[Foreign-Problem Series] Are You Chinese?

32[POSTER BY CHAERIM ON POSTER DESIGN ART
thankyou for amazing poster dear^_^]

Title : Are You Chinese?
Genre : College-life, Slice of Life
Length : Ficlet [500+ wc]
Cast : Wen Junhui a.k.a Jun (Seventeen) and a girl

Read another series – [Women’s Studies] – [Are You Chinese?]

just enjoy and sorry for the typo(s) ^^

****

Menjadi foreigner tidaklah mudah. Berbagai cobaan sudah dihadapi Jun walaupun ia baru berada di tempat yang jauh dari rumahnya selama sebulan.

“Yah, aku mau masuk sekolah seni, ya,” ucap Jun di malam setelah kelulusannya.

“Dimana?”

“Ya… di Beijing.”

Ayahnya menatapnya agak lama, kemudian menyuruhnya duduk dan membicarakan masa depannya lebih jauh.

“Sekolah itu tidak ada masa depannya, Nak.”

Jun mendengus benci. Masa depan katanya, tidak ada masa depan katanya. Jun kembali berpikir sebenarnya hidup siapa yang sedang ia jalankan sekarang.

“Pergilah kesana. Biaya kuliah dan hidup murah, kesehatan murah mendekati gratis, dan pendidikannya sangat bagus.”

“Sekolah seni, Yah?” Jun tahu seharusnya ia tidak menanyakan ini. Jawabannya sudah jelas, dan Jun masih sulit menerima kenyataan ini.

“Bukan.”

Dan dimulailah penderitaannya setelah sekitar 10 jam berada di pesawat dan makan hidangan berbau kari yang terasa kurang nyaman di lidah.

 

****

 

Tatapan anak-anak kampusnya mengganggu nurani Jun. Bayangkan saja setiap langkah yang ia lewati beberapa orang berbisik sembari menunjuknya. Jun mencoba cuek, tapi penasaran juga apa yang dipikirkan anak-anak itu tentangnya.

Hey, are you Chinese?” tanya salah satu gadis yang daritadi melihatnya dari kejauhan.

Jun mengangguk sembari berucap ya. “Kenapa menanyakannya?”

Gadis itu menggeleng. “Tidak apa-apa,” kemudian gadis itu melengos pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.

Jun kembali melanjutkan jalan mencari time table yang diletakkan di depan ruang guru. Tetapi pertanyaan yang sama kembali ia dapatkan setelah sampai pada tujuannya. Bagusnya lagi yang bertanya adalah seorang gadis.

“Hey, you come from China?”

Jun memejamkan mata. Apa yang salah dengan kedatangannya dari China? Sebegitu anehkah dirinya yang berkulit kuning dan bermata sipit berada di tempat yang tropis ini?

“Yes, i’m come from China.”

Gadis itu mengangguk. Kemudian gadis itu tidak bertanya lagi, tidak juga melengos pergi tanpa pamit seperti tadi.

“Main subject?” gadis itu bertanya lagi.

“Psychology.” Jawab Jun.

“Oh, me too.”

Jun merasa sepertinya orang kedua ini keberuntungannya. Gadis itu tidak bertanya yang macam-macam lagi tentang kewarganegaraannya, dan gadis itu juga satu kelas dengannya.

“Subsi?”

“English and economics.”

Gadis itu kembali mengangguk. “Kita sekelas di kelas Inggris.”

Jun tersenyum, menatap perawakan gadis yang tingginya hampir sehidungnya dan berkulit gelap dengan mata lebar. Di telinga gadis itu juga diberi beberapa tindikan yang membuat Jun merinding.

“May i ask something? Is Chinese prohibited here? Why are they looking at me and saying ‘Chinese.. Chinese…’” Jun akhirnya bisa mengutarakan pertanyaannya pada gadis itu, yang dibalas gadis itu dengan senyuman manis di awal.

Nothing. Hanya saja kami memang melihat orang China berbeda karena kami memang berbeda. Tapi tidak apa-apa, kok. Chinese isn’t prohibited here.

Jun mengangguk. Cukup sudah ia mengetahui kenapa dirinya dilihat sebegitu lekatnya oleh orang-orang sejak memasuki kawasan tempat tinggalnya.

“We don’t have any class right now. Wanna go to canteen? You have to try every foods there.”

Jun langsung mengiyakan ajakan gadis itu. Tungkainya melangkah melewati taman kecil di tengah-tengah kampus dan memasuki tempat gelap yang dinamakan kantin. Berbagai menu tertulis dalam satu papan dengan harga-harganya yang terjangkau.

“You want chinese food? There is Cho Mien and Momos if you want,” Jun langsung menelusuri tulisan yang dimaksud si gadis.

“Ah, ya! Kalau ada kesulitan panggil aku saja, aku siap membantumu.”

Gadis itu kemudian berteriak untuk memesan makanan untuknya dan juga Jun. Jun tersenyum, mungkin tidak buruk juga dibuang ke tempat yang tidak ia ketahui asal-usulnya ini.

“Namamu siapa?” tanya Jun akhirnya. “Terima kasih sudah menawarkan bantuan untukku.”

 

(((end)))

 

Author’s Note :

Ini pengalaman pribadi sebenernya, jadi saya akan jelaskan sedikit. Di daerah kampus saya alias Aligarh, kalo mereka liat orang yang kulitnya putih dan matanya sipit, mereka akan beranggapan itu Chinese padahal mukanya muka Melayu ((macem gue ginih -_-)) gue berkali-kali ditanyain ‘are you chinese’ sama ‘you come from china’ dan gue pun akhirnya menyimpulkan kalo kita emang beda jadi mereka sering bilang gitu. Jujur kadang risih dibilang chinese, dan lebih risih dikira thai sampe diajak ngomong thai :”” ((abaikan))

Bukti dekatnya kalo kalian nonton Fluttering India yang Kyu-line itu, kan mereka dibilang ‘chinese chinese’, and no idea about Korean wakakak… Tapi menurut cerita di FLU(?) University (salah satu universitas S2-S3 di India) orang-orang India disana gak begitu mikirin ‘chinese’. Mereka malah seneng ada orang China masuk sana ((akkkk itu disana kebanyakan foreigner ><))

Oke, mind to review?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s