[Request] You’re Not Even Mine

yne[Poster by Olv @ Poster Channel
Thank you for amazing poster kak~]

Title : You’re Not Even Mine

Genre : School life, Angst, Romance

Length : Oneshot (3k+ words]

Cast(s) : Kim Seokjin (BTS), Na Haeryung (BESTie) and one other cast!

 

This fic was requested by Maharani. I’m really sorry for the long waiting😦😦😦

This fic is longer than my usual fic, so i hope you enjoy dear🙂

Happy reading, all~~^^

 

****

Seokjin terus-terusan menguap di pelajaran sejarah yang dipimpin Guru Kim. Selamanya pelajaran sejarah adalah pelajaran yang akan menguras otaknya karena penuh hafalan tahun, kejadian, dan nama-nama asing yang tidak dikenalnya. Memangnya hidup ini akan maju jika terus-terusan mengingat masa lalu?

“Seokjin!”

Seokjin mendengar suara yang memanggil namanya sayup-sayup. Matanya sudah setengah tertutup, tinggal selangkah lagi menuju tertutup sempurna.

“Kim Seokjin!”

Kali ini Seokjin mendengar nama lengkapnya dipanggil. Ia sudah tidak punya tenaga untuk sekedar menjawab ‘Ya’ pada gurunya. Rasa kantuk makin menyerangnya, membuat mulut Seokjin membentuk huruf ‘O’ untuk menguap.

“KIM SEOKJIN, TAHUN BERAPA PERANG KOREA PECAH?”

Akhirnya Seokjin pun bisa mendengar suara gurunya yang meneriaki namanya serta pertanyaan sejarah dengan keras.

“Aduh…. tahun berapa ya,” Seokjin menggumam sendiri sembari menatap puluhan pasang mata yang mengarah padanya.

“Ayo, tahun berapa?” Guru Kim melayangkan tatapan mematikan, membuat Seokjin mau tidak mau langsung membolak-balik catatannya. Sayangnya yang ia buka saat ini catatan biologi, bukan sejarah.

“Ngg…..” Seokjin mencoba mencari bantuan dari tatapan anak-anak di kelasnya. Sayangnya yang ditemukan hanyalah tatapan mengejek karena ia tidak tahu pelajaran dasar dari sejarah negaranya ini.

25 Juni 1950.

“25 Juni 1950!” jawab Seokjin mantap. Ia langsung mengarahkan mata ke kanan hendak mengucapkan terima kasih. Tetapi yang ingin diucapkan terima kasih malah memalingkan pandang.

“Nah, sekarang tahun berapa perang Korea selesai?”

Mampus aku. Bokong Seokjin terasa kempes, sepertinya ia akan menghadapi perang bersama Kim Youngwon Sonsaengnim setelah ini, dimulai dari tanggal 4 Agustus 2015 sampai waktu yang belum ditentukan.

27 Juli 1953.

“27 Juli 1953!” teriak Seokjin pada akhirnya. Ia kembali melayangkan pandang ke arah gadis bersurai cokelat panjang yang tengah sibuk mencoret-coret bagian belakang bukunya.

“Bagus sekali, ayo berikan tepuk tangan pada biang kerok kelas ini.”

Tepukan tangan pun memenuhi kelas 3-4 untuk Kim Seokjin. Guru Kim ikut bertepuk tangan sembari tertawa penuh arti. Seokjin hampir saja terharu.

“Nah, sekarang Kim Seokjin, kau harus maju ke depan untuk menerima hadiah dariku. Dan Na Haeryung, kau juga harus kesini untuk menerima bingkisan cantik dariku.”

Gadis bersurai cokelat panjang di sebelah Seokjin menoleh ke arahnya sembari memberikan tatapan kesalnya. Seokjin hanya bisa menggaruk bagian belakang kepalanya dengan kikuk sembari mengirimkan sinyal ‘maaf’ pada gadis itu.

 

****

 

“Haeryung-ah~”

Haeryung geli sendiri mendengar seseorang menyerukan namanya dengan manis. Seluruh bayangan tentang ‘bingkisan cantik’ yang diberikan Guru Kim mengaliri pikirannya.

“Haeryung-ah~”

“Berisik.”

Haeryung memeras kain pelnya dan langsung menjatuhkannya ke lantai dengan kasar. Seokjin yang sedang menatap Haeryung lekat-lekat dari atas gagang sapu itu langsung tersentak dan hampir memasukkan bagian atas gagangnya ke dalam mulut.

“Kerjakan, cepat! Aku tidak mau dimarahi Guru Kim.”

“Kenapa harus takut? Guru itu kalau sudah bicara denganmu sudah tidak menakutkan lagi. Nanti lama-lama juga dekat,” ucap Seokjin sembari mengangkat sapu. “Lihat, aku akan melakukan—“

“Kim Seokjin!” Haeryung menunjukkan kepalan tangannya pada Seokjin yang tengah menggodanya.

Seokjin hanya tertawa keras sembari terus menggoda Haeryung yang sedang serius mengepel lantai yang sudah disapu Seokjin dengan bersih. Jujur saja lelaki itu suka sekali melihat wajah memerah Haeryung setelah digodanya. Haeryung sering sekali kena masalah karena membantunya menjawab pertanyaan, pun Seokjin yang selalu terjun bak pangeran kesiangan ketika Haeryung melakukan keteledoran seperti tidak membawa buku atau terlambat ke sekolah.

“Sebaiknya besok kau ikat rambutmu. Itu mengganggu ketika sedang melakukan kegiatan,” kata Seokjin yang daritadi melihat Haeryung kesulitan melihat karena rambut panjangnya menutupi pandangan.

Haeryung menoleh langsung ke arah Seokjin dan menyipitkan matanya, kesal. Tetapi akhirnya gadis itu tidak mengacuhkan Seokjin lagi dan meneruskan pekerjaannya.

Akhirnya setelah satu jam kemudian kedua anak yang sedang dihukum membersihkan lapangan basket indoor itu pun berhasil menyelesaikan hukumannya, dengan bantuan Seokjin di akhir karena Haeryung tiba-tiba merasa mual karena belum makan.

 

****

 

From : Seokjin babonim

Bangun! Ayo berolahraga supaya tidak sakit! Kau terlihat tidak baik kemarin.

 

Haeryung tertawa kecil melihat pesan itu, kemudian tawanya lebih pecah lagi kala si pengirim juga mengirimkan foto dirinya yang sedang berpose manis dengan bandana pink di dahinya.

 

To : Seokjin babonim

Apa-apaan itu? Memang aku tidak enak badan, kau olahraga sendiri saja ya. Ppyong~

 

Dan setelah pesan itu terkirim semburat kemerahan memenuhi wajah manis Na Haeryung. Bayangan-bayangan tentangnya yang selalu dihukum bersama Seokjin pun mengaliri pikirannya. Seokjin yang konyol, Seokjin yang sok cool, Seokjin yang bicara asal, Seokjin yang manis dengan bandana pink…

Tidak! Tidak! Tidaaaak!!!! Haeryung berteriak sendiri dalam hati memikirkan hal-hal aneh yang tidak seharusnya ia pikirkan. Kenapa harus Seokjin?

Tring!

Satu pesan kembali datang dari orang yang sama. Kini semburat merah itu sudah menghilang, digantikan dengan raut kesal yang membuat bulu kuduknya menunduk saking kesalnya.

 

From : Seokjin Babonim~

Jangan lupa diet. Kau terlihat gemukan akhir-akhir ini.

 

Ingatkan Haeryung untuk memberikan Seokjin racun tikus terbaik saat makan siang nanti.

 

****

 

Haeryung tidak melupakan seluruh petuah yang diberikan Seokjin dari ketika ia mengerjakan hukuman dari Guru Kim sampai pesan singkatnya tadi pagi. Haeryung mematutkan dirinya, memastikan tidak ada yang salah dengan tubuhnya kali ini. Ia tidak gemukan, hanya pipinya saja yang bertambah tembam. Ketika mengecek timbangan, yang didapatkannya malah berat badan yang turun satu kilo. Kenapa Seokjin bisa mengatakan ia gemukan?!

Dan haeryung juga tidak lupa untuk menyisir rapi rambutnya dan mengikatnya ekor kuda dibelakang. Haeryung sebenarnya tidak suka mengikat rambutnya, karena Seokjin pernah bilang lehernya itu belang seperti leher jerapah. Tetapi setelah mengeceknya lagi leher Haeryung baik-baik saja, tidak ada warna selain putih dan satu tahi lalat dibelakangnya. Kenapa Seokjin bisa mengatakan lehernya seperti jerapah?!

Setelah berdandan selama lebih dari 30 menit akhirnya Haeryung berjalan keluar menuju halte. Bibirnya terus menyunggingkan senyum, akan ia lawan benar-benar Kim Seokjin itu. Enak saja mengomentari fisiknya yang super sempurna ini.

“Begini lebih baik,” seseorang tiba-tiba menyentuh rambut ekor kudanya, membuat rambut yang sudah susah payah ia sisir dengan rapi dan diikat cantik menjadi tergerai sempurna. Seokjin tidak menunjukkan ekspresi apa-apa setelah dengan tidak sopannya melepaskan ikat rambutnya.

“Ya!” Haeryung berteriak sembari memegangi rambutnya agar tidak terlambai angin.

“Kubilang kan ikat rambutnya kalau sedang ada kegiatan.”

“Tapi aku sedang berjalan. Itu kan kegiatan!”

Seokjin melangkah tak acuh, meninggalkan Haeryung yang membutuhkan penjelasan dibelakangnya. Haeryung terus meneriakkan namanya, tetapi yang punya nama hanya terus melanjutkan jalannya.

“Dasar!” Haeryung menyunggingkan senyum kecil, kemudian berlari untuk menyusul langkah lelaki itu.

 

****

 

“Jangan minum soda,” Seokjin kembali menjadi pahlawan kesiangan Haeryung saat sedang memilih minuman di dalam mesin. Haeryung yang sangat menyukai minuman bersoda pastinya memilih pepsi.

“Katamu kau sedang mual, minum susu saja biar sekalian dimuntahi.”

Haeryung yang tanpa sadar menyunggingkan senyum perlahan mengembalikan kurva naik itu ke tempat semula, datar. Bogem mentahnya hampir saja akan mengenai pipi mulus Seokjin jika lelaki itu tidak tertawa dulu.

“Air putih lebih baik,” Seokjin memberikan sebotol air mineral setelah membuka tutupnya. Setelah itu Seokjin berbalik, kembali meninggalkan Haeryung yang entah sejak kapan jadi tidak bisa bergerak setelahnya.

“Ah!” Seokjin berbalik ke arahnya lagi setelah beberapa langkah di depannya. “Nanti mau temani aku ke supermarket? Aku ingin membuatkan sesuatu untuk Jina.”

Jina, ah, Cho Jina. Haeryung hampir melupakan sosok gadis dalam balutan gaun musim dingin yang sangat dicintai Seokjin itu. Jina adalah teman masa kecilnya, sekaligus pacar Seokjin yang kini bersekolah di Stockholm. Sudah hampir dua tahun mereka tidak bertemu, dan Jina akan kembali ke Korea hari Minggu ini.

“Jina akan pulang, ya? Oh iya, oke, just call me.”

Setelah ajakannya diterima Seokjin pun undur diri dari tempat. Haeryung hanya memerhatikan langkah bahagia didepannya dalam diam. Hampa, kembali perasaan itu menghampirinya. Kenapa Jina harus kembali? Dan Haeryung pun menepuk pipinya sendiri karena berpikiran jahat tentang teman masa kecilnya.

 

****

 

Haeryung kembali mematutkan dirinya di kaca. Menatap wajah datarnya dengan piyama biru yang kebesaran serta rambut yang diikat asal sampai menyisakan anak rambut dibelakangnya. Hari-hari Haeryung menjadi kacau setelah ia menerima kabar jina akan kembali. Di satu sisi ia memang sangat senang, bahkan sudah merangkai beberapa acara untuk penyambutannya. Di sisi lain, gadis itu juga dilema. Selama ini yang berada disebelah Seokjin adalah dirinya, dan tentu saja sedikit bagian dari dirinya tidak menginginkan seseorang pergi untuk orang lain.

Semenjak kabar kepulangan teman kecilnya itu sampai di telinga Seokjin, lelaki itu menjadi sedikit lebih jauh darinya. Seperti ada sepotong jarum yang memisahkan. Haeryung tidak bisa mendekat karena takut tertusuk, tetapi ia juga tidak bisa menjauh karena itu hanya sepotong jarum yang bahkan tidak terlihat wujudnya. Bingung? Ya, seperti perasaan ruwet Haeryung yang dilanda kegalauan hebat.

“Apa taman biru masih ada? Aku merindukan tempat itu.”

“Tentu saja. Hei, kau baru dua tahun pergi! Jangan seperti kau sudah pergi dua puluh tahun, deh.

Haeryung mengingat konversasi kecil yang dilakukannya bersama Jina. Setelah memikirkan itu perasaan Haeryung kembali berubah. Ia merasa tidak seharusnya cemburu dengan teman dekatnya sendiri.

“Sepertinya aku kurang tidur.”

 

****

 

Hari yang ditunggunya dan Seokjin akhirnya datang. Cho Jina dengan pakaian musim panasnya turun dari mobil dan langsung memeluk keduanya dengan sangat erat. Ia juga sempat menciumi pipi Haeryung dan Seokjin bergantian. Haeryung memasang wajah kesal yang dibuat-buat, sedangkan Seokjin membalas ciuman gadis itu di pipinya.

“Apa ini yang kau bawa dari Stockholm? Seingatku kau tidak suka skinship macam ini,” kata Haeryung sembari manyun.

Jina tertawa kecil. “Semenjak disana aku jadi berbeda ya? Memang orang timur mudah terpengaruh dengan budaya barat. Eh, apa kabar by the way? Kau kelihatan kurusan?”

Tidak ada yang berubah dari Cho Jina kecuali dirinya yang banyak bicara seperti ini. Jina masih cantik anggun dengan pakaian apapun. Tingginya juga sedikit bertambah, hampir menyamainya. Dulu Jina hanya sebatas pundaknya, dan kini sudah melewati telinganya.

“Aku kurusan? Kata Seokjin justru aku gemukan,” balas Haeryung sembari menatap satu-satunya lelaki disampingnya.

Jina menatap Seokjin kaku, untungnya Haeryung tidak melihat ekspresi keduanya.

“Ayo masuk. Aku akan memasakkanmu masakan terbaik di abad ini!” kata Seokjin, menggandeng tangan Jina masuk.

Dibelakangnya Haeryung tersenyum tipis. Satu bagian dari dirinya seperti tertusuk jarum.

 

****

 

Haeryung merasa jadi seperti bayangan diantara sepasang kekasih. Bahkan lebih buruk dari itu.

Seokjin dan Jina yang sudah 2 tahun tidak bertemu itu saling berpegangan tangan seperti terikat lem super. Sesekali keduanya melayangkan ciuman di pipi, bahkan bibir. Seokjin sekarang sedang memasak, tentu saja dengan Jina yang menjadi asisten dapurnya.

“Haeryung-ah, ikut kami sini!” Jina melambaikan tangannya, menyuruh sang sahabat untuk ikut meramaikan dapurnya yang sudah seperti kapal pecah.

Haeryung menggeleng sembari tersenyum manis. “Tidak usah, biar kalian saja,” Haeryung kemudian mencungkan ponselnya. “Aku mau pacaran juga!”

Jina mendengus sembari tersenyum kecil. “Anak itu sudah mengerti pacaran ternyata.”

“Dia tidak mengerti.”

“Dia sudah pacaran, Moron!

Moron? Kau mengatakan aku bodoh?!”

Jina mengacungkan sendok yang sedang dipakainya untuk mengaduk daging cincang. Seokjin dengan cekatan langsung menyilangkan kedua tangannya di depan wajah.

“Beritahu aku, siapa yang jadi pacar Haeryung? Dia pintar? Dia tampan? Dia tinggi? Ayolah aku penasaran!”

Seokjin mendecih. “Sudah kubilang dia tidak punya pacar. Siapa yang mau jadi pacar gadis urakan begitu?”

Kali ini sendok itu benar-benar melayang ke atas kepala Seokjin.

“Tanya saja sendiri, ah! Aku mau masak!”

Jina mendengus kesal. Wajah Seokjin jadi tidak bersahabat tepat ketika ia bertanya tentang pacar Haeryung. Segala hal yang tidak diinginkannya melayang di pikirannya, tetapi buru-buru ia tepis dan mendatangi Haeryung yang sedang asyik dengan ponselnya.

“Ya, siapa pacarmu, Na Haeryung?”

Haeryung menutupi ponselnya dengan satu tangannya, kemudian tersenyum menggoda pada sahabatnya.

“Kau penasaran?”

“Tentu saja. Kenalkan padaku, siapa tahu dia tipeku?”

“Kau sudah punya aku, Moron!” Seokjin berteriak dari dapur.

Kedua gadis itu tertawa.

“Siapa? Cepat beritahu aku!” bisik Jina, penuh penasaran.

“Dia….”

“MAKANAN SIAP!!” teriak Seokjin tepat ditengah-tengah kedua gadis yang sedang berbisik itu. Seokjin buru-buru menyelamatkan tempat sendok, takut-takut dirinya dihujam garpu oleh dua gadis ganas ini.

 

****

 

Ketiga sahabat yang sedang bereuni itu menyantap masakan ‘terbaik’ Seokjin, yaitu Cream Spaghetti dengan daging ayam cincang, ayam goreng tepung dan saus teriyaki, dan cake sederhana dengan 3 lilin kecil diatasnya.

Setelah itu mereka melakukan permainan gunting-kertas-batu untuk menentukan siapa yang akan membereskan piring di meja dan mencuci piring-piring kotor serta membersihkan kekacauan di dapur.

“Yes, aku ambil piring saja ya,” Haeryung menumpuk piring dan membawanya ke bak cucian.

“Sial, aku mencuci piring!” Jina mendengus kesal, menyalahkan kekasihnya sendiri karena tidak membiarkannya menang.

“Aku membersihkan dapur setelahmu, oke? Aku menunggu di gazebo, Sayang!” Seokjin merangkul bahu Haeryung akrab, mengajaknya ke gazebo di bagian belakang rumah luasnya.

Jina mendengus, tertawa kecil memerhatikan dua sahabat yang tidak pernah akur itu telah menjadi sosok yang sangat dekat.

 

****

 

“Sudah lama ya, tidak begini,” Seokjin mengawali pembicaraannya setelah 5 menit berbaring di gazebo, menikmati pemandangan langit yang cerah dengan bulan sabit dan bertabur bintang disekitarnya. Disampingnya Haeryung duduk memeluk lutut, juga memerhatikan langit cerah itu.

“Hm..” Haeryung mengangguk, tersenyum tipis.

“Awal musim panas, untung tidak banyak nyamuk.”

Haeryung hanya mengangguk sembari menggumamkan persetujuan.

Keduanya terdiam agak lama tanpa pembicaraan. Seokjin sibuk mengagumi keindahan lukisan langit di atas dan Haeryung sibuk menerka apa yang seharusnya dibicarakan. Baru kali ini tidak ada pembicaraan diantara keduanya.

“Jina lama ya,” akhirnya Haeryung kembali membuka konversasi, yang sayangnya hanya dibalas embusan angin.

“Kau punya pacar?”

“Ha?”

Seokjin bangun dari posisinya, kemudian menatap Haeryung yang sedang menghadap belakang untuk mengecek kedatangan Jina.

“Kau punya pacar?”

Tatapan mata Seokjin benar-benar berbeda dari biasanya. Lelaki itu terlihat serius sekarang, tidak seperti..

“Jawab, Na Haeryung.”

Haeryung menelan ludahnya, kemudian menggigit bibir bagian dalamnya agak keras. “T-tidak.”

Seokjin menghela nafas panjang, terdengar lega. Lelaki itu tertawa kecil, kemudian kembali memposisikan dirinya menghadap langit.

“Sudah kuduga. Siapa yang mau denganmu?” Seokjin terkekeh pelan. “Ya kan?”

Haeryung menggigit bibir, kemudian menatap Seokjin lurus-lurus. “Apa aku pernah terlihat seperti wanita di matamu?”

Seokjin tertawa kecil, menanggapi. “Menurutmu?”

Haeryung menggeleng. “Kau tidak pernah menganggapku wanita. Aku juga wanita, sama seperti Jina.”

“Tetapi Jina lebih feminim.”

“T-tapi aku tetap wanita.”

Haeryung memalingkan wajah dari Seokjin, menghapus cair bening yang dengan tiba-tiba menetes. Gadis itu mengatur nafasnya agar tidak terdengar terisak.

“Hei, oke, kau perempuan. Jangan menangis, Haeryung-ah.”

Haeryung menggeleng. “You didn’t mean it.”

“Jangan berbicara bahasa asing, aku tidak mengerti!” Seokjin kembali bangun, kemudian merangkul kedua bahu Haeryung.

“Aku juga wanita. Aku juga bisa menyukai laki-laki. Tapi… kenapa kau, Seokjin-ah?” air mata Haeryung benar-benar tumpah tidak terkontrol. “A-aku… kenapa harus kau?”

Seokjin menengadahkan kepala, menggeleng bingung. “Bicaralah yang benar, aku tidak mengerti.”

Haeryung menggeleng. “Lucu ya? Aku menyukaimu, padahal kau milik orang lain.”

“H-hei, Na Haeryung—“

Haeryung menyedot ingusnya dan langsung menghentikan ocehan Seokjin. Gadis itu kemudian menghapus sisa air mata di pipinya, menatap Seokjin sembari tersenyum.

“Lupakan. Anggap saja tadi gurauan biasa, oke?”

Seokjin melepaskan pegangannya pada kedua bahu Haeryung, menatap gadis yang sedang tersenyum dengan mata sembab dan sisa air mata di pipinya. Sejujurnya gadis itu telah mengisi sebagian dari relung hatinya. Tapi dirinya yang punya hati nurani berusaha menutup hati untuk Cho Jina.

Air mata gadis itu turun lagi setetes. Seokjin menjadi yang tercepat untuk menghapusnya daripada si pemilik. Ibu jari Seokjin menyapu bersih cairan itu sampai tidak bersisa, kemudian mengelus pipi gadis itu tanpa sadar, membuatnya kembali menumpahkan cairan itu agar si pemilik tangan hangat tidak melepaskan tangannya dari pipinya.

Kepala Seokjin perlahan mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Lelaki itu memiringkan kepalanya sedikit ketika mendekati garis pendaratannya. Bibir Haeryung dengan sukses ia sentuh dengan lembut.

Haeryung berusaha tidak menuruti nafsunya, tetapi perasaannya terlalu sulit untuk dihalangi. Gadis itu pun menutup matanya, menyalurkan kekuatannya karena telah menyimpan perasaan ini dalam waktu lama.

Cho Jina, maafkan aku.

Jina-ya, maafkan aku.

Seokjin membawa tubuh Haeryung turun membaring dengan hati-hati. Tangannya ia posisikan di bahunya, menahan pergerakan yang membahayakan bagi gadis itu.

Tanpa sadar keduanya telah melewati batas. Seokjin melumat lebih dalam bibir ranum Haeryung, dan Haeryung membalas ciuman itu tanpa ragu. Sedikit desahan dikeluarkan sang gadis, menikmati ciuman pertama dengan cinta pertamanya.

Tangan Seokjin merambat naik ke bagian atas tubuh Haeryung, membuka tiga kancing teratas kemeja putih yang gadis itu kenakan. Haeryung makin mendesah nikmat ketika buah dadanya tengah dipilin oleh jari-jari lentik Seokjin.

“Seokjin-ahh….” Haeryung mendesah pelan, merapatkan kakinya, menahan kenikmatan itu. “Hen…thi…kan…”

Seokjin kembali mengulum bibir Haeryung setelah memberi tanda pada dada bagian kanannya. Tangannya kembali bergerilya di bagian bawah, menarik turun celana dalam yang ditutupi rok pendek selututnya. Haeryung pasrah, tidak ingin lagi menahan-nahannya. Bagian bawah tubuhnya terasa basah, tetapi tidak ia hiraukan lagi.

“Ngh… Seokjin-ah…”

BRAK! PRANG!

Seokjin langsung melepaskan kontak bibirnya dengan buah dada bagian kiri Haeryung dan mengelap bibirnya, berdeham sejenak sebelum akhirnya bangun dan menatap ke arah belakang.

Pula Haeryung yang buru-buru mengancingkan kemejanya dan menaikan celana dalamnya ke tempat semula, menyeka bibir dan merapikan rambutnya untuk kemudian memeriksa arah datangnya suara.

“C-Cho Jina..”

“Jina-ya..”

Gadis yang terduduk lemas di pinggir pintu setelah menjatuhkan nampan berisi 3 jus jeruk itu menggeleng, tersenyum pilu menghindari kontak mata dengan kedua fiktim yang tidak sengaja ia pergoki sedang melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan.

 

****

 

Haeryung mengejar Jina, menarik tangannya agar gadis itu juga menarik ucapannya. Cho Jina hanya tersenyum lebar sembari menggeleng, kemudian dengan perlahan melepaskan tangan Haeryung yang menggenggam pergelangannya.

“Kau boleh kok berhubungan dengan Seokjin. Maaf ya sudah mengganggu hubungan kalian.”

“Apa—Jina-ya, aku bisa jelaskan. Kumohon dengarkan…”

“Bukan salahmu, kok. Aku benar! Percaya padaku!” Jina tersenyum menatap sahabatnya. “Aku akan putus dengannya.”

Haeryung benar-benar merasa bersalah sekarang. Tidak seharusnya ia menghancurkan ikatan indah yang sudah bertahun-tahun dijalankannya. Haeryung mengutuk perasaan dan nafsunya, kenapa mereka harus ada ditengah-tengahnya? Kenapa ia menurut saja pada mereka?

Gadis itu kembali menggenggam pergelangan tangan Jina, menggelengkan kepala dengan keras dengan air mata berlinang di pipi. Mata dan wajahnya memerah, dan keadaan itu tidak jauh berbeda dengan Jina.

“Aku akan putus dengannya, tenang saja, Haeryung-ah.”

“Kumohon jangan lakukan itu!” Haeryung menelan ludahnya. “Maafkan aku, aku telah kelewat batas. Aku—aku akan menjauh—“

“SUDAH KUBILANG TENANG SAJA! PERCAYA PADAKU!” Jina berteriak, terduduk di jalan tepat di depan rumah besar Seokjin. Disebelahnya Haeryung ikutan berjongkok, menangis keras sembari menggenggam tangan Jina dengan erat. “Kenapa kau lakukan itu, Haeryung-ah? Sudah berapa kali kau melakukannya?”

“Sumpah demi apapun, ini pertama kalinya! Aku… aku tahu aku kelewat batas. Maafkan aku Jina-ya..”

Jina tertawa pilu ditengah tangisnya, melepaskan tangan Haeryung dari tangannya dan menutupi wajah menangisnya dengan kedua tangannya. Gadis itu menangis kencang, merutuki Haeryung kenapa melakukan hal itu dengan Seokjin, padahal ia yang terang-terangan mendukung hubungannya dengan Seokjin.

“Aku memaafkanmu,” dua kata itu berhasil membuat Haeryung menghentikan tangisnya selama beberapa saat. “tapi aku juga minta maaf, aku tidak bisa menyerahkan Seokjin begitu saja. Aku… masih menyayanginya. Sangat menyayanginya.”

Haeryung terisak keras lagi, entah apa yang sedang dipikirkannya sampai-sampai dirinya kembali seperti tertusuk ribuan jarum. Gadis itu memeluk Jina, yang juga dibalas oleh gadis berambut cokelat itu.

 

****

 

“Francis Morton memiliki ketakutan terhadap kegelapan dan kakaknya Peter Morton berusaha menyembuhkannya. Francis Morton—aduh!”

Haeryung yang sedang serius berjalan sambil menghapalkan bagian dalam salah satu cerita di buku sastra berbahasa inggris itu menabrak seseorang, menjatuhkan beberapa barang bawaannya.

J-Jweisonghaeyo,” Haeryung membereskan buku yang orang itu bawa dan memberikannya pada si pemilik. Indra penciuman Haeryung mengenal sesuatu.

“Sudah kubilang pakailah bahasa yang nyaman denganku. Dasar!”

Haeryung mengaduh pelan ketika kepalan tangan Seokjin mengenai kepalanya dengan sengaja. Gadis itu masih mencoba menghindari kontak mata.

“Untuk yang waktu itu….” Seokjin menggantungkan kata-katanya sejenak. “Maafkan aku.”

Haeryung mengangguk, masih tidak mau menatap Seokjin.

“Sebenarnya, aku pernah menyukaimu. Tapi…”

“Seokjinnie~” seorang gadis datang menginterupsi obrolan singkat Seokjin dan Haeryung. Gadis itu langsung mengamit lengan Seokjin, kemudian saling melempar senyum.

“Aku pinjam Seokjin, ya?” ucap Jina sembari mempererat pegangannya.

“Jangan mengumbar mesra disini, Sayang. Ada jomblo disini,” Seokjin menunjuk Haeryung menggunakan ekor matanya. “Ayo! Dia akan meledak karena statusnya.”

Yaa!!”

Sepasang kekasih itu langsung berlari kecil tanpa pamit. Na Haeryung tersenyum simpul, memerhatikan punggung sahabat dan lelaki yang menghiasi hari-harinya berjalan bersama. Sakit memang masih terselip di hatinya, tetapi Na Haeryung tetap mencoba menyingkirkan jarum-jarum yang menempel pada tubuhnya satu persatu.

Ini memang tidak mudah, tetapi tekadnya kuat untuk memindahkan rasa sukanya kepada seseorang lain. Mungkin ia harus pergi ke tempat yang penuh cowok tampan di dalamnya?

Satu pesan masuk melalui ponselnya. Haeryung dengan cepat langsung membukanya dan mendengus pelan.

 

From : (no name)

Aku punya kontak anak laki-laki. Dia anak basket, namanya Min Yoongi kelas 3-3. Aku akan memotretnya untukmu nanti.

 

Haeryung tersenyum pelan, menekan gambar tong sampah agak lama dengan ibu jarinya. Ada dua pilihan dalam pertanyaan sistemnya. Yes dan No.

Dan akhirnya pilihan jatuh pada Yes. Langkah awal untuk berpindah adalah melepaskan komunikasi dengannya selama beberapa saat. Gadis itu pun mengangkat bahunya, kemudian berjalan dengan langkah yang lebih ringan ke kelasnya sambil mengingat-ngingat hapalannya.

 

.fin

 

Haloo! Aku tau ini jadinya lama banget sampe berbulan-bulan dan aku sumpah malu banget bikin delay requestan orang T.T

Niatnya sih mau bikin oneshot 2k words aja, eh kebawa suasana jadi 3k words. Entahlah ini pelampiasan sebenernya karna soal essay ga pernah lebih dari 1000 kata persoal😦 /oke abaikan/

Maaf buat ending yang mengecewakan dan NC yang kurang/?😦

Segala kritik dan saran bakal diterima, dan thanks for reading~~ ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s