Tag Archives: g-dragon

ff : “bad boy good boy” part 3

Title : “bad boy good boy”

Genre : yaoi, comedy (garing), crazy lah pokonya (?)

Rate : PG 13

Length : chaptered (3/??)

Main cast : GD X TOP

HHHOOOAAA… ANNYEONG..!!!! *tereak ampe kaca pecah

Udah lama nih ga ngeksis di blog ini.. hhe.. pada kangenkah ?? *dimuntahin

Masih pada ingatkah dengan FF gaje ini ?? kalo ngga baca lagi ya..

Oh ya, smua bahasa ancur ini saya sengajain !! kalo pada ga suka ya ga usah baca, trus bilang deh “ngga usah dilanjutin dong ff-nya.. jelek banget! Ngotorin blog” gitu aja.. gampang kan?? Saya ga marah kok!! Ok.. nikmati^^

OH MY GOD..!!!

Seung hyun langsung menyambar kunci mobil yang tadi ia lemparkan ke sofa merah kecil dan keluar menemui mobil sport-nya. Seung hyun berkeliling kota mencari sosok mungil suami/istrinya (author juga gatau siapa yg mau dijadiin istrinya)

“ji yong, kemana sih lo?? Nanti gue yang dijadiin tumbal sama mami!!!” gumam seung hyun sambil mengacak-ngacak rambutnya.

“G H E T T O E L E C T R O—“

HP seung hyun berdering keras membuyarkan lamunannya. Ia lalu memasang headset dan langsung berbicara tanpa melihat siapa yang menelpon.

“bisa kau telpon aku nanti? Aku sedang mencari—“

“kau sibuk, hyun?” tanya orang di seberang.

Seung hyun langsung mengenali suara ini. Reflek ia menghentikan mobilnya di samping jalan. Ia lalu menegakkan posisi duduknya, dan berkali-kali menghembuskan nafas untuk menenangkan diri.

“ya sudah, aku—“

“aniyo, noona!!” akhirnya seung hyun berbicara. “aku hanya sedang berlatih drama. Kenapa?”

Orang diseberang terdengar menghembuskan nafas dari mulut. “drama apa lagi? Kau memang jago dalam drama!”

Seung hyun menjalankan mobilnya perlahan. Tangannya masih bergetar saking gugupnya karena bertelponan dengan orang yang disukainya dari dulu sampai sekarang.

“kali ini judulnya ‘rainy blue’ aku ditarik-tarik anak drama untuk memerankan tokoh mario maurer. Katanya karena aku memenuhi kriteria itu!” seung hyun menggembungkan dua pipinya mengingat masa saat ia ditarik-tarik anak drama untuk memerankan mario. *tunangannya author tuh mario maurer.. *dateng yah ke pernikahan kami berdua!! *plakk

“kau kan tampan, tinggi, kaya, dan—“ orang diseberang menghembuskan nafas dulu sebelum menyambung kata-katanya. “MANJA!”

Seung hyun langsung menampilkan ekspresi kesalnya. Untungnya tidak ada yang tahu.

“aku bercanda!!” katanya.

“ne, arasso!”

Sekian lama dua orang itu berdiam-diaman. Akhirnya orang diseberang menyampaikan maksud menelponnya.

“aku ingin bertemu denganmu sekarang bisa?”

Deg—

Jantung seung hyun serasa berhenti berdetak. Dunia ini terasa begitu indah mendengar maksud narsha. Tanpa babibu langsung saja ia mengiyakan. Dan sambungan telepon pun diputus.

@ ji yong place

Selama ini hanya melihat kegiatan seung hyun, sampai lupa dengan cast yang satu ini. Yang manis, imut, dan lucu.

Ji yong sampai di rumah dengan perasaan senang karena berhasil mengibuli seung hyun. I-podnya hanyalah pemberian orangtuanya saat ji yong berumur 14 tahun. Hanya saja ia menempelkan label ‘brian mc knight’ untuk membuat orang-orang percaya kalau ia pernah bertemu idolanya.

“akhirnya sendirian juga. Nggak ada yang ganggu kan?? Huhh.. berapa tahun harus kulewatkan untuk menikmatinya??” ji yong menjatuhkan diri di sofa merahnya dan menyetel TV. Tidak lupa mengambil es krim yang barusan dibelinya.

LEMBAGA SENSOR FILM MENYATAKAN “POCONG MINTA DUIT” NYARIS LULUS SENSOR…

Tulisan itu membuat ji yong deg-degan. Hatinya terasa cenat-cenut seperti lagu boyband indonesia yang nada awal lagunya mirip banget sama lagu 1TYM yang disukai author *naon sih??*

“hhwaa..!! pocong!!!!” teriak orang di dalam film itu yang bernama mimin.

Ji yong mengemut es krimnya tanpa rasa takut. Dan saat pocongnya muncul tiba-tiba bersamaan dengan perempuan sexy setengah telanjang yang diselingkuhi sang pocong, seung hyun datang dengan wajah ditekuk yang membuat ji yong menghentikan aktivitasnya.

“KEMANA AJA KAMU??!!!!” tanya seung hyun langsung dengan nada tinggi yang membuat sang perempuan sexy dalam film itu langsung mati di pangkuan pocong.

Ji yong berbalik ke arah seung hyun. “kangen?”

Seung hyun langsung tersenyum sinis. Mungkin inilah senyumnya yang biasa di balik wajah manisnya.

“ini bukan waktunya bercanda!” desis seung hyun. “KEMANA SAJA KAMU?!!!!”

Ji yong terlonjak kaget. “umm.. aku—“

Tanpa komando apapun, seung hyun mengeluarkan CD pincess hours, dan menaruhnya di CD player. Ji yong langsung pindah ke sofa yang satunya setelah layar TV menampilkan tulisan episode. Dan drama korea pun dimulai..

“sini dong, yong!” kata seung hyun sambil menepuk tempat di sebelahnya.

Ji yong membatin sambil menatap wajah lelaki manja itu. ‘ini orang cepet amat ngubah mood-nya! Jangan-jangan lagi jatuh cintrong lagi!’

“EH! Jangan terpesona gitu deh!” kata seung hyun yang membuat ji yong sepenuhnya sadar betapa bodohnya ia membatin di saat seung hyun sedang memperhatikannya. Sudah jelas seung hyun adalah peledek ulung yang tak pernah puas dengan ledekannya kepada satu orang.

“siapa yang terpesona?? Ckck..” balas ji yong.

“yong, kesini atau kamu kucekek!!”

Ji yong tak bisa membayangkan bagaimana rasanya dicekek anak manja berbadan besar itu. Menurut cerita ibu seung hyun, yang dua hari lalu menelpon ji yong, seung hyun pernah mencekik seorang anak laki-laki yang menodong temannya sampai anak laki-laki itu pingsan, dan seung hyun dikeluarkan dari sekolah. Makanya, ji yong langsung menuruti saja apa kata seung hyun.

“kamu mau episode berapa?” tanya seung hyun pada ji yong.

“siapa yang mau nonton?” tanya ji yong balik.

“ok. Episode 12!!”

Jreng.. jreng.. *backsound*

Aku tak mau kalau aku dimadu.. eng.. eng.. *author ngaco*

Back to FF..

Ji yong terlihat mengantuk saat adegan shin-chae kyung sedang berada di kamar yang sama, kamar lee shin. Saat itu chae kyung dengan manjanya menirukan orang yang sedang flu. *episod favorit saya loh!!*

“sini..” kata shin pada chae kyung.

Shin menepuk tempat kosong di sisi kirinya setelah ia bergeser beberapa senti. Chae kyung menoleh kaget pada shin.

“disini hangat!” kata shin.

Chae kyung langsung naik ke tempat tidur shin. Dan merasakan keempukkan kasur yang beda dari kasurnya yang ada di sebelah kamar shin. Ia menarik selimut sampai badannya hangat dan tertidur. Shin memusatkan perhatian pada istrinya. Tangannya lalu menyelinap ke bawah leher chae kyung untuk memberikan istrinya yang cantik itu alas tidur. Shin lalu mengelus lembut rambut chae kyung sampai akhirnya..

*author dimarahin readers gara” nyeritain episode 12 princess hours bukannya bad boy good boy. Mianhe.. ga bakal diulangi deh (kalo ga lupa) !!*

Back to GTOP

“yong!!” panggil seung hyun tanpa mengalihkan perhatian dari TV. “yong..!!” panggil seung hyun lagi. Kali ini nadanya agak di tinggikan tapi.. tetap saja pelan. “ji yong..”

Seung hyun menoleh ke arah ji yong yang kepalanya sudah tidak tentu arah. Kepalanya bergerak ke depan, ke belakang, ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, dan lain-lain. Akhirnya adegan princess hours ketiga pun dimulai. Seung hyun mengambil alih (?) kepala ji yong dan menyandarkannya ke dadanya. Dielus-elusnya rambut lembut ji yong, dan diakhiri dengan kecupan singkat di atas kepalanya. Dada seung hyun terasa sakit. Degupan keras membuatnya sulit bernafas. Berkali-kali ia melakukan terapi yang dipelajari neneknya dulu, sampai ibunya, dan akhirnya seung hyun yang mewarisinya.

Paginya..

“hhooammm…” ji yong terbangun dari tidur panjangnya. Ia melihat TV masih menampilkan adegan demi adegan dalam drama princess hours yang berating tinggi itu.

“aku dimana?” ji yong mengedarkan pandangan ke penjuru rumah. Dilihatnya seung hyun yang tertidur pulas tanpa sehelai benangpun *ralat* tanpa satu benda tidur seperti bantal, guling, atau boneka yang paling disayanginya, mario maurer eh mario bros.

“tampangnya tidur kok innocent gini ya??” gumam ji yong sambil mendekat ke wajah seung hyun yang sedang tertidur. Nafas lelaki itu terasa menyapu lembut wajah ji yong. Kemudian, seung hyun terbangun..

“hooaammm..” seung hyun mengangkat kedua tangan besarnya ke atas. Lalu memfokuskan pandangan. Di sebelahnya, ia sudah melihat ji yong, yang dengan polos menatapnya.

“ehm.. udah mulai terpesona ya??” goda seung hyun, masih setengah sadar.

Ji yong langsung menginjak kaki seung hyun. “hello?? Ingatkah siapa yang masih diajak ngobrol olehmu??”

Seung hyun tersenyum manis. Perhatiannya lalu tertuju pada jam yang ditunjukkan oleh jam digital berwarna hitam di atas TV, yang masih menampilkan adegan demi adegan drama princess hours.

“KITA TELAT?!!”

***

“kalian kemana saja?” tanya kim ki bum, kepala sekolah yang paling cerewet yang pernah ada. Mungkin kalau ada kontes nyolot atau semacamnya, kepala sekolah ini harus diikutsertakan. Dan tanpa doapun, pastilah ia menang. Lihat saja bibirnya yang agak-agak (?) *ditampar kibum loper

“kalian tahu sekarang jam berapa?” tanya kibum sonsaengnim.

“ne, sonsaengnim..” jawab ji yong dan seung hyun.

“11.45!!!” kepala sekolah itu berdiri dari tempatnya. Lalu kembali jatuh terduduk karena ia baru ingat, kalau penyakit tulangnya kambuh lagi. Tapi masih tetap saja ia marah-marah. “kalian tahu kan jam berapa kalian harus masuk ke kelas ini? Harusnya malah datang lebih awal! Kalian ini dasar ya bla bla bla bla~”

Kuping seung hyun dan ji yong sudah panas. Bahkan kalau di film-film kartun, pasti sudah mengeluarkan asap dari kuping dan kepala. Lalu ada dua tanduk di kepalanya yang masing-masing ada di kanan dan kiri.

“oke. Kalian beruntung karena hari ini bebas!” katanya menutup pembicaraan.

“APA?!!!”

GUBRAK!!!!

“kenapa tidak daritadi saja? Pakai harus mendengar omelannya yang begitu memekakan telinga selama 2 jam?! Shit!! Pabo..!!!!” geram ji yong sambil menendang tembok. Tapi si tembok malah memberikan dorongan yang kuat. Jadi, bisa dipastikan kaki lelaki kecil itu sakit.

“sakit?” tanya seung hyun polos.

Ji yong menatapnya sinis. “nggak! Sama sekali nggak.”

“oh. Jadi aku tak perlu menggendongmu kan?”

Ji yong menoyor kepala seung hyun. “gendong saja si kibum jelek itu! Bawa ke segitiga bermuda biar kumpul dengan komunitasnya!”

“maksudmu??”

#plakkkkk

@@@

Anak-anak kelas 2 berkumpul di aula serbaguna. Entah ada pengumuman apa yang akan disampaikan. Biasanya di aula itu ada pengumuman penting yang disampaikan. Mungkin ujian? Sepertinya masih lama. Masih dua semester lagi! Pemilihan ketua OSIS baru? Masa jaya ketua OSIS belum berakhir sampai sekarang. Pergantian kepala sekolah? Berdoa saja semoga benar.

“SEMUANYA, ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WA BARAKATUH..” *loh.. loh.. kenapa jadi islam gini??* “ADA PENGUMUMAN!!”

Semua anak kelas tiga menggumamkan satu kata yang pas. “YAIYADONG!!!”

“lusa..”

Sementara kita tinggalkan kelas 2 yang penuh keyadongan itu. Kita ke kelas 1, tepatnya kelas ji yong. Kelasnya tidak seramai biasanya. Karena biang keroknya sedang diare, dan dirawat di rumah sakit. Kelas itu langsung benar-benar sunyi ketika seorang perempuan, seksi, dan tinggi masuk bersama dengan seorang laki-laki, yang ternyata adalah pacar dari perempuan seksi itu.

“semuanya, kita akan bagikan pengumuman! Kalian jangan pada lupa kalau acaranya seru!” kata perempuan itu sambil membagikan selebaran yang diberikan dari sekolah.

Ji yong menerima selebaran itu dengan hati dag dig dug. Mungkinkah ini sebuah acara perkawinan salah satu guru? Jadi anak-anak bisa libur? Oh tidak mungkin! Mana ada orang kawinan di hari sekolah? Apakah camping? Mungkin..

@ home, 3.45 PM

“oh yeah!! Akhirnya hari ini tiba juga!!!” teriak ji yong setelah sampai di home sweet home-nya.

Seung hyun melempar tas besarnya ke penjuru ruangan. Lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk besar yang menemani hari-harinya kalau sedang menonton.

“kamu mau ikut camping?” tanya ji yong dengan nada riang.

Seung hyun menggigit bibir bawahnya. Ia tidak mau kejadian camping beberapa tahun lalu kembali terulang.

“hyun??” panggil ji yong, untuk memastikan bahwa orang yang dijodohkan olehnya masih hidup.

“eh?” seung hyun langsung tersadar dari lamunannya. “kenapa? Mau magnum?”

Ji yong menggeleng kesal. “dasar!! Kenapa diam saja?? Kalau kau mati kan aku tidak mau menguburmu!!”

Seung hyun tersenyum. “oh.. jadi takut gitu sama mayat?”

Ji yong meringis. Mengingat masa-masa ‘indah’ bersama mayat di ruang mayat. Saat itu usia ji yong baru menginjak 8 tahun. Ia diajak neneknya untuk menjenguk kakek yang sedang sakit. Karena ji yong anaknya selalu penuh penasaran, akhirnya ia menghilang dari samping neneknya dan masuk ke kamar yang tidak dimasuki orang-orang. Dokter saja tidak ada disitu. Dan saat ia masuk kedalam, yang dilihatnya hanyalah kegelapan. Sebuah trolley pengangkut orang sakit meluncur bebas ke arah ji yong. Reflek anak laki-laki itu langsung menghindar. Dan saat menghindar itulah ia menabrak sesuatu. Tepatnya makhluk. Tangan makhluk yang ternyata sudah tak bernyawa itu menjulur keluar, seperti mengajak ji yong masuk. Tangannya penuh dengan luka. Dan beberapa belatung menikmatinya. Perut ji yong serasa diaduk-aduk. Ia ingin keluar. Tapi kakinya terasa berat. Seperti tertimpa benda yang sangat berat, yang sangat keras dan susah diangkut. Akhirnya ji yong menangis dan untungnya, seorang suster datang dengan neneknya. Disitulah awal ji yong takut dengan orang mati.

“heh!! Kok nangis??” tanya seung hyun yang melihat ji yong tiba-tiba berubah mood.

“hhuuee.. ini karna kau!!” jawab ji yong sambil memukul-mukul dada seung hyun.

Seung hyun yang tidak tahu apa-apa tentang perubahan mood ji yong langsung menghindar dari pukulan-pukulan yang mematikan itu. Tapi tetap saja terjamah oleh ji yong. Akhirnya seung hyun sendiri yang menghentikannya. Ia mencengkram dua tangan ji yong.

“kenapa? Cerita dong! Udah lama nggak dengerin curhatan orang.” Kata seung hyun sambil menghapus air mata yang masih menempel di pipi ji yong.

“EHH.. NGAPAIN PEGANG-PEGANG?!!!” teriak ji yong sambil menjauhkan diri dari seung hyun.

Seung hyun yang baru sadar langsung bersikap biasa. Ia mengambil remote TV dan menyalakannya. Tapi ternyata acara TV tidak ada yang bagus. Seung hyun mengambil i-pod dari sakunya dan menyetel lagu love song – rain *maklumi aja.. saya lagi demen ama rain*

@ 7.00 PM

“pizza.. pizza.. pizza..” gumam seung hyun sambil menatap iklan pizza hut di TV. Ji yong yang melihatnya hanya cekikikan.

“mau?” tanya ji yong sambil duduk di sebelah seung hyun, lalu mengambil alih remote dan mengganti channelnya dengan film horror yang berjudul “pocong keramas”

“eh, siapa suruh ngambil-ngambil?!!” tanya seung hyun sambil mencoba mengambil remote dari tangan ji yong.

“tanganku.. weekk :P” ji yong menjulurkan lidahnya sambil terus menggoda seung hyun.

“balikin..!!” seung hyun berdiri di depan ji yong sambil terus mencoba merebut remote yang sedang di pegang ji yong.

“tangkep dong!! Masa’ badan gede nggak bisa ngambil remote?” goda ji yong.

Seung hyun tersenyum jahil. Lalu duduk di tempatnya tadi. Tapi ji yong dengan jahilnya mendorong pantat seung hyun sampai kepala seung hyun terbentur meja.

“auuww..” rintih seung hyun sambil memegangi jidatnya.

Ji yong yang melihatnya hanya pura-pura tak bersalah. Padahal ia merasa bersalah. Ia memusatkan perhatian pada film “pocong keramas” yang sudah mulai preview.

“oh em ji!!!” teriak seung hyun kaget. Reflek ji yong langsung menengok ke arah seung hyun.

“ya ampun..!!” ji yong berlari ke dapur untuk mengambil kain, es batu, dan alat P3K lainnya.

“mau ngapain??” tanya seung hyun takut-takut.

Kepalanya memang pusing. Tapi seung hyun terus menghindar dari uluran tangan ji yong yang membawa es batu yang dibalut kain warna putih.

“hhuuuee.. mami..!!” teriak seung hyun tanpa sadar.

Seung hyun menelungkupkan posisinya karena rasa pusing luar biasa yang menyerangnya akibat benturan keras tadi. Air matanya tidak bisa terbendung lagi. Ji yong yang melihatnya benar-benar merasa bersalah. Bagaimana tidak? Jidat seung hyun yang tadinya rata jadi ada benjolan sedikit.

Seung hyun langsung bersikap seperti laki-laki jantan. Ia menatap ji yong yang tangannya sedari tadi masih mengangkat es batu yang dibalut kain itu.

“diem aja. Sakit kan??” tanya ji yong sambil mendekat ke arah seung hyun.

Seung hyun langsung mundur beberapa senti. Diikuti ji yong yang juga maju beberapa senti. Saat hampir mendekat, jiyong tersandung kaki seung hyun! Dan..

Mereka terdiam beberapa saat. Tidak ada yang menyadari kalau mereka sudah melupakan dunia masing-masing. Kali ini hanya ada dunia mereka berdua. Tidak ada yang sadar kalau ternyata mereka baru bersentuhan bibir setelah beberapa lama menikah..

Mereka berdua langsung bangkit dari posisinya sambil memegang bibir masing-masing. Mereka berdua juga saling tatap. Suasana menjadi lebih dingin dari biasanya.

“mi-mian-mi—“ kata ji yong membuka percakapan.

“aku tahu..” kata seung hyun. Untuk beberapa saat ia lupa kalau kepalanya benjol. “TAPI BISA KAN KALAU TIDAK MELAKUKAN INI?!!”

Ji yong tersentak mendengar seung hyun berteriak seperti itu di depannya. Ia sempat mundur beberapa senti saking kagetnya.

“a-aku..”

“DIAM!!” bentak seung hyun. “segera keluar dari sini dan jangan kembali lagi!”

“hah?”

“KELUAR DAN JANGAN KEMBALI LAGI..!!!”

Ji yong menghembuskan nafas panjang sambil tersenyum terpaksa. Lalu berdiri dan melangkahkan kaki kecilnya keluar. Seung hyun memandanginya dengan pandangan biasa. Setelah itu kepalanya kembali berdenyut. Sakit.. sangat sakit..

“arrrggghhh..” rintih seung hyun sambil memegangi kepalanya. “ji yong-ah, mana es-nya??”

Sunyi~

Seung hyun baru ingat kalau ia baru saja mengusir ji yong. Seung hyun meraba-raba lantai untuk menemukan benda kecil yang dibalut kain putih itu. Akhirnya ia menemukannya. Dan langsung menempelkannya di kepalanya.

“ji yong-ah..” teriak seung hyun. “ji yong!!” panggil seung hyun. “JI YONG..!! KAJIMA..!!”

Seung hyun langsung berlari keluar setelah memastikan kepalanya tidak pusing lagi, dan juga setelah memakai pakaian ekstra hangat untuk menghangatkan tubuhnya di malam berhujan ini.

TeBeCe

Mampukah seung hyun menemukan ji yong lagi untuk membawa kembali ke rumah ???

Maap ni aye bikin jadi angst (?) gini di part 3.. kalo ga suka tinggal bilang aja nanti ga saya lanjut disini. Paling taroh di blog pribadi aja.. haha..

Gomawo buat yg udah ngikutin ni FF dari part 1 lalu *bow

Advertisements

ff : “bad boy good boy” part 2

Title : “bad boy good boy”

Genre : yaoi, comedy (garing), crazy lah pokonya (?)

Rate : PG 13

Length : chaptered (2/??)

Main cast : GD X TOP

Walaupun yang suka couple ini ga banyak, terbukti di komen Cuma dapet berapa –“ jadi saya terus jijilin GTOP.. hoho.. makasih yg udah komen^^ jangan lelah komentarin tulisan saya karna ancur -,-“ haha..

“bagaimana? Ji yong mau?” tanya papi to the point.

Dreeennnggg…… *backsound

Maksudnya???????????

“yasudah.. masuk saja. Anaknya ada di dalam. Menunggu sang pangeran tiba!” goda pria dengan gaya ala pejabat negara yang suka caplok sana sini buat nyari keuntungan.

Keluarga choi masuk ke dalam rumah tempat keluarga kwon setiap hari tinggal. Seorang laki-laki yang sedang dirias sedemikian cantiknya membuat seung hyun terkesiap. Ternyata.. itu ji yong!! Seung hyun hampir pingsan. Mungkin karena ia punya asma yang mendadak datang, padahal tidak ada satu pun di keluarganya yang punya jenis penyakit itu.

“cantik banget!!” gumam seung hyun kagum.

Ji yong langsung menatap dengan penuh ketajaman ke arah seung hyun. Sedangkan yang ditatap dengan tampang begitu hanya bisa diam mematung, mencoba mencerna keadaan.

“AKU DIJODOHIN?!!!” teriak seung hyun, hampir pingsan.

Papinya menggeleng. “nggak!” jawabnya. “tapi DINIKAHKAN!”

Jreeennnggg…

Suasana saat itu benar-benar seperti adegan sinetron yang sedang dilanda emosi hebat setelah tahu dirinya di jadikan percobaan perjodohan. Tapi ini? Tanpa percintaan, tanpa perjodohan, dan langsung dinikahkan???

BRUKK!!!

***

Seung hyun membuka matanya kembali, setelah 3 jam pingsan karena tidak kuat dengan takdirnya sekarang. Ia menatap sekeliling. Ada maminya, papinya, orang tua ji yong, saudara perempuan ji yong, dan.. ji yong sendiri.

“pingsan karna kaget ngeliat ji yong cantik gini ya??” goda maminya.

“ikhh.. mami, aku masih normal!! Ogah amat aku liat dia..!” jawab seung hyun.

“ogah? Tapi tetep aja ganggu hidupku!” sindir ji yong sinis.

“oh?!”

“yeah?!”

“so?!”

“what?!”

Argumen-argumen tak jelas keluar dari mulut dua lelaki itu. Dua orang tua dari kedua mempelai akhirnya saling berbicara juga. Akhirnya seorang perempuan berusia sekitar 25-an keluar dari kamar adiknya.

“noona!!!” teriak ji yong manja sambil keluar dari kamarnya.

@ ji yong’s place

“noona kenapa?” tanya ji yong. “noona marah karna aku—“

“ngga kok! Aku Cuma ngantuk.” Perempuan itu menarik selimut sampai ke kepalanya. “yaudah, temenin seung hyun aja!”

Akhirnya ji yong menurut. Ia kembali ke kamarnya yang penuh dengan baju koleksi dari negara manapun, tempat seung hyun tidur dalam pingsannya selama 3 jam.

“ok.. kalian sekarang honeymoon dimana nih?” tanya mama ji yong.

“honeymoon gimana orang kawin aja belom!” gumam seung hyun, tapi masih terdengar papinya.

“kata siapa?” tanya papinya. “kan udah ada cincinnya, tuh..”

Seung hyun melihat ke arah tangannya berada. Melihat sebuah benda berbentuk lingkaran yang bolong ditengahnya, berwarna emas mengkilap dengan ukiran kecil berbentuk dua insan yang—

“TIDAK!!!!!” teriak seung hyun, lalu pingsan untuk ke-2 kalinya.

First night..

Malam pertama dimulai di rumah besar keluarga choi yang disediakan khusus untuk seung hyun, dengan acara saling mendiami. Satu lelaki tampan yang manja sedang menggigit es krim, kali ini bukan magnum. Tapi es krim rasa buah-buahan. Sedangkan lelaki yang satu lagi, sedang menghabiskan camilan yang diberikan seung hyun kemarin.

Beberapa menit kemudian, dua orang itu menoleh ke arah berlawanan. Mata mereka bertemu pandang. Suasananya jadi menegangkan. Mata terdingin berhasil di menangkan seung hyun, membuat ji yong langsung terbakar emosi melihatnya *lah??

“APA??” tanya mereka berdua bersamaan, lalu kembali fokus ke dalam dunianya.

“ahh.. es krim abis lagi!!” keluh seung hyun sambil melemparkan stik es ke belakang, ke arah ji yong.

“eh, abis ya abis. Tapi jangan dilempar ke aku juga kali!!” geram ji yong kesal.

“oh? Emang kupikir!”

Ji yong mendengus kesal. Di lemparnya chiki berukuran besar ke tanah, lalu mendatangi seung hyun sambil membawa bogeman mentah untuknya.

“ahh.. jangan gitu juga kali ngasih bogemnya!!” kata seung hyun sambil mengelus pipi mulusnya.

“oh? Emang kupikir?!” ji yong menirukan kata-kata seung hyun tadi.

“dasar plagiat!”

“oh? Emang kupikir?!”

“PLAGIAT!”

“oh?”

“PLAGIAT!”

“oh?”

“PLAGIAAATTT!!!!”

Second night..

Special night for author *plakk* Yeah… mau tahu kenapa? Karena malam ini beda dari malam kemarin. Bedanya seung hyun tidak mengemut es krim magnum lagi. Tapi lollipop yang cukup besar untuk diberikan ke perempuan yang disukai pada white day. Sayangnya seung hyun terlalu pelit untuk membagikannya pada orang lain, apalagi perempuan. Silakan menyiapkan pop corn untuk menikmati bagian ini! *ngga kok.. becanda

“jadi kamu udah tahu sebelumnya?” tanya ji yong to the point.

“belum!” jawab seung hyun, tepat dan akurat.

“terus? Kenapa kamu ngejar aku begitu? Sampe buat aku malu!”

“ehm..” seung hyun berdehem sengaja. “malu apa mau??”

“SEUNG HYUN!!!!”

Third night..

Kali ini berbeda. Ada yang lebih special! Mungkin mulai saat ini, hubungan mereka akan berjalan dengan lancar. Siapkan kembali camilan dan kantong muntah anda karena ini akan membuat anda mual *plakk

“kenapa kamu nggak ngaku aja kalo kamu suka aku?” tanya ji yong.

“hah? Emang aku gay!!” jawab seung hyun, sok jijik.

“eh anak mami yang manja, ini kan latihan! Katanya kamu mau minta aku ngegantiin pasha buat adegan ini??”

“oh iya.. lanjut!”

Take 2

“kenapa kamu nggak ngaku aja kalo kamu suka aku?”

“umm.. karena aku—“ seung hyun melirik naskah dramanya.

“karena aku cinta kamu!!” sambung ji yong.

Seung hyun langsung tersenyum menggoda. “beneran??”

Wajah ji yong memerah seketika. Seperti kepiting rebus yang baru saja matang.

“aduh.. begitu terpesonanya sama aku!!”

“SEUNG HYUN, KAPAN SELESAINYA?????”

Take 3

“kenapa kamu nggak ngaku aja kalo kamu suka aku?”

“umm.. karena aku cinta kamu!”

“semudah itukah kamu mengatakannya?”

“umm.. yeah..”

“lalu kenapa kau tak bilang dari dulu??”

“karena—“ seung hyun kembal melirik naskah.

“karena aku ingin memberi sesuatu yang membuatmu bahagia!” sambung ji yong untuk kedua kalinya. “apa??” sahut ji yong saat seung hyun menggodanya.

“aniyo.. ayo ulang lagi!!”

Take 4

“kenapa kamu nggak ngaku aja kalo kamu suka aku?”

“umm.. karena aku cinta kamu!”

“semudah itukah kau mengatakannya?”

“umm.. yeah..”

“lalu kenapa tak bilang dari dulu?”

“karena aku ingin memberi sesuatu yang membuatmu bahagia!”

“kau salah!”

“…………………………….” *pikir ndiri dah lanjutannya.. kaga kuat sayah !!

~finishing practice~

“makan apa nih?” tanya seung hyun lesu.

“makan kodok!” jawab ji yong asal.

“eh, ditanya baik-baik kok!”

“oh?! Emang kupikir? Weekk..”

“udah ah. Aku malas bercanda!”

“and then, mau makan apa?”

“makan yang ada aja deh!”

“adanya kodok tuh di luar. Ambil sana..!”

“JI YONG, AKU BILANG JANGAN BERCANDA..!!!!!”

##############################################

Back to school keesokkan harinya. Tidak ada lagi sapaan narsis seung hyun yang memanggil ji yong di keramaian. Kalau mereka bertemu, hanya ada tatapan sinis. Orang-orang di sekolah jadi tidak mendapatkan sinetron gratis setiap hari. Di taman pun begitu. Tidak ada sapaan jahil seung hyun lagi. Ji yong jadi merindukan masa itu.

“ahh!! Apa sih yang kupikirkan?!” gumam ji yong sambil memukul-mukul kepalanya. “sudahlah.. lebih baik aku mengerjakannya!!”

@ seung hyun place

“tumben diem!” kata seungri, teman sekelasnya. “tumben juga masih di sekolah!”

“baru pulang. Ngapain coba di rumah?!” jawab seung hyun.

“baru?” seungri memeriksa jam-nya. “kalau jam gue nggak salah sih, lo udah lebih dari 5 jam sejak sekolah bubar disini!”

Seung hyun menatap seungri, seakan ingin membunuh lelaki yang dianggapnya sebagai adiknya. Padahal umur mereka sama *gue samain di ff ini* karena mereka teman dekat, dari kecil sudah kenal, maka bahasa mereka pun bakal memakai bahasa gaul (?) yang dipelajari saat di indonesia dulu.

“oh ya, kenapa lu diem? Biasanya bakal main ke taman nemuin ji yong!” kata seungri.

“not for today” seung hyun menggelengkan kepala.

“cerita dong kalo punya masalah!”

Seung hyun menggeleng keras, dengan pipi digembungkan dan mulut dimonyongkan. Ekspresi yang paling dibenci seungri karena itu akan memalukannya.

“jangan-jangan lu—“ seungri sengaja menggantungkan kalimatnya. “DIJODOHIN!!”

Praaannnggg….

Seperti ada ribuan piring menjatuhi kepala seung hyun saat seungri mengungkapkan kalimat yang pentingnya. Hampir saja ia pingsan seperti kemarin saat dinikahkan paksa.

“ehm.. dengan siapa??”

Ffuuhhh.. untung dia kaga tau! Pekik seung hyun dalam hati.

“kok diem?”

Seung hyun mengambil tasnya, lalu berdiri dan keluar dengan perasaan lega sekaligus bingung. Entah kenapa ia bingung.

“hyun..” panggil seungri. “kenapa sih?!”

“no matter.” Jawab seung hyun datar.

Seung hyun memasuki mobil sport hitamnya dan melajukannya tanpa kenal suasana. Seungri yang biasanya nebeng mobil seung hyun, harus mendengus kesal karena kali ini harus mengeluarkan uang untuk naik bus.

@ home

“eh, dasar makan nggak ngajak-ngajak!” kata seung hyun sambil menarik kursi meja makan.

Ji yong menanggapinya dengan tatapan sinis.

“ya ampun, cemburu ya aku nongkrong sama seungri???” tebak seung hyun, sok tahu.

Ji yong melempar garpunya ke arah seung hyun. “ngga salah?? Aku bukan gay tahu!!”

“aku juga!”

“tidak ada yang bertanya!”

“tapi aku menjawabnya.”

“tidak ada pertanyaan, maka tidak ada jawaban.”

“oh?”

“yeah!”

“so??”

“what?”

*ini aja deh yg dijadiin bahasa GTOP.. biasa kan rap, skarang kaga! Hoho*

Seung hyun menggeliat dalam kasurnya. Hari ini jadwalnya tidur di kasur empuk. Memang dasar ortu mereka pelit. Masa rumah gede, fasilitas lengkap, kasur Cuma satu! Ckckck..

“mami, angkat dong!!” gumam seung hyun sambil terus memasang wajah panik. Keringat dingin membasahi wajahnya.

Ji yong, yang tidur di sofa luar kamar mendengar gumaman seung hyun. Bagaimana tidak, suara seung hyun besar, dan malam ini sangat sepi. Pukul 00.03

“mami!!!!” akhirnya seung hyun berteriak frustasi.

Terdengar isak tangis kecil dari dalam kamar. Tanpa perasaan apapun, ji yong masuk ke kamar dan melihat seorang lelaki tampan yang sedang putus asa. Ia pun mendekatinya dan HAMPIR memeluknya.

“dasar manja!” dengus ji yong.

Seung hyun langsung menghapus air matanya. “kok-bisa—“

“ini kan kamarku juga!”

“tapi malam ini, ini kamarku!”

“oh?” ji yong sengaja menghempaskan tubuhnya ke kasur king size itu. Dalam hitungan detik, bagai orang yang terhipnotis ji yong tidur.

“ahh.. dasar!!!” akhirnya seung hyun mengambil guling dan membawanya ke sofa depan.

^^morning^^

Matahari bersinar cerah dari 2 jam lalu. Awan hitam malam hengkang dari atmosfer dan tergantikan oleh awan putih kapas yang membuat hari lebih cerah. Tapi..

“JIYONG, CEPETAN DONG!! TUJUH MENIT LAGI MASUK!!!!” teriak seung hyun menggelegar, menyuruh ji yong segera keluar kamar dan memakai sepatu.

“IYA.. SABAR DONG!!!” sahut ji yong sambil keluar dan memakai sepatu dengan merk terkenal berwarna merah hitam.

“padahal aku udah sediain sepatu ini.. ckckck..”

“peduli??”

“nggak!” seung hyun mendelik ke jam tangannya. “5 MENIT LAGI!!!”

Akhirnya, daripada berlama-lama naik mobil ke sekolah dengan ancaman kemacetan yang panjang, ji yong dan seung hyun berlari sejauh beberapa kilometer untuk mengejar waktu. Tak dihiraukan teriakan orang-orang menentukan pemenangnya.

“kayaknya yang kecil tuh yang menang!”

“nggak! Yang gede lebih banyak tenaganya. Pastilah dia menang!”

Sedangkan yang menjadi objeknya, hanya terus berlari sampai nafas mereka tercekat.

“aku—nggak-kuat!!” ji yong jatuh terduduk di bawah pohon mangga.

“ayo dong! Udah 5 menit nih kita telat. Nanti kalo disuruh—“

“kamu aja deh yang masuk. Nanti aku bakal jelasin semua ke guru!”

Seung hyun tak tega. Akhirnya ia mengulurkan tangannya, berharap semoga lelaki mungil itu menerimanya dan berjalan bersamanya.

“nggak perlu! Aku bisa sendiri.”

Yeah.. ji yong benar. Ia bisa berdiri sendiri. Dan kembali berjalan, bukan berlari. Tangan seung hyun yang tak bisa diam kadang-kadang selalu mendekatkan tubuh ji yong ke tubuhnya. Membuat ji yong risih dan enggan berdekatan dengannya.

“aku tidak mau kau pingsan, makanya aku me—“

“tapi jangan begitu juga, kali!!”

Hening. Selama perjalanan hanya keheningan yang ada. Mereka sampai 7 menit kemudian, dan disambut dua satpam kembar yang tidak diinginkan. Pak sarijem dan pak chunijem.

“pak, kita kan masuk anak pinter disini!” mohon seung hyun.

“mau pinter, mau bodoh, mau kaya, mau miskin, tetap tidak bisa masuk kalau tidak memenuhi syarat!” kata pak chunijem.

“emang kita kenapa sih? Kita kan udah cukup pinter, kaya, dan—nggak jelek-jelek amat.” Kata ji yong. Kayak bapak! Sambung ji yong dalam hati.

“yaudah.” Seung hyun mengeluarkan senjata terakhirnya. “pokoknya, aku bakal keluar dari sini, nanti nggak ada yang jadi pengharum nama sekolah, nggak ada yang ngegaji bapak, dan—“

“ok.. ok.. kalian masuk saja. Kami yang akan menjelaskan pada guru kalian!” kata pak sarinem dan pak chunijem bebarengan.

“nggak usah!” tolak seung hyun lembut. “kita bisa sendiri. So, bapak-bapak yang terhormat mendingan jaga keamanan. Nanti di pecat lagi. Kan kepsek sekarang nggak nanggung-nanggung mecat semuanya kalo satu orang nggak becus!” *ini cerita tentang kepsek baru gw.. so, sorry kalo curhatan saya keluar disini

Pak sarinem dan pak chunijem mengangguk, memaklumi. Memang benar kepala sekolah yang cerewet, sok kaya, dan bermulut besar (?) itu akan memecat pegawainya yang tidak becus. And then, kita ke suasana GTOP..

“tuh kan, kalo nggak ada aku mau kemana kamu?” tanya seung hyun, sok pahlawan.

“pulang!” jawab ji yong enteng.

“ckckck.. nggak takut?”

“harus?”

“ini nih.. paling benci kalau ada orang yang bertanya ditanya balik. Ckckck..” gumam seung hyun yang tidak ditanggapi ji yong karena tenaganya habis.

“aku ke atas!” kata ji yong lemah setelah sampai di depan kelas seung hyun.

“ke UKS aja!” usul seung hyun, melihat kondisi entah istri atau malah suaminya yang lemah.

Ji yong memaksakan senyum. “no matter. Jangan pedulikan aku. Aku bukan anak kecil!”

Untuk kali ini, seung hyun merasakan sebuah perasaan yang tidak biasa. Entah ini yang dinamakan cinta, atau malah hanya perasaan sayang sebagai seorang yang—

“entahlah..” dengus seung hyun setelah melihat bayangan ji yong pergi menjauh ditelan tangga (?)

“kenapa kamu telat?” tanya bu teuki, guru terbaik yang pernah seung hyun kenal.

“ceritanya panjang!” jawab seung hyun sambil melempar tas ke sebelah seungri. Lalu duduk di kursinya.

“ceritakan!”

Seung hyun menghela nafas panjang. “daripada ibu denger cerita nggak menarik saya, mendingan terangin ke yang lainnya!”

“emang kamu udah ngerti sampai bilang begitu?”

Seung hyun mengangguk mantap. “disitu saja ibu salah. Masa rumusnya begitu? Kan jelas-jelas untuk mencarinya dibutuhkan rumus yang ada di halaman 123 buku paket!”

Semua anak langsung membuka buku. Termasuk seungri yang ada di sebelahnya. Dan setelah melihat rumusnya, anak-anak langsung meneriaki gurunya “SESAT”

Kita ke ji yong dulu yuk..

PLAK!!

Suara rotan yang dipukulkan ke meja guru yang lebih pantas dijadikan meja penghukum akhirat.

“kenapa kamu telat? Mau nyandang jadi cinderella gitu?” tanya bu heechul, guru bahasa yang paling cerewet yang pernah di temuinya.

“sebentar!” kata ji yong takut-takut. “sejak kapan cinderella telat dateng? Bukannya telat pulang?”

“ahh.. emang saya pikir! Cepat duduk!”

Istirahat..

Seung hyun sengaja mendatangi kelas ji yong di lantai 3. perasaan was-was masih menghantuinya. Eh, bukan gitu! Seung hyun takut nanti ji yong pingsan di tangga, terus guling-guling di tangga, kepalanya bocor, dan akhirnya berada di ruangan ICU dan meninggal. Adegan sinetron yang sering seung hyun tonton kalau sedang kesepian.

“kangen ya??” goda ji yong saat ia melihat seung hyun mendekatinya.

“nggak!” jawab seung hyun cepat. “Cuma pengen liat aja kamu lemes, nanti akhirnya digeret anak-anak!”

“beneran mau liat?”

“ngga ah! Nanti aku nggak boleh borong magnum lagi. Ckckck..”

Hening~

“eh,” seung hyun membuka jalan pembicaraan. Istirahat masih 5 menit lagi. “mau temenin ke mall nggak?”

Wajah ji yong langsung berubah cerah. “beliin sepatu louis vuitton terbaru ya!”

Seung hyun menggembungkan dua pipinya. “beli sendiri!”

“aku bilangin mami loh biar—“

“mau buka aib? Buka aja.. aku nggak ngelarang!”

“kenapa sih? Kok jadi serem gitu. Parno deh!”

TTTEEETTT..

Bel berteriak kegirangan menghentikan pembicaraan seru jiyong-seung hyun. Tanpa disadari, anak-anak kelas 1-d menonton dari luar. Anehnya, bukannya cemburu, malah mereka semua mendukung kalau dua orang itu menjalin hubungan khusus.

“aku dukung 100% kalo ji yong sama seung hyun hyung kawin!”

“aku 1000% dukung!”

“aku 1200%!”

“ahh.. serasi banget sih! Sumpah, best new couple!!”

@ seung hyun classroom

“eh hyun, semua orang dukung jiyong-seung hyun couple!” kata seungri menggebu-gebu, membuat seung hyun hampir mati kehabisan oksigen.

“KENAPA SIH SEMUA ORANG PENGEN BANGET GUE MATI?!!!” teriak seung hyun frustasi.

“eh? Gue salah? Sorry.. sorry..” seungri langsung memasang gaya menari sorry, sorry super junior yang sangat terkenal dari tahun 2009 lalu.

“ahh.. ga mempan! Lu mau nari jaipong campur jaranan juga kaga mempan di gue vi.. mendingan lu nari kecak di tali rafia deh pasti gue aplause kalo lu mati!”

Seungri langsung menoyor kepala sahabatnya. “suruh aja engkong lu! Gue Cuma bisa dance justin timberlake.. ckckck..”

#pulang sekolah#

“mo kemana?” tanya seungri begitu seung hyun sampai di depan kelas dan berbelok ke kanan.

“ke kelas ji yong!” jawab seung hyun tanpa ekspresi.

“ngapain tuh?? Cuit.. cuit..”

“nagih utang!” seung hyun menepuk pundak seungri. “lu naek bus aja ye.. gue kudu bareng sama tuh bocah. Babaii..”

Seung hyun langsung berlari menaiki tangga untuk sampai ke kelas 1-a. sampai disana, ia langsung disambut narsha, mantannya yang telah lulus tahun lalu.

“hai!” sapa narsha. “apa kabar?”

Seung hyun speechless. Jujur saja, ia masih menyimpan perasaan pada kakak kelasnya itu. Pertama kali bertemu saat seung hyun jadi korban salah tendang oleh anak kelas 3. dan ternyata yang menjadi perawat seung hyun di UKS adalah narsha.

“umm.. baik.” Jawab seung hyun akhirnya, masih canggung. “kau?”

Narsha tersenyum manis. “as u see,” narsha menunjuk badannya. “oh ya, kau mau ngapain?”

Seung hyun tersenyum. “menjemput orang.”

Raut muka narsha langsung berubah. Terlihat lebih galau (?). tapi kemudian ia menggantinya dengan raut wajah biasa.

“oh.. pacarmu?”

Seung hyun menggeleng. “entah aku harus menyebutnya apa. Ckckck..”

“kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu makan. Entah kenapa aku merindukanmu. Aku masih ingat waktu kau jadi korban salah tendang itu.”

Seung hyun tersenyum lagi. Masih malu dan canggung dirinya. “umm.. bisa. Kapan? Jangan hari ini karena aku ada janji lain.”

“bagaimana kalau besok?”

“umm.. ok! Jam berapa?”

“boleh ku minta nomormu? Biar ku jelaskan. Tulislah!”

Seung hyun menerima i-phone narsha, dan menuliskan nomornya disitu. Setelah itu ia memberikan kembali i-phone itu. Narsha tersenyum dan pergi setelah seorang lelaki datang dengan wajah di tekuk.

“sorry boy. He’s my friend..” narsha menunjukkan seung hyun ke lelaki itu.

“ohh.. ok. Ayolah aku lapar!” kata lelaki itu.

“ok hyun. Tunggu saja sms-ku. Micky sudah lelah menunggu.”

“ne, noona. Annyeong^^”

Seung hyun POV

Akhirnya aku bertemu lagi dengannya setelah setahun ini. Narsha noona melanjutkan di new zealand. Jujur, aku masih mencintainya! Aku pernah menyatakan cinta padanya. Tapi ditolak mentah-mentah olehnya karena ia menyukai temannya yang bernama DANNY *danny ITYM loh.. liat aja!! Saya aja masih demen bgt sama dia #ganggu

“ya!” gertak seseorang, siapa lagi kalau bukan KWON JI YONG??

“waeyo??” aku melihat wajahnya yang sedang marah. Aku jadi ingin menggodanya. “kenapa?? Kau cemburu ya aku dekat dengan narsha?? Hayo ngaku!!” aku mencoba mencolek lehernya. Tapi langsung ditepis dengan angkuhnya.

“ok, cukup sudah adegan sinetron murahan yang melihat pasangannya bercengkrama dengan mantannya.” Ji yong memasang tampang malas. “kau mau menggodaku? Silakan! Aku tidak akan membalas. Aku ingin pulang dan segera tidur karena aku habis dimarahi habis-habisan oleh heechul sonsaengnim. Kau tahu kan lelaki itu yang bibirnya lebar? Ckck..”

Tanpa sadar ia mencurahkan perasaannya padaku. Andaikan aku ada disana dan melihatnya dimarahi. Pasti aku tergelak habis-habisan! Hahaha..

End of hyunnie POV

Seung hyun masih tertawa sampai ji yong sudah turun duluan dan meninggalkannya. Anak-anak yang lewat langsung mengerubunginya dan bilang “orang gila.. orang gila..”

“eh,, ji yong mana??”

Semuanya langsung meninggalkan arena orgil itu karena sang ‘orgil’ tidak beraksi lagi. Seung hyun yang baru sadar langsung turun dengan cepatnya dan mencari sosok pasangannya—yang entah istri atau suaminya—kemana-mana. Bahkan 2 satpam yang biasa dikerjain anak-anak pun ditanya.

“wah.. nggak tahu den. Tadi sih pada pergi lewat pintu!” jawab pak chunijem.

“ya iyalah pak.. masak pergi lewat bawah tanah?? Nggak ada jalurnya!!” kata seung hyun kesal. “yaudah pak.. makasih.”

Akhirnya seung hyun sendiri pulang ke rumah dengan mobil sportnya. Ia ingin menelpon ji yong, tapi dari awal ketemu BELUM PERNAH SEKALIPUN ji yong memberikan nomornya kepadanya. Ji yong yang sudah tahu nomor seung hyun saja tidak pernah memiscall. Apalagi menelpon. Entah lelaki itu sudah menghapusnya dari memory otaknya atau belum.

“kenapa pulang duluan? Kau tidak tahu kan betapa malunya aku disana diteriaki orang gila oleh anak-anak kelas 1? Lalu aku harus bertanya pada dua satpam tak jelas yang di angkat oleh kepsek tak jelas itu? Dan akhirnya aku pulang sendiri! Aku takut kau hilang, pabo!!” sembur seung hyun sampai rumah.

Ji yong yang sedang mendengarkan lagu di i-podnya tidak mendengar sepatah kata pun dari mulut seung hyun. Membuat seung hyun geram dan langsung membanting i-pod itu ke lantai. Ji yong langsung menatap santai ke arah seung hyun.

“hello, are u okay??” tanya seung hyun.

Ji yong menggeleng sambil tersenyum. “nothing.” Katanya. “itu koleksi terakhir dari brian.”

Ji yong langsung meninggalkan seung hyun sendiri di dekat sofa. Ia pergi keluar tanpa membawa benda lain. Hanya uang dan HP yang ia bawa. Harta paling berharga yang dimilikinya sudah hancur tak bersisa di tangan destroyer handal seperti seung hyun.

Di rumah, seung hyun berlutut di bawah kepingan i-pod yang tadinya utuh langsung hancur. Ia mengangkat satu kepingan yang agak besar ke depan matanya. Disitu tertulis ‘brian mc knight’

OH MY GOD..!!!

 

TBC

Hhhuuuaahhh… maap ya kalo kepanjangan =p

Ditunggu komennya jangan sampe ngurang tiba-tiba.. tapi kalo ga suka tinggal bilang jangan dilanjutin aja deh.. hehe^^

Follow me @lailaisvip

Gomawo

ff : “bad boy good boy” part 1

Title : “bad boy good boy”

Genre : yaoi, comedy (garing), crazy lah pokonya (?)

Rate : PG 13

Length : chaptered (1/??)

Main cast : GD X TOP

FF ini dibuat karna saya lagi kangen double combo ini.. hoho.. maap kalo bahasanya campuran gini. Ini Cuma buat hiburan kok..

Ok,, just read, comment, and if u like u can click ‘like’ button #halah# but if u don’t like, don’t read and no bashing #cerewet

***

Ji yong termenung sendiri melihat pemandangan di depannya. Pemandangan ini lebih buruk dari meletusnya gunung krakatau yang abunya sampai ke negeri belanda. Ia benar-benar tidak menginginkannya. Tapi apadaya? Dia terlanjur melihatnya, dan tentunya harus menyelesaikan tontonannya.

Dua orang yang merupakan teman dekatnya, yang mempunyai perasaan yang sama, yang pernah tinggal di nevada bersama, bersekolah di tempat yang sama, dan—

Tidak ada lagi yang bisa di sebutkan. Dua orang itu adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup ji yong. Yang selalu menyemangatinya dimanapun dan kapanpun. Saat senang, maupun sedih.

“hai!!” sapa seorang laki-laki sambil menepuk pundaknya.

Ji yong tersadar dari lamunannya. Ternyata yang menjadi objek tontonannya sudah ada di depan matanya. Ia speechless, tidak bisa berkata apa-apa.

“eh, yong bae, umm.. waeyo?” tanya ji yong salah tingkah pada sahabatnya, dong yong bae.

“hanya ingin menyapamu!” jawab yong bae sambil senyum. “kau merindukan kami?”

Ji yong tersenyum pahit. Tepatnya mengharapkan dara.

“ok. Aku dan dara sedang ada urusan di lain tempat. Setelah itu aku harus kencan dengannya.” Kata yong bae membeberkan semua urusan pribadinya.

“thank’s sudah menjodohkan kami! Aku benar-benar senang mengenalmu!” timpal seorang perempuan di samping yong bae, sandara.

Ji yong hanya bisa tersenyum—senyum terpaksa. Setelah dua orang itu hilang dari pandangannya, ia berjalan kembali ke gedung sekolahnya yang ada di sebelah taman kencan yang di jadikan tempat menonton. Sepanjang jalan ia hanya menunduk. Sampai akhirnya ji yong menabrak sesuatu yang lebih besar, lebih tinggi, dan lebih berisi daripadanya. Malah ia hampir terjengkang saking besarnya tameng pertahanan orang di depannya.

“untuk apa kau punya mata kalau kau tidak memakainya?” tanya lelaki itu sambil menggigit cokelat di es krim magnum-nya.

Ji yong diam. Ingin sekali menonjok lelaki itu di saat ia sedang kesal. Akhirnya ji yong hanya bisa menelan ludah pahit dan menghindar dari hadapan cowok itu. Tapi tangannya di tahan dengan cengkraman keras dari lelaki itu.

“namaku seung hyun. Choi-seung-hyun. Aku kelas 2-b. nomorku +011 898 7272! Telpon aku kalau kau merindukanku.” Kata lelaki itu lalu mengendurkan cengkramannya dan pergi dari situ.

Ji yong menyeka tangannya yang bersih dari noda apapun dengan gaya angkuh-nya. Lalu tersenyum sinis memandang lelaki berbadan tinggi besar yang langsung to the point memperkenalkan dirinya. Padahal tidak ada yang menyuruhnya.

“ck ck ck.. orang aneh!” gumam ji yong sambil melanjutkan perjalanannya. “siapa juga yang minta kenalan? Hii~”

***

Ji yong kembali ke sekolah keesokkan harinya. Kali ini ia ingin ke taman kencan itu lagi sepulang sekolah. Bukan untuk menonton dua temannya bermesraan, bercandaan, berkejaran dengan senang. Tapi untuk mengerjakan tugas makalahnya yang diberikan dua hari lalu.

“eh, kau tahu, aku dan dara kemarin meminta restu pada orang tua kami! Dan—DITERIMA!!!!” teriak yong bae senang.

Ji yong terpaksa tersenyum WALAUPUN hatinya sangat sakit. Kemudian senyumnya segera tergantikan oleh kesedihan. Dara datang sambil membawa coklat yang di hiasnya sedemikian rupa sehingga benda itu sangat special.

“eh, jiyong! Apa kabar?” tanya dara penuh keceriaan. “kau sakit? Kenapa wajahmu pucat begitu?”

Ji yong tersenyum, senyum manisnya yang paling dibanggakan. “aniyo.. aku baik saja! Lihat? Aku hanya bingung dengan tugas makalah itu!”

“yeah.. anak rajin selalu memikirkan tugas. Sedangkan aku??” yong bae menunjuk dirinya sendiri sambil menggeleng keras.

“ok ok. Aku tahu kalian sedang berbahagia. Now, I wont to disturbing u all!” ji yong berjalan keluar sambil melambaikan tangan dari arah belakang.

Ji yong membuka netbook-nya, hari ini ia bisa tenang karena sudah bisa merelakan dara—orang tersayangnya bersama yong bae, orang yang sangat tepat untuknya.

“ehm..” seseorang berdeham dengan kencangnya, membuat ji yong yang sedang menuangkan perhatiannya pada netbook accer itu harus melihat siapa orang iseng yang mengganggunya.

Ji yong mendengus kesal melihat lelaki kemarin yang sangat menyebalkan datang mengusiknya. Masih dengan magnum di tangannya.

“kenapa?” tanya ji yong malas.

“nothing!” jawab lelaki itu polos sambil melahap sisa es krim magnum-nya. “yahh.. abis!”

Ji yong tertawa kecil tanpa ketahuan. Harus ia akui, kalau seung hyun—lelaki di sebelahnya—itu mempunyai selera humor yang tinggi. Wajahnya yang polos saat melihat stik es-nya tak lagi dipenuhi dengan cokelat padat yang melapisi es yang enak.

“beli dong!” kata ji yong setelah mengtur emosi-nya.

Seung hyun menatap ji yong dari bawah tangan lelaki itu yang sedang mengetik. Ji yong yang kaget langsung memerah wajahnya.

“ehm.. kamu suka aku ya??” goda seung hyun setelah mengembalikan posisi kepalanya.

Ji yong dengan sengaja menginjak kaki seung hyun dengan sangat keras. Menyebabkan lelaki di sebelahnya meringis kesakitan. Setelah memberi smirk yang pas untuk seung hyun, ia menjinjing netbook-nya yang masih terbuka ke tempat lain, yang jauh dari lelaki menyebalkan yang polos itu. Tapi tetap saja seung hyun mengikutinya menuju tempat di dekat pohon besar lainnya.

“ngapain sih? Rajin banget!” kata seung hyun sambil menatap netbook ji yong.

“NGETIK!” jawab ji yong ketus.

“tugas?”

“IYA!!”

Seung hyun malah bercerita tentang masa kelas 1-nya yang menyedihkan. Ia memang anak yang pinter, dalam akademik maupun non-akademik. Akademik ia sangat pintar apapun yang berhubungan dengan matematika. Sedangkan non-akademik, ia jago olahraga terutama basket. Back to topic. Seung hyun menceritakan tentang tugas makalah IPA-nya yang belum ia kerjakan. Padahal tugas itu sudah diberikan seminggu sebelumnya. Akhirnya ia disuruh membersihkan genteng dari sampah-sampah buangan anak-anak.

“terus, kenapa nyambung-nyambung ke ngedance, sambil nge-rap?” tanya ji yong saat seung hyun berbicara tentang rap dan dance di dalam dongengnya.

“ya.. aku sebenernya nggak ngerjain pekerjaan itu. Malah ngedance sambil ngerap. Tapi ngedance-nya dikit aja. Nanti malah bolong lagi!” jawab seung hyun jujur.

Untuk kali ini ji yong merasa nyaman berada dekat dengannya. Ia bisa menceritakan segala sesuatu yang garing menjadi lebih hidup. Walaupun ceritanya agak kurang nyambung, tapi tetap saja ceritanya menarik.

***

“hai!!”

Dia lagi!! Teriak ji yong dalam hati. Ia sudah bosan tiap hari disuguhi pemandangan yang sama. Bukan yong bae dan dara yang bermesraan, tapi seung hyun, orang ternarsis yang pernah ia kenal.

“bisa nggak kamu diam dan tidak menggangguku??” tanya ji yong kesal. Itu adalah pertanyaan ke-berapa ratus kalinya setelah seminggu ini.

“umm.. tidak!” jawab seung hyun polos. “entah kenapa aku senang sekali mengganggumu!”

“ohh??”

Ji yong mempercepat langkahnya. Sedangkan seung hyun mengeluarkan dua lollipop kecil dari saku jas-nya. Satu ia berikan pada ji yong.

“kalau bad mood, enakan makan lolli! Dijamin langsung ilang bad-nya!!” kata seung hyun sambil terus menyodorkan lollipop-nya.

Ji yong berhenti mendadak. Lalu menatap seung hyun. Menatap lelaki pengganggu, stalker, dll. Baru pertama kali ji yong menatap mata seung hyun yang menghipnotis. Ia malah lupa apa yang mau dibicarakan.

“saking terpesonanya denganku sampai speechless gitu!!” goda seung hyun, membuat wajah lawan bicaranya memerah.

Ji yong kembali ke dunianya semula. Lalu mengatakan hal yang tadi ingin dikatakannya.

“eh, mau makan lolli sampe di pabriknya abis juga nggak bakal ilang bad moodnya! Apalagi kalo deket kamu.. ihh..” kata ji yong lalu membalikkan badannya.

“ehm.. hati-hati lho.. benci dan cinta—“

“CUKUP!!!” ji yong menutup mulut seung hyun dengan tangannya. “aku sudah bosan dengan pernyataan itu. So, close ur mouth and give that lolli!”

Seung hyun tersenyum menggoda sambil memberikan lollipop rasa stroberi asamnya pada ji yong. Setelah menerima, ji yong langsung berlari ke kelas meninggalkan seung hyun yang terus mengemut lolli-nya tanpa rasa.

“ck ck ck.. benar-benar anak yang menarik!” gumam seung hyun lalu berjalan ke kelasnya di lantai 2.

Istirahat..

“ji yong!!!” teriak seung hyun seperti anak kecil yang bertemu temannya di jalan.

Seung hyun menjadi pusat perhatian setelah berteriak tanpa kenal keadaan di kantin. Membuat cewek-cewek pengagum rahasia seung hyun menatap kejam ke arah ji yong yang sedang memesan somay di bang komeng.

“ya tuhan.. bisakah aku ditelan bumi agar tidak melihatnya lagi??” kata ji yong dalam hati.

“pak, nanti dulu deh! Duit saya ketinggalan!” kata ji yong pada bang komeng yang sedang mengambilkan somay untuk pesanan anak-anak.

Ji yong langsung berlari sambil merapatkan jaketnya dan menutup kepalanya dengan tudung jaket itu. Tapi nasib tetap mempertemukannya dengan seung hyun. Lelaki itu sudah berdiri dengan tegap di depannya. Akhirnya ia kembali menatap wajah lelaki itu yang lebih tinggi beberapa senti darinya. Orang-orang malah mempertontonkan kejadian itu. Akhirnya ji yong pergi dari situ.

“ahh.. benar-benar romantis!” komentar seorang perempuan.

“andaikan aku yang menjadi perhatian seung hyun oppa!!” sambung yang lain.

@ Saturday night

Malam minggu..

Malam yang paling ditunggu ji yong. Bukan karena ia ingin mengadakan kencan impian dengan seorang gadis pujaan. Tapi untuk terbebas dari seung hyun.

“yah.. persediaan camilanku habis!” gumam ji yong sambil menutup lemari camilannya yang kosong.

Ji yong langsung menyambar jaket, dompet dan topi untuk membeli camilan di minimarket dekat rumahnya. Tidak perlu menggunakan motor, jalan saja sudah cukup. Malah memberi keuntungan lebih jika jalan.

“what again??!” ji yong mengacak rambutnya ketika melihat seung hyun sedang asyik memilih es krim.

Untungnya ji yong yang pintar memilih berlama-lama di tempat snack. Sok-sokan memilih padahal yang ada di keranjang lebih dari cukup untuk seminggu. Setelah sosok seung hyun menghilang dari tempat es, ji yong langsung mengambil beberapa es.

“ehm..” ada yang menepuk pundak ji yong saat ia ingin membayar.

Ya tuhan.. apakah ini yang kau berikan padaku?! Kata ji yong dalam hati.

“banyak banget!” komentar seung hyun melihat ke belanjaan ji yong yang lebih baik dibilang memborong.

“iya! Kenapa?” tanya ji yong ketus, sambil menunggu giliran untuk membayar dan pergi dari situ.

“aneh aja!” jawab seung hyun. “badan sekecil kamu, makan sampe segitunya! Ck ck ck..”

“ini kan menguntungkan pihak swalayan!”

“ok.. ok..”

Sekarang giliran ji yong membayar. Seung hyun memberi kode kepada penjaga kasir itu. Penjaga kasir itu lalu membungkus semua belanjaan ji yong yang banyak dan langsung memberikannya pada lelaki itu.

“eh?” ji yong salah tingkah.

“nanti kujelaskan!” seung hyun langsung mengambil empat plastik besar belanjaan ji yong dan menarik lelaki kecil itu keluar.

Ji yong melepas paksa cengkraman elang seung hyun sesampainya mereka ke lapangan dekat minimarket itu. Lalu hendak mengambil kembali belanjaannya.

“cepat berikan!!” kata ji yong.

“kamu harus disini terus sampe aku cerita!” balas seung hyun, beralasan tepatnya.

“cerita apaan sih? Kamu kalo suka sama aku curhatnya ke yang lain aja deh!”

“jih? Siapa yang suka?!”

“terus, kenapa kamu ngejar-ngejar aku gitu sampe aku bingung? Sampe aku dibuat malu di kantin, jadi pusat perhatian, dan sekarang malah nyebar gosip yang nggak-nggak?!”

Seung hyun memonyongkan bibir sambil menggembungkan pipinya, ekspresinya saat mendengar semburan lava kemarahan dari orang. Ji yong benar-benar tidak tahan dengan ekspresinya, hampir saja ia mendekatkan bibirnya ke bibir lelaki itu kalau saja seung hyun tak mengembalikannya ke posisi semula.

“tuh kan, kamu tuh yang suka aku!” kata seung hyun dengan wajah santai, tidak menunjukkan ekspresi yang menggoda.

“si-siapa yang—“

“halah.. nggak usah muna gitu deh! Biasa juga cablak kalo urusan cinta!”

“eh, sejak kapan aku cablak?! Aku kan Cuma berani gitu sama yong bae!”

“dan yong bae adalah temanku.”

Speecless. Itu yang dirasakan ji yong. Ia menunduk untuk meredakan emosinya. Entah kenapa setiap bertemu dengan lelaki itu ia benar-benar kesal. Tapi itulah yang membuatnya rindu.

“eh, nangis ya? Maaf deh.. aku kan Cuma bercanda!” kata seung hyun sambil menaikkan kepala ji yong agar pandangannya tepat ke depannya.

Ji yong menepis tangan seung hyun. “tuh, sekarang siapa yang suka duluan? Aku, atau kamu?”

“kamu!”

“kok aku?”

“tuh, udah ketahuan! Setiap kamu liat aku, kayaknya kamu terpesona gitu!”

Ji yong menutup mulutnya. Mungkin sebentar lagi ia akan muntah dengan hebatnya seperti saat ia pertama kali naik pesawat. Hanya 1 jam perjalanan, ia hampir mati karena telah menghabiskan 5 kantong plastik untuk menampung muntahannya.

“ya ampun, magnum-ku!!!” seung hyun yang baru sadar kalau dari tadi menyimpan magnum di tangannya langsung membuka bungkusnya dan menahan kesedihan karena es krimnya meleleh.

“tanggung jawab juga ya buat 10 es krim-ku yang ada di dalam sana!” kata ji yong dingin.

“ok! Kau mau ambil semuanya juga tak apa.”

“kau yang bayar?”

Seung hyun menggeleng.

“lalu?”

“papi!”

“jangan libatkan orang tua di dalam urusan pribadi!”

“tapi aku anak yang manja. So, aku masih bergantung pada orang tua!” seung hyun menghela nafas panjang. “ok. Maksudnya, minimarket itu punya papi. Tepatnya punya keluarga choi! Papi jadi direktur utamanya sekarang. So, that’s how u and I can buy it free!”

Ji yong menelan ludah tak percaya. Sedangkan seung hyun tersenyum manis—senyum yang tidak biasa.

“eh?!” seung hyun melambaikan tangannya ke depan wajah cowok manis itu.

“eh? Kenapa?” ji yong kembali salting. Membuat seung hyun dengan senang hati menggodanya.

“ehm.. wajahnya—“

“DIAM!!!!”

***

Seung hyun terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara keras dari luar rumah megahnya. Bunyi segala alat musik yang sering ia dengar ketika berada di jakarta, tempatnya menghabiskan waktu selama 3 tahun.

“hyunnie, bangun sayang!” kata mami-nya lembut.

Seung hyun membuka matanya perlahan. Lalu mengucek-nguceknya dan mengerjep-ngerjapkannya untuk menyesuaikan pandangannya pada sinar yang lebih kuat tenaganya. Setelah ia bangun dari posisinya dan melihat mami papi-nya menggunakan jas rapi, ia kembali tidur.

“kenapa sih mi?” tanya seung hyun sambil menelungkupkan wajahnya di bantal besar bergambar doraemon-nya. “aku nggak mau ikut ke kondangan! Mami sama papi aja ya.. hyunnie nyusul deh kalo dapet somay!”

“bangun dong, kalo mau tahu!” jawab maminya sambil mengelus wajahnya.

“mami, ini kan hari minggu!” keluh seung hyun manja sambil memonyongkan bibirnya dan menggembungkan pipinya. *sumpah!! Gue pengen banget liat dia begitu.. hyunnie gue tercinta !!!!!! *

“terus?” suara berat papi-nya ikut nimbrung, membuatnya langsung 100% bangun.

“kan harusnya aku tidur dengan amat sangat panjang melebihi mayat yang udah ditarik roh-nya ke surga!”

“ok.. ok.. sekarang, kamu siap-siap ya!” maminya menarik seung hyun untuk turun dari tempat tidur.

“kenapa sih, mi? aku masih ngantuk!! Kemaren aku udah capek latian pidato buat tampil di depan presiden!”

“udah.. anak papi cakep kok! Ayo langsung dandan!”

Seung hyun hanya menuruti perintah kedua orang tuanya. Ia di tarik ke meja rias tempat biasa ibunya dandan. Semua perias dari salon terbaik di kerahkan untuk merias wajah tampan seung hyun agar tambah tampan untuk moment ini.

“mami kenapa sih?!” seung hyun emosi, wajahnya yang sedang diberi lipstik untuk menghilangkan warna pucat bibirnya langsung mencorengkan wajahnya.

“ya ampun, anak mami yang manis dan imut ini, kenapa jadi cemong gini?! Kamu sih nggak bisa diem. Untung anak mami Cuma satu!” kata mami sambil mengelap bekas lipstik yang tersebar ke pipi kanan seung hyun.

“emang kalo anaknya dua kenapa?” tanya seung hyun polos.

“jadi mami nggak perlu bunuh diri buat ngajarin anak-anak mami! Udah ah, perias tolong lanjutkan!!”

Seung hyun diam. Tidak bisa berkutik lagi kalau sudah dengan mami papi-nya. Semuanya akan ia lakukan demi kedua orang tuanya yang telah membesarkannya menjadi seorang laki-laki tampan yang menjadi pujaan wanita. Memang benar ia adalah anak yang manja. Tiap hari kangen mami, kangen papi, telponan terus, kalo mami nggak nelpon pasti dia marah-marah sambil nangis, atau nggak dikasih duit sama papi pasti dia bakal ngeborong magnum sampe stok abis. Pokoknya benar-benar manja deh!

“mi, kok ada bunyi tanjidor segala? Pake petasan lagi!” tanya seung hyun tanpa mengacuhkan riasan wajahnya.

“nanti kamu juga tahu!” jawab papi-nya, padahal jelas-jelas yang ditanya mami.

“tapi hyunnie kan udah di sunat. Masa sunat lagi? Mau sampe abis? Nanti di orok ke kampung naik sisingaan? Ihh.. kalo begini aku nggak mau berbakti lagi deh!” kata seung hyun kesal.

“bilangnya nggak mau berbakti. Tapi nanti akhirnya nangis-nangis sambil bilang ‘aku kangen mami’ atau ‘aku kangen papi’!” goda maminya.

Setelah memakai pakaian adat ala campuran sunda-korea, diiringi dengan pasukan pembawa tanjidor dan orang sekampung, keluarga berangkat ke tempat seseorang.

“rumah bengkong kok bagus?” tanya seung hyun.

“siapa bilang mau ke rumah bengkong?” tanya papinya balik, padahal ia kesal dengan pertanyaan bodoh itu.

“nggak ada!” jawab seung hyun. “TAPI AKU MAU DIAPAIN???”

“nanti kamu juga tahu!” mami-nya ikut nimbrung.

“mami..” seung hyun hampir menangis putus asa. “aku capek! Nggak mau disunat untuk kedua kalinya. Nanti kalo abis gimana? Aku—“

Mami seung hyun kehabisan kesabaran. Akhirnya ia rela mengorbankan putranya untuk disumpal dengan kain bekas ngelap meja.

“selamat datang..” sambut sebuah keluarga—terdiri dari satu anak perempuan, satu orang wanita, dan satu orang pria.

“bagaimana? Ji yong mau?” tanya papi to the point.

Dreeennnggg…… *backsound

Maksudnya???????????

TBC

Oh ye,, follow me @lailaisvip mention and I’ll foll u back #promo