikan lagu Marry U milik Super Junior. Hyuk tidak ragu lagi, kini ia sudah berada di depan Eunhyun, memejamkan mata sembari menawarkan bunga dan cokelat yang terdengar seperti sales makanan.

“Ya, boleh dipilih bunga atau cokelatnya.”

Tawa seluruh makhluk kelas pun terdengar sampai luar gedung. Eunhyun tidak punya pilihan lain selain tertawa juga, kemudian ia berdiri dan mengambil kedua benda keramat itu.

“Apa bedanya antara bunga dan cokelat?” tanya Eunhyun setelah tawa mereda.

Hyuk menunduk, kemudian kembali menatap bola mata kecoklatan milik Eunhyun. “Cokelat adalah ‘maukah kau menjadi pacarku?’ dan bunga adalah ‘maukah kau menemaniku berjalan di altar?’”

Eunhyun menggigit bibirnya, tidak tahu apa yang harus ia katakan. Air mata sepertinya akan tumpah sebentar lagi. Hyuk langsung merangkulnya, membuat Eunhyun bebas mengeluarkan air matanya sebanyak apapun.

“Aku memilih keduanya, boleh kan?” tanya Eunhyun.

Hyuk mengangguk. “Of course, baby.”

****

“Bunga saja. Eunhyun suka bunga.”

“Tidak, Eunhyun suka cokelat.”

Daehyun dan Hyuk sedang bergulat lidah di depan toko yang menjual barang jagoannya masing-masing. Hyuk tidak pernah tahu Eunhyun suka bunga, yang ia tahu Eunhyun suka makan.

“Dia suka jajangmyun. Haruskah aku melamarnya dengan—“

“Bodoh sekali, sih,” Daehyun menggeleng. “Sudah berikan saja bunga dan cokelatnya. Pilihan bunga untuk menikah dan cokelat untuk menjadi pacar. Aku yakin ia memilih keduanya.”

Hyuk tersenyum lebar, kemudian mengangguk. Sahabatnya memang tidak pernah salah dalam menilai Eunhyun.

“Baiklah.”

 

(((((end))))

 

Wah finally!! Maafkeun daku yang ngaret banget sama fic ini😦

Sejujurnya waktu itu udah setengah jalan, karna sesuatu yang menyebalkan fic ini pun menghilang dari peradaban huks😦

Oke, maaf kalo hasilnya ga sesuai sama yang diinginkan. Semoga kak Dinda yang req ga kecewa ya karna Daehyunnya muncul dalam wujud lain /gak

Oke, akhir kata makasih buat yang udah mampir ke tulisan ini ^^

3 thoughts on “[Request] Let You Go (Oneshot)

  1. DAELOvely11

    Yaamhyuunnn jahatnya dakuu.. aku baru ajaaa ngeliat ff ini stlah berbulan2 hiatus dr peredaran kpop😭😭😭
    Bagus ihh bagusss 😭😭 sayangnya daehyun matii, bhahahaa 😂gakpapaa 😂😙 suka kokk.. itu kok ya lucu bgtttt kalimatnyaa hyuk jdi sales makanan hehehe 😊😊
    Makasih yaa authornim udah bkinin requestan kuu 😢 kapan2 kapel daehyun sm eunhyun lgi 😂😂 trus hyuknya jdi pngganggu, tp akhirnya ttp aja dae sm eunhyun 😂 abaikaan 😭😂 :v wkwkk… maaf yaaa aku bru liat ff iniii😭😭 makasih banyak jugaa😙😙😂😊😢😂😊terharu nih hehehe 😂

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      Hahahahhaha ga papa kak yang penting dibaca aja udah seneng ke awang-awang xD

      gatau lagi ada dendam kesumat apa sama masdae jadi dibuat mati dulu dia /kemudian digeplak sapu ijuk/

      Sama-samaa ya makasih juga udah dibaca dan maaf kalo ceritanya gak jelas gini /.\ bisa bisaa bisa diatur kalo rikuesan udah terpenuhi semua ‘-‘ heheheheh

      Reply
      1. DAELOvely11

        Wkwkkk :v

        Dendam dae makin hari makin cakep xD

        Ohh bisaaa? *0* yeah :v gk nge-req aja aku ttp baca, apalagi yg ku-req ^^ ga papa, bgus aja kok, gak gaje.. hehehe.. okee semangat^^ fightingg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s