[Ficlet] Number One

IMG_20160603_124712

Title : Number One || Author : LaillaMP || Genre(s) : School-life, A bit Angst, Slice of Life, A bit Fluff || Length : Ficlet [700+w] || Rating : Teenager || Cast(s) : Jung Taekwoon (VIXX), Choi Yoochae (OC) || Disclaimer : i just own the story and the OC. Jung Taekwoon belongs to himself.

 

Bagaimana rasanya jadi nomor satu?

.

.

.

“Kau lagi?”

Yoochae kembali mengernyit kala mendapati sosok lelaki sok misterius yang menduduki salah satu bangku di bagian belakang. Si lelaki hanya balas menatap, sembari meneruskan kegiatan mencoret belakang bukunya.

Kalau bukan karena peringkatnya yang turun satu tingkat, Yoochae tidak akan sudi belajar di kelas yang terkenal angker ini—ditambah bersama Jung Taekwoon, si lelaki sok misterius yang tidak pernah keluar dari peringkat akhirnya.

“Hai,” Jung Taekwoon menyapanya untuk pertama kali.

“Kita tidak sedekat itu, lho. Lupa?” Yoochae meletakkan barang-barangnya di atas meja, tepat disamping Taekwoon.

Taekwoon mengangguk. “Ya.”

Bukan tanpa alasan Yoochae mengatakan Jung Taekwoon sebagai sosok sok misterius. Awalnya lelaki itu memang terlihat misterius, liar, sulit sekali didekati atau sekedar diberi ucapan ‘hai’. Pandangannya hanya tertuju pada buku, bahkan ketika sedang jam makan siang. Selain itu, Taekwoon juga sering mengonsumsi obat sakit kepala. Yoochae berhipotesa kalau lelaki itu maniak belajar sampai harus mengonsumsi obat itu dalam dosis yang agak tinggi—sekitar 3 obat untuk satu jam belajar, mungkin?

“Sudah berapa tablet?” tanya Yoochae sembari membereskan buku-bukunya berdasarkan mata pelajaran. “Aku hanya bertanya, aku takut kau overdosis setelah meminum itu.”

Jung Taekwoon menghela nafas, menatap dua butir obat yang sedang dipegangnya untuk kemudian dimasukannya ke dalam mulut.

“Empat.”

Daebak!” Yoochae terkekeh. “Sedang belajar apa? Mau kubantu?”

Sayangnya walaupun Taekwoon ini ‘maniak’ dalam belajar, peringkatnya tidak pernah naik. Selalu menduduki peringkat dua dari belakang. Jikalau ia sedang ‘benar’, peringkat satu dari belakang-lah yang ia dapatkan. Taekwoon juga sering salah dalam perhitungan. Entah ia yang sedang kesetanan atau memang bodoh, kadang-kadang ia tidak tahu bedanya duabelas dan duapuluhsatu. Perlu minimal satu jam untuknya mencerna satu soal yang berhubungan dengan cerita.

Setelah seminggu bersamanya, Yoochae baru menyadari sosok misterius itu tidak ada dalam diri Taekwoon. Taekwoon hanya tidak tahu bagaimana cara menghadapi orang, dan wajah sangarnya akan berubah kikuk kala diberi pertanyaan oleh Yoochae.

“Aku heran denganmu. Kau belajar berapa jam sehari? Kenapa selalu salah dengan 9×9?” Yoochae menghapus bagian yang salah dari hitungan Taekwoon. “Kau sudah benar sampai sini, problem hanya di bagian 9×9. Lulus SD tidak sih?”

Taekwoon tersenyum kecil menghadapi kata-kata sarkatis Yoochae. Ia kemudian mengganti angka 18 menjadi 81.

Good. Sekarang jumlahkan yang punya koefisien sama. Itulah jawaban untuk sama dengan nol.”

Akhirnya setelah 3 jam menghadapi satu soal pemfaktoran Taekwoon bisa bernafas lega. Hidupnya seperti dikelilingi api neraka sebelum angka-angka itu menemukan sendiri jawabannya di bagian pilihan ganda. Entahlah, hari ini sepertinya akan berlalu lebih cepat.

“Sudah selesai? Itu saja?” tanya Yoochae sembari tertawa kecil melihat perubahan wajah Taekwoon. “Kau sesenang itu?”

Taekwoon mengangguk. “Aku perlu 3 jam untuk satu soal.”

Yoochae mengangguk-angguk sembari berdecak. “Definitely genius.”

Taekwoon terkekeh. Kini giliran ia yang menonton Yoochae belajar dengan sangat keras, berusaha menutupi kekurangan 1,5 poin untuk mencapai peringkat pertama. Sekilas Yoochae memang terlihat serakah, tidak mau berbagi peringkat satu dengan yang lain. Ia melihat Yoochae hampir melompat dari atap sekolah setelah hasil ujian tengah semester tercetak di papan pengumuman. Untungnya saat itu Taekwoon ada disana, sedang menghafal materi IPS yang harus ia ulang lagi ujiannya.

“Bagaimana rasanya jadi nomor satu?” tanya Taekwoon, membuka pembicaraan.

“Seperti jatuh dari atap. Bebas,” balas Yoochae sembari mencoret coret buku cetaknya, mencari jawaban. “Tidak ada gunjingan orang-orang untukku.”

Bukan Yoochae yang serakah, tetapi pemikirannya.

“Lalu bagaimana rasanya jadi nomor dua?”

“Seperti tertahan di lift. Menyeramkan,” Yoochae memberi dua garis di hasil akhir, pertanda perhitungannya selesai dan hasilnya tercetak. “Aku sedang belajar. Bisa kita berbicara nanti?”

Taekwoon mengangguk. Ia kembali memerhatikan Yoochae yang sibuk membaca soal cerita untuk pelajaran fisika tentang gaya gerak. Tangan kecilnya itu telaten, membawa si pensil mekanik menari di atas kertas, menggores huruf dan angka yang tidak dimengerti Taekwoon sama sekali.

“Kau tahu, aku diseleksia,” ucapan Taekwoon yang satu itu berhasil membuat gerakan di atas kertas Yoochae terhenti.

“Terus?”

“Tidak apa-apa. Hanya mau beritahu saja.”

Hening sesaat. Yoochae tidak bisa kembali berkonsentrasi dengan hitungannya. Bahkan soal yang ia baca pun langsung tercecer entah kemana sampai tidak bisa terbaca lagi.

“Maaf,” ucap Yoochae akhirnya. “aku tidak tahu.”

Taekwoon mengangguk. “Tidak ada juga yang tahu.”

“Pasti benar-benar sulit.”

“Amat sangat sulit.”

“Bagaimana caramu bertahan?”

Taekwoon berpikir sejenak, menatap wajah presiden terbarunya yang dipajang di depan kelas dan dihias bingkai berwarna hitam.

“Dengan menatap ibuku dan mengabaikan tatapan kalian,” balas Taekwoon sembari menghela nafas panjang. “Satu-satunya yang percaya aku bisa menghadapi semua ini hanya Ibuku. Ayahku hampir menyerah, dan orang-orang disekitar menganggap aku bodoh akut.”

Yoochae mengggit bibirnya, menahan tangis.

“Tidak perlu menangis. Aku hanya bercerita.”

Yoochae mendengus sembari menyunggingkan senyum lebar. Ia menatap Taekwoon yang juga balas menatapnya. Tatapan mata lelaki itu melembut, tidak seperti yang biasa ia gunakan ketika berbicara dengan orang lain.

“Oke, Jung Taekwoon. Mulai saat ini, kau adalah musuh terbesarku untuk jadi nomor satu!” Choi Yoochae mengulurkan tangan. Anggap saja ini pertemuan pertama mereka berdua.

Taekwoon menatap tangan mungil Yoochae, kemudian menjabatnya dengan mantap. “Oke.”

 

.fin

Rencananya mau pake fic ini buat ikutan event di VIXXFF. Tapi waktu itu lupa plus lagi banter-banternya ujian jadi ga dikirim huhuhu… Yaudah share aja di KF daripada ngering kayak sawah(?)

Hm.. apa lagi ya? Happy Ramadhan for all! Bulan ini penuh berkah, mari kita saling memberkahi dengan membaca fic-fic abal ini(?) ((plok))

Selamat puasa!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s