[Ficlet] Help Me

req-23[POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART
thankyou for amazing poster eapss~~]

 

Title : Help Me
Genre : Friendship, Comedy, College-life
Length : Ficlet [500+ w]
Main Cast(s) : Li Wenhan (UNIQ), Cho Yoojin (OC)
Other Cast(s) : Jinhee (OC)

 

****

 

Satu hal yang Yoojin benci adalah meminta tolong.

 

“Yoojin-ah, bisa ambilkan buku yang itu tidak?” tanya Jinhee, teman beda fakultas yang sangat dekat dengannya.

 

Yoojin menatap arah rak yang ditunjuk Jinhee. Rak buku sosiologi. Dengan tubuh tinggi semampai mungkin Yoojin bisa meraihnya, tentu saja karena 174 senti bukan candaan belaka. Agak menyenangkan memang pada awalnya, tetapi kadang ia menyesali kelebihannya yang sering digunakan untuk mengambilkan barang di tempat yang tinggi.

 

Yoojin berdiri, meninggalkan komik Miiko yang sedang ia baca. Dengan anggun Yoojin berjalan melewati para lelaki yang menatapnya penuh kekaguman.

 

“Yang mana?” tanya Yoojin sambil menatap buku-buku di hadapannya.

 

Jinhee menunjuk ke atas. “Itu, yang covernya warna hijau muda. Agak diatas sih.”

 

“Yang mana sih?” Yoojin agak jengah, sebelum kemudian menemukan cover itu ada di bagian 2 teratas rak. “Oke.”

 

Yoojin berjinjit, tangannya mulai menggapai-gapai buku yang dimaksud. Matanya menatap awas pada buku yang menjadi incarannya.

 

“Kenapa tinggi sekali sih?” sekarang Yoojin menyesal telah menyesali kelebihannya. Seharusnya ia lebih bersyukur karena Tuhan akan memberikan lebih.

 

Yoojin yang emosinya sedang labil pun kesal sendiri. Ia menurunkan jinjitannya dan kembali berjinjit sedetik kemudian.

 

Masih tidak tergapai.

 

“Yoojin-ah, tidak usah, deh..” ucap Jinhee takut-takut, melihat wajah Yoojin yang sudah seperti orang kesetanan demi menggapai buku bercover hijau muda.

 

“Sebentar lagi.”

 

“Yoojin-ah…” Jinhee menengok sana sini, berharap ada yang memerhatikannya dan bersedia membantunya mengambil buku di bagian teratas rak ini. “Aku akan cari bantuan, sebentar ya—Yoojin!”

 

Yoojin menyerah. Tubuh tingginya ia jatuhkan dengan kasar ke lantai marmer yang keras, kemudian tanpa sadar ia menangis. Entah apa yang ditangisinya. Jinhee yang bingung tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya ia ikut berjongkok dan menenangkan Yoojin.

 

“Yoojin-ah, itu hanya buku. Aku bisa mencari referensi lain—“ ucapan Jinhee terputus, melihat sesosok pria menyodorkan benda tebal berwarna hijau muda yang menjadi kambing hitam dalam kasus ini.

 

Jinhee langsung mengucapkan terima kasih dan menyingkir dari pandangan si lelaki setelah diberi kode melalui tatapannya.

 

Sekarang yang ada di depan Yoojin pun sosok lain, Li Wenhan.

 

“’Oppa, dowa juseyo’ haebwa?” (katakan ‘Oppa, tolong bantu aku’)

 

Yoojin masih menangis sesenggukan tanpa sebab. Wenhan di depannya menghela nafas panjang, gadis di depannya memang sangat sensitif di tanggal-tanggal tertentu.

 

“Setidaknya minta orang untuk membantu. Tidak semua bisa kau lakukan sendiri,” petuah Li Wenhan sambil menyodorkan telapak tangannya. “Berdiri.”

 

“A-ku….” Yoojin langsung menghapus air matanya.

 

Wenhan tersenyum kecil, kemudian memeluk tubuh kecil gadis itu sembari menepuk punggungnya.

 

Uljjima, Yoojin-a…” ucap Wenhan, ingin tertawa sebenarnya.

 

Yoojin kemudian melepaskan pelukan Wenhan, menatap lelaki yang sering menjadi pahlawan kesiangannya.

 

Gomawo, Li Wenhan,” ucap gadis itu tulus. Wenhan hanya membalasnya dengan seringaian tidak jelas.

 

****

 

Yoojin menatap Wenhan yang sedang asyik membaca majalah kuliner, kemudian dengan jahilnya ia memanggil lelaki itu.

 

Oppa, dowa juseyo..

 

Wenhan langsung mengalihkan pandangannya dari resep risoles di majalah. Setelah itu ia mendatangi Yoojin yang menyeringai polos.

 

Oppa, ambilkan buku yang paling atas itu, ya?” pinta Yoojin dengan wajah memelas.

 

Nee….” balas Wenhan, merasa menang telah memberi pelajaran berarti pada Yoojin.

 

Tak lama kemudian Wenhan kembali menekuni buku resep makanan China. Yoojin tersenyum lebar penuh sukacita.

 

Oppa, dowa juseyo…

 

Wenhan menghela nafas panjang lagi setelah kegiatan menekuni resepnya terganggu. Lelaki itu kembali mengambilkan buku yang diinginkan Yoojin di rak teratas.

 

Kegiatan itu pun berlanjut sampai 4 kali.

 

“Astaga, kau bisa menjangkaunya, kan?” Wenhan berkata jengah, tetapi tetap meladeni gadis itu.

 

Yoojin tertawa kecil. “Aku hanya ingin merasakan meminta tolong,” katanya.

 

Seketika Wenhan merasakan otaknya kembali bekerja. Jadi daritadi aku dikerjai? Pikirnya telat. Kemudian menyesali ajarannya dalam meminta tolong.

 

“Ya tapi—“

 

Yoojin mengedipkan matanya dua kali, kemudian memeluk Wenhan sembari menepuk punggungnya. “Mianhae.. Tapi terima kasih telah mengajarkanku untuk meminta tolong.”

 

-end-

maaf ya muncul-muncul udah ngepost fic yang bikin nganu ini(?)
gue emang seneng banget bikin wenan sama yoojin macem nge-HTS gini, karna sejujurnya hubungan yang paling indah itu saat PDKT ((kemudian disembur air ujan))
oke, semoga ada yang baca dan minat untuk komen. blog ini menyepi saat gue tinggal sebulan. maafkeun yaa :(( semoga ada yang kangen sama gue /gak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s