[Ficlet] My Friend’s Brother

CcsDNHoWEAAXIp_

Titile : My Friend’s Brother

Genre : Comedy, School-life, Teenager

Length : Ficlet [300+ words]

Cast(s) : Moon Sua (Unpretty Rapstar), Choi Arin (Oh My Girl) mentioned Moon Bin (ASTRO)

****

Tahu tidak, dia kakakku, lho!

Kanan, kiri, tengah, diam.

Kanan, kiri, tengah, diam.

Kanan, kiri, tengah—

“Bagaimana? Apa dia makan cokelatku?”

Kanan, kiri, tengah, diam lagi.

“Kalau tidak enak bagaimana? Nanti dia sakit perut, setelah itu dia akan mencariku dan fansnya yang seperti sapu lidi itu melabrakku!”

Kiri, tengah, kanan, di—

“Kalau—“

“Berhenti, Choi!” Moon Sua, si ‘korban’ polusi mata itu akhirnya tidak kuat untuk tidak berteriak dengan suara beratnya. Ia rapper, kalau mau tahu, dan kalian seharusnya tahu bagaimana suara rapper saat sedang emosi.

“Tapi Moon—“

“Dia makan cokelatnya dan tidak terjadi apa-apa. Dia malah tidak mau berbagi denganku, tidak biasanya!” ujar Sua sembari mengambil kembali majalah yang ia tutup di atas meja.

“Tidak terjadi apa-apa, ‘kan? Dia tidak keluar masuk kamar mandi atau muntah-muntah?”

Sua menggeleng mantap. Mana ada orang yang langsung sakit perut karena cokelat buatan toko kue di seberang halte. Kalaupun pakai pengawet, tidak mungkin juga akan terasa efeknya.

Choi Arin memang berlebihan. Gadis cuek itu dengan tiba-tiba menarik tangan Sua ke toko kue seberang halte dan meminta bantuannya untuk membuat cokelat berbentuk hati. Katanya sih untuk menyambut valentine. Entah apa itu valentine bagi gadis bebas seperti Sua yang hampir tidak pernah didekati laki-laki saking seringnya ia menggertak mereka.

“Benar ya? Ah, aku pasti sudah terbang ke awang-awang! Daratan, mana daratan?!”

Oh Tuhan, biarkan Choi Arin yang sedang jatuh cinta itu terbang ke rawa-rawa, sampai ditelan lumpur hidup juga tidak apa-apa. Toh rasa cinta itu akan membuatnya terbang lagi keluar.

Salahkan Moon Bin yang pernah membantunya bangun setelah terandung tangga saat akan menghadap Miss Joo yang super itu. Arin yang polos itu akhirnya menyadari pesona kakaknya, si tukang pencetak poin di pertandingan basket.

“Eh, tunggu!” Arin tiba-tiba mengingat sesuatu. Sudah menginjak daratan, rupanya. “Kenapa kau bisa tahu dia makan cokelat itu? Aku juga baru ingat, kau pernah bilang kan syal Santa Clause itu dipakainya? Kau melihatnya? Kapan? Kapan? Dimana?!”

Demi lumpur hidup di rawa-rawa, Sua sudah muak dengan pembicaraan ini sebenarnya. Memang dasarnya Arin tidak peka, dan tidak akan pernah sadar.

“Di rumah.”

“Rumah?” Arin mengangguk, melipat tangannya di dada. “Rumahmu?! Dia ke rumahmu? Untuk apa?!”

Tanda-tanda kiamat sudah dekat, Arin jadi peka suasana.

“Tahu tidak, dia kakakku, lho!” Sua menyerah untuk merahasiakan ini dari Arin. Ia mungkin akan berakhir dengan cakaran di wajah manisnya setelah ini.

Dan benar saja…

.

.

.

Bawa aku ke rumahmu, dan kau akan bebas dari cakaran mautku!”

.fin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s