[Kiriman FF] Beatiful Killer (Oneshot)

1461220997453

Beautifull Killer

Queniva

Hakyeon, Dalhee

Oneshoot

, hurt/romance, romance, sad, angst,

Rate: 15

Queniva art

Origini puny saya. Tercetus dari dengar lagu beautiful Killer, inspirasi boleh Plagiat JANGAN! HARGAI ORANG LAIN

Summary : 0258 semakin gencar dan Hakyeon semakin uring-uringan dibuatnya. Hingga pada akhirnya keduanya bertemu dan berakhir dengan Hakyeon penuh penyesalan

Di dalam darahku tak ada lagi kata pengampunan, baguslah jika tuhan memberi rupa yang anggun kepadaku sehingga takkan ada yang menganggapku seseorang yang berbahaya. Kau bodoh teman! Laras panjang dan pisau adalah senjataku, memang tak ada yang tahu pekerjaan gelapmu ini namun ini hanyalah sebuah misi balas dendam untuk seseorang yang dulu pernah bermain-main denganku. Tak boleh ada yang bermain denganku dengan bebas, semua ada balasannya.

 

“Hei baby, you look so gorgeous.” Lihat seberapa mudahnya orang-orang tak tahu malu ini memujiku. Well, ini takkan bertahan lama karena besok pria tua bangka ini akan mejadi headline news di Tv besok. Perlahan aku membiarkan dirinya menyentuh tubuhku namun aku bukanlah gadis gampangan.

 

Di ruangan yang terang ini aku bisa melihat seberapa menjijikan pria itu, aku membiarkan dia memandangku dan merabaku. Aku belum peduli tapi ingat, aku bukanlah orang yang baik dan jiwaku ini hitam dan merah.

 

BRUK

 

Ku todongkan ujung mata pisau lipatku tepat ke ke kornea matanya, dia terperangah dan bibirnya mulai melafalkan kata-kata pengampunan. Aku tak membutuhkan kata-kata itu!

 

“Si-siapa k-kau?” tanyanya. Aku menyungingkan senyum tipisku seraya bermain dengan pisau lipatku ini agar dia merasa lebih takut denganku. Pisau lipat memang yang terbaik, selain mudah dibawa dia juga sangat tajam.

 

“O258.” Ucapku tapi tanganku sudah terlatih untuk mencongkel mata seseorang dan kini dia hanya terbaring dengan mata yang copot sebelah. Dia tak sempat melawanku.

 

Sadis?! Oh itulah aku, walaupun aku wanita bukan berarti aku penakut, mungkin sekarang kalian menganggapku psikopat bukan? Ah sudahlah kalian tak tahu apa yang terjadi padaku. Perlu ku ceritakan? Sepertinya tidak perlu.

 

Jangan takut berkenalan denganku, aku adalah gadis yang baik hati pada awalnya namun ternyata dunia tak memperlukan lagi gadis yang seperti itu di saat zaman sekarang ini. Polisi akan selalu mencariku, mereka tak tahu identitas asliku. Mereka hanya mengenalku dengan nama 0258 hmm… unik bukan?

 

Pekerjaan utamaku tidak bisa dikatakan pekerjaan juga, aku selalu membunuh orang yang tidak ku inginkan. Aku menyamar sebagai waitrees di salah satu hotel terbesar di Seoul, tak ada yang mengetahui bahwa aku adalah pembunuh yang bernama 0258. Tentu saja karena aku bersifat hangat pada semua orang.

 

Pria di hadapanku ini sudah ku bakar jasadnya dan aku selalu meninggalkan sekuntum mawar merah di sampingnya, itu adalah ciri khas ku seusai membunuh. Dia adalah orang yang dulunya pernah menodai ibuku di depan mataku sendiri saat aku baru berusia delapan tahun.

 

Segera ku rapikan baju ku dan keluar dari kamar hotel, mereka tak tahu bahwa kamar yang tadi itu sudah terbakar, karena aku merancangnya dengan sangat bagus. Berpura-pura mengantar makanan dan setelah itu aku tutup kamera pengantai dengan trey yang aku bawa, wajahku tak pernah kelihatan di kamera itu karena aku menurunkan poni ku.

 

Derap langkah terdengar sangat ramai saat aku beranjak keluar dari hotel itu dan dari kejauhan aku dapat melihat seorang lelaki yang ku kira tingginya 180 cm sedang bercakap-cakap lewat talkie-walkie-nya, aku yakin sekali bahwa dia adalah seorang detektif yang sedang berusaha menangkapku. Penjahat sepertiku ini rata-rata memiliki otak yang cerdas maka berhati-hatilah, karena tak semua orang pintar itu baik.

 

Aku segera meninggalkan hotel itu dan beruntung shift-ku sudah habis dan kini saatnya aku pulang. Aku pulang dengan nyaman tak ada gangguan dan aku hidup di kawasan Seongbukdong yang sedikit sepi.

 

“Dalhee! Darimana saja kau?!” bentak Yunhyeong saudara kandungku yang usianya lebih tua tiga tahun dariku, dia seorang dokter muda sekarang dan dia juga sama sepertiku. Ingin membalas dendam. Aku tak mengubrisnya, aku langsung menuju kamarku di lantai atas. Aku sangat lelah setelah mengukur jalan sendirian tadi.

 

Dalhee Pov end

***

“Tidak salah lagi ini pasti ulah 0258 itu. Sial dia pintar sekali menghilangkan bukti,” desisnya. Ia melihat kamar yang tadinya terbakar dan ada seseorang juga yang terbakar, sebagai detektif mau tak mau dia harus menyelidiki hal ini lebih lanjut.

 

Dia–Cha Hayeon yang baru saja menerima jabatan sebgai detektif di tempat kerjanya merasa kesal dengan lawannya yang satu ini. 0258. Dia tak mempnyai informasi apapun walau ia telah mencari seluruh berkas-berkas yang tersimpan rapi di laci-laci kantor polisi. Hanya satu yang Hakyeon tahu, 0258 akan meninggalkan sekuntum bunga mawar di samping korbannya.

 

Hakyeon itu jenius tapi dia bisa dikalahkan dengan orang yang licik dan Hakyeon tak mau mengakui hal itu. Akhirnya karena tak mau berputus asa Hakyeon pun menghubungi saudara angkatnya yang seorang hacker.

 

“Changmin hyung! Bantu aku menemukan 0258. Dia sudah sangat kurangajar padaku.” Changmin yang mendengar itu dari ponselnya hanya terkikik geli, orang salah mengira dengan penampilan Hakyeon. Ya dia jenius, seorang detektif, tampan, dan masih banyak lagi yang sangat sempurna di luar diri hakyeon. Namun, Hakyeon itu seseorang yang manja dan mudah menangis.

 

Sebenarnya Hakyeon tak mau jadi detektif dia lebih suka menjadi psikolog namun takdirnya mungkin sudah seperti ini dan dia pun enggan mengubah takdir ini karena pekerjaan sangat membantu banyak orang. Hakyeon mempunyai pribadi yang ceria dan hangat dan dia selalu berpikiran positive kepada orang lain dan sekarang dia harus mengubah kepribadinnya itu menjadi selalu curga terhadap orang lain. Ah menyebalkan!

 

“Dia seorang wanita, hanya itu yang aku temukan.” Hakyeon berpikir keras setelah mendengat penuturan Changmin. INI GILA! Bagaimana mungkin wanita melakukan hal-hal yang mengerikan. Hakyeon membayangkan wajah wanita dengan sangat banyak tato ditubuhnya dan tubuh yang gumpal.

 

“Hakyeon-ah, aku mendengar dari saksi katanya dia itu wanita yang cantik dan punya body yang WOW.” Ungkapan Changmin tadi menepis semua pikiran yang dia khayal tentang 0258.

 

Gomawo hyung! Aku benci padamu!” desisnya. Dia menatap seluruh ruangan kamar itu dengan ngeri. Hakyeon adalah orang yang penakut, sekali saja ditakuti dengan hantu pasti dia akan ketakutan setengah mati bahkan memukul siapa saja yang berada di sebelahnya jika ada orang lain bersamanya. Namun sekarang? Dia lebih meilih melihat dinding putih yang kini sudah berwarna hitam.

 

Tubuhnya terbakar, matanya bolong sebelah dan ada beberapa bagiandari orang itu sudah menjadi abu. Betapa mengerikannya wanita itu melakukan hal keji seperti itu.

 

 

Hakyeon PoV

***

Aku berjalan melewati ruangan ini. Sungguh ini bisa membuatku gila! Aku tak tahu kenapa harus aku yang menjadi detektif padahal jika dibandingkan dengan Changmin hyung, aku bukanlah apa-apa. Aku pernah memohon agar aku tak menjadi detektif tapi dia memaksa dan dia akan membantuku dibelakang layar. Dasar orang itu?! Tahunya hanya makan!

 

Target pertamaku adalah seseorang yang memakai insial yang aneh, 0258. Itu seperti nomor kamar tapi sebagaimanapun aku berusaha aku tak pernah menemukannya. Satu fakta lagi yang mengejutkanku, ternyata dia itu seorang perempuan. Aku malu! Aku di jebak dalam permainan seorang perempuan! Astaga mu di taruh dimana wajahku yang super tampan nan manis ini jika dunia tahu.

 

Setelah aku keluar dari hotel itu aku segera ke parkiran untuk mengambil mobil. Aku selalu melihat sekeliling siapa tahu ada yang menarik. Tak ada yang aneh akhirnya aku mauk ke mobil dan melajukan kendaraanku. Dan mulai membelah jalanan Seoul.

 

Siulan burung-burung begitu damai sehingga mentari pun tak bisa mengalahkan betapa damainya aku tidur. Di saat aku tengah menikmati keadaan ini getaran ponsel mengangguku, dengan kesal aku mengambilnya dan mulai berteriak keras pada siapapun itu yang menganggu tidurku.

 

YA! JANGAN MENGANGGGUKU! Eoh?” teriakku pada siapapun tu dan dia merendahkan suaranya setelah mendengar suara perempuan. Dengan cepat aku membuka mataku dan aku langsung bangkit dari ranjangnya.

 

“Cha Hakyeon. Kau mencariku? 0258? Sayang sekali meskipun kau pintar para pelaku kejahatan akan melebihi kemampuanmu.” Darahku mendidih mendengarnya, ini adalah pelecehan!

 

“Dimana kau? Dan siapa kau?!” tanyaku sembari dia menganti piyama pororo dengan kemeja krem yang ku sukai. Walaupun umurku sudah dibilang tak pantas lagi memakainya namun aku tak peduli! Aku yang membelinya dan memakainya kenapa kalian sibuk?

 

“0258.”

 

“DIMA–“ BIP Kurangajar! Dia mematikan teleponnya dan sialnya lagi itu adalah nomor telepon umum bukan nomor ponsel. Pagi yang buruk! Lihat saja kau nona siapapun namamu akan ku cari kau sampai ketemu.

Hakyeon Pov End

***

Di sisi lain Dalhee tersenyum tipis setelah meletakkan kembali gagang telpon itu ke tempat asalnya. Dia sedih tapi juga dia senang, bagaimanapun dulunya dia pernah mencintai seseorang yang tadi dia hubungi. Merekahnya bunga kasmaran itu tak lama hanya beberapa bulan saja namun sampai sekarang benih bunga itu untuk mekar kembali itu masih ada.

 

Perjalanan yang tadi terunda sebentar itu lagi pun kini memulai menggerakkan tungkainya lagi. Mata yang besar, hidung yang mungil, tulang wajah yang tirus, membuat siapa saja dia adalah wanita yang diturunkan dari langit. Salah orang mengira adalah malaikat yang nyatanya dia adalah iblis.

 

Tibalah kini Dalhee ke sa;ah satu Hotel di Seoul, dia menaruh tasnya di loker tempat dimana karyawan berkumpul dan sekarang dia mulai berjalan ke loubie untuk memenuhi tugasnya. Senyuman Dalhee tak pernah luntur saat melayani tamu-tamu dan dia makin semangat karena akan ada korban baru untuk malam ini.

 

“Baguslah, tak perlu lagi aku mencarimu dengan berkeliling kota ini.” gumamnya

 

Dalhee segera melayani seseorang yang berpenampilan casual di salah satu meja lobi ujung dekat jendela, dia adalah seorang pria yang pernah membuat Keluarga Dalhee menderita. Dengan cekatan Dalhee menungakan secangkir teh yang sebelumnya dia beri kurasao sedikit dan dapat dipastikan pria itu akan mabuk. Kuraso adalah liquer yang mengandung 40% alkohol dan rasanya agak sedikit pahit.

 

“Nikmati teh pagi anda tuan,” ucapnya tak lupa ia menambhkan gula batu yang banyak agar liquer itu tidak terasa.

 

Setelah memastikan bahwa pria itu meminumnya sampai habis barulah Dalhee beranjak meninggalkan lobi. Mempersiap bahan lain yang ia akan digunakanya nanti. Dia mempunyai banyak teman dan beruntung rumah sakit yang Yunhyeong tempati memiliki banyak bahan kimia dan berarti dengan muda dia mendapatkan segala cairan-cairan itu.

 

Sementara itu sekarang Hakyeon sedan uring-uringan di meja kerja temannya, Jung Taekwoon. Hakyeon tak peduli jika Taekwoon memandangnya dengan tatapan membunuh yang ia punya, Hakyeon sudah kebal. Bahkan sekarang jarak wajah Hakyeon dan Taekwoon sudah semakin menipis, jika dibiarkan seperti itu terus akan ada kebanyak salah-pahaman nantinya.

 

Tok

“Eh? Oh maaf saya menganggu,” ucap seketaris Taekwoon dengan wajah yang sangat–amat–terkejut. Akhirnya wanita cantik itu pun pergi meninggalkan dua orang pria yang sedang kebingungan menatapnya.

 

Waeyo?” tanya Hakyeon polos. Oh GOSH! Bolehkah Taekwoon mencincang orang dihadapannya ini? Dia benar-benar lelah menghadapi pria yang lebih mungil daripada dirinya sendiri.

 

“Taekwoon! Bantu aku! Hanya kau yang aku punya, Changmin hyung tak mau membantuku. Akan ditaruh dimana wajahku yang tampan ini ha? Jika semua orang tahu bahwa aku dijebak dalam permainan seorang wanita.” Ungkap Hakyeon tanpa memandang kondisi Taekwoon.

 

Di toyornya kepala Hakyeon dan setelah itu dia pergi meninggalkan Hakyeon yang sedang melakukan sumpah-serapah pada dirinya.

 

“Kau ‘kan detektif, kenapa kau tidak menganalisa saja semuanya. Ck, bisa-bisanya aku bersahabat dengan pria bodoh sepertimu.” Jelas Taekwoon dan langsung mendapat suara cempreng dari ruang kerjanya.

***

(Hakyeon Pov)

Dasar Taekwoon manusia es! Tega dirinya melihatku menderita, padahal hanya dia sahabat yang bisa ku jangkau saat ini. Sahabatku yang lainnya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku harus minta tolong dengan siapa kalau sudah begini? Ah malangnya hidupmu Cha Hakyeon.

 

Satu hal yang terlintas di kepalaku saat aku mulai menatap langit biru nan indah lewat lantai 20 ini. Tiba-tiba saja aku teringat wajah Song Dalhee, mantan kekasihku dulu.

Waktu itu kami sangat bahagia hingga pada satu malamsaat aku baru menjadi detektif dengan kejamnya dia mengatakan putus padaku. Ah sial! Mengapa aku begitu lemah? Air mataku kini sudah menetes sekarang gara-gara mengenangnya.

 

*Flashback*

Malam di bulan Desember sungguhlah indah. Ada banyak pohon yang dihias, salju pun turun dengan angunnya, dan seluruh pasangan sedang berkasmaran. Sama seperti pasangan yang ini, Hakyeon dan Dalhee.

Hakyeon mengajak Dalhee ke Lotte World, mereka bermain ke segala penjuru hingga akhirnya Hakyeon mual karena tak kuat lagi. Dalhee yang melihat kekasihnya itu lemas pun hanya tertawa mengejeknya.

“HAHAHA, Yeon-ie haha, wajahmu kena haha pa?” ucapnya disela-sela tawanya membuat Hakyeon cemberut. Dalhee tahu akan begini akhirnya, Hakyeon saja yang mau pamer dan kini dia kena akibatnya.

Cup

Tanpa aba-aba Hakyeon membungkam bibir Dalhee yang tertawa sedari tadi. Dalhee terdiam, Hakyeon tertawa melihatnya. Sangat menggemaskan bagi Hakyeon.

“Hey, Dalhee kau tahu? Aku menjadi detektif sekarang. Changmin hyung yang memasukkanku.”

Deg

Perlahan raut wajah Dalhee berubah menjadi sedikit ketakutan. Hakyeon memandang Dalhee dengan teliti, dia juga merasa ada yang aneh dengan kekasihnya itu. Tangan kanan Hkyeon mulai mengelus pipi Dalhee.

“Hak-Hakyeon-ah, a-aku. Kita putus.” Setelah mengucapkan kata itu Dalhee mulai menghilang di pandangan Hakyeon. Taman ini menjadi saksinya, bianglala yang masih berputar itu seolah menertawakannya bahkan bintangpun menghilang du hadapannya.

“SONG DALHEE! WAE? KATAKAN PADAKU APA YANG SEBENARNYA HA?” TERIAK Hakyeon frustasi setelah dia baru menyadari semua perkataan Dalhee tadi dan dia pun mengejar cahaya yang beberpa bulan ini menyinarinya.

Kini kedua insan yang sedang berhadapan itu hanya berpandangan satu sama lain. Air mata mereka turun tanpa diperintah, keduanya sama-sama sakit namun bagi Dalhee tak apa jika Hakyeon membencinya.

“Aku sudah berselingkuh dengan orang lain dan aku juga tak mencintaimu lagi. Jadi lupakan aku dan matikan rasa itu.” Bohong Dalhee pada Hakyeon. Setelah mengucapkan itu Dalhee segera pergi dengan menggunakan taksi yang dihadangnya tadi.

Kata-kata itu, momen-momen itu datang dimalam ini, memanggil namanya dalam ucapan perpisahan yang tak dibayangkan sebelumnya. Mencoba berharap ini adalah mimi namun sayang itu bukanlah mimpi. Menatap kosong pada jalanan putih tertimbun salju. Dunia Hakyeon hancur seketika. Semenjak itu dia benci musim dingin dan salju.

(End Flashback)

 

Cairan strycnine itu ada pada tubuh korban, gila saja itu cairan kimia yang menyerang otak dan bisa membunuh seseorang dalam jarak antara sepuluh sampai dua puluh menit dan cairan ini juga tidak ada lagi. Sial wanita itu membuatku gila, lagi dia menambahkan liquer kurasao pada korban sebelum memberi strychine. Biar ku analisa sebentar.

 

Di hotel ini setiap pagi akan coffe/tea morning, pada setiap tamu. Dan juga yang menyajikan teh atau kopi itu adalah para waiter/waitrees. Catatan tadi pagi di sendok untuk mengaduk gula itu terdapat angka 0258. Siapa dia sebenarnya dan pagi tadi dia menelponku apa aku harus memeriksa semua waitrees disini?

 

“Perhatian! Aku mohon para waitrees menghadapku secara satu-persatu!” perintahku pada mereka dan dari gerak-gerik mereka ada satu yang mencurigakan.

***

(Dalhee PoV)

Dendamku sudah terbalaskan dengan matinya dua pria bangka ini, jalanku untuk membunuhnya begitu mulus. Aku tau aku berdosa dan maka dari itu aku berniat menyerahkan diriku sendiri pada pihak yang terlibat. Yunhyeong ingin menghentikanku pagi tadi tapi aku menolak. Bagaimanapun aku tak mau tanganku nanti menjadi kecanduan untuk mematuk dan mencongkel bola mata seseorang.

 

Baguslah tadi Hakyeon sempat memandangku aneh, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku merasa bersalah kepada siapapun orang yang mempercayaiku, aku buknlah orang yang pantas dipercaya. Kebanykan orang ceria itu memilik banyak rahasia dibandingkan orang yang kelihatan dingin. Jadi aku ingin memastikan kalian baik-baik saja.

 

“Masuk.” Perintah Hakyeon yang kini sedang berada di lobi. Aku masuk dan dia menatapku dalam. Aku tau tataan itu tatapan api cinta yang masih membara.

 

“Song Dalhee,” panggilnya lirih. Aku tersenyum lalu aku langsung meletakkan kedua tanganku dihapannya. Hakyeon terkejut tapi ini yang aku inginkan.

 

“0258.”

“JANGAN GILA DALHEE!” teriaknya, aku menganggukkan kepalaku. Kuakui aku sudah gila maka dari itu aku ingin Hakyeon menangkapku sekarang.

 

“Tangkap aku Hakyeon. Setelah melihatmu kemarin aku mau menghentikan segala kebodohanku ini, aku tau kau lelah mencariku dan untuk itu aku ingin langsung menyerahkan diriku langsung kepadamu,” ucapku tanpa basa-basi.

“baiklah.” Akhirnya kami berjalan melewati orang-orang yang sedang menggujingku, biarlah mereka berkata apa. Yang sempurna dari depan bukan berarti belakangnya juga sempurna. Terkadang manusia suka melupakan sesuatu yang membuat dirinya berharga.

 

Membelah jalanan Seoul dengan tangan yang padat ini membuatku lapar, aku meminta tolong Hkyeon mengambil tas ku dan aku mengambil kotak bekalku yang berisikan ikan buntal yang sudah kumasak. Ini adalah akhir dari segalanya, kalian tahu ikan buntal itu sangat berbahaya dan itu akan membuat siapa saja mati keracunan.

 

“Hakyeona-ah, Cha Hakyeon. Ingatlah aku akan selalu mencintaimu. Aku akan menunggumu di kehidupan selanjutnya tapi jangan terlalu cepat meenyusulku.” Ucapku

 

Hakyeon yang berada disampingku pun menatapku dengan kesal. Terlihat dari raut wajahnya yang sedang menahan amarah.

 

“Kau bicara apa? Dalhee ini tidak lucu.”

“bekalku tadi adalah ikan buntal yang racunnya melebihi sianida. Waktuku tinggal setengah jam lagi, aku ingin memberi tahumu saja bahwa aku mencintaimu lebih dari apapun.”

 

“MUNTAHKAN! KELUARKAN ITU DALHHE! SUDAH CUKUP AKU MENDERITA KARENA AKU BERPISAH DENGAMU! Jangan membuatku gila. Aku tak mengubrisnya, aku memejamkan mataku untuk menjemput ajalku. Selamat tinggal dunia. Aku tahu aku telah di labeli dengan kata Beautiful Killer

***

Semuanya sudah berakhir Dalhee sudah pergi dengan tenang meninggalkan Hakyeon yang meraung memanggil namanya, kali ini Hakyeon benci warna putih. Di ruangan serba putih ini jiwa dan raga Dalhee sudah terpisahkan.

Hanya isakan yang terdengar dan sekarang predikat beautiful kiler telah diberikan pada Song Dalhee. Semua orang menatap Hakyeon iba. Hakyeon yang mendapatkan kembali sinarnya itu juga tenggelam dalam air mata penyesalan.

Geure, pergilah dengan tenang dan ingatlah Dalhee aku takkan melupakanmu.”

Fin

 

 

[i] Pas Flashback puterin lagu cold at night coba

Semua cairan itu fakta, kalian bisa lihat di google

Maaf saya suka sad ending karena sejatinya manusia hidup didunia itu sad ending

Kenalan yuk mari 98L Imnida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s