[VIXX’s Story] First Date

keo[Pic thanks to @okeyongiester karna udah ngasih inspirasi pas di Jaipur<3<3]

Title : First Date

Genre : Shonen-Ai, Fluff(?), comedy

Length : Series/Ficlet [2K+ words]

Cast(s) : Jung Taekwoon a.k.a Leo, Lee Jaehwan a.k.a Ken, VIXX’s members.

Part of VIXX’s Winter Tripple Date.

Read the rest of this fic ==> Perfect Love Project // Failed Holiday 12 // Smooth Break Up // Song of The Heart // Failed Holiday (Again) // Love is A Nightmare 12 // Hongbin’s Wish // First Date

****

Membaca buku dua kali bukan hal yang buruk kan?

“Oke, VIXX’s Winter Tripple Date dimulai! Ingat, kita bertemu di Namsan Tower setelah jam 11 dan sebelum jam 12. Jangan sampai ketahuan siapapun, ini acara kita berenam!”

Setelah Hyuk resmi memulai acara dengan pidato singkatnya disusul oleh tepukan tiga kali oleh Lee Hongbin disampingnya, ketiga pasangan yang sudah menentukan jalan kencannya pun memisahkan diri. Pasangan Maknae line pergi ke arah kanan dan memanggil taksi dari pinggir jalan. Tidak berbeda juga pada pasangan tua yang langsung menaiki mobil yang tidak jauh dari mereka, dengan Ravi sebagai supir pribadi Cha Hakyeon untuk mengelilingi kota Seoul. Bagaimana dengan pasangan yang satu lagi?

“K-kita di rumah saja, tidak apa-apa kok,” Ken bersiap memasuki dorm lagi ketika Leo tidak bergeming sama sekali. Lelaki itu memang susah ditebak, dan sepertinya Ken memang pas menunjuk air saat memutuskan hubungan dengannya.

Tiba-tiba dua lampu mobil sedan hitam di belakang Leo mengedip, sukses membuat mata Ken membulat seketika.

“Mau jalan-jalan?”

Sayangnya ternyata mobil itu milik orang lain, bukan mobil yang akan mereka gunakan untuk kencan. Acara ‘jalan-jalan’ pun resmi dimulai.

****

Udara musim dingin kali ini memang belum sedingin tahun kemarin, yang membutuhkan berlapis-lapis jaket tebal serta hotpack yang ditempelkan hampir di seluruh badan. Uap dingin tetap mengikuti langkah kala embusan nafas mulai dikeluarkan teratur, dan hanya pemandangan itu yang terlihat sepanjang 200 meter mereka berjalan.

“Kita mau kemana?” tanya Ken, agak bingung.

Leo tetap melangkah tak acuh, walaupun sebenarnya berpikir keras kemana kencan ini akan berlabuh. Tidak baik juga sebenarnya ini dikatakan kencan, mengingat hubungan mereka telah berakhir berbulan-bulan lalu tanpa alasan yang jelas.

“Tidak tahu.”

Oke, suasana jadi agak mencekam kala Leo yang jadi pihak yang setuju atas kencan lapis tiga ini tidak tahu harus pergi kemana dan melakukan apa. Saat masih menjalin hubungan pun Leo begini, hanya mengajak Ken berdiri di atas gedung perusahaan seperti orang yang kehabisan semangat hidup dengan alibi melihat langit malam berbintang.

“Sauna?”

Ingatkan Ken jika dirinya harus menyiapkan tempat indah lainnya untuk sekedar berjalan-jalan.

****

Sauna tidak jauh dari tempat mereka berdiri bingung tadi, dan suasana di dalam sini sangat hangat bagaikan di musim semi. Setelah membersihkan badan dan mendapat handuk kecil dari sauna, kedua lelaki kesepian itu berendam di kolam air panas, menikmati sensasi hangat dari gelembung-gelembung air yang memasuki pori-pori kulit. Mata keduanya memejam, melepas penat setelah bekerja setahun penuh.

“Bagaimana bisa kau memilih tempat seindah ini?” tanya Ken sembari melenguh nikmat. Tidak, jangan berpikir yang aneh-aneh tentang ini.

Leo menatap Ken sebentar, kemudian ujung bibirnya terangkat sedikit. “Kebetulan?”

“Kenapa tidak kesini saja kalau berkencan? Kan lebih berkelas daripada—“ Ken langsung menutup mulutnya kala satu syaraf otaknya tidak bisa mengontrol ucapannya. “—tidak, aku hanya—“

“Kita berakhir di musim panas, Jae.”

Tuh kan! Ken jadi mengutuk satu syaraf yang entah apa namanya karena tidak becus dalam bekerja. Oke, musim panas memang mereka jadian, siapa yang mau kencan di sauna saat musim panas padahal malam saja serasa di sauna. Gratis pula.

“Tapi, kenapa kau tidak pernah mengajakku ke tempat lain? Kenapa harus atap?”

Leo menghela nafas, menggerakkan jari-jari kakinya yang menyentuh ujung kolam. “Biar murah.”

Ken mendengus pelan sekaligus tertawa tertahan. Leo bukan orang yang sepelit itu sebenarnya, setidaknya untuknya. Saat tiba-tiba dirinya haus Leo langsung izin ke kamar mandi dan membawakan dua kaleng soft drink dengan alibi ‘kebetulan lewat’ mesin minuman.

“Kenapa tidak makan jjajangmyun di depan kantor saja, disitu kan juga agak murah.”

Leo mendengus mendengar orang disampingnya benar-benar cerewet bertanya masa lalu. Tetapi dirinya yang sudah terlanjur menaruh hati tidak bisa mengabaikannya. Setidaknya cerewetnya Ken tidak terlalu berisik seperti N, yang bahkan sirine ambulans aja bisa kalah karena suaranya.

“Kalau bisa dibawa ke kantor kenapa harus datang ke tempatnya?”

Ada jeda sesaat karena Leo sedang memejamkan matanya sembari menyandarkan kepalanya ke tembok. Deru nafasnya teratur dengan wajah lelahnya yang berusaha menetralkan diri. jung Taekwoon terlihat sangat manis disaat-saat begini. Ketika tiba-tiba tertidur karena lelah dan akhirnya memanggil nama Ken dalam tidurnya.

“Jangan melihatku seperti itu, nanti status kita batal,” tiba-tiba Leo berucap, membuat Ken yang sedang tersenyum menatap wajah teduhnya langsung kalap mencari objek lain untuk disalahkan.

“Ahahahah! Lihat, ada gelembung di lemari!”

Bodoh.

****

Setelah sekitar 15 menit berendam dan mengulum tanya karena kecanggungan, Leo dan Ken keluar dari kolam air hangat dan mengganti pakaian dengan setelan pink khas sauna itu. Oh, jangan lupakan penutup kepala yang berbentuk seperti headphone itu.

“Kau kurusan,” kata Leo tiba-tiba.

“Ha?!” Ken tidak terlalu mendengar dengan jelas karena sedang membenarkan letak handuk di kepalanya. “Kau punya urusan?”

Leo mendengus sembari mengangkat bibirnya sedikit, kemudian berjalan mendahului Ken yang masih meminta penjelasan dari ucapannya tadi.

Ken mengedikkan bahu sembari menghela nafas. “Sudah biasa,” dan kemudian mengambil dua bantal yang juga bisa disebut sebagai batu bata saking kerasnya. Ia bergabung dengan para tamu lainnya yang sedang menonton acara akhir tahun di TV.

Leo belum kembali setelah Ken memejamkan mata sekitar lima menit. Waktu di ponselnya masih menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit, masih terlalu lama untuk waktu janjian di Namsan Tower nanti. Pasti akan ada hukuman jika ia datang terlalu cepat.

Ken kembali memfokuskan diri dengan acara TV yang penuh dengan guyonan renyah. Mayoritas pengunjung disini memiliki partner sendiri dan urusan mereka pun tidak sedikit. Ken mendengar sedikit-sedikit mereka membicarakan resolusi tahun 2016 dan juga tentang pekerjaan terberat yang dikerjakan di tahun ini. Beberapa dari mereka beresolusi ingin melepas status lajangnya, dan sebagian lain memilih untuk fokus pada pekerjaan sebelum menikah.

“Dimana sih? Jangan-jangan dia lupa kalau membawaku kemari,” Ken mengambil ponselnya, mengetikkan beberapa kata untuk Leo dan tak lama menghapusnya lagi.

“Memangnya aku siapanya. Hahaha…” Ken pun meletakkan kembali ponselnya.

“Tapi aku takut dia kenapa-napa juga,” kembali ponsel itu diambilnya.

“Ah, dia kan jago bela diri,” iPhone 6 itu pun kembali diposisikan tidur disampingnya.

“Ah tapi kan—“

Mungkin jika benda persegi itu bisa berbicara ia akan protes pada pemiliknya karena dinyala-matikan serta diambil-letakkan seenaknya. Memangnya enak jadi ponsel?! Mungkin itu kata pertama yang akan diucapkannya.

Satu pesan pun akhirnya diketikkan dengan jempol yang tiba-tiba kaku untuk menekan tombol send.

 

To : Taekwoonie Hyu~~ng

Dimana?

 

“Oh Tuhan, aku pasti sudah gila!” Ken melempar ponselnya tidak jauh dari pinggangnya kali ini.

Kasihan ponselnya.

****

From : Choding

Dimana?

 

Leo tersenyum melihat layar ponselnya berisi satu kata pertanyaan dari orang yang diberinya nama samaran. Jemarinya dengan ragu menekan kotak dibawah untuk menulis pesan, tetapi kemudian ia matikan layarnya.

“Bibi, shikhye satu ya,” ucap Leo setelah sekian lama berada di depan toko snack di dalam sauna.

Melihat Ken dari kejauhan begini memang sudah menjadi kebiasaan lamanya, bahkan sebelum resmi menjadikannya kekasih. Leo memang sering merasa kalau ia dan Ken berbeda dunia, Ken di dunia yang penuh warna dan dirinya di dunia yang dibuatnya sendiri. Ken sering mengajaknya berbicara walaupun berakhir dengan dengusan karena tidak terjawab, atau berkata ‘Kau jahat!’ dengan wajah manis.

Ada dua alasan kenapa pertanyaan Ken tidak pernah terjawab olehnya. Pertama karena pertanyaan itu tidak penting, setelah itu ia tidak mampu menjawab pertanyaannya.

Hyung, kau menikmati makanannya?” bayangkan jika pertanyaan ini diucapkan setelah jatah makanmu diambil orang lain.

Aku lebih menikmatimu. Maunya sih memang menjawab itu, tapi bibir memang tidak selamanya bisa mengikuti keinginan hati. Leo pun mengabaikannya, melanjutkan kegiatan dengan meminum segelas penuh air putih.

“Tuan, shikhye-nya sudah jadi.”

Wajah manis Ken terlihat misuh-misuh di seberang sana. Lelaki itu memang tidak pernah cermat dalam mengamati, padahal Leo ada tepat dibelakangnya. Atau mungkin cahaya dari tubuh Leo sudah tidak terlihat lagi olehnya?

“Tuan, jadi pesan shikhye tidak?”

Ucapan Bibi penjual snack itu membangunkannya dari lamunan masa lalu. Leo langsung menggenggam dompet di tangan kirinya, kemudian mengambil beberapa lembar uang dari dalamnya.

“Satu lagi ya, Bi. Sekalian telur rebus juga.”

Oh Tuhan ampuni Jung Taekwoon yang belum juga move on dari statusnya.

***

“Toiletnya jauh sekali ya?”

Ken langsung bertanya sarkatik saat merasakan aroma Leo ada disampingnya. Ia menerima minuman yang diberikan Leo beserta sebutir telur rebusnya dengan senyum, langsung melupakan fakta kalau Leo meninggalkannya lebih dari setengah jam tadi.

“Kau darimana saja, Hyung?”

Leo memecahkan cangkang telurnya di lantai, kemudian mengupas kulitnya dan memasukannya ke dalam plastik.

“Toko.”

Ken mendengus, kembali satu kata yang bisa dilontarkan orang disampingnya.

“Kok lama?”

“Menatapmu.”

Dengan tiba-tiba Ken seperti mendengar rekaman suara Leo di kolam air panas tadi. Nanti status kita batal.

Status kita batal.

Status kita—

“Kau terlihat agak bodoh tadi, melempar-lempar ponsel,” lanjut Leo setelah cangkang telurnya terkupas seluruhnya.

Ken menggigit bibir, menyesali perbuatannya karena tidak melihat keadaan sekeliling sebelum mengirimkan pesan. Padahal memang ada toko di arah barat dayanya.

Leo tiba-tiba mengambil telur rebus utuhnya dari tangan Ken, menggantinya dengan telur rebus yang sudah terkupas seluruh kulitnya. Leo kembali melepaskan kulit telur, kemudian memasukannya ke dalam mulut setelah bersih.

“Setelah ini kita kemana?” Ken kembali membuka konversasi, walaupun ia tahu Leo tidak akan peduli padanya lagi.

****

Sayangnya Leo tidak sepenuhnya mengabaikan. Setelah shikhye dan telur rebusnya habis ia langsung menggiring Ken ke rak komik, mencari beberapa bahan bacaan dengan dalih ‘ingin mencari inspirasi’. Ken menemukan satu komik melodrama yang tidak sengaja dibacanya saat SMA.

“Mau baca yang itu?” tanya Leo ketika melihat Ken tersenyum menatap cover manga berjudul ‘Sunshine on You’.

Ken menggeleng. “Aku sudah pernah baca waktu SMA. Melow sekali, sampai sakit perut aku mengingatnya.”

Leo mengangguk, kembali mencari komik untuk ia—maksudnya Ken—baca. Pilihannya jatuh pada satu judul yang tidak sengaja terambil karena bagus covernya.

Comeback to Me?

Jantung Ken berdegup kencang kala Leo menatapnya sembari menyodorkan buku itu. Pikiran lelaki itu kacau, berbagai firasat mendatangi pikirannya.

“A-aku tidak bermaksud…..” dengan tiba-tiba Leo menyesalkan dirinya yang tidak pandai berbahasa inggris saat memilih buku. “baca saja. Covernya bagus.”

Ken menerima komik itu, kemudian membaca sinopsisnya di bagian belakang buku.

“Kau pernah membacanya?” tanya Ken setelah selesai membaca sinopsisnya. “Sepertinya bagus.”

Leo menggeleng. “Tidak. Aku mau membaca ini, sudah pernah ku baca dulu.”

Ken mengernyit, heran. “Kalau sudah baca kenapa baca lagi? Masih banyak yang lain, kok.”

Leo mendengus. Kalimat tanya yang paling bosan ia dengar jika membaca atau menonton film yang sama. Kenapa harus baca lagi?

“Membaca buku dua kali bukan hal yang buruk, ‘kan?”

Ken terdiam.

“Tapi ‘kan… endingnya sama.”

Alasan sama yang dilontarkan orang kebanyakan. Sangat klise.

Endingnya memang sama, tetapi intisari yang kau tangkap akan berbeda,” Leo membalik halaman yang telah dibacanya. “Saat awal membaca kupikir Ahreum orang yang naif karena menolak orang se-sempurna Junghwan. Tetapi ketika membacanya dua sampai lima kali aku mulai sadar kalau orang akan mencari kekurangan orang lain untuk menutupi ‘kelebihan’ dirinya. Justru pembaca yang dibuat naif karena membenci Ahreum padahal tidak ada yang bisa dibenci darinya.”

Ken mengangguk. Kemudian ia mulai membuka satu halaman buku yang pertama diambilnya. Buku yang sudah dibacanya waktu SMA.

“Apa intisari hubungan kita akan sama jika kita kembali?” Taekwoon menggumam dalam bacaannya, membuat Ken menoleh sejenak.

“Aku berpikir untuk merajut hubungan ini kembali. Aku terlalu naif. Aku tidak pernah bisa membencimu walaupun kau membuatku hancur selama beberapa saat.”

Buku yang dipegang Ken langsung meluncur ke lantai kala otot tangannya seperti kehilangan fungsi. Ini kalimat terpanjang yang pernah lelaki itu ucapkan—terutama padanya, di tempat yang umum pula. Leo lalu menatapnya, menggeleng.

“Jangan dipikirkan. Aku hanya…”

Ken menunduk, tersenyum agak miris mengingat hal sebenarnya dibalik pemutusan hubungan di atas jembatan gantung Chuncheon.

“Aku juga naif, sebenarnya. Aku mengatakan kau tidak mengalir seperti air, padahal aku selalu terhanyut padamu. Biarpun aku melihat orang lain, yang bisa membuatku nyaman memang.. kau,” Ken tertawa kecil. “Ah, sudahlah! Apa itu adegan dalam komik?”

Leo menggeleng, raut wajah seriusnya membuat senyum Ken memudar perlahan.

“Jadi…. mau mencari intisari dari hubungan kedua kita?”

****

“Kita kejutkan mereka dengan berpegangan tangan! Bayangkan reaksi Hakyeon Hyung dan Ravi melihatnya, pasti wajah hitam dan bibir lebar mereka akan jadi yang pertama! Percaya padaku!”

Parade tujuh menit dari bibir manis Ken mewarnai perjalanan mereka menuju Namsan Tower setelah menaiki bus dan turun di satu halte sebelum halte Namsan Tower. Alasannya, karena ingin melewatkan waktu bersama lebih lama.

Leo mulai sering tersenyum mendengar ucapan tidak jelasnya, menjawab pertanyaan Ken seadanya dan memegang tangannya sebentar dengan alibi ingin memeriksa suhu tubuhnya. Ken akan mengerucutkan bibirnya setelah Leo melepaskan tautan tangannya, kemudian lelaki itu akan kembali menggenggamnya sampai terasa hangat di sekujur tubuh.

“Kupikir tidak ada adegan seperti ini di kisah awal kita,” kata Ken sembari tersenyum lebar.

Leo disampingnya mengulas senyum, menatap langit cerah yang menyambut kembalinya hubungan sepasang manusia di penghujung tahun.

“Mungkin kita melewatkan bagian ini,” balas Leo.

Ken terkekeh, kemudian menghentikan langkahnya.

“Kita lomba lari, yang terlambat sampai di tangga harus menggelar kasur!” ucap Ken menantang.

Leo melepaskan tautan tangannya. “Baik.”

Tanpa aba-aba start Ken sudah melesat, meninggalkan Leo yang sedang mengatur posisi lari untuk mengalahkannya. Leo mendengus pelan, kemudian melesat lebih cepat meninggalkan Ken yang duluan mencuri start.

“Ku tunggu di tangga, sayang.

Ken tertawa, mencoba mengalahkan si atlet dengan langkah kecilnya.

Tidak selamanya membaca buku dua kali itu berakhir sama. Mungkin saja ada bagian yang terlewat, atau tidak dimengerti di awal akan dimengerti di pembacaan kedua.

Tidak ada yang tahu, ‘kan, apa yang terjadi pada ending yang kedua?

 

.fin

Cieeee KeO baikan!!! Pada seneng kan pada seneng kan? /plok

Pasti udah lupa sama series ini. Gue juga soalnya(?) harusnya sih ini di post pas bulan januari, tapi bulan itu lagi sibuk-sibuknya vacation dan siapin ini itu, ditambah webe yang agak parah(?)

I’m so sorry lagi karna sebenernya yang menang(?) di vote kemaren itu Hyukbin, tapi gue save the best for the last xD

Sekian curhatnya, semoga menikmati! >,<

5 thoughts on “[VIXX’s Story] First Date

  1. Okeyoungiester

    Nananana~ nanana~ *joget dulu karena ff yang kutunggu akhirnya publish yah wlaupun aku telat bacanya* *joget joget dulu karena ada uname twitter akuh yg tercantum* aku kayaknya bukan ngasih inspirasi deh kak tapi ngekacau liburan. Hehe. Big lope lope xD. KeOooooooo KeOooooo, kaliaaan bikin aku ngakak sambil meleleh /eh, awal-awalnya ya kak tuh msih datar sedatar muka Leo *nikmatin banget walau datar -emang apa sih yg diharapkan dari seorang Leo yang tak bisa adegan romantis-*, etapiiii setelah adegan kebudekan/? Ken. Kesenyuman senyumanku pun mulai merekah/? dari yang Ken banting-banting hape, kasian tahu hapenya nyala-idup nyala-idup -untung cellphone nggak idup sekali- trus Leo yang memperhatikan Ken ala ala stalker. Pengakuan Leo acie ciee “membaca buku dua kali bukan hal yang buruk kan ?” cie cie. Ken pasti udah meleleh jadi salju denger itu. Pokoknya suka sukaaaa.
    Aku nggak sabar nunggu Enen-Ravi ayoo !! Semangat kakak. Ini mereka bakalan romantisnya gimana yaaa, -reader penasaran-.
    Semangat melanjutkan ! kutunggu😉 Semangat …

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      duh demi apa aku baru liat komentar kamu yang ini.. maafkeun karna telat bales beibehhh ((plok))
      nggalah liburanku bakal kacau juga kalo aku ga mikirin penpik. bisa gila kalo cuma muter padang pasir naik onta doang huehehehe…
      sampe lupa sama series ini karna keasikan ngampus dan ngefangirling senpai kelas ((gak)) makasih ya udah nunggu semoga sebentar lagi akan muncul enenravinya huehehehe…

      thanks for read dekk ^^

      Reply
  2. Sky Onix

    Aaa selalu Keo manis unyu so sweet. Aku suka sama couple yg satu ini. Dimana Leo selalu beda kalo sama Ken. Yg suka noyorlah, nendanglah, jitaklah. Aa itu manis. eh jd out of topic. mian
    Ini ff manis bingit. Ayo dilanjut series(?)nya lg. Masi pengen liat Keo lg hoho aku udh baca semuanya yg story ini dan itu Keo tetep yg nyuri perhatianku. Ayo dilanjut lg

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s