[Chaptered] My Little Friend (Part 3)

req-laillamp[amazing poster by finessa @ HSG]

Title : My Little Friend (Before Story of One Little Kiss)

Genre : comedy, romance

Length : Chaptered (3 of ?)

Cast : Park Chanyeol (EXO), Lee Minhyuk (BTOB), Kim Namjoo (Apink)

Read the previous — 12 — 3

****

Chanyeol perlahan mulai menjauhkan diri dari Namjoo yang notabene-nya sudah milik orang lain. Atau sebenarnya ia yang dijauhi karena sudah bukan siapa-siapa lagi?

Satu kelas heboh ketika Lee Minhyuk yang dikenal sebagai bocah bandel itu mengumumkan hubungannya dengan Kim Namjoo yang lebih sering lengket dengan Park Chanyeol. Beberapa mendukung, dan beberapa yang lain mencecar Chanyeol dengan pertanyaan :

“Bagaimana perasaanmu?”

“Apa menyakitkan melihatnya bersama Minhyuk?”

“Apa kau berencana untuk move on?”

Sampai pertanyaan…

“Kok malah Minhyuk yang jadian dengannya?”

Jujur saja Chanyeol jengah. Dia juga cemburu parah, marah, tetapi ia juga ingin tampil senang di hadapan Namjoo. Memang dasarnya juga yang payah tidak mau menembak duluan, padahal seluruh hubungan baik telah hadir diantaranya dan Namjoo.

“Aku mau ke kamar mandi, Minhyuk! Ngapain sih ikut ikutan?!”

Saat Namjoo mengeluarkan nada seperti itu ingin rasanya Chanyeol hadir dan menonjok lelaki itu dengan dua kepalan langsung. Tetapi akhirnya ia menyadari keadaan sekarang.

“Aku hanya tidak mau kau melihat yang lain, Sayang. Kutemani ya?”

Namjoo mengamit tangan Seoyoung, gadis berambut pendek yang sering terpergok menatap Minhyuk dari bangku belakangnya.

“Aku sama Seoyoung kok, dia akan menjaga pandanganku. Sudah ah!”

Akhirnya Namjoo pun berjalan keluar bersama Seoyoung. Ada sebuncah perasaan senang ketika Minhyuk tidak ikut keluar bersamanya. Chanyeol tersenyum samar, dan sialnya ditangkap dengan sempurna oleh Minhyuk.

 

****

 

Seperti biasa Chanyeol berjalan sendirian menyusuri komplek besar perumahannya setelah turun dari halte. Biasanya ada burung pelatuk cerewet disampingnya, terus mencecarnya dengan pertanyaan tidak penting dan akan mencakarnya jikalau ia tidak membalasnya.

Park Chanyeol pun merindukan masa-masa itu.

“Aku pulang!”

Tidak ada sahutan, biasanya ibunya akan datang berlari ke arahnya ketika Chanyeol mengucapkan dua kata itu.

Chanyeol mencoba tidak peduli, mengangkat kedua bahunya dan meletakkan sepatunya di rak. Kemudian ia memasuki ruang tamu untuk kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.

“Masukkan kuning telurnya 3 buah, eh, hati-hati!”

Terdengar suara ibunya sedang memberi arahan memasak pada seseorang, yang dibalas cekikikan seorang gadis yang tidak dikenalnya. Chanyeol yang penasaran pun mengintip ke arah dapur, melihat siapa yang bertamu di hari yang bukan hari libur itu.

“Eh, Chanyeol, sudah pulang?” ibunya memergoki, langsung mencuci tangannya sampai bersih dan mengelapnya di serbet yang telah tersedia di bawah bak cucian.

Gadis yang bersama ibunya ikut menoleh. Rambut panjangnya sedikit menutupi separuh dari wajahnya. Gadis itu menyibakkan rambutnya, menampilkan wajah ayu dengan tahi lalat kecil di pinggir matanya.

Mata Chanyeol melebar, tidak ingin percaya pada apa yang dilihatnya. Segala fantasi kehidupan masa kecilnya kembali seiring dengan tatapan gadis itu mengarah padanya. Keduanya diam, dan hanya ibu yang berbicara tanpa mendapat gubrisan.

“Chanyeol masih ingat kan? Itu Mayu, teman kecilmu dulu.”

Mayu versi dewasa itu tersenyum, menampilkan eye smile khasnya yang pernah membuat Chanyeol menangis semalaman karena ditinggal pindah olehnya. Pikiran Chanyeol kacau sekali, dan akhirnya ia memutuskan untuk ke kamarnya, menenangkan diri.

 

****

 

“Wah, pesta komiknya besar sekali!”

Namjoo langsung berlari masuk ke dalam gedung yang penuh dengan komik. Dibelakangnya Minhyuk tersenyum, memasukkan tangannya ke saku dan mengikuti langkah riang sang gadis.

“Mau berputar?” tanya Minhyuk sembari mengulurkan tangannya, ingin bergandengan.

Namjoo menggeleng. “Kau mengajakku pusing bersama? Kau saja!”

Minhyuk mendengus kesal, kemudian mengamit tangan Namjoo paksa dan berjalan bersama. “Memangnya tidak mau pusing bersamaku? Kan kalau kau muntah ada yang memijat tengkukmu.”

Namjoo tertawa kecil, “Sayangnya yang sering muntah karena berputar kan kau. Waktu kecil kami pernah dimarahi pembantumu karena membuatmu muntah seharian.”

Minhyuk menerawang sesaat, kemudian tertawa mengingatnya. Akhirnya ada satu kenangan tentangnya di pikiran Namjoo. Ia ingat beberapa anak ikut dimarahi Bibi Yoo, padahal yang berinisiatif mengajak bermain komedi putar kan dirinya.

“Sudahlah, aku malu.”

Namjoo terkekeh, kemudian menarik tangan Minhyuk menuju satu stand komik baru. Tangannya langsung dilepas ketika melihat komik Miiko edisi baru. Tanpa basa basi ia langsung mengambil tas yang ada disebelah rak.

Minhyuk menggeleng, memerhatikan telapak tangannya yang langsung dilepaskan begitu si Miiko kecil itu terlihat di rak ‘new release’.

“Ada judul baru juga, 3 seri. Aku belum beli 3 seri One Piece juga, lalu Detective Conan… kapan terakhir aku membeli ya?”

Namjoo menimang-nimang komik apa yang seharusnya dibeli dulu. Walaupun sudah tertulis ‘Diskon 25%’ ternyata tetap saja membuat seorang gadis gamang. Sebenarnya apa yang ada di pikiran para perempuan tentang harga sih?

“Ya sudah ambil saja, aku yang bayar.”

Namjoo menggeleng. “Tidak ah. Aku tipe orang yang akan membayar sendiri di masa pacaran.”

“Oh ayolah, aku sekarang benaran pacarmu, kau bisa memanfaatkanku.”

Namjoo menggeleng. “Aku tidak suka memanfaatkan orang. Chanyeol saja sering kutolak kalau ingin membayarkan es krim untukku. Oke, aku beli semua.”

Minhyuk menatap Namjoo yang sedang memasukkan beberapa komik ke dalam tas belanjanya. Langkah kakinya ikut mengekor dibelakang gadis itu, tidak lagi tertarik dengan koleksi Naruto yang belum lengkap di perpustakaan pribadinya.

“Ambil semua saja, aku bayar semuanya,” kata Minhyuk yang mulai bosan karena Namjoo berdiri di satu rak untuk membaca satu komik yang terbuka.

“Sudah kubilang—“

“Aku berbeda dari Chanyeol, Namjoo-ya. Aku pacarmu, sedangkan Chanyeol hanya sahabat laki-lakimu. Sekarang ambil semua yang kau mau dan aku bayarkan.”

 

****

 

Pada akhirnya Namjoo menurut dan malah keterusan membeli banyak komik. Niatnya memang bayar sendiri, tapi ternyata Minhyuk yang punya black card itu tidak main-main. Ia benar-benar membayar puluhan komik yang dibelinya hari ini.

“Kau pasti benar-benar kaya, Lee Minhyuk,” ucap Namjoo setelah Minhyuk menandatangani resi pembayarannya.

Minhyuk tersenyum tipis. “Ya, dan kau beruntung mendapatkanku.”

Namjoo mendengus, kemudian menggandeng tangan Minhyuk untuk ikut ke stand yang lain. Minhyuk belum memilih satu judul pun, padahal ia sudah membayari lebih dari 20 komik pacarnya.

“Kau tidak suka membaca?” tanya Namjoo akhirnya.

Minhyuk mengangkat kedua bahunya. “Aku hanya suka komik.”

“Kenapa tidak beli juga? Aku yang traktir deh?”

Minhyuk mengacak rambut Namjoo sembari tertawa kecil. “Tidak usah. Aku sudah punya banyak koleksi komik di perpustakaanku. Mau lihat?”

Namjoo mengangguk. Minhyuk mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri, mencari folder tempat foto perpustakaannya disimpan dan memberikannya pada Namjoo. Mata gadis itu langsung melebar melihat lemari tinggi yang berisikan komik lengkap.

“Chanyeol pasti senang melihat ini.. boleh aku mengajaknya kalau ke rumahmu? Dia suka komik, dan mungkin kalian akan jadi teman baik!”

Wajah Namjoo yang sumringah berbanding terbalik dengan Minhyuk. Ia langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan mengikuti Namjoo.

“Minhyuk? Kau sakit?”

Minhyuk menggeleng. “Tidak. Sudah cukup? Ayo pulang.”

 

****

 

“K-kapan kesini?” Chanyeol masih tidak percaya Mayu disini. Nada bicaranya jadi canggung seketika.

Mayu tersenyum, berpikir sejenak. “Aku sudah di Korea seminggu yang lalu untuk mengurus pendaftaran universitas. Tapi baru kesini tadi siang. Kaget kan?”

Chanyeol mengangguk. Gadis ini makin cantik tanpa bintik-bintik kecil di sekitar matanya karena alergi. Shinoda Mayu makin cantik dengan tubuh yang tinggi dan ramping dan berambut tebal.

“Kau sudah kuliah? Padahal aku baru kelas 1…”

Mayu tertawa kecil, menyeruput jus jeruk buatan Ibu Chanyeol. “Hmm… aku akselerasi saat SMP dan SMA. Aku kan pintar.”

Chanyeol mendengus, mengacak rambut gadis itu sampai benar-benar berantakan. “Makan pintarmu!”

Mayu tertawa kecil, kemudian balas mengacak rambut Chanyeol sampai mengarah ke atas. Keduanya tertawa kecil, saling melempar candaan sampai lempar kacang.

“Chanyeol, ada Namjoo nih!” teriak ibunya dari ruang tamu.

Chanyeol yang sedang mencubit pipi Mayu menghentikan kegiatannya, menatap Mayu yang juga menatapnya meminta penjelasan. Lelaki itu tersenyum, kemudian meneriaki ibunya untuk menyuruh Namjoo ke ruang TV.

“Tetangga. Dia menempati rumahmu setelah kau pindah.”

Mayu mengerling jahil. “Kau pacarnya?”

“Chanyeol-ah aku—“ ucapan Namjoo langsung berhenti kala melihat Chanyeol duduk bersebelahan dengan gadis yang asing untuknya. “—bawa komik.”

“Ini yang namanya Namjoo? Kawaii…” gadis asing itu langsung berdiri dan mendekati Namjoo, mencubit pipinya.

“S-siapa ya?” tanya Namjoo takut-takut, menatap Chanyeol untuk meminta penjelasan tetapi lelaki itu langsung memalingkan wajah.

“Aku Mayu, teman kecil Chanyeol. Dulu tinggal disebelah rumah ini, tepatnya di rumahmu.”

Namjoo mengingat sejenak, sepertinya nama gadis ini tidak asing di telinganya. Kemudian ia menepuk tangannya, mengingat sesuatu.

“Oh! Chanyeol sering bercerita tentangmu waktu kecil. Dia sering menyuruhku pergi dari rumahku karena itu milikmu.”

Mayu tertawa, kemudian maniknya mengarah pada Chanyeol yang sedang menatap televisi. “Benarkah? Dasar bocah!”

Setelah itu keduanya tidak terlibat percakapan apapun lagi. Namjoo lupa niatnya, Mayu tidak tahu harus berkata apa, dan Chanyeol terus-terusan mengganti channel untuk mencari iklan.

“Ah! Aku ingin mengantar komik ini saja untuk Chanyeol. Tadi kebetulan ada pameran dan aku dibelikan banyak oleh Minhyuk.” Namjoo memberikan tas berisi beberapa komik pada Mayu.

“Berikan langsung saja padanya. Kenapa melalui aku?”

Namjoo meringis, menyadari kebodohannya. Yang mau diberi padahal ada di depannya, kenapa harus menyuruh orang?

“Chanyeol—“

“Ambil lagi saja. Aku sudah kesana tadi.”

Penolakan itu jelas menimbulkan tanya di pikiran Namjoo.

“K-kapan? Kau membeli Miiko? Detective Conan? One Piece?”

“Ya, aku membeli semua. Sudah bawa pulang saja atau kembalikan pada Minhyuk.”

Namjoo menghela nafas panjang. Menatap punggung Chanyeol yang menyembul dari balik sofa merah yang sering didudukinya untuk menonton film horor. Chanyeol jadi lebih dingin dengannya setelah ia mengatakan telah berkencan dengan Minhyuk, dan hari ini…

“Sini, biar aku yang berikan. Terima kasih ya,” Mayu, gadis baik itu, mengambil tas di tangannya dan menawarkan jasa memberi pada Chanyeol.

“T-terima kasih, Mayu.”

 

****

 

Besoknya Namjoo menunggu Chanyeol keluar dari rumahnya untuk naik bus bersama ke sekolah. Gadis itu duduk di depan pagar rumahnya sembari makan sandwich buatan ibunya. Belum ada tanda-tanda lelaki itu keluar. Dan Namjoo sudah lapar lagi.

“Nanti aku bisa ketinggalan Chanyeol kalau mengambil sandwich,” dengan pikiran itu akhirnya Namjoo memegangi perutnya, mengurangi rasa laparnya.

“Duuh….”

Sebuah tangan yang menyodorkan roti beraroma kopi terulur ke arahnya, tepat di depan manik cokelatnya. Namjoo memerhatikan roti besar itu sejenak sebelum akhirnya tatapannya mengarah pada si pemberi.

“Kenapa menunggu disini?” tanyanya, Lee Minhyuk.

Namjoo mengambil roti itu, menggeser tempat duduknya sehingga Minhyuk bisa ikut duduk disampingnya.

“Menunggu Chanyeol. Aku ingin naik bus.”

“Dari seminggu kemarin kan kau naik mobilku, Kim.”

Namjoo menggigit potongan roti itu, mengunyahnya sebentar kemudian menelannya untuk membalas ucapan Minhyuk.

“Aku memberikan komik untuk Chanyeol kemarin, tetapi dia menolaknya dan menyuruhku mengembalikannya padamu. Sepertinya dia marah padaku.”

Tentu saja dia marah. Kim Namjoo. “Ya sudah, mau naik bus bersamaku?”

Namjoo mengangguk. “Oke. Tapi tunggu Chanyeol dulu ya, aku mau bertanya apa komiknya sampai ke tangannya atau tidak.”

10 menit kedua orang itu duduk di depan pintu pagar rumah Namjoo untuk menantikan tetangga sebelah kirinya membuka pagar dan melewatinya, akhirnya yang ditunggu pun datang. Namjoo langsung berdiri dan menuruni satu tangga depan pagar.

Tetapi langkahnya langsung terhenti kala melihat Chanyeol sedang berbincang dengan ceria bersama gadis kemarin. Senyum di bibir Namjoo perlahan redup.

“Namjoo, annyeong!” sapa gadis itu sembari melambaikan tangan. “Sebentar…. kau Minhyuk bukan?”

Minhyuk mengangguk, mencoba mengingat siapa gerangan yang mengenalinya padahal dirinya tidak kenal gadis itu sama sekali.

“Ingat aku?” gadis itu menampikan pose V dengan dua jarinya. Setelah itu Minhyuk tertawa, mendatangi gadis itu dan menyalaminya.

“Mayu? Shinoda Mayu? Kau sudah sebesar ini?”

Mayu membalas pelukan Minhyuk, tertawa gemas melihat pertumbuhan dari masing-masing anak. Namjoo di depan pagarnya benar-benar seperti patung Buddha. Ia malah sudah bersiap-siap untuk menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada.

“Namjoo? Ayo sini! Mau berangkat kan?”

Namjoo tersenyum kikuk, kemudian mengangguk.

“Ayo berangkat. Aku ingin melihat bagaimana sekolah kalian.”

Keempatnya menaiki bus yang sama ke SMA HanGyo, tetapi rasanya seperti tiga orang menaiki bus dengan satu boneka badut di tengah-tengah mereka. Minhyuk, Mayu dan Chanyeol sedang asyik membicarakan masa lalu mereka. Saling mengingatkan bahwa dulu Chanyeol adalah penakut tingkat akut, Minhyuk adalah bocah nakal yang pernah menceburkan anak-anak ke dalam got dan Mayu si penengah. Mayu tertawa keras ketika Minhyuk berkata ia telah insyaf dari bocah tengil ke arah lelaki sejati dan Chanyeol masih tetap takut ketika bertemu dengannya. Chanyeol disamping Mayu hanya tersenyum lebar, kemudian membalas ucapan lelaki itu dengan gelengan.

“Tidak! Aku tidak takut dengannya.”

“Aku bilang aku suka makan orang, dia langsung menghindar dariku.”

Ketiganya tertawa bersama, melupakan fakta bahwa masih ada satu orang yang butuh perhatian juga. Namjoo mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi permainan tanpa berniat memainkannya sama sekali.

Ketika sampai di sekolah Namjoo memilih untuk berdiri dibelakang mereka, memisahkan diri. Minhyuk keluar duluan, diikuti Chanyeol yang memegang tangan Mayu untuk melindungi gadis itu agar tidak jatuh. Kemudian Namjoo turun paling akhir, tidak bersemangat untuk memasuki gedung sekolahnya.

“Aku belum menyalin PR. Aku ke kelas duluan ya!” Minhyuk langsung berlari, tanpa mengingat bahwa dirinya punya gandengan sekarang.

Namjoo pun merasa dunianya makin kosong.

“Ini sekolahku. Bagus kan?” Chanyeol menggandeng Mayu memasuki gerbang, menjelaskan nama dari masing-masing gedung. Seorang guru menyapa, bertanya siapa yang Chanyeol bawa dari luar. Dan gadis itu dengan sopan menjawabnya sehingga ia diijinkan berputar-putar sekolah.

Namjoo kini ingin bercermin, memastikan sebenarnya seperti apa rupa dirinya saat ini.

“Mayu-Chan, sudah punya pacar?” tanya Chanyeol tiba-tiba.

“Eh? Hahaha…” Mayu hanya terkekeh pelan. “Kenapa?”

Chanyeol menggeleng. “Kalau belum punya kenapa tidak pacaran denganku saja? Masih ingat kan aku pernah menyatakan cinta padamu waktu kecil?”

Mayu menghentikan langkahnya, diam. Namjoo yang tidak jauh dari belakang mereka pun ikut berhenti.

“Jangan bercanda. Aku sudah jadi anak kuliahan, lho.” Mayu mencoba mengatasi kegugupannya.

Chanyeol berpindah tempat di depan Mayu, mata tajamnya mengarah pada Namjoo, tetapi tangannya ia letakkan di atas bahu Mayu. Namjoo menelan ludahnya susah payah, mencoba melangkahkan kakinya agar Chanyeol tidak menatapnya seperti itu lagi.

Akhirnya langkah itu pun mulai maju mendekati kedua orang yang sedang berdiri berhadapan membicarakan hal yang serius.

“Jadi pacarku, Mayu-Chan.”

DEG.

Kacau. Benar-benar kacau. Chanyeol mengatakan hal itu pada Mayu tepat ketika dirinya sudah berada disampingnya sehingga setiap rimanya terdengar. Namjoo mencoba bernafas normal dan menjauh dari keduanya.

Mayu mengangguk, menatap Chanyeol sembari tersenyum lebar. “Ya.”

Namjoo pun mempercepat langkahnya, tepat setelah Mayu menjawab pernyataan Chanyeol. Air mata perlahan menetes ke pipinya yang dengan cepat diusapnya dengan punggung tangan.

Dibelakangnya, Chanyeol sedang memeluk Mayu dan memutar posisinya. Chanyeol tidak mengerti apa yang sedang dilakukannya sekarang. Ia memeluk gadis yang jadi pacarnya sedangkan matanya tidak lepas memerhatikan punggung gadis lainnya.

.

.

.

To be continued.

Oke oke, Mela-sshi, semoga lu baca ini dan komen disini, bukan di bbm. Gue bingung nanti wkwk….

Maap kalo ceritanya makin wasalam. Niatnya satu chapter lagi, tapi kayaknya perlu 2 chapter lagi buat meluruskan/? Yasudahlah let it go sajah~

Kritik dan saran selalu diterima, ppyong~!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s