[THS Moments] That Summer, One Year Ago

 84_big[Pic was taken from wikimapia.org]

Title : That Summer, One Year Ago

Genre : Family, School-life, Angst, Comedy

Length : Vignette [1K+ words]

Cast(s) : Jo Kwangmin & Jo Youngmin (Boyfriend), Park Yoochun (DBSK/JYJ), Park Yoochan (OC)

This is Part of Twins High School’s Story.

Enjoy~

Setahun lalu, tepat saat musim panas, sekolah ini kedatangan murid-murid baru. Jumlahnya memang tidak seberapa, tetapi mereka membuka kelas yang banyak untuk mengeksplorasi anak-anak didiknya.

Sekolah ini berbeda dari kebanyakan sekolah diluar sana. Sekolah ini tidak terlalu membutuhkan anak berprestasi atau memiliki banyak uang, tetapi satu syarat mutlak untuk masuk ke sekolah ini adalah mereka harus kembar!

“Jo Youngmin!!!!” Seorang wanita berteriak frustasi ketika satu anak laki-lakinya kabur setelah pintu dibuka untuknya. Wanita itu tidak sempat menyibak rambut yang menutupi pandangannya dan berkonsentrasi menangkap bocah pirang yang berlari dengan headphone di kepalanya.

“Aku nggak mau masuk sekolah itu, Ma!” bocah pirang itu berkata kesal.

“Kenapa? Kan ada Kwangmin juga bersamamu?”

“Justru itu!” mata si bocah pirang mendelik ke arah lelaki berambut hitam yang masih berdiri manis di samping mobil. “Kenapa masukin aku ke sekolah yang sama kayak Kwangmin sih?”

“Ya memangnya kenapa? Bukannya anak kembar harus bersama?”

Oh Tuhan, bukan itu yang diinginkan seorang Jo Youngmin yang pernah dinobatkan sebagai lelaki idaman seangkatan di sekolahnya dulu. Ia hanya ingin predikatnya itu tidak tertindih oleh adiknya yang canggungan dan sering berkeringat saat bertemu orang.

“Ma…” Youngmin menatap ibunya dengan tatapan memohon, siapa tahu ibunya akan mengubah pikirannya dan memindahkannya dari tempat ini.

“No… No… No!” dan tolakkan mentah ibunya ini mengakhiri semuanya.

“TWINS HIGH SCHOOL?!”

Baik Youngmin maupun ibunya sama-sama menoleh ke sumber suara yang berasal dari dua bocah perempuan dan laki-laki, yang sepertinya bernasib sama tidak mau satu sekolah dengan saudara kembar sendiri.

“Wah, jarang ada yang berbeda jenis. Siapa nama kalian?”

“Ayo, cepat! Sebentar lagi bel masuk lho.”

Tangan Youngmin akhirnya bisa ditarik dengan mudah oleh ibunya karena matanya kini terfokus pada dua anak kembar berbeda jenis yang sedang adu mulut. Sayangnya saat kedua orangtua anak itu memperkenalkan mereka, Youngmin sudah berhadapan dengan kenyataan bahwa dirinya kini murid dari sekolah kembar satu-satunya di dunia.

 

****

 

Jika Youngmin terang-terangan menolak untuk bersekolah dengannya, Kwangmin, sang kembaran memilih untuk mengiyakan saja keinginan orangtuanya. Youngmin mungkin tidak tahu alasan sesungguhnya kenapa mereka disekolahkan di tempat berasrama ini. Hubungan mereka memang tidak terlalu baik, tapi hubungan renggang orangtua mereka lebih buruk lagi. Kwangmin sekali pernah mencuri dengar dari daun pintu kamar kedua orangtuanya kalau mereka akan bercerai. Tetapi sebelumnya kedua anaknya harus lulus sekolah dulu, dan mereka harus ditempatkan jauh agar tidak mendengar berita buruk dari kedua orangtuanya.

Youngmin sedikit kecewa kala ayahnya tidak bisa mengantarnya ke sekolah baru. Tetapi bagi Kwangmin yang hanya menjadi pajangan bagi ayahnya, itu tidak terlalu penting. Selama ibunya masih bisa mengantar dan mengatakan semuanya baik-baik saja jika keduanya bisa lulus bersamaan dan membuat hubungan baik pada sesama. Ibunya tahu Kwangmin pernah memergokinya bertengkar dengan sang ayah, dan wanita itu berusaha keras untuk menutupi semua dengan senyuman.

Setelah berpelukan lama dengan ibunya, Kwangmin dan Youngmin pun resmi berpisah dengan Ibu, Ayah, dan kenangan-kenangan manis di rumah. Dua kopor besar yang berisi pakaian dan barang-barang penting bertengger manis di tengah-tengah ruangan yang berisi kasur tingkat, dua meja belajar, dua buah sofa kecil dan satu lemari besar. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat sebelum akhirnya bel pemanggil makan malam menginterupsi keheningan mereka.

 

****

 

Tidak ada bangku kosong lagi sesampainya Kwangmin di kantin. Makanan sudah ada di tangan, tetapi untuk makan di kamarnya sendiri membutuhkan waktu yang lumayan membuat perut makin bereaksi dan dirinya juga tidak mau membuat kamar berantakan. Akhirnya ia mencari kembarannya, berharap lelaki itu mau menyelamatkan hidupnya sekali ini saja.

Sayangnya Jo Youngmin yang terkenal sebagai ‘Cassanova’ itu terlalu sulit untuk dilawan pesonanya. Berbekal kata-kata manis nan penuh keakraban lelaki itu sudah bisa mendapat meja di tengah-tengah para gadis dan anak laki-laki lain yang mengerubunginya. Tidak ada pilihan lain.

Jo Kwangmin harus keluar dari zona amannya.

“B-boleh duduk disini?” Pilihan jatuh pada seorang gadis berambut panjang dengan poni berantakan karena keringat di dahinya. Gadis itu baru akan memasukkan kentang goreng ke mulutnya, dan tatapannya mengindikasikan bahwa Kwangmin akan gagal di zona luar pertamanya.

“Boleh. Ga ada yang nempatin kok.”

Sayangnya tanggapan gadis itu terlalu ramah dibanding tatapannya. Benar kata psikolog, waktu 7 detik cukup bagi seseorang membuat asumsi pertamanya dengan orang yang baru dikenal.

Kwangmin akhirnya menaruh nampan itu di atas meja depan si gadis berponi berantakan. Gadis itu memasukkan kentang goreng ke mulutnya dengan penuh nafsu dan tanpa mengenal sikap makan baik ala gadis lainnya yang mengutamakan imej. Kwangmin tersenyum tanpa sadar, dan terus tersenyum sampai gadis itu menyadari dirinya dilihat sebegitu dalamnya.

“Siapa nama lo?”

Harus Kwangmin akui bahwa ungkapan 7 detik untuk asumsi itu benar. Kwangmin sudah menganggap gadis itu orang yang baik–biarpun tatapannya tadi cukup untuk membunuh serangga sekarat. Gadis itu berbicara informal padanya, dan dirinya berusaha mengikuti alurnya.

“Jo Kwangmin,” Kwangmin mengucapkan namanya dengan gugup, memerhatikan gadis itu yang masih menatapnya santai tanpa beban apapun. “Lo?”

“Park Yoochan.”

Pertemuan pertama mereka malam itu dihiasi dengan adu mulut. Si gadis tidak mau teman barunya memakai bahasa yang terlalu formal untuk pertemuan barunya. Mereka sama-sama anak baru kan? Mereka juga tanpa sadar bercerita tentang hubungan dengan kembaran masing-masing. Gadis itu merasa dirinya lebih jagoan dari kembarannya yang manja, dan Kwangmin malah merasa lebih rendah dari kembarannya. Ia pikir gadis itu akan langsung bertanya siapa kembarannya dan tanpa basa-basi menerima saja ajakan makan dari Youngmin. Sayangnya gadis ini berbeda.

“Boleh nambah es krim lagi gak sih? Masih laper gue.”

Perutnya jauh lebih penting dari lelaki lainnya.

 

****

 

“Yakin lo? Cewek? Gila hebat juga adek gue!” Youngmin menepuk pundak Kwangmin keras kala adiknya itu menceritakan pengalaman pertamanya di kantin tadi.

“Iya. Kayaknya sih cewek yang tadi berantem di gerbang.” Cantik. Hampir saja kata itu meluncur dari bibirnya.

“Oh yang tadi? Kenalin gue dong! Siapa namanya? Siapa tau gue kenal sama kembarannya.”

Perasaan Kwangmin langsung kalut sesaat. Walaupun gadis itu kasar dan urakan, tetapi caranya dalam bergaul itu membuat Kwangmin nyaman. Ia sudah bisa mengucapkan ‘gue elo’ dalam tempo cepat dan tanpa canggung karenanya. Ia juga sudah percaya diri untuk menatap dirinya sendiri di atas cermin.

Jujur saja Kwangmin takut kembarannya akan mengambil ‘lahan’ pertaniannya yang satu ini.

“Oke gue kenalin besok,” Kwangmin akhirnya berucap pelan, walaupun tidak terlalu yakin juga. “Namanya Park Yoochan, kembarannya Park Yoochun.”

Semuanya pasti akan kembali ke tempatnya. Mungkin Kwangmin seharusnya tetap di tempat saja dan tidak perlu orang lain untuk mengusik zona nyamannya.

“Oh! Dia kembarannya Yoochun. Dia Cassanova juga sampe Tri-Ji aja kelelep sama pesonanya!”

Tuh kan! Memang benar Kwangmin harusnya kembali menjadi sosok ‘freak‘ yang kerjaannya belajar saja.

 

****

 

“Hai, Yoochan!”

Kwangmin cukup senang dengan kenyataan bahwa teman barunya ada di kelas yang sama bersamanya. Walaupun ia hanya bisa menatap punggungnya, tetapi kehangatan dalam perutnya itu tidak juga hilang dalam benak, dan dengan keberanian yang tinggal secuil ia mendatangi bangku gadis itu dan mengucapkan salam.

“Pergi lo!” kaki Yoochan langsung mendorong betis sang kembaran untuk menjauh, sedangkan bangku sebelahnya ia persembahkan untuk Kwangmin.

“Kamu kelas X-5 juga?” Bodoh! Dari sekian pertanyaan bodoh yang ada di otak kenapa harus pertanyaan yang tingkat kebodohannya diatas awan ini yang keluar?!

“Kalo gue disini berarti iya dong!”

Tawa Kwangmin perlahan keluar, membuat tatapan heran dari bangku belakang langsung mengernyit tanpa sadar.

“Oh iya…” Kwangmin salah tingkah sendiri dan jadi grogi parah. “K-kembaran aku mau kenalan tuh.”

Kwangmin langsung memberi kode pada Youngmin dibelakang untuk maju ke tempatnya, menerima ungkapan perkenalan dari teman barunya yang akan segera pergi dari sisinya.

“Jo Youngmin,” Youngmin langsung mengulurkan tangan, meminta persetujuan gadis itu untuk menjabat tangannya dan resmi berkenalan.

“Pasti udah tau nama gue kan?” Gadis itu menerima uluran tangan itu sebentar, kemudian melepaskannya lagi dengan cuek.

Satu tanda kemenangan berpihak pada Jo Kwangmin. “Dia Park Yoochan.”

“Eh lo kembarannya Yoochun ya?” Youngmin mencoba mengakrabkan diri lagi dengan gadis itu.

“Orang sejagat kuburan juga tau gue sama yoochun kembar. Emang kita mirip ya?”

Satu lagi kemenangan telak untuk Kwangmin. Tidak mungkin Youngmin bisa menerima perlakuan seperti itu dari seorang gadis.

“Nama kalian mirip sih, dan anak-anak pada lagi asik ngomongin kalian juga.”

“What? Emang gue sama yoochun punya skandal apa sampe pada heboh? Apa karna gue tidur di sofa tadi?”

“Hah?!!”

Baik Kwangmin maupun Youngmin sama-sama memekik kaget dengan kenyataan ini. Mata Kwangmin membulat, membuatnya lebih besar dari ukuran sebelumnya.

“Bukan kok. Kalian kan heboh banget waktu pertama masuk.”

Gadis itu menghela nafas lega. Kwangmin tersenyum tipis, menatap kedua orang yang sedang mencoba melakukan pendekatan itu.

Sepertinya Tuhan mulai berbaik hati dengannya untuk memberikan gadis ini sebagai teman satu-satunya dalam hidup.

Yah, walaupun tidak bisa dilupakan ketidaksopanannya, kekuatan tonjokannya, keseringannya berbicara tidak jelas dan sering bertengkar dengan kembarannya sampai salah satu harus terluka, gadis itu tetap akan menjadi teman Kwangmin.

Setidaknya yang menerimanya apa adanya tanpa harus memandang kebodohan dirinya dalam bergaul. Satu cukup untuk Kwangmin, dan lelaki itu berjanji untuk menjaga gadis itu dari seluruh kesedihan yang menerpanya.

.

.

.

Karena ia pernah sekali melihat gadis itu menangis di lapangan basket sembari menembakkan 3 points dengan marah.

 

.fin

Karena gue berkeinginan melanjutkan fic ini tapi gue ga punya ide berlebih jadilah gue bikin side story-nya dulu dari sisi JoTwins. Mau ralat dikit juga sebenernya, karena gue sebenernya buat Yoochan-Yoochun masuk jadi anak baru padahal Jo Twins juga anak baru saat itu tapi udah agak lamaan/?

Oke, gue akuin ini fic bener-bener alay sealay-alaynya jadi gue sendiri aja ogah baca part awal hueheheheh… niatnya sih pengen ngerombak kalo libur musim panas nanti ga pulang ke Indo dan belom jadi ikut course film di Delhi. Jadi terima kasih bagi yang udah pernah baca fic ini ^^

 

Much love, Sungje’s Wife~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s