[Oneshot] Gloomy Sunday

gloomy-sunday2[poster by Yeolall @ Poster Design Art
Thankyou for the amazing poster<3]

Title : Gloomy Sunday
Genre : Angst, Friendship, Romance
Length : Oneshot [3k+ words]
Cast : Jeon Jungkook (BTS), Jung Yein (Lovelyz)

****

Jungkook pasrah saja ketika melihat dua perawat dengan barang-barang yang tidak asing di genggamannya melangkah maju mendekatinya. Anak laki-laki itu menghela nafas, kemudian menunjukkan bagian bawah kedua tangannya yang tertempel plester di beberapa sisinya.

“Suster mau ambil darah dimana lagi?” tanya Jungkook pasrah sekaligus sarkatik. Kedua suster itu hanya tersenyum membalasnya.

“Disini saja,” salah satu suster dengan rambut pendek melepas plester dari sisi kiri.

“Jangan—AAA!” Jungkook mengerang sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Kemudian kedua suster cantik itu kembali memasukkan jarum suntik ke tempat yang sudah dibaluri cairan alkohol. Jungkook menggigit bibirnya, mencoba untuk tidak menangis kali ini saja.

“Sudah selesai. Kenapa menangis?” tanya suster satunya yang berambut kecoklatan.

Jungkook menatap kedua suster itu kesal. “Itu luka kemarin.”

Setelah itu kedua suster pengambil darahnya keluar, meninggalkan Jungkook yang sibuk menyeka air matanya karena kesakitan. Jujur saja ini terlalu kekanakan, tetapi itu benar-benar luka yang baru.

****

Ini sudah jam 4, dan Ibunya belum kembali sejak 3 jam lalu. Jungkook sangsi sendiri mungkin ibunya lupa jalan ke ruangannya. Akhirnya anak itu keluar sambil mendorong tiang infus.

Suasana di rumah sakit ini tetap sibuk walaupun ini sudah hari ke-5 semenjak ia dirawat. Ya, Rumah Sakit selalu sibuk. Beberapa pasien terlihat sedang berjalan-jalan dibantu kursi roda yang didorong sanak saudaranya atau suster setempat. Tapi tidak sedikit juga yang sendirian seperti Jungkook.

Karena tidak menemukan ibunya di kantin, akhirnya Jungkook kembali ke kamarnya.

Sunday is gloomy

the hours are slumberless

dearest the shadows

I live with are numberless

Telinga anak itu mendengar suara yang asing, tetapi ia tidak terlalu asing dengan lirik yang sedang didendangkan. Liriknya sangat indah dan suara yang menyanyikannya juga tidak kalah indah.

“Little white flowers

will never awaken you,

not where the dark coach

of sorrow has taken you”

Jungkook masih menebak lagu apa yang sedang dinyanyikan suara itu—suara gadis, kalau mau tahu.

“Angels have no thought

of ever returning you

would they be angry

if I thought of joining you?”

Aha! Jungkook mengangguk-angguk, merasa menang. Ia tahu lagu apa yang sedang dinyanyikan dan ia pernah mendengarnya juga sekali. Akhirnya dengan langkah mantap ia mendorong pintu ruangannya untuk menebak lagu itu.

“Gloomy Sunday…”

Glek… Jungkook baru sadar itu lagu yang sangat misterius, Gloomy Sunday.

“K-kau….” Jungkook langsung merapat ke pintu, asing dengan semua ini.

“Hm?” gadis itu—yang menyanyikan lagu misterius—memiringkan kepala, menatap Jungkook bingung.

“Apa yang kau lakukan di ruanganku?”

“Ruanganmu?” gadis itu menengok ke sekeliling. “Sepertinya kau salah ruangan. Ini 102.”

Jungkook menelan ludahnya berat, kemudian menunduk sembari tertawa kecil. Baru kali ini ia salah ruangan.

“I-iya aku salah ruangan. Maaf,” Jungkook membungkuk pelan, kemudian ia teringat sesuatu. “Kau menyanyikan Gloomy Sunday? Kau tidak tahu legenda tentang lagu itu?”

“Apa? Tidak ada yang salah menurutku,” gadis itu menggeleng. “Aku masih hidup sampai sekarang.”

Jungkook mengangguk. “A-ah, ya…”

Gadis itu tertawa kecil. “Kau tahu lagu ini?” Jungkook hanya menggangguk untuk membalasnya. “Ini lagu yang indah. Mau kunyanyikan?”

Banyak cerita yang mengatakan ini lagu untuk mengajak orang bunuh diri. Sudah banyak korban bunuh diri karena mendengar lagu ini dan menghayatinya. Tetapi mengingat Jungkook tidak baik dalam bahasa inggris….

“Baiklah.”

Jungkook menyeret tiang infusnya mendekat ke kasur kosong disebelah kasur gadis itu. Kemudian sang gadis kembali mendendangkan lagu Gloomy Sunday dengan sangat lembut. Suaranya sangat merdu, dan itu membuat Jungkook hampir tertidur di kasur yang bukan miliknya.

“H-hei…” gadis itu melambaikan tangannya di depan wajah Jungkook, membuat Jungkook tersadar dan segera pamit sebelum ibunya sampai di ruangannya.

Jungkook keluar dari ruangan 102 yang sangat sejuk itu, kemudian menatap sekeliling yang sudah tidak terlalu sibuk dengan kegiatannya. Ini sudah mau malam, dan angin malam sangat tidak baik untuk kesehatan.

C-chogiyo…” Jungkook kembali membuka pintu ruangan itu, menyembulkan kepalanya dari luar. “Siapa namamu?”

Gadis yang sedang merapikan rambutnya itu menatap Jungkook sembari berkedip, kemudian tersenyum tipis. “Jung Yein.”

“Jung Yein, ya…” Jungkook tersenyum. “Baiklah, terima kasih atas hari ini!”

****

Besoknya Jungkook kembali ke ruangan 102, menyaksikan segenap pengobatan yang sedang dilakukan para suster terhadap Yein. Jungkook sedikit meringis ketika Yein menjerit setelah disuntik untuk diambil darahnya.

“Itu luka kemarin…” kata Yein sambil terisak.

Jungkook tersenyum, ternyata bukan ia saja korban dari suster jahat itu.

Setelah para suster menyelesaikan kegiatannya, Jungkook langsung masuk dan melenggang bak pangeran menuju kasur yang belum ditempati siapapun disebelah Yein.

“Halo,” sapa Jungkook agak canggung. Padahal ia sudah menyiapkan mental sejak semalam. “Apa… sangat sakit?”

Yein menyedot ingusnya, kemudian mengangguk pasrah sembari menunjukkan perban yang baru diterimanya.

“Aku juga seperti itu. Memang jahat suster-suster itu,” Jungkook menyelipkan ancaman kepada suster-suster itu yang telah menyakitinya dan Yein. “Semoga suster itu besok disuntik pantatnya sampai meringis.”

Yein langsung tertawa kecil menanggapi lelucon Jungkook. Sebenarnya Yein sudah menunggu lama untuk seseorang yang menemaninya seperti ini. Ia benar-benar kesepian, tetapi lelaki ini mengubah semuanya.

“Kau sakit apa sih?” tanya Yein akhirnya, mencoba mengakrabkan diri dengan lelaki yang sepertinya sebayanya.

“Demam berdarah. Sudah agak baikan sih, tapi suster itu terus-terusan menyedot darahku dan tidak memberitahu kapan aku akan keluar,” Jungkook mengerucutkan bibir. “Kalau kau?”

Yein tersentak sebentar, kemudian tersenyum tipis. “Ra-ha-si-a.”

Jungkook mendengus kesal. Dirinya tanpa sadar sudah menahan nafas menunggu jawaban si gadis. Tapi si gadis dengan enaknya merahasiakan penyakitnya.

“Oh ayolah, aku tidak akan membocorkannya ke publik!” Jungkook mengerucutkan bibir tanpa sadar.

Yein tersenyum samar, kemudian perlahan memasang wajah sedih. Haruskah ia mengatakan penyakit kronis yang dideritanya ini? Sangat menyedihkan dirinya nanti.

“Aku….” Yein menunduk, tidak ingin melihat ekspresi Jungkook. “…penyakit berbahaya.”

Setelah itu hening. Jungkook mundur selangkah dan mengatakan ‘hii’ dengan wajah takut yang dibuat-buat. Yein mendengus kesal.

“Aku benar!”

“Ya sudah, aku percaya.”

Jungkook mengangguk sembari mengacak rambutnya. Hari ini mungkin akan menjadi hari indah Yein karena ia bisa bertemu malaikat di rumah sakit ini. Setidaknya, orang ini tidak akan menyedot darahnya atau menyuruhnya makan sampai termuntah-muntah.

“Mau bernyanyi Gloomy Sunday lagi? Aku suka lagunya. Memang tidak ada apa-apa, aku hanya takut sendiri.”

Yein menatap Jungkook dengan tatapan yang lebih mendung. Air mata sudah menetes di pipinya, tetapi buru-buru ia hapus sebelum Jungkook menatapnya lagi.

“Oh iya,” Yein mencoba mengalihkan pembicaraan. “Siapa namamu? Kau sudah tahu namaku, tetapi aku masih menebak-nebak namamu.”

Jungkook tersenyum. “Tebak siapa namaku? Aku akan memberikan ciuman jika kau benar.”

Sial. Pipi Yein merona tiba-tiba. Suhu di ruangannya mendadak panas. Yein mencoba mengipasi dirinya sendiri, namun sepertinya suhu malah bertambah panas jika dilanjutkan.

“Hm… Junghoon?”

Jungkook menggeleng. “Sedikit lagi.”

“Myunghoon?”

Jungkook menggeleng lagi. “Agak jauh.”

“Jungyeop?”

“Itu penyanyi, ‘kan?”

Yein hampir menyerah, tetapi ia tidak sengaja melihat ke arah infus lelaki itu dan menemukan tulisan yang sepertinya petunjuk dari semua ini.

“Jeon… Jungkook?”

Lelaki di depannya terdiam, menatap tidak percaya ke arah Yein yang sudah tersenyum menang. Entah apa yang dipikirkan Yein saat ini sehingga ia repot-repot mencari nama yang pas untuk wajah tampan di depannya.

“Benar kan?” Yein memastikan, membuat Jungkook dengan segera mengangguk dan bangkit. Yein menggeser tubuhnya sampai menyentuh besi penyangga kasur sementara Jungkook masih terdiam di tempatnya.

“Salah, ‘kan? Tidak usah mencium—“ Yein langsung menutup matanya setelah wajah Jungkook jadi sejengkal lebih dekat dari wajahnya. Yein bahkan bisa mencium nafasnya yang berbau obat. “—ku.”

Terlambat. Bibir Jungkook sudah mengecap kening Yein, membuat udara disekitar gadis itu perlahan kembali memanas dan amat sangat panas. Kenapa dengannya?

Kenapa hanya di pipi?! Yein menepuk pipinya sendiri, mencoba sadar atas situasi ini. Ia tidak seharusnya berpikir tentang ciuman bibir pertamanya.

“H-Hm….” Yein berdeham. “Jadi benar?”

“Tentu saja. Kau melihat daftar ini,” Jungkook menunjuk kertas di atas infusnya dengan ujung matanya. “Tapi tidak apa-apa, dari awal memang aku ingin menciummu.”

Yein melotot, antara kaget dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Jungkook tertawa kecil, kemudian mengacak rambut Yein gemas.

“Tidak, aku hanya bercanda.”

Setelah itu mereka berdua terdiam. Jungkook mengeluarkan ponselnya, memainkan melodi yang sudah tidak asing lagi baginya dan bagi orang didepannya.

Sunday is gloomy

the hours are slumberless

dearest the shadows

I live with are numberless

Jungkook menatap Yein, kemudian Yein menghela nafas dan menyanyikan bagian selanjutnya dengan merdu.

Little white flowers

will never awaken you,

not where the dark coach

of sorrow has taken you

 

Angels have no thought

of ever returning you

would they be angry

if I thought of joining you?

Gloomy Sunday…”

 

****

 

Yein mencoba untuk tidak meringis ketika suster-suster di ruangannya membuka perban barunya dan memasukan jarum ke dalamnya. Sebenarnya ia agak malu ketika Jungkook datang dan ia sedang dalam keadaan menangis. Walaupun Jungkook tidak mempermasalahkannya, tetapi dirinya merasa tidak enak pada anak laki-laki itu.

“Kau tidak menangis, Yein-ah?” tanya si suster yang sudah selesai mengambil darahnya.

Yein menggeleng. “Tidak, kok.” Yein mengecek matanya, takut-takut kalau ada air yang menetes dari sana tanpa sepengetahuannya.

“Baguslah. Ah, mungkin karena anak itu, ya? Dia juga tidak menangis lagi ketika disuntik.”

Yein mengulum tawa. Ternyata anak laki-laki juga bisa menangis ya? Apalagi yang seimut Jungkook….

Kemudian Yein menampar pipi kanannya sendiri karena berpikiran aneh.

“Ehm, Yein-ku jatuh cinta?” Suster Jung, yang juga sepupu Yein mencolek pipinya, menggoda adik sepupunya yang kini sudah memerah pipinya.

“Ti-tidak! Jatuh cinta dengan Jungkook? Mimpi saja—“

“Aku tidak bilang kau jatuh cinta dengan Jungkook, lho,” Suster Jung tersenyum penuh kemenangan.

Yein tidak ingin melawan, tenaganya seperti jatuh dan digantikan oleh perasaan berbunga-bunga yang tidak ia mengerti. Jantungnya berdebar keras, darahnya seperti mendidih sampai ujung pipi, dan perutnya serasa digelitik oleh ribuan kupu-kupu cantik. Dunia sekitarnya kini seperti ladang penuh edelweis, bunga keabadian. Setelah itu muncul sesosok pangeran dari balik pohon mahoni. Sang pangeran memakai setelan putih dan sandal jepit cokelat. Sang pangeran tersenyum ke arahnya, setelah itu memanggil namanya.

“Yein-ah, kau tidak apa-apa?”

Bayangan tentang pangeran berbaju putih dan bersandal jepit pupus sudah, digantikan dengan ruangan serba putih yang berbau obat dan sesosok laki-laki berbaju biru dengan tabung infus disampingnya.

“E-eh, Jungkook, Hai,” Yein membalas sembari tersenyum canggung, padahal ia daritadi sedang membayangkan pangeran yang tidak lain adalah anak laki-laki ini.

Suster Jung tertawa melihat kedua anak yang sedang dimabuk asmara ini. Sadar diri ia angkat kaki dari ruangan 102 untuk memberi ruang pada dua anak muda itu.

“Kau tahu, aku sembuh!” kata Jungkook dengan nada senang. “Kau bagaimana? Kau sudah berapa lama dirawat sebenarnya?”

Yein menatap kosong ke netra Jungkook. Kata-katanya benar-benar menusuknya tepat di ulu hati, jadi Yein tidak tahu bagaimana harus bereaksi sekarang.

“Yein?”

Yein langsung membuang pandangannya ke jendela, mencoba menghalau rasa yang entah apa itu namanya dari dadanya.

“B-baguslah,” kata Yein. Kemudian ia kembali menatap wajah Jungkook yang tidak seceria biasanya. “Kau tidak mau pulang?”

Jungkook menghela nafas, kemudian kembali duduk di singgasananya—kasur kosong disebelah Yein. “Tentu saja aku mau,” jawabnya. “tapi aku tidak mau meninggalkanmu.”

Yein merasa dunianya mulai berputar tidak jelas. Baru kali ini lagi ia merasakan kebingungan yang amat sangat. Haruskah ia senang karena akhirnya ‘teman seperjuangan’-nya berhasil keluar dari jeruji rumah sakit sedangkan hatinya seperti ditusuk-tusuk jutaan pena tumpul yang membuat nyeri..

“Kau pulang saja, aku pasien baru kok.”

Yein mencoba tersenyum semanis mungkin agar Jungkook tidak berat hati meninggalkannya. Bukan dirinya yang patut ditakutkan karena ditinggal. Sekali lagi bukan.

“K-kapan k-kau pulang?” bulir air mata hampir tumpah dari pelupuk mata Yein, tetapi mati-matian gadis itu menahannya sembari menggigit bibir. Netranya tidak ingin menatap Jungkook.

Jungkook menatap Yein tanpa ekspresi, benar-benar anak laki-laki itu tidak mau meninggalkan malaikatnya disini. Seharusnya Jungkook sembuh lebih lama saja, atau bertemu dengan gadis itu lebih awal. Kenapa harus seperti ini?

“Sore ini.”

Setelah itu hening, tidak ada yang bisa menyumbangkan suara untuk memecah keheningan ini. Yein sudah menyembunyikan wajah dibalik lututnya, sedangkan Jungkook sedang berusaha menahan dirinya agar tidak mengeluarkan air mata.

“Aku akan datang lagi nanti sore.”

“Tidak perlu.” Yein menyeka air matanya. “langsung pulang saja.”

Jungkook menggeleng. “Ada yang ingin ku katakan.”

“Kenapa tidak katakan sekarang saja? Biar kau langsung pulang nanti.”

Jungkook menggeleng—sayangnya tidak dilihat Yein. “A-aku pergi dulu. S-Sampai nanti.”

 

****

 

Jarum detik terus berjalan, meninggalkan waktu-waktu yang terbuang begitu saja. Yein tidak mengalihkan pandangannya dari jam dinding di depannya, seakan jam itu adalah seorang pangeran tidurnya yang akan membangunkannya dari kenyataan. Sekarang pukul 4, dan Jungkook belum juga datang.

Yein mengharapkan kedatangannya? Tidak!

Tetapi Yein hanya ingin tahu apa yang ingin Jungkook katakan padanya. Yein juga ingin sekedar mengucapkan selamat tinggal, serta….. aku mencintaimu.

Langit tiba-tiba berubah mendung. Yein tidak terlalu sadar sampai akhirnya bunyi rintik hujan diluar membangunkan dirinya dari lamunannya sendiri. Sejak kapan hujan? Seingatnya tidak ada kata hujan sama sekali dalam prakiraan cuaca tadi pagi.

Yein mencoba mengalihkan pikirannya menuju hujan, tetapi sebuah suara kembali membawa fokusnya.

“Jungkook?”

Yein menatap kaget ke arah Jungkook yang masuk tanpa suara. Matanya berkedip heran, tetapi dalam hati juga lega karena Jungkook tidak lupa dengan janjinya.

Jungkook mengangguk, tetapi tanpa senyum. Jungkook juga tidak duduk seperti biasa di kasur kosong sebelahnya, ia hanya bergeming di depan Yein.

“Aku sudah berpikir ini dari pagi,” Yein membuka suara sembari menunggu Jungkook mengumpulkan kekuatannya bicara. “dan aku tidak tahu kenapa aku ingin kau selalu ada disini menemaniku.”

Tidak ada tanggapan. Yein tertawa pilu, menyadari bahwa keinginannya sama dengan mustahil.

“Mustahil kan?”

“Oh iya, kau mau mengatakan sesuatu, kan? Katakan, aku sudah selesai.”

Yein menghapus air matanya yang perlahan turun melalui kelopak kanannya. Yein tidak tahu kenapa hatinya sesakit ini hanya karena pertemuan singkatnya bersama Jungkook. Jungkook menjadi spesial akhir-akhir ini karena menemaninya. Yeah, hanya karena itu.

“Yein-ah,” akhirnya suara berat Jungkook keluar juga. Yein ingin mengatakan suara lelaki itu agak aneh sebenarnya, tetapi ia urungkan karena mereka akan berpisah segera.

“Aku akan mengunjungimu setiap hari.”

Tangis Yein pun langsung pecah. Entah kenapa hari ini ia ingin sekali menangis. Suara Jungkook membuatnya sensitif akhir-akhir ini, dan sampai detik ini.

“Aku akan berusaha mengunjungimu setiap hari.”

“Tidak.” Yein menggeleng. “Jangan kunjungi aku, aku tidak apa-apa, kok.”

Jungkook menggeleng. “Yein-ah, gagal jantung itu bukan penyakit berbahaya kok. Itu bisa disembuhkan dengan jantung baru. Jangan terlalu memikirkannya, ya?”

Yein menghentikan tangisnya, langsung menatap Jungkook yang kini sudah berpakaian kasual dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru dan celana jeans panjang.

“Darimana kau tahu?”

Jungkook tersenyum. “Ra-ha-si-a.”

Yein dapat melihat setetes air mata keluar dari kelopak mata Jungkook. Anak itu menangis, dan kalau mau lebih detil menangisinya. Yein menelan ludah, mengulurkan tangannya untuk Jungkook.

“Kenapa tidak mendekat?”

Jungkook menggeleng. “Aku takut.”

Senyum mulai tersampir di bibir cherry Yein. Jungkook si imut itu mungkin sudah kembali menunjukkan sifat jenakanya.

“Takut apa?”

“Takut ditolak.”

“Ditolak ap—“

“Aku menyukaimu, Jung Yein.”

“Ha?!”

Yein dibuat bingung untuk ke-sekian kalinya di hari ini. Jungkook dengan tiba-tiba mengutarakan perasaannya dan Yein yang lupa dengan apa yang ditangisinya sedaritadi.

“Yein-ah, jaga diri ya.”

“Jung….”

Punggung Jungkook menghilang setelah pintu ruangannya tertutup. Angin dingin yang dibawa dari luar masih terasa di kulit Yein. Gadis itu terus menatap pintu, siapa tahu Jungkook akan membukanya lagi dan bertanya sesuatu, seperti waktu itu.

Tetapi sampai beberapa jam Yein menatap pintu, tidak ada batang hidung Jungkook yang menyembul dari baliknya.

 

****

 

Yein merasa bodoh karena tidak menjawab pernyataan Jungkook. Oke, Yein lupa menggarisbawahi kata pernyataan. Pernyataan perasaan Jungkook itu sebenarnya sama sepertinya, tetapi lidahnya terlalu kelu hanya untuk berkata ‘Ya, aku juga’ dan hanya bisa memekik dengan tidak jelas. Yein tertawa kecil, kemudian menyadari pintu terbuka.

“Aku tidak akan mengambil darah lagi, kok,” Suster Jung langsung melambaikan kedua tangannya ketika Yein menatapnya kesal. Dirinya melambaikan kedua tangan, menampilkan tangan kosong tanpa suntikan dan segala macam perban di dalamnya.

“Kukira Jungkook, tahu!” Yein mengerucutkan bibir. “Aku belum sempat menjawabnya.”

“Menjawab apa? Dia menelpon?”

Yein menggeleng. “Dia bilang menyukaiku.”

“Lalu bagaimana denganmu?”

Yein tersenyum lebar dengan pipi memerah. “Aku juga.”

Suster Jung langsung menjitak kepala Yein, terus menggodanya dengan suitan.

Setelah itu Suster Jung terdiam, menatap wajah kasmaran Yein. Tidak seharusnya ia memberikan berita ini sebenarnya, tetapi Yein juga perlu tahu.

Patah hati tidak akan lama. Suster Jung membatin.

“Yein-ah kau tahu, mm…. di rumah sakit selalu ada pertambahan dan pengurangan pasien dan…”

“Ada yang mau menempati kasur disampingku?”

Suster Jung menggeleng. “Jungkook sudah tidak ada, Yein-ah.”

Waktu seakan berhenti. Yein yang sedang memelintir selimutnya kini terdiam. Nafasnya seakan berhenti untuk sesaat. Setelah itu ia kembali bernafas normal, menggenggam selimut dan menggelengkan kepala.

“Dia masih datang kemarin dan mengatakan semuanya. Dia…. Dia….”

“Dia sudah tidak ada, Yein-ah. Jam 3 kemarin tiba-tiba dia terkena serangan jantung. Dia punya penyakit jantung, dan orangtuanya menyembunyikannya.”

Yein menggeleng. “Dia datang jam 4. Benar dia datang jam 4.”

“Yein-ah…”

“Dia datang jam 4, Unnie! Aku benar! Dia datang jam 4 memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans ketat. Aku ingat semuanya dia tidak mati, Unnie!”

Yein terus berteriak, meraung dan membanting apapun yang ada di dekatnya. Selang infusnya hampir putus, menghasilkan darah yang keluar dari baliknya. Suster Jung menekan tombol darurat, dan tak lama nafas Yein terengah. Gadis itu pun pingsan setelah beberapa dokter dan perawat mendatangi ruangannya.

 

****

 

Sunday is gloomy

the hours are slumberless

dearest the shadows

I live with are numberless

 

Sekarang hari Senin, itu artinya kemarin hari Minggu. Hari Minggu terasa sangat panjang untuknya mulai saat itu karena bayangan tentang Jungkook yang mengatakan menyukainya masih menghantuinya. Jungkook seperti ada didekatnya, setiap hari. Setiap makan. Setiap bangun tidur. Setiap waktu memikirkannya.

 

Little white flowers

will never awaken you,

not where the dark coach

of sorrow has taken you

 

Dan pada akhirnya Yein menyanyikan lagu ini lagi setelah satu bulan berhenti menyanyikannya. Ia ingat Jungkook datang saat ia selesai menyanyikan bagian reffnya dan mengatakan tentang legenda lagu ini.

 

Angels have no thought

of ever returning you

would they be angry

if I thought of joining you?

 

Sayangnya kini tinggal Yein di dunia ini. Para malaikat itu telah membawa kawannya pergi bersamanya. Kadang Yein berharap Jungkook kembali ke dunia ini untuk beberapa saat saja, untuk mengutarakan perasaannya. Yein bahkan tidak tahu dimana makam Jungkook. Yang Yein tahu hanyalah ruangan inap Jungkook yang tepat disebelahnya.

 

Gloomy Sunday

 

Gloomy Sunday

with shadows I spend it all

my heart and I

have decided to end it all

 

Air mata kembali bercucuran. Yein tidak kuat lagi menahan semuanya. Berpura-pura semua telah terjadi dan harus dilupakan tidaklah semudah itu. Jungkook yang hadir tanpa permisi serta langsung menempati posisi teratas hatinya tidak mungkin bisa dibiarkan begitu saja.

 

Soon there’ll be prayers

and candles are lit, I know

let them not weep

let them know, that I’m glad to go

 

Kembali gadis itu menyanyikan lanjutannya. Hatinya kini tergerak, membayangkan betapa indahnya lilin dan bunga-bunga lili yang akan dihias di dekat peti matinya. Senyuman Jungkook juga mulai memasuki pikirannya, mengajaknya untuk ikut serta tersenyum daripada harus berlama-lama menunggu donor jantung yang tiada jelas kapan akan datang.

 

Death is a dream

for in death I’m caressing you

with the last breath of my soul

I’ll be blessing you

 

Gloomy Sunday

 

Dreaming, I was only dreaming

I wake and I find you asleep

on deep in my heart, dear

 

Yein sempat melihat wajah teduh Jungkook di atas ranjangnya setelah dokter mencabut seluruh peralatan di tubuhnya. Saat itu kaki Yein langsung kebas. Ia langsung terduduk dan menangis di depan pintu ruangan ICU tempat Jungkook dirawat.

Dan bayangan itu makin memperkuat Yein untuk bertemu dengannya.

 

Darling, I hope

that my dream hasn’t haunted you

my heart is telling you

how much I wanted you

 

Yein menoleh kala mendengar orang lain menyanyikan lagunya. Suaranya sama persis seperti yang dipikirkannya, dan Yein langsung tersenyum kala orang itu mendekat padanya.

“Sepi sekali disana. Pasti menyenangkan kalau ada Yein.”

Yein tersenyum kecil. Air matanya langsung dihapus begitu melihat sang lelaki.

“Liriknya benar kan? Aku menghapalnya dalam satu malam. Hebat kan?”

Yein mengangguk. Mengiyakan apapun yang anak itu ucapkan. Sekarang tidak ada selang infus atau selang-selang lain di tubuhnya. Jungkook masih tampan walaupun sekarang pakaiannya hanya berwarna putih.

“Mau ku bantu lepas?” tangan Jungkook dengan cekatan melepaskan selang infus yang menempel di tangan kanan Yein. Setelah itu darah langsung mengucur deras.

“Tidak apa-apa. Nanti juga berhenti sendiri,” Jungkook tersenyum menenangkan. “Mau pergi denganku?”

“Kemana?”

Mata Jungkook menatap ke atas. Langit biru cerah dengan awan berarak melambai menyambutnya. Angin sejuk sore membawa awan-awan itu makin berantakan. Dengan yakin Yein menggenggam tangan Jungkook yang terulur kepadanya. Jungkook tersenyum, begitu pula Yein.

“Jarimu berdarah?” tanya Jungkook ketika melihat darah di jari telunjuk sang gadis.

Yein mengangguk. “Tidak apa-apa. Aku mengirim pesan.”

Setelah itu mereka berdua menaiki undakan yang merupakan batas bangunan. Kaki Yein melemas seketika ketika melihat aspal di bawah terasa sangat jauh dijangkau.

“Tidak apa-apa, kan ada aku,” seru Jungkook dengan riang.

Yein menggenggam tangan Jungkook lebih erat, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Setelah itu ia tersenyum, mengikuti pemuda Jeon itu melompat ditemani gravitasi.

Gloomy Sunday

It’s absolutely gloomy Sunday

 

[fin]

Ini fic terpanjang oneshot terpanjang yang pernah gue bikin selama tahun 2015 ini ((ketawa)) ((oke abaikan))

Sebenernya stuck parah sama fic ini, awalnya mau dibuat ficlet fluff malah berakhir seperti ini. Poster udah terlanjur mesen pula karna mikirnya dulu kan cuma ficlet paling kelarnya cepet. Yaudah akhirnya melanjutkan dengan penuh kesedihan ((gak))

Oke, maafkan daku wahai Jeong-In Shipper, aku rela dimadu sama Sungje kok ((plok)) mind to review then? ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s