Tag Archives: kim jae joong

“dangerous friendship” part 5

junsu menatapku dan kemudian… dia tertawa dengan kerasnya sampai aku harus menutup telingaku sampai tak mendengar lagi.

“haha.. itu bukan mimpi basah namanya!!” kata junsu.

“memang bukan!” jawabku salah tingkah. “tapi.. cairan menakutkan itu keluar!!”

“tunggu..” junsu seperti menerawang pada diriku. “suaramu sepertinya jadi lebih berat!”

Ehem… aku mencoba berdehem. Ternyata memang lebih berat! Kenapa aku baru sadar ya?

“haha.. kau sudah dewasa!” kata junsu. “tinggimu juga!”

“aku minum susu kemarin, makannya tinggi!”

Aku diam. Mencoba mengerti keadaan ini. Aku sudah mengalaminya! Tapi kenapa dengannya? Kenapa tak dengan perempuan lain?

“hyung—“ ups.. aku memanggilnya hyung!

“kenapa?”

“mulai sekarang aku akan memanggilmu hyung!” kataku.

“up to you!”

“aku mau tanya..” kataku lirih. Sepertinya sebentar lagi air mataku tumpah. “apakah.. perempuan.. yang.. ada di mimpi.. itu.. akan.. jadi.. pendamping kita nanti?”

“umm..” junsu menerawang ke langit biru. “tidak juga! Jodoh ada di tangan tuhan!”

Ffiiuuhh.. syukurlah! Aku tak akan jadi suami jae hyung! Lagian siapa juga yang mau dengan laki-laki seperti dia! *me : gue mau kok!! (bwa jeje lari ke KUA)*

“memang kenapa?” tanya junsu lagi.

“nothing!”

“oh ya, dari tadi kau bertanya! Sekarang aku mau bertanya!”

“apa?”

“kenapa kau bisa pintar?”

It’s a stupid question!

“tak ada lagi yang bisa kau tanyakan?” tanyaku.

“just kidding boy!” katanya sambil menepuk pundakku. “sebenarnya kau asli mana sih?”

“can you stop this stupid question??”

“lagian, bahasa inggrismu tak bisa diragukan!”

“just that?”

“yeah..”

Obrolan kita hanya sampai segitu. Kita tak meneruskan lagi. Seandainya tak ada junsu aku pasti bakal menangis.

“kenapa kau kesini?” tanya junsu memulai pembicaraan lagi.

“menenangkan diri!” jawabku singkat.

“kau ada masalah?”

“begitulah!”

“ceritakan!”

“tidak!”

“kenapa?”

“kau tak berhak tahu!”

“kenapa?”

“can you stop saying ‘why’ to me?”

“sorry~”

Aku tak mau menceritakan ini! This my problem! Jadi aku tak mau kalau semua orang tahu.

“kau sudah masuk geng shinki?” tanyaku.

“begitulah! Kenapa?” tanyanya lagi.

“umm.. nothing.”

“kau takut ya posisimu sebagai magnae diganti?”

“kata siapa? Masih banyak orang yang berumur lebih muda dariku!”

“kau mulai bisa mengalah!”

What??? Kenapa dia bisa tahu kalau aku adalah anak yang susah mengalah? Dan kenapa aku bisa saja mengalah seperti ini?

“kenapa? Kau kaget?” tanya junsu.

“kenapa kau bisa masuk shinki dengan cepat?” tanyaku tanpa mengacuhkan pertanyaannya.

“yah.. begitulah!”

“kenapa?”

“kau benar-benar ingin tahu?”

“tidak juga!”

“kenapa kau bertanya?”

“hanya ingin tahu!”

“kenapa—“

“BERHENTI BERTANYA ‘KENAPA’!!!” teriakku.

“ok.. ok.. sorry”

“aku mau masuk!”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“hello min!” sapa yunho hyung saat aku ke markas shinki.

“hai!” jawabku lesu.

“kok lesu?” tanya yunho hyung sambil memeluk pundakku.

“ani. Gwaenchana.” Jawabku mencoba tersenyum.

“umm.. junsu mana?”

“aku tak bersamanya!”

“jae joong juga mana ya dia?”

Please hyung! Stop to say that name!! I hate it!

“aku telpon dia dulu ya! Kau telpon yoochun dan junsu, ok?”

Heu.. dasar hyung pelit!! Masa uangnya hanya diberikan pada jae hyung!!

“hyung, aku pulang ya! Aku tak enak badan!” kataku. Benar! Aku tak enak badan!

“eh, telpon junsu dan yoochun dulu!” kata yunho hyung.

“shit!”

“changmin!!!”

“ne..”

Setelah aku menelpon dua orang itu, aku langsung keluar. Aku memang sudah izin ke yunho hyung. Untungnya dia mengizinkan. Aku menyetir mobil ini dengan kecepatan tinggi sambil memikirkan orang yang dibawa omma dan appa. Sampai di pagar rumah, mood-ku untuk mencari tahu hilang. Aku kembali melajukan mobil ke pantai tempatku biasa menghilangkan stress. I want to scream! Aku mau berteriak! Suara rock-ku hilang!! Suara indahku hilang! Otokke? Ottokke? Tapi pantai ini tak cocok untuk berteriak. Yang ada aku yang jadi sasaran amuk orang-orang. Setelah pikiran burukku hanyut terbawa ombak –walaupun tak semuanya—aku kembali pulang ke rumah. Aku pulang dengan pikiran yang sedikit kosong! Orang-orang penghipnotis pasti gampang menghipnotisku.

TOK.. TOK..

Aku mengetuk pintu rumah yang terbuat dari jati ini. Betapa terkejutnya aku ternyata yang membuka adalah seorang lelaki manis yang tak ku kenal.

“siapa kau?” tanyaku sinis.

“aku adikmu!” jawabnya polos.

What? Adikku? I don’t have and don’t wanna have it!

“I’m your brother, hyung.” Dia mengucapkan kata-kata bahasa inggris dengan lancar.

“I don’t have brother, you know?! Ini bukan dunia mimpi, bodoh!”

Dia diam. Menunduk. Sepertinya menunggu beberapa detik lagi dia akan menangis. Memangnya kata-kataku terlalu kasar? Aku hanya bilang yang sejujurnya kok!

“ya! Uljjima.. uljjima!!” kataku setelah melihat anak ini menangis. “ya! Uljjima!!”

“hiks.. hiks..” isaknya sambil menyandarkan dirinya di tubuhku.

“ya!! Hishh~” anak siapa sih ini?? Kenapa dia langsung merangkulku! Aku kan tak bisa masuk! Mana dia hanya sepahaku. “hei!! Biarkan aku masuk dulu!!”

“hiks.. hiks..” dia masih menangis.

AAARRGGGHHH…

“ya! Aku mau masuk!!” kataku menahan emosi.

“hyung—“

Aku langsung mendorongnya paksa dari diriku. Aku mencengkram bahunya. Dia masih menangis.

“dengar! Aku bukan hyung-mu! Aku shim changmin, anak tunggal keluarga shim! Kau pasti salah orang! Kau pasti punya hyung yang mukanya seperti aku!” jelasku pada anak ini.

“aniyo, hyung! Changmin hyung, kau hyungku! Aku adikmu, shim sungmin!!” katanya sambil terisak.

“aku bukan hyung-mu, anak manis! Panggil aku oppa! Kau perempuan kan?”

“namja hyung! Aku namja!”

“shit!” kataku kesal sambil memukul pintu jati ini. “ne, dongsaeng!!” kataku akhirnya. “ayo masuk! Hyung lelah!”

Aku menuntunnya masuk ke rumah. Dia masih menangis! Kenapa anak ini sangat cengeng? Benar-benar!

“changmin-ah, kau sudah kenal adikmu?” ternyata appa disini.

“appa tak kerja?” tanyaku.

“appa kesini untuk liburan!” jawab appa. “sungmin-ah, kau sudah kenal hyung-mu kan?”

“ne, appa!” jawab sungmin sambil menyeka sisa air matanya.

Appa membelai rambut sungmin. Lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.

“manis kan teman bermainmu?” tanya appa.

“I have some friends now!” jawabku. “I don’t need him!” kataku sambil berjalan meninggalkan appa.

“apa kau tak dapat pendidikan moral selama 11 tahun ini?”

Aku langsung membalikkan badanku. Aku belum jauh dari tempatnya berdiri.

“kemana saja kau 11 tahun ini meninggalkanku? Pendidikan moral di dapatkan dari orangtua, bukan? Kenapa kau meninggalkanku tanpa alasan yang jelas? Kau hanya bilang kau harus pergi mencari adikku.”

“lupakan masa lalu!”

“I cant do it! Sorry!” aku kembali membalikkan badanku. Aku menaiki tangga ke kamarku. Sepertinya ada yang mengikutiku. Ah.. biarkan saja! Anggap saja dia bayanganku!

“changmin hyung..” panggil seseorang. Yah.. siapa lagi kalau bukan sungmin? Pengganggu!

“wae?” aku membalikkan badanku. Aku ada di anak tangga paling akhir sekarang. “waeyo, sungmin-ah?”

“hyung, hyung—“

“waeyo, sungmin-ah? Aku tak punya banyak waktu!!”

“hyung, kau tak suka denganku ya?”

“IYA!” aku menjawabnya dengan ketus dan langsung naik ke lantai di atas anak tangga terakhir (?) aku langsung masuk ke kamarku dan membanting pintunya sampai menghasilkan suara yang sangat besar.

AAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHH………

Entah kenapa aku ingin berteriak kencang sekarang. Aku ingin suaraku kembali! Suara ini membuatku makin menakutkan! AAAAAAAAAARRRRGGGHHHH… aku kembali berteriak. Kencang? Pastinya! Sampai-sampai orang-orang di rumah mengerubungi pintu kamarku. Appa langsung mendobrak pintu kamarku.

“waeyo, changmin-ah? Kau kenapa?” tanya omma khawatir. Wajah inilah yang kutunggu dari dulu! Tapi tak sekarang!

“iya den, kenapa?” tanya ajumma dan pembantuku yang lain.

“hyung kenapa?” sekarang sungmin yang bertanya dengan wajah polosnya. Aku muak melihat wajah polosnya!

“gwaenchana.” Jawabku. “aku ingin mengembalikan suara itu!”

“SUARA APA?” tanya semuanya.

“oh.. arasso!” kata omma. Omma mendekatiku. Dia membelai rambutku sambil menjinjit. Apakah aku setinggi itu? “kau sudah dewasa nak!” kata omma. “duduklah! Susah melihatmu kalau kau berdiri!”

Aku lalu duduk di kasurku. Omma tidak ikut duduk. Dia berdiri di depanku. Sungmin melihatku dengan tatapan polosnya. Aku yang baru sadar kalau aku sedang bertatap mata dengannya langsung membuang muka darinya. Bisa kupastikan dia pasti sedih karna aku tak menanggapinya.

Semua orang yang ada di kamarku sedikit demi sedikit kembali ke rutinitas masing-masing. Hanya ada omma dan sungmin yang masih disini.

“sungmin, sini nak!” kata omma.

Sungmin langsung mendekat. Omma duduk di samping kananku sekarang. Sungmin hanya berdiri menunduk di depanku. Dia beberapa kali melirik ke arahku.

“apa?” kataku dingin.

“a.. aniyo..” sungmin menjawab dengan nada ketakutan.

“sini sungmin-ah!” sungmin duduk di pangkuan omma. Aku hanya menatapnya dengan tatapan iri. Iri?! Yah.. mungkin itu lah. Haha.. karna aku tak merasakannya lagi!

“kau baru mendapatkannya?” tanya omma.

“ya, begitulah!” jawabku.

“kau sudah mengerti sekarang?”

“ya..” sebenarnya aku pernah bertanya pada omma dan appa tentang mimpi basah. Aku bertanya itu setelah membaca buku IPA appa yang tergeletak di meja kerjanya. Aku melihat ada tulisan ‘mimpi basah’ kalau ada anak laki-laki yang sudah beranjak remaja. Aku dulu paling takut dengan yang namanya keremajaan karena yah.. aku takut aku bisa menghamili orang. Haha..

“kau dulu pernah menangis waktu kau mengompol. Kau mengira itu adalah mimpi basah. Dan kau berjanji kau tidak akan mengompol lagi sampai—“

“cukup omma!!” kataku setengah terkikik. “sudah omma! jangan ceritakan! Aku malu!!” aku menatap sungmin yang tertawa sambil menunduk. Dia lalu menatapku.

“apa? Apa yang kau tertawakan?” tanyaku dingin.

“changmin-ah, jangan begitu pada adikmu!” kata omma sambil mengelus kepala sungmin. “sungmin-ah, angkat kepalamu!” sungmin mengangkat kepalanya. Sebenarnya dia—kuakui—sangat manis. Dia seperti anak perempuan! Bibirnya merah ceri. Pokoknya imut! Tapi entah kenapa aku selalu bersikap dingin padanya. Padahal wajah polosnya sudah bisa meluluhkan hatiku.

“omma, benar.. dia adikku?” tanyaku.

“siapa lagi dia kalau bukan adikmu!” jawab omma.

Aku menatap sungmin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perawakannya hampir sama denganku waktu kecil. Mungkin! Kau terus menatapnya sampai sungmin membenamkan mukanya di pelukan omma karna takut dengan wajahku.

“wae?” tanyaku pada anak kecil itu.

sungmin menatapku polos dibalik pelukan omma. dan dia..

TBC *kabur…!!!*

Advertisements

“dangerous friendship” part 3

“sure!!”

Kita langsung berlari ke tempat dance floor kosong itu. Sebelum sampai sana ada segerombolan anak perempuan SMA sampai duluan. Tapi sepertinya popularitasku membantu. Dia mempersilahkanku duluan. Aku memasukkan 2 koin. Koin pertama punyaku dan punya junsu yang kedua. Kita memilih-milih lagu yang bagus.

“itu saja! Tadi lagu tohoshinki rising sun!!” kata junsu.

“tidak!! Aku mau yang lain!!” tolakku.

“mirotic??”

“sepertinya bagus! Ok!” putusku akhirnya. Aku memilih lagu mirotic dari TVXQ. Lagunya benar-benar bagus untuk dance.

“.. I got you under my skin..” junsu menyanyikan lagunya sambil menari. Aku tidak membayangkan dia bisa melakukan itu!

“.. I got you under my skin.” Lagunya berhenti! Berapakah nilainya??

“A!” mesin itu mengatakan ‘A’! berarti masih lanjut! Lumayan daripada dibunuh yunho hyung!

“kau lelah?” tanya junsu.

“ani! Ayo lanjut lagi!!” kataku.

Junsu sekarang yang memilih-milih lagu. Dia menunjukkan lagu klasik.

“jangan! Itu terakhir saja! Gerakannya rumit! Menguras tenaga!” kataku.

Dia memilih lagi. Sekarang lagu we are. Soundtrack anime one piece yang kusuka! Yang nyanyi tohoshinki!

“ini saja!!” kataku.

Dia menurutinya! Sepertinya dia tahu seleraku! Kita dance terus sampai babak ke-7! Katanya belum ada yang pernah sampai segitu! Berarti kita orang pertama?

“junsu-ah, capek!!” kataku.

“tanggung!! Sudah yang ke-7! Pakai lagu se7en?”

“yang mana?”

“yang.. umm.. itu.. better together!”

“lumayan! Okay!!”

Di babak ini kita sengaja kalah. Yah.. sangat pegal kaki ini. Sudah tak kuat bergerak lagi! Orang-orang bertepuk tangan atas keberhasilan kita. Bahkan ada yang berkomentar,

“bagus sekali mereka! Andaikan mereka mau jadi guru dance-ku!”

“tak hanya tampangnya! Kemampuan mereka juga tak bisa diragukan!”

“siapa sih yang ada di sebelah changmin oppa? Dia lucu! Mukanya seperti bayi! Dance-nya juga bagus!”

“mereka benar-benar.. aku tak bisa berkomentar lagi! Andaikan aku produser aku pasti langsung mengontrak-nya!”

Tapi ada juga yang iri.

“dance apaan itu? Merusak lagu!”

“dance kok seperti ayam ketakutan! Ga kreatif!”

“lebih bagus juga dance-ku!”

Selesai itu, aku langsung duduk. Mengistirahatkan saraf-sarafku (?) setelah nge-dance tadi. Sumpah! Sangat melelahkan.

“ternyata kau hebat juga!” kata junsu.

“kau baru sadar?” tanyaku yang masih ngos-ngosan.

“hehe.. ku kira badan setinggi itu tak bisa! Hehe..”

PLETAK!

Aku menjitaknya.

“enak saja! Kau kira tinggi 180 tak bisa apa-apa?”

“kau.. kau 180? Tak diragukan!”

Aku tersenyum bangga.

“maksudku, tak diragukan lagi ketidaknormalanmu! Kau tak normal!!”

PLETAK!

Kali ini jitakannya lebih keras dari yang tadi. Aku yakin dia sangat kesakitan karna dia memegangi kepalanya.

“main lagi?” tawarnya.

“main apa?” tanyaku kesal.

“itu!” dia menunjuk permainan balap mobil.

“mwo?! Ok!”

Lumayan lah permainan ini ada tempat duduknya. Jadi bisa sekalian beristirahat. Aku memasukkan satu koin, junsu juga. Kita lalu bermain double player.

“hayo!! Mau apa kau??” tanyaku pada junsu yang mobilnya berada di depanku. Aku menabrak mobilnya. Dan dia berteriak. Tapi teriakannya tak biasa. Seperti teriakan ketakutan. Aku menghentikan mobilku.

“kenapa?” tanyaku khawatir.

“aniyo, gwaenchana.” Junsu mengeluarkan senyum terpaksa –yang menurutku—senyuman ketakutan.

Aku melanjutkan lagi. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi. Sampai mobilku menabrak-nabrak pembatas jalan.

“changmin-ah, itu mobilmu sepertinya akan rusak sebentar lagi! Dan.. meledak.” Junsu mengatakan itu dengan nada misterius. Aku juga bingung bagaimana menjelaskannya. Dan pas kata ‘meledak’ dia bersuara lebih kecil.

Akhirnya permainan ku hentikan. Aku langsung berjalan meninggalkan tempat itu.

“changmin-ah, jamkaman!” kata junsu sambil mengejarku di belakang. “mau kemana?”

Aku menunjuk KFC. Aku tak bicara karna aku benar-benar lapar!

Dia memegang tanganku. “aku ikut!!”

Aku hanya berjalan. Dia masih memegangi tanganku sampai aku memesan makanannya.

“sampai kapan kau mau menggandeng tanganku?” tanyaku dingin. Entah kenapa aku jadi bersikap dingin dengannya.

“i.. iya..” junsu langsung melepaskan tanganku. “a.. aku.. cari tempat!”

Aku hanya mengangguk. Sekarang giliranku memesan.

“aku pesan dua ayam jumbo pedas, 4 nasi, tiga kentang, dan minumnya milo dua!” pesanku. Aku menatap seluruh ruangan. Junsu duduk di meja nomor 15 di dekat jendela. “tolong antar ke meja 15!” kataku.

“ne..”

“gamsahamnida..”

Aku langsung mendatangi junsu yang ada di meja nomor 15. dia menatap kosong keluar jendela. Mungkin tinggal menghitung detik dia akan menangis. Dan.. benar saja! Dia menangis!

“junsu-ah,” panggilku hati-hati.

Dia menengok ke arahku sambil mengelap air matanya. Lalu tersenyum. Aku lalu duduk di depannya. Dia duduk di meja yang untuk 2 orang. Aku duduk di depannya.

“kau kenapa?” tanyaku akhirnya.

“tak apa.” Jawabnya singkat.

“makanannya..” pelayan mengantarkan makanan pesananku.

“gamsahamnida.” Aku langsung mengambil dua nasi dan satu ayam jumbo. Aku langsung memakannya dengan napsu. Mungkin kelihatannya seperti orang yang tidak makan 3 hari. Tapi dance floor tadi sangat melelahkan! Setelah makan, aku dan junsu langsung balik ke markas. Kebetulan sudah jam 7.

“I’m back!” kataku setelah sampai di markas.

Markas itu sepi, gelap, dan tentunya berantakan. Tumben saja jae hyung tak membersihkan. Apa karna tak ada aku? Aku lalu menyusuri ruangan-ruangan yang ada. Oh ya. Di markas ini ada 5 ruangan yang bisa disebut kamar. Kamar ini biasa dipakai kalau kita sedang menginap. Yah.. ini lebih besar dari kamar kost.

Pertama, aku ke kamar yoochun hyung. Seperti biasa dia asyik dengan mimpinya alias tidur. Di kamar kedua, kamar jae hyung. Tidak ada siapa-siapa. Tapi kamarnya selalu rapi. Kamar ketiga kamarku. Pastinya tak ada siapa-siapa. Kamar sebelahnya kamar yunho hyung. Tidak terkunci. Aku membukanya. Dan.. kembali melihat adegan yang tak pantas dipandang mata.

“lagi-lagi..” keluhku dan junsu. Kita mengucapkannya bersama! Lagi?!

“mi.. mian.” Lagi-lagi samaan!! Apa benar kita jodoh?!

“bukan aku ya!” lagi-lagi???!!!

“ah sudahlah!!” aku yang akhirnya menghentikan ketidaksengajaan ini.

Aku kembali melihat ke arah yunho dan jae hyung yang sedang bercumbu. Tapi sekarang, mereka memelototiku dan junsu.

“jangan sampai dua anak kecil ini melihat kejadiannya!” kata yunho hyung.

“ani.. hyung. Aku tidak melihat!” jawabku. Aku memang tidak melihatnya. Hanya pas bagian kissmark saja yang kulihat.

“uh.. jadi kalau kita mau melakukannya mendingan di hotel saja! Yang lebih mewah!!” kata jae hyung.

“iya juga!” timpal yunho hyung.

“hei!” ada yang menepuk pundakku. Reflek aku langsung berteriak.

“teriakanmu seperti rocker!” kata yoochun hyung.

“mungkin dia marok! Mantan rocker!” kata yunho hyung.

“stop!!! Bilang saja kalian iri dengan suaraku karna suara kalian jauh lebih buruk daripada aku!!” kataku.

“kau hebat!” kata yoochun hyung. “kau bisa juga pulang jam segini!”

Aku diam. Kesal menatap yoochun hyung.

“sudah! Jangan marah! Smile!” hibur yoochun hyung sambil menepuk pundakku.

Aku tersenyum. Semua juga tersenyum. Jae hyung juga. Dia menatap ke arahku dengan tatapan yang tidak biasa.

“manis juga!” celetuk jae hyung.

“apa katamu, chagi?” tanya yunho hyung, cemburu.

“umm.. changmin manis!” jawab jae hyung sambil terus tersenyum padaku. Aku menatapnya aneh.

“hyung semua, aku mau pulang!” kataku. “annyeong..”

“aku juga ah. Ada PR!” kata jae hyung.

“PR? Tumben kau memikirkannya!” kata yunho hyung penasaran.

“i.. iyalah. Aku kan tak mau kalah dengan anak itu!” dia menunjukku. Tumbenan dia tak mau kalah denganku! Biasanya dia cuek!

“tapi hyung, tak ada PR untuk besok! Lain kali saja kau pulangnya!” kataku sambil tertawa. Lalu aku lari keluar.

***

Sampai di rumah, aku langsung membiarkan badanku jatuh ke sofa empuk di ruang tamu. Aku memejamkan mataku. Sungguh melelahkan hari ini!

“nak changmin,” panggil ajumma. “lelahkah?”

“ajumma, aku mau tidur! Tolong jangan ganggu!” kataku dengan suara yang lebih sopan.

“kenapa tak di kamar?”

“aku malas naik!”

“ya sudah. Tidurlah..” ajumma membelai kepalaku. Belaian lembut yang tak kurasakan dari omma.

***

“changmin-ah,” kata seseorang tepat di telingaku. Samar-samar aku mendengar suara ini. “changmin-ah,” katanya lagi. Makin jelas suara ini. Suara lembut yang sangat aku kenal. “changmin-ah,” kali ini aku bangun mendengar suaranya. Dan aku membuka mataku perlahan. Makin lebar dan makin jelas aku menatapnya. Wajah cantik dengan mata kecil dan hidung kecil. Aku mencoba mengingatnya. Dan aku memekik.

“jae hyung! Apa.. apa.. apa yang kau lakukan?” tanyaku kaget.

“lihat tubuhmu!” katanya.

“heh?”

“lihat tubuhmu!”

Aku membuka selimutku. Benar-benar tak bisa dipercaya! Bukannya tadi aku tidur di sofa ruang tamu? Kenapa sekarang aku ada di kasur? Di kamarku? Dan yang lebih tak bisa dipercaya, aku TELANJANG!! BUFF!!

“a.. apa yang kau lakukan padaku?” tanyaku. Rasanya aku ingin menangis. “apa.. apa yang.. kau perbuat? Bagaimana kalau.. ketahuan.. oleh.. yun—“ dia langsung menciumku ganas. Dia menindih tubuhku. Sakit! Apakah ini yang dirasakan jae hyung atau yunho hyung? Dia terus menciumku. Lidahnya mendorong-dorong mulutku untuk membukakan pintunya (?). Aku tetap bertahan dengan mulut tertutup walaupun aku kesulitan bernapas. Tangan jae hyung menyelinap di selimutku. Dia meremas juniorku dan..

“AUU..” pekikku pelan. Jae hyung memanfaatkan kesempatan ini. Lidahnya bergerak-gerak bebas di dalam mulutku. Lidahnya menelusuri setiap ruang di mulutku. Dia mencari-cari lidahku. Oh.. lidahku ketemu! Lidahku dan dia bertarung menentukan pemenangnya!

“Aggghh..” dia menggigit bibir bawahku. Bisa kupastikan bibirku berdarah karna jae hyung menjilatinya.

Hosh.. hosh.. hosh..

Kita berdua sama-sama kehabisan nafas. Aku merubah posisi jadi duduk sambil menutupi tubuh telanjangku ini dengan selimut.

“buka!” kata jae hyung dengan tatapan killer. “BUKA!!”

“n.. ne..” aku terpaksa menurutinya. Aku membuka selimutku perlahan. Perlahan hanya terlihat dadaku. Jae hyung menatapku napsu. Dia lalu melingkarkan tangannya ke leherku sedangkan lidahnya terus menjilatiku. Please jae hyung.. stop it!! Pasti besok aku langsung dibunuh yunho hyung! Oh tuhan.. dia terus menjilati dadaku. Mungkin untuk membuatku terangsang.

“delicious!” kata jae hyung. Dia tersenyum napsu padaku. Oh tuhan.. “kenapa tak terangsang?”

“aku tak mempan dengan laki-laki!” alasanku.

Setelah puas menjilati dadaku, jae hyung berdiri dan membuka bajunya. Oh hyung.. jangan bilang kau mau melakukan adegan yang biasa kau lakukan dengan yunho hyung padaku!!

“buka selimut itu!” perintahnya.

“ani!” bantahku.

“buka!!”

TBC

“dangerous friendship” part 2

“mwo??” semua menganga mendengar pernyataan yoochun.

“aku serius! Mungkin aku tertarik dengan wajah bayi-nya!” yoochun hyung mengedipkan mata ke junsu. Junsu membalasnya dengan tatapan takut.

“sapa dia dong, min!” goda jae hyung.

“jadi, apa yang harus kulakukan disini?” tanyaku kesal.

“hanya ingin mengenalkannya padamu. Haha..” jawab yoochun hyung seraya tertawa.

Dasar!!

“ok, aku pulang!” kataku akhirnya sambil bersiap-siap keluar.

“changmin-ah, kalau kau pulang, jangan harap kau bisa masuk geng shinki lagi!” kata yunho hyung yang merupakan leader geng.

“kita tak akan menerima uang sogokanmu!” tambah jae hyung.

“yak, jae-ah! Kita harus terima uang itu kalau dia memberi!” kata yunho hyung.

Yunho hyung memang mata duitan! Sebenarnya duitnya juga tak terhitung. Diantara kami yang dompetnya paling tebal adalah dia. Yah.. karna dia anak presiden perusahaan jung fam dan dia juga pemilik sekolah dong bang jadi tak heran. Tapi, pelitnya bukan main! Setiap kita hang out siapa lagi yang membayar kalau bukan kita semua? Heu..

“ok ok. Aku tak jadi pulang!” kataku.

“sekarang, kau ajak dia main!” kata yoochun hyung sambil menunjuk junsu.

“mwo??!!” pekikku dan junsu bersamaan.

“oow. Bukan aku yang memfoto-kopi!” kataku.

“n.. ne..” kata junsu. Sepertinya dia tersipu. Mwo? Tersipu? Haha.. kenapa aku sebenarnya??

Tiba-tiba, 3 teman-temanku bertepuk tangan ria.

“sepertinya mereka cocok!” kata yunho hyung.

“mungkinkah dia akan seperti kita?” tanya jae hyung sambil bermanja-manja di dada yunho hyung.

“tak mungkin lah! Orang yang paling romantis kan aku!” jawab yunho hyung.

“hello!! Stop!! Ada dua anak kecil disini!!” kata yoochun hyung geram.

Dua anak kecil?! Mungkinkah aku? Kenapa aku selalu dibilang anak kecil? Apa mungkin karna umurku masih 14 tahun aku tak boleh duduk di bangku SMA kelas 3? Siapa satu lagi? Yunho, jae joong dan yoochun hyung umurnya 17 tahun! Mungkinkah.. junsu?

“memang berapa umurnya hyung?” tanyaku sambil menunjuk junsu.

“tanya sendiri dong!!” jawab yunho, jae joong dan yoochun hyung serempak.

Yoochun hyung berdiri dan mendekatiku. Dia menepuk pundakku keras. Lalu mendorongku ke pintu bersama junsu.

“apa-apaan kau?” tanyaku marah.

“ajak junsu pergi! Pergilah!” kata yunho hyung.

“untuk apa?” tanyaku.

“bawa atau belikan aku komik one piece sampai penulisnya lelah?” ancam yoochun hyung.

Dari kemarin komik one piece terus!! Mendingan untukku!

“mending aku bawa dia pergi! Sayang komik one piece-nya! Kau kan bisa beli sendiri!” kataku sambil keluar.

Aku menutup pintu itu keras. Aku sudah berada di luar markas sekarang. Sekedar info. Markas geng shinki itu tempatnya tidak seperti yang dibayangkan. Bukan tempat yang ber-AC, bersih, besar, pokoknya mewah! Tempatnya cukup besar untuk 4 orang karna kita hanya bermain disitu. Tidak ada AC, kalau kepanasan cukup pakai kipas angin. Tempat ini tak pernah bersih karna kita laki-laki. Mungkin jae hyung yang membersihkan kalau di tempat itu tak ada orang selain dia –dan mungkin aku— tempatnya tidak seperti rumah kami.

Karna aku harus mengajak junsu keluar –daripada komikku yang jadi korban—aku mengajaknya berputar kota dengan mobil sport kesayangan ini.

“umm.. junsu-ah,” panggilku canggung. Aku tidak menatapnya. Aku berpura-pura fokus ke jalan.

“ne?” junsu membalasku dengan canggung pula. Benar-benar dingin suasananya!

Hanya itu obrolan kita. Tak ada yang lain. Aku juga bukan orang yang pintar omong. Mungkinkah aku harus belajar menggombal seperti yunho hyung dan yoochun hyung?

“changmin-ah,” sekarang dia memanggilku! Aku membalasnya tanpa menengok ke arahnya. Aku takut konsentrasiku buyar karna melihatnya.

“ne?” balasku.

“kita.. mau kemana?”

“umm.. sekedar memutar saja!” deg—benar-benar deg-degan! “memangnya kau mau kemana?”

“aku.. juga.. tak punya tujuan!”

“oh ya. Aku punya tempat yang menurutku sangat bagus! Kau mau lihat?”

“dimana?” dia kelihatan antusias.

Aku menatapnya sambil tersenyum. Aku tak menghentikan mobilku. “ra-ha-sia”

“hahaha..” junsu tertawa. Deg—detak jantungku terasa berhenti! Aku baru pertama kali merasakan perasaan ini! “awas changmin-ah!!!” dia terlihat panik.

Aku langsung kembali fokus ke depan. Pantas saja dia berteriak panik. Ada truk di depanku. Aku langsung membanting stir ke kiri. Ffiuh.. aku selamat!

“kau takut?” tanyaku pada junsu yang masih shock dengan kejadian ini. “mian..”

“gwaenchana.” Katanya dengan senyum. “ayo lanjut!”

Aku gemetar. Tanganku dingin. Tak bisa lepas dari stir. Tak bisa menggerakannya ke kanan. Keringat dingin mengucur deras. Sepertinya junsu juga begitu.

“diamlah dulu disini kalau kau masih gemetar!” katanya.

“oh, ne.” kataku gugup. “mianhe.”

“sudahlah ini juga salahku membuatmu panik!”

“tidak, ini salahku!”

“kalau aku tidak berteriak kan kau tidak akan langsung banting stir!”

“tapi kalau kau tak berteriak, mobil sport kesayanganku ini bisa ringsek! Dan aku bisa membunuh diriku dan dirimu!”

Sunyi~ tak ada lagi pembicaraan. Aku sudah mulai tenang dan langsung melajukan mobil ini dengan kecepatan biasa. Setelah sampai aku langsung memarkirkan mobil di dekat pohon.

“kau suka tempat ini?” tanyaku.

Dia menatap tempat ini sambil menikmati anginnya. “ya.. tempat ini sangat bagus! Pantas kau suka!”

“kau juga kan?”

“iya!”

kita berdua berada di pantai tempatku biasa menghilngkan stress. Kalau aku sedang kesal dengan orang, aku pasti datang kesini. Aku biasa kesini sore menjelang terbenamnya matahari. Tapi untuk sekarang, siang aku kesini. Panas juga!

“umm.. junsu-ah, kau haus? Lapar?” tanyaku.

“sedikit!”

“mau makan? Itu ada café!”

“umm.. tidak usah!”

“kenapa?”

“aku belum terlalu lapar!”

“ayolah.. aku mau kesana!! Aku lapar!!” kataku manja. Manja?!?

“yasudah kau sendiri saja!”

“ok. Kutinggal ya!!”

“eh.. andwe!!”

Aku tersenyum. Aku lalu masuk ke dalam mobil sport-ku. Aku kembali menyetir ke café hard soft. Di kafe, aku memesan cappucino float. Aku tak lapar. Hanya haus. Junsu hanya memesan minuman dingin biasa.

“kenapa tak pesan yang lain?” tanyaku sambil menyeruput cappucino float-ku.

“umm.. aku lebih suka es jeruk daripada cappucino! Hehe..” jawabnya sambil tersenyum.

Oh my.. nice smile! Oh no no no.. I’m not gay! Kalau aku suka dia berarti aku harus menanggung malu!! Ooohhh…

“changmin-ah, wae?” tanya junsu sambil melambai-lambaikan tangan ke depan mataku.

“eh.. uh.. gwaenchana..” jawabku. “jun—“

“kokoro ni one smile..” HP-ku berbunyi. Telpon dari yunho hyung.

“junsu-ah, aku keluar dulu ya! Biasa!!”

Junsu hanya mengangguk tanpa menatapku. Aku langsung keluar. Aku memesan tempat di dekat pintu. Jadi aku bisa keluar dengan cepat.

“yoboseyo?” sapaku.

“bagaimana harimu? Seru?” ternyata suara yoochun hyung.

“lumayan! Dia tak menggangguku!” jawabku seadanya.

“kau suka dengannya?” sekarang jae hyung.

“belum..” jawabku singkat.

“jangan pulang sampai malam!!” sekarang yunho hyung yang membuatku bingung.

“mwo??!”

“kalau tidak, kau kubunuh!”

“ne.. ne..”

Bip—

Telponnya diputus paksa. Heu.. kenapa yunho hyung menyuruhku melakukan ini? Dia itu biro jodoh atau mau mendekatkan aku dan dia sebagai teman sih? Apa dia calon anggota shinki baru? Aku kembali masuk ke café. Junsu sudah menunggu. Sepertinya dia bosan.

“mian lama..” kataku sambil tersenyum. Aku duduk di kursiku.

“yunho hyung bilang apa?” tanyanya.

“dia Cuma bilang, aku tak boleh pulang sampai malam!”

“kenapa?”

“yah.. aku tak tahu. Dia memang aneh! Kalau aku pulang dia akan membunuhku!”

“memang dia bisa?”

“pasti!” aku berhenti sejenak untuk menyeruput cappucinoku. “dia bisa melakukan apapun dengan bebas! Tak ada yang bisa melawannya! Dia hanya takut pada orangtuanya!”

“berarti dia masih normal!”

BBUUURR..

Aku menyemburkan air yang ada di mulutku. Air coklat itu mengenai baju dan muka junsu! Oh my god!! What should I do?? *english ngasal ni* lagian dia juga bilang yunho hyung normal! Dimana-mana orang seperti dia itu tak normal!

“mi.. mianhe. Jongmal mianhe…” aku membersihkan bajunya yang berwarna putih dengan tisu. Tadinya kena wajahnya juga. Tapi dia sudah mengelapnya.

“gwaenchana!” katanya tenang. “kau juga tak ada gunanya membersihkan bajuku! Noda ini sudah menempel!” katanya yang membuat rasa sesalku bertambah.

“mianhe..”

“gwaenchana. Sudah kubilang!!”

Aku tak berani menatapnya sekarang. Bisa kupastikan dia sedang tersenyum-senyum tak jelas ke arahku. Aku benar-benar malu! Aku lalu kembali mengambil gelas berisi cappucino float-ku.

“sudahlah. Kau tak salah! Kau pasti kaget dengan ucapanku!”

Aku mendongakkan kepalaku lagi. “memang apa maksudmu bilang yunho hyung masih normal? Memangnya dia masih cinta wanita?”

“bukan hanya itu! Kalau ada anak takut pada orangtuanya, dia juga pasti akan dibilang normal! Kau juga masuk dalam normal!”

“ya iyalah! Ngapain juga omma dan appa-ku melahirkan anak tak normal! yang ada mereka membuangku duluan!” aku kembali menyeruput cappucino floatku sampai habis.

“kau mau lagi?” tawarnya.

Aku menatapnya dengan keadaan sedotan yang masih menempel di mulutku. “what?”

“eh.. hehe.. lagian kau napsu sih minum cappucino float-nya!”

“hehehe..” aku nyengir jahil padanya. “temani aku ke mall itu yuk!!” aku menunjuk mall di depan café.

“mau apa?”

“main dance floor!”

“memang bisa?”

Oh my.. dia meragukanku? “kalau aku tak bisa aku tak mungkin mengajakmu!! Harusnya aku yang tanya bukan kau!!”

“hehe.. aku meragukanmu karna badanmu terlalu tinggi. Aku tak membayangkan bagaimana dance-mu!”

“hei, harusnya aku yang bilang itu!!”

“ayo!! Mau ngapain lagi disini?”

Aku langsung keluar café. Aku mengambil mobilku yang terparkir di depan café. Lalu melajukan mobil ke mall dekat situ. Aku memarkirkan mobilku dekat tempat keluar agar gampang kalau pulang. kita berdua lalu turun dan berjalan ke lift dekat situ. Lama juga menunggu lift ini turun dari lantai atas.

TING..

Akhirnya lift ini berhenti di lantai dasar. Aku ingin langsung masuk. Tapi biar bagaimanapun yang lebih di utamakan yang keluar. Lagian, lift ini juga akan menunggu. Yang masuk ke kapsul besar itu hanya aku dan junsu. Entah kenapa aku gugup.

“wae? Kau takut adu dance floor denganku??” tanya junsu yang membuyarkan lamunanku.

“siapa takut? Memangnya aku pecundang!” jawabku. Aku memang tidak suka dengan orang yang meragukanku.

TING..

Lift berhenti di lantai satu. Ada 3 orang yang naik. Aku akan berhenti di lantai 3. tempat permainan dance floor.

Lantai 2 dilewat. Dan sampailah di lantai 3. aku keluar. Aku yang sudah hapal tempat ini langsung berjalan santai ke tempat permainan itu.

“wwwoo.. itu changmin oppa kan?” anak-anak SMP yang sedang bermain dance floor.

“iya!! Oh.. oppa!! Tampan sekali kau!” kata anak-anak itu.

Mwo? Oppa? Mereka saja yang tak sadar kalau umur mereka itu sama denganku! Aku kembali berjalan. Aku membeli koin untuk bermain. Anak-anak SMP itu menatapku penuh cinta. Atau hanya kagum dengan ketampananku ya?

“koin 10!” kataku singkat pada mbak-mbak penjual koin. Dia memberiku koin itu. Banyak sekali! Atau hanya perasaanku?

“bonus 5 untuk kau, changmin!” kata penjual koin itu sambil tersenyum padaku.

“ne, gamsahamnida..” kataku. Aku mengambil koin ini dan berjalan mencari tempat dance floor yang masih kosong. Heu.. ternyata tak ada!!

“hei, bagi koinnya donk!!” kata junsu.

“koinnya ada 15. kau mau bagi gimana?” tanyaku.

“aku 8, kau 7!”

“hei! Tak adil!!”

“kau kan yang muda! Yang muda yang dikit!”

“itu namanya tak adil!!”

“ya sudah, kita undi saja!!”

“undi gimana?”

“kita main basket!! Nanti kalau menang dapat koinnya!”

Aku menepuk pundak junsu. Keras. “SMART!!” kataku. “kita main basket saja dulu! Kan jadi 7-7 tuh!!”

“ok..”

Aku adu basket dengannya. Kita berlomba siapa yang bisa memasukkan bola paling banyak dalam 1 menit!

Hosh.. hosh.. hosh..

“kau lelah?” tanya junsu padaku.

“sedikit! Ini pemanasan sebelum dance!” jawabku.

“itu ada yang kosong!” tunjukku.

“ok. Are you ready??”

“sure!!”

TBC

“stand by u” part 1-5 (end)

PART 1

“jae, mianhe..” kata-kata yunho membuat air mata jae joong mengalir deras. Sederas hujan yang sekarang mengguyur bumi ini. Tubuh dua orang itu basah kuyup. Tapi mereka tetap di tempat.
“ini juga bukan mauku. Aku.. Aku akan kembali 5 tahun lagi!” kata yunho lagi yang membuat air mata lelaki manis (g brani bilang cantik! Haha) disebelahnya bertambah deras.
“aku janji, aku akan kembali kesini 5 tahun lagi. Aku akan menyuruhmu menjemputku di bandara, aku akan berdiri terus sampai kau datang!” janji yunho. Air matanya sekarang sudah tak bisa ia bendung. Ia biarkan air matanya bercampur dengan air hujan.
“apa kau rela, meninggalkanku?” tanya jae joong yang masih setengah terisak.
“tidak! Aku ingin membawamu. Tapi, apa daya? Aku harus sendirian kesana! Aku janji–”
“jangan ucapkan janji yang tidak bisa kau tepati! Kau jahat! Aku tak butuh orang sejahat kau! Aku– aku tak butuh kau lagi!” jaejoong langsung meninggalkan yunho sendirian di bangku taman itu. Hujan semakin deras. Bersamaan dengan air mata kedua orang itu yang semakin deras mengingat kejadian tadi.

5 tahun kemudian..

*jae joong POV*
5 tahun sudah yunho meninggalkanku. Dia tak memberi kabar. Dan aku tak mau mendengar kabarnya lagi karena itu sama saja aku menyakikiti diriku sendiri. Sehari sebelum kepergiannya, dia menyatakan perasaannya padaku. Ternyata dia.. Heu.. Aku tak suka dia! Sudah cukup hatiku disakiti olehnya!
5 tahun lalu, yunho pergi ke perancis untuk menyelesaikan proyek, dan studinya. Dia diberi proyek besar oleh ayahnya. Dia harus melaksanakan itu demi perusahaan ayahnya. Aku bisa memaklumi kalau itu proyek hotel, kerjasama ini itu dll. Tapi ini ?? Dia harus berjodoh dg putri seorang direktur perancis yg kaya, punya anak perempuan super cantik. Perusahaan ayahnya perlu dana untuk membangun lagi perusahaan.
Dddrrtt drrtt..
Hp ku bergetar. Ada sms masuk. Sms dari nomor yunho! Aku membukanya. Melihat tulisan yg ditulis dg bhasa inggris yang memberitahukan keberadaan yunho. Benarkah itu? Tuhan..

TBC

PART 2

*still jae POV*
tuhan.. Benarkah ini? Benarkah seperti itu kejadiannya? Benarkah yunho mengalaminya? Dan sekarang ada di tempat itu?
Aku tak bisa membendung air mataku lagi. Aku menangis lagi! Setelah 5 tahun aku menahan air mata ini.
Aku langsung berlari ke tempat itu. Tempat yang ditunjukan oleh orang yang mengaku tunangan yunho. Orang yang aku benci karena telah merebut yunho dariku.
“bagaimana.. Keadaannya?” tanyaku ngos-ngosan karena telah berlari dari rumah ke rumah sakit.
“dia kritis!” jawab perempuan itu. “kau siapanya? Kenapa speed dial pertama kau?”
bagaimana aku menjawabnya? Haruskah aku bilang kalau aku adalah orang yang dicintai seorang lelaki tampan pujaan wanita, jung yun ho?
“jawab aku! Kenapa dia selalu memencet nomor 1? Dan dia selalu marah, atau menangis setelah itu. Apa yang kau lakukan padanya?”
aku terdiam. Tak mungkin aku menjawabnya. Tak mungkin aku menjawabnya yun! Bagaimana yun? Bangunlah dan tolong aku!
“siapa keluarga terdekat tuan jung?” tanya dokter itu setelah keluar ruangan UGD.
“saya tunangan!” perempuan itu menjawabnya.
“apakah anda nona kim–” dokter itu menatapku.
“saya laki-laki!” jawabku sabar. “saya kim jae joong. Te.. Temannya.”
“anda.. Masuklah!” dokter itu menyilakanku masuk ke ruangan tempat yunho dirawat. Aku mendengar perempuan itu memaksa dokter untuk masuk. Tapi dokter itu tak mengijinkan. Akhirnya perempuan itu menyumpahiku –tapi aku tak yakin juga– dengan kata-kata yang tak aku tahu. Mungkin bahasa prancis.
Aku duduk di sebelah tempat tidur yunho. Kulihat lelaki itu tertidur dengan wajah yang menunjukan keletihan. Sebanyak apa beban yang kau dapatkan disana, yun? Apa kau marah padaku karena aku tak menjawab telponmu, smsmu, dan apapun yang kau kirimkan padaku? Apa itu salah satu beban hidupmu?
Sebenarnya perasaanku padanya tetap sama. Aku tetap mencintainya. Walau dulu aku bilang aku tidak butuh orang sepertinya, tapi dalam hati, aku sangat membutuhkannya.
“yun, apa kabar?” tanyaku pada yunho yang tertidur. “kau merindukanku?” tidak ada jawaban dari yunho. Tentu saja! Mana ada orang yang sedang tertidur pulas di kasur rumah sakit menjawab? Yang ada sebentar lagi aku digiring ke rumah sakit jiwa terdekat.
Seseorang menepuk pundakku. Aku menengok ke samping. Dokter yang tadi memeriksa yunho!
“ne, euisa?” tanyaku.
“gegar otaknya.. Lumayan parah! Mungkin hanya bisa bertahan sampai 3 bulan. Walaupun.. Dia tidak membuka matanya.” beritahu dokter itu.
Deg–
Jantungku serasa berhenti berdetak. Rasanya dunia ini berputar. Mungkin sebentar lagi aku akan pingsan.
“apa.. Tidak ada cara lain?” tanyaku. Air mataku mulai jatuh. Aku tidak siap menghadapinya! Siapa aku tanpa yunho? Dengan siapa aku tanpanya? Apa kata orang tentang aku nanti? Kim jae joong, anak pelacur dan pencuri? Selama ini hanya yunho yang dekat denganku. Yunho percaya denganku! Hanya dia yang percaya kalau aku tidak seperti orangtuaku!
“tidak ada orang yang bisa menentukan siapa orangtuanya, pekerjaan orangtuanya, dan latar belakang keluarganya. Aku percaya kalu kau tak seperti itu! Kau anak yang baik. Kau anak yang polos, pintar, walaupun tak ada yang tahu! Buktikanlah, joongieku yang manis!” kata yunho saat kita baru pertama bertemu. Saat ayahku tertangkap basah mencuri perhiasan di mall milik keluarga yunho.
“maaf tuan jae joong,” kata dokter itu. “aku..” dokter itu menatapku sedih. Dia mencengkram kedua bahuku sambil menundukkan kepalanya. Beberapa menit kemudian dia mendongakkan kepala dan mengatakan..

TOBECONT…. *kabur..!!

PART 3

(opening song : Stand by U – thsk)

“maaf tuan jae joong,” dokter itu menatapku sedih. “aku..” Dia mencengkram kedua bahuku sambil menundukkan kepala. Beberapa menit kemudian dokter itu mendongakkan kepala dan mengatakan..
“aku.. Akan berusaha sebaik mungkin bersama dokter lain. Kami akan mencari jalan keluar untuk menyelamatkan tuan jung!” kata dokter itu lalu melepaskan cengkramannya. “teruslah berdoa!”
“tunggu!” cegahku. “kenapa.. Kau menyuruhku masuk? Bukan tunangannya?” tanyaku.
“mungkin kau tidak percaya. Tapi ini benar!” kata dokter itu. “saat dia dibawa kesini, dia terus memanggil nama ‘kim jae joong’. Setelah dia mengucapkan nama itu tiga kali, dia langsung tidur. Dan sampai sekarang ini!” dokter itu tersenyum. Senyum penyembunyian kalau dia bersedih. “permisi!” dokter itu membungkuk dan keluar ruangan ini.
Sekarang, tinggal aku dan yunho. Yunho tetap pada posisinya.
“yun? Kau lapar? Mau kubuatkan makanan? Aku yakin kau tidak suka makanan disana! Lidahmu kan lokal. Hanya bisa menerima masakan orang tertentu.” aku mengajaknya bicara lagi. “yun, kau mau tahu apa yang aku lakukan saat kau pergi?” tanyaku. “aku hanya diam. Aku menangis. Malahan, aku tidak makan beberapa hari. Apakah aku tambah kurus, yun?”
Aku menatap wajah pucatnya dibalik balutan perban yang menutupi lukanya.
“yun, kenapa kau bisa seperti ini?” tanyaku. “aku masih tidak percaya kalau ini adalah kau. Aku juga tak percaya kalau kau mengalaminya! Kenapa kau bisa sangat ceroboh? Aku kan sudah bilang utamakan keselamatan!” tanpa sadar aku marah-marah padanya. Aku menangis di tempat tidurnya.
“yun, aku pulang ya!” kataku. “ternyata sudah malam! Padahal aku kesini tadi jam 10!” aku menatap wajahnya. Wajah yang sangat ku cintai. Aku tersenyum padanya. Walaupun dia tak melihatku. “annyeong!” aku menyeret kakiku keluar ruangan. Pandanganku terus tertuju padanya. Aku takut yunho kenapa-napa. Tuhan, jagalah malaikatku! Jangan kau ambil dia! Aku masih mencintainya.

Besoknya..
KRING.. KRING.. KRING..
Aku tersentak bangun ketika mendengar teriakan jam wekerku. Jam ini mengingatkanku pada yunho! Dia yang memberikan ini padaku karena dulu aku tidak punya jam. Haha.. Memalukan! Ngomong-ngomong, aku lupa kalau yunho sedang menungguku! Aku langsung mengambil handuk dan mandi cepat. Setelah itu aku ke halte naik bus ke rumah sakit itu.
“annyeong yun!” sapaku sesampainya aku disana. “joongie-mu yang manis ini datang!”
aku lalu memeluknya. Tapi tidak seerat biasanya. “yun, aku merindukanmu! Aku ingin merasakan pelukan hangatmu lagi! Boleh?” tidak ada jawaban dari yunho.
Klek..
Ada yang membuka pintu. Aku langsung berbalik badan dan melihat seorang lelaki dengan baju serba putih dan stetoskopnya. Tunggu! Ada dua lelaki lagi yang memakai pakaian layaknya bos perusahaan.
“kau..” pekik salah satu lelaki yang memakai jas hitam berdasi belang (?) sambil menunjukku.
Benarkah itu..?

TBC *babay.. Aye kabur dulu !!

PART 4

“kau..” pekik salah satu lelaki berjas hitam dengan dasi belang (?) sambil menunjukku.
Benarkah itu..? Benarkah itu.. Ayahnya yunho? Tuhan.. Aku tidak bermimpi kan?
“umm.. Aku permisi dulu..” kataku sambil membungkukan badan.
Dokter itu dan 2 orang tadi –termasuk ayah yunho– mendekat ke tempat tidur yunho. Dengan gemetar aku segera meninggalkan ruangan itu.
“tunggu!” kata ayah yunho. “kau kim jae joong kan? Anak pencuri perhiasan yang masih mendekam di penjara?”
Aku tersentak. Aku tidak membalikkan badan karena aku tak mau kalau ayah yunho melihatku dengan senyuman liciknya.
“kau..” ayah yunho mendekatiku. Dia memutar arah badanku. “apa yang mau kau lakukan lagi? Kau mau mencuri lagi dengan bantuan anakku?”
Pandanganku kabur. Mataku berkaca-kaca. Dan dalam hitungan detik air mata itu tumpah di pipiku.
“kau memakai cara yang salah nak! Yunho belum menjadi bos di perusahaan ini!” ayah yunho tersenyum licik. Dia mendongakkan daguku dengan kedua tangannya. Kita bertatapan! Seperti aku bertatapan dengan yunho. Bedanya, cahaya mata yunho bercahaya seperti malaikat. Dan orang ini, matanya tidak memancarkan cahaya apapun.
“kau dendam karena kejadian 7 tahun lalu itu?” tanyaku geram. “kau ingin aku mengembalikannya?” lanjutku. “apa yang harus ku kembalikan?” aku menghela nafas. “uang ratusan juta untuk mengganti modalmu? Berlian yang dulu ayahku curi?? Ok. Aku akan berusaha!” aku menepis tangan ayah yunho yang tadi menopang daguku. “walau aku tahu, aku tidak bisa mengembalikan. Dan kau akan tersenyum puas, mengajak orang-orang minum soju, karaokean, senang-senang?” aku menatapnya lebih dekat lagi. “dan otakmu, tak lebih baik dari orang-orang yang mencari belas kasihan di pinggir jalan!”
Ayah yunho kembali tersenyum dingin. “beraninya kau–”
“aku mengatakan itu pada orang yang tepat. Jadi untuk apa aku takut?” kataku.
“keluar!” kata ayah yunho. “KELUAR!! DAN JANGAN KEMBALI LAGI!!”
“Ok. Aku keluar! Ingatlah, aku, sudah menjadi bagian dari yunho. Aku dan dia tak bisa dipisahkan begitu saja! Jadi, aku akan terus kesini!”
“kau akan terima masalah lebih besar lagi kalau kau tak menurutiku!” kata ayah yunho.
“ingatkan aku tentang itu! Aku tidak takut padamu! Aku tidak bersalah apapun!” aku langsung keluar ruangan itu. Diluar, seorang perempuan, tunangan yunho berdiri berkacak dada di depan pintu.
“apa lagi?” tanyaku. “kata-kata keji apa lagi yang mau kau lontarkan padaku?”
“boleh aku bicara padamu? Sebentar saja! Aku mau membicarakan tentang yunho!”
“ya sudah cepat! Aku sibuk!”
“di belakang saja! Aku tidak suka berbicara di tempat seperti ini!”
aku dan tunangan yunho lalu berjalan menuju belakang. Di belakang ada taman yang indah sekali. Aku selalu memimpikan mempunyai rumah bertaman seperti ini. Sampai di taman, kita duduk di bangku panjang di dekat lampu hias (?)
“kau.. Kim jae joong?” tanyanya.
“iya. Kau?” tanyaku balik.
Dia tersenyum. Senyumnya manis! Tapi, aku tidak menyukainya. “aku.. Victoria! Orang yang paling bodoh sedunia!” katanya.
“kenapa?”
Dia menatapku malu. “aku dijodohkan dengan orang yang sudah mempunyai orang yang dia cinta. Aku terus mencoba untuk menghalangi cinta itu! Tapi, apa daya? Kekuatan cinta sama seperti kekuatan magnet! Susah dipisahkan kalau tidak punya cukup tenaga! Dia akan terus menempel walaupun dari jarak jauh sekalipun!”
Aku tertegun mendengarnya. Ternyata yunho masih peduli denganku. Masih cinta denganku. Hanya saja, aku yang tidak menyadarinya!
“tapi kebodohanmu tak sebanding dengan kebodohanku. Aku yang lebih bodoh!” kataku. Victoria mengerutkan kening. “aku tidak bisa merasakan cintanya. Aku tidak pernah sadar akan ketulusannya. Aku hanya menganggapnya seorang yang hanya singgah di hatiku sementara! Benar-benar bodoh!” kataku sambil memukul kepalaku sendiri.
“maaf, aku mencintainya.” kata victoria. “aku akan menebus kesalahanku!” katanya. Victoria mengeluarkan sebuah kotak sedang berwarna merah dari tasnya. Warna kesukaanku. Apa maksudnya?
“sebentar..” kataku. “kotak yang kau bawa itu..”

TBC *yah.. Saya ngetik di hp jadi terbatas. Ga jadi end deh *cabut..!

PART 5

“tunggu!” kataku. “kotak itu..”

Victoria mengerutkan kening. Dia lalu tersenyum. “ini kotak dari seorang yang bernama joongie.” Victoria memberikan kotak itu padaku. “ambillah!”

“untuk apa?”

“aku kembalikan ini!”

“ma-maksudmu?”

“aku ingin yunho melupakanmu! Kita sudah ada ikatan. Dan sebentar lagi, kita akan menikah. Sebenarnya tujuan kita pulang kesini adalah menikah. Tapi, kecelakaan itu membuat rencana ini gagal!”

Aku terdiam beberapa saat. Aku meremas kotak merah itu sambil menahan amarah.

“apa ini yunho yang minta?” tanyaku sambil menunduk. “apa dia yang memintanya?”

“umm..” victoria mengubah posisi kakinya. Yang tadinya kaki kiri diatas dengkul kanannya sekarang kaki kanan di atas dengkul kirinya. “tidak!”

Begitu mudahnya dia mengatakan itu? Tuhan.. inikah ujian yang kau berikan kepadaku di saat aku sedang mencintai seseorang?

“aku tahu ini tak mudah!” kata victoria. “tapi, aku terlanjur mencintainya! Aku mau dia melupakanmu, agar dia setia padaku.”

Sunyi~

Aku diam. Begitu juga victoria. Dia lalu berdiri di depanku. Aku langsung menatapnya.

“kim jae joong, dengar! Aku, victoria! Aku adalah orang yang belum pernah merasakan perasaan seperti ini! Jadi, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya!” kata victoria sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dia lalu menyentuh bibir cherry-ku. Lalu menjauhkannya lagi. “pasti bibirmu ini sudah pernah merasakan bibir yunho!”

Victoria lalu mendekatkan kepalanya ke kepalaku. “berikan itu untukku!” victoria makin mendekatkan kepalanya. Bibirnya sedikit dimajukan untuk menyentuh bibirku.

“joongie, jangan berikan itu pada orang lain!” kata yunho saat dia pertama kali mencium bibirku. Tepatnya saat aku berumur 12 tahun di tepi danau. “kalau kau berikan, aku akan meninggalkanmu!”

“ANDWAE!!!” aku langsung mendorong victoria. Victoria terjatuh ke belakang. “tidak ada yang boleh mencurinya! Tidak satupun!!” kataku lalu berdiri mendepaninya. “kau, jangan berharap, yunho akan melakukannya padamu!”

Victoria menatapku kesal. Dia lalu berdiri sambil menyeka celananya yang tidak kotor sama sekali. Dia tersenyum sinis padaku.

“apakah ini tipe yang disukai yunho? Rendah sekali!” ejek victoria.

Mwo? Dia bilang seleranya rendah? Aku hampir saja melemparkan bogem mentah di mukanya kalau saja dia laki-laki.

“ya! Apa maksudmu bilang seleranya rendah? Apa karena aku dari kalangan bawah jadi kau menganggapku rendah?” tanyaku emosi. “apakah karena aku anak dari orang tua yang tak benar jadi kau menganggapku tidak punya otak? Tidak berpendidikan? Tidak patut dihormati?” tanyaku lagi.

Victoria diam. Dia menatapku dengan senyum sinisnya tadi. Sepertinya dia memandangku serendah itu.

“iya! Kau dari kalangan rendah. Ayahmu pencuri, ibumu pelacur.” Victoria mendekatiku. “ternyata enak jadi diriku!”

“apa yang mau kau lakukan? Kau memanggilku untuk membanggakan dirimu sendiri? Karena kau anak tunggal keluarga penerus perusahaan minyak yang punya segudang uang, kebahagiaan?” sindirku. Mata Victoria berkaca-kaca. Ku yakin sebentar lagi dia menangis. “apa kau mau menangis? Menangislah! Dan kau mengadukannya pada ayahmu yang punya kekuasaan itu untuk memanggil polisi dan memasukkanku ke penjara yang sama dengan ayahku? Silakan! Aku tidak akan menolak! Ayo.. menangislah!!” sindirku lagi. Sekarang dia benar-benar menangis. “ya! Hapuslah air mata buayamu itu!”

Victoria lalu menghapus air matanya dan membelakangiku. Terlihat tangannya masih mengusap-usap wajahnya yang penuh air mata buaya itu. Aku benar-benar puas menyindirnya seperti itu! Itulah kata-kata yang kusimpan selama 5 tahun ini karena tidak ada yunho! Dan aku juga tidak mau berkomunikasi dengannya karena itu akan membuatku semakin rindu padanya.

“jangan pernah mengunjungi yunho lagi! Biar dia jadi kenangan untukmu. Dan kenanglah cinta kalian yang kandas di tengah jalan karena aku, victoria!” kata victoria.

Dia mengaku juga kalau dialah penghalang cintaku dan yunho! Tapi kalau aku disuruh meninggalkan yunho, tidak boleh mengunjungi yunho, aku tidak akan bisa!

“kenapa diam? Bukannya kau memang ingin cari mati denganku? Yunho-mu itu takkan balik padamu!” kata victoria. “dia milikku sekarang!”

Deg—

“kenapa? Kau kaget? Heh- jangan harap kau bisa merebutnya lagi! Aku akan menikah dengannya!” kata victoria.

“bagaimana kalau keajaiban itu tak datang?” tanyaku. “bagaimana kalau yunho benar-benar tak bangun lagi seperti yang dikatakan dokter?”

“aku tahu itu! Tapi ini bukti kita!” kata victoria sambil menunjukkan cincinnya yang menempel di jari manisnya. Apakah yunho memakainya juga? Seingatku dia hanya hanya mau memakai barang-barang yang kuberikan. Dulu aku pernah membelikannya cincin—walaupun hanya cincin biasa—dan dia sangat senang sekali. Dia memakainya di sekolah dan terus memamerkannya pada orang-orang terdekatnya.

“dari siapa itu, yun?” tanya yeon lee saat itu.

“ini dari adikku, joongie! Bagus kan?” tanya yunho bangga waktu itu. Dia merangkulku sambil mencium rambutku.

“i.. iya bagus!” jawab yeon lee terpaksa.

Saat itu yeon lee memang pecinta beratnya yunho. Tapi entah kenapa yunho selalu mementingkan aku. Sampai waktu itu ada orang yang mencoba meracuniku karena aku dekat dengan yunho.

“kenapa diam? Kau mau bukti? Ini” victoria melepas cincinnya dan menunjukkan cincin mewah itu ke depan mataku.

*author POV*

Jae joong menatap cincin berukirkan dua malaikat itu dengan takjub. Ia terus memperhatikan itu sambil mengingat lelaki yang tengah menghadapi kematian di ruang ICU.

“kau iri kan?” tanya victoria memanas-manasi.

“baiklah..” jae joong menghembuskan nafas panjang. “aku serahkan padamu demi kebahagiannya. Aku akan melakukan apapun untuknya. Termasuk melepaskannya. Aku mencintainya, jadi aku tidak akan menghalangi kebahagiaannya!”

Victoria tersenyum penuh kemenangan melihat lelaki di depannya ini mulai berkaca-kaca matanya. Ia yakin kalau jae joong bakal menangis sebentar lagi. Tapi ternyata, dugaannya salah. Jae joong langsung pergi meninggalkan tempat itu sambil menggenggam kotak merah itu.

Jae joong terus berjalan tanpa peduli suara victoria yang terus memanggilnya dan membahas cincin berukir dua malaikat yang sedang berbahagia itu. Sepanjang jalan ia hanya menundukkan kepala sambil menatap kosong ke kotak merah itu. Kotak yang pernah ia berikan pada yunho saat ulang tahun yunho yang ke-15.

“yun, kemanakah kau yang dulu?” tanya jae joong dalam hati sambil terus berjalan menembus hujan. “kemanakah yunho yang selalu melindungi jae joong-nya, menahan jae joong-nya menembus badai, menenangkan jae joong-nya yang sedang menangis?”

Jae joong terus berjalan sambil menembus hujan yang semakin deras seperti air matanya. Ia berhenti di sebuah tempat yang membuat ingatannya tentang yunho bangkit.

“joongie, lihatlah!” kata yunho sambil menunjuk ombak yang menggulung-gulung seperti alat pembuat rambut keriting itu.

“nothing special?” jawab jae joong.

“bukan gitu, sayang!!” yunho memeluk jae joong erat. “kalau kau punya masalah, datang saja kesini. Ombak-ombak itu akan meringankan penderitaanmu!”

“mak—“

“ombak-ombak itu akan membantumu membawa pergi masalah-masalah yang ada di kepalamu. Jadi, dia special kan?”

Jae joong menganggukkan kepalanya. Ia lalu bersandar di dada yunho untuk mendengarkan detak jantung lelaki itu.

Sekarang, hanya ada jae joong di pantai itu. Tidak ada lagi yang mengunjungi laut itu di hujan yang lebat itu. Ombak-ombak yang biasanya tenang itu sekarang menjadi seperti monster laut yang akan memakan siapa aja yang ada di dekatnya.

“YUN, KAU DENGAR? AKU MERINDUKANMU! DENGAR?” teriak jae joong. “YUN, KAU TAHU, BETAPA HANCURNYA HATI INI SAAT TUNANGANMU ITU BILANG KAU DAN DIA AKAN MENIKAH!”

Jae joong memandang ombak besar yang menggulung-gulung, seakan mengacuhkan pembicaraan jae joong dengan bayangan yunho.

“yun,” nada suara jae joong ditekan hingga sangat kecil kedengarannya. “kenapa kau tega melakukan ini? Kenapa kau tidak bangun dan menolongku tadi? Kenapa kau tidak bangun dan memelukku di sini? Kenapa—kenapa kau tidak menghapus air mata ini? KENAPA?!!”

Jae joong jatuh berlutut. Tidak kuasa menahan tangisnya. Ia melempar kotak merah yang tadi di berikan victoria dan melemparnya ke tengah laut. Lalu ia kembali berjalan pulang dengan langkah lunglai.

Hujan masih turun membasahi bumi yang sudah cukup basah karenanya. Jae joong berjalan dengan tangan memeluk badan. Mencoba menghangatkan tubuhnya yang dingin. Ia terus berjalan tanpa melihat kanan kiri. Beberapa kali ia harus menerima klaksonan keras dari mobil-mobil mewah di jalanan itu. Di perempatan jalan, ketika hendak menyebrang, kesialan mendatanginya. Sebuah truk dengan kecepatan tinggi berjalan ke arah jae joong. Orang-orang yang menonton adegan itu menutup matanya dan beberapa detik kemudian mereka sudah melihat seorang lelaki berbaju putih itu tergeletak dan berlumuran darah.

“panggil ambulance!!!” teriak seorang bapak-bapak yang melihat kejadian itu. “cepat!! Dia kehilangan banyak darah!!”

Akhirnya seorang laki-laki mengeluarkan HP-nya dan mengetik nomor rumah sakit. Lalu menghubunginya untuk memberitahukan tempat kejadian. 5 menit kemudian, ambulance pun datang dan langsung membawa lelaki itu ke rumah sakit.

***

Terhitung 3 bulan setelah kejadian itu, jae joong belum juga sadarkan diri. Ia masih harus menerima pengobatan dan darah. Nasibnya sama dengan yunho yang sudah bertahan 4 bulan ini.

“bagaimana keadaan pasien di kamar 202?” tanya seorang dokter pada suster yang baru keluar dari ruang 202.

“belum ada perubahan.” Jawab suster itu sambil menggelengkan kepalanya. “tapi lumayan. Sekarang dia tidak perlu darah lagi.”

“sedikit perubahan.” Dokter itu menggeleng. “tidak adakah keluarga yang menjenguk tuan kim?”

“menurut laporan, ayah dari tuan kim di penjara, dan ibunya entah kemana.”

Dokter itu menggeleng lesu lalu membungkuk kecil pada suster itu dan pergi. Ia lalu medatangi ruang 333.

“annyeonghaseyo,” sapa dokter itu.

“dokter hwang!” sapa seorang perempuan muda yang cantik sambil bangkit dari tempat duduknya disamping pasien.

“bagaimana keadaan tuan jung?”

“umm.. belum ada perubahan.”

“apakah dia merindukan—“

“jae joong? Yah.. memang sih sudah lama dia tidak datang. Mungkin dia takut padaku karena dia sudah menikah denganku!”

“menikah?”

“iya! Ini cincinnya!”

“umm.. chukhaeyo!”

“gamsahamnida.”

Dokter itu mendekati pasiennya yang bernama jung yunho. Ia memeriksa mata si pasien dan memeriksa detak jantungnya.

“normal.” Kata dokter itu. “ajaib. Biasanya orang yang menderita pendarahan di kepalanya hanya bisa bertahan sebulan. Kekuatan cinta menguatkannya!”

“maksud dokter—aku menguatkannya?” tanya perempuan itu.

Dokter itu mengerutkan dahi. Entah kenapa ia mengatakan itu. Kekuatan cinta. Memang beberapa keluarga pasien yang koma selalu menguatkan si pasien dengan cinta. Dan akhirnya ia bisa bertahan sampai ajal menjemputnya.

“dok?” perkataan perempuan itu membuyarkan lamunan dokter.

“oh, begini nona victoria. Entah kenapa, umm.. maaf sebelumnya kalau aku mencampuri urusan ini. Umm maksud saya, maaf saya harus mengatakan ini..” dokter itu berhenti sejenak. Sengaja menggantungkan perkataannya. “sebenarnya, anda tidak boleh mencegah tuan kim mengunjungi tuan jung. Karena sebenarnya, yang dicintai tuan yunho itu tuan jae joong!”

“tapi mereka itu sejenis! Mana mungkin mereka bisa menjalani hubungan dengan keadaan seperti itu? Ataukah jae joong yang harus mengganti kelaminnya agar hubungan itu sah-sah saja dilakukan?”

“cinta itu tidak butuh bulu. Cinta hanya butuh perasaan. Hanya orang-orang berperasaan saja yang bisa merasakannya. Jika anda menjauhkan mereka, itu sama saja anda tidak berperasaan!” jelas dokter hwang. “maaf kalau saya lancang. Sebenarnya saya sudah kenal dekat dengan yunho karena anak saya adalah temannya. Yunho selalu datang ke rumah dengan tuan jae joong. Dan dari pandangan saya, yunho memang benar-benar mencintainya!”

“tidak mungkin!” kata perempuan itu, victoria. “yunho tidak boleh melakukannya!!”

“apakah anda mencintainya?”

“iya!”

“apakah anda rela mati untuknya?”

“umm.. semoga!”

“kenapa tidak jawab iya?”

“karena aku tidak yakin!”

Dokter hwang menghembuskan nafas panjang. Lalu menatap perempuan di depannya.

“kalau anda mencintai yunho, anda harus mencoba merelakan yunho demi kebahagiaannya. Ia bahagia dengan jae joong? Kau harus menerimanya!”

Victoria jadi ingat apa yang dikatakan jae joong waktu itu. “aku serahkan padamu demi kebahagiannya. Aku akan melakukan apapun untuknya. Termasuk melepaskannya. Aku mencintainya, jadi aku tidak akan menghalangi kebahagiaannya!”

“maaf, nona victoria. Bukannya aku berceramah. Tapi ini benar! Anakku selalu mengajariku kekuatan cinta. Jadi, aku ikut mempelajarinya dan memberikan padamu juga.” Kata dokter hwang. “saya permisi!” dokter hwang membungkukan badan dan keluar.

***

Victoria terus menatap wajah yunho yang pucat sambil memikirkan kata-kata dokter hwang tadi. Dan juga kata-kata jae joong yang jelas diucapkan dulu.

“yun, aku akan merelakanmu dengan jae joong,” kata victoria. “tapi tak sekarang! Aku belum siap!” victoria mengelus rambut yunho. “yun, boleh kan aku mendekapmu lagi? Aku ingin merasakan cinta, yun! Aku ingin merasakan seperti apa rasanya! Terima kasih sudah membuatku mengerti arti cinta sebenarnya yun. Cinta memang tidak boleh dipaksakan. Tapi aku terus memaksa. Maafkan aku.”

Victoria bangkit dari duduknya dan mencium kening yunho lembut. Ia melakukannya untuk yang terakhir kali.

“this is the last!” kata victoria. “aku akan merelakanmu!”

***

Yunho berjalan di tepi pantai sambil menikmati angin segar yang berhembus lembut. Ia memejamkan mata untuk mengusir pikiran-pikiran buruknya tentang seseorang. Ia terus berjalan diiringi matahari yang memancarkan sinar jingga yang ada di ufuk barat.

“Joongie?” tanya yunho tak percaya. “JOONGIE!!!” teriak yunho histeris saat melihat seorang lelaki manis yang duduk sambil memeluk lutut di tepi.

Lelaki manis itu bangkit. Ia lalu memeluk erat yunho sambil menangis di dada kekarnya. Lelaki manis itu melampiaskan kekesalannya pada lelaki kekar itu.

“kenapa kau meninggalkanku, yunnie? Kenapa? Aku tidak membuat ulah lagi!!” isak lelaki manis itu.

“mianhe, joongie-ah!” kata yunho. Ia lalu melepaskan pelukannya dan menghapus air mata lelaki itu. “aku ingin berdiri denganmu lagi. Seperti ini!” yunho memeluk pundak jae joong. “saranghae!”

“na do!” jae joong kembali memeluk yunho erat. Ia tidak ingin melepasnya lagi.

Yunho sangat menikmati moment itu. Ia lalu menatap matahari yang sedikit demi sedikit tenggelam ke dalam laut. Ia langsung melepas paksa pelukannya.

“joongie, aku harus pergi!” kata yunho sambil berjalan ke tengah pantai.

“ANDWAE!!!” teriak jae joong.

Teriakannya tidak digubris yunho. Jae joong ingin mengejar yunho kesana. Tetapi kakinya terasa kaku. Jadi dia hanya bisa berteriak sambil memanggil yunho.

***

“dokter, pasien di kamar 333 kritis!!” kata salah satu suster tergesa-gesa.

Beberapa dokter dan suster langsung berlari mendatangi ruang 333 di lantai 3. mereka semua panik karena lift berjalan sangat lambat. 1 detik terasa seperti satu tahun untuk mereka. Akhirnya para dokter dan suster itu sampai di lantai 3 dan langsung mendatangi ruang 333.

Yunho terbaring lemah tak berdaya di kasurnya. Detak jantungnya terlalu lemah untuk di bilang normal. Dokter-dokter berusaha mengembalikan detak normal itu dengan cara apapun. Tetapi tidak ada perubahan. Malah beberapa detik detak jantungnya tidak terdengar.

Di kamar jae joong, ia sedang menggumamkan kata-kata. Tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali dia dan tuhan. Perlahan mata jae joong terbuka. Ia harus menyesuaikan matanya dengan cahaya yang ada. Ia menengok kesana kemari untuk mencari petunjuk dimana ia berada. Jae joong melihat seorang suster dengan membawa papan jalan masuk ke kamar rawatnya.

“syukurlah tuan sudah sadar!” kata suster itu sambil tersenyum. “eh, jangan dilepas dulu! Saya panggil dokter!”

“tidak perlu!” jae joong langsung melepas oksigen-nya dan infusnya. Ia mencoba turun dari tempat tidur. Dengan susah payah ia turun karena kepalanya masih pusing akibat pendarahan sedang di kepalanya. Akhirnya ia bisa berdiri. Ia memejamkan mata dan mengingat jung yunho. Tiba-tiba terbakarlah semangatnya untuk berlari mencari yunho.

“tuan, mau kemana? Tolong!!” kata suster itu sambil mengejar jae joong. Beberapa dokter dan suster yang ada disitu berusaha mencegah jae joong kabur. Beberapa suster dan dokter itu mengejar jae joong sampai ke ruang 333.

“YUNHO!! JANGAN TINGGALKAN AKU!! YUN!!!” teriak jae joong di genggaman suster dan dokter itu.

Victoria datang dengan mata sembab habis menangis. Ia menatap jae joong yang berusaha melepaskan diri dari genggaman orang-orang berbadan kekar itu.

“LEPAS!” jae joong berhasil melepaskan tangannya dari jeratan orang-orang itu dan masuk ke dalam ruangan.

Dokter-dokter yang tadi memeriksa yunho menyingkir dari hadapannya. Sekarang ia bisa melihat lagi orang yang sudah meninggalkannya selama 5 tahun. Yang selalu melindunginya, menyayanginya, mengasihinya. Jae joong langsung memeluk yunho yang sudah berbaring tak berdaya di kasurnya.

“yun, ini aku jae joong!” kata jae joong sambil menangis. “ini aku anak kecil yang cengeng, yang selalu merengek minta kasih sayang darimu!” jae joong mengelus kepala kecil yunho. “yun, aku rela kalau kau menikah dengannya! Tapi aku tak rela kalau kau pergi! Yun, ayolah!! Bangun!! Bangun!!”

Yunho tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Jae joong menyerah dan pergi dari rumah sakit untuk melupakannya.

***

Seminggu berlalu dengan cepat. Jae joong hanya sendirian. Menikmati semilir angin pantai yang begitu lembut, menyejukkan seperti yang ada di mimpinya. Jae joong tersenyum pilu mengingat mimpi itu. Mimpi yang membuat jae joong tidak berani memandang tengah pantai.

“dor!” kata seorang sambil menepuk pundak jae joong.

Jae joong menyipitkan matanya. Mengucek-ngucek matanya untuk membuktikan bahwa orang yang ada di depannya adalah orang itu. Orang yang menghiasi hidupnya selama ini.

“YUNNIE!!!” jae joong langsung memeluk yunho erat. “bogoshippo!”

“na do!” yunho mengalungkan tangannya di leher jae joong. “joongie, look at me please!”

Jae joong menatap yunho. Manatap mata cokelatnya yang menghipnotis. Yunho memiringkan kepalanya lalu memejamkan matanya. Jae joong melakukan hal yang sama pula. Akhirnya, bertemulah dua bibir sejoli itu. Menyatu dengan lembut, dengan penuh cinta. Beberapa menit kemudian, yunho melepaskan ciuman pertamanya setelah 5 tahun dengan jae joong.

“would you marry me, kim jae joong?” yunho mengeluarkan kotak merah dari saku jaketnya. Yunho mengeluarkan cincin itu.

“itu—“

“iya! Cincin yang diberikan victoria. Sebenarnya kemarin hari seharusnya aku menikah dengannya. Tapi victoria tahu cinta kita. Jadi dia merelakannya.” Yunho memakaikan cincin berukirkan gambar 2 malaikat itu ke jari manis kecil jae joong. Setelah itu yunho kembali mencium kening jae joong lembut.

“saranghae” bisik yunho.

“na do” jawab jae joong.

Yunho berdiri sambil mengulurkan tangannya untuk membantu jae joong berdiri. Jae joong menerima uluran tangan itu sambil tersenyum. Setelah berdiri, yunho merangkul jae joong erat dan berjalan di bibir pantai.

“aku tidak akan meninggalkanmu lagi. aku janji!” kata yunho.

“aku juga! Aku tidak akan membuatmu cemas lagi.” timpal jae joong.

“kemana saja kau tak jawab telponku?”

“aku tidak mau menerima kabar darimu!”

“kau masih marah denganku?”

“untuk apa lagi aku marah? Kau ini!”

“joongie, maaf aku tak menggubrismu di mimpi itu!”

“jadi, kita dapat mimpi yang sama?”

“iya lah! Kau terus berteriak. Aku tahu joongie..”

Jae joong memeluk yunho lebih erat lagi. benar-benar tidak mau melepasnya lagi. “oh ya, kemana saja kau selama koma?”

“hah? Maksudmu?”

“apa kau sudah ke yunani?”

Yunho menjitak jae joong pelan. “jinja! Mana bisa?”

“kata orang, kalau orang yang koma itu biasanya roh-nya jalan-jalan! Kau kemana?”

“kau sendiri?”

“kau tahu aku koma?”

“3 bulan!”

“kok tahu?”

“I know everything about you!”

“YUNHO!!!”

Jae joong mengejar yunho yang sudah berlari di tepian pantai. Langit jingga mulai menghiasi korea. Yunho dan jae joong bermain air sekarang. Mereka tidak sadar ada sepasang mata sedang melihat sepasang kekasih itu dengan senyum mengembang.

“I know that love is a feel. Aku tahu cinta itu suci. Aku mengerti apa itu cinta. Terima kasih semuanya.”  Batin victoria.

“joongie, gomawo!” kata yunho.

“untuk apa?”

“untuk cintamu! Terima kasih kau sudah menguatkanku. Aku bisa hidup karenamu!”

“ne, yunnie!!”

 

-END-

***

Akhirnya slese juga !!! thank you buat yg baca.. mian kepanjangan !! hehe.. en juga mian klo makin ga nyambung en lama bgt publishnya !! haha.. thank you once more… *bow

songfic : “i have nothing” part 3

“APPA!!!!”

Terlambat. Semua sudah terlambat. Mobil sedan hitam yang dikendarai oleh young woon dan jae joong tertabrak truk gandeng berkecepatan tinggi. Mobil sedan hitam itu ringsek. Young woon tewas ditempat. Sedangkan jae joong yang mengalami luka yang lumayan parah karena terjepit di antara ringsekan mobil itu.

*yunho POV*

Aku melihat jae joong yang berada di new york! Aku melihat joongie kecilku! Itu dia. Ya.. itu dia! Tapi kenapa dia ada disitu? Kenapa ia dimasukkan ke ambulance? Aku langsung melihat ke penjuru tempat. Aku melihat ada sebuah mobil sedan ringsek akibat tabrakan. Ada seorang laki-laki yang tewas disitu.

“joongie..” panggilku pelan. “joongie..” panggilku dengan suara yang lebih kencang. “JOONGIE!!”

Aku tersadar dari mimpi burukku. Aku memegang dadaku yang sesak karena detakan jantung yang lebih cepat dari biasanya. Aku memegang kepalaku yang sakit karena memikirkan kejadian di mimpi itu.

“yun, gwaenchana?” tanya omma sambil memberikan segelas air putih kepadaku.

Aku menerimanya dan meminumnya. Perasaanku sedikit tenang sekarang. Omma menyuruhku menceritakan semua mimpiku. Tapi aku hanya diam. Aku tidak mau menceritakannya! Aku takut. Sungguh! Perasaanku tidak enak sekarang. Aku ingin ke phila! Semoga saja joongie masih disana.

“omma keluar. Kau tenangkan pikiranmu ya!” kata omma sambil menepuk pundakku.

Tidak mungkin joongie ada di new york! I a kan ada di philadelphia. Aku tahu phila dan new york dekat. Tetapi tak mungkin kan dia ada disana? Ahh.. hanya mimpi. Tak usah dipikirkan!

***

“omma, appa, aku mau ke new york, ya? Please?” pintaku. “aku ingin belajar film disitu. Omma, appa..”

“yun, kau—“ appa membelai kepalaku lembut. “ok. Kapan kau mau berangkat?”

“besok?”

“ok! Yong hwa, pesan tiketnya sekarang juga!” kata omma sambil tersenyum. “cepat!!”

“i-iya..” appa langsung mengambil telepon genggamnya di meja. Ia lalu menelpon petugas bandara untuk memberinya tiket.

“gomapsemnida, omma, appa!” kataku senang.

“omma ikut senang! kau ada semangat lagi.” Kata omma sambil membelai lembut rambutku.

“ne, omma.”

“kau siapkan barang-barangmu. Appa sudah dapat tiketnya!” kata appa setelah menutup teleponnya.

Yes! Aku berhasil! Aku bisa ke new york! Aku langsung masuk kamar untuk mengemas pakaian. Aku ingin cepat-cepat hari esok!

Terhitung sebulan setelah aku mendapatkan mimpi buruk itu. Aku ke new york bukan karena aku ingin bertemu joongie. Tetapi aku ingin lebih mendalami perfilman. Inilah cita-citaku dulu. Aku pernah menceritakannya pada orang masa laluku itu. sekarang, aku akan mewujudkannya. New york, wait me!

=================================================

(lanjut lah pas yun sampe new york)

Aku menginjakkan kaki di bandara new york. Beda sekali rasanya dengan di korea. Kebetulan sekarang adalah musim gugur. Dinginn.. sekali udaranya. Ahhh…..

*author POV*

Yunho sampai di bandara new york *gw lupa nama.a, anggep aja ada!*. ia menikmati semua yang ada. Bandaranya bersih, besar, dan bagus. Udara disitu lebih dingin dari di tempatnya.

Yunho keluar dari bandara sambil membawa satu tas besar dan koper untuk dibawa ke dalam taksi. Tapi belum sampai masuk taxi ada seseorang yang mencoba mengambil dompet yunho yang ada di saku belakang celananya.

“hey!” bentak yunho sambil meraih tangan lelaki itu.

Lelaki itu panik. Keringat dingin mengucur deras. Matanya yang besar makin membesar dan tangannya gemetar.

‘kenapa dia seperti jae joong?’ gumam yunho dalam hati.

“a-apa maumu?” tanya lelaki itu.

Yunho langsung melepaskan tangan lelaki itu. Getaran tangannya masih terasa di tangan yunho.

“harusnya aku yang tanya!” jawab yunho.

Lelaki itu menghembuskan nafas panjang dan menatap yunho dengan tatapan polosnya.

“tangkap aku. Biarkan aku hidup di penjara!” kata lelaki itu sambil menyerahkan tangannya.

Yunho menatap lelaki itu dengan tatapan seperti mengingat sesuatu. Tetapi ia benar-benar tidak bisa mendeskripsikannya!

“aku tidak akan membawamu ke kantor polisi!” kata yunho kalem sambil tersenyum. “jangan kau ulangi lagi perbuatanmu!”

Lelaki itu tersenyum senang. Ia lalu mengucapkan terima kasih sambil membungkuk. lalu pergi dari hadapan yunho.

“maaf tuan, saya telat!” kata seorang supir taxi yang yunho pesan tadi.

“ohh. Tidak apa-apa!” jawab yunho.

Supir taxi itu keluar lalu membawa koper besar yunho ke bagasi. lalu yunho masuk ke dalam taxi.

“sepertinya anda sedang memikirkan sesuatu.” Kata supir taxi itu memulai pembicaraan di dalam taxi.

“iya. Saya memikirkan anak tadi!” jawab yunho sambil membayangkan wajah manis lelaki itu.

“itu anakku. Kim jae joong!”

Deg—

“jae joong??” tanya yunho kaget. Ia lalu mendekatkan badannya ke si supir yang ada di depan. “jadi.. kau—young woon ajusshi?” tanya yunho dengan bahasa korea.

“aku bukan orang korea! Namaku jack layton.” Jawab supir itu. “young woon sudah meninggal karena kecelakaan!”

“lalu kenapa kau bilang jae joong anakmu? Jelas-jelas jae joong anak KIM YOUNG WOON!”

Supir taxi itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menatap yunho yang meminta jawaban dengan tatapan misterius.

“young woon meninggal sebulan lalu saat perjalanan dari philadelphia ke new york! Ia tewas di tempat karena tergencet. Sedangkan yoo jin, istrinya selamat bersama jae joong. Young woon meninggal tanpa meninggalkan warisan apapun. Jae joong dan ibunya terlunta di jalanan. Aku merawat mereka dan akhirnya aku menikahi yoo jin.” Supir taxi yang bernama jack itu berhenti sebentar untuk mengambil nafas. “jae joong kehilangan ingatan. Ia hanya ingat tentang dirinya dan ibunya. Lalu aku masuk ke kehidupannya dan ingin mencoba mengembalikan ingatannya. Yoo jin menyinggung masalah young woon yang meninggal dan—kau jung yunho.” Kata jack.

“lalu apa yang dia ingat?”

Jack layton menggelengkan kepala. “ia tidak ingat itu! Yang dia tahu akulah ayahnya. Yoo jin-lah ibunya, dan kibum-lah kakaknya!”

Deg—

Jantung yunho berdegup kencang. Ia memegangi dadanya yang sakit. Lalu ia menenangkan dirinya dan berhasil.

“sekarang, kemana kibum?” tanya yunho.

“kibum tidak mau mengakui bahwa aku ayahnya, yoojin ibunya, dan jae joong adiknya!” jawab jack sedih. “ia menjadi preman yang bermarkas di tempat yang tertutup.”

“dimana itu?”

Jack menggeleng. “aku tidak tahu! Jae joong sering kesana membawakan makanan untuk kibum.”

“untuk kibum?”

“ia sangat menyayangi kibum.” Jack tersenyum pahit. “padahal anak itu tidak perlu disayang!”

Fuck you kibum! Kata yunho dalam hati.

Jack kembali mengemudikan taxinya. Ia mengemudikan dengan kecepatan sedang sampai ke sebuah rumah yang sedang. Rumah yang cocok untuk menampung banyak orang.

“aku kan tidak pesan disini!” kata yunho.

“ada yang perlu yoo jin bicarakan padamu!” kata jack.

*yunho POV*

Aku keluar dari taxi dan memasuki rumah itu. Pekarangan rumahnya dihiasi dengan taman yang indah. Aku suka desainnya! Mr jack lalu membawaku ke dalam. Di ruang tv ada seorang wanita paru baya duduk dengan manis di sofa. Aku disuruh mr jack mendekatinya.

“annyeong, tante!” sapaku ramah.

Wanita itu menatapku. Ia tersenyum ramah.

“yunho? Kamu udah gede banget!!” kata yoo jin ajumma.

“ne.. hehe..”

Yoo jin ajumma menanyakan segala tetek bengek padaku. Dari mulai kabarku selama jae joong tinggal, kabar omma dan appa selama putus kontak, dan tentang tujuan kedatanganku kesini.

“bantu tante ya?” tanya yoo jin ajumma.

“buat?” tanyaku balik.

“kembaliin ingatan jae joong!”

“mwo? Mana bisa? Ih.. tante aneh-aneh aja!”

“kamu pasti bisa!”

“tante, jae joong tuh udah ngelupain aku! Gimana caranya coba bisa ngembaliin pikirannya?”

“kamu masih sayang jae joong kan?”

Pertanyaan yoo jin ajumma benar-benar membuatku bingung! Aku tidak tahu apakah aku masih mencintainya atau tidak.

“tante tahu yun..” kata yoo jin ajumma. “jae joong itu sekarang memperlakukan kibum seperti memperlakukan kamu!”

Berarti—jae joong masih menyayangiku? Dia masih ingat rasa sayangku, tetapi ia tidak ingat siapa aku!

“ok. Aku bakal bantu tante!” jawabku mantap.

“besok tante anter kamu ke tempat dimana biasanya kibum sembunyi!” kata yoo jin ajumma.

Uhh.. aku tidak sabar besok! Aku ingin melihat joongie lagi, aku ingin mengembalikan semua yang jae joong lupa!

Setelah berbincang-bincang dengan yoo jin ajumma aku kembali ke tujuan. Aku mau ke penginapan untuk mahasiswa. Aku kembali menaiki taxi bersama mr jack.

“mr jack, kenapa kau tahu kalau aku yunho?” tanyaku di dalam taxi.

“aku punya semacam kelebihan untuk mengetahui orang. Aku tahu orang di masa lalunya. Dan aku tahu kau yunho karena aku melihat ekspresi jae joong yang sepertinya bilang kalau dia mengingat seseorang. Dan itu kau, jung yunho!”

Aku tidak mengerti ucapannya! Sungguh! Apakah karena bahasanya yang bagus?

“bukan begitu. Kau bisa tahu nanti jung yunho!”

Besok paginya…

*Author POV*

Yunho siap dengan bajunya yang santai. T-shirt hitam dan celana jeans yang ketat. Ia membawa sebatang coklat yang pernah ia berikan pada jae joong sehari sebelum dipisahkan. Setelah berdandan yunho keluar. Diluar, seorang wanita cantik dengan kemeja putih dan celana panjang ketat. Gayanya seperti anak muda sekarang.

“kau siap??” tanya yoo jin pada yunho.

“siap!!” jawab yunho lalu masuk ke dalam mobil yoo jin.

Don’t make me close one more door

I don’t wanna hurt anymore

@ town park (?)

*yunho POV*

Yoo jin ajumma menemukan jae joong di taman kota. Jae joong sedang diam disana sambil memainkan HP-nya. Aku ijin untuk mendekatinya dan berbicara dengan jae joong. Aku duduk di sebelahnya.

“kau mau menagih?” tanyanya sambil melepaskan headsetnya. “aku tidak mengambil apapun darimu!”

“arasso!” jawabku dengan bahasa korea.

“kau orang korea??” tanya jae joong heran.

“yeah, begitulah!” jawabku dengan bahasa korea juga.

“ok, aku akan memakai bahasa ibu!”

Kita berdua diam dengan pikiran masing-masing. Jae joong kembali memasang headset-nya dan mengikuti irama lagu.

“hey!” kataku. Jae joong melepas headset-nya dan menatapku kesal. “siapa namamu?”

Jae joong menatapku sinis. “kau benar-benar ingin memasukkanku ke penjara ya?”

“bukan begitu.. ashh..” aku mengacak rambutku kesal. “aku hanya ingin tahu namamu!”

“ohh. Aku jae joong. Kim jae joong! Kau?”

“aku jung yunho!”

“mom always told about you!”

“apa yang ia ceritakan?”

“katanya, kau adalah orang masa laluku. Benarkah?”

“umm..” aku mencari akal untuk menjawabnya. “aku memang pernah punya adik yang namanya sama sepertimu! Tapi, mungkin itu kebetulan!”

“tidak mungkinlah aku adikmu! Kakakku Cuma kibum!!”

“yeah,, aku tahu.” Kataku.

Kami kembali diam lagi. Jae joong tidak memasang headsetnya tetapi aku tidak berhenti berpikir untuk mengembalikan ingatannya.

“kau mau coklat?” tanyaku sambil menyodorkan sebatang coklat.

Jae joong menerima coklat itu dengan senyum mengembang. Persis seperti joongie kecilku dulu. Lalu melahapnya tanpa ampun seperti orang kelaparan.

“adikku dulu sangat menyukai cokelat!” curhatku padanya.

“aku juga!” jawab jae joong sambil terus memasukkan cokelat itu ke mulutnya.

“terakhir aku memberinya coklat 8 tahun lalu. Aku kehilangannya karena kegilaan orang tuaku!”

“maksudmu??”

“aku memberi coklat pada adikku saat aku baru pulang dari swiss. Ia sangat senang. Hari itu, ia mengajakku berpacaran. Ia sangat manis!”

“adikmu aneh!” jae joong membuang bungkus coklat itu ke depannya. “masa sesama saudara minta pacaran?!”

Kau yang aneh, joongie! Kataku dalam hati.

Aku kembali menatap wajah polosnya itu. Jung jae joong berbeda dari kim jae joong. Jung jae joong yang kukenal sama polosnya dengan wajahnya. Dan jung jae joong, mukanya polos. Hanya saja sifatnya tidak sepolos itu.

“kau fans beratku ya?” jae joong membuyarkan lamunanku. “kenapa melihatku seperti itu?”

Aku langsung mengalihkan pandang ke tempat lain. Lalu menggeleng keras.

“ok, lupakan saja! Ceritakan adikmu!”

Aku makin antusias. Semoga saja joongie ingat semuanya!

“kenapa kau dipisahkan olehnya?” tanya jae joong antusias.

Aku menghembuskan nafas panjang. Lalu mulai bercerita. “8 tahun lalu, tepat di hari adikku mengatakan cinta, omma pulang dan memberikan pengumuman kalau dia bukan adikku.”

“apakah omma-mu baik?”

“umm.. menurutku tidak juga!” jawabku. “aku dipisahkan oleh seseorang yang sudah aku sayang. Kau pasti bisa merasakannya kan?”

Jae joong mengangguk. “iya. Pasti sakit!” jawabnya. “apa kau tahu sebab orang tuamu menjauhkanmu dari adikmu itu?”

“aku tahu. Baru 2 tahun lalu aku mendapatkannya!” jawabku. “berawal dari keisengan orang tuaku dan orang tua kandung adikku yang ingin bertukar anak. yah, istilahnya saudara kontrak. Mereka berdua sama-sama cantik untuk ukuran laki-laki. Yah, akhirnya adik kandungku tinggal di phila dan adik tiriku tinggal di korea.”

“wow.. siapa nama adikmu?”

Aku berpikir sejenak. Haruskah aku bilang kalau nama adikku itu sama seperti namanya? Ah.. gwaenchana. Mungkin itu bisa memulihkan ingatannya! Ok, I’ll try it.

“mungkin ini sebuah kebetulan. Nama adikku kim—eh jung jae joong.” Jawabku.

“mungkin kebetulan!” kata jae joong. “margaku, kim. Dan adikmu, jung. Jadi beda lah!!”

Aku kembali berpikir untuk melanjutkan percakapan ini. Aku ingin hari ini diperpanjang agar aku mendapat kesempatan untuk dekat dengannya. Aku mencoba menanyakan hal yang menurutku tidak baik untuknya. Tapi aku harus menanyakannya! Ok, jung yunho, fighting!

“oh ya, apa kau tahu kalau kau hilang ingatan?” tanyaku hati-hati.

Jae joong mengerucutkan bibirnya. Inilah ekspresinya kalau ia tidak yakin dengan jawabannya.

“ya, mungkin.” Jawab jae joong akhirnya. “tetapi sudah sembuh kok! Biasanya kan orang yang hilang ingatan akan sembuh seminggu setelahnya. Dan ini sudah sebulan sejak kejadian itu!”

“kau masih ingat dengan kejadian itu? Kejadian yang membuatmu hilang ingatan?”

“ya. Aku ingat betul kejadiannya! Itu di depan mataku. Huh—so poor me..”

Aku dan jae joong terlibat perbincangan panjang dan menarik sehari itu sampai-sampai kami tidak sadar kalau hari sudah gelap. Matahari yang tadi bersinar cerah sekarang tergantikan oleh cahaya bulan yang bersinar terang.

“Ahh.. sudah malam!” kata jae joong sambil menguap. “aku pulang ya!”

“mau ku antar?” tawarku.

“umm.. ani. Lain kali saja!” jae joong tersenyum manis lalu melambaikan tangannya dan berlari dengan langkah bahagia.

*jae joong POV*

Hari ini aku dikejutkan oleh berbagai kejadian menarik. Aku bertemu dengan seorang yang selalu omma ingatkan, jung yunho. Ternyata orang itu baik juga! Ia menceritakan pengalamannya yang kelam. Ia dipisahkan dari adiknya 8 tahun lalu karena keisengan orang tuanya. Dan selama 8 tahun itu ia harus hidup dengan adik kandungnya sendiri yang berbeda dari adik tirinya. Ia sudah menyayangi adik tirinya itu. Ahh.. tapi, aku merasa ada yang aneh! Jujur! Aku merasa sangat familiar dengan wajahnya yang kecil, tampan, dan senyumnya.. senyum manis itu tidak bisa kulupakan.

“jae joongie, kenapa kau ini? Apakah kau tidak normal??” aku mengutuk diriku sendiri yang sedari tadi berlari dengan langkah seperti orang gila.

Akhirnya aku sampai di home sweet home-ku. Aku langsung masuk ke dalam dan disambut omma yang sudah menunggu di meja makan.

“kau mau makan, nak?” tanya omma lembut.

“umm.. yeah..” jawabku lalu duduk di meja makan.

Omma mengambilkanku sup hangat di mangkuk. Lalu menyodorkan itu padaku. Aku menyuap sesendok kuah sup itu. Hangat, menyegarkan.. baru kali ini aku merasakan kenikmatan saat makan bersama omma.

“enak!” komentarku yang disambut senyuman manis omma. “oh ya, hyung dan appa mana?”

Walaupun aku tinggal di new york, aku masih memakai bahasa korea untuk berkomunikasi dengan omma-ku. Hyung-ku juga orang korea. Tetapi aku jarang berkomunikasi dengannya dengan bahasa korea. Ia selalu memakai bahasa inggris.

“kau sedang berbahagia, nak?” tanya omma lembut.

Aku mengangguk karena aku sedang mengunyah wortel di mulutku. Setelah selesai menelan aku baru menjawab,

“begitulah!” jawabku. “aku bertemu dengan orang yang mengubah hidupku.”

*yoo jin POV*

“begitulah!” jawab jae joong. “aku bertemu dengan orang yang mengubah hidupku.”

Aku tersentak mendengar perkataannya. Yunho berhasil! Berarti usahaku untuk berdoa sepanjang malam tidak sia-sia!

“jadi, kau sudah mengingat yunho??” tanyaku akhirnya.

“yunho?” jae joong menggeleng-gelengkan kepalanya. “tidak ada yang perlu diingat dari dia!”

Sia-sia lagi. Tapi lumayan, aku melihat perubahan pada dirinya.

“apakah ia akan menemuimu lagi besok?” tanyaku.

“mungkin tidak!” jae joong memasang raut sedih. “aku lupa minta nomornya!”

*yoo jin POV end*

*author POV*

Besoknya, jae joong kembali mendatangi taman. Entah kenapa ia merasa membutuhkan lelaki itu dibanding kakaknya. Biasanya pagi-pagi begini ia sudah menjadi babu di depan kakaknya. Ia terus menunggu sampai akhirnya ia menyerah karena lelaki yang ditunggunya itu tidak datang.

“percuma. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi.” Sesal jae joong sambil tersenyum.

Ia pun berjalan dengan langkah lunglai dan entah kenapa kakinya mengajaknya ke markas kecil kakaknya, kibum.

“kemana saja kau, bocah kecil?” bentak kibum kesal. “harusnya kau bantu aku disini! Mana makananku??”

Jae joong diam. Ia menundukkan kepalanya. Ia tidak mau menatap mata seram kibum yang telah mengajarkan dan menghadapkannya ke dalam masalah yang besar. Kibum tersenyum sinis melihat adiknya yang biasanya penurut itu sekarang hanya diam tanpa melakukan apapun.

“ya!!” kibum menonjok jae joong sampai jae joong terjengkal ke belakang. “kenapa-kau diam saja??” kibum menghujamkan banyak pukulan ke wajah cantik jae joong.

Jae joong hanya bisa pasrah. Ia menerima saja pukulan-pukulan mematikan yang diberikan kakaknya itu kepada dirinya.

“crazy!” kibum langsung menendang kepala jae joong dengan keras sehingga membuat lelaki manis itu mengerang kesakitan.

“aarrgghh..”

Jae joong melihat berbagai macam kejadian yang berkelebat seperti film yang belum selesai di edit. Alurnya tidak jelas. Ia terus memegang kepalanya yang terus berdenyut kencang. Penderitaannya tidak berhenti disitu. Kibum memberikan pukulan terakhir untuk adiknya di bagian sensitive-nya, pinggang.

“aarrggghhh…” erang jae joong.

“kau mau lagi, hah? Ok!” kibum hendak menendang jae joong kembali kalau saja lelaki tak diundang yang berbadan lebih kekar darinya tidak datang.

“lepaskan joongie!!” kata lelaki itu, jung yunho.

“oh.. kau ternyata masih hidup ya tanpa adikku ini!” balas kibum sinis.

Yunho melakukan hal yang kibum lakukan pada jae joong tadi. Ia menonjok, menendang, dan ia menambahkan kata-kata makian pada kibum.

“kau tidak sadar kalau dia menyayangimu! Kau tidak sadar kalau dia butuh kau, kau tidak sadar kalau dia ingin hidup dekat denganmu!” kata yunho. “mulai sekarang, menjauhlah dari jae joong. Sedetik saja kau mendekatinya, MATI KAU!”

Stay in my arms if you dare

Or must I imagine you there

Yunho langsung mendatangi jae joong yang terkapar tak berdaya di bawah. Yunho mengangkat kepala jae joong ke atas pahanya. Jae joong menggumamkan kata-kata yang bisa di dengar yunho dengan jelas.

“yunho hyung..” katanya. “kau hyung-ku!”

“diam! Aku akan membawamu ke rumah sakit secepatnya!! Bertahanlah..!!”

Yunho langsung mengangkat jae joong ke mobil sewaannya untuk membawa adiknya itu ke rumah sakit. Jae joong terus mengerang sambil mengigaukan kata “yunho hyung”.

Kau anak yang kuat! Kau harus bertahan, joongie kecilku! Kata yunho dalam hati.

Akhirnya yunho sampai di rumah sakit. Jae joong langsung dibawa ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan darurat. Yunho menunggu sambil berdoa di depan ruang UGD.

Don’t walk away from me

I have nothing, nothing, nothing..

If I don’t have you

Sebulan kemudian.. *ketauan authornya males*

“yunho hyung, kau masih ingat itu ya??” kata lelaki cantik polos di dekapan lelaki kekar tampan.

Lelaki tampan itu tersenyum menggoda. “ya iyalah. Kau mengatakan cinta di saat umurmu masih 8 tahun!”

Jae joong tersenyum. Yunho lalu melepaskan pelukannya agar jae joong bersandar di pundaknya sambil menikmati pemandangan indah, matahari tenggelam di ufuk barat.

“kita berhasil melewati rintangan ini!” kata yunho sambil menggenggam tangan indah jae joong. “selama 8 tahun, hidup di masa yang kelam, tanpa orang tercinta di sekitar kita..”

“ya! Aku beruntung hilang ingatan!” balas jae joong. “akhirnya aku bertemu denganmu! Aihh.. bodohnya aku!!” jae joong mengutuki dirinya sambil memukul kepalanya dengan kepalan tangannya.

“kekuatan cinta membuatmu hidup. Cinta itu menguatkan. Tapi bisa juga melemahkan pertahanan. Seperti kau, yang sembuh dari hilang ingatan itu hanya sehari berkat aku!”

“so, you proud of your game?”

Yunho tersenyum jahil. “of course! I’m so proud.”

Dua sejoli yang dipertemukan kembali setelah 8 tahun dipisahkan itu menikmati pemandangan akhir perjuangannya. Matahari tenggelam dengan sempurna di bawah laut. Yunho mengangkat jari-jari kecil nan indah milik jae joong ke atas. Mencakar langit.

“joongie, jangan tinggalkan hyung!” kata yunho sambil mengecup satu persatu jari indah jae joong.

“yunho hyung, I have nothing.. I have nothing if I don’t have you!” balas jae joong sambil menatap wajah yunho.

“you wanna some—“

“no, hyung.”

“really?”

“oh, ok. I want it!”

Yunho mendekatkan wajahnya ke wajah cantik jae joong. Jae joong memejamkan mata untuk menikmati nikmatnya hari itu.

Cup..

Sebuah ciuman singkat mendarat di bibir cherry jae joong. Yunho hanya tersenyum memandang jae joong yang kesal karena hanya mendapat sedikit ciuman itu.

“ok ok.. perasaanku tidak bisa kuluapkan dalam sebuah ciuman! Aku akan melakukannya di lain waktu.” Kata yunho mengobati kekecewaan jae joong.

“yakso??” jae joong mengangkat kelingking kecilnya.

“yakso!!” yunho mengaitkan kelingking besarnya pada kelingking jae joong.

*yunho mind : sebuah cinta yang telah lama hilang akhirnya kembali muncul. Terima kasih tuhan kau telah memberikan jae joong untukku..*

*jae joong mind : sebuah cerita yang tidak bisa dijelaskan dalam satu halaman. Tidak cukup ribuan bahkan ratusan lembar. Life like a fairytale! Penuh rintangan, dan the end is happily ever after*

^END^

*ketawa ngakak* gimana ?? gaje yah ?? *pasti!* maap kalo endingnya ga sesuai ama yang diinginkan (?) karna saya ga bisa bikin yang excited (?).. haha..

Gomawo buat yg udah baca dari part awal sampe part 3 ini >v< en makasih buat yg udah komen en kritik.. kritik kalian sangat membantu.. saya akan berusaha membuat yg lebih baik dari yg ini.. hohoho.. GOMAPSEUMNIDA.. *bow wit YG family (?) *kabur sbelum dilempar baskom