Tag Archives: shim changmin

Till The End of Time

Title : “till the end of time”
Length : oneshoot
Genre : YAOI, gaje, aneh, little angst, romance
Cast :
–    kim junsu
–    shim changmin

annyeeeeoooonnngggg !!!!
ini sebenernya ff udah lama. Tapi baru gue share disini~ hahahaa~~
okeeeeee,, dibaca ya ~~~!! Mo siders, ato reader baru, ato reader setia, semua boleh liaat !!! yang mau ngeplagiat juga dipersilakan ^^ *author yang terlalu baik ato terlalu bego ? O.o

***

Changmin terus memperhatikan gerak-gerik junsu dengan mata membesar. Tidak ia hiraukan teriakan membahana diluar yang memanggilnya. Yang ada di depannya sekarang adalah junsu, lelaki cantik yang berhasil mencuri hatinya.
Tapi sekarang lelaki cantik itu sudah dimiliki orang lain. Dimiliki oleh teman terdekat changmin, yang lebih mencintai junsu, park yoochun.
Kecewa? Pastinya!
Changmin sangat kecewa, dan juga menyesal.
Mengapa ia terlambat menyadari perasaannya?
Mengapa ia terlambat mengakui perasaannya?
Dan mengapa pula ia menutupi semuanya sekarang?
Semua perasaan cintanya pada junsu harus dikubur dalam-dalam olehnya.
Biarkanlah angin membawa perasaannya pergi jauh..

*

Sementara itu, junsu juga tidak yakin.
Ia tidak yakin akan perasaannya terhadap anak pemegang saham JYP yang akan menikahinya hari ini.
Perasaannya tertuju pada shim changmin, sahabatnya.
Orang yang dicintainya, tapi tidak mencintainya.
Ya, bertepuk sebelah tangan.
Junsu hanya bisa mengukir senyum palsu di depan calon suaminya, dan juga ‘sahabat’-nya.
“neomu yeoppo!!” puji yoochun pada lelaki cantik itu.
Junsu hanya bisa menyembunyikan semburat merahnya sehabis dipuji lelaki tampan itu. Ia mengulum senyum malu dan menundukkan kepalanya.
“kajja. Istriku adalah yang paling cantik di dunia.” Yoochun mengulurkan tangannya untuk menuntun istrinya ke altar pernikahan.

***

“park yoochun, bersediakah kau mendampingi kim junsu, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut menjemput kalian?” tanya sang pendeta pada lelaki tampan yang memakai tuxedo putih.
Yoochun mengangguk sambil tersenyum, “siap..”
“dan kau kim junsu,” sang pendeta mengarahkan tatapannya ke seorang lelaki cantik yang kini disulap menjadi wanita. “bersediakah kau mendampingi park yoochun, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut menjemput kalian?”
Junsu berpikir sejenak. Yang ada di otaknya hanyalah seseorang yang selama ini menghantuinya.
Untuk apa ia menikah dengan idol school yang menjadi idaman para wanita, dan baik hati seperti park yoochun kalau tidak ada rasa cinta dihatinya?
Apa gunanya ia menyakiti perasaannya sendiri, dan juga menyakiti perasaan yoochun?
Tapi..
Ia ingin changmin bahagia. Ia ingin changmin menjalani hidupnya dengan normal, bersama perempuan yang lebih lembut hatinya.
Dan keputusan akhirnya, junsu mengangguk..

***

“changmin-ah, mianhe.” Junsu mengelus batu nisan yang mengukir nama pria pujaan hatinya sambil menggigit bibir bawahnya.
Seorang pria berjas hitam menyentuh pundak lelaki cantik itu. Junsu menoleh ke arahnya dan tersenyum. Seorang anak laki-laki berumur 3 tahun langsung memeluk junsu. Membuat senyum junsu makin mengembang.
“umma, uljima!!” pinta anak kecil itu, park yoon jun.
Junsu mengecup bibir anak itu. “ne, junnie. Umma tidak menangis lagi kan?”
Yoochun tertawa kecil memandangi pemandangan keluarga bahagia yang sudah dirintisnya 7 tahun. Terdiri dari tiga orang laki-laki. Satu sebagai istri, satu sebagai suami, dan satu sebagai anak.
“kita pulang?” junsu bangkit dan mengangkat yoon jun ke gendongannya.
“jalan-jalan!!!!!!” jawab yoon jun langsung dengan kencang. Padahal suara biasanya saja sudah bisa terdengar ke seluruh penjuru pemakaman.
“ya!! Kau mau membangunkan orang-orang yang tidur dibawah, hah?!” yoochun mencoba menasehati yoon jun.
“ne. aku tidak mau melihat umma menangisi tanah. Tanahnya saja tidak mau ditangisi!”
“darimana kau dapat kata-kata itu, hah?! Apa umma mengajarimu saat aku di kantor?” yoochun langsung mengambil yoon jun dari gendongan junsu.
“appa, kau membangunkannya!!” yoon jun menunjuk arah depannya. “mianhae~~”
Yoochun dan junsu tidak heran. Anak laki-lakinya itu punya kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan hantu.
“appa, umma, mereka mau beristirahat. Ayo jalan!!” yoon jun memukul-mukul pundak ayahnya.
Yoochun dan junsu saling pandang. Lalu mengangguk dan berjalan pelan-pelan meninggalkan makam changmin.
Changmin meninggal 7 tahun lalu setelah yoochun dan junsu melaksanakan pemberkatan. Ia langsung keluar dari gereja tepat saat junsu mengatakan ‘iya’ untuk mendampingi yoochun.
Ini bukan drama, yang dimana changmin bisa menghentikannya dan berakhir dengan happy ending.
Changmin meninggal karena menyelamatkan seekor anak anjing milik anak kecil yang terjebak di peristiwa kebakaran. Anak kecil itu memohon dengan amat sangat pada changmin untuk menyelamatkan hewan yang malang itu. Dan disitulah akhir hidup changmin.
“annyeong, changmin hyung!!!” yoon jun menengok ke arah belakang sambil melambaikan tangannya ke arah makam changmin.
“akan kusampaikan!!” yoon jun menjawab pertanyaan yang tidak bisa di dengar dua orang dewasa di dekatnya.

Junsu POV

Hari ini sepertinya adalah hari yang sangat indah bagiku. Yoon jun melihat changmin!! Soo hwan memang tidak tahu hubunganku dengan changmin dulu.
“umma, changmin hyung titip salam!” kata yoon jun.
Aku menanggapinya dengan senyum pilu. Aku merindukannya, junnie-ku sayang. Andaikan aku yang diperbolehkan melihatnya.

*

Kami berjalan bersama ke pantai terdekat untuk melihat sunset ‘terakhir’ disini. Besok kami akan pindah ke paris mengikuti pekerjaan yoochun yang menetap disana.
Sesampainya di pantai, keluarga kecilku langsung bermain di bibir pantai.
Yoochun dan yoon jun membiarkan ombak kecil membasahi telapak kaki mereka. Dua orang lelaki itu tertawa bersama. Baju mereka basah semua, sinar matahari yang mulai redup merekam kejadian itu semua.
Aku menyandarkan kepalaku ke samping. Nyaman sekali.. angin pantai berhembus dengan lembut menyapu wajahku. Aku memejamkan mata untuk menikmati nikmat Tuhan yang satu ini.
Tapi..
Kenapa aku bisa bersandar dengan nyaman? Sedangkan yoochun dan yoon jun sedang bermain—
Aku mendongakkan kepalaku. Kulihat seorang lelaki dengan wajahnya yang tampan sedang tersenyum. Wajahnya memang lebih pucat, bibirnya juga, tapi senyum yang terukir di wajahnya tetap saja sama.
Aku menangis. Menumpahkan semua kekesalanku pada orang ini.
Shim changmin, setelah 7 tahun aku menunggumu ‘menampakkan diri’ di depanku, kenapa baru hari ini?
Aku tidak bisa menyentuhnya lagi. Hanya bisa memandangnya. Memandang senyumnya, wajahnya, lekuk tubuhnya..
Seiring berjalannya waktu, bayangan itupun menghilang. Tergantikan oleh langit gelap yang tidak berbintang. Aku menghapus air mataku.

*junsu POV end*

Yoon jun memandang nanar ke arah ibunya. Bayangan changmin sudah menghilang ditelan kegelapan.
Doa anak kecil selalu dikabulkan. Dan yoon jun tadi berdoa agar ibunya bisa bertemu dengan changmin, lelaki pujaan ibunya yang sudah meninggal.
“kita buka lembaran baru ya?” yoochun menyejajarkan tingginya dengan yoon jun sambil membelai wajah anak polos itu. “kita buka buku baru di prancis. Kita mulai dari awal ya?”
Yoon jun memang masih kecil. Tapi ia mengerti apa yang ayahnya katakan. Anak itu mengangguk polos dan disambut pelukan hangat yoochun yang menghangatkannya di malam ini.

END~~

HHHHHOOOOOOOOOAAAAAAAAAAAAAAA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1
NGAPA GAJE GINI ??!!! ADA YANG BISA JELASIN ?!!! *plakk plakk plakk
Nama yoon jun adalah nama yang diusulkan oleh salah seorang teman saya. Hehe.. jangan pada protes yaaa !! XDD

Mianhe yaa jadi gaje gini..
Hehe..
Ga maksa komen, tapi berharap pada mau komen^^

KUMPULAN DRABBLE / FAREWELL WITH SMILE / STRAIGHT-YAOI/MIX CASTS

Inilah kedua kalinya gue bikin kumpulan drabble gini 😀 seperti biasa ga tau kepanjangan atau kependekan >,< *author bego !!

Seperti biasa juga, judul setiap ff beda. Tapi temanya FAREWELL WITH SMILE, Kayak lagu seok hoon oppa gitu 😀

Dan castnya juga ga Cuma straight, tapi ada yaoi juga #guekapokyuri!!

 

***

 

Drabble #1

 

Title : Promise In A Kiss

Cast :

–       jung yunhak *ChoShinSung*

–       jung yoochan *gue !! ga ada yang boleh protes !! *digebukin milky way n stargaze

 

BRAK!!

Lagi-lagi. Yunhak menghembuskan nafas panjang di depan kamar adik perempuan satu-satunya. Sudah beberapa kali yoochan membanting pintu kamarnya setiap melihat yunhak ada di depannya.

“channie, mianhada!!!”

 

*

 

Yunhak tersenyum pilu. Sekarang hari keberangkatannya untuk wajib militer. Kegiatan yang wajib diikuti anak-anak muda korea tanpa peduli status. Mau dia artis ngetop seperti yunhak, tetap harus mengikutinya.

“oppa berangkat ya!!” teriak yunhak untuk terakhir kalinya di rumah itu. Untuk dua tahun kedepan, ia akan meninggalkan rumahnya. Kecuali jika ia mengambil cuti.

 

*

 

“OPPAAAAAAAA!!”

Seseorang memanggilnya. Teriakannya terdengar kencang. Para fans dan wartawan langsung menoleh ke asal suara. Yunhak tersenyum lega. Adiknya datang dan langsung memeluknya.

“mianhe..” ucap adiknya penuh penyesalan.

Chu..

Yunhak mengecup bibir mungil itu setelah melepas pelukannya.

“oppa janji akan kembali. Oppa janji akan menemanimu pergi lagi. Tapi tidak sekarang.”

“arayo.” Yoochan mengangguk. Lalu mengecup lembut bibir kakaknya. “channie juga janji, tidak akan menangisi oppa lagi.”

 

END

 

A/N : Lebih dari drabble ini maaah !! soklah~ lagian gue stress ditinggal yunhak wamil tiba-tiba, dan bingung mau ngomong ke siapa tentang ini ==

Dan inilah promise gue ke yunhak, gue ga mau nangisin dia ^^ semoga lancar ya opp—eh appa-ku sayang..!! hahaha..

 

***

 

Drabble #2

 

Title : first snow

Cast :

–       jo kwangmin

–       jo youngmin

 

“hyung, aku suka salju! Kau?”

“tidak!”

“kenapa?”

“karena..”

 

*

 

Bayangan kembarannya membayangi mimpi youngmin. Namja manis itu segera bangun dan membuang jauh-jauh mimpi buruk itu.

 

Jo kwangmin, noneun odiya???

 

Youngmin membuka jendela kamarnya. Langit masih gelap karena jam masih menunjukkan pukul 2.30 dinihari. Udara dingin langsung menyambutnya. Musim yang dibenci youngmin akhirnya datang lagi.

“salju..”

 

Salju pertama, kwangmin-ah..

Noneun odiya??

Lihatlah, bumi berwarna putih!!

 

Tapi youngmin harus menelan kenyataan pahit, kalau kembarannya sudah tidak disini. Salju pertama mengingatkannya dengan kematian kwangmin yang mendadak karena penyakit jantung.

 

“hyung, aku akan pergi sebentar lagi. Katanya aku akan diajak ke tempat pembuatan salju!”

Youngmin mengerutkan dahinya bingung.

“hyung, kata orang itu, hyung tidak boleh menangis. Nanti aku tidak tenang.” Kwangmin menggenggam tangan youngmin. “hyung,katanya juga, setelah aku pergi hyung harus tersenyum! Jadikan kepergianku itu senyum. Ne??”

 

Bibir itu perlahan tertarik ke kanan, lalu ke kiri, dan akhirnya membentuk sebuah senyuman yang 10 tahun ini tidak menghiasinya.

 

Farewell with smile..

 

END

 

A/N : Ini apa lagi..???

Ini mah bukan drabble !!

Bodo amat dah.. xDD

 

***

 

Drabble #3

 

Title : just a friend

Cast :

–       shim changmin

–       kim junsu

 

Hening..

Tidak ada yang berbicara. Bahkan dalam hati. Mereka tidak saling memandang. Hanya berdiri berhadapan tanpa arah pembicaraan.

“min.. su..”

Dua orang itu kemudian saling memanggil nama. Dan akhirnya tertawa bersama. Hening itu pun kembali datang.

“aku mau bicara..”

Dan kembali, dua orang itu berbicara bersamaan.

“kau dulu..” salah satu dari mereka memberikan kesempatan berbicara, Shim changmin.

Junsu menghembuskan nafas panjang. Lalu tersenyum kecil, berharap beban yang menempel di pundaknya itu terangkat.

“aku rasa kita sudah tidak ada rasa.” Kata junsu tanpa ragu. “kau tidak pernah punya waktu untukku, kau tidak pernah menanyakan keadaanku, kau juga tidak pernah mencurahkan perhatian padaku. Hanya belajar.. belajar dan belajar yang ada di otakmu.”

“mianhae..” sesal changmin. “tidak seharusnya—“

“sudah berakhir. Aku tidak mempunyai perasaan seperti sebulan lalu.”

“mianhae..”

“iya, aku maafkan. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu darimu?”

“apa?”

“aku tetap ingin jadi temanmu.”

Changmin mengangguk. “tentu saja. Kita hanya teman. Friends forever!!” jari kelingking yang cukup panjang milik changmin diangkat. Disusul jari kelingking junsu yang lebih kecil naik. Dua kelingking itu pun bertaut. Menghasilkan senyum yang menghiasi wajah mereka berdua.

 

END

 

A/N : Ya allah, ini apa lagi ??

 

***

 

Drabble #4

 

Title : if this is the last

Cast :

–       yong junhyung

–       shin chae na

 

Chae na menyandarkan kepalanya ke kepala sahabatnya, kekasih orang lain. Ia memang tidak menganggap junhyung lebih dari sahabat. Hanya sahabat, no more no less.

Junhyung merasakannya. Merasakan degup jantungnya bergemuruh di dalam seperti ombak laut. Ia menutup matanya. Shin chae na, kenapa kau mau pergi??

“jun?” panggil chae na. ia mengangkat kepalanya. Kini wajah junhyung dan chae na dekat, sangat dekat.

“ne?”

“kalau kau merindukanku, lihat saja langit. Kalau langit bersahabat, berarti aku sedang memikirkanmu. Tapi kalau sebaliknya, aku tidak sedang memikirkanmu.” Kata chae na sambil tersenyum, kecut. “aku takut, jun! aku takut! Aku takut kalau semua itu tidak ada gunanya.”

“tenanglah. Aku akan mendoakanmu kalau kau mau mengusahakannya, demi aku.” Kata junhyung.

“tapi aku akan berusaha! Benar katamu!!” chaena tersenyum. Semangat berkobar dari dalam matanya. “nanti kita bisa kemana-mana lagi.”

“iya..”

“jun?” chae na menatap junhyung. Kali ini bukan semangat berkobarnya yang tersirat. Tapi seperti sesuatu yang terpendam, yang tidak bisa diucapkan chae na. “aku sangat mencintaimu, kau tahu?” chae na lalu tertawa. “tapi kau milik orang lain. Tidak seharusnya aku bilang.”

“chae..”

“jun, aku ke kamar ya! Ibuku memanggilku.”

 

*

 

Pemakaman keluarga itu mulai sepi. Tinggal kedua orangtua chae na dan juga junhyung yang masih bertahan di salah satu makam yang masih basah. Ketiganya mengeluarkan air mata.

“jun, kami duluan ya..” pamit ayah chae na pada junhyung. Junhyung membalasnya dengan anggukan.

“terima kasih ya, mau menjadi teman chae na.” ibu chae na menepuk pundak junhyung. “dan dia juga bilang, dia mencintaimu. Amat sangat mencintaimu. Jadi, dia ingin kau bahagia.”

Kini tinggallah junhyung sendirian di pemakaman. Rintik hujan mulai turun menangisi kepergian chae na. junhyung menyunggingkan senyum.

“aku juga mencintaimu, chae.” Gumam junhyung. “lain kali aku akan bilang di depanmu ya..”

 

END

 

A/N : naon maning kieu teh ??? gue pengen bikin versi panjangnya aah~~

 

***

 

Sekian deh drabble bertema farewell with smilenya..

Gue udah bingung mau masukin apa lagi (?) kasian yang baca kalo ngebaca tulisan ancur gue #adatah yang baca ???

 

Ehm..

Wassalam deh~

 

^_^

“dangerous friendship” part 5

junsu menatapku dan kemudian… dia tertawa dengan kerasnya sampai aku harus menutup telingaku sampai tak mendengar lagi.

“haha.. itu bukan mimpi basah namanya!!” kata junsu.

“memang bukan!” jawabku salah tingkah. “tapi.. cairan menakutkan itu keluar!!”

“tunggu..” junsu seperti menerawang pada diriku. “suaramu sepertinya jadi lebih berat!”

Ehem… aku mencoba berdehem. Ternyata memang lebih berat! Kenapa aku baru sadar ya?

“haha.. kau sudah dewasa!” kata junsu. “tinggimu juga!”

“aku minum susu kemarin, makannya tinggi!”

Aku diam. Mencoba mengerti keadaan ini. Aku sudah mengalaminya! Tapi kenapa dengannya? Kenapa tak dengan perempuan lain?

“hyung—“ ups.. aku memanggilnya hyung!

“kenapa?”

“mulai sekarang aku akan memanggilmu hyung!” kataku.

“up to you!”

“aku mau tanya..” kataku lirih. Sepertinya sebentar lagi air mataku tumpah. “apakah.. perempuan.. yang.. ada di mimpi.. itu.. akan.. jadi.. pendamping kita nanti?”

“umm..” junsu menerawang ke langit biru. “tidak juga! Jodoh ada di tangan tuhan!”

Ffiiuuhh.. syukurlah! Aku tak akan jadi suami jae hyung! Lagian siapa juga yang mau dengan laki-laki seperti dia! *me : gue mau kok!! (bwa jeje lari ke KUA)*

“memang kenapa?” tanya junsu lagi.

“nothing!”

“oh ya, dari tadi kau bertanya! Sekarang aku mau bertanya!”

“apa?”

“kenapa kau bisa pintar?”

It’s a stupid question!

“tak ada lagi yang bisa kau tanyakan?” tanyaku.

“just kidding boy!” katanya sambil menepuk pundakku. “sebenarnya kau asli mana sih?”

“can you stop this stupid question??”

“lagian, bahasa inggrismu tak bisa diragukan!”

“just that?”

“yeah..”

Obrolan kita hanya sampai segitu. Kita tak meneruskan lagi. Seandainya tak ada junsu aku pasti bakal menangis.

“kenapa kau kesini?” tanya junsu memulai pembicaraan lagi.

“menenangkan diri!” jawabku singkat.

“kau ada masalah?”

“begitulah!”

“ceritakan!”

“tidak!”

“kenapa?”

“kau tak berhak tahu!”

“kenapa?”

“can you stop saying ‘why’ to me?”

“sorry~”

Aku tak mau menceritakan ini! This my problem! Jadi aku tak mau kalau semua orang tahu.

“kau sudah masuk geng shinki?” tanyaku.

“begitulah! Kenapa?” tanyanya lagi.

“umm.. nothing.”

“kau takut ya posisimu sebagai magnae diganti?”

“kata siapa? Masih banyak orang yang berumur lebih muda dariku!”

“kau mulai bisa mengalah!”

What??? Kenapa dia bisa tahu kalau aku adalah anak yang susah mengalah? Dan kenapa aku bisa saja mengalah seperti ini?

“kenapa? Kau kaget?” tanya junsu.

“kenapa kau bisa masuk shinki dengan cepat?” tanyaku tanpa mengacuhkan pertanyaannya.

“yah.. begitulah!”

“kenapa?”

“kau benar-benar ingin tahu?”

“tidak juga!”

“kenapa kau bertanya?”

“hanya ingin tahu!”

“kenapa—“

“BERHENTI BERTANYA ‘KENAPA’!!!” teriakku.

“ok.. ok.. sorry”

“aku mau masuk!”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“hello min!” sapa yunho hyung saat aku ke markas shinki.

“hai!” jawabku lesu.

“kok lesu?” tanya yunho hyung sambil memeluk pundakku.

“ani. Gwaenchana.” Jawabku mencoba tersenyum.

“umm.. junsu mana?”

“aku tak bersamanya!”

“jae joong juga mana ya dia?”

Please hyung! Stop to say that name!! I hate it!

“aku telpon dia dulu ya! Kau telpon yoochun dan junsu, ok?”

Heu.. dasar hyung pelit!! Masa uangnya hanya diberikan pada jae hyung!!

“hyung, aku pulang ya! Aku tak enak badan!” kataku. Benar! Aku tak enak badan!

“eh, telpon junsu dan yoochun dulu!” kata yunho hyung.

“shit!”

“changmin!!!”

“ne..”

Setelah aku menelpon dua orang itu, aku langsung keluar. Aku memang sudah izin ke yunho hyung. Untungnya dia mengizinkan. Aku menyetir mobil ini dengan kecepatan tinggi sambil memikirkan orang yang dibawa omma dan appa. Sampai di pagar rumah, mood-ku untuk mencari tahu hilang. Aku kembali melajukan mobil ke pantai tempatku biasa menghilangkan stress. I want to scream! Aku mau berteriak! Suara rock-ku hilang!! Suara indahku hilang! Otokke? Ottokke? Tapi pantai ini tak cocok untuk berteriak. Yang ada aku yang jadi sasaran amuk orang-orang. Setelah pikiran burukku hanyut terbawa ombak –walaupun tak semuanya—aku kembali pulang ke rumah. Aku pulang dengan pikiran yang sedikit kosong! Orang-orang penghipnotis pasti gampang menghipnotisku.

TOK.. TOK..

Aku mengetuk pintu rumah yang terbuat dari jati ini. Betapa terkejutnya aku ternyata yang membuka adalah seorang lelaki manis yang tak ku kenal.

“siapa kau?” tanyaku sinis.

“aku adikmu!” jawabnya polos.

What? Adikku? I don’t have and don’t wanna have it!

“I’m your brother, hyung.” Dia mengucapkan kata-kata bahasa inggris dengan lancar.

“I don’t have brother, you know?! Ini bukan dunia mimpi, bodoh!”

Dia diam. Menunduk. Sepertinya menunggu beberapa detik lagi dia akan menangis. Memangnya kata-kataku terlalu kasar? Aku hanya bilang yang sejujurnya kok!

“ya! Uljjima.. uljjima!!” kataku setelah melihat anak ini menangis. “ya! Uljjima!!”

“hiks.. hiks..” isaknya sambil menyandarkan dirinya di tubuhku.

“ya!! Hishh~” anak siapa sih ini?? Kenapa dia langsung merangkulku! Aku kan tak bisa masuk! Mana dia hanya sepahaku. “hei!! Biarkan aku masuk dulu!!”

“hiks.. hiks..” dia masih menangis.

AAARRGGGHHH…

“ya! Aku mau masuk!!” kataku menahan emosi.

“hyung—“

Aku langsung mendorongnya paksa dari diriku. Aku mencengkram bahunya. Dia masih menangis.

“dengar! Aku bukan hyung-mu! Aku shim changmin, anak tunggal keluarga shim! Kau pasti salah orang! Kau pasti punya hyung yang mukanya seperti aku!” jelasku pada anak ini.

“aniyo, hyung! Changmin hyung, kau hyungku! Aku adikmu, shim sungmin!!” katanya sambil terisak.

“aku bukan hyung-mu, anak manis! Panggil aku oppa! Kau perempuan kan?”

“namja hyung! Aku namja!”

“shit!” kataku kesal sambil memukul pintu jati ini. “ne, dongsaeng!!” kataku akhirnya. “ayo masuk! Hyung lelah!”

Aku menuntunnya masuk ke rumah. Dia masih menangis! Kenapa anak ini sangat cengeng? Benar-benar!

“changmin-ah, kau sudah kenal adikmu?” ternyata appa disini.

“appa tak kerja?” tanyaku.

“appa kesini untuk liburan!” jawab appa. “sungmin-ah, kau sudah kenal hyung-mu kan?”

“ne, appa!” jawab sungmin sambil menyeka sisa air matanya.

Appa membelai rambut sungmin. Lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.

“manis kan teman bermainmu?” tanya appa.

“I have some friends now!” jawabku. “I don’t need him!” kataku sambil berjalan meninggalkan appa.

“apa kau tak dapat pendidikan moral selama 11 tahun ini?”

Aku langsung membalikkan badanku. Aku belum jauh dari tempatnya berdiri.

“kemana saja kau 11 tahun ini meninggalkanku? Pendidikan moral di dapatkan dari orangtua, bukan? Kenapa kau meninggalkanku tanpa alasan yang jelas? Kau hanya bilang kau harus pergi mencari adikku.”

“lupakan masa lalu!”

“I cant do it! Sorry!” aku kembali membalikkan badanku. Aku menaiki tangga ke kamarku. Sepertinya ada yang mengikutiku. Ah.. biarkan saja! Anggap saja dia bayanganku!

“changmin hyung..” panggil seseorang. Yah.. siapa lagi kalau bukan sungmin? Pengganggu!

“wae?” aku membalikkan badanku. Aku ada di anak tangga paling akhir sekarang. “waeyo, sungmin-ah?”

“hyung, hyung—“

“waeyo, sungmin-ah? Aku tak punya banyak waktu!!”

“hyung, kau tak suka denganku ya?”

“IYA!” aku menjawabnya dengan ketus dan langsung naik ke lantai di atas anak tangga terakhir (?) aku langsung masuk ke kamarku dan membanting pintunya sampai menghasilkan suara yang sangat besar.

AAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHH………

Entah kenapa aku ingin berteriak kencang sekarang. Aku ingin suaraku kembali! Suara ini membuatku makin menakutkan! AAAAAAAAAARRRRGGGHHHH… aku kembali berteriak. Kencang? Pastinya! Sampai-sampai orang-orang di rumah mengerubungi pintu kamarku. Appa langsung mendobrak pintu kamarku.

“waeyo, changmin-ah? Kau kenapa?” tanya omma khawatir. Wajah inilah yang kutunggu dari dulu! Tapi tak sekarang!

“iya den, kenapa?” tanya ajumma dan pembantuku yang lain.

“hyung kenapa?” sekarang sungmin yang bertanya dengan wajah polosnya. Aku muak melihat wajah polosnya!

“gwaenchana.” Jawabku. “aku ingin mengembalikan suara itu!”

“SUARA APA?” tanya semuanya.

“oh.. arasso!” kata omma. Omma mendekatiku. Dia membelai rambutku sambil menjinjit. Apakah aku setinggi itu? “kau sudah dewasa nak!” kata omma. “duduklah! Susah melihatmu kalau kau berdiri!”

Aku lalu duduk di kasurku. Omma tidak ikut duduk. Dia berdiri di depanku. Sungmin melihatku dengan tatapan polosnya. Aku yang baru sadar kalau aku sedang bertatap mata dengannya langsung membuang muka darinya. Bisa kupastikan dia pasti sedih karna aku tak menanggapinya.

Semua orang yang ada di kamarku sedikit demi sedikit kembali ke rutinitas masing-masing. Hanya ada omma dan sungmin yang masih disini.

“sungmin, sini nak!” kata omma.

Sungmin langsung mendekat. Omma duduk di samping kananku sekarang. Sungmin hanya berdiri menunduk di depanku. Dia beberapa kali melirik ke arahku.

“apa?” kataku dingin.

“a.. aniyo..” sungmin menjawab dengan nada ketakutan.

“sini sungmin-ah!” sungmin duduk di pangkuan omma. Aku hanya menatapnya dengan tatapan iri. Iri?! Yah.. mungkin itu lah. Haha.. karna aku tak merasakannya lagi!

“kau baru mendapatkannya?” tanya omma.

“ya, begitulah!” jawabku.

“kau sudah mengerti sekarang?”

“ya..” sebenarnya aku pernah bertanya pada omma dan appa tentang mimpi basah. Aku bertanya itu setelah membaca buku IPA appa yang tergeletak di meja kerjanya. Aku melihat ada tulisan ‘mimpi basah’ kalau ada anak laki-laki yang sudah beranjak remaja. Aku dulu paling takut dengan yang namanya keremajaan karena yah.. aku takut aku bisa menghamili orang. Haha..

“kau dulu pernah menangis waktu kau mengompol. Kau mengira itu adalah mimpi basah. Dan kau berjanji kau tidak akan mengompol lagi sampai—“

“cukup omma!!” kataku setengah terkikik. “sudah omma! jangan ceritakan! Aku malu!!” aku menatap sungmin yang tertawa sambil menunduk. Dia lalu menatapku.

“apa? Apa yang kau tertawakan?” tanyaku dingin.

“changmin-ah, jangan begitu pada adikmu!” kata omma sambil mengelus kepala sungmin. “sungmin-ah, angkat kepalamu!” sungmin mengangkat kepalanya. Sebenarnya dia—kuakui—sangat manis. Dia seperti anak perempuan! Bibirnya merah ceri. Pokoknya imut! Tapi entah kenapa aku selalu bersikap dingin padanya. Padahal wajah polosnya sudah bisa meluluhkan hatiku.

“omma, benar.. dia adikku?” tanyaku.

“siapa lagi dia kalau bukan adikmu!” jawab omma.

Aku menatap sungmin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perawakannya hampir sama denganku waktu kecil. Mungkin! Kau terus menatapnya sampai sungmin membenamkan mukanya di pelukan omma karna takut dengan wajahku.

“wae?” tanyaku pada anak kecil itu.

sungmin menatapku polos dibalik pelukan omma. dan dia..

TBC *kabur…!!!*

“dangerous friendship” part 3

“sure!!”

Kita langsung berlari ke tempat dance floor kosong itu. Sebelum sampai sana ada segerombolan anak perempuan SMA sampai duluan. Tapi sepertinya popularitasku membantu. Dia mempersilahkanku duluan. Aku memasukkan 2 koin. Koin pertama punyaku dan punya junsu yang kedua. Kita memilih-milih lagu yang bagus.

“itu saja! Tadi lagu tohoshinki rising sun!!” kata junsu.

“tidak!! Aku mau yang lain!!” tolakku.

“mirotic??”

“sepertinya bagus! Ok!” putusku akhirnya. Aku memilih lagu mirotic dari TVXQ. Lagunya benar-benar bagus untuk dance.

“.. I got you under my skin..” junsu menyanyikan lagunya sambil menari. Aku tidak membayangkan dia bisa melakukan itu!

“.. I got you under my skin.” Lagunya berhenti! Berapakah nilainya??

“A!” mesin itu mengatakan ‘A’! berarti masih lanjut! Lumayan daripada dibunuh yunho hyung!

“kau lelah?” tanya junsu.

“ani! Ayo lanjut lagi!!” kataku.

Junsu sekarang yang memilih-milih lagu. Dia menunjukkan lagu klasik.

“jangan! Itu terakhir saja! Gerakannya rumit! Menguras tenaga!” kataku.

Dia memilih lagi. Sekarang lagu we are. Soundtrack anime one piece yang kusuka! Yang nyanyi tohoshinki!

“ini saja!!” kataku.

Dia menurutinya! Sepertinya dia tahu seleraku! Kita dance terus sampai babak ke-7! Katanya belum ada yang pernah sampai segitu! Berarti kita orang pertama?

“junsu-ah, capek!!” kataku.

“tanggung!! Sudah yang ke-7! Pakai lagu se7en?”

“yang mana?”

“yang.. umm.. itu.. better together!”

“lumayan! Okay!!”

Di babak ini kita sengaja kalah. Yah.. sangat pegal kaki ini. Sudah tak kuat bergerak lagi! Orang-orang bertepuk tangan atas keberhasilan kita. Bahkan ada yang berkomentar,

“bagus sekali mereka! Andaikan mereka mau jadi guru dance-ku!”

“tak hanya tampangnya! Kemampuan mereka juga tak bisa diragukan!”

“siapa sih yang ada di sebelah changmin oppa? Dia lucu! Mukanya seperti bayi! Dance-nya juga bagus!”

“mereka benar-benar.. aku tak bisa berkomentar lagi! Andaikan aku produser aku pasti langsung mengontrak-nya!”

Tapi ada juga yang iri.

“dance apaan itu? Merusak lagu!”

“dance kok seperti ayam ketakutan! Ga kreatif!”

“lebih bagus juga dance-ku!”

Selesai itu, aku langsung duduk. Mengistirahatkan saraf-sarafku (?) setelah nge-dance tadi. Sumpah! Sangat melelahkan.

“ternyata kau hebat juga!” kata junsu.

“kau baru sadar?” tanyaku yang masih ngos-ngosan.

“hehe.. ku kira badan setinggi itu tak bisa! Hehe..”

PLETAK!

Aku menjitaknya.

“enak saja! Kau kira tinggi 180 tak bisa apa-apa?”

“kau.. kau 180? Tak diragukan!”

Aku tersenyum bangga.

“maksudku, tak diragukan lagi ketidaknormalanmu! Kau tak normal!!”

PLETAK!

Kali ini jitakannya lebih keras dari yang tadi. Aku yakin dia sangat kesakitan karna dia memegangi kepalanya.

“main lagi?” tawarnya.

“main apa?” tanyaku kesal.

“itu!” dia menunjuk permainan balap mobil.

“mwo?! Ok!”

Lumayan lah permainan ini ada tempat duduknya. Jadi bisa sekalian beristirahat. Aku memasukkan satu koin, junsu juga. Kita lalu bermain double player.

“hayo!! Mau apa kau??” tanyaku pada junsu yang mobilnya berada di depanku. Aku menabrak mobilnya. Dan dia berteriak. Tapi teriakannya tak biasa. Seperti teriakan ketakutan. Aku menghentikan mobilku.

“kenapa?” tanyaku khawatir.

“aniyo, gwaenchana.” Junsu mengeluarkan senyum terpaksa –yang menurutku—senyuman ketakutan.

Aku melanjutkan lagi. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi. Sampai mobilku menabrak-nabrak pembatas jalan.

“changmin-ah, itu mobilmu sepertinya akan rusak sebentar lagi! Dan.. meledak.” Junsu mengatakan itu dengan nada misterius. Aku juga bingung bagaimana menjelaskannya. Dan pas kata ‘meledak’ dia bersuara lebih kecil.

Akhirnya permainan ku hentikan. Aku langsung berjalan meninggalkan tempat itu.

“changmin-ah, jamkaman!” kata junsu sambil mengejarku di belakang. “mau kemana?”

Aku menunjuk KFC. Aku tak bicara karna aku benar-benar lapar!

Dia memegang tanganku. “aku ikut!!”

Aku hanya berjalan. Dia masih memegangi tanganku sampai aku memesan makanannya.

“sampai kapan kau mau menggandeng tanganku?” tanyaku dingin. Entah kenapa aku jadi bersikap dingin dengannya.

“i.. iya..” junsu langsung melepaskan tanganku. “a.. aku.. cari tempat!”

Aku hanya mengangguk. Sekarang giliranku memesan.

“aku pesan dua ayam jumbo pedas, 4 nasi, tiga kentang, dan minumnya milo dua!” pesanku. Aku menatap seluruh ruangan. Junsu duduk di meja nomor 15 di dekat jendela. “tolong antar ke meja 15!” kataku.

“ne..”

“gamsahamnida..”

Aku langsung mendatangi junsu yang ada di meja nomor 15. dia menatap kosong keluar jendela. Mungkin tinggal menghitung detik dia akan menangis. Dan.. benar saja! Dia menangis!

“junsu-ah,” panggilku hati-hati.

Dia menengok ke arahku sambil mengelap air matanya. Lalu tersenyum. Aku lalu duduk di depannya. Dia duduk di meja yang untuk 2 orang. Aku duduk di depannya.

“kau kenapa?” tanyaku akhirnya.

“tak apa.” Jawabnya singkat.

“makanannya..” pelayan mengantarkan makanan pesananku.

“gamsahamnida.” Aku langsung mengambil dua nasi dan satu ayam jumbo. Aku langsung memakannya dengan napsu. Mungkin kelihatannya seperti orang yang tidak makan 3 hari. Tapi dance floor tadi sangat melelahkan! Setelah makan, aku dan junsu langsung balik ke markas. Kebetulan sudah jam 7.

“I’m back!” kataku setelah sampai di markas.

Markas itu sepi, gelap, dan tentunya berantakan. Tumben saja jae hyung tak membersihkan. Apa karna tak ada aku? Aku lalu menyusuri ruangan-ruangan yang ada. Oh ya. Di markas ini ada 5 ruangan yang bisa disebut kamar. Kamar ini biasa dipakai kalau kita sedang menginap. Yah.. ini lebih besar dari kamar kost.

Pertama, aku ke kamar yoochun hyung. Seperti biasa dia asyik dengan mimpinya alias tidur. Di kamar kedua, kamar jae hyung. Tidak ada siapa-siapa. Tapi kamarnya selalu rapi. Kamar ketiga kamarku. Pastinya tak ada siapa-siapa. Kamar sebelahnya kamar yunho hyung. Tidak terkunci. Aku membukanya. Dan.. kembali melihat adegan yang tak pantas dipandang mata.

“lagi-lagi..” keluhku dan junsu. Kita mengucapkannya bersama! Lagi?!

“mi.. mian.” Lagi-lagi samaan!! Apa benar kita jodoh?!

“bukan aku ya!” lagi-lagi???!!!

“ah sudahlah!!” aku yang akhirnya menghentikan ketidaksengajaan ini.

Aku kembali melihat ke arah yunho dan jae hyung yang sedang bercumbu. Tapi sekarang, mereka memelototiku dan junsu.

“jangan sampai dua anak kecil ini melihat kejadiannya!” kata yunho hyung.

“ani.. hyung. Aku tidak melihat!” jawabku. Aku memang tidak melihatnya. Hanya pas bagian kissmark saja yang kulihat.

“uh.. jadi kalau kita mau melakukannya mendingan di hotel saja! Yang lebih mewah!!” kata jae hyung.

“iya juga!” timpal yunho hyung.

“hei!” ada yang menepuk pundakku. Reflek aku langsung berteriak.

“teriakanmu seperti rocker!” kata yoochun hyung.

“mungkin dia marok! Mantan rocker!” kata yunho hyung.

“stop!!! Bilang saja kalian iri dengan suaraku karna suara kalian jauh lebih buruk daripada aku!!” kataku.

“kau hebat!” kata yoochun hyung. “kau bisa juga pulang jam segini!”

Aku diam. Kesal menatap yoochun hyung.

“sudah! Jangan marah! Smile!” hibur yoochun hyung sambil menepuk pundakku.

Aku tersenyum. Semua juga tersenyum. Jae hyung juga. Dia menatap ke arahku dengan tatapan yang tidak biasa.

“manis juga!” celetuk jae hyung.

“apa katamu, chagi?” tanya yunho hyung, cemburu.

“umm.. changmin manis!” jawab jae hyung sambil terus tersenyum padaku. Aku menatapnya aneh.

“hyung semua, aku mau pulang!” kataku. “annyeong..”

“aku juga ah. Ada PR!” kata jae hyung.

“PR? Tumben kau memikirkannya!” kata yunho hyung penasaran.

“i.. iyalah. Aku kan tak mau kalah dengan anak itu!” dia menunjukku. Tumbenan dia tak mau kalah denganku! Biasanya dia cuek!

“tapi hyung, tak ada PR untuk besok! Lain kali saja kau pulangnya!” kataku sambil tertawa. Lalu aku lari keluar.

***

Sampai di rumah, aku langsung membiarkan badanku jatuh ke sofa empuk di ruang tamu. Aku memejamkan mataku. Sungguh melelahkan hari ini!

“nak changmin,” panggil ajumma. “lelahkah?”

“ajumma, aku mau tidur! Tolong jangan ganggu!” kataku dengan suara yang lebih sopan.

“kenapa tak di kamar?”

“aku malas naik!”

“ya sudah. Tidurlah..” ajumma membelai kepalaku. Belaian lembut yang tak kurasakan dari omma.

***

“changmin-ah,” kata seseorang tepat di telingaku. Samar-samar aku mendengar suara ini. “changmin-ah,” katanya lagi. Makin jelas suara ini. Suara lembut yang sangat aku kenal. “changmin-ah,” kali ini aku bangun mendengar suaranya. Dan aku membuka mataku perlahan. Makin lebar dan makin jelas aku menatapnya. Wajah cantik dengan mata kecil dan hidung kecil. Aku mencoba mengingatnya. Dan aku memekik.

“jae hyung! Apa.. apa.. apa yang kau lakukan?” tanyaku kaget.

“lihat tubuhmu!” katanya.

“heh?”

“lihat tubuhmu!”

Aku membuka selimutku. Benar-benar tak bisa dipercaya! Bukannya tadi aku tidur di sofa ruang tamu? Kenapa sekarang aku ada di kasur? Di kamarku? Dan yang lebih tak bisa dipercaya, aku TELANJANG!! BUFF!!

“a.. apa yang kau lakukan padaku?” tanyaku. Rasanya aku ingin menangis. “apa.. apa yang.. kau perbuat? Bagaimana kalau.. ketahuan.. oleh.. yun—“ dia langsung menciumku ganas. Dia menindih tubuhku. Sakit! Apakah ini yang dirasakan jae hyung atau yunho hyung? Dia terus menciumku. Lidahnya mendorong-dorong mulutku untuk membukakan pintunya (?). Aku tetap bertahan dengan mulut tertutup walaupun aku kesulitan bernapas. Tangan jae hyung menyelinap di selimutku. Dia meremas juniorku dan..

“AUU..” pekikku pelan. Jae hyung memanfaatkan kesempatan ini. Lidahnya bergerak-gerak bebas di dalam mulutku. Lidahnya menelusuri setiap ruang di mulutku. Dia mencari-cari lidahku. Oh.. lidahku ketemu! Lidahku dan dia bertarung menentukan pemenangnya!

“Aggghh..” dia menggigit bibir bawahku. Bisa kupastikan bibirku berdarah karna jae hyung menjilatinya.

Hosh.. hosh.. hosh..

Kita berdua sama-sama kehabisan nafas. Aku merubah posisi jadi duduk sambil menutupi tubuh telanjangku ini dengan selimut.

“buka!” kata jae hyung dengan tatapan killer. “BUKA!!”

“n.. ne..” aku terpaksa menurutinya. Aku membuka selimutku perlahan. Perlahan hanya terlihat dadaku. Jae hyung menatapku napsu. Dia lalu melingkarkan tangannya ke leherku sedangkan lidahnya terus menjilatiku. Please jae hyung.. stop it!! Pasti besok aku langsung dibunuh yunho hyung! Oh tuhan.. dia terus menjilati dadaku. Mungkin untuk membuatku terangsang.

“delicious!” kata jae hyung. Dia tersenyum napsu padaku. Oh tuhan.. “kenapa tak terangsang?”

“aku tak mempan dengan laki-laki!” alasanku.

Setelah puas menjilati dadaku, jae hyung berdiri dan membuka bajunya. Oh hyung.. jangan bilang kau mau melakukan adegan yang biasa kau lakukan dengan yunho hyung padaku!!

“buka selimut itu!” perintahnya.

“ani!” bantahku.

“buka!!”

TBC

“dangerous friendship” part 2

“mwo??” semua menganga mendengar pernyataan yoochun.

“aku serius! Mungkin aku tertarik dengan wajah bayi-nya!” yoochun hyung mengedipkan mata ke junsu. Junsu membalasnya dengan tatapan takut.

“sapa dia dong, min!” goda jae hyung.

“jadi, apa yang harus kulakukan disini?” tanyaku kesal.

“hanya ingin mengenalkannya padamu. Haha..” jawab yoochun hyung seraya tertawa.

Dasar!!

“ok, aku pulang!” kataku akhirnya sambil bersiap-siap keluar.

“changmin-ah, kalau kau pulang, jangan harap kau bisa masuk geng shinki lagi!” kata yunho hyung yang merupakan leader geng.

“kita tak akan menerima uang sogokanmu!” tambah jae hyung.

“yak, jae-ah! Kita harus terima uang itu kalau dia memberi!” kata yunho hyung.

Yunho hyung memang mata duitan! Sebenarnya duitnya juga tak terhitung. Diantara kami yang dompetnya paling tebal adalah dia. Yah.. karna dia anak presiden perusahaan jung fam dan dia juga pemilik sekolah dong bang jadi tak heran. Tapi, pelitnya bukan main! Setiap kita hang out siapa lagi yang membayar kalau bukan kita semua? Heu..

“ok ok. Aku tak jadi pulang!” kataku.

“sekarang, kau ajak dia main!” kata yoochun hyung sambil menunjuk junsu.

“mwo??!!” pekikku dan junsu bersamaan.

“oow. Bukan aku yang memfoto-kopi!” kataku.

“n.. ne..” kata junsu. Sepertinya dia tersipu. Mwo? Tersipu? Haha.. kenapa aku sebenarnya??

Tiba-tiba, 3 teman-temanku bertepuk tangan ria.

“sepertinya mereka cocok!” kata yunho hyung.

“mungkinkah dia akan seperti kita?” tanya jae hyung sambil bermanja-manja di dada yunho hyung.

“tak mungkin lah! Orang yang paling romantis kan aku!” jawab yunho hyung.

“hello!! Stop!! Ada dua anak kecil disini!!” kata yoochun hyung geram.

Dua anak kecil?! Mungkinkah aku? Kenapa aku selalu dibilang anak kecil? Apa mungkin karna umurku masih 14 tahun aku tak boleh duduk di bangku SMA kelas 3? Siapa satu lagi? Yunho, jae joong dan yoochun hyung umurnya 17 tahun! Mungkinkah.. junsu?

“memang berapa umurnya hyung?” tanyaku sambil menunjuk junsu.

“tanya sendiri dong!!” jawab yunho, jae joong dan yoochun hyung serempak.

Yoochun hyung berdiri dan mendekatiku. Dia menepuk pundakku keras. Lalu mendorongku ke pintu bersama junsu.

“apa-apaan kau?” tanyaku marah.

“ajak junsu pergi! Pergilah!” kata yunho hyung.

“untuk apa?” tanyaku.

“bawa atau belikan aku komik one piece sampai penulisnya lelah?” ancam yoochun hyung.

Dari kemarin komik one piece terus!! Mendingan untukku!

“mending aku bawa dia pergi! Sayang komik one piece-nya! Kau kan bisa beli sendiri!” kataku sambil keluar.

Aku menutup pintu itu keras. Aku sudah berada di luar markas sekarang. Sekedar info. Markas geng shinki itu tempatnya tidak seperti yang dibayangkan. Bukan tempat yang ber-AC, bersih, besar, pokoknya mewah! Tempatnya cukup besar untuk 4 orang karna kita hanya bermain disitu. Tidak ada AC, kalau kepanasan cukup pakai kipas angin. Tempat ini tak pernah bersih karna kita laki-laki. Mungkin jae hyung yang membersihkan kalau di tempat itu tak ada orang selain dia –dan mungkin aku— tempatnya tidak seperti rumah kami.

Karna aku harus mengajak junsu keluar –daripada komikku yang jadi korban—aku mengajaknya berputar kota dengan mobil sport kesayangan ini.

“umm.. junsu-ah,” panggilku canggung. Aku tidak menatapnya. Aku berpura-pura fokus ke jalan.

“ne?” junsu membalasku dengan canggung pula. Benar-benar dingin suasananya!

Hanya itu obrolan kita. Tak ada yang lain. Aku juga bukan orang yang pintar omong. Mungkinkah aku harus belajar menggombal seperti yunho hyung dan yoochun hyung?

“changmin-ah,” sekarang dia memanggilku! Aku membalasnya tanpa menengok ke arahnya. Aku takut konsentrasiku buyar karna melihatnya.

“ne?” balasku.

“kita.. mau kemana?”

“umm.. sekedar memutar saja!” deg—benar-benar deg-degan! “memangnya kau mau kemana?”

“aku.. juga.. tak punya tujuan!”

“oh ya. Aku punya tempat yang menurutku sangat bagus! Kau mau lihat?”

“dimana?” dia kelihatan antusias.

Aku menatapnya sambil tersenyum. Aku tak menghentikan mobilku. “ra-ha-sia”

“hahaha..” junsu tertawa. Deg—detak jantungku terasa berhenti! Aku baru pertama kali merasakan perasaan ini! “awas changmin-ah!!!” dia terlihat panik.

Aku langsung kembali fokus ke depan. Pantas saja dia berteriak panik. Ada truk di depanku. Aku langsung membanting stir ke kiri. Ffiuh.. aku selamat!

“kau takut?” tanyaku pada junsu yang masih shock dengan kejadian ini. “mian..”

“gwaenchana.” Katanya dengan senyum. “ayo lanjut!”

Aku gemetar. Tanganku dingin. Tak bisa lepas dari stir. Tak bisa menggerakannya ke kanan. Keringat dingin mengucur deras. Sepertinya junsu juga begitu.

“diamlah dulu disini kalau kau masih gemetar!” katanya.

“oh, ne.” kataku gugup. “mianhe.”

“sudahlah ini juga salahku membuatmu panik!”

“tidak, ini salahku!”

“kalau aku tidak berteriak kan kau tidak akan langsung banting stir!”

“tapi kalau kau tak berteriak, mobil sport kesayanganku ini bisa ringsek! Dan aku bisa membunuh diriku dan dirimu!”

Sunyi~ tak ada lagi pembicaraan. Aku sudah mulai tenang dan langsung melajukan mobil ini dengan kecepatan biasa. Setelah sampai aku langsung memarkirkan mobil di dekat pohon.

“kau suka tempat ini?” tanyaku.

Dia menatap tempat ini sambil menikmati anginnya. “ya.. tempat ini sangat bagus! Pantas kau suka!”

“kau juga kan?”

“iya!”

kita berdua berada di pantai tempatku biasa menghilngkan stress. Kalau aku sedang kesal dengan orang, aku pasti datang kesini. Aku biasa kesini sore menjelang terbenamnya matahari. Tapi untuk sekarang, siang aku kesini. Panas juga!

“umm.. junsu-ah, kau haus? Lapar?” tanyaku.

“sedikit!”

“mau makan? Itu ada café!”

“umm.. tidak usah!”

“kenapa?”

“aku belum terlalu lapar!”

“ayolah.. aku mau kesana!! Aku lapar!!” kataku manja. Manja?!?

“yasudah kau sendiri saja!”

“ok. Kutinggal ya!!”

“eh.. andwe!!”

Aku tersenyum. Aku lalu masuk ke dalam mobil sport-ku. Aku kembali menyetir ke café hard soft. Di kafe, aku memesan cappucino float. Aku tak lapar. Hanya haus. Junsu hanya memesan minuman dingin biasa.

“kenapa tak pesan yang lain?” tanyaku sambil menyeruput cappucino float-ku.

“umm.. aku lebih suka es jeruk daripada cappucino! Hehe..” jawabnya sambil tersenyum.

Oh my.. nice smile! Oh no no no.. I’m not gay! Kalau aku suka dia berarti aku harus menanggung malu!! Ooohhh…

“changmin-ah, wae?” tanya junsu sambil melambai-lambaikan tangan ke depan mataku.

“eh.. uh.. gwaenchana..” jawabku. “jun—“

“kokoro ni one smile..” HP-ku berbunyi. Telpon dari yunho hyung.

“junsu-ah, aku keluar dulu ya! Biasa!!”

Junsu hanya mengangguk tanpa menatapku. Aku langsung keluar. Aku memesan tempat di dekat pintu. Jadi aku bisa keluar dengan cepat.

“yoboseyo?” sapaku.

“bagaimana harimu? Seru?” ternyata suara yoochun hyung.

“lumayan! Dia tak menggangguku!” jawabku seadanya.

“kau suka dengannya?” sekarang jae hyung.

“belum..” jawabku singkat.

“jangan pulang sampai malam!!” sekarang yunho hyung yang membuatku bingung.

“mwo??!”

“kalau tidak, kau kubunuh!”

“ne.. ne..”

Bip—

Telponnya diputus paksa. Heu.. kenapa yunho hyung menyuruhku melakukan ini? Dia itu biro jodoh atau mau mendekatkan aku dan dia sebagai teman sih? Apa dia calon anggota shinki baru? Aku kembali masuk ke café. Junsu sudah menunggu. Sepertinya dia bosan.

“mian lama..” kataku sambil tersenyum. Aku duduk di kursiku.

“yunho hyung bilang apa?” tanyanya.

“dia Cuma bilang, aku tak boleh pulang sampai malam!”

“kenapa?”

“yah.. aku tak tahu. Dia memang aneh! Kalau aku pulang dia akan membunuhku!”

“memang dia bisa?”

“pasti!” aku berhenti sejenak untuk menyeruput cappucinoku. “dia bisa melakukan apapun dengan bebas! Tak ada yang bisa melawannya! Dia hanya takut pada orangtuanya!”

“berarti dia masih normal!”

BBUUURR..

Aku menyemburkan air yang ada di mulutku. Air coklat itu mengenai baju dan muka junsu! Oh my god!! What should I do?? *english ngasal ni* lagian dia juga bilang yunho hyung normal! Dimana-mana orang seperti dia itu tak normal!

“mi.. mianhe. Jongmal mianhe…” aku membersihkan bajunya yang berwarna putih dengan tisu. Tadinya kena wajahnya juga. Tapi dia sudah mengelapnya.

“gwaenchana!” katanya tenang. “kau juga tak ada gunanya membersihkan bajuku! Noda ini sudah menempel!” katanya yang membuat rasa sesalku bertambah.

“mianhe..”

“gwaenchana. Sudah kubilang!!”

Aku tak berani menatapnya sekarang. Bisa kupastikan dia sedang tersenyum-senyum tak jelas ke arahku. Aku benar-benar malu! Aku lalu kembali mengambil gelas berisi cappucino float-ku.

“sudahlah. Kau tak salah! Kau pasti kaget dengan ucapanku!”

Aku mendongakkan kepalaku lagi. “memang apa maksudmu bilang yunho hyung masih normal? Memangnya dia masih cinta wanita?”

“bukan hanya itu! Kalau ada anak takut pada orangtuanya, dia juga pasti akan dibilang normal! Kau juga masuk dalam normal!”

“ya iyalah! Ngapain juga omma dan appa-ku melahirkan anak tak normal! yang ada mereka membuangku duluan!” aku kembali menyeruput cappucino floatku sampai habis.

“kau mau lagi?” tawarnya.

Aku menatapnya dengan keadaan sedotan yang masih menempel di mulutku. “what?”

“eh.. hehe.. lagian kau napsu sih minum cappucino float-nya!”

“hehehe..” aku nyengir jahil padanya. “temani aku ke mall itu yuk!!” aku menunjuk mall di depan café.

“mau apa?”

“main dance floor!”

“memang bisa?”

Oh my.. dia meragukanku? “kalau aku tak bisa aku tak mungkin mengajakmu!! Harusnya aku yang tanya bukan kau!!”

“hehe.. aku meragukanmu karna badanmu terlalu tinggi. Aku tak membayangkan bagaimana dance-mu!”

“hei, harusnya aku yang bilang itu!!”

“ayo!! Mau ngapain lagi disini?”

Aku langsung keluar café. Aku mengambil mobilku yang terparkir di depan café. Lalu melajukan mobil ke mall dekat situ. Aku memarkirkan mobilku dekat tempat keluar agar gampang kalau pulang. kita berdua lalu turun dan berjalan ke lift dekat situ. Lama juga menunggu lift ini turun dari lantai atas.

TING..

Akhirnya lift ini berhenti di lantai dasar. Aku ingin langsung masuk. Tapi biar bagaimanapun yang lebih di utamakan yang keluar. Lagian, lift ini juga akan menunggu. Yang masuk ke kapsul besar itu hanya aku dan junsu. Entah kenapa aku gugup.

“wae? Kau takut adu dance floor denganku??” tanya junsu yang membuyarkan lamunanku.

“siapa takut? Memangnya aku pecundang!” jawabku. Aku memang tidak suka dengan orang yang meragukanku.

TING..

Lift berhenti di lantai satu. Ada 3 orang yang naik. Aku akan berhenti di lantai 3. tempat permainan dance floor.

Lantai 2 dilewat. Dan sampailah di lantai 3. aku keluar. Aku yang sudah hapal tempat ini langsung berjalan santai ke tempat permainan itu.

“wwwoo.. itu changmin oppa kan?” anak-anak SMP yang sedang bermain dance floor.

“iya!! Oh.. oppa!! Tampan sekali kau!” kata anak-anak itu.

Mwo? Oppa? Mereka saja yang tak sadar kalau umur mereka itu sama denganku! Aku kembali berjalan. Aku membeli koin untuk bermain. Anak-anak SMP itu menatapku penuh cinta. Atau hanya kagum dengan ketampananku ya?

“koin 10!” kataku singkat pada mbak-mbak penjual koin. Dia memberiku koin itu. Banyak sekali! Atau hanya perasaanku?

“bonus 5 untuk kau, changmin!” kata penjual koin itu sambil tersenyum padaku.

“ne, gamsahamnida..” kataku. Aku mengambil koin ini dan berjalan mencari tempat dance floor yang masih kosong. Heu.. ternyata tak ada!!

“hei, bagi koinnya donk!!” kata junsu.

“koinnya ada 15. kau mau bagi gimana?” tanyaku.

“aku 8, kau 7!”

“hei! Tak adil!!”

“kau kan yang muda! Yang muda yang dikit!”

“itu namanya tak adil!!”

“ya sudah, kita undi saja!!”

“undi gimana?”

“kita main basket!! Nanti kalau menang dapat koinnya!”

Aku menepuk pundak junsu. Keras. “SMART!!” kataku. “kita main basket saja dulu! Kan jadi 7-7 tuh!!”

“ok..”

Aku adu basket dengannya. Kita berlomba siapa yang bisa memasukkan bola paling banyak dalam 1 menit!

Hosh.. hosh.. hosh..

“kau lelah?” tanya junsu padaku.

“sedikit! Ini pemanasan sebelum dance!” jawabku.

“itu ada yang kosong!” tunjukku.

“ok. Are you ready??”

“sure!!”

TBC