[Kumpulan Drabble] Eighteen (CLC Special)

clc_1432085374_af_orgLaillaMP presents 5 in 1 Drabble-Fic Eighteen Crystal Clear (CLC) special ||Genre(s) : School-life, comedy, fluff on Teenager level || Cast(s) : Oh Seunghee x Kim Hyunil (Ray); Chonnasorn Sajakul x Yook Sungjae; Choi Yoojin x Joshua Hong; Jang Seungyeon x Shin Peniel; Jang Yeeun x Jeon Jungkook

“Kau di umur delapan belas, mungkin seperti ini.”

****

18—Oh Seunghee’s Weirdness!

Why am I like this? Am I getting weird?

.

Seunghee berjalan riang menuju ruang OSIS. Rapat OSIS kali ini akan membahas tentang lomba seni yang akan dilaksanakan bulan depan, dan Seunghee benar-benar antusias dengan hal semacam ini.

“Seunghee-ya!”

Sebuah panggilan dari seseorang yang dikenalnya langsung merangsek masuk ke dalam telinga dan membuat moodnya degup jantungnya tidak beraturan. Dengan cepat gadis itu langsung bersembunyi di tembok terdekat—yang sialnya akan tetap terlihat juga bentuk tubuhnya.

“Hei, Oh Seunghee!”

Orang itu melambaikan tangannya ketika Seunghee menoleh dari balik tembok tempat bersembunyinya.

“Aku hanya memanggilmu, kenapa reaksimu begitu?” Ray terkekeh pelan kala langkahnya telah sampai di depan Seunghee. “Kau malu karena—“

“Ah, Sunbae! Aku tadi sedang main petak umpet dengan….” Seunghee langsung menatap sekitar dan melihat Yeeun, juniornya sedang berjalan melewatinya. “…Yeeun! iya! Petak um…pet.”

Ray melongo sebentar, kemudian Seunghee langsung melambaikan tangannya.

“Sudah ya, Sunbae. A-aku mau ke kamar mandi,” Seunghee melangkah dengan hati-hati melewati lelaki itu.

Kenapa aku begini sih?! Kan kemarin tidak sengaja berpelukan…

“Hei Oh Seunghee!” Ray memanggilnya lagi, kali ini Seunghee hanya menghentikan langkahnya tanpa menoleh. “Kau tidak ke ruang OSIS? Kan ada rapat penting.”

Seunghee menepuk dahinya dan langsung berbalik menuju ruang OSIS. Oh Tuhan kenapa aku jadi aneh begini?!

 

*

 

18—Sorn’s Tomato Style!

My face is turning red, what do I do?

.

“Sorn, bisa edit ini ‘kan?”

Sorn tersentak ketika si pemilik suara yang sedang diperhatikannya itu tiba-tiba mengarah padanya. Tanpa bisa menolak ia pun mengangguk, mencoba bersikap biasa saja kendati hati berdebar tidak karuan.

“Baiklah. Setelah itu print dan berikan padaku ya?”

Untuk beberapa saat Sorn terdiam di tempatnya, seakan ada es yang menahan langkahnya menuju komputer untuk menancapkan flashdisk dan mengedit file yang ada di dalamnya. Netra hitamya masih mengarah pada Sungjae, yang sibuk berkutat dengan berkas-berkas map dari tahun-tahun sebelumnya.

“Loh, Sorn, tidak dikerjakan?”

Aku tidak bisa bergerak, sumpah! Ulu hatinya menjerit parah karena si pemilik tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Sorn?”

“Ah, b-baiklah, ku kerjakan!” dengan senyum lima jari gadis itu pun berdiri, membalikkan badan menuju salah satu bilik komputer di ruang sekretariat OSIS-nya.

BRUK!

Tanpa disengaja Sorn tersandung kursi yang tadi di dudukinya. Menahan malu, gadis itu mengabaikan rasa sakit di mata kakinya. Yook Sungjae disampingnya menutup mulut, menahan tawa.

“Sorn, wajahmu merah, tahu. Kau malu ya?” ucap Sungjae setelah gadis itu sampai di depan komputer.

Oke, ingatkan Sorn untuk tidak mengonsumsi tomat lagi untuk program dietnya.

 

*

 

18—Yoojin’s Confession!

Oppa, I like you, I like you so much

.

Yoojin mengintip Joshua dari balik buku ilmu sosial yang sedang dibacanya. Lelaki itu sedang serius membaca koran pagi hari ini.

Tak lama lelaki yang diperhatikan Yoojin lebih dari 30 menit itu menoleh ke depan, tepat ke netra Yoojin. Yoojin membeku seketika, nafasnya berhenti sejenak kala netra bibir itu menyunggingkan senyum tipisnya. Manis.

“Hei!” sapanya.

Yoojin menatap sekeliling, hanya ada ia dan beberapa anak perempuan yang sedang asyik menekuri bukunya. Yoojin merasa Joshua memanggilnya.

“Iya, kau.”

Mampus aku! Yoojin langsung menutupi wajahnya dengan buku ilmu sosial.

“Kau lucu.”

Wajah Yoojin memerah seketika. Yoojin mengatur nafas, memerhatikan wajah tersenyum Joshua yang masih juga menatapnya.

“Oppa, joahae..” kata Yoojin sembari memejamkan mata. Aku mengakuinya?

Joshua mendekatinya, tersenyum manis dan menyingkap anak rambut yang menutupi wajah cantik Yoojin.

“Bangun.”

Haksaeng, bangun!”

Yoojin tidak mengerti, tetapi ia membuka matanya perlahan, memerhatikan rak cokelat yang pertama ia lihat.

“Sudah hampir waktu pulang, kau tidak kembali ke kelas?”

Yoojin langsung sadar seketika. Tidak ada Joshua yang sedang membaca koran, tetapi ada buku ilmu sosial di bawah sikunya.

Gadis itu pun buru-buru keluar dan menuju ke kelasnya.

 

*

 

18—Seungyeon’s In Love!

Can’t you understand me? I’m in love

.

“Hei, Seungyeon!”

Seungyeon tidak menoleh sama sekali padahal Peniel memanggilnya dengan cengiran lebar di bibirnya. Lelaki itu baru saja pulang dari acara kencan yang sudah direncanakan seminggu sebelumnya, dan tentu saja Seungyeon tahu itu semua.

Mereka tetangga, mereka berteman dari kecil, dan tanpa sadar Seungyeon yang 3 tahun di bawahnya menyukai lelaki itu seiring pertambahan usianya. Garis-garis pertemanan yang dibuat Peniel untuknya terasa menyakitkan walaupun Seungyeon juga tidak punya niatan untuk melewatinya.

Tapi hati tidak selamanya bisa berbohong, ‘kan?

“Kencanmu lancar?” tanya Seungyeon akhirnya tanpa menatap si tetangga di samping balkonnya.

“Lancar sekali. Bahkan dia mau melanjutkan kencan ini besok. Hebat kan?”

Shin Peniel memang bodoh dalam menilai orang. Ia bisa saja mengira orang yang ingin berkencan dengannya memang tulus karena ia seorang, bukan karena motor ninja dan lamborghini yang tersimpan di garasi rumahnya.

“Baguslah,” Seungyeon akhirnya menatap Peniel, mengagumi wajah sumringahnya yang kelewat polos seperti bayi.

Seungyeon meletakkan majalahnya di meja, kemudian pamit untuk masuk kembali ke dalam kamarnya.

“Loh, mau kemana? Aku belum bercerita banyak, loh!” kata Peniel, sedikit kecewa dengan kepergian Seungyeon.

Seungyeon hanya tersenyum tipis. “Bisa mengerti aku, tidak? Aku suka Oppa, tahu!”

 

*

 

18—Yeeun’s Heart Breaker

My heart is aching, I can’t eat anything all day

.

Natal semakin dekat, dan tradisi yang biasa dilakukan di sekolahnya adalah memberikan kado kepada orang yang disayangi. Boleh pacar, orang yang disukai, atau teman dan sahabat. Dan Jang Yeeun, gadis dari tahun pertama itu memutuskan untuk memberi syal bergambar Santa Clause pada senior tahun keduanya, Jeon Jungkook.

Gadis itu melihat Jungkook sudah dikerubungi beberapa gadis. Agak menyakitkan memang, tapi Yeeun tidak akan menyerah. Jungkook pernah berkenalan dengannya sekali, dan pasti lelaki itu ingat.

Langkah Yeeun makin mendekat, tetapi ada langkah lain yang lebih cepat darinya.

“Cokelat spesial ala Jung Yein. Aku membuatnya semalaman, lho.”

Jungkook tersenyum menerima kado dari Jung Yein, teman sekelasnya. Kemudian lelaki itu mengacak rambut Yein sembari melayangkan kecupan di dahinya.

Jang Yeeun pun langsung kalah sebelum tempur.

“Dimakan dong, mandoo-nya. Atau Unnie yang makan?”

Yeeun hanya mendengar ucapan itu sekilas, tangannya sibuk mengacak jjajangmyun di piringnya, sedangkan pikirannya sedang melayang pada kejadian tadi siang.

“Mana mungkin aku bisa makan setelah melihatnya mencium gadis lain,” ucap Yeeun. Setetes air mata pun jatuh, disusul bulir-bulir kesedihan lain yang menyayat hati.

Ternyata ini yang namanya patah hati.

Eighteen—kkeut!

 

a/n : idk what to saying bcs it’s too weird bin random x( any review then?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s