[Foreign-Problem Series] Missing

missing[poster by charismagirl @ cafe poster
Thankyou for amazing poster dear^_^]

Title : Missing
Genre : College-life, Friendship, Comedy
Length : Ficlet [800+ wc]
Cast : Lee Chan (Seventeen) and a woman

****

Memilih kuliah di luar negeri berarti memilih menjauhi segalanya. Tanah air, kebiasaan buruk, rumah, masakan ibu, dan tentu saja keluarga. Ini baru sekitar sebulan, dan ia sudah merasa benar-benar sendiri tanpa semua yang ia tinggalkan di tanah airnya.

Tempat ini panas, sangat panas. Bukan salah Chan juga memilih tempat ini sebagai destinasi kuliahnya. Juga bukan karena tidak ada lagi universitas yang mau menerimanya di negaranya sendiri, hanya saja Chan beranggapan mencari udara baru dan teman baru itu lebih baik daripada berdiam diri di tempat yang sudah memiliki segalanya.

Kini ia tinggal di sebuah apartemen yang juga dihuni 4 anak lainnya. Kelima dari mereka saling berbagi tempat dan tugas harian. Ada yang memasak, mencuci piring, atau membersihkan kamar mandi. Semua itu sudah diatur oleh orang yang membawanya kesini.

“Chan, jangan lupa bersihkan kamar mandi jam 5 nanti!”

Lee Chan mengangguk menanggapi permintaan Dongjin. Ia memang lebih baik membersihkan kamar mandi atau mengangkat galon dari lantai satu ke lantai lima daripada harus memasak bersama yang lainnya. Dapur mereka luas, tetapi Chan tidak suka berada di keramaian yang bahkan sekecil itu.

Lee Chan kemudian mengambil ponselnya, menatap layar hitam ponsel yang tidak mengeluarkan cahaya apapun. Ponselnya baik-baik saja, tetapi sepertinya tidak ada yang bisa membuatnya menyala sendiri tanpa bantuan tangannya.

Sesuatu mengganjal hatinya, seperti keinginan untuk menelpon ibunya di Korea. Chan mengatakan pada seluruh anggota keluarganya untuk tidak pulang dalam 3 tahun ke depan, sampai lulus tepatnya. Tetapi dirinya juga bimbang ketika teman-temannya mengatakan akan pulang di waktu Chuseok atau natal akhir tahun nanti.

Chan tidak mau disebut pengecut karena tidak bisa membuktikan kata-katanya. 3 tahun ternyata bukan sekedar menghabiskan sepanci ramyun kimchi yang biasa dimakannya. 3 tahun itu waktu yang panjang, sangat panjang untuk tetap di tempat yang panas ini.

Sekali lagi Chan ingin sekali menelpon ibunya, walaupun hanya berbasa basi bertanya resep masakan A dan masakan B, atau apa yang bisa dimasak dari lobak dan timun serta cabai hijau, atau hanya sekedar mengatakan rindu.

Tidak! Chan tidak selemah itu. Mengatakan rindu berarti mengatakan ia ingin pulang. Chan benar-benar bimbang. Padahal ia yang berniat pergi menjauhi orangtuanya agar tidak diatur lagi hidupnya.

Drrttt…… drrrttt…. drrrttt……

Ponsel yang sedang dipegangnya tiba-tiba bergetar, menampilkan gambar yang ia ambil di bandara Gimpo sebelum keberangkatannya. Chan baru ingat kalau ia telah mengganti gambar untuk kontak ibunya di ponsel.

Chan menimang sejenak, angkat atau tidak.

Dan pilihan pun jatuh kepada menggeser layar hijau ke sebelah kanan.

“Halo, putra kesayanganku.”

Suara Ibu diseberang membuat tenggorokan Chan tersumbat sehingga tidak mampu mengatakan apa-apa. Ibunya terus berucap ‘halo’ dengan suara seraknya yang khas dan bertanya siapa yang mengangkat teleponnya.

“Ini aku, Lee Chan.”

Setetes air mata melewati kelopak matanya. Chan mati-matian menghentikan cairan bening yang kedua dan selanjutnya.

“Apa kabar, putraku?”

Kembali setetes air mata melewati kelopaknya. Kali ini Chan tidak berusaha menghalaunya, tetapi hanya berusaha meminimalisir pengeluarannya.

“Baik.” Ada apa dengan bibirku? Ayo katakan yang lain!!

“Baguslah. Ibu, ayah dan kakakmu juga baik-baik saja disini.”

Benar-benar hari yang melelahkan. Chan tidak mampu lagi menghalau air matanya. Ia harus mengakui kalau dirinya senang dan lega mendengar suara orang yang sangat dicintainya di dunia itu.

“Bagaimana kuliahmu? Kau menikmatinya?”

Chan mengangguk. Ia tidak mau ketahuan menangis oleh ibunya. Ia sudah 19 tahun, tidak ada lagi air mata yang harus ia keluarkan karena ke-pengecutannya.

“Ada masalah? Bagaimana uang saku? Kau berteman baik dengan orang-orang disana? Beritahu Ibu.”

Chan menyedot ingus yang sudah membasahi bagian tengah celananya. Kemudian lelaki itu berdeham, menetralkan suaranya.

“Tidak masalah. Aku berteman baik dengan mereka. Mereka sangat baik.”

Ibu diseberang tertawa kecil, kemudian ia bercerita tentang Chan yang jarang berinteraksi dengan teman-temannya di SD dulu.

“Ibu bersyukur kau telah berubah. Ada yang mau kau katakan, Nak?”

Chan menyeka air matanya. Ia tersenyum dan mengangguk pelan. Ibunya tidak mungkin bisa melihatnya mengangguk, ‘kan? Itu hal yang paling disyukurinya. Ia tidak ingin ibunya mendengar kata pengecut darinya.

“A-aku…” Chan menggigit bibir, berusaha menghalau kata-kata itu untuk tidak keluar.

“Kau kenapa?” ibunya bertanya dengan nada khawatir.

“A-aku…” Chan memejamkan matanya. “….aku banyak biang keringat disini. Udara disini sangat panas. A-apa obat yang bagus untuk biang keringat?”

Ibunya tertawa diseberang. Syukurlah… ucap Chan dalam hati. Ibunya kemudian memberikan beberapa rekomendasi obat dan lotion musim panas. Biasanya di musim panas banyak nyamuk, Chan tidak kuat dengan nyamuk. Ibunya sangat mengerti dirinya.

“Ada lagi?”

“Tidak.”

Chan ingin cepat-cepat memutuskan panggilan ini, tetapi dunianya akan hampa setelah layar sentuh ponselnya lepas dari daun telinganya.

“Baiklah. Kau sedang tidak mood berbicara sepertinya. Baiklah, ibu tutup—“

“Ibu!” Chan menginterupsi sembari menggenggam erat ponselnya. Ia biarkan seluruh tubuhnya melakukan apa yang diinginkan. Chan bahkan tidak repot-repot menarik nafas untuk menenangkan dirinya.

“Aku merindukan ibu.” Kata-kata itu akhirnya meluncur apik dari bibirnya, dan seketika perasaan lega menyelimuti tubuhnya. Tidak ada lagi pikiran pengecut yang tadi ia pikirkan keras-keras. “Aku rindu Ibu, sangat rindu.”

Ibunya diseberang sepertinya sedang menyedot ingusnya sembari mengelap air mata. Chan meminta maaf pada ibunya dari dalam hati, berharap Tuhan akan menyampaikannya dengan cepat.

“Ibu juga merindukanmu, Chan.”

Setelah sambungan telepon diputus, Chan tidak merasakan kehampaan. Hati Chan serasa bebas, tubuhnya seperti kebas, tetapi masih terkontrol. Senyum merekah di bibirnya, sembari berjanji ia akan kembali dalam keadaan yang sangat baik dan berhasil.

 

((((end)))

 

Author’s Note :

Another pengalaman pribadi yang menyedihkan. Beneran dulu gue adalah salah satu yang pengen cepet-cepet pergi dari rumah. Eh pas udah pergi malah kangen. Jadi adek-adek yang masih di bangku sekolah, dipikir-pikir lagi kalo mau tinggal jauh dari orangtua. Bukannya ngelarang, cuma jangan berharap begitu. Berharaplah dikasih tempat yang bagus dimanapun, biar ga nyesel kayak gue hahahah…

Okay last, mind to review?

One thought on “[Foreign-Problem Series] Missing

  1. Pingback: [SVT FREELANCE] – [Ficlet] Missing – SEVENTEEN FANFICTION INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s