[Ficlet] Am I Still The Best?

1391255_932164930170236_575351846_n

Title : Am I Still The Best?

Genre : Friendship, Trainee-life(?)

Length : Vignette [1k+ words]

Cast : Kim Hanbin (iKON), Jennie Kim (YG Trainee)

Desert kedua dari penutup tahun 2015! Waktu New Delhi tentunya!
This fic was related to this fic.

Enjoy~

****

Malam tahun baru kemarin ia disini, di puncak tertinggi gedung bernama YG Entertainment yang sunyi dan dingin.

Masih malam tahun baru kemarin ia berada disini, dengan sebuah minuman dan snack yang boleh ia makan setelah berlatih panjang dalam setahun.

Dan masih malam tahun baru kemarin pula ia duduk di kursi ini, bersama seseorang yang menyemangatinya dengan mengatakan dirinya terbaik. Sebenarnya bukan dirinya yang dicap terbaik, tetapi kata-kata penyemangatnya itu tanpa sadar mengalir dalam darahnya, membuatnya tidak menyerah walaupun para dance trainer memarahinya, vocal trainer mengejek suaranya, pengatur gizinya menyuruhnya diet ketat, sampai waktu debut yang tidak juga ditentukan.

Itu sudah biasa sebenarnya, hanya saja untuk hari terakhir di tahun 2015 ini ia ingin menyerah, meninggalkan seluruh impian dan kenangannya selama berada di tempat ini.

“Sudah kuduga.”

Suara laki-laki itu menyadarkannya, buru-buru menghapus air matanya dan menoleh ke asal suara. Bibirnya membentuk kurva ke atas, menyambutnya.

“Bagaimana rasanya debut? Sepertinya kau sudah lebih baik.”

Kim Hanbin mengambil tempat disamping Jennie dan tak lupa menggenggam penuh snack yang dibawa Jennie. Gadis itu tidak protes, tentu saja.

“Jalani saja dengan tenang, nanti juga akan datang waktunya.”

Jennie menyeruput minuman jusnya. “Ya, aku sudah menjalaninya untuk waktu yang lama dan waktu itu belum datang juga.”

Hanbin menyerahkan sebotol air mineral, menyuruh gadis itu mengganti jenis minumannya di musim yang mulai membeku ini.

“Untukmu saja,” tolak Jennie. “aku sudah muak melihat air putih.”

Hanbin mendengus, “Kau tidak marah padaku kan?”

Jennie menggeleng. Tidak juga sebenarnya. Jujur saja Jennie benar-benar iri pada Hanbin. Ia dan Hanbin memiliki umur yang sama, bakat mereka juga tidak berbeda jauh, dan keduanya sama-sama ditunjuk sebagai pemimpin dalam grup. Tetapi kenapa harus Hanbin duluan yang debut? Padahal girlband terakhir yang debut di agensinya sudah berusia lebih dari lima tahun. Kenapa harus boyband lagi yang didebutkan?

“Jujur saja aku juga pernah marah karena aku tidak jadi debut lebih awal waktu itu. Walaupun aku tahu sudah ada skenario bahwa senior akan debut lebih dulu, tetapi menyakitkan saja waktu grupku tidak ditunjuk sebagai pemenang,” Hanbin mengingat masa-masa menyedihkannya saat masih menjadi trainee dan beradu bakat dengan trainee lainnya. “Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku bertanya apa yang salah dariku, dari grupku, dari persiapan kami, aku menyalahkan diri sendiri.”

Jennie tersenyum menanggapi cerita Hanbin. “Kau tidak mengatakannya untuk menghiburku kan?”

Hanbin menggeleng. “Aku bahkan tidak tahu kalau itu menghiburmu.”

Pembicaraan jadi lebih menyempit sekarang. Baik Jennie maupun Hanbin sama-sama tidak ingin membuka percakapan lagi, mengingat satu diantara mereka sedang mengalami pergolakan batin yang sama sepertinya 2 tahun lalu.

“Aku ingin bertanya.”

“Apa?”

Hanbin menatap Jennie yang menumpu dagunya pada dengkul, memeluk dirinya sendiri ditengah angin musim dingin yang berhembus tenang.

“Apa aku masih yang terbaik?”

Hanbin terdiam sejenak.

“Kau bilang grup terakhir yang tampil adalah yang terbaik. Bagaimana dengan grup yang belum juga terlihat batang hidungnya? Apa masih terbaik?”

Hanbin masih diam. Ucapan Jennie belum sepenuhnya terucap.

“Oke langsung saja. Aku memutuskan berhenti.”

Dan pernyataan itu langsung mendapat respon berupa tatapan kaget dan mata melebar dari Kim Hanbin.

“Perhatikan kata-katamu, Jen,” ucap Hanbin menekan nadanya.

“Aku sudah memfilternya lebih dulu, malah,” balas Jennie tak acuh. Gadis itu mengeratkan jaketnya. “Mungkin aku akan jauh lebih baik jika keluar.”

“Kim Jennie!”

“Apa sih?! Jangan berteriak begitu, ah!” Jennie tertawa pelan, menatap wajah serius Hanbin yang sedang menginterogasinya.

“Jangan bicara begitu, please.

“Kenapa? Kau akan kehilangan?”

Hanbin mengangguk, membuat senyum yang mengembang di wajah Jennie dengan apiknya perlahan memudar. Gadis itu mencoba tersenyum lagi, tetapi yang keluar hanyalah bulir-bulir air mata yang meluncur deras.

“Kumohon, Jen, hentikan pikiran seperti itu. Aku berani menjamin pilihanmu untuk tetap disini adalah yang terbaik. Kita sama-sama menghabiskan masa remaja disini, di tempat ini, Jen.”

Air mata Jennie makin tidak terkontrol. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, berharap tangis ini akan mereda dan angin akan membawa kata-kata Hanbin itu kelaut. Sudah berkali-kali dia mengatakan hal seperti itu dan berkali-kali pula Jennie terbuai oleh kekecewaan. Ia tidak mau lagi percaya lelaki itu sekarang.

Trust Me, Jen. You and your group are still the best. Kau tahu ada berapa orang yang menantikan debut kalian? Bahkan mereka menerka-nerka apakah teaser ini untuk comeback artis lain atau debut grupmu.”

Jennie masih terisak walaupun air mata sudah tidak sederas tadi. Hanbin tersenyum kecil menatap Jennie. Kemudian mengambil sapu tangan dari saku jaketnya.

“Berhenti menangis, kau sangat jelek!”

Jennie tertawa kecil, mengambil sapu tangan polos yang Hanbin berikan dan mengusap wajah basahnya.

“Mau berhitung?” tawar Hanbin sembari menatap langit. “Sebentar lagi pasti banyak kembang api.”

Jennie masih tidak mengerti, tetapi ia ikut mendengarkan saja ketika Hanbin mulai menghitung mundur dari angka 10.

“Tujuh… Enam… Lima…”

“Empat… Tiga… Dua…”

Mulut Jennie terbuka, mengucapkan satu angka terakhir yang belum tersebut. “….Satu.”

DUAR!

DUAR!

DUAR!

Dan parade kembang api dari berbagai penjuru langit Korea pun beradu, saling memamerkan kembang api yang mereka punya dengan tingkat polusi suara yang tinggi. Langit hari ini pun dengan sendirinya menjadi lebih berwarna.

Hanbin melihat Jennie tersenyum dan tanpa sadar juga mengikuti senyumnya.

“Kau menertawakanku?” tanya Jennie ketika Hanbin ketahuan menatapnya sambil tersenyum lebar.

“Menurutmu?”

Jennie mendengus, bibirnya masih menyunggingkan senyum. Hanbin menatapnya lebih intens, menyunggingkan senyum yang tidak kalah lebar dan bahkan bisa saja merobekkan bibirnya. Jennie memukul pelan pundak lelaki itu kesal.

“Kau cantik jika tersenyum, Jen.”

“Hah?!”

Hanbin menggeleng. “Tidak.”

“Aku kenapa tadi kalau tersenyum? Aku tidak dengar!” Jennie menggoyangkan lengan Hanbin, menyuruh lelaki itu mengulangi ucapannya.

“Berjanjilah padaku—“

“Katakan dulu yang tadi.”

Hanbin menghela nafas. Ia menyalahkan bibirnya untuk segala perkataan yang keluar. “Kau cantik jika tersenyum. Sudah?”

Jennie tertawa, sangat keras, kata-kata itu seperti ucapan pelawak baginya. Hanbin benar-benar merasa salah telah mengucapkannya.

“Baiklah, aku akan tersenyum terus agar terus cantik.”

Kemudian kembali hening. Langit masih dihadiahi cahaya oleh makhluk darat. Tangan Hanbin mendekat perlahan, menyentuh punggung tangan Jennie yang dingin.

“Berjanjilah padaku untuk terus melakukan yang terbaik,” ucap Hanbin sembari menatap langit.

“Aku sudah melakukannya tanpa kau suruh,” balas Jennie yang juga melihat langit.

“Berjanjilah padaku….” Hanbin menelan ludahnya, menatap gadis itu ketika ia tidak menyadarinya. “…untuk tetap bertahan disini.”

Jennie mengangguk mantap sembari menghela nafas panjang.

Dan sekali lagi, pada malam tahun baru tahun ini masih ada orang yang berpihak kepadanya, menemaninya menghabiskan snack hasil pertahanannya setahun penuh dan memegang tangannya untuk berjanji.

.

.

.

Yang terakhir itu paling spesial sepertinya.

.fin

Kepikiran buat lanjutan fic Still The Best, karna Hanbin udah jadi debut dan mbakjen belom juga ngeluarin teaser ((ngakak bentar))
Maaf ya ngeluarinnya bukan pas waktu indonesia TT ketiduran pas lg belajar ((setannya tempat tidur emang yang paling dahsyat))
Okee, terinspirasi dari kisah Mamah Tiara yang malmingan pertama sama cowok ganteng di kampusnya ((da aku mah apa atuh sekampus awewe kabeh :’))

Ingatlah, tetep semangat walaupun mimpi itu belom keliatan batang hidungnya. Semua akan indah pada waktunya, seperti mas Hanbin.

Happy new year semuaaaa!!!

One thought on “[Ficlet] Am I Still The Best?

  1. Pingback: [Ficlet] Revenge for The Best | Kumpulan Fanfic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s