[Ficlet] The Last Five Minutes

img_0716-copy
[Pic taken from here]

Title : The Last Five Minutes || Author : LaillaMP || Genre : Family, Friendship, Angst, Slice of Life, a bit Fluff || Length : Ficlet [800+ words] || Rating : General – Teenager || Cast(s) : Cho Seungyeon (UNIQ), Oh Hayoung (Apink)

 

Cause sometimes… being free, having fun, and acting like a child won’t hurt.

[Prompt taken from here]

Ada dua jenis obat yang digunakan manusia untuk menyembuhkan kesedihan. Obat dalam dan obat luar. Obat luar mungkin adalah obat yang dijual di apotek dengan saran dosis dari dokter, sedangkan obat dalam adalah obat yang diciptakan oleh si penderita itu sendiri.

Dan Cho Seungyeon sedang berusaha menciptakan obat itu sendiri.

Lelaki itu lari dari acara pemakaman ayahnya sendiri bersama seorang tamu gadis yang dikenalnya, masih lengkap menggunakan jas hitam formal dengan sarung tangan putih di kedua tangannya. Awalnya Seungyeon membawa Hayoung ke toko baju yang kebetulan dilewati taksi yang ditumpanginya. Gadis itu masih saja mengernyit bingung walaupun sudah menyetujui uluran tangan lelaki yang mengajaknya bermain.

“Hanya orang bodoh yang ke taman bermain pakai jas dan gaun hitam-hitam begini,” begitu alasannya.

Benar saja, setelah mengganti baju dengan kemeja dan celana jins biru keduanya langsung meluncur ke taman bermain. Berbagai wahana dicoba, mulai dari komedi putar sampai tornado yang terkenal dengan arena sport jantung yang membahana sampai awang-awang. Tak lupa wahana seperti roller coaster dengan lintasan yang penuh air jadi objek permainan remaja itu juga.

Wahana terakhir di hari yang menjelang malam ini adalah kincir angin. Wahana ini adalah wahana yang paling penuh pengunjungnya, dan kedua remaja itu sudah lebih dari satu jam menunggu giliran naik.

“Ayo!” akhirnya gilirannya tiba. Seungyeon mengamit tangan Hayoung agar mengikuti langkahnya memasuki kapsul kincir yang akan berputar teratur lima menit ke depan.

Presensi sang surya telah tergantikan oleh cahaya rembulan dan bintang-bintang kecil yang menghiasi langit. Suasana makin sunyi setelah berjam-jam dipakai berteriak sampai pita suara hampir putus. Cho Seungyeon menyandarkan kepalanya ke jendela kapsul yang langsung mengarah ke luar, menampilkan cahaya-cahaya jingga yang hanya terlihat seperti titik lilin dari atas kincir. Tatapan lelaki itu kosong, redup tanpa cahaya.

“Sebenarnya apa yang kau coba sembunyikan?” tanya Hayoung akhirnya, mengabaikan peringatan orangtuanya tentang ‘tidak bertanya tentang apapun pada Seungyeon’. Jujur saja hatinya juga ikut sakit melihatnya. Tidak ada orang yang akan kabur dari acara pemakaman ayah sendiri kecuali mereka memang gila, ‘kan?

“Aku? Kenapa?” pertanyaan dari Oh Hayoung pun dikembalikan pada pemiliknya.

“Iya, kau, Cho Seungyeon.”

Lelaki itu tertawa kecil, menghindari tatapan dari netra cokelat didepannya. “Tidak apa-apa.”

“Bohong!”

Tawa kecil itu perlahan memudar, menyisakan senyum segaris yang tidak berarti apa-apa. “Sudah tahu, kenapa bertanya?”

Hayoung menghela nafas. Benar kata ibunya, Seungyeon pasti tidak mau ditanya macam-macam tentang perasaannya.

“Kadang, membebaskan diri, bersenang-senang, dan berlaku seperti anak-anak itu tidak menyakitkan. Menjadi obat tersendiri.”

Hayoung mendengar nada bicara lelaki itu lambat laun beriak.

“Ayahmu masih ada kan? Kau tidak akan mengerti,” lanjut lelaki itu menutup kalimatnya.

Mata Hayoung mengedip setelah sekian detik dibiarkan membuka, diikuti setetes bulir kesedihan yang menuruni bukit wajah ayunya.

“Setidaknya kau bisa menangis sebentar, Yeon.”

Lelaki itu menggeleng. “Mana bisa aku menangis disaat ibu dan kakakku sudah mengering air matanya?”

“Tidak ada larangan menangis di pemakaman, termasuk pemakaman Ayahmu sendiri.”

Pandangan Seungyeon menerawang pada suasana monoton kota yang tidak berduka atas kematian seseorang setelah bertahun-tahun berjuang melawan racun di dalam tubuhnya sendiri. Diatasnya terbayang kisah-kisah yang telah lewat, tentang dua orang anak yang pertama kalinya dalam hidup masuk ke arena penuh permainan seperti dongeng.

“Ayah, itu apa?” Cho Seungyeon kecil bertanya antusias sembari menunjuk kapsul-kapsul kecil yang berputar pelan mengitari porosnya.

“Kincir angin,” jawab Pria disampingnya.

“Ayah, itu apa?” kali ini Cho Yoojin kecil yang bertanya sembari menunjuk patung kuda yang bergerak naik turun seiring dengan putaran yang diberikan mesin di depannya.

“Itu komedi putar. Kakak mau main itu?”

“Aku mau main yang itu, Ayah!” Seungyeon menunjuk kereta yang melintasi rel dengan kecepatan tinggi, jauh di atas kepalanya.

“Jangan! Tunggu sampai Adik besar, oke?”

Dan sekelebat kenangan tentang masa kecilnya itu berhasil membuat Cho Seungyeon tersenyum pahit.

“Nanti kau menangis kalau naik roller coaster, Dik,” kakaknya mencibirnya yang baru berusia 8 tahun saat itu, dan anak laki-laki itu langsung memukul lengan kakaknya dengan keras.

“Anak laki-laki tidak boleh menangis, oke? Nanti Adik juga harus menjaga Ibu, menjaga Kakak, menjaga pacarmu juga.”

“Siap, Ayah!”

Petuah ayahnya juga membanjiri pikirannya, dan hampir saja pertahanan air matanya hancur diterjang ombak kesedihan.

“Aku sudah menaiki seluruh wahana, dan kau pergi begitu saja. Sialan!” ungkapan pahit disertai umpatan itu berhasil juga keluar dari bibirnya. “Katanya mau naik bersama, makan saja janjimu sendiri. Sial!”

Air mata Hayoung tidak bisa terkontrol lagi seiring dengan kapsul berputar ini mempercepat perputarannya. Gadis itu menutup wajahnya, membiarkan air matanya membanjiri telapaknya. Tidak peduli siapa yang seharusnya menangis saat ini.

Cho Seungyeon di depannya hanya menatap kosong pada gadis itu, kemudian mengubah posisi duduknya ke samping Oh Hayoung. Lengan kekarnya perlahan menyentuh bahu gadis itu, merengkuhnya ke dalam pelukannya. Tangis gadis itu makin kencang, meruntuhkan tanggul yang dibuat Cho Seungyeon untuk menghalau air matanya seharian ini.

Ayah, maaf aku menangisimu.

 

.fin

Sebenernya ini adalah fic yg gue kirim buat challenge di blog kak amer, tapi apa daya ini ga masuk kriteria(?)

Semoga ada yang baca. Mind to review?

3 thoughts on “[Ficlet] The Last Five Minutes

  1. sweetpeach98

    Hai Kak Lailla, aku sedang melasanakan destinasi wisata ke beberapa personal blog yang aku kenal dan di kesempatan yang berbahagia ini aku akan menyelami seisi personal blog kakak sehingga review box kakak penuh dengan nama sweetpeach98 tak lupa pula dengan notifikasi wordpress juga😄

    Dan ini…. Bisa-bisa nya dia lari di saat pemakaman bapaknya sendiri dasar anak nakal aku tau kamu sedih tapi bisa kali besok aja durhaka😄
    Tapi ini feelnya sedih banget😦

    Kak amer? tsukiyamarisa? Wah sayang banget kak tapi tep semangat ya😄

    Baik, cukup sekian aku berkomentar dan kini saatnya aku menyelam lebih dalam disini, bhay~😄

    Reply
    1. LaillaMP Post author

      Destinasi wisata yaa…. berasa air as*a ada destinasi segala whahahahah xD aku rela notifku dipenuhi olehmu wahai sweetpeach98 alias mawar heuheuuuu….

      Iya kak tsukiyamarisa. Sudah biasa sih(?) aku selalu semangat dimanapun kapanpun wakakakak ((apaini))

      Semoga ga bosen sama kata-kata ini ya dek. Makasih udah baca dan komentar ^^

      Reply
      1. sweetpeach98

        Aku lagi gak naik air as*a tapi lagi naik di pesawat yang kebakar di MV fire (nah loh?)
        Alias mawar, alias istri kesayangan Kim Seokjin :3
        Huhu sama-sama kak aku sangat menikmati destinasi wisata di personal blog kakak :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s