[Ficlet] Delight (Please Erase Me)

delight

Title : Delight (Please Erase Me)
Genre : Angst
Length : Ficlet [800+ words]
Cast(s) : Kim Sungje (Supernova), Park Yoochan (OC)

 

Inspired by Yoo Jiae – Delight’s Song and MV. Happy reading~^^

 

****

 

Though it hurts, though it hurts so much

Please erase me, who only believed in your heart

.

.

.

“Ayo jalan!”

 

Rasa kantuk Kim Sungje secara drastis langsung pergi meninggalkan tubuhnya. Matanya membuka lebar melihat sesosok gadis dengan balutan gaun musim panas yang indah di awal musim gugur ini. Sungje seharusnya tidak seheran ini, karena ia sudah mengetahui sebuah fakta besar tentang gadis itu beberapa hari lalu.

 

“Ini musim gugur,” ucap Sungje dingin tanpa sadar, tetapi menutupi kecanggungan.

 

“Aku tahu,” gadis itu tersenyum cerah. “Ayo jalan.”

 

Bagaikan terhipnotis, Sungje langsung masuk kembali ke dalam apartemennya dan kembali dengan setelan hangat dan satu syal hitam yang pernah diberikan ibunya sebelum ia merantau. Sungje melangkah canggung mendekati gadis itu, kemudian memakaikan syal ke lehernya.

 

“Walaupun kau tidak merasakan apa-apa, tetaplah memakai ini.”

 

Sungje berhenti sejenak ketika melihat setitik cahaya di leher gadis itu. 3 hari lalu masih ada 3 titik, dan kali ini setitik itu mulai redup sedikit demi sedikit. Gadis itu sudah mengatakan semuanya, tetapi masih ada sedikit ketidakpercayaan dalam dirinya.

 

Gadis itu akan pergi, dan seluruh kenangan tentangnya akan dihapus dari ingatannya.

 

***

 

Tidak seperti biasanya, Sungje merasa tangannya tidak menggenggam apapun walaupun gadis disampingnya masih ada dan berlari riang melewati pedagang-pedagang yang menawarkan dagangannya.

 

“Kita sudah berjanji,” Park Yoochan menghentikan langkahnya, membuat Sungje langsung mundur selangkah karena tangannya ditarik.

 

“kita akan melewati hari ini dengan senyum. Masih ada 6 jam sebelum aku pergi, ingat?” gadis itu tersenyum, senyum indah yang pilu. Hati Sungje mendadak seperti tertusuk ribuan jarum yang masih baru.

 

Pasar ikan bukanlah tempat yang harus dikunjungi ketika berkencan. Gadis itu suka sekali ikan, katanya ikan itu lambang kebebasan. Walaupun mereka dikurung di akuarium, mereka masih bisa melenggang dengan aman dan baik. Sungje tanpa sadar jadi menyukai ikan saat itu, dan memelihara sekitar 5 ikan koki yang berakhir dengan buruk karena tidak diberi oksigen.

 

“Mau pelihara ikan lagi?” tanya Yoochan dengan riang. Sungje menggeleng sembari tersenyum. Ia tidak akan kuat melihat ikan itu.

 

“Baiklah. Sekarang kita kema—HEY itu ikan koi!”

 

Dan langkah Sungje terus mengikuti langkah kecil gadis itu sampai matahari terbenam 6 jam kemudian.

 

****

 

“Maafkan aku telah memberitahumu sesuatu yang mustahil.”

 

Park Yoochan membuka kalimatnya dengan lembut. Darah Sungje masih bisa berdesir hangat ketika gadis itu melontarkan kata-kata. Lelaki itu masih bisa jatuh cinta dengan malaikat sepertinya.

 

“Tapi aku akan bertanggungjawab atas hidupmu. Aku tidak akan muncul lagi, bahkan di pikiranmu. Kau akan benar-benar melupakanku.”

 

Gadis disampingnya memang malaikat, namun saat ini ia berwujud manusia, memiliki nafsu dan memiliki emosi. Ia bisa mendengar bagaimana sang malaikat sedang berusaha menyembunyikan senggukannya diantara kesedihannya.

 

“Aku bahagia pernah hadir di hidupmu, Kim Sungje. Aku benar-benar bahagia. Terima kasih telah mencintaiku apa adanya, dan terima kasih telah menjadikan hari terakhirku bahagia.”

 

Sungje hanya menatap langit ketika gadis itu mengucapkan kata demi kata. Ia benci perpisahan. Sungje kira perpisahan terakhir di hidupnya adalah ketika ibunya menitipkannya ke panti asuhan setelah sekian lama sang ayah meninggal dan ibunya menikah lagi.

 

“Aku pergi,” gadis disampingnya tiba-tiba sudah berdiri di depannya. Pakaian musim panasnya sudah berubah menjadi gaun serba putih yang pernah hadir di mimpinya. Senyum gadis itu makin lebar mengikuti dua sayap putih yang tumbuh di belakang tubuhnya. Tak lama sayap dibelakang tubuh gadis itu mengepak, membuatnya tidak lagi menginjak tanah. Gadis itu sudah memegang tongkat, tongkat itu diarahkan kepadanya, menghasilkan bubuk-bubuk cahaya yang berwarna-warni dan beraroma harum.

 

Saranghae..

 

Sungje memejamkan matanya, menikmati belaian lembut angin sore yang menerbangkan bubuk-bubuk cahaya itu. Tubuhnya makin rileks, dan tanpa sadar ia sudah tertidur dalam posisi telentang di atas rerumputan. Tidak ada lagi bubuk-bubuk cahaya berwarna-warni dan aroma harum, yang tertinggal hanyalah langit yang gelap dan aroma tanah setelah diguyur hujan.

 

“Dimana aku?” Sungje mengerjapkan matanya, mencoba mengingat bagaimana caranya bisa sampai di tempat yang penuh rumput dan pepohonan ini. Seingatnya ia tidak pernah ke hutan sebelumnya.

 

Setelah itu Sungje bangkit, mencari jalan pulang dan masih mencoba mengingat apa yang terjadi sehingga ia bisa tertidur di tempat se-tidak elit itu.

 

Ah, molla!” ucapnya akhirnya. Ia pun memanggil taksi dan pulang kembali ke apartemennya.

 

****

 

“Ya, anak-anak buka buku kalian!” Sungje memasuki kelas dan langsung menyuruh anak-anak membuka buku seni musik mereka. Murid-muridnya pun makin membencinya dan berniat untuk tidak membuka buku itu sama sekali.

 

“Hey, Cho Seungyeon, mana bukumu?!”

“Kim Sangmin, buka bukumu!”

“Son Yoonjae, jangan diam saja. Ambil bukumu!”

 

Sungje tertawa kecil melihat anak-anak yang ditegurnya langsung bergerak sangat cepat untuk mengambil buku seni mereka. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mengancam anak-anak didiknya.

 

“Perhatian, anak-anak!” Sungje memukul meja, membungkam mulut anak-anak yang sibuk berbicara sendiri-sendiri. “Kita punya teman baru disini.”

 

“Perempuan?” tanya salah satu murid berambut cepak.

 

“Ya.”

 

Kembali riuh. Sungje memberi kode agar anak itu segera memasuki kelasnya. Gadis itu berjalan malu-malu menuju mejanya.

 

“Hei hei hei!” kembali Sungje memukul meja untuk membungkam mulut murid-muridnya. “Perkenalkan dirimu, Nak.”

 

Gadis berkuncir ekor kuda itu mengenakan syal di musim panas. Sungje seperti mendapatkan gambaran aneh di pikirannya tentang syal itu. Ia yakin pernah melihat syal itu, entah dimana. Tetapi anak perempuan yang sedang berdiri disampingnya sekarang sudah memanggilnya pelan.

 

Saem, aku boleh duduk?” tanyanya pelan, sedikit takut.

 

Sungje mengangguk. “O-oh, boleh. Kau duduk disamping—eh sebentar, siapa namamu tadi?”

 

Anak perempuan itu tersenyum, kembali bubuk-bubuk cahaya itu memenuhi pandangannya. Sungje mencoba terus membuka matanya dan berkonsentrasi penuh. Sepertinya ia sedang tidak enak badan hari ini.

 

“Park Yoochan imnida, Saem.” Jawab gadis itu anggun sembari membungkuk kecil. “Masih ingat aku?”

 

((((end))))

 Jujur aja akhir-akhir ini aku lagi ga punya ide bagus untuk ditulis, dan aku juga lagi ga mood nulis fanfic :” sekarang aku lebih suka nulis pake original character, like Rayan and Ilhwan ((yang pernah kunjungi blog kedua aku harus tahu mereka xD))

 

Dan fic ini sebenernya udah ditulis lama, pengen buat poster tapi males mesen jadilah begindang wkwk… okelah semoga ada yang berkenan komentar dan segala respon indahnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s