[Series] God’s Child :: Heracles

untitled-21[Poster by selviakim @ Poster Channel]

Title : God’s Child :: Heracles

Genre : Myth, Family, A bit angst, A bit comedy.

Length : Series (Part 1/2)

Main Cast : Kim Donghyuk (iKON)

Another Cast : Kim Hanbin & Koo Junhoe (iKON), Lee Hayi

based on famous mythology, Heracles with some change(s)
Enjoy~

****

 

Donghyuk bukan anak Hayi dan Hanbin

 

Eomma!” teriakan manis terdengar dari depan pintu. Hayi, si pemilik rumah yang sedang merajut menghentikan aktivitasnya, membukakan pintu untuk anak manisnya yang sudah selesai berburu rusa untuk makan malam.

 

“Mengalahkan singa lagi?” tanya Hayi sambil membelai wajah sang anak. Kim Donghyuk. Anak itu hanya tersenyum.

 

“Singa di hutan makin banyak, Eomma. Karena mereka kalah tarung denganku akhirnya mereka membantuku memburu rusa-rusa ini,” Donghyuk menceritakan aktivitas lalunya sembari berjalan menuju meja dapur. “Oh iya, Eomma, aku melihat naga berkepala dua. Apa Eomma melihatnya kesini?”

 

Hayi mengernyit, kemudian menggeleng ragu mendengar pertanyaan bocah 13 tahun yang sedang asyik-asyiknya berimajinasi.

 

“Kau lapar, ‘kan? Eomma buatkan makanan dulu, oke? Oh iya, cari ayahmu sekalian untuk makan bersama.”

 

Donghyuk mengambil segelas air, kemudian meletakannya lagi setelah menghabiskan segelas air itu dalam satu tegukan. Hayi menggeleng sembari tersenyum, menyaksikan keajaiban yang dialami Donghyuk semasa hidupnya.

 

****

 

Donghyuk sebenarnya bukan anak kandung Hayi dan Hanbin, suaminya. Donghyuk ditemukan oleh Hanbin ketika sedang mencabuti rumput liar di hutan milik Juragan Song. Donghyuk kecil yang malang tidak menangis, malahan tertawa-tawa senang melihat Hanbin yang menatapnya iba. Akhirnya Hanbin pun membawanya pulang, kebetulan mereka tidak punya anak dan betapa senangnya Hayi saat itu.

 

“Kita beri nama Donghyuk. Kim Donghyuk. Bagus, ‘kan?” Hanbin tidak akan lupa wajah bahagia Hayi sewaktu menimang bayi temuannya itu.

 

Setelah seminggu hidup bersama, Hayi menemukan kejanggalan pada bayi Donghyuk. Donghyuk kecil sudah bisa duduk di usianya yang baru memasuki 3 bulan. Tubuhnya pun lebih besar dari anak-anak lainnya di desa ini, membuat orang-orang berpikir bayi Donghyuk sudah memasuki tahun pertamanya.

 

Itu tidak terlalu masalah sebenarnya, mengingat Donghyuk hanya besar pada tubuhnya namun masih menjadi bayi mungil untuk pasangan suami istri itu. Kejanggalan lainnya ada pada suatu siang ketika Hayi sedang sibuk membuat kerajinan bersama para ibu di desanya dan Hanbin tentu saja bekerja di hutan Juragan Song. Salah satu tetangga melihat dua ular masuk ke dalam rumahnya, membuat kumpulan ibu-ibu itu berhamburan menuju rumah Hayi. Hayi tidak bisa masuk ke dalam rumahnya karena dihadang tangan ibu-ibu lainnya. Hayi berteriak, putus asa dan marah bercampur satu. Ia ingin mengutuk siapapun yang mengirimkan ular ke rumah mungilnya.

 

Uri Donghyukkie, gwaenchana..” Hanbin tiba-tiba berada disampingnya, menggenggam tangannya dan mengucapkan kata-kata menenangkan. Suaminya itu kemudian meminta izin untuk memasuki rumahnya, mengecek kondisi anaknya yang mungkin sudah menjadi mayat, atau bahkan tidak terlihat jejaknya sama sekali.

 

Hanbin memasuki ruangan Donghyuk dengan hati-hati, tidak mau membuat dua ular yang masuk ke rumahnya tanpa permisi itu balik menyerangnya. Hanbin mengintip sekeliling, takut jika ular-ular itu adalah titipan dewa yang murka padanya. Tetapi tidak ada apa-apa, ruangan Donghyuk tertutup sempurna. Kenapa harus khawatir?

 

Hanbin tertawa, kemudian mendorong pintu kamar si bayi dan menemukan hal yang tidak mungkin bisa dipercaya penglihatannya. Hanbin terdiam sesaat, menatap netra bayi mungilnya yang tersenyum senang melihatnya. Hanbin ingin tersenyum, tetapi ia tidak bisa mengabaikan keheranannya. Bulu kuduknya meremang, memastikan penglihatannya dengan menutup matanya berkali-kali dan membukanya kembali.

 

Itu semua benar. Yang dilihatnya adalah nyata.

 

Donghyuk memainkan dua ular besar itu dengan riang, membanting tubuh ular yang sudah tidak berdaya itu dan menggoyangkan kepala si ular sampai mata ular itu tidak terlihat lagi.

 

“Aku benar..” Hanbin menatap bayi Donghyuk sekali lagi, kali ini cairan bening ikut mengalir dari kelopak matanya. “…kau Heracles, Kim Donghyuk.”

 

****

 

“Donghyuk-ah!”

 

Donghyuk mengalihkan dirinya dari music video yang sedang ditontonnya. Ia tersenyum menatap si pemanggil dengan riang.

 

“Ada apa, Junhoe-ya?”

 

“Pernah dengar tentang kisah Heracles? Kupikir kau anak dewa,” Koo Junhoe, teman sekelasnya tiba-tiba mengatakan dongeng yang sering didengarnya di desa.

 

“Ah, benarkah?” Donghyuk tertawa kecil. “Tidak ah. Aku anak ibu dan ayahku,” Donghyuk mencibir, mengembalikan fokusnya pada video yang sedang ditontonnya.

 

“Kau bilang kau pernah melihat naga berkepala dua, pernah memainkan ular waktu kecil, kau juga bermain dengan singa ketika yang lainnya asyik dengan anak kucingnya. Kau Heracles, Donghyuk!”

 

Donghyuk menggelengkan kepalanya. “Jangan bercanda, aku sedang tidak ingin diganggu,” sedikit demi sedikit terbesit pertanyaan di dalam hatinya. Benarkah ia Heracles? Mungkin saja itu hanya kebetulan, tidak mungkin masih ada Heracles dalam kehidupan nyata di abad 21 ini. Yah, walaupun harus diakui seluruh hal yang disebutkan Junhoe tadi masih merupakan misteri untuknya.

 

“Kau akan menghadapi hal yang sulit, Heracles.”

 

Sepatah kalimat itu membuat Donghyuk melupakan dunianya. Ingatannya kembali saat ayah dan ibunya menatapnya sangat dalam, tersenyum dengan air mata di pipi mereka. Ibunya bilang ia anak yang kuat, bisa menghadapi apapun, dan ayahnya mengatakan akan selalu berdoa untuknya.

 

Donghyuk langsung berlari menuju perpustakaan, mencari buku mitologi yang pernah tidak sengaja jatuh mengenai sepatunya. Saat itu yang ia ingat adalah judulnya, Zeus. Ketika membaca nama itu Donghyuk merasa sedikit pusing, dan berjuta gambaran klise muncul di pikirannya. Sebenarnya… siapa Zeus?

 

****

 

“Aku tidak mau anak itu disini!”

 

Donghyuk membuka matanya, menemukan dirinya berada di dunia yang sangat asing. Ia tidak berada di kasur alotnya, tidak disebelah ular kecil peliharaannya, tidak memakai kulit harimau sebagai selimutnya.

 

“Buang dia!”

 

Donghyuk akhirnya bangun dari tempat asing itu. Tubuhnya tidak sakit lagi, karena kasur itu sangat empuk dan tanpa cacat. Donghyuk segera keluar dari ruangan yang luas itu untuk mencari sumber suara.

 

“Kemana kita akan membuangnya? Memangnya kenapa kita harus membuangnya?”

 

Kali ini suara laki-laki. Bisa dipastikan ini adalah pembicaraan suami istri, tetapi kenapa Donghyuk bisa sampai kesini?

 

“Zeus, dia anak selingkuhanmu. Apakah mungkin aku tinggal bersama anak selingkuhanmu?!”

 

Donghyuk berhasil menemukan celah untuk mendengarkan pembicaraan itu lebih lanjut. Ia bisa melihat seorang laki-laki gagah dengan baju kebesaran rajanya bersama tongkat di tangan kirinya sedang menenangkan wanita di depannya, wanita cantik yang tiada duanya di dunia ini. Sangat menawan.

 

“Kuberi nama dia, Heracles. Bagaimana? itu mengandung namamu, dan dia jadi anakmu kan?”

 

Donghyuk mendengarkannya dengan seksama. Membingungkan, itu nama yang sangat singkat. Bagaimana bisa nama wanita itu disatukan dengan nama anak laki-laki yang sedang dipermasalahkan ini?

 

“Buang dia jauh-jauh dariku!” si wanita menawan itu kembali merajuk.

 

“Kemana aku harus membuangnya? Toh, dia akan kembali lagi,” si laki-laki gagah yang bernama Zeus itu tersenyum kecil.

 

“Ke bumi. Buang dia kesana.”

 

“Dia bisa kembali, ‘kan?”

 

Si wanita menawan, alias si istri Zeus mengangkat alis. Memikirkan perkataan suaminya sekali lagi. “Bisa saja. Suruh dia memilih antara kehidupan yang bahagia atau kehidupan yang sulit tetapi berujung kemuliaan. Aku akan memikirkannya lagi.”

 

****

 

“Nak..”

 

Donghyuk masih tetap dalam posisinya, seakan itu adalah kasur indahnya di rumah.

 

“Hei, Nak. Perpustakaan akan ditutup sebentar lagi. Kau tidak akan bangun?”

 

Donghyuk kembali ke alam atas sadarnya, memerhatikan ruangan yang ia ingat adalah perpustakaan. Disekelilingnya tidak ada lagi orang-orang yang sibuk belajar dan membaca seperti tadi.

 

“Kau mau menginap disini, nak? Aku tidak akan memaksa.”

 

Donghyuk langsung menggeleng. “Baiklah, aku akan meminjam buku ini, boleh?”

 

****

 

“Membaca apa, Nak?” Hanbin yang baru selesai bekerja di kebun Juragan Song kaget melihat anaknya sudah berkutat dengan buku di malam hari begini.

 

Donghyuk yang sedang membaca bagian Heracles membunuh gurunya langsung menutup bukunya dan menyembunyikannya di antara lengannya. Ia kemudian tersenyum pada sang ayah.

 

“Tugas,” Donghyuk tersenyum makin bodoh, kemudian mulai bersyukur karena ayahnya tidak bisa membaca.

 

Hanbin mengangguk-angguk. Kemudian Hayi mendatangi mereka berdua dan langsung duduk ditengah-tengah keduanya.

 

“Apaan sih,” Hanbin yang merasa kursi tempat tidurnya makin menyempit mendengus.

 

Eomma, Appa,” Donghyuk memanggil kedua orangtuanya yang sedang sibuk adu tatap. “Aku ingin bertanya.”

 

Raut wajah kedua orangtuanya kini berubah, tetapi mereka buru-buru mengontrolnya.

 

“Iya, Nak?” tanya Hanbin.

 

“Sebenarnya….. siapa aku?” tanya Donghyuk, menatap manik kedua orangtuanya yang makin mengecil.

 

Sempat terjadi keheningan ketika pertanyaan itu terlontar, dan akhirnya tawa kecil menyembur dari bibir Hayi, sang ibu.

 

“Kau Kim Donghyuk, sayang,” Hayi mengacak rambut Donghyuk gemas. “Memangnya kau siapa?”

 

Donghyuk menelan ludahnya, perlahan. “Heracles?”

 

Dan pembicaraan malam itu ditutup dengan kepergian dua orangtuanya ke dalam kamar.

 

****

 

“GOOOOOL!!!”

 

Donghyuk sedang bermain bola bersama beberapa anak laki-laki bersayap. Setelah menyumbangkan gol untuk timnya, Donghyuk didatangi oleh dua nimfa indah yang memberi pertanyaan.

 

Pertanyaannya persis sama seperti yang ia dengar dari Zeus dan Hera tempo hari. Donghyuk tidak tahu harus menjawab apa. Teman-teman yang tadi bermain dengannya langsung lenyap tak bersisa, dan kini ia sendirian. Tidak ada ibu, tidak ada ayah, tidak ada Junhoe.

 

“Heracles, pilihlah. Hidup bahagia atau hidup sulit berujung kemuliaan?”

 

Donghyuk bimbang. Pikiran manusianya berpikir untuk hidup bahagia saja. Ia ingin tetap mempunyai ibu, ayah, teman-teman, serta rumah yang indah. Ia juga ingin memiliki pacar, atau bahkan istri dan anak-anak yang lucu. Intinya, Donghyuk ingin hidup bahagia saja.

 

Tetapi hidup bahagia saja tidak mungkin selamanya indah kan? Apa yang harus diperjuangkan jika ia memilih kebahagiaan saja? Toh ketika ia meminta apel Zeus mungkin akan menurunkannya dari langit. Untuk apa ia hidup kemudian?

 

“Hidup sulit berujung kemuliaan.”

 

Akhirnya Donghyuk memilih. Dua nimfa itu tersenyum, kemudian meninggalkannya lagi. Kini pemandangan berubah. Ia melihat lapangan dan beberapa anak laki-laki bersayap masih memainkan bola.

 

PLOK!

 

Sebuah bola melayang mengenai pelipisnya. Donghyuk yang tidak sadar langsung tersungkur, mengelus pelipisnya yang sakit tidak karuan.

 

“Aku kan sudah bilang ‘tangkap’, bodoh!” salah satu anak laki-laki bersayap itu menegurnya keras.

 

Seketika Donghyuk menyesali keputusannya mengambil pilihan kedua.

 

(((((to be continued))))

 

 Hoamh~~ gue yakin ini absurd banget. Niatnya ini ikutan eventnya IKON fanfic, tapi gue urungkan karna belom nulis sama sekali😦 pas udah nulis pas udah kelar wkwk…

masih ada lanjutannya sebenernya, tapi lagi digalaukan/? syudahlah semoga ada yang baca jadi selamat penasaran~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s