[Ficlet-Mix] Thank You For Being Born

family

Tripple Ficlet by LaillaMP || Thank You For Being Born themed || Family contained || 200 – 400 words per-fic ||with Park Yoochan x Park Yoochun; Choi Youngjae x Choi Yoochae; Song Ilkook x Song Triplets

 

“Percayalah, kelahiranmu adalah anugerah tersendiri bagi orang lain.”

—— Happy Reading —–

Happy birthday!

.

“Hei!”

Yoochan mengernyitkan dahi kala melihat seorang lelaki yang tidak asing mengetuk pintu kamarnya. Seingatnya orang ini sudah pergi daritadi.

“Aku meminjam mobil Ayah. Ayo keluar!”

Yoochan mengecek keadaan, siapa tahu ada orang lain yang diajak berbicara oleh orang ini. Tapi kenyataannya ia yang diajak berbicara, dan kini tangannya sudah sukses digandeng dan dibawa lari ke parkiran.

“Apaan sih?” Yoochan berseru kesal ketika tangannya dilepaskan Yoochun, sang kembaran.

Yoochun tersenyum kecil, kemudian menutup pintu mobil di bagian kanan dan langsung berlari ke bangku kemudi di bagian kiri.

Tidak ada pembicaraan setelahnya. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang dan instrumen dari Yiruma mengalun lembut dari pemutar. Yoochan hampir tertidur ketika mobil dihentikan di sebuah tempat yang penuh cahaya.

“Apa itu?”

Yoochan mengikuti langkah Yoochun yang selangkah didepannya. Mengikuti arah lampu-lampu kecil dan berakhir pada sebuah panggung setinggi lutut dengan cahaya yang lebih cerah di atasnya.

“Selamat ulangtahun, Chan.”

Sang gadis hanya bisa mengatupkan mulut sembari melebarkan mata. Yoochun, sang kembaran yang sudah ada di atas panggung menyalakan satu persatu lilin dengan pemantik di tangannya. Setelah itu baru terlihat angka 19 di atasnya.

Happy birthday, My Twin.”

Yoochan langsung jatuh terduduk, melihat ketulusan Park Yoochun yang sudah berkali-kali ia tolak kehadirannya karena telah mengambil semuanya dari hidupnya. Tanpa terasa air mata telah berlomba untuk meluncur lebih cepat dari tempatnya.

“Selamat ulang—“

Happy birthday, My Elder Twin.”

Yoochun tersenyum lebar, menikmati hangatnya pelukan yang diberikan saudara kembarnya. Air matanya ikut menetes, kemudian membalas pelukannya.

Thank you for being born as my twin, Park Yoochun.”

Sudah tak terbendung lagi air mata Yoochun, dan malam itu adalah saksi bisu dari kelahiran kembali sepasang anak manusia.

 

*

 

You Are The One.

.

Youngjae mencuri pandang ke arah kanan dari kursinya, menatap seorang gadis dengan gaun terusan berwarna merah muda yang sedang duduk manis di bangkunya.

“Aku bersedia.”

Setelah kata itu diucapkan, semua orang langsung berteriak riuh menyelamati si pengantin sekaligus bertepuk tangan.

Hanya dua orang yang tidak melakukannya. Seorang gadis di sebelah kanannya dan.. Choi Youngjae sendiri.

Ini pernikahan kedua ayahnya setelah beberapa bulan resmi bercerai dari ibu kandungnya. Ia dan saudara kembarnya terpaksa terpisah, kemudian dipertemukan kembali di acara sakral ini.

Youngjae ikut berdiri ketika para tamu berdiri, menyambut kedatangan pasangan suami istri baru dengan menyebarkan kelopak-kelopak bunga indah pada mereka.

“Selamat,” ucapan itu terdengar parau, tetapi wajahnya terus menyunggingkan senyum. “Ini pernikahan ayahmu, kenapa kau murung?”

Youngjae menatap gadis itu, Choi Yoochae, saudara kembarnya. “Itu ayahmu juga, Moron.”

Yoochae tersenyum, melihat punggung ayah kandung dan istri barunya melenggang melewati kedua anaknya yang tengah berbincang itu.

“Aku tidak bisa mengakui laki-laki yang sudah memiliki wanita lain, biarpun itu ayahku sendiri,” dirinya terus tersenyum sembari bertepuk tangan.

“Wanita itu… punya anak kan?”

Youngjae mengangguk. “Seusia kita. Namanya Aran.”

Yoochae tahu siapa yang dimaksud Youngjae itu. Anak sekelasnya yang terkenal supel dan pintar pujaan para guru.

“Pasti senang punya saudara yang lebih pintar. Kau tidak bisa mengandalkanku sama sekali kan?”

Youngjae tertawa kecil, pilu. “Iya. Kau memanjat pohon mangga untukku tapi kau tidak bisa turun lagi. Akhirnya aku yang repot.”

Yoochae ikut tertawa, menutupi air matanya yang mulai jatuh membasahi pipinya. “I’m hopeless, kalau mau tahu.”

“Kau juga tidak bisa matematika. Kau bahkan selalu lupa aku tidak bisa makan timun dan mencampurkan sup ikan dengan timun. Kau….”

“Aku bahkan tidak pernah jadi kakak terbaikmu. Maafkan aku, Youngjae-ya.”

Tangis itu akhirnya pecah setelah para tamu undangan bergerak keluar untuk menerima buket bunga yang dilemparkan sang mempelai. Yoochae terduduk di tempatnya, tidak kuat menahan beban yang ia tanggung sendiri karena menghadiri pernikahan ayahnya. Youngjae hanya menatap sang kakak, mengelus pundaknya.

“Aku berjanji akan jadi kakak yang baik untukmu, Youngjae-ya. Kenapa orangtua kita tidak bisa kembali lagi?”

Youngjae mendongakkan kepala, menghalau cairan bening yang ingin segera meluncur deras dari tempatnya. Ia akhirnya memeluk Yoochae, membiarkan gadis itu membasahi jasnya.

“Maafkan aku..”

Youngjae mengelus punggung kakaknya. Setelah itu menarik nafas dalam-dalam untuk menyembunyikan tangisnya.

“Kau tetap kakakku, no matter what. Biarpun kau begini dan begitu, kau tetap….” Youngjae melepaskan pelukannya, menatap mata basah kakaknya. “…..kakakku. Saudara kembarku.”

Yoochae tersenyum, menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Youngjae ikut membantunya, kemudian mengacak rambut Yoochae pelan.

“Ayo kita keluar, bertemu Ayah.”

 

*

 

Thank You For Being Born!

.

Appaaaaaa!!!”

Suara teriakan itu terdengar sangat nyaring setelah pintu terbuka. Pria yang sedang membalas pesan singkat dari seseorang itu langsung meletakkan ponselnya ke pojok sofa, menyambut kedatangan tiga putra kembarnya, Song Daehan, Song Minguk dan Song Manse, yang baru pulang dari sekolah.

Appa, Appa, Daehannie menggambar ini untuk Appa. Kata Sonsaengnim ini sangat bagus.”

Laporan pertama datang dari putra tertua, Song Daehan, yang memberikan kertas bergambar rumah yang di depannya terdapat seorang laki-laki dan perempuan dewasa serta tiga anak laki-laki yang berambut cepak. Song Ilkook, pria itu tertawa kecil sembari menahan bulir yang akan keluar dari matanya.

“Ah, Daehannie, terima kasih telah memberikannya pada Appa,” Ilkook mengacak rambut Daehan sembari memberikan ciuman tanda sayangnya berkali-kali, sedangkan Daehan masih merasa terbang ke awang-awang karena pujian dari guru dan ayahnya.

Appa, Appa, Mingukkie tadi bernyanyi di depan kelas. Sonsaengnim dan teman-teman bertepuk tangan semua!”

Giliran si anak tengah, Song Minguk yang bersemangat memberi laporan. Ia dengan antusias kembali menyanyikan lagu Aligator yang tadi dinyanyikan di sekolahnya. Setelah lagu itu selesai Ilkook langsung membawanya ke pelukannya, menciumi pipi tembamnya berkali-kali.

“Aah Mingukkie memang hebat!”

APPAAAAA!!!!” giliran si bungsu Song Manse yang penuh semangat kali ini. Tangannya masih grasak grusuk di tasnya, mencari sesuatu yang menjadi karya terhebatnya di sekolah tadi.

“Manse membuat ini untuk Appa.”

Tawa Ilkook langsung menyembur kala Manse memberikan sebuah mainan yang hampir hancur dari kulit jeruk.

“Apa ini?”

“Mobil mobilan. Tadi dimainkan Ryuji jadi hancur. Manse benarkan sedikit jadi begitu.”

Si bungsu manyun, membuat sang ayah langsung tertawa keras sembari mencubit pipinya yang memerah. Manse ingin menangis lagi, tetapi satu pujian dari ayahnya langsung menghentikan niatan menangisnya.

Appa suka kok. Terima kasih telah memberikannya untuk Appa, Manse-ya,” ucapnya sembari mencium pipinya berkali-kali.

Kemudian ketiga bocah 5 tahun itu bersamaan mengerubungi sang ayah, memeluknya erat dan mengatakan ‘Aku mencintaimu’ bersama-sama. Ilkook mati-matian menahan air matanya agar tidak tumpah.

“Terima kasih telah mencintai Ayah. Kalian mau mencintai Ayah sampai kapan, hm?”

“10 tahun!” ucap Daehan.

“100 tahun!” Minguk tidak mau kalah.

“1000 tahun!!” Manse juga tidak mau kalah jumlah dengan kedua kakaknya.

Setelah itu Ilkook tertawa sembari menyeka sedikit air mata yang tumpah karena ketiga bocah ajaib yang dititipkan Tuhan untuknya. Pria itu bersyukur atas hadiah dari Tuhan ini.

“Terima kasih telah lahir, Anak-anak. Terima kasih telah tumbuh dengan sehat. Dan terima kasih untuk menjadi pelipur lara Appa setiap hari.”

.fin

Thankyou for reading!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s